Senin, Agustus 30, 2010

Andai Bang Foke Seorang Biker


Banyak kebijakan pemerintah yang lucu-lucu, itu kita semua sudah mahfum. Tadinya aku mengira penetapan anggaran pendidikan minimal 20% APBN dalam UUD 1945--sebagaimana telah kutulis di blog ini--adalah sudah yang paling konyol, eh ternyata ada lagi yang lebih konyol. Kebijakan itu bernama pelarangan masuk sepeda motor di jalan-jalan protokol Jakarta, yang katanya akan segera diberlakukan setelah lebaran nanti.

Come on, Pak Fauzi Bowo. Saya percaya kata teman saya, Anda tidak pintar. Tapi sumpah saya tidak pernah menyangka Anda sebodoh ini. Apa sih sumbangan policy ini bagi upaya mengatasi mampetnya Jakarta selain semakin memperjelas keyakinan orang bahwa pemerintah hanya menghamba pada si kaya? Sori, saya menyalahkan Anda karena selain saya tidak kenal siapa Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, kebijakan ini tentu tidak akan pernah ada tanpa endorsement dan tanda tangan Anda.

Alasan yang paling sering dikemukakan adalah karena sepeda motor adalah biang macet, ditambah dengan pertumbuhan jumlahnya yang memang gila, yakni rata-rata 327-an ribu unit/tahun (atau hampir 900 unit/hari). Karenanya, jika tidak dibatasi, nggak lama lagi Jakarta bakalan berubah jadi lautan sepeda motor. Tapi jangan salah, pertumbuhan mobil juga nggak kalah edan. Menurut catatan Polda Metro, tahun 2002 - 2007, mobil mengalami kenaikan hingga 100 ribu unit/tahun (atau hampir 275 unit/hari).

Jadi pengen tahu nih, berapa nilai matematika Pak Foke dulu pas sekolah atau kuliah. Kalau ngepas 6 atau C saja, aku yakin itung-itungannya bakalan rada-rada bener dikit. Sekarang mari kita hitung, berapa space yang diperlukan untuk menampung pertambahan masing-masing kendaraan. Biar mudah itung-itungannya, di sini aku pakai Honda Supra X utk mewakili ukuran motor, dan Toyota Avanza utk mobil.


Motor: P(1,889) x L(0,702) = 1,326 M2; dikalikan pertambahan perhari 900 unit = 1.193,47 M2

Mobil: P(4,120) x L(1,630) = 6,716 M2; dikalikan pertambahan perhari 275 unit = 1.846,79 M2

Jelas, meski pertambahan motor 3 kali lebih tinggi dari mobil, space yang diperlukan tetap saja banyakan mobilnya. Makanya dari awal kubilang konyol kalau justru hanya motor yang dibatas-batasi, sementara mobil dibiarin beranak-pinak nggak terkendali.

Sekarang dilihat dari konusmsi BBM. Mobil paling irit sekalipun mengkonsumsi bensin minimal 2x motor paling boros. Sementara dalam hal utilisasi, yang namanya mobil mau jumlah kursinya 4 atau 7, tetep aja isinya cuma satu orang, paling banter dua itupun sudah termasuk sopir. Argumentasi kebijakan ini jelas keliru, kecuali jika niatnya mau boros BBM sambil membiarkan mobil-mobil yang lebih makan tempat padahal hanya berisi satu orang itu makin bikin sesak Jakarta.

Taruhan, kebijakan itu secuilpun nggak bakalan ada kontribusinya buat mengatasi macet. Malah makin bikin frustasi, iya. Yang kuceritakan berikut ini adalah fakta. Di tempat tinggalku, Klaster Taman Sari Kota Harapan Indah, populasi mobil lebih banyak daripada rumah, dalam arti hampir semua keluarga punya mobil dan tidak hanya satu. Mobil-mobil itu lebih banyak nongkrong di garasi atau diparkir pinggir jalan di muka rumah, sementara si empunya lebih memilih jadi biker. Yakin deh, yang beginian ini tidak hanya terjadi di kompleks tempat tinggalku. Jumlahnya jelas ratusan kalau nggak ribuan. Nah, sekarang coba bayangkan, kalau kebijakan pembatasan motor ini diterapkan, dan semua orang yang punya mobil tapi lebih memilih jadi biker itu nggak punya pilihan selain membawa mobil-mobil mereka.

