
Keponakan saya, usianya masih 5 tahun, mempunyai kebiasaan unik, setidaknya untuk ukuran kita orang Indonesia. Kebiasaan yang saya maksud adalah kebiasaannya membuang sampah hanya di tempat sampah. Kalau kebetulan dia sedang diajak keluar rumah, kemudian makan permen, dan dia tidak menemukan satupun tempat sampah di dekatnya, maka dia akan dengan setia menggenggam plastik bungkus permen itu di tangannya, atau dia kantongi plastik itu di saku celananya, untuk nanti dia buang di tempat sampah yang ada di rumah.
Kebiasaan seperti itu tentu saja sangat merepotkan. Pernah, ketika mencuci bajunya, sang ibu (kakak ipar saya) menemukan noda warna-warni melunturi seluruh pakaian di bak cucian. Selidik punya selidik, sumber noda itu rupanya berasal dari kertas bungkus makanan yang mudah luntur, yang dia kantongi. Sejak saat itulah, setiap kali mencuci, sang ibu tidak pernah lupa mengecek kantong keponakan saya itu.
Bagi kita, kebiasaan seperti saya ceritakan tadi memang boleh dibilang unik alias nyleneh. Bagaimana tidak. Kenapa mesti repot menggenggam sampah di tangan, dan membuangnya di rumah, padahal di sekeliling kita telah tersedia tempat sampah yang begitu besar dan panjang? Apa lagi kalau bukan got di kiri kanan setiap jalan yang kita lalui, dan sungai-sungai, yang siap menampung berapapun volume sampah yang ingin kita buang. Plastik bungkus permen, yang ukurannya tidak lebih dari 5x7 senti itu sungguh benda teramat kecil bagi tempat sampah raksasa yang kita miliki.
Mengenai kebiasaan cerdas kita buang sampah di kali itu saya punya satu kisah menarik. Suatu ketika karena hujan yang begitu lebat, saya tertahan di pinggir sebuah sungai di bilangan Utan Kayu, Jakarta Timur. Saya dibuat takjub menyaksikan arus air yang dalam waktu singkat meninggi hingga ke bibir saluran air. Lebih takjub lagi ketika tidak lama dari itu saya menyaksikan kantong-kantong plasitk yang entah berisi apa, ember bekas, botol aqua, dan masih banyak lagi, seolah berbaris tiada henti hanyut mengikuti arus. Bahkan kemudian saya temukan ada meja dan kursi di sana. Saya sempat panik, menduga bahwa rumah-rumah di ujung sana kebanjiran hingga perabotan rumah tangganya hanyut. Tapi belakangan saya tahu bahwa meja dan kursi itu memang sudah rusak, dan sengaja dibuang ke kali, memanfaatkan momentum meluapnya air sungai. Luar biasa brilian! Si pemilik meja kursi itu sungguh seorang jenius!
Mungkin ada di antara Anda yang berkata: Ah, yang melakukan itu kan hanya orang-orang miskin yang tidak berpendidikan. Eit, tunggu dulu! Percayalah, tidak ada korelasi yang signifikan antara tingkat kesejahteraan dan pendidikan dengan kebiasaan buang sampah sembarangan. Mau bukti? Cobalah tengok mobil-mobil mewah yang sering berseliweran di jalan-jalan Jakarta, yang harganya ratusan juta itu. Masuklah ke dalamnya, dan Anda akan menemukan bahwa sangat sedikit di antara mobil-mobil itu yang ada tempat sampah di dalamnya. Lantas, bagaimana kalau suatu ketika Anda membawa masuk lemper dan ingin memakannya? Di mana Anda akan membuang daun pisang si bungkus lemper? Gampang. Ikuti saja beberapa langkah mudah berikut ini: (1) jepit daun pisang bungkus lemper itu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah; (2) turunkan kaca jendela mobil, tidak usah lebar-lebar, cukup 5 hingga 10 senti; (3) taruh tangan penjepit tadi di sela-sela kaca jendela; (4) lepaskan jepitan tangan, bungkus lemper itu otomatis akan jatuh dan terbang dibawa angin entah kemana; (5) jangan lupa tutup kembali kaca jendela mobil, sehingga kembali bisa menikmati ruangan yang dingin ber-AC lagi bersih. Begitu mudah dan praktis, dan itu bisa Anda lakukan tanpa harus menghentikan laju mobil. Siapa bilang orang Indonesia tidak kreatif?
