Senin, April 28, 2008

Ngeliat bintang di Planetarium

Asri Rahmawati, seorang teman yang kukenal di Rotterdam ketika aku sekolah di sana karena ada sponsor khilaf ngasih beasiswa, suatu ketika pernah bilang begini: ekspektasi itu berbanding lurus dengan kekecewaan. Maksudnya, makin tinggi kita berharap pada sesuatu, makin besar pula kekecewaan yang bakalan kita rasakan jika apa yang terjadi nanti tidak sesuai dengan yang kita harapan. Tidak penting apakah dia ngomong gitu berdasarkan pengalaman pribadinya yang waktu itu sedang patah hati digombalin cowok atau ngutip dari pakar hebat yang memunculkan teori itu setelah melakukan rangkaian riset berbiaya mahal dalam waktu lama, dengan metoda ilmiah yang canggih dan gawat. Toh ini bukan paper yang harus ditulis dengan mengutip sumber secara baik dan benar.

Nggak usah mikir susah-susahpun dengan gampang kita juga bakalan sependapat belaka dengan itu, terus bilang: Iya ya, bener juga.... Contohnya, jika ada orang yang hobinya mabok dan judi, terus dia ditangkep polisi karena memperkosa mbak-mbak bakul jamu yang sering lewat di depan rumah kita, kita nggak bakalan terlalu kaget. Tapi jika ada ustadz yang alim dan hafal Quran, terus suatu malam dipergokin hansip sedang nyatronin istri tetangga, pasti kita bakalan syok dan kecewa berat, apalagi kalau tuh ustadz kita percaya juga jadi guru ngaji di keluarga kita. Atau kalau elo percaya banget sama pacar elo, yakin bener bahwa dia gak bakalan ngekhianatin elo, tahu-tahu elo mergokin pacar elo itu lagi main dokter-dokteran sama pembokat elo, taruhan elo bakalan kaget setengah mati serasa petir sedang nyamber hidung elo saat itu. Makanya Sodara-sodara sekalian, terutama para remaja putri, sama cowok tuh jangan percaya-percaya banget, tar elo sakit sendiri (ini apaan sih, kok malah ke mana-mana....).

Nah, tentang teori ekspektasi itu aku punya pengalaman sendiri. Ceritanya, Sabtu (26/4) pagi kemaren aku ke Planetarium di Taman Ismail Marzuki. Untuk apa lagi kalau bukan ngajakin Wisanggeni ngeliat pertunjukan bintang-gemintang di kamar beratap kubah itu. Pasti tuh anak bakalan seneng, wong kalau malam di rumah Harapan Indah Bekasi dia kuajak keluar ngeliat langit, dianya terlihat antusias.

“Nyonyo, bangun. Katanya mau ngeliat bintang di Planetarium’”, Emaknya nepuk-nepuk pantat si Wisang ngebangunin karena entah kenapa tuh anak tumben-tumbenan jam setengah delapan pagi masih saja pules tidurnya. Setiap hari dia emang nagih terus kapan ke Planetarium gara-gara aku janji begitu pas jalan-jalan ngasih makan burung merpati di Taman Suropati minggu sebelumnya.

Dulu, ketika masih pacaran, Planetarium adalah salah satu lokasi mojok favoritku dan Emaknya Wisang. Pertimbangannya simpel, karena tiketnya murah, cuma enam ribuan kalo nggak salah, jika dibandingkan dengan tiket nonton bioskop yang waktu itu bisa sampai 15 ribuan (dasar pelit, masih pacaran sudah itung-itungan). Pertimbangan lain, suasana di dalam toh juga sama gelapnya seperti di bisokop, sehingga kami bisa tetap “bebas berekspresi”. Makanya, dari seringnya ke sana, kami dulu bisa sampai pada kesimpulan bahwa pertunjukan Minggu relatif lebih ramai dibandingkan Sabtu karena pada hari Sabtu itu sebagian anak-anak sekolah pada masuk. Dan show yang pagi relatif lebih sepi daripada yang siangan. Nah, berbekal pengalaman itu, kami memutuskan untuk ngajakin Wisang ngelihat show hari Sabtu yang jam 10:00 pagi, biar sepi dan nggak banyak orang.


Arti penting lain mengajak Wisang ke Planetarium adalah agar dia bisa sekalian napak tilas tempat-tempat bersejarah, di mana Bapak Ibunya dulu menyiram benih-benih cinta (halah, gombal...).

Begitulah. Setelah mandi, sarapan, dan persiapan ala kadarnya, tepat jam 08:55, berangkatlah rombongan kecil kami dari rumah Utan Kayu, dengan Honda Legenda butut andalan keluarga. Wisanggeni duduk di depan, aku pegang setir, dan istri nemplok di goncengan belakang. Weh, what a happy family.

Sesampai di lokasi syuting, belum lagi masuk ke gedungnya, waduh, la kok rame banget kedengarannya. Curiga nih kita, jangan-jangan.... Benar juga, ketika kami sampai pintu masuk, busyet dah, suasananya bener-bener kayak konggres playgroup sedunia. Pengunjungnya banyak banget yang sebagian besar anak-anak TK dan playgroup, pakai seragam sekolah masing-masing. Wah, tiket pasti bakalan ludes diborong sama Bu Guru. Belakangan ketika aku ke WC buat pipis, nanya ke si Mas penjaga WC, katanya yang begini masih belum apa-apa dibanding biasanya. Wah....

Pas ke loket, seperti sudah diduga sebelumnya, tiket yang buat jam 10:00 sudah sold out, padahal waktu itu masih jam sembilan lebih dikit. Pilihan hanya ada dua, mau nonton yang berikutnya, yang berarti mesti nunggu loket di buka ntar jam 10:30, terus nunggu lagi untuk masuk ntar jam 11:20. Atau pilihan lain, pulang aja. Akhirnya, dengan pertimbangan sudah kadung sampai situ, sekalian aja, kita pilih go on dengan alternatif pertama.

Bengong sejam nunggu loket dibuka jam 10:30 sudah pasti. Dan enggak selesai di situ, kita juga mesti baris nunggu pintu masuk dibuka karena tiket tidak ada nomor tempat duduk, sehingga siapa yang di barisan paling depan dia bisa duluan milih tempat duduk. Kalau kita enggak ikutan baris, resiko yang sangat mungkin ditanggung adalah enggak kebagian kursi yang jejeran. Kebayang kan, jika cuma tersisa satu tempat duduk di belakang sementara anak istri terpaksa kebagian satu kursi nun jauh di depan sana?