Macet dan semrawut membuat orang Jakarta sehat secara fisik tapi jiwanya sakit semua. Jalanan di Jakarta adalah rimba belantara yang penuh sumpah serapah. Dan itu adalah karena pemerintah gagal menyediakan angkutan umum yang layak buat warganya. Titik. Bukan karena yang lain. Percayalah.

Kebijakan melarang masuk sepeda motor ke jalan-jalan protokol pasti hanyalah ide orang yang bener-bener sudah kehilangan akal. Ntar kalau jalan-jalan itu ternyata masih saja macet, dan itu pasti, siap-siap saja dengan kebijakan tdk masuk akal lainnya yang makin jelas menghamba pada si kaya.

"Dilarang Masuk Jalan Ini Selain Mobil dengan Harga di Atas Rp 1 Miliar".

Yo wis, sak karepmulah. Pancen dalan iki dalane Mbahmu!*)


*) Terserah Lo, memang jalan ini jalan moyang Lo!

Senin, Agustus 23, 2010

Ketika orang Islam hanya boleh sholat di mesjid

Dua minggu terakhir ini si Wisanggeni dapat ulangan di sekolahnya. Dan terdorong keinginan agar anakku itu dapat nilai bagus, tiap hari aku ikut-ikutan sibuk menemani dia belajar setelah selama ini istrikulah yang lebih banyak menjalankan fungsi itu. Sebelumnya, hanya kadang-kadang saja aku nemenin si Wisang belajar atau nggarap PR karena padatnya tugas-tugas kenegaraan yang mesti kuselesaikan (halah, alesan!).

Materi yang diujikan adalah pelajaran selama satu bulan terakhir. Yang harus dipelajari, kalau nggak buku cetak ya Lembar Kerja Siswa (LKS).

Setiap kali membuka buku cetak pelajaran dan LKS si Wisang, setiap kali pula emosiku kok jadi gampang tersulut. Penginnya misuh-misuh (mengumpat-ngumpat). La wis piye (habis, gimana lagi), bukannya mencerdaskan, materi yang diajarkan kok rasa-rasanya malah bikin goblok anak didik. Ini penyakit lama yang nggak sembuh-sembuh dan herannya kok yang kayak gini nih sepertinya makin parah. Sepertinya, anggaran minimal 20% APBN utk sektor pendidikan sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 itu nggak ada efeknya sama sekali.

Cobalah perhatikan contoh soal-soal di LKS Ilmu Pengetahuan Sosial di bawah ini:



Mari kita bahas soal-soal yang nomornya dilingkari merah (yukkkk mareee...):

1. Hal yang pertama disebut saat memperkenalkan diri adalah ... (jawaban yang dikehendaki/JyD: nama)
2. Ada nama lengkap ada juga nama ..... (JyD: panggilan)
3. Orang yang melahirkan kita biasa kita panggil .... (JyD: ibu)
4. Paman adalah panggilan untuk .... (JyD: saudara laki-laki ayah atau ibu)

Yang ada di dalam kurung itu adalah jawaban-jawaban yang dikehendaki*) baik oleh kunci jawaban maupun oleh bu guru. Selain jawaban-jawaban itu, salah alias wrong answers.


Wis jan, ra mutu tenan! Wong LKS kayak gitu kok dipakai lo. Heran Gue.

Soal-soal di atas hanya empat dari ratusan soal di LKS pelajaran IPS dan ribuan soal di LKS di pelajaran-pelajaran lainnya. Jawabannya mesti teksbuk, dan tidak terbuka ruang bagi anak didik untuk kreatif membuat jawaban yang berbeda. Padahal, apa ya salah jika pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab oleh si Wisang dengan jawaban sbb:

1.
Hal yang pertama disebut saat memperkenalkan diri adalah ... (jawaban Wisang/JW: Assalamu'alaikum)
2. Ada nama lengkap ada juga nama ..... (JW: samaran)
3. Orang yang melahirkan kita biasa kita panggil .... (JW: simbok)
4. Paman adalah panggilan untuk .... (JW: Om)

Entah si Wisanggeni yang terlalu pinter, entah pembuat pertanyaannya yang dodol, pas pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tempo hari, ada soal gini:

Umat Islam bersembahyang di .....

Titik-titik itu dijawab si Wisang, sehingga kalimat lengkapnya berbunyi: “umat Islam bersembahyang di LAPANGAN”. Itu karena dia ingat pas Idul Fitri tahun lalu dia kuajak sholat Ied di lapangan sepak bola di Semarang. Untung gurunya cukup wise dan tidak menyalahkan jawaban itu, meski aku ngebayangin dia pasti geleng-geleng kepala dan nyengir liat jawaban kreatif si Wisang. Cuma, aku khawatir jangan-jangan ada lebih banyak guru yang buru-buru menganggap salah jawaban si murid hanya gara-gara jawaban itu tidak sama dengan yang ada di kunci jawaban. Padahal yang namanya sholat tuh bisa dilakukan di mana saja, bahkan di gereja seperti dilakukan seorang kenalanku yang kebetulan bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sana.

Gimana nih, Pak Mendiknas? Kapan negara kita ini maju kalau tunas-tunas bangsa ini dicetak hanya menjadi robot penghafal.


*) Jawaban yang dikehendaki aku karang sendiri, tapi mudah-mudahan seperti itulah adanya

Jumat, Agustus 20, 2010

Waktu(ku) adalah uang

Nasionalismeku sumpah jangan Anda ragukan lagi. Dus, jelas bukan karena aku antek kumpeni kalau tulisan-tulisanku sepertinya menyanjung kumpeni setinggi langit sementara pada saat yang sama mencela bangsa sendiri. Tolonglah itu semua diartikan sebagai keinginanku untuk menjadikan negaraku tercinta ini maju dan beradab. Alasannya sangat sangat sepele, yakni karena seumur-umur ya baru di negara itu aku numpang hidup rada lama. Beda sama teman-temanku di Bappenas sini yang beruntung tahun ini hinggap di US, dua tahun depan pindah lagi ke Australia, tahun depannya lagi hinggap di Jepang, dan seterusnya.

Selain mie tektek dan ketoprak gerobakan, atau warung tenda pecel lele yang dengan santai menyerobot trotoar, satu hal indah lain yang membuat aku merasa kehilangan selama setahun numpang hidup di Belanda adalah raungan suara sirine voorrijder (moge yang ditunggangi polisi dengan sirine bikin budeg telinga buat nyuruh minggir kendaraan lain, biar mobil yang dia kawal melaju mulus bebas macet).

Seingatku, duabelas bulan tinggal di negeri kumpeni, satu kalipun nggak pernah kudengar sirine voorrijder. Padahal kos-kosan tempatku tinggal (namanya Weenapad) lokasinya dekat banget sama pusat kota di kota terbesar kedua di negeri itu. Di tanah air tercinta, sehari bisa dua hingga empat kali. Sering-seringnya sih rombongan Wapres yang mau berangkat ke Istana atau pulang ke rumah dinasnya yang kebetulan berada persis di samping Bappenas instansi tempatku berkarya untuk negara. Kadang-kadang juga mobil yang nggak ketahuan siapa gerangan yang ada di dalamnya yang ketemu pas dalam perjalananku dari markas Harapan Indah ke Bappenas pulang pergi. Orang dalam mobil yang dikawal itu pastilah sangat menghargai waktu, setiap detik sungguh berarti. Kalau enggak, ngapain juga dia begitu penuh semangat menyela antrean pengen duluan padahal jelas dia tahu persis lalu lintas sedang padat merayap kalau nggak malah macet berat.

Jadi, siapa bilang orang Indonesia nggak menghargai waktu? Cuma, penghargaan terhadap waktu itu masih sebatas pada “waktuku”, dan belum pada "waktu kita" boro-boro “waktumu”. Orang dalam mobil yang dikawal polisi itu seperti hendak berkata: “minggur Lo semua, Gw banyak urusan. So, Gw mesti cepat sampai tujuan”. Waktuku adalah uang, dan waktumu bukan apa-apa. Kalau aku telat dunia kiamat, kalau kamu yang telat kagak ada ngaruhnya.

Celakanya, setiap orang mikir kayak gitu. Emangnya yang punya urusan penting cuma kamu, Njing? Emange kowe dewe sing butuh cepet, Su? Maka, jadilah jalan raya rimba belantara orang-orang egois yang merasa harus secepatnya sampai tujuan, peduli setan jika dengan perilaku dia berkendara keselamatan diri sendiri dan orang lain jadi taruhan.

Hanya untuk sampai kantor lebih cepat lima menit saja, orang nekat menerobos palang pintu KA yang jelas-jelas sudah ditutup. Padahal kalau udah sampai kantor, satu jam pertama juga paling-paling dihabiskan buat mbuka pesbuk, mbalesin offline mesej di YM, atau hal-hal nggak penting lainnya.

Kalau pas nemu perempatan, tiap orang sepertinya pada nggak sabaran. Lampu udah merah masih juga nekat diterobos. Belum lagi ketika nungguin lampu ijo, motor aneka merek menyemut memenuhi zebra cross, membuat pejalan kaki di Jakarta ini sungguh tiada terkira sengsaranya. Lampu masih merah juga udah pada mainan klakson, karena pikiran menyimpang a la Jakarta berikut ini telah diyakini oleh hampir semua orang: tanda boleh jalan bukan jika lampu di depan kita menyala ijo, melainkan jika lampu dari arah yang bersilangan sudah berwarna kuning.

Apa boleh buat, orang Jakarta fisiknya memang terlihat sehat, tapi jiwanya pada sakit semua.

Kamis, Agustus 19, 2010

Teler bersama Lion Air

KABIN LION AIR, 2/12/2009. Karena air mineral nggak dikasih boro-boro snack, koran gratis juga nggak ada, sementara SMS-an pakai hape juga jelas tidak diijinkan oleh Undang-undang, kita jadi nggak ada pilihan lain selain baca-baca buku petunjuk keselamatan sampai khatam berulang-ulang. Secara kebetulan nemu majalah terbitan maskapai ini. Baru halaman pertama, eh sudah ilfil nemu istilah bahasa asing yang ditulis sembrono. Multi-Player effect...??? Multiplier effects kaleeeee!



Gara-gara si Joko temanku curhat mengenai Lion Air sebagaimana beberapa waktu lalu kuposting dalam blog ini, aku jadi teringat perjalanan dinasku ke Manado hampir setahun lalu. Sudah usang sih peristiwanya, tapi aku pikir masih sangat relevan isunya, karena toh insiden yang sama masih saja berulang-berulang terjadinya.

Sama dengan si Joko, aku juga sempat heran juga awalnya, kok Lion lo yang dipilih sama kolega kantor yang ngatur tiket. Padahal dengan SPPD at cost kayak sekarang, mestinya mbok ya dipilih Garuda gitu yang rada lebih keren dan bonafid. Toh berapapun harga tiketnya, asal masih kelas ekonomi, pasti diganti sama negara.

Teman-teman bilang, sekali lagi teman-teman lo yang bilang, bukan saya, bahwa kebanyakan pramugari Lion Air tuh modal tampang doang. Ayu-ayu, ning (tapi) Bahasa Inggrise memble, kurang cekatan, sopan santun ke penumpang kurang, wis pokoknya servisnya masih banyak yang harus dibenahi.

Teman kuliah di MPKD UGM dulu, namanya Adi Nusantara, pernah bikin joke tentang Lion. Dia bilang gini, Lion Air tuh perusahaan penerbangan apa bandar sabu-sabu sih sebetulnya?

Emang kenapa, Bro?, tanyaku

Lah itu, mosok maskapai penerbangan kok semboyannya “make people fly”, bikin orang teler.

Hayah! Mereka punya semboyan bikin orang teler, eh bikin orang terbang, itu kan ya ada maksudnya to, Bro. Kalau kita melihat kebelakang, Lion Air-lah yang mempelopori penerbangan murah. Dulu, waktu naik pasawat masih muahal, hanya orang-orang berduit atau Korpri kere seperti kita tapi beruntung dibayari negara, saja yang bisa pergi ke sana kemari pakai pesawat. Selebihnya, ya mesti rela tepos pantatnya Jakarta-Medan pakai Bus Lorena, atau mesti rela berlatih sabar Jakarta-Makassar berhari-hari berada dalam kapal laut.

Kini, lihatlah, berkat jasa Lion Air juga, bandara dapat diakses oleh siapapun, baik yang pake sepatu mahal maupun yang bersendal jepit, baik yang baunya wangi pakai Channel dan Bvlgari maupun yang bau balsem Cap Lang. Berkat kepeloporan Lion Air, naik pesawat sekarang bukan lagi aktivitas eksklusif yang hanya bisa dinikmati sedikit orang.

Lion Air emang hebat. Kalau orang ditanya, selain Garuda, maskapai domestik apa yang paling sering Anda tumpangi?, hampir semua orang akan bilang Lion.

Cuma ya itu, orang bilang ada harga ada rupa, Anda membayar lebih banyak saya menservis lebih yahud, atau anekdot tentang tukang becak: “wong cuma bayar 4 ribu kok pengen selamet”. Layanan Lion Air boleh dibilang mengikuti adigium canggih itu. Bener-bener, saya dibuat sengsara selama berangkat dan pulang bersama Lion.

Pas cek in Jakarta-Manado, jelas-jelas kubilang ke si Mas petugas, aku minta window seat yang bisa jelas ngeliat ke bawah. Dikasih nomer 22F. Dapat nomor seat itu, aku langsung ngebayangin bakalan duduk di belakang, pas menjelang landing menikmati suasana senja kota Manado. Eh, begitu sampai di kabin, nomer 22F itu pas di sayap. Pesawatnya rupanya pesawat Boeing 747 seri 900 yang nomer seat-nya sampai 38.

Sebelumnya, di ruang tunggu. Jelas-jelas di boarding pass tertulis waktu boarding (masuk pesawat) adalah jam 12:15. Eh, sampai jam 13:00 belum ada tanda-tanda pesawatnya siap. Sepuluh menit kemudian, tahu-tahu ada pengumuman bahwa ruang tunggu dialihkan dari F4 ke F1. Ngoper-ngoper penumpang dari satu ruang tunggu ke ruang tunggu berikutnya seperti ini sering banget dilakukan, seperti oper-operan penumpang metromini. Tidak ada pemberitahuan bahwa terlambat, tidak ada permintaan maaf penumpang harus pindah2 pintu boarding, seolah-olah dua hal itu sudah sangat lazim adanya.

Di dalam pesawat. Reputasi bahwa pramugari Lion Air cuma modal tampang (padahal yang namanya tampang itu juga sebenernya nggak cantik-cantik amat) rupanya memang bukan hanya mitos. Penumpang di sebelahku ada yang iseng motret, mungkin karena dia terlalu eksaited seumur-umur baru sekali itu terbang. Pramugari menegurnya dengan kata-kata dan intonasi yang kurang pantas. Intinya dia bilang memotret adalah aktivitas yang dilarang dilakukan di kabin. Tapi cara Mbak Pramugari bicara, dan kata-kata yang dia pilih, sama sekali tidak nyaman ditelingaku yang kebetulan ikut nguping, apalagi di telinga penumpang sebelah yang kena tegur.

Ketika kembali ke Jakarta, urusan bagasi giliran bikin pening kepala. Perasaan jalan kaki dari pesawat tadi mendarat ke tempat klaim bagasi sudah rada jauh dan lama (buat Anda yang biasa mendarat di Sukarno-Hatta airport pasti tahu persis betapa jauhnya). Ditambah pipis di toilet. Eh, nungguin koper bagasi ternyata masih butuh 30 menit waktu tambahan. Itu belum seberapa, karena ternyata hampir separo lebih penumpang termasuk saya mesti menunggu lebih lama lagi. Pasalnya, sebagian bagasi kami entah kenapa katut pasawat Lion yang terbang ke Surabaya. Parah banget, dan lebih parah lagi tidak ada informasi secuilpun mengenai insiden ini seandainya tidak ada Bapak-bapak yang ngamuk-ngamuk ke petugas bagasi Lion yang dari tadi cuma mondar-mandir nggak jelas. Kampret!

Rabu, Agustus 18, 2010

Karena kamu komunis, maka kamu atheis

Solo itu gudangnya fundamentalis: yang Islam banyak, yang Kristen juga. Kejawen masih eksis, komunis pun masih ada (Joko Widodo, Walikota Solo sebagaimana dikutip Majalah Tempo Edisi 17-23 Agustus 2009).

Bapak dan Ibu sekalian, bahkan seorang walikotapun percaya bahwa komunis adalah kata ganti yang sahih untuk atheis. Maafkan saya Pak Jokowi, mungkin saya keliru menafsirkan statement Anda. Kesimpulan saya hanya berangkat dari logika sederhana kalimat Anda. Islam jelas agama, Kristen juga agama. Kejawen bagi banyak orang dipercaya juga sebagai "agama tanda kutip" (Kejawen = sinkretisme dari ajaran Hindu, Budha, Islam, plus animisme). Dengan meletakkan kata komunis setelah ke-3 agama yang disebut sebelumnya, saya yakin bahwa Anda menganggap komunisme sebagai sebuah sistem agama.

Setelah Pak Harto lengser, semuanya berubah. Indonesia yang tadinya adalah negara swasembada beras, berganti menjadi negara importir beras terbesar di dunia. Indonesia yang tadinya adalah negara dengan KB paling berhasil, berganti menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan penduduk tertinggi di dunia. Indonesia yang tadinya sangat represif terhadap pers, menjadi negara dengan kebebasan pers yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.Tapi ada satu hal yang nampaknya tetap lestari. Ya itu tadi, kita tetap meyakini bahwa “komunisme” sama dengan “atheisme”.

Di Solo sebuah radio diprotes ormas Islam gara-gara memutar lagu Genjer-genjer yang oleh Orde Baru dianggap lagu kebangsaan PKI. Padahal, lirik lagu itu nggak ada satupun kata yang bernada mengajak makar atau memuja PKI. Kata orang, syair Genjer-genjer murni bercerita tentang kehidupan rakyat kecil sehari-hari yang mesti makan genjer (gulma yang tumbuh di sawah) karena orang pada kelaparan akibat Romusha. Jelas berbeda dengan Mars Nasional Demokrat-nya Surya Paloh, atau Mars Partai Demokrat karangan Esbeye. Sial bener nasib penciptanya, (konon bernama Muhammad Arief) gara-gara lagu itu, dia ikut-ikutan dibunuh karena dianggap terlibat G30S.

Kalau kita mau membuat pertentangan seperti siang vs malam atau pahit vs manis, lawan kata “komunisme” seharusnya adalah “kapitalisme”. Ini karena komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap faham kapitalisme di awal abad ke-19, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Melalui buku Das Kapital--yang diyakini orang sebagai kitab sucinya orang komunis--, Karl Marx melakukan analisis kritis terhadap kapitalisme dan aplikasi praktisnya dalam ekonomi.

Satu hal yang mungkin membuat orang mengidentikkan komunisme dengan atheisme adalah pernyataan Marx bahwa agama adalah candu. Menurutnya, agama membuat manusia hidup dalam dunia khayal. Entah siapa yang membangun logika berikut ini. Premis #1: Karl Marx seorang atheis; Premis #2: Karl Marx menulis Das Kapital; Premis #3: Das Kapital adalah dasar paham komunisme. Maka: Komunis = atheis.

