Sabtu, Mei 31, 2008
Istriku sewot demo BBM
Lampu teras sengaja dimatikan, remang-remang, tidak gelap total karena cahaya lampu jalan di tiang listrik di depan rumah masih cukup untuk memandu mata sehingga tangan tidak salah ambil cangkir teh atau mencomot nyamikan. Posisi teras rumah ini cukup strategis, berbatasan langsung dengan selokan dan jalan, namely Jalan Nanas, letaknya lebih tinggi setengah meteran dari jalan, dibatasi pager setinggi dada (jika diukur dari sisi teras) yang dibeberapa titik di tengah-tengahnya terdapat lubang-lubang berbentuk bujur sangkar. Kubilang strategis karena dari teras ini, kita bisa dengan bebas mengamati lalu lalang orang, juga gerobak dorong penjual aneka makanan mulai ketoprak hingga empek-empek, sementara mereka sepertinya enggak sadar kalau sedang diamati. Momen bisa mengamati orang-orang sedangkan mereka tidak bisa gantian mengamati saya itulah yang paling bikin aktivitas nongkrong di teras jadi menyenangkan.
Rabu (28/5) jam 18:37. Nongkrong di teras dimulai. Teh hangat terhidang di meja, di sampingnya ada sepiring kacang rebus. Oia, versi mentah kacang itu adalah hasil panen dari kebun sendiri di Kramas yang kubawa ketika aku pulang kampung tempo hari. Ajaib, teh hangat yang dipadu dengan kacang rebus begitu, sore itu mampu memberikan sensasi nikmat tiada tara. Sruuut... ah, seger, mat.
Begitulah. Duapuluh tujuh menit berlalu. Kacang rebus sudah kumakan sebagian, teh hangat sudah tinggal tegukan terakhir, tiba-tiba...
“Ayah, Bunda tuh sebel sama mahasiswa sekarang. Maunya apaan sih?” begitu saja emaknya Wisang nyelonong keluar, duduk di kursi di sampingku, mengajukan pertanyaan yang lebih bernada omelan.
“Lo, lo..., sabar Bun, sabar. Kok tiba-tiba sewot begitu? Wong mahasiswa nggak salah apa-apa, nggak ada hujan nggak ada angin kok Bunda sebel sama mereka”.
“Nggak salah apaan? Lihat tuh di tivi, mahasiswa yang demo menentang kenaikan harga BBM itu pada bawa-bawa bom molotov dan narkoba segala. Itu tuh niat mau demo apa mau tawuran sih? Udah gitu, bom molotovnya pakai dilempar ke mikrolet sampai bannya terbakar. Lah, sopir mikrolet dan penumpangnya apa ya nggak panik dan ketakutan? Mereka itu kan juga wong cilik. Kan lucu jadinya, Yah, demo-demo katanya mengatasnamakan rakyat, tapi rakyat sendiri pasti bukannya simpatik, sebel malah iya, sama mereka”.
“Ooo itu to, sebab-musabab Bunda sewot?”
“Nggak cuma itu, Yah. Ada polisi yang sedang naik motor lewat deket massa mahasiswa, tau-tau motornya didorong sampai jatuh terus orangnya ditendang dan dipukuli. Kasian kan, mana polisi itu sudah bapak-bapak, 50-an tahun gitu”, istriku terus mengomel, sambil tangannya tak lupa ikut cekatan ngambil kacang rebus, mengupas, dan memasukkan ke mulutnya.
“Terus...?”, aku melihat masih belum tuntas unek-uneknya.
“Di tengah rakyat prihatin, demo di sana demo di sini, eh sempat-sempatnya tuh mahasiswa pada tawuran. Anak YAI dan UKI, tawuran di Jalan Diponegoro depan RSCM, bikin jalan terpaksa ditutup. Bunda kok jadi ngeri ngebayangin gimana nasib pasien yang sedang kritis, setiap detiknya pasti sangat berharga, yang saat itu sedang dilarikan ke UGD RSCM. Sudah hampir sampai, eh jalan ditutup. Apa nggak kadung mati di jalan tuh pasien?”
“Jadi, Bunda setuju dong, harga BBM dinaikkan Pak SBY?” tanyaku memancing.
“Ya enggaklah. Wong belum dinaikkan saja Bunda udah pusing gimana caranya agar gaji ayah bisa dijembreng-jembreng hingga akhir bulan. Sekarang ini harga-harga sudah pada naik. Nggak tahu, apa gaji ayah yang bulan Juni entar bisa Bunda ulur-ulur sampai tanggal 30. Mana bentar lagi adiknya Wisang lahir...”.
Waduh, kasihan istriku, harus menerima nasib jadi anggota Dharma Wanita yang makin hari makin pusing ngatur gaji suami yang kenaikannya nggak pernah lebih tinggi dari angka inflasi. Tugas yang nyaris mustahil sesungguhnya, tapi dia menjalaninya dengan optimisme dan penuh dedikasi. Itu yang membuatku makin mencintainya, dan tak sedetikpun terbersit keinginan untuk berpaling dari sisinya (halah, gombal....).
Selanjutnya, kami terlibat dalam obrolan ngalor ngidul tentang ribut-ribut kenaikan harga BBM yang memicu aksi demo di seantero negeri. Kepada istriku, kusampaikan argumen bahwa pemerintah sudah mencurahkan semua daya upaya agar harga BBM nggak naik, seperti memangkas anggaran departemen/lembaga rata-rata 10%, melakukan berbagai penghematan, dan obral jualan BUMN. Tapi itu semua tetap nggak mampu menutup bengkaknya subsidi BBM karena harga minyak mentah dunia yang melonjak hingga tembus di level 135 dollar/barel, padahal asumsi harga minyak di APBN cuma dipatok pada angka 90 dollar. Kalau dibiarkan, APBN bisa jebol, negara bangkrut, dan PNS seperti suaminya terancam nggak gajian.
Parahnya lagi, subsidi BBM selama ini juga sebetulnya nggak tepat sasaran. Harga premium dibandrol 4.500 rupiah, padahal di pasaran dunia harganya sudah 9.000. Artinya, untuk satu liter bensin, negara harus kasih subsidi 4.500 rupiah. Dengan asumsi rata-rata perhari satu mobil mengkonsumsi premium 10 liter, para pemilik mobil pribadi yang tentulah orang-orang mampu itu disubsidi negara sebesar 1,35 juta perbulan. Rakyat miskin yang engak punya mobil nggak menikmati. Harga yang jauh dibawah harga pasar itu juga bikin BBM bersubsidi Indonesia diselundupkan besar-besaran ke luar negeri. Di negara lain, konon BBM malah dipajakin, biar orang mikir-mikir kalau mau beli mobil. Wis, pokoknya aku bicara berbusa-busa, kayak juru bicara Presiden aja.
Tapi, tentu saja istriku, dan wong-wong cilik lainnya, tetep nggak bisa menerima argumen itu. Yang dia tahu, harga-harga pasti bakalan meroket, dan sembako bakalan makin nggak kebeli.
“Yo wis, kalau enggak setuju sama Pak SBY, berarti Bunda setuju dong sama mahasiswa yang pada demo itu?”
“Enggak juga, Yah...”
“Elho, kok aneh? Bunda bilang nggak setuju sama demo mahasiswa, tapi enggak setuju juga dengan langkah Pak SBY menaikkan harga BBM”.
“Yang Bunda nggak setuju tuh caranya Yah. Bisa nggak sih, demo yang nggak pake ngerusak, yang nggak main lempar bom molotov, yang nggak pake menganiaya polisi, yang nggak bikin macet jalan?”
“Ya mungkin bisa Bun. Tapi kalau demonya anteng-anteng, adem ayem, nggak pakai hiruk-pikuk begitu, apa ya didengar sama Bapak dan Ibu yang di atas sana? Kupingnya sudah pada tebel tuh. Wong pakai bakar-bakaran ban dan hiruk-pikuk gitu aja masih nggak didenger lo Bun”.
“Ah, udah ah, obrolan kita ini makin bikin Bunda pusing”, istriku nyerah mengakhiri debat seru kami, berdiri, berniat masuk ngecek Wisanggeni yang lagi asik mainan laptop di kamar. Tapi, sebelum dia melangkah, kuberikan cangkir teh kosong dan piring kacang rebus yang sudah nggak ada isinya.
“Bun, Bun, tolong dong, tambah tehnya lagi. Kacang rebusnya juga ya....”
Selasa, Mei 27, 2008
Mensyukuri musibah
Sabtu (17/5) pagi, talkshow di TV O Channel menampilkan Eros Jarot. Pada satu segmen, seniman hebat itu ditanya mengenai perceraian yang menimpa orang tuanya dulu ketika ia masih kecil. Kira-kira begini jawaban dia. Perceraian itu membuat kami mandiri, tumbuh jadi anak-anak kreatif dan bisa seperti sekarang. Andai mereka tidak bercerai, mungkin kami jadi anak manja, dan sekarang ini saya tidak berada di sini kalian wawancarai.
Waktu SD kelas lima dulu, aku tinggal kelas karena sakit berminggu-minggu dan waktunya kok ya ngepas dengan ujian akhir. Betapa aku sedih sesedih-sedihnya. Setelah terima rapor, teman-teman bersepeda keliling kampung merayakan kenaikan kelas, dan aku hanya bisa memandang mereka sambil memendam duka. Kedatangan mereka untuk menghiburku sore harinya tidak banyak berarti selain hanya membuatku tambah merana.
Kini, kejadian nggak naik kelas itu justru kusyukuri karena ia adalah jalan menuju gunung nikmat tiada tara. Gimana enggak. Karena tinggal kelas itu, aku jadi setahun lebih lambat lulus kuliah dan cari kerja. Kerana tinggal kelas itu, aku baru lulus tahun 1999 ketika Suharto tidak lagi berkuasa dan anak petani miskin yang tidak punya koneksi sepertiku boleh menjadi abdi negara.
Bekerja dan memulai hidup di Jakarta adalah satu akibat yang menjadi penyebab dari mata rantai akibat-akibat berikutnya. Duapuluh dua tahun silam, ketika tinggal kelas, aku tidak pernah menyangka bahwa apa yang kualami itu adalah penggalan adegan yang mengantarku menjadi pegawai negeri yang meski tingkat kesejahteraannya nggak pernah beranjak jauh dari garis kemiskinan sejak kecil jadi cita-cita, bertemu dengan belahan jiwa yang cantik dan baik hati, dititipi Tuhan anak-anak yang sehat dan lucu, dan melanjutkan sekolah ke Belanda karena ada sponsor khilaf ngasih beasiswa. Peristiwa tinggal kelas yang dulu bikin aku kecewa, kini justru tak henti kusyukuri.
Sepupu dari teman saudara jauh saya (dus, saya tidak kenal secara pribadi saking jauhnya), sebut saja namanya Iwan, bahkan tidak perlu selang waktu bertahun-tahun seperti saya dan Eros Jarot. Dia bersyukur untuk satu peristiwa yang hanya satu jam sebelumnya dia anggap petaka. Masih ingat kan dengan kecelakaan pesawat Mandala di Medan yang menewaskan 143 orang, atau hampir seluruh penumpangnya dulu? Mestinya, Iwan adalah penumpang pesawat nahas itu. Dalam perjalanan menuju bandara, motor yang dia tumpangi pacah ban, terguling, dan dia mesti ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan. Tulang tangan kanannya patah dan bibirnya pecah akibat beradu dengan aspal. Walhasil, Mandala terbang tanpa Iwan. Tapi siapa mengira bahwa kecelakaan kecil itu justru menyelamatkan dia dari musibah jauh lebih besar.
Rencana Tuhan sepertinya emang ditakdirkan untuk tetap menjadi misteri bagi manusia. Sesuatu yang nampaknya buruk menurut kita, acapkali justru adalah jalan menuju anugerah-Nya. Itu barangkali makna dari firman Tuhan yang berbunyi: “sesungguhnya, dibalik kesulitan itu ada kemudahan”, yang Dia katakan tidak cukup sekali. Dia katakan itu dua kali, mungkin agar kita, makhluk bodoh tapi sering ngaku pinter ini, ngeh.
Orang-orang bijak selalu berpesan, dalam doa yang kita panjatkan sebaiknya kita jangan sok ngedikte Tuhan minta ini dan itu, based on maunya kita. “Ya Allah, lapangkan jalanku agar aku dapat beasiswa sekolah S3 di Amerika”, atau “Ya Allah, berilah aku rejeki berlimpah, agar aku bisa beli rumah, nggak terus-terusan ngontrak kayak sekarang”, dan seterusnya. Akan lebih elegan jika yang diminta ke Tuhan tuh apa yang terbaik untuk kita menurut Dia, bukan menurut kita...
Kalau dipikir-pikir, emang benar sih saran macem itu. Coba aja, buat apa kita dapat rejeki melimpah, rumah mewah, jabatan tinggi, atau popularitas, jika ternyata yang kita minta itu justru mengantar kita pada bencana atau menjauhkan kita dari Dia. Ada kan hal-hal yang kita syukuri saat ini, tapi ternyata jadi sebab peristiwa yang tak henti kita ratapi? Peristiwa yang menimpa Sophan Sophiaan beberapa waktu lalu barangkali bisa jadi contoh. Ketika pertama punya Harley Davidson, taruhan dia pasti seneng banget. Tapi siapa menyangka bahwa justru moge itulah yang membawa pada kematiannya. Dhani dan Maia mungkin dulu hepi banget ketika Maia sukses jadi penyanyi dan pencipta lagu, bisa cari duit sendiri sehingga harta mereka yang udah berlimpah itu makin berlimpah. Tapi, kita semua tahu bahwa sukses itulah yang membawa mereka berdua pada hancurnya rumah tangga.
Makanya, Rasulullah juga selalu menganjurkan kita untuk nggak ketawa terlalu ngakak kalau dapat kesenangan, pun jangan nangis tarlalu kenceng kalau kita lagi kena musibah. Sewajarnya saja, karena dari setiap kejadian yang menimpa, kita selalu disediakan cara pandang berbeda untuk menyikapinya.
Dalam kaitannya dengan kejadian enggak menyenangkan, selalu ada hikmah dibalik musibah, dan selalu lebih banyak yang bisa kita syukuri daripada kita ratapi. Daripada menganggap gelas setengah kosong, apakah nggak lebih menyenangkan jika kita menganggapnya setengah penuh.
Celakanya, manusia (termasuk saya juga tentu saja) tuh seringnya meratapi satu hal nggak menyenangkan yang terjadi dalam hidup, begitu seriusnya kita meratap sehingga lupa mensyukuri hal-hal lainnya. Sering kita cuma sedih mikirin satu hal yang tidak kita punya sehingga lupa bersykur atas ribuan hal lain yang telah Dia kasih. Ada orang belum punya mobil, tapi udah ada rumah bagus, istri cantik, anak lucu, pekerjaan dan gaji tetap, dan last but not least badan sehat. Yang sering terjadi, satu masalah, belum punya mobil, ituah yang bakalan terus-terusan dia pikirin, terus-terusan bikin dia ngeluh-ngeluh, sampai nih orang lupa bersyukur atas yang lainnya. Apakah Anda juga? Jujur, kadang-kadang aku juga begitu...
Pesan moral dari khotbah nggak jelas jluntrungannya ini adalah hendaklah kita selalu bersikap positif pada apapun yang terjadi pada kita. Kalaupun sekarang ini Anda sedang kena musibah, sikap paling bijak adalah bersabar sambil tetap yakin bahwa suatu saat Anda bakalan bersyukur kejadian ini telah menimpa Anda (halah, lambemu Her, Her... Ngomong tuh paling gampang).
Senin, Mei 26, 2008
Pulang...

Setelah terus-terusan tertunda karena sebab ini dan itu, akhirnya Jumat (23/5) lalu aku bisa pulang ke Semarang nengokin orang tua di Kramas. Bukan untuk apa-apa sebetulnya, selain keinginan untuk secara berkala nyambangin mereka, dengan justifikasi: “mumpung Bapak dan Ibuk masih ada”. Berhubung tanggalnya tanggal tua, kondisi likuiditas anggota Korpri sepertiku sedang lampu kuning, plus emaknya Wisang juga lagi hamil setengah tua, kepulanganku itu aku jalani sendirian. Wisanggeni dan emaknya ditinggal di markas Utan Kayu. Sebetulnya enak juga sih, pulang sendirian begitu, lebih murah dan nggak ribet, tinggal bawa badan doank karena semua keperluan mulai handuk hingga CD selalu standby di Kramas. Cuma, entar kalau dah nyampai, kuping harus disiapkan untuk menampung protes Ibuk, “Percuma kamu pulang kalo Wisang nggak diajak”. Maklum, di mana-mana, yang namanya embah, pasti fanatik sama cucu.
Seingatku, terakhir aku pulang adalah ketika mampir sehabis wisuda di UGM 24 Januari dulu, atau empat bulan yang lalu. Padahal, acara tengok-menengok bokap nyokap semacam ini biasanya paling jarang dua bulan sekali. Ngambil waktunya seperti ribuan migran dari Jawa yang lain, berangkat Jumat sore selepas jam kantor, dan tiba kembali di Jakarta Senin dini hari, terus ngantor.
“Ayah mau kemana?”, tanya Wisanggeni pada siang harinya, ketika dia menangkap basah Bapaknya sedang masuk-masukin bekal perjalanan: aqua botol (tentu untuk diminum di atas kereta) dan koran Kompas (yang ini multipurpose, untuk dibaca sekaligus alas tidur), ke tas ransel.
Ayah mau pulang, Le”
“Pulang ke Bekasi?”
“Bukan”
“Pulang ke Jogja?”
“Bukan. Ayah mau pulang ke Semarang, Cah Bagus”
“Pulang ke Semarang? Ayah, pulang itu apaan sih?”
Waduh, kasihan anakku. Dia sepertinya sulit memaknai konsep “pulang” yang tentu lebih rumit dibandingkan dengan kata-kata konkret seperti meja atau kursi. Lebih ribet lagi karena sejak dia orok sampai usia hampir empat tahun sekarang ini, tuh anak selalu diajak tinggal berpindah-pindah seperti suku nomaden di jaman berburu dan meramu.
Bayangkan aja, ketika lahir tuh anak tinggal di Utan Kayu. Tapi, belum genap sembilan bulan, dia sudah herus ikut boyongan ke Jogja, dan tinggal di sana untuk jadi suporter Bapaknya yang disuruh sekolah lagi oleh negara. Setahun kemudian, dia harus pindah lagi ke Harapan Indah Bekasi hingga sekarang, di mana terkadang ke Utan Kayu juga untuk menginap beberapa hari atau minggu.
Jumat malam, berangkatlah Senja Utama membawaku ke Semarang Tawang. Kadang cepat, tapi lebih sering pelan bahkan berkali-kali berhenti cukup lama, membiarkan diri dikentutin kereta argo agar para penumpangnya, yang bayar tiket jauh lebih mahal itu, merasa nyaman dan lebih cepat sampai tujuan.
Udara malam yang dingin, masuk lewat jendela yang sengaja dibuka untuk mengusir pengap karena banyaknya orang egois yang enak aja ngrokok di kereta penuh penumpang tanpa merasa bersalah. Aktivitas favoritku setiap kali nyepur begitu adalah baca koran, dan setelah khatam, koran itu digelar di lantai untuk dipakai tidur-tiduran sambil berusaha tidur beneran. Jika Anda adalah user setia Senja Utama, apalagi pada peak season di mana lorong-lorong penuh manusia yang bertebaran di lantai, tentu Anda bakalan mahfum adanya jika usaha untuk tidur beneran tuh bukanlah urusan gampang. Sebabnya selain selalu saja ada orang yang betah ngobrol sepanjang malam, dus berisik, pedagang asongan mulai dari penjual kacang rebus dan tahu asin hingga pop mie juga tak bosan menebar teror di setiap stasiun di mana Senja Utama berhenti. Maka, yang bisa kulakukan untuk menunggu saat benar-benar bisa tidur karena ngantuk berat hingga semua teror tadi tak mempan, adalah berusaha menikmati alunan MP3 gamelan lewat ponsel HiTech H38 andalanku.
Malam itu, sambil khusyuk ndengerin gamelan, aku teringat kembali pertanyaan kritis Wisanggeni tadi siang, tentang apa sih sebetulnya yang dimaksud dengan pulang.
Dalam tataran paling sederhana, pulang bisa berarti kembali ke rumah tempat kita dan keluarga tinggal menetap. Senin hingga Jumat, ketika kerjaan hari itu sudah dianggap selesai, kita kembali menuju rumah masing-masing, bertemu pasangan hidup dan anak-anak, bercengkama dengan mereka, mandi, makan malam, nonton TV bentar, dan tidur. Itulah yang disebut dengan pulang. Tapi bukankah perjalananku kali ini justru menuju rumah yang bukan tempatku tinggal menetap atau beristirahat setelah lelah beraktivitas, dan tidak pula untuk berkumpul dengan anak istri karena mereka malahan kutinggalkan di Jakarta?
Pulang, ini menurutku lo, mungkin juga bisa berarti kembali mencari ikatan dengan masa lalu yang menenangkan, sejenak berhenti sembari menengok ke belakang setelah capek berlari dalam kompetisi tak berkesudahan yang kita nggak kunjung paham apa sesungguhnya yang kita kejar. Dengan secara fisik berada di lingkungan atau bersentuhan dengan tempat di mana kita dulu tumbuh, akan lebih mudah bagi kita untuk memutar ulang aneka peristiwa yang sudah terlewati, dalam konteks aku misalnya momen-momen ketika masih di SD Kramas dulu, sepulang sekolah mencari ikan di sawah bareng teman-teman, main layangan, atau berburu capung dengan getah nangka.
Meski berbeda, kedua pemahaman mengenai pulang di atas mempunyai benang merah, yang tak lain adalah diperlukannya benda konkret yang bisa disentuh atau dirasakan agar kita bisa terhubung dengan pengalaman rohani yang membawa kita pada feeling at home. Dus, istilah pulang itu tetap tidak bisa lepas dari hal-hal yang bersifat fisik. Dalam konteks aku, yang kumaksud dengan benda konkret itu adalah “bangunan rumah” atau “sosok Bapak dan Ibuk”. Maksudnya, karena di Kramas itu ada rumah tempat di mana dulu aku tinggal, atau Bapak dan Ibuk, juga maka perlajananku ke Kramas selama ini bisa disebut pulang.
Problemnya, rumah yang dulu berdinding papan, bolong-bolong di makan rayap, ada kamar yang kuhuni sejak kelas satu SMP itu, kini sudah dirobohkan dan diganti dengan bangunan yang sama sekali baru. Rumah itu kini berdinding tembok, berlantai keramik, dengan arsitektur yang sama sekali berbeda. Tidak sedikitpun tersisa kamar tempat dulu aku tidur, belajar, dan menjadi saksi bisu masa kecil dan remajaku berikut aneka romantikanya: nulis surat cinta, nyembunyiin buku cerita porno stensilan di bawah kasur, atau ngumpet-ngumpet nyobain rokok. Di atas itu semua, rumah itu kini sudah berpindah status kepemilikan menjadi punya Mas Harsono, kakakku. Kalau sudah begitu, kini hanya tinggal satu alasan sehingga perjalananku masih bisa disebut pulang, yaitu sosok Bapak dan Ibuk. Meski secara fisik kedua orang tuaku itu sudah renta, Bapak kini 71 tahun dan bahkan kelihatan lebih sepuh dari usianya karena serangan stroke 10 tahun lalu, dan Ibuk juga sudah hampir 60 tahun, bertemu dengan mereka entah kenapa selalu membuatku merasa terlindungi.
Jika kelak Bapak dan Ibuk tidak ada, mungkin istilah pulang itu sudah tidak lagi tepat, dan harus bergeser menjadi berkunjung ke rumah Mas Harsono. Maka itu, tak henti aku berdoa mudah-mudahan Dia panjangkan umur mereka berdua, sehingga aku bisa selalu “pulang” dan bukan sekadar “berkunjung”...
Rabu, Mei 21, 2008
Sophan Sophiaan menanam padi
Lagi semangat-semangatnya nyabut rumput di kebun balakang... “Yah, Sophan Sophiaan meninggal!” Emaknya Wisang yang sedang nyapu ruang tamu sambil nonton tivi begitu saja teriak kenceng ngagetin.
“Ah, jangan becanda Bun. Wong gak denger kabar dia sakit kok tahu-tahu meninggal”, setengah nggak percaya, aku masuk, coba melihat ke tivi. Sebagai penonton setia aneka infotainment, dan tak pernah absen nebeng baca Tabloid Bintang langganan Embah Putrinya Wisang, aku selalu update-lah gosip-gosip artis. Jangankan tentang artis yang sakit, berita nggak penting kayak Syaiful Jamil yang penuh pecaya diri nyalon Wakil Walikota (oh, come on Man, nggak ada joke yang lebih kampungan apa?), atau Si Audi (OMG, tuh anak makin montok aja seh) yang punya hobi baru fotografi aja aku ikuti dengan seksama dan kupelajari serius, seserius anak-anak sekolah yang pada setres mempersiapkan UAN. Dus, kabar meninggalnya Sophan Sophiaan tadi aku tanggapi setengah hati.
“Beneran Yah, kecelakaan. Tuh, ada running text-nya di TV One.” Wah, iya, bener. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Umur manusia memang hanya Dia yang berkuasa.
Yang selanjutnya kami saksikan adalah running text di beberapa stasiun TV, breaking news, dan berita-berita reguler siang, tak ketinggalan tentu infotainment, tentang meninggal tragisnya sang aktor kawakan itu. Tahulah kami, Sophan Sophiaan tewas karena kecelakaan, moge yang dia kendarai terguling akibat jalan rusak di jalur Ngawi Sragen. Ketika peristiwa nahas itu terjadi, sang aktor yang juga politisi itu tengah bersafari di beberapa kota di Jawa untuk menyambut 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bersama rombongan, ia melakukan bakti sosial, membagi-bagi sembako di kota yang disinggahi buat wong cilik yang hari-hari balakangan ini makin susah saja hidupnya. Harga kebutuhan pokok melambung hingga makin menjauh dari daya beli mereka. Harga minyak goreng ikut-ikutan latah karena konon (C)rude (P)alm (O)il alias minyak sawit mentah yang jadi bahan baku dipakai buat mbikin bahan bakar. Eh, harga minyak tanah kok ya nggak mau ketinggalan. Udah gitu konversi minyak tanah ke gas juga malah jadi proyek konyol yang makin bikin sengsara akibat, seperti biasa, koordinasi yang amatiran. Gimana nggak konyol kalau minyak tanahnya kadung langka tapi gasnya belum juga tersedia.
Meninggalnya Sophan Sophiaan tentu adalah kehilangan besar bagi dunia seni peran dan politik di negara di mana sinetron sampah dengan cerita ngawur tetap dinanti-nanti ini. Dia punya kontribusi cukup signifikan terutama di kedua bidang itu. Cuma, yang terpikir olehku menit-menit berikutnya hingga saat ini kok justru aktivitas yang membawa kematian Sophan Sophiaan itu, yang menurutku ironis. Mesej yang ingin disampaikan katanya ingin membangkitkan kembali semangat kebangsaan, dengan mengambil momentum Kebangkitan Nasional, eh, kok yang dilakukan malah pawai kendaraan bermotor yang boros bensin di saat rakyat pada kesulitan BBM. Nggak salah tuh?
Niatnya katanya mau membangkitkan semangat persatuan dan kesetiakawanan sosial, eh, kok yang dikerjakan malah yang bikin wong cilik pada sebel. Konon, rombongan yang mengendarai 270 moge ini dengan enaknya melaju di jalan tol yang menurut aturan jelas-jelas dilarang. Belum lagi jika mau lewat ruas jalan tertentu, semua kendaraan distop, nggak peduli tuh jalan lagi macet-macetnya. Nggak cukup sampai di situ, jika ratusan moge yang rakus BBM itu kehausan, SPBU yang diserbu pasti ditutup untuk umum nggak urusan hari-hari belakangan ini rakyat kecil pada ngantre mengular berjam-jam untuk hanya mendapat empat liter bensin.
Kalau sudah begitu, apa ya sampai to, mesej yang ingin disampaikan tadi? Kesan yang lebih menonjol kok malah pamer kekayaan dan unjuk kekuatan. “Ini lo gue, punya motor mewah harganya miliaran, elo kagak bakalan kuat beli. Ini lo gue, pake motor melenggang nyaman di jalan tol, nggak ditilang wong malah polisinya ngawal gue. SPBU ini gue borong BBM-nya, elo minggir sana, ngantri BBM di pom bensin laen atau beli eceran di warung-warung”.
Tapi, sudahlah, mudah-mudahan niatnya memang seperti yang dikatakan sehingga almarhum dan rombongan tetap beroleh kredit positif dari Yang Di Atas. Bukankah sesuai pesan Rasul, segala amal itu tergantung niatnya?
Bapakku dulu sering bilang gini, “Le, nanduro pari, ojo nandur suket. Nak, tanamlah padi, jangan kamu tanam rumput.” Menurut Bapak, kalau kita menanam rumput, rumput itu memang bakalan tumbuh, tapi jangan harap lebih dari itu. Sedangkan jika padi yang kita tanam, selain padi itu, Insya Allah rumput juga akan tumbuh mengikuti. Tanpa aku jelaskanpun, tentu Anda semua paham bahwa yang dikatakan Bapak itu hanyalah kiasan. Aku memaknainya begini, kalau kita berbuat sesuatu dan kita niatkan untuk dunia, kita hanya akan dapat dunia dan jangan harap dapat akherat. Tapi, jika sesuatu itu kita lakukan dengan niat untuk akherat, Insya Allah kita bakalan dapat dua-duanya.
Konkretnya, ada masjid di kampung yang atapnya pada bocor, temboknya nyaris ambrol, dan lantainya kusam. Terus elo sumbangin sekian puluh juta untuk merehab masjid itu. Kalau sumbangan itu elo niatkan biar pengurus masjid dan orang-orang kampung pada berdecak kagum muji-muji, Insya Allah elo bakalan dapat pujian itu. Tapi ya that’s all, hanya pujian itu yang bakalan elo terima. Tapi, jika elo niatnya ikhlas, semata-mata demi Yang Di Atas, Insya Allah elo bakalan dapat dua-duanya, pahalanya elo dapat, puji-pujian dari orang kampung elo juga terima.
Akhir kata, selamat jalan Bung Sophan, beristirahatlah dengan tenang di sana. Ajal adalah keniscayaan, bahkan bagi bayi yang baru kemarin sore dilahirkan. Hanya soal waktu dan apa yang sudah kita tanam di dunia ini untuk kita panen di sana. Bung Sophan, mudah-mudahan Anda menanam padi, dan bukan menanam rumput, seperti nasehat Bapak saya...
Kamis, Mei 15, 2008
Ketika waktu terus disia-sia
Yang lain lagi, masih terkait dengan status kita sebagai negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Al Qur’an jelas mengajarkan pentingnya kita menghargai waktu, sampai-sampai Dia bikin surat yang namanya Al Ashr, tapi tetap saja kita tak kunjung jera menzalimi waktu. Rapat yang diundangannya tertulis jam 13:00, baru dua orang peserta datang ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah dua. Jadwal kedatangan kereta yang jelas-jelas tertulis di tiket pukul 02:30 tapi kenyataannya baru tiba pukul empat tanpa sedikitpun permintaan maaf dari operator kereta seolah keterlambatan itu adalah peristiwa biasa. Keberangkatan pesawat yang di boarding pass tercetak tebal jam 09:35 tapi jam 10:00 baru ada pemberitahuan bahwa pesawat telat. Masih akan teramat panjang jika daftar ini ditambah dengan pengalaman Anda masing-masing.
Untuk masalah yang satu ini, terus terang aku ngiri habis sama Belanda, negara di mana kita dianggap nggak sopan jika nanya “eh, elo agamanya apaan?”. Negara ini serius bener menghargai waktu. Tahun 2007, ketika itu stasiun kereta api pusat (Centraal Station) Rotterdam direnovasi total untuk menjadikan stasiun kebanggaan kota terbesar kedua di Belanda itu lebih modern dan nyaman. Semua aktivitas harian mulai dari warung snack, money changer, pembelian tiket baik yang pakai mesin maupun manual ketemu langsung sama si Mas dan Mbak Bule penjaga kounter penjualan tiket, hingga keluar masuk penumpang, dipindah ke lokasi sementara yang berjarak beberapa puluh meter dari tempat aslinya. Ini untuk memberikan kesempatan pada para pekerja membongkar total seluruh isi stasiun dan membangunnya kembali. Anehnya, dalam situasi seperti itu, berbulan-bulan, tidak pernah kudengar ada kereta yang datang atau berangkat terlambat dari yang sudah dijadwalkan, karena alasan renovasi stasiun. Tidak satu menitpun. Sungguh luar biasa. Dalam situasi seperti itu saja tidak ada satupun jadwal kedatangan atau keberangkatan kereta yang kacau, gimana jika situasinya normal.
Jam atau penunjuk waktu banyak tersedia di stasiun, mulai jam besar bergaris tengah lebih dari satu meter yang bertengger gagah di depan pintu masuk, hingga jam kecil-kecil seukuran jam dinding yang berderet-deret di sepanjang platform. Semuanya berfungsi, dan semua jarumnya menunjuk ke arah jam, menit, dan detik yang sama persis. Pernah suatu pagi aku iseng ngetes ketepatan waktu keberangkatan kereta. Ketika itu, aku mau ke Amsterdam untuk mengunjungi seorang teman. Berdasarkan jadwal yang tertera di papan besar yang ada di stasiun atau di situs internet operator kereta api (bukan di tiket, karena sistem tiketing di sana paling sering hanya mencantumkan tanggal keberangkatan, terserah kepada penumpang mau ikut yang mana), kereta yang akan kutumpangi itu berangkat pukul 07:58. Aku lihat jam yang tergantung di pinggir rel. Dan benar, pas ketika jarum jam (jamnya memang pakai jarum, bukan jam digital) menunjuk pukul 07:58:00, kereta berangkat. Ajaib, setidaknya menurut orang dari negara produsen jam karet sepertiku.
Harga yang mesti dibayar dari hobi kita ngeremehin waktu tuh kalau dihitung jatuh-jatuhnya mahal banget. Jadi semacam reaksi berantai yang bikin negara ini negara paling boros di dunia. Karena dipikirnya waktu enggak penting, kemacetan di Jakarta yang makin hari makin bikin setres tidak kunjung membuat Fauzi Bowo Cs insyaf sehingga merasa terdesak untuk nyari solusi yang lebih bermutu daripada proyek Busway yang terbukti justru ancur nggak jelas maunya apaan. Gara-gara jalanan Jakarta yang gak pernah gak macet, cuma intensitasnya aja yang kadang-kadang parah kadang-kadang parah banget, lama perjalanan untuk rute dan jarak tempuh yang sama jadi susah untuk diprediksi. Pernah nih, aku berangkat dari rumah Harapan Indah ke kantor setengah jam lebih cepat dari hari sebelumnya, tapi nyampainya malahan 20 menit lebih lambat. Belum lagi kalau kita mau ngitung berapa kiloliter bensin yang terbuang, karena mobil pada gak bisa gerak, dan berubah jadi CO2 (yang bikin Jakarta makin panas) dan racun (yang kata orang bikin sperma kaum pria menurun baik jumlah maupun kualitasnya).
Kasus lain, pergilah ke Cengkareng lewat Tol Sedyatmo. Sebelum gapura masuk bandara, Anda akan lihat banyak mobil yang parkir di pinggir jalan, memanjang hingga membentuk semacam antrian. Kata seorang teman, itu bukan mobil mogok atau kehabisan bensin. Karena susahnya kita memprediksi berapa lama waktu yang diperlukan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain di Jakarta ini, atau karena begitu senangnya maskapai penerbangan kita ngacak-acak jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat seenak perut sendiri, (sopir) mobil-mobil itu jadi korban. Mobil-mobil itu berenti di situ karena terlalu cepat nyampe bandara dan berusaha menghemat ongkos parkir. Lumayan, ngirit beberapa ribu rupiah dibandingkan jika harus parkir di bandara dan harus menunggu dua atau tiga jam di sana. Bayangkan, berapa akumulasi waktu yang terbuang percuma dari kekonyolan semacam ini. Taruhlah satu jam aja mobil-mobil itu kecepetan, dan sehari ada 100 mobil, maka waktu yang terbuang percuma jadi 100 jam, yang berarti setara dengan empat hari lebih 4 jam. Artinya, orang sudah akan tidur, bangun, makan, beol, kerja, dan tidur lagi dalam empat siklus.
Lebih parah lagi, di negara ini tidak ada yang bisa dijadikan contoh bagaimana pentingnya menghargai waktu. Yang ada hanyalah pemimpin yang berjarak dengan rakyatnya, dan orang-orang berduit yang mencoba tampil beda. Karena dipikirnya hanya pejabat yang nggak boleh telat, maka mereka merasa berhak menghentikan semua kendaraan, membuat kemacetan semakin macet, agar mereka bisa melaju kencang dan nyaman tanpa hambatan. Karena dipikir hanya pejabat yang diuber-uber waktu, maka mereka merasa berhak melanggar larangan masuk jalur busway yang dibikin sendiri. Karena dipikir hanya orang-orang kaya yang waktunya berharga, maka mereka merasa enteng aja menerobos lampu merah yang sedang menyala. Tidak perlu takut ditilang, karena justru polisilah yang mengawal mereka. Tentu harus bayar, tapi dengan uang receh yang besarnya tidak ada seperempat anggaran sekali makan. Jalan raya tak ubahnya hutan belantara yang terus-menerus jadi arena pamer kuasa dan harta. Pasal 27 UUD 45: “Semua warga negara sama kedudukannya di depan hukum.... bla, bla, bla”. Halah, teori. Sama, sama... sama matamu suwek.
Akhir cerita, kira-kira seperti inilah reaksi berantai yang kumaksudkan tadi: dari ngeremehin waktu, kita jadi cuek aja sama kemacetan; dari cuek sama kemacetan, produktivitas kita jadi menurun; dari produktivitas yang menurun, negara kita jadi enggak maju-maju bahkan rasa-rasanya diam di tempat kalau enggak malah mundur sementara Malaysia, Singapura, Thailand sedang lari makin jauh meninggalkan kita; dan seterusnya.
Tentang hubungan antara kemacetan dengan produktivitas, kukira Anda semua juga tahu, tidak terbatas pada terbuangnya waktu seperti kasus mobil-mobil yang ngetem menjelang pintu masuk Bandara Cengkareng yang kuceritakan tadi. Para pekerja di Jakarta, yang kebanyakan bermukim di Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor, mesti merelakan satu setengah hingga dua setengah jam untuk tiba di kantor masing-masing. Ketika berangkat sih mungkin masih seger, tapi menempuh perjalanan dua jam begitu, orang pasti letoy ketika tiba di kantor. Belum lagi kalau malam kemarinnya kurang istirahat karena kena macet juga ketika pulang kerja.
Lantas, produktivitas setinggi apa yang bisa diharapkan dari karyawan yang cuma untuk tiba di kantor saja, energi yang telah dia buang setara dengan menyetir motor dari Semarang ke Jogja?
Jadi figuran di Musrenbangnas
Ngurusin orang segitu banyak pasti nggak gampang. Macem-macem maunya, beda-beda pula polah tingkahnya. Makanya, karyawan Bappenas yang jumlahnya nggak sampai 800 orang itu, separo lebih pasti dikerahkan ke Bidakara setiap hajatan itu digelar, tak terkecuali diriku. Apalagi Musrenbang kali ini terbilang istimewa. Pasalnya, presiden kita, Pak SBY, bekas jenderal yang gagah dan hensem itu, menyempatkan diri hadir untuk membuka acara. Ditambah Pak JK, Wapres kita yang kalau ngomong air liurnya ngumpul di pinggir-pinggir mulutnya (yaks, jijay bajay...), juga turut hadir plus duapuluhan menteri, makin lengkaplah kehebohan pembukaan acara hari Selasa (6/5) pagi lalu.
Untunglah, berkat ketangkasan dan kesigapan panitia, dengan dibantu oleh Bapak-bapak Paspampres yang gagah dan berwibawa, plus tentu seijin Yang Di Atas, acara pembukaan berjalan khidmat dan lancar-lancar saja. Kalaupun ada masalah, itu cuma insiden kecil ketika Pak SBY secara simbolis menyerahkan paket tiga bundel berisi buku, kepada tiga orang peserta. Karena buku-buku itu tebal-tebal, tiga paket, ada kali kalau 7 kilo, ditaruh di satu nampan, terus yang mbawa hanya satu orang, cewek, kecil pula, dan mungkin juga belum sarapan, si petugas pembawa nampan itu kehilangan keseimbangan dan jatuh di depan hidung Pak SBY. Thelma, temen kantorku yang jadi pelaku utama peristiwa nahas itu, pastilah malu berat dan nggak nyenyak tidur malam sesudahnya.
Niat acara itu sebenarnya sih mulia, yakni menjadi ajang buat saling rembugan, membicarakan rencana kerja pemerintah untuk satu tahun ke depan, agar rencana kerja itu bisa sinkron antara yang ada di pusat dengan yang di daerah, atau apa yang bakalan dikerjakan satu departemen nyambung dengan departemen yang lain. Tapi sering aku mikir, dengan begitu banyak orang ngumpul, dalam waktu cuma empat hari, padahal yang diomongin itu materi yang banyak dan gawat-gawat semua, apa ya efektif to jalannya acara? Apa ya bisa dihasilkan sebuah perencanaan yang bener-bener sip dan mantap?
“Yah, emang Ayah kebagian tugas suruh ngapain sih? Perasaan dulu kalau ada acara beginian Ayah sudah sibuk sebulan sebelumnya deh. Ini kok tau-tau ikutan jadi panitia?”, Dani, istriku yang makin gendut karena di perutnya ada janin enam bulan hasil perbuatanku, tapi biarpun begitu di mataku dia kelihatan makin mempesona, bertanya suatu pagi ketika aku bersiap-siap hendak berangkat ke Bidakara. Dia benar, untuk Musrenbang kali ini aku memang baru terlibat hanya beberapa hari menjelang hari H. Ini karena di Kedeputian Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan tempatku bernaung juga ada hajat lumayan besar, mengkoordinasikan penyusunan buku Laporan Pelaksanaan 3 Tahun RPJM, yang cukup menyita waktu dan tenaga. Dulu, ketika aku masih di Biro Humas, kami sudah sangat sibuk pontang-panting ngurusin Musrenbangnas bahkan sejak sebulan sebelum hari H tiba.
Dalam SK Panitia, namaku resminya tercantum sebagai anggota Tim Materi. Tugasnya banyak dan serem-serem, seperti tertulis dalam Buku Panduan Panitia, antara lain menyiapkan materi berupa daftar rencana kerja kementerian/lembaga, menyiapkan instrumen analisis dispute (halah, dispute ki opo?) berupa pengelompokan kegiatan prioritas per-kementerian/lembaga, isu strategis provinsi, dan panduan analisa sandingan (sori, yang nggak pernah ikut Musrenbang pasti kagak ngarti apa maksud dari semua istilah membingungkan di alenia ini) dan masih banyak lagi. Tapi, sekali lagi itu yang tertulis di buku panduan. Praketknya? Semua pekerjaan yang gawat dan serem-serem itu sudah dikerjakan sebelum hari H. Pada hari ke-2 hingga 4, agendanya adalah sidang kelompok, di mana masing-masing anggota tim disebar untuk bertugas di setiap ruang sidang yang berjumlah enam ruangan sidang kelompok. Tugas konkretnya adalah.... menjadi operator laptop, menayangkan power point presentasi moderator, ke layar (bahasa gaulnya jadi asistern sorot alias asrot).
Hari pertama sidang kelompok (atau hari ke-2 Musrenbang), hadirin berjubel, buanyak banget yang datang sampai pada gak kebagian tempat duduk. Luar biasa. Terlihat wajah-wajah para pejabat Pemda dan staf yang begitu bersemangat. Semua itu membuatku terharu, rekan-rekanku sesama anggota Korps Pegawai Republik Indonesia itu, begitu serius memikirkan rakyat, rapat dengan penuh dedikasi demi kemajuan pembangunan daerah masing-masing khususnya, dan negara tercinta Indonesia pada umumnya. Tidak hanya sampai di situ, pas sidang kelompok selesai, puluhan peserta berjubel merubungku, sambil mengacung-acungkan flashdisk.
“Mas, tolong saya dikopikan file yang tadi dipresentasikan donk, Bapak Sekda minta”, begitu kata mereka bersahut-sahutan. Weh, hebat. Optimis aku, apa yang dipresentasikan tadi akan dibaca, dipelajari, dan direnungkan oleh para pengambil kebijakan di daerah masing-masing. Saking terharunya hingga aku sempat berkaca-kaca hampir meneteskan air mata.... Aku yakin, pada hari kedua dan ketiga sidang kelompok, rapatnya pasti makin seru.
Keesokan harinya, hari kedua sidang kelompok... Elho, kok sepi? Kemana perginya orang-orang yang kemarin begitu semangat datang, berdebat seru, dan gegap gempita mengikuti rapat? Wah, gawat. Waktu sudah menunjukkan pukul 08:55 yang berarti tinggal lima menit lagi sidang kelompok dimulai. La kok peserta masih sporadis datangnya, tempat duduk yang tersedia juga tidak ada separo terisi. Jangan-jangan bener, guyonan orang-orang dipinggir jalan itu, PNS tuh kalau ditugaskan rapat lima hari, hanya hari pertama dan kedua aja rapatnya. Hari ketiga pijit, hari keempat karaokean, dan hari kelima jalan-jalan ke Mangga Dua. Ah, masak iya sih? Nggak percaya aku. Pasti mereka-mereka itu sedang sibuk di kamar, berpikir keras mempelajari dengan serius file presentasi yang kemarin dikopi di flashdisk masing-masing....
Itulah ceritaku mengenai Musrenbangnas 2008 yang heboh itu, yang dibuka secara resmi oleh RI1, dihadiri RI2 dan para menteri. Lepas dari kekurangan penyelenggaraannya, mudah-mudahan Musrenbangnas ini bermanfaat bikin negeri ini tambah makmur, pembangunan tambah terencana dan terkoordinasi. Karena kalau tidak, sayang banget duit ratusan juta (belum menghitung tiket pesawat, penginapan, dan perdiem para hadirin dari seluruh pelosok negeri yang jumlahnya pasti lebih banyak lagi) yang sudah dihabiskan untuk hajat besar ini.
Bayangin aja, uang miliaran begitu, kalau dibeliin tongseng legendaris yang mangkal di depan Masjid Sunda Kelapa, mungkin sudah bisa bikin seluruh karyawan Bappenas sakit perut kekenyangan, plus bonus stroke dan biaya ambulance.
Selasa, Mei 13, 2008
Karena Anda membayar lebih mahal, maka saya membungkuk lebih dalam
Buat (P)egawai (N)egeri (S)ipil dengan tingkat kesejahteraan hanya satu setrip di atas garis kemiskinan, dan mungkin akan berada pas di garis kemiskinan jika harga BBM jadi dinaikkan Pak SBY, tindakan sok gagah kontrol kehamilan di rumah sakit swasta adalah perilaku setengah konyol yang tidak patut diteladani. Bagaimana nggak konyol kalau untuk membayar jasa dokter dan nebus obatnya saja kita harus merelakan 350 ribu melayang. Uang segitu itu, untuk PNS golongan tiga, setara dengan hampir seperlima gaji sebulan yang resminya tertulis satu juta sembilanratus tigapuluh empat ribu rupiah.
Buat anggota Korpri, apalagi yang model kuli panggul seperti saya, mestinya sudah merasa cukup dengan kontrol kehamilan ke dukun, bidan, puskesmas, atau paling mentok ya rumah sakit negeri. Kalau dengan begitu kemudian harus ngantri panjang dengan sistem antrian barbar ala jaman Majapahit, di ruang tunggu yang gerah dan panas pula, dengan pelayanan yang ala kadarnya, ah itu sudah resiko. Dus, sangat tidak dianjurkan untuk mbagusi sok banyak duit kontrol kandungan ke rumah sakit swasta jika tidak ingin bertambah kere dan RAPBN bulanan amburadul.
Tapi, dengan pertimbangan praktis, rekomendasi dahsyat di atas dengan kurang ajarnya kami terjang. Empat bulan terakhir ini, sejak emaknya Wisanggeni dinyatakan posistif bunting enam minggu, kami punya aktivitas rutin setiap Sabtu pagi tanggal muda: kontrol kehamilan di (R)umah (S)akit (I)bu dan (A)nak Tambak. Oia, sekadar info, sesuai namanya, RSIA Tambak berlokasi di Jl. Tambak. Itu lo yang kalau dari perempatan Matraman dari arah Pramuka kita ambil lurus menuju Manggarai. Letaknya di kanan jalan. Bertolak dari markas Utan Kayu jam 9:45, menggunakan motor Honda Legenda butut andalan keluarga, aku nyetir di depan, dan istriku nemplok di belakang. Wisanggeni untuk sementara diserahkan hak asuhnya kepada Mbah Kakung dan Putrinya. Sengaja momen yang dipilih Sabtu pagi tanggal muda, karena saat itu pas dokternya cewek (istriku risih kalau dipegang-pegang dokter cowok), pas aku libur, dan last but not least pas pula dengan waktu habis gajian.
Singkat cerita, sampailah kami di RSIA Tambak, dan inilah yang terjadi di sana. Di front office, si Mbak Resepsionis dengan senyum ramah menyapa, mendaftar, dan mempersilakan kami menunggu untuk dipanggil. Tak berapa lama, dipanggillah istriku, ditimbang, dan diukur tekanan darahnya oleh seorang suster. Dia kemudian mencatat, dan mempersilakan duduk kembali di depan ruang praktek dokter. Ruang tunggu itu tertata rapi, berbau wangi, dan sejuk karena berpendingin ruangan yang disetel dalam suhu yang pas, tidak terlalu dingin tapi juga tidak terlalu panas. Tempat duduk tertata rapi, dalam jumlah lebih dari cukup untuk menampung seluruh pasien berikut para pengantar. Tidak perlu menunggu lama, istri dipanggil masuk sama si Mbak Suster muda yang murah senyum. Aku ikut menemani masuk. Di dalam, Bu Dokter sudah menunggu, menyapa selamat pagi, tersenyum ramah, dan mempersilakan duduk. Konsultasi berjalan dengan akrab dan hangat, santai tanpa sedikitpun kesan tergesa-gesa, berlangsung sepanjang waktu dari ketika kami duduk di kursi di hadapan meja kerja dokter, ketika istri berbaring untuk di USG, hingga kembali duduk di kursi di hadapan meja kerja dokter yang tadi. Jika ada keluhan, seperti kepala pusing atau perut mual, atau apapun, Bu Dokter dengan sabar dan penuh perhatian mendengarkan, untuk selanjutnya Bu Dokter menenangkan hati istriku, menyampaikan bahwa keluhan-keluhan semacam itu wajar terjadi pada ibu hamil, dont worry be happy, seraya tak lupa membagi berbagai tips untuk bagaimana menghadapi berbagai masalah yang dikeluhkan tadi. Pendek kata, semua membuat kami merasa nyaman.
Tapi, segala kenyamanan tadi tentu enggak kami peroleh dengan murah apalagi cuma-cuma. Di sinilah hukum ekonomi berlaku, ada barang ada harga. Aku harus merelakan hampir seperempat gaji sebulan yang sudah tipis karena sebelumnya sudah dipotong cicilan rumah Jati Sampurna. Tangan kok rasanya berat untuk digerakkan membuka dompet, mengambil duit dan menyerahkannya sambil mringis penuh sesal kepada si Mbak Kasir RSIA yang tersenyum manis menggoda. Terbayang sudah hari-hari depan yang suram, karena pertengahan bulan nanti amplop coklat ajaib bungkus gaji itu pasti sudah tinggal berisi slip, dan untuk menutup defisit anggaran haruslah dicarikan sumber pendanaan yang entah dari mana. “Di sini tarifnya emang segitu Pak. Dan untuk itu, Bapak akan mendapatkan ruang tunggu yang nyaman, suster yang ramah, dan dokter yang datang on time dan tak pelit membagi ilmu. Kalau mau yang murah, silakan ke RS Persahabatan atau Puskesmas Matraman, dan bersiap-siaplah bergerah-gerahan, suster yang mahal senyum, dan dokter dengan jam karet”, begitu kata si Mbak Kasir dalam dialog imejinerku dengannya.
Kesimpulannya, karena Anda bayar lebih mahal, sayapun membungkuk lebih dalam. Waduh, gawat. Bayangan dokter yang di RS Persahabatan tempo hari kok begitu saja melintas di kepala saya. Jangan-jangan Pak Dokter, yang datang telat dua jam dan sudah nulis resep bahkan sebelum aku selesai ngomong apa keluhan yang kurasakan waktu itu, juga tampil sebagai sosok yang 180 derajat berbeda ketika dia melayani pasien di rumah sakit swasta di mana dia digaji lebih besar. Jangan-jangan, dia telat datang waktu itu juga karena di rumah sakit satunya lagi yang swasta dia banyak pasien sehingga dia memilih telat karena di RS swasta dia digaji berdasarkan jumlah pasien yang dia tangani sementara di RS negeri dia digaji dalam jumlah rupiah yang tetap, berapapun jumlah orang sakit yang meminta pertolongan padanya. Jangan-jangan...
Dan kalau ditelusuri lebih jauh, sepertinya fenomena semacam itu tidak hanya terjadi di bidang jasa kesehatan alias rumah sakit. Banyak lagi di tempat lainnya, I guess. Ada Bapak Polisi yang bersemangat mengawal iring-iringan mobil pengantin dengan sirine meraung-raung menembus kemacetan kalau perlu melawan arus, dan terlihat lesu ketika mengatur lalu lintas yang menjadi tugas pokoknya, karena untuk mengawal pengantin itu dia dapat tambahan uang rokok. Ada pula dosen yang disiplin ngajar di kelas ekstensyen, datang on time dan selesai tepat waktu, dengan materi kuliah yang bernas, tapi berubah menjadi males-malesan ngajar di kelas reguler kalau perlu terus-terusan menyuruh asisten untuk mewakili, karena di kelas ekstensyen itu dia digaji lebih tinggi.
Tentu banyak, dan tidak hanya ada, dokter yang punya integritas jempolan sehingga tetap profesional memperlakukan pasiennya, siapapun mereka tanpa diskriminasi. Pun juga para polisi, dosen, dan yang lain-lainnya. Dus, ini hanya cerita mengenai logika “karena Anda bayar lebih mahal, sayapun membungkuk lebih dalam”, tanpa bermaksud membuat generalisasi.
Wah, saya kok jadi teringat Sentra Bisnis di Harapan Indah Bekasi. Di sana ada Satpam yang tersenyum begitu ramah jika aku kasih tips, tapi di lain hari berubah sangar ketika aku ngeloyor lewat di depannya dan lupa nempelin lembar ribuan ke tangannya. Lagi ngapain ya, tuh Satpam sekarang?
Minggu, Mei 04, 2008
Rumah siap huni (oleh Gendruwo)
Setelah berabad-abad sejak diumumkan bahwa aku termasuk satu dari sekian puluh karyawan yang berhak untuk mendapatkan “jatah” rumah di kompleks Bappenas Jati Sampurna tanpa pernah tahu progresnya, dan sejak pagar keliling kompleks dibangun, pondasi rumah dibikin, hingga katanya kunci siap diserahterimakan kepada calon pemilik belum pernah sekalipun kudatangi, akhirnya hari Kamis (1/5) lalu, pas liburan Kenaikan Yesus Kristus, barulah aku berkesempatan menengok calon rumahku yang dari hasil undian beralamat di Blok K Nomer 6 itu (terima kasih atas ketabahan Anda membaca kalimat panjang tapi nggak memenuhi kaidah eS-Pe-O-Ka ini).