Jam 11:30. Penonton sudah duduk manis di kursi masing-masing. Lampu diredupkan, ilustrasi musik dibunyikan, susunan bintang gemintang ditayangkan, penonton bertepuk tangan, dan mulailah si Bapak Narator bicara. Suaranya pelan, intonasinya datar. Beberapa kali mencoba bikin joke, tapi nggak ada yang ketawa wong nggak lucu. Jayus. Detik demi detik berjalan, la kok gambar yang ditayangin nggak ganti-ganti? Seingatku, dulu nggak gitu deh. Dulu tuh yang ditayangin begitu atraktif, bintang-bintang yang bertaburan itu bergerak-gerak, terus penonton diajak untuk menjelajahi rasi-rasi bintang. Itu yang tadinya kubayangin bakalan bikin Wisang antusias. La ini malah si Bapak ngomong mulu, sementara gambarnya tetep yang itu. Mana yang diomongin tuh yang ilmiah banget, pakai istilah-istilah yang ditanggung para penonton yang sebagian besar anak-anak TK dan playgroup itu kagak ngarti. Yang medan magnetlah, yang planet teresteriallah, yang planet kerdillah, belum lagi si Bapak nyebut-nyebut nama orang yang aneh-aneh, dari Ptolemius sampai Copernicus.

Setelah lima menit show berlangsung, Wisang minta dipangku emaknya. Duduknya dalam posisi hampir telentang, mengikuti posisi emaknya yang mengikuti sudut yang dibentuk oleh tempat duduk di situ, sehingga kepala dan mata bisa bebas melihat ke atas seperti jika kita telentang memandang langit (buat yang pernah ke Planetarium TIM, pasti ngerti maksud kalimat yang membingungkan ini). Sempat ngoceh bentar, untuk kemudian diam. Kami pikir tuh anak sudah mulai bisa berkonsentrasi, memperhatikan “langit” sambil mendengarkan penjelasan. Tapi..., lo kok diamnya mencurigakan? Kugunakan cahaya HP untuk menerangi wajah si Wisang. Halah, tuh anak ternyata tidur dengan nyenyaknya, Sodara-sodara sekalian. Kami cuma bisa saling pandang dalam kegelapan sambil senyum-senyum kecut.

Jalan-jalan dan nonton bintang yang kubayangin bakal bikin Wisang antusias dan happy belaka ternyata berakhir antiklimaks. Planetarium rupanya telah berubah....

Jumat, April 25, 2008

Wisang nyanyi Gundul-gundul Pacul

Ternyata nggak gampang ngajarin Wisanggeni nyanyi lagu Gundul-gundul Pacul meski syairnya sebetulnya simpel. Selain karena usianya masih belum genap empat tahun, plus ngomong “l” dan “r” belum articulate, Bahasa Jawa bukanlah bahasa yang akrab ditelinga dan lidahnya. Kalau hanya ngeliat namanya sih tuh anak emang meyakinkan ke-Jawa-annya, Wisanggeni Gagah Wicaksono. Cuma, sejak lahir cenger sampai sekarang dia berada di lingkungan berbahasa Indonesia. Sempat sih, selama setahun dulu tinggal di Jogja nemenin Bapaknya sekolah di UGM. Tapi karena kami berasal dari Jakarta, tetangga kiri kanan selalu ngajakin ngomong Bahasa Indonesia, terutama kepada Wisang dan Emaknya, perempuan Indo Sunda-Jawa. Walhasil, setahun di Jogja itu tak berhasil menancapkan satupun kosa kata Bahasa Jawa di kepala si Wisang.

Setelah susah payah belajar syair dan lagunya, inilah yang kemudian keluar dari mulut mungilnya: Gunduy-gunduy pacuy-cuy gembeyengan/ nyunggi-nyunggi wakuy-kuy petentengan/ wakuy nggyimpang segane dadi sak yatay. Yah, lumayanlah. Not bad untuk ukuran anak balita yang bukan native speaker.

Tantangan berikutnya adalah ngajarin dia menerjemahkan syair-syairnya karena meski hafal di luar kepala, dia pasti nggak paham apa maskudnya, sama seperti aku yang hafal lirik lagu India gara-gara kalau nonton wayang Joko Edan dari Pudakpayung, si Nurhana istrinya yang masih kinyis-kinyis itu nyanyi lagu India pas adegan Limbukan atau Goro-goro (yang nggak pernah nonton wayang, itu semacam adegan intermezo yang isinya lawakan gitu). Lagu India yang itu lo, yang syairnya kira-kira gini: Sawan kama hina/ pawane karisore/ diararejumne hese tiseben manajemo.... Tuh kan, hafal gue (meski mungkin spellingnya ngawur), tapi kagak ngarti pegimane maksudnye.

“Gunduy-gunduy pacuy itu apaan sih, Bunda?”, Wisanggeni mulai kritis melontarkan pertanyaan itu kepada Emaknya, cewek Jakarta tulen blasteran Garut-Purworejo, sehingga Bahasa Jawa jelas bagaikan bahasa Mesir kuno yang dia nggak familier.

“Wah, Bunda nggak tahu Nyo, tanya no ke Ayah”. Emaknya itu emang suka manggil Nyonyo ke si Wisang.

Begitulah, menit-menit selanjutnya adalah ngajarin dia artinya. Dan, weh... ajaib, tidak seperti yang kuduga sebelumya, terjemahan lagu itu cepet banget nyantol di kepalanya.

“Gunduy-gunduy pacuy tuh anak yang kepayanya botak,” begitu katanya, di hadapan Mbah Kakung dan Putri Utan Kayu, Bude, Bokap dan Nyokapnya ketika dia dites dihadapan sidang paripurna keluarga Utan Kayu suatu sore. “Dia mengangkat bakuy di atas kepayanya, enggak dia pegangin, mayah be(r)kacak pinggang. Bakuynya tumpah, nasinya be(r)seyakan deh...”.

Weeh, anakku pinter. Spontan tanpa komando, peserta sidang satu persatu mendaratkan ciuman di pipinya yang tembem.

“Makanya, jadi anak jangan sombong”, sambungnya setelah hujan ciuman mereda. That’s it. Jangan sombong itulah yang aku yakini sebagai inti pesan dari Gundul-gundul Pacul. Sang komposer, tak lain dan tak bukan adalah Sunan Kalijaga, wali paling diidolai oleh orang Jawa itu, emang jenius. Paling bisa membuat lagu yang simpel, easy listening, tapi dalam banget maknanya, bahkan buat anak-anak yang masih sangat beliausia.

Menurut pendapat sok tau-ku, pesan yang diajarkan oleh Gundul-gundul Pacul itu ya itu tadi, janganlah sombong dan takabur karena Tuhan benci banget sama orang sombong. Makanya, Kanjeng Nabi wanti-wanti begini: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam lubuk hatinya terdapat perasaan sombong meski cuma sebesar atom”.

Dalam tataran paling sederhana kesombongan dan ketakaburan itu bisa berwujud seperti si anak dalam lagu Gundul-gundul Pacul itu. Merasa hebat sehingga ketika mengangkat bakul di atas kepala, dia tidak merasa perlu memegangi bakul itu. Lebih tinggi tingkatannya adalah kesombongan ngerasa sudah tahu padahal belum ngerti apa-apa. Kesombongan, membuat orang nggak merasa perlu untuk terus belajar, merasa diri lebih baik, dan menganggap orang lain kecil di matanya.

Lebih tinggi lagi barangkali adalah kesombongan karena merasa diri paling shaleh, paling beriman, sehingga ngeremehin yang lain, dan merasa paling berhak masuk surga. Nih, gue, gak pernah absen sholat, selalu bangun malam untuk tahajjud, Senin-Kemisnya rajin, nggak kayak elo....

Ada satu jenis kesombongan lain lagi yang menurutku paling canggih. Kesombongan yang nggak nampak karena tersembunyi di dasar hati manusia yang terdalam. Secara kasat orang dengan kesombongan jenis ini keliatan begitu alim, rendah hati, memancarkan wibawa sehingga membuat orang takzim dan hormat padanya. Padahal jauh di dasar hatinya, ia merasa hebat karena merasa telah mampu mengenyahkan kesombongan dari dalam dirinya.


Maka dari itu, sebagai kata penutup, mari kita simak kembali pesan Bang Napi: "Waspadalah, waspadalah....!"

Rabu, April 23, 2008

Pesan damai yang berakhir ancaman


“...Ini doa Nabi Muhammad s.a.w. Kirim pd 5 teman, Insya Allah 2 hari kmdian Anda akn m’dgr kabar baik dgn m’dpt kbhgiaan. Tp jk Anda tdk mnybrkn, maka Anda akan m’dpt musibah bsr, DEMI ALLAH". Preeeeettttt!!!!

Seperti aku, mungkin Anda sering menerima SMS berantai seperti di atas. Polanya kurang lebih sama: diawali dengan hal-hal indah seolah menyebarkan kedamaian, kemudian disisipi dulu dengan iming-iming bahwa kita bakalan dapat keberuntungan jika kita mau meneruskan rantai pesan itu ke sekian orang, dan ditutup dengan ancaman akan mendapat celaka jika kita enggak memforwardnya. Dan, pesan berantai itu lebih sering, kalau enggak boleh dibilang selalu, menggunakan kalimat-kalimat religius, menyentuh hal paling prinsip dari sebagian besar kita, keimanan. Rupanya, “SMS religius” semacam ini juga melanda HP temen-temen dari agama lain. Si Meitha, temen seruanganku yang Kristen, mengaku juga sering dapet SMS kaya gituan.

Cuma, begitu pesan itu diakhiri dengan kalimat bernada ancaman, bukannya respek, aku justru lebih sering sebel. Bukan pada si teman pengirim pesan karena aku percaya dia melakukan itu biar dapat jackpot sekaligus terhindar dari celaka, tapi lebih pada orang yang aku nggak kenal namanya, nggak pernah tahu wajahnya seperti apa, dan have no idea juga dia ada di mana, yang menjadi sumber pertama dari pesan itu. Di mataku, orang itu justru melecehkan agama yang kuyakini karena mengatasnamakan Tuhan untuk mengancam orang, seolah dia paling tahu isi hati dan kehendak-Nya. Jauh lebih parah, tapi mirip-mirip, dengan orang yang pakai kartu nama Jenderal untuk nakut-nakutin Polantas berpangkat Kopral ketika disemprit karena melanggar rambu lalu lintas, agar tidak kena tilang, padahal sang Jenderal juga mungkin lupa kapan dan di mana tuh kartu-nama dia kasihin ke tuh orang.

Islam yang aku pelajari dan yakini adalah agama yang mengajarkan cinta kasih dan bukannya kebencian. Tuhan yang aku sembah adalah Dia yang Maha Pengampun dan Pemberi Rahmat, bukan Maha Pendendam dan Penebar Bencana. Dan Nabi yang aku teladani adalah sosok rahmatan lil alamin, penebar rahmat bagi dunia seisinya, yang dengan tulus memberi maaf bahkan kepada orang yang menzalimi dan meludahinya, menjadi orang pertama yang datang dan merawat orang itu ketika ia sakit dan tiada yang peduli. Maaf itu beliau berikan bahkan jauh sebelum orang itu memintanya.

Satu dari sedikit ayat Quran yang aku hafal adalah “laa iqra hafiddin”, artinya kurang lebih “nggak ada paksaan dalam beragama”. Mudah-mudahan aku nggak salah, ayat itu kira-kira mau bilang Tuhan nyuruh elo sholat, tapi kalau elo nggak sholat nothing will happen to you. Elo wajib puasa, tapi kalau elo nggak puasa nggak bakalan tiba-tiba elo ketabrak mobil atau kesamber petir. Itung-itungannya bakalan ada ntar di akhirat sono, bukan di sini. Makanya aku heran kok ada aja orang yang main ancam kalau elo nggak sebarin ini SMS ke 5 temen elo, elo bakalan kena musibah dua hari lagi.

Nah kalau Tuhan tuh nggak suka main ancam, apakah janji akan adanya neraka itu bukan ancaman? Menurutku bukan. Tentu ini hanya pendapat orang yang gak banyak ngerti mengenai agama, tapi menurutku neraka tuh mesti kita lihat lebih sebagai sebuah konsekuensi dari tindakan ketimbang ancaman. Maksudku, seperti kalau Anda makan, maka Anda kenyang. Kalau Anda pegang bara api, maka tangan Anda bakalan kebakar. Just that simple. Aturan-aturannya jelas, baik dalam Quran maupun Hadits, yang begini-begini hukumnya wajib, yang begini sunnah, yang ini mubah, yang ini makruh, yang ini haram. Yang ini diperintahkan, yang itu dilarang.

Akhir cerita, aku hanya ingin menghimbau kepada siapapun Anda, jangan mudah memforward SMS yang ujung-ujungnya main ancam karena dengan begitu, berarti kita bikin tidak tenang orang. Sadar atau tidak, kita justru bakalan makin jauh dari esensi ajaran agama yang kita anut, yang selalu menyeru agar kita bisa menjadi rahmat bagi sesama. Kalaupun kita mau memforward tuh SMS karena niat suci untuk syiar, luangkan sedikit waktu untuk menghapus bagian ancaman itu. Lebih baik lagi jika Anda juga menghapus bagian “....Insya Allah 2 hari kemudian Anda akan mendengar kabar baik dengan mendapat kebahagiaan”, pertama agar niat Anda betul-betul lurus mengharap ridho Illahi dan bukan ngirim SMS karena ada maunya. Kedua, agar jika yang Anda kirimi SMS tidak mendapat kebahagiaan seperti bunyi pesan dalam SMS itu, Anda tidak harus berdosa karena mengingkari janji.

Tidak ada alasan untuk takut dapat celaka karena tidak memforward SMS. Tuhan toh sudah melengkapi kehidupan setiap makhluk-Nya dengan takdir masing-masing. Bapak saya sering bilang gini, siji pati, loro jodho, telu wahyu kuwi ono astane Gusti Kang Moho Kuwoso (ajal, jodoh, dan rejeki itu ada di tangan Allah). Maka, tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan, selain berserah diri kepada-Nya sembari memohon ridho dan berikhtiar yang kita bisa...

Cukup sekian, mau minum obat dulu. Sudah mulai ngaco nih omongan gue....

Senin, April 21, 2008

Apa kabar, Bos?

Words dont mean, people do....

Enam tahun kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, mungkin itulah satu-satunya teori yang secara ajaib bisa dan masih nyantol di kepalaku hingga sekarang. Itupun aku lupa siapa orang hebat yang pertama kali ngomong gitu. Gimana enggak, wong untuk mata kuliah Teori Komunuikasi yang angker itu aku cuma dikasih C. Dasar takdirnya C, dibela-belain ngulang sampai malu berkali-kali kuliah bareng yunior, tetep aja hasilnya C.

Teori di atas kurang lebih maksudnya adalah pada hakikatnya kata-kata tidak mempunyai makna, manusialah yang melekatkan makna pada kata-kata itu. Kata “amis” misalnya, bagi orang Jawa berarti anyir seperti bau ikan. Tapi, bagi orang Sunda berarti manis seperti rasa gula. Beda jauh maknanya, meski antara orang Jawa dan Sunda secara geografis tinggal di satu pulau. Aku ingat dulu waktu belum baliq ngaji Qur’an diajarin Paklik Marsani di Mushola Al Barokah yang didirikan Embah Kakungku di Kramas (daerah Tembalang Semarang –Her), aku ketawa ngakak nggak brenti-brenti ketika membaca ayat yang ada kata-kata yang kira-kira bunyinya “wala tai asu...”. Maafkan aku karena usiaku yang masih begitu muda waktu itu. Tapi sungguh, ketika membaca itu kok tiba-tiba pikiran saya ngebayangin yang bukan-bukan, yang najis jika menyentuhnya. Astaghfirullah hal’adziim. Ya Tuhan, ampuni hamba-Mu.

Pembentukan makna pada kata-kata tertentu berlangsung dalam sebuah proses konsensus sosial. Orang-orang dalam suatu komunitas yang pada akhirnya nanti akan mempertukarkan kata-kata itu, mesti saling sepakat dulu kata ini maknanya apa, kata yang itu artinya apa.

Dan prosesnya tidak hanya berhenti sampai di situ. Setelah sepakat dengan makna pada sebuah kata, tahapan berikutnya adalah meletakkan asosiasi sehingga menjadikan kata itu punya muatan nilai: baik buruk, sopan tidak sopan, dan seterusnya. Maka dari itu kemudian orang Jawa misalnya akan bilang bahwa kata “mangan” itu kasar, dan kata “dhahar” itu halus. Tidur, untuk Embah kita harus bilang sare, tapi untuk kita sendiri cukup kita bilang turu. Kenapa kata anjing dianggap kasar? Karena kata itu sering digunakan orang untuk mengekspresikan kemarahan, hinaan, atau hal-hal negatif lainnya.

Itulah kenapa ketika kita mempelajari satu bahasa, kita juga harus belajar mengenai kultur dari masyarakat di mana bahasa itu digunakan. Kultur tak pelak punya keterkaitan yang erat dengan bahasa. Indonesia, negara dengan kultur agraris yang kuat, punya banyak nama untuk “padi” --mulai dari padi itu sendiri (jika masih dalam bentuk tanaman), gabah (biji padi yang masih ada kulitnya), beras (jika sudah dikupas), nasi (jika sudah dimasak), menir (bhs Jawa, artinya kurang lebih beras yang patah kecil-kecil), upo (bhs jawa juga, artinya nasi dalam skala satuan)-- yang semunya cuma dibilang “rice” dalam bahas Inggris.

Sebaliknya, karena orang Eskimo akrab dengan salju, konon mereka punya lebih dari 50 kata untuk menyebut jenis dan bentuk salju yang berlainan, yang dalam bahasa Indonesia kita hanya punya satu kata, ya itu tadi, “salju”.

Hal lain adalah bagaimana secara psikologis kita terbiasa mengucapkan dan mendengarkan sebuah kata. Susah mau ngejelasinnya. Makanya, daripada susah-susah, mending langsung ke contoh kasus berikut. Akhir-akhir ini ada satu kata yang makin populer: “Bos”. Itu adalah kata ganti orang kedua yang kira-kira bisa berarti Dik, Mas, Mbak, Om, Pakde, Bang, Pok, Teh, dll. Jadi, Bos itu bentuk generik, enggak memandang lawan bicara lebih muda atau lebih tua, cowok atau cewek, kaya atau miskin, semuanya bisa memakai sebutan Bos. Tukang parkir yang usianya tanggung, kira-kira belum genap 18 tahun, begitu menerima recehan dari jendela mobil setelah dia bekerja keras meniup sempritan nyariin jalan keluar, akan bilang: “Makasih, Bos”. Mau yang ngasih duit itu sopir merangkap jongos yang gajinya pas-pasan, atau direktur perusahaan bonafid yang gajinya selangit dan usianya sudah kepala lima, si tukang parkir itu istiqomah menggunakan kata yang sama untuk menyapa: Bos.