Misliding terjadi pada titik ini. Karena Marx seorang atheis, maka semua orang komunis adalah atheis. Logika ini sebetulnya bisa dengan mudah dipatahkan. Komunisme adalah lawan kata kapitalisme. Jika komunis adalah tak ber-Tuhan, maka kapitalis adalah ber-Tuhan. Kenyataannya? Belanda adalah negeri kapitalis, tapi 42% penduduknya atheis (jauh lebih banyak dari jumlah penganut agama terbesar di sana, Katholik Roma, yang hanya dianut oleh 26% penduduk). China adalah negara komunis, tapi hampir semua orang di sana memeluk agama tertentu (paling besar agama Budha, disusul agama Tao, Islam, Katholik, dan Kristen).

Jadi, menurut saya, ini hanyalah hasil dari perang ideologi. Dan kebetulan kapitalisme yang keluar sebagai pemenang. Berandai-andai saja, jika komunisme yang menang, barangkali gantian kapitalisme yang diidentikkan dengan atheisme. Mungkin saja, mengapa tidak.

Kamis, Agustus 12, 2010

Ketika bertanya adalah salah

Satu dari sedikit hal paling mengganggu pikiranku adalah ketika aku divonis bersalah padahal aku nggak merasa bersalah. Ketika aku dinyatakan salah di hadapan sebuah forum, dan aku tidak punya sedikitpun kesempatan untuk menyampaikan klarifikasi di forum yang sama. Tanpa diskusi, tanpa argumentasi. Kamu salah, titik. Celakanya, dasar menentukan vonis itu kadang-kadang hanya berupa pengaduan orang mengenai apa yang aku katakan, yang sangat mungkin ditambah-tambahi opini subjektif si pelapor. Ini tidak ada kaitannya dengan aku difitnah atau bukan. Ini cuma masalah informasi yang terdistorsi dan belum tentu akurat jika hanya bersumber dari satu sisi.

Baru-baru ini ada seorang teman bercerita, tepatnya curhat. Namanya, sebut saja Joko. Dia seorang PNS di sebuah kementerian di Jakarta. Syahdan, Joko mendapatkan tugas dari bosnya ke Surabaya untuk menghadiri sebuah seminar.

Dulu, orang yang dapat tugas luar kota semacam ini bakalan bersorak gembira karena di kepalanya langsung kebayang tabungan bakalan nambah. Ini karena aturan perjalanan dinas bagi PNS a la jaman baheula adalah, yang bersangkutan dikasih segepok duit yang sudah diasumsikan cukup untuk tiket Garuda, hotel standar, dan biaya hidup selama di lapangan. Perkara kemudian dia berangkatnya nebeng truk sembako, tidurnya di emperan toko, terus makannya minta ditraktir panitia, itu pinter-pinternya ybs. Yang penting kerjaan beres. Sisa uang dinas adalah hak ybs, mau diapain saja, monggo terserah.

Lain dulu, lain sekarang. Aturan perjalanan dinas sekarang ini adalah at cost. Negara akan memberi ongkos hanya sebesar pengeluaran riil, itu juga asalkan tidak melebihi jatah plafon maksimal yang sudah dijatahkan. Maksudnya kira-kira, kalau sewa kamar hotel utk PNS golongan Anda standarnya 400 ribu, terus Anda berani-beraninya buking kamar yang 1 juta, maka 600 ribu kekurangannya silakan Anda tombokin sendiri. Sebaliknya, kalau Anda nggak keluar ongkos sewa hotel karena ada marbot/takmir masjid yang berbaik hati mempersilakan Anda tidur di teras kantornya, maka negara tidak akan memberikan Anda sepeserpun duit untuk biaya menginap. Anda sudah dianggarkan naik pesawat Garuda. Kalau Anda pengennya teuteup naik kereta kelas ekonomi yang bau pesing, banyak orang goblok merokok, dan toiletnya bau pesing, ya monggo. Tapi negara cuma akan ganti duitnya sebesar harga tiket KA kelas ekonomi tadi.

