"Islam adalah rahmatan lil alamin. Rahmat bagi alam seisinya, termasuk bagi tumbuh-tumbuhan, anjing kurap, binatang berbisa, apalagi sesama manusia. Jadi, jika Anda mengaku diri muslim, lalu Anda beribadah dengan membuat orang lain menderita, percayalah, ada yang salah dengan cara Anda memahahami agama Anda".
Nabi Sulaiman adalah rasul favorit saya, simply karena sebagai laki-laki normal, saya mendambakan semua yang ada padanya. Seorang raja diraja yang tentu sangat berkuasa. Kekayaan? Bill Gates, apalagi Aburizal Bakrie, jelas bukan tandingannya. Punya istri seribu, cantik-cantik belaka dan mulus semua, bisa digilir kapan saja. Dan ketika ajal tiba, prosesnya begitu mudah tanpa rasa sakit. Dia mati dalam keadaan berdiri, yang bahkan ajudan setianya saja baru ngeh setelah tongkat yang menyangga jenasah Sulaiman lapuk dimakan rayap. Sori, dulu saya lupa bertanya kepada guru agama saya, kenapa itu bisa terjadi. Bukankah normalnya mikroorganisme penghancur jenasah bekerja jauh lebih cepat daripada rayap pemakan tongkat?
Enak bener jadi nabi Sulaiman. Hidup bergelimang harta, tahta, wanita, dan mati masuk surga.
Makanya, kalau pas ulang tahun terus ada teman mendoakan begini, ”Selamat ya Her, mudah-mudahan panjang umur, sehat, dan makin disayang sama Allah”, saya selalu minta tambahan doa. Iya, terima kasih. Tapi, doakan juga ya, Allah menyayangi saya secara Sulaiman. Bukan seperti Nabi Ayub yang disayang dengan kemiskinan, kelaparan, dan penyakit. Kalau Ayub mah tahan-tahan saja disayang dengan cara begitu. Dasarnya rasul, dia bahkan meminta tetap dibuat miskin semata-mata karena takut jika harta malah akan menjauhkannya dari Allah. Ayub justru bahagia dalam kemiskinan. Kalau saya? Jangan dong, pliiisss....
Satu lagi anugerah buat Sulaiman yang bikin saya mimpi jadi dia adalah kemampuan memahami bahasa binatang. Alkisah, Sulaiman sedang memimