
Come on, Pak Fauzi Bowo. Saya percaya kata teman saya, Anda tidak pintar. Tapi sumpah saya tidak pernah menyangka Anda sebodoh ini. Apa sih sumbangan policy ini bagi upaya mengatasi mampetnya Jakarta selain semakin memperjelas keyakinan orang bahwa pemerintah hanya menghamba pada si kaya? Sori, saya menyalahkan Anda karena selain saya tidak kenal siapa Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, kebijakan ini tentu tidak akan pernah ada tanpa endorsement dan tanda tangan Anda.
Alasan yang paling sering dikemukakan adalah karena sepeda motor adalah biang macet, ditambah dengan pertumbuhan jumlahnya yang memang gila, yakni rata-rata 327-an ribu unit/tahun (atau hampir 900 unit/hari). Karenanya, jika tidak dibatasi, nggak lama lagi Jakarta bakalan berubah jadi lautan sepeda motor. Tapi jangan salah, pertumbuhan mobil juga nggak kalah edan. Menurut catatan Polda Metro, tahun 2002 - 2007, mobil mengalami kenaikan hingga 100 ribu unit/tahun (atau hampir 275 unit/hari).
Jadi pengen tahu nih, berapa nilai matematika Pak Foke dulu pas sekolah atau kuliah. Kalau ngepas 6 atau C saja, aku yakin itung-itungannya bakalan rada-rada bener dikit. Sekarang mari kita hitung, berapa space yang diperlukan untuk menampung pertambahan masing-masing kendaraan. Biar mudah itung-itungannya, di sini aku pakai Honda Supra X utk mewakili ukuran motor, dan Toyota Avanza utk mobil.
Motor: P(1,889) x L(0,702) = 1,326 M2; dikalikan pertambahan perhari 900 unit = 1.193,47 M2
Mobil: P(4,120) x L(1,630) = 6,716 M2; dikalikan pertambahan perhari 275 unit = 1.846,79 M2
Jelas, meski pertambahan motor 3 kali lebih tinggi dari mobil, space yang diperlukan tetap saja banyakan mobilnya. Makanya dari awal kubilang konyol kalau justru hanya motor yang dibatas-batasi, sementara mobil dibiarin beranak-pinak nggak terkendali.
Sekarang dilihat dari konusmsi BBM. Mobil paling irit sekalipun mengkonsumsi bensin minimal 2x motor paling boros. Sementara dalam hal utilisasi, yang namanya mobil mau jumlah kursinya 4 atau 7, tetep aja isinya cuma satu orang, paling banter dua itupun sudah termasuk sopir. Argumentasi kebijakan ini jelas keliru, kecuali jika niatnya mau boros BBM sambil membiarkan mobil-mobil yang lebih makan tempat padahal hanya berisi satu orang itu makin bikin sesak Jakarta.
Taruhan, kebijakan itu secuilpun nggak bakalan ada kontribusinya buat mengatasi macet. Malah makin bikin frustasi, iya. Yang kuceritakan berikut ini adalah fakta. Di tempat tinggalku, Klaster Taman Sari Kota Harapan Indah, populasi mobil lebih banyak daripada rumah, dalam arti hampir semua keluarga punya mobil dan tidak hanya satu. Mobil-mobil itu lebih banyak nongkrong di garasi atau diparkir pinggir jalan di muka rumah, sementara si empunya lebih memilih jadi biker. Yakin deh, yang beginian ini tidak hanya terjadi di kompleks tempat tinggalku. Jumlahnya jelas ratusan kalau nggak ribuan. Nah, sekarang coba bayangkan, kalau kebijakan pembatasan motor ini diterapkan, dan semua orang yang punya mobil tapi lebih memilih jadi biker itu nggak punya pilihan selain membawa mobil-mobil mereka.
Macet dan semrawut membuat orang Jakarta sehat secara fisik tapi jiwanya sakit semua. Jalanan di Jakarta adalah rimba belantara yang penuh sumpah serapah. Dan itu adalah karena pemerintah gagal menyediakan angkutan umum yang layak buat warganya. Titik. Bukan karena yang lain. Percayalah.
Kebijakan melarang masuk sepeda motor ke jalan-jalan protokol pasti hanyalah ide orang yang bener-bener sudah kehilangan akal. Ntar kalau jalan-jalan itu ternyata masih saja macet, dan itu pasti, siap-siap saja dengan kebijakan tdk masuk akal lainnya yang makin jelas menghamba pada si kaya.
"Dilarang Masuk Jalan Ini Selain Mobil dengan Harga di Atas Rp 1 Miliar".
Yo wis, sak karepmulah. Pancen dalan iki dalane Mbahmu!*)
*) Terserah Lo, memang jalan ini jalan moyang Lo!