Kembali ke kisah mengenai si Joko di atas. Sebagai pegawai yang baik, dia oke-oke saja ditugasin dinas ke mana saja. Masalah kemudian muncul, berawal dari keputusan bos si Joko untuk membelikan tiket pesawatnya Lion Air dan bukan Garuda sebagaimana lazimnya. Iya, Lion Air , yang terkenal dengan slogannya WE MAKE PEOPLE FLY (KAMI BIKIN ORANG TELER) karena saking seringnya delay nggak jelas. Sebagai pegawai yang mencoba utk tidak hanya sendika dhawuh, dia kemudian bertanya ke si Mbak tenaga kontrak yang mbantuin pesen tiket dan seorang kolega senior yang in charge: Lo Mbak, Pak, kenapa Lion? Kan ke Surabaya ada juga Garuda?

Dia sebetulnya hanya bertanya. Nggak ada pretensi apa-apa dengan pertanyaannya itu. Dia sudah akan puas hanya dengan jawaban: Oh, yang Garuda sudah nggak dapat seat. Atau: Oh, duitnya kurang kalau mau pakai Garuda.

Tapi, rupanya pertanyaan ini berbuntut panjang....

Dalam sebuah rapat sehari setelah Joko kembali dari Surabaya, bencana itu terjadilah. Semua staf dipanggil Direktur. Acara intinya adalah mendengarkan nasehat dan vonis Pak Direktur. Salah satunya ya vonis bahwa si Joko telah bersalah karena berani kurang ajar bertanya mengapa pakai Lion, bukan Garuda tadi. Bunyi vonis: Joko, you are guilty (Ind: kamu bersalah; Jw: Kowe luput)! Sayalah yang berhak ngatur semua staf di sini, dinas keluar kota naik apa. Kamu tidak punya wewenang apapun untuk menentukan, apalagi mendikte maumu naik pesawat ini atau naik pesawat itu. Kamu salah. Titik. Case closed. Nggak ada klarifikasi, nggak ada argumentasi di forum ini.

Keluar “ruang sidang”, si Joko meneleponku. Dia tahu persis aku orang yang nggak suka divonis bersalah tanpa pengadilan yang fair. Curhatnya bertubi-tubi nggak bisa kusela, begini:

Her, tau gak, gara-gara Gw bertanya kenapa pas tugas ke Surabaya Gw dibeliinnya tiket Lion Air, bukan Garuda, ni tadi Gw dapat teguran dari Bos Gw. Padahal Gw tuh cuma nanya doang, lain kagak. Malah Gw dituduh manja, maunya macem-macem.

Bagi Gw, masalahnya bukan simply karena Garuda dapat snack sementara Lion cuma dianggurin, Garuda servisnya oke sementara Lion pramugarinya modal cakep doang. Bukan. Masalahnya buat Gw lebih prinsip, karena reputasi keselamatan Garuda lebih baik dari Lion. Banyak orang khawatir naik Lion karena citra negatif maskapai ini, suka maen-maenin nyawa penumpang. Kalau Gw dianggap salah, fine! Tapi, sampai kapan juga Gw nggak bakalan mau mengaku salah karena bertanya mengenai sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan jiwa Gw.

Parahnya, ni tadi Gw gak dikasih kesempatan untuk klarifikasi sama sekali. Gw ngerasa jadi kayak terdakwa yang diadili tanpa didampingi pengacara, tanpa sempat membacakan pleidoi.


Mendengar itu, aku bilang gini. Sudahlah Jok, santai aja. Aku juga sering kok ngalamin kejadian kayak gitu. Kamu nggak sendiri. Berdoa saja, mudah-mudahan direkturmu itu suatu saat tahu isi hatimu. Berdoa saja, mudah-mudahan bosmu itu lain kali lebih wise untuk tidak merasa sudah tahu persis semuanya, ngerti banget duduk masalahnya, padahal informasi yang dia dapat baru separonya.