* * *
Ngomong-ngomong tentang kebiasaan kita, ada satu kebiasaan lain lagi yang sebetulnya unik, namun karena hampir semua orang melakukannya menjadi sesuatu yang lazim. Apa itu? Sesekali, kalau sedang tidak ada kesibukan iseng-iseng berdirilah Anda di pinggir perempatan, pertigaan, atau di tempat lain yang ada traffic light-nya. Hanya kalau sedang sial saja Anda tidak akan menyaksikan peristiwa ini. Pada saat lampu menyala kuning, atau bahkan sudah merah, hampir dapat dipastikan bahwa para pengemudi kendaraan justru akan menginjak pedal gas, bukannya pedal rem. Tunggu! Jangan buru-buru pergi, karena sebentar lagi Anda akan menyaksikan peristiwa yang lain lagi. Ketika lampu baru sepersekian detik menyala hijau, atau bahkan masih merah, akan terdengar klakson panjang bersahut-sahutan membentuk orkestrasi indah, seolah berkata: Dasar orang buta! Lampunya sudah hijau, masih saja berhenti!
Kemudian, lanjutkanlah perjalanan Anda ke pintu perlintasan kereta terdekat. Di sana Anda akan menyaksikan mobil-mobil yang dengan gagah berani melintas meski pintu perlintasan sudah akan ditutup. Bahkan, meski sudah ditutup pun, tapi masih ada sedikit celah, niscaya akan ada sepeda-sepeda motor yang dengan heroik menerobos. Siapa bilang orang Indonesia tidak menghargai waktu?
Sungguh indah hidup di negeri ini. Kita bisa melakukan apa saja yang kita mau. Makanya saya heran kenapa Taufik Ismail, sastrawan jenius idola saya itu, justru malu jadi orang Indonesia.
Kebiasaan seperti itu tentu saja sangat merepotkan. Pernah, ketika mencuci bajunya, sang ibu (kakak ipar saya) menemukan noda warna-warni melunturi seluruh pakaian di bak cucian. Selidik punya selidik, sumber noda itu rupanya berasal dari kertas bungkus makanan yang mudah luntur, yang dia kantongi. Sejak saat itulah, setiap kali mencuci, sang ibu tidak pernah lupa mengecek kantong keponakan saya itu.
Bagi kita, kebiasaan seperti saya ceritakan tadi memang boleh dibilang unik alias nyleneh. Bagaimana tidak. Kenapa mesti repot menggenggam sampah di tangan, dan membuangnya di rumah, padahal di sekeliling kita telah tersedia tempat sampah yang begitu besar dan panjang? Apa lagi kalau bukan got di kiri kanan setiap jalan yang kita lalui, dan sungai-sungai, yang siap menampung berapapun volume sampah yang ingin kita buang. Plastik bungkus permen, yang ukurannya tidak lebih dari 5x7 senti itu sungguh benda teramat kecil bagi tempat sampah raksasa yang kita miliki.