Hebatnya, yang begitu itu tidak hanya anak-anak muda lo. Pernah nih, suatu malam pas aku mampir beli nasi uduk di deket rumah di kawasan Harapan Indah Bekasi, karena ketika siap-siap pulang kantor tau-tau Emaknya Wisanggeni SMS, bilang gak ada makanan di rumah, si Ibu penjual nasi uduk itu bikin aku terkejut dengan cara dia menyapaku. Ya itu tadi, pakai kata Bos segala. “Berapa bungkus, Bos?”. Weh, kaget. Secara tuh ibu sudah sepuh, limapuluhan gitu deh, seumuran sama emak gue, enteng aja bas-bos-bas-bos ke aku sepanjang kita bertransaksi.

Jujur, hingga kini aku belum bisa ngerasa nyaman jika ada orang menyapaku bos begitu. Mungkin karena itu hal baru buatku, dan manusiawi kan jika hal baru tuh selalu bikin canggung? Sama seperti dulu ketika aku dan istri, karena persiapan menjadi orang tua di saat Wisanggeni sudah umur tiga bulan dalam kandungan, sepakat saling memanggil Ayah dan Bunda, dari yang tadinya aku manggil dia nama dan dia ke aku “Mas”. Seminggu dua minggu, hingga sebulan rasanya aneh. Tapi, begitu sudah terbiasa seperti sekarang, kalau mau balik ke kebiasaan dulu manggil dia nama, atau mendengar dia memanggilku Mas, rasanya kok jadi nggak enak di mulut dan di kuping.

Aku memang lebih terbiasa dipanggil Heri saja oleh yang seumuran atau lebih tua, Mas Heri oleh yang lebih muda, atau Dik Heri oleh yang lebih tua. Maka mendengar orang, terlebih yang kenal aja kagak, memanggilku Bos, hati kecilku selalu saja bilang nih orang songong banget sih. Sok akrab. Rada-rada jengkel, mungkin sama mangkelnya dengan orang yang namanya Bambang tapi tiba-tiba dipanggil “Wagiyem”. Tapi, ya itu tadi, jika terus dibiasakan, lama-lama ya enak juga. Mungkin.

Begitulah. Pesan moral dari khotbah nggak penting ini adalah, nggak usah segan memanggilku Bos karena makin sering aku dipanggil Bos, makin cepat pula aku beradaptasi dengan panggilan Bos itu, dan dengan demikian aku menjadi nyaman jika ada orang nggak kenal tahu-tahu menyapaku “Halo, apa kabar, Bos?” (halah, lambemu Her, Her. Ngomong kok mbulet....).

Jumat, April 18, 2008

RS Persahabatan yang ngajak musuhan (part 2)


Di bagian sebelumnya sudah kuceritakan bagaimana aku harus berdarah-darah ngantri di loket pendaftaran, terus sejam lebih ngantri lagi di poli penyakit-dalam hanya untuk diukur tekanan darahku dan hanya untuk tahu bahwa aku salah masuk kamar. Saat-saat indah di RS Persahabatan hari itu ditutup dengan tekad untuk datang pada hari berikutnya (Rabu, 16/4), pagi-pagi jam 09:00, persis sesuai pesan petugas di poli bedah urologi.

Setelah istirahat seharian, dan tidur nyenyak semalaman, Rabu pagi itu sebetulnya kondisi badanku sudah jauh lebih baik. Perut sudah enakan, warna urin sepertinya sudah normal setidaknya menurut penilaian istriku dengan membandingkannya dengan punya dia. Pendek kata, sudah nggak ada masalah. Sempat juga berpikir untuk ngantor aja ketimbang ke Persahabatan lagi. Tapi pada akhirnya tetep, kami ke rumah sakit itu lagi dengan dua pertimbangan. Pertama, sayang duitnya udah kadung bayar 35 ribu. Kedua, aku pikir toh urusan entar nggak bakalan lama wong berkas-berkas sudah dikumpulin kemarin. Dus, kalau jam 09:00 mulai dan aku dipanggil di urutan ketiga saja, itu artinya sebelum jam setengah sepuluh juga bakalan dah kelar.

Maka dengan keyakinan diri yang menggelora, berangkatlah aku dan istriku ke Persahabatan, berboncengan naik motor, aku pegang setir, istri di belakang, persis adegan sehari sebelumnya. Jam sembilan kurang satu menit kami sampai di poli urologi, istriku duduk manis di ruang tunggu, sementara aku nyamperin meja resepsionis untuk konfirmasi ulang. “Iya, berkas Bapak sudah dimasukkan antrian, silakan duduk, nanti dipanggil. Dokternya belum datang”. Sampai detik itu aku masih yakin everything will be running well.

Satu jam berlalu. Jam digital di hape HiTech H38-ku, yang bisa untuk nyetel TV itu, sudah menunjukkan pukul 10:00. Istriku mulai gelisah, akupun mulai tak sabar. Kok dokternya belum datang juga. Jangan-jangan....

Karena sudah nungguin sejam, aku merasa punya hak bertanya ke petugas resepsionis, ada apakah gerangan sehingga the doctor belum juga nampak batang hidungnya. Si suster menjawab dengan penuh percaya diri,“Biasanya jam sembilan lebih dikit juga sudah datang. Mungkin dokternya lagi ada perlu. Tungguin aja”. Waduh, sontoloyo. I dont like it. Satu dari sekian hal yang paling gue kagak suka tuh yang kaya gini, nungguin sesuatu tanpa pernah tahu kapan sesuatu itu datang. Mungkin emang gini ya tipikal layanan yang disubsidi dan cenderung bersifat monopoli, khususnya di negara di mana masyarakat tidak dianggap sebagai pemilik saham negara seperti di Indonesia tercinta ini. Pelayanan menjadi asal-asalan, tanpa senyum, dan berprinsip elo yang butuh gue, bukan gue yang butuh elo. Walhasil, take it or leave it. Kalau nggak mau, silakan minggir, antrian manusia yang butuh gue masih panjang.

Jam 11:00, ketika istriku sudah cemberut dan tidak lagi bisa tersenyum, akhirnya dokter itu datanglah. Seorang dokter laki-laki yang kelihatan masih muda dan lumayan hensem. Jalan santai dan penuh perasaan tanpa menunjukkan ketergesa-gesaan sedikitpun seolah nggak sadar bahwa puluhan orang sudah enggak sabar nungguin dia dua jam. Atau justru momen kaya gini ini dia nikmati. Merasa dibutuhkan, merasa ditunggu-tunggu kehadirannya. It’s really cool, isn’t it? Ngapain aja sih Dok, kok gini hari baru datang? Udah gitu, Pak Dokter enggak langsung masuk. Di depan pintu malah sempat-sempatnya ngobrol sambil haha hihi dulu sama suster. Halah, guemes banget aku. Kalau saja waktu itu bawa granat, sudah kulempar tuh granat ke mukanya. La wis piye, anyel tenan je.... Nggak tau orang juga punya acara lain apa ya.

Setelah sesaat si dokter masuk ke ruangan, mulailah pasien dipanggil satu-satu. Aneh, kok aku nggak dipanggil-panggil. Logikanya, karena berkasku sudah masuk sejak kemarin, mestinya aku termasuk yang pertama dipanggil. Kok ini enggak? Rasa BeTe yang tadi sempat sirna, kini kembali bersemi. Harus nunggu berapa pasien lagi aku dipanggil masuk?

Inilah yang terjadi jika sistem antrian enggak transparan kayak gini. Padahal untuk hal beginian tuh sebetulnya gampang lo kalau RS Persahabatan sedikit saja punya will untuk menghargai pasien. Bikin saja sistem antrian yang pakai tiket dan papan display. Sudah banyak kan sistem kaya gitu dipakai di sini, di bank-bank, atau aku pernah lihat juga di Samsat Jakarta Timur. Dengan begitu, pasien bisa tahu persis yang sedang ditangani tuh antrian nomor berapa. Dari situ, pasien bisa ngira-ngira, jika antrean saya nomor sekian, saat ini pasien nomor sekian yang sedang dipanggil, dan satu pasien ditangani sekian menit, maka kurang lebih jam sekian lebih sekian menit giliran saya. Pasien menjadi lebih ada kepastian. Kalau harus nunggu lama, bisa jalan-jalan dulu, cuci mata, kali aja ada pasien di poli lain yang cakep dan bisa diajak kenalan dan siapa tahu bisa berlanjut ke pelaminan.

La kalau yang ada adalah sistem antrean ala jaman prasejarah gini, pasien kan jadi susah. Mau ke WC aja mikir-mikir, jangan-jangan pas lagi asyik masyuk pipis di WC, nama gue dipanggil, dan kalau gue gak muncul, dilompati pasien berikutnya dan mesti nunggu nggak jelas kapan dipanggil lagi.

Akhirnya, setelah menanti dengan segenap kesabaran dan ketabahan, namaku dipanggil juga. Tidak banyak percakapan antara diriku dengan si dokter. Aku cuma ditanya keluhannya apa, dan belum sampai mulutku selesai bicara, tuh dokter tahu-tahu udah nulis resep dan bikin surat pengantar untuk tes darah dan rontgent BNO (ket: berbeda dengan rontgent dada, BNO tuh yang dipotret bagian puser ke bawah. Katanya sih untuk ngedetect apakah ada batu atau benda-benda asing lainnya di ginjal). Weh, cepet banget. Ya maklum saja, wong tuh dokter datengnya telat, setengah jam lagi polinya harus tutup, sementara pasiennya masih bejibun. Tidak ada kesempatan sama sekali untuk curhat, boro-boro konsultasi. Bener-bener deh, take it or leave it....

Begitulah. Hari itu aku kembali dibikin mangkel sama RS Persahabatan. Kapok deh gue berobat ke situ.

Kamis, April 17, 2008

RS Persahabatan yang ngajak musuhan (part 1)



Selasa (16/4) kemaren aku ke Rumah Sakit Persahabatan di bilangan Rawamangun Jakarta Timur untuk berobat karena sejak dua hari sebelumnya saya sakit. Nyeri di bagian perut dan pas bangun tidur hari Minggunya air seni sepertinya kok lebih keruh dari biasanya. Dalam keadaan biasa, saya biasanya cuek. Paling masuk angin, dan ntar juga sembuh sendiri. Tentang air seni yang keruh itu paling-paling karena malemnya makan indomie rebus di warung sebelah rumah pakai saus sambel agak banyakan. Cuma, momen datangnya rasa sakit itu tidak tepat. Beberapa hari sebelumnya seorang teman meninggal mendadak karena stroke padahal malam sebelumnya dia masih chatting. Terus ada juga teman cerita tentang temannya yang gagal ginjal dan harus cuci darah seminggu sekali. Terus ada kolega senior seruangan di kantor yang bilang, “ati-ati, mungkin livermu kena”. Waaa, setres denger itu semua. Mana anak masih 3 tahun, istri juga baru hamil 5 bulan. Makanya, daripada daripada, akhirnya diputuskanlah untuk berobat.

Bukan sakitnya itu yang pengen saya ceritakan. Saya pengen curhat disiyo-siyo dua hari di rumah sakit itu. Namanya doang “persahabatan”, rumah sakit itu faktanya ngajakin saya musuhan. Ceritanya, dengan pertimbangan jarak yang lebih dekat dari rumah saya di daerah Utan Kayu, dan kali-kali aja kartu askes (yang sudah empat tahun ngendon di dompet tapi seumur-umur belum pernah kepakai) bisa dimanfaatkan di tuh rumah sakit, berangkatlah saya ke Persahabatan. Dani, istriku tersayang, duduk manis di goncengan motor Honda Legenda butut andalan keluarga, memeluk erat suaminya seerat pelukan istri yang nggak rela dipoligami.

Jam 09:00 pas kami tiba di loket pendaftaran. Weh, yang ngantri banyak bener. Suasanya mirip Stasiun Senen dua hari menjelang Idul Fitri. Berhubung seumur-umur nggak pernah berobat ke situ, saya dekati si Mas yang jaga mesin nomor antrian untuk ngambil nomor sekalian nanya-nanya gimana prosedur yang mesti dilewati dan apakah kartu Askes wasiat yang nggak pernah dipakai tapi sudah bau apek akibat diperam empat tahun dalam dompet lusuh itu bisa saya manfaatkan. Tentu dengan bisik-bisik biar nggak ketahuan sama pasien lain kalau saya pengen berobat gratisan. “Wah, nggak bisa Pak kalau nggak pakai rujukan dari Puskesmas”, jawab si Mas dingin tanpa ekspresi.

Walah, yo wis. Berhubung sudah kadung di situ, aku daftar saja sebagai pasien biasa non-Askes. Di loket pendaftaran itu, setelah ngantri, akhirnya sampai juga giliranku dilayani. Ditanya-tanya mau ke poli apa. Wah, I have no idea mau ke mana. Setelah cerita mengenai keluhan saya, si Bapak penjaga loket mengarahkan saya ke poli penyakit dalam. Jreng, 35 ribu pindah tangan, dan melangganglah kami ke lantai dua tempat si poli berada.

Waduh, sing ngantri akeh banget. “Maklum Yah, rumah sakit negeri,” istriku berusaha menenangkan hatiku (dan hatinya juga, I guess). Menit demi menit berlalu, tanpa kepastian kapan dipanggil. Koran Kompas sudah khatam 2 kali. Baru setelah sejam lebih... “Heriyadi!”, panggilan melalui pengeras suara membahana. Akhirnya, namaku dipanggil juga, bareng sama 10 orang lain. Lah, kok dipanggilnya bertubi-tubi gitu, 10 orang sekaligus? Curiga, jangan-jangan di dalam malah diajak arisan. Benar juga, ternyata dipanggil itu belum berarti langsung diperiksa. Itu panggilan untuk diukur tekanan darahnya doang, oleh suster. Caranya, pasien yang tadi dipanggil rame-rame itu disuruh duduk umpel-umpelan, dan satu meter di depan kami ada meja tensimeter, desk tempat si suster manggil kami satu-satu untuk di tensi, sambil di tanya-tanya apa keluhannya. Wah, setres juga ditanya-tanya gitu di depan pasien lain. Mana nanyanya kenceng lagi. Ada pasien dengan kartu gakin (alias keluarga miskin) yang salah prosedur, terus dibilangin “Bukan karena Ibu gakin lo. Ini betul-betul karena prosedurnya harus begitu”. Mungkin, si pasien mbatin,”Yaaa, ketahuan deh gue orang miskin”. Semua orang yang ada di ruangan sempit itu kemudian menjadi tau, Bapak itu sakit anu, Ibu itu sakit anu. Padahal setahu saya, penyakit seseorang itu harusnya menjadi rahasia antara si pasien dan dokter. Kalau dibahas keras-keras disaksikan pasien lain begitu, nanggung. Sekalian aja di pasang pengeras suara atau di shoot kamera terus disiarin di Liputan 6 SCTV.

Tibalah giliranku. Sama seperti yang lain, aku juga ditanya-tanya apa keluhannya sambil ditensi. Hasilnya, tensi lumayan bagus 130/80. Tapi, ada tapinya.... Ternyata, saya salah kamar, Sodara-sodara. Keluhan seperti yang saya rasakan, seharusnya bukan di poli penyakit dalam, tapi di poli bedah urologi. “Jadi, kartu ini silakan Bapak bawa ke bedah urologi. Jika ditolak, kembali ke sini,” kata suster polos. Walah, kere. Setelah nunggu berjam-jam, dipanggil cuma untuk di tensi dan mengetahui bahwa saya salah kamar. Tarbayang lagi wajah si Bapak di loket registrasi yang dengan gagah perkasa tadi bilang “Oke, kalau begitu Anda ke poli penyakit dalam”. Wis jan, wadhuz!

Sampai di bedah urologi di lantai satu, saya lapor sambil menyerahkan kartu hasil tensi tadi ke suster. Tapi, “kartu ini saya simpan, besok Bapak ke sini lagi pagi-pagi jam 09:00. Hari ini bedah urologi tutup”. Halah. (bersambung)

Kamis, April 10, 2008

Ayo, temenin saya isep racun


Rasanya sudah tidak terhitung lagi berapa kali saya memohon kesadaran Pak AN (kolega senior satu ruangan di kantor) agar tidak morokok di ruangan kerja kami. Saya telah berusaha untuk menyadarkan dia, mulai dari cara yang sangat halus dengan menunjukkan artikel di koran mengenai bahaya yang mengancam perokok pasif; menyindir dia dengan memakai masker penutup hidung dan mulut manakala dia merokok di ruangan; hingga cara yang menurut saya paling maksimal, yaitu mengungkapkan keluhan saya secara eksplisit. Namun semua upaya saya itu agaknya sia-sia. Dia tidak bergeming. Jawabannya juga kurang lebih sama:”Makanya Her, kamu merokok saja sekalian”. Waduh, susah...

Bagi saya, menyuruh saya ikut-ikutan merokok adalah solusi yang nggak mutu. Selain karena alasan penghasilan yang pas-pasan, juga karena prinsip hidup saya yang tidak mau berurusan dengan asap rokok.

Agaknya perlu dibangkitkan kesadaran bahwa merokok bukan merupakan aktivitas pribadi, melainkan aktivitas sosial. Tidak seperti makan pisang goreng atau mengulum permen yang jika ada racunnya maka si pemakan atau pengulum itulah, the one and only, yang jadi korban dan nggak bawa-bawa orang lain untuk nemenin. Ketika orang merokok, mau tidak mau orang lain akan ikut menghirup asap yang dihasilkannya. Asap yang “terpaksa” diisap oleh perokok pasif bukan hanya yang keluar dari mulut dan hidung si perokok, tetapi juga dari --dan menurut para pakar kesehatan justru inilah yang lebih berbahaya-- bara tembakau yang terbakar diujung rokok.

Usaha untuk menumbuhkan kesadaran semacam ini menjadi semakin terasa berat oleh karena target sasarannya adalah hampir semua lapisan masyarakat di Indonesia. Tidak hanya para tukang becak dan kuli panggul di pasar-pasar, bahkan para pejabat instansi pemerintah dan eksekutif perusahaan swasta yang notabene lebih berpendidikan pun juga melakukan hal yang sama. Mereka bahkan lebih parah lagi, karena apa yang dilakukan adalah merokok dalam ruangan ber-AC dan tertutup rapat sehingga sirkulasi udara tidak sempurna.

Di negara-negara maju, konon kesadaran tersebut sudah ada dan membudaya. Buktinya, si perokok akan meminta ijin orang yang duduk di sebelahnya,”Boleh saya merokok?” Dan jika orang itu keberatan, si prokok akan mengurungkan niatnya. Saya berangan-angan kapan hal itu terjadi di Indonesia.

Salah seorang kawan saya, sebut saja namanya Wahyu (31), barangkali bisa disebut sebagai satu contoh korban dari betapa ganasnya asap rokok di ruang kerja ber-AC. Beberapa bulan terakhir dia harus bolak-balik ke rumah sakit karena ada yang tidak beres dengan paru-parunya. Penyebab sakitnya itu memang bukan semata-mata karena asap rokok. Namun demikian, kondisi ruang kerja yang tidak sehat (satu ruangan sempit, tertutup rapat, ber-AC, tidak memiliki fasilitas exhaust fan, sementara perokok berat yang ada di dalamnya lebih dari 3 orang) menurut penuturan dokter yang merawatnya juga memiliki andil yang sangat signifikan bagi semakin parahnya kondisi kesehatan Wahyu.
Dengan menulis ini, saya tidak sedang menyuruh orang untuk berhenti merokok, karena buat saya keputusan untuk menjadi perokok atau tidak, terletak pada diri pribadi masing-masing. Saya hanya berharap agar para pembayar pajak dari cukai rokok itu tidak memaksa orang lain ikut mengisap racun yang dia produksi.

Aku bangga jadi orang Indonesia


Keponakan saya, usianya masih 5 tahun, mempunyai kebiasaan unik, setidaknya untuk ukuran kita orang Indonesia. Kebiasaan yang saya maksud adalah kebiasaannya membuang sampah hanya di tempat sampah. Kalau kebetulan dia sedang diajak keluar rumah, kemudian makan permen, dan dia tidak menemukan satupun tempat sampah di dekatnya, maka dia akan dengan setia menggenggam plastik bungkus permen itu di tangannya, atau dia kantongi plastik itu di saku celananya, untuk nanti dia buang di tempat sampah yang ada di rumah.

Kebiasaan seperti itu tentu saja sangat merepotkan. Pernah, ketika mencuci bajunya, sang ibu (kakak ipar saya) menemukan noda warna-warni melunturi seluruh pakaian di bak cucian. Selidik punya selidik, sumber noda itu rupanya berasal dari kertas bungkus makanan yang mudah luntur, yang dia kantongi. Sejak saat itulah, setiap kali mencuci, sang ibu tidak pernah lupa mengecek kantong keponakan saya itu.

Bagi kita, kebiasaan seperti saya ceritakan tadi memang boleh dibilang unik alias nyleneh. Bagaimana tidak. Kenapa mesti repot menggenggam sampah di tangan, dan membuangnya di rumah, padahal di sekeliling kita telah tersedia tempat sampah yang begitu besar dan panjang? Apa lagi kalau bukan got di kiri kanan setiap jalan yang kita lalui, dan sungai-sungai, yang siap menampung berapapun volume sampah yang ingin kita buang. Plastik bungkus permen, yang ukurannya tidak lebih dari 5x7 senti itu sungguh benda teramat kecil bagi tempat sampah raksasa yang kita miliki.

Mengenai kebiasaan cerdas kita buang sampah di kali itu saya punya satu kisah menarik. Suatu ketika karena hujan yang begitu lebat, saya tertahan di pinggir sebuah sungai di bilangan Utan Kayu, Jakarta Timur. Saya dibuat takjub menyaksikan arus air yang dalam waktu singkat meninggi hingga ke bibir saluran air. Lebih takjub lagi ketika tidak lama dari itu saya menyaksikan kantong-kantong plasitk yang entah berisi apa, ember bekas, botol aqua, dan masih banyak lagi, seolah berbaris tiada henti hanyut mengikuti arus. Bahkan kemudian saya temukan ada meja dan kursi di sana. Saya sempat panik, menduga bahwa rumah-rumah di ujung sana kebanjiran hingga perabotan rumah tangganya hanyut. Tapi belakangan saya tahu bahwa meja dan kursi itu memang sudah rusak, dan sengaja dibuang ke kali, memanfaatkan momentum meluapnya air sungai. Luar biasa brilian! Si pemilik meja kursi itu sungguh seorang jenius!

Mungkin ada di antara Anda yang berkata: Ah, yang melakukan itu kan hanya orang-orang miskin yang tidak berpendidikan. Eit, tunggu dulu! Percayalah, tidak ada korelasi yang signifikan antara tingkat kesejahteraan dan pendidikan dengan kebiasaan buang sampah sembarangan. Mau bukti? Cobalah tengok mobil-mobil mewah yang sering berseliweran di jalan-jalan Jakarta, yang harganya ratusan juta itu. Masuklah ke dalamnya, dan Anda akan menemukan bahwa sangat sedikit di antara mobil-mobil itu yang ada tempat sampah di dalamnya. Lantas, bagaimana kalau suatu ketika Anda membawa masuk lemper dan ingin memakannya? Di mana Anda akan membuang daun pisang si bungkus lemper? Gampang. Ikuti saja beberapa langkah mudah berikut ini: (1) jepit daun pisang bungkus lemper itu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah; (2) turunkan kaca jendela mobil, tidak usah lebar-lebar, cukup 5 hingga 10 senti; (3) taruh tangan penjepit tadi di sela-sela kaca jendela; (4) lepaskan jepitan tangan, bungkus lemper itu otomatis akan jatuh dan terbang dibawa angin entah kemana; (5) jangan lupa tutup kembali kaca jendela mobil, sehingga kembali bisa menikmati ruangan yang dingin ber-AC lagi bersih. Begitu mudah dan praktis, dan itu bisa Anda lakukan tanpa harus menghentikan laju mobil. Siapa bilang orang Indonesia tidak kreatif?

* * *

Ngomong-ngomong tentang kebiasaan kita, ada satu kebiasaan lain lagi yang sebetulnya unik, namun karena hampir semua orang melakukannya menjadi sesuatu yang lazim. Apa itu? Sesekali, kalau sedang tidak ada kesibukan iseng-iseng berdirilah Anda di pinggir perempatan, pertigaan, atau di tempat lain yang ada traffic light-nya. Hanya kalau sedang sial saja Anda tidak akan menyaksikan peristiwa ini. Pada saat lampu menyala kuning, atau bahkan sudah merah, hampir dapat dipastikan bahwa para pengemudi kendaraan justru akan menginjak pedal gas, bukannya pedal rem. Tunggu! Jangan buru-buru pergi, karena sebentar lagi Anda akan menyaksikan peristiwa yang lain lagi. Ketika lampu baru sepersekian detik menyala hijau, atau bahkan masih merah, akan terdengar klakson panjang bersahut-sahutan membentuk orkestrasi indah, seolah berkata: Dasar orang buta! Lampunya sudah hijau, masih saja berhenti!

Kemudian, lanjutkanlah perjalanan Anda ke pintu perlintasan kereta terdekat. Di sana Anda akan menyaksikan mobil-mobil yang dengan gagah berani melintas meski pintu perlintasan sudah akan ditutup. Bahkan, meski sudah ditutup pun, tapi masih ada sedikit celah, niscaya akan ada sepeda-sepeda motor yang dengan heroik menerobos. Siapa bilang orang Indonesia tidak menghargai waktu?

Sungguh indah hidup di negeri ini. Kita bisa melakukan apa saja yang kita mau. Makanya saya heran kenapa Taufik Ismail, sastrawan jenius idola saya itu, justru malu jadi orang Indonesia.