Mengenai kebiasaan cerdas kita buang sampah di kali itu saya punya satu kisah menarik. Suatu ketika karena hujan yang begitu lebat, saya tertahan di pinggir sebuah sungai di bilangan Utan Kayu, Jakarta Timur. Saya dibuat takjub menyaksikan arus air yang dalam waktu singkat meninggi hingga ke bibir saluran air. Lebih takjub lagi ketika tidak lama dari itu saya menyaksikan kantong-kantong plasitk yang entah berisi apa, ember bekas, botol aqua, dan masih banyak lagi, seolah berbaris tiada henti hanyut mengikuti arus. Bahkan kemudian saya temukan ada meja dan kursi di sana. Saya sempat panik, menduga bahwa rumah-rumah di ujung sana kebanjiran hingga perabotan rumah tangganya hanyut. Tapi belakangan saya tahu bahwa meja dan kursi itu memang sudah rusak, dan sengaja dibuang ke kali, memanfaatkan momentum meluapnya air sungai. Luar biasa brilian! Si pemilik meja kursi itu sungguh seorang jenius!
Mungkin ada di antara Anda yang berkata: Ah, yang melakukan itu kan hanya orang-orang miskin yang tidak berpendidikan. Eit, tunggu dulu! Percayalah, tidak ada korelasi yang signifikan antara tingkat kesejahteraan dan pendidikan dengan kebiasaan buang sampah sembarangan. Mau bukti? Cobalah tengok mobil-mobil mewah yang sering berseliweran di jalan-jalan Jakarta, yang harganya ratusan juta itu. Masuklah ke dalamnya, dan Anda akan menemukan bahwa sangat sedikit di antara mobil-mobil itu yang ada tempat sampah di dalamnya. Lantas, bagaimana kalau suatu ketika Anda membawa masuk lemper dan ingin memakannya? Di mana Anda akan membuang daun pisang si bungkus lemper? Gampang. Ikuti saja beberapa langkah mudah berikut ini: (1) jepit daun pisang bungkus lemper itu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah; (2) turunkan kaca jendela mobil, tidak usah lebar-lebar, cukup 5 hingga 10 senti; (3) taruh tangan penjepit tadi di sela-sela kaca jendela; (4) lepaskan jepitan tangan, bungkus lemper itu otomatis akan jatuh dan terbang dibawa angin entah kemana; (5) jangan lupa tutup kembali kaca jendela mobil, sehingga kembali bisa menikmati ruangan yang dingin ber-AC lagi bersih. Begitu mudah dan praktis, dan itu bisa Anda lakukan tanpa harus menghentikan laju mobil. Siapa bilang orang Indonesia tidak kreatif?
* * *
Ngomong-ngomong tentang kebiasaan kita, ada satu kebiasaan lain lagi yang sebetulnya unik, namun karena hampir semua orang melakukannya menjadi sesuatu yang lazim. Apa itu? Sesekali, kalau sedang tidak ada kesibukan iseng-iseng berdirilah Anda di pinggir perempatan, pertigaan, atau di tempat lain yang ada traffic light-nya. Hanya kalau sedang sial saja Anda tidak akan menyaksikan peristiwa ini. Pada saat lampu menyala kuning, atau bahkan sudah merah, hampir dapat dipastikan bahwa para pengemudi kendaraan justru akan menginjak pedal gas, bukannya pedal rem. Tunggu! Jangan buru-buru pergi, karena sebentar lagi Anda akan menyaksikan peristiwa yang lain lagi. Ketika lampu baru sepersekian detik menyala hijau, atau bahkan masih merah, akan terdengar klakson panjang bersahut-sahutan membentuk orkestrasi indah, seolah berkata: Dasar orang buta! Lampunya sudah hijau, masih saja berhenti!
Kemudian, lanjutkanlah perjalanan Anda ke pintu perlintasan kereta terdekat. Di sana Anda akan menyaksikan mobil-mobil yang dengan gagah berani melintas meski pintu perlintasan sudah akan ditutup. Bahkan, meski sudah ditutup pun, tapi masih ada sedikit celah, niscaya akan ada sepeda-sepeda motor yang dengan heroik menerobos. Siapa bilang orang Indonesia tidak menghargai waktu?
Sungguh indah hidup di negeri ini. Kita bisa melakukan apa saja yang kita mau. Makanya saya heran kenapa Taufik Ismail, sastrawan jenius idola saya itu, justru malu jadi orang Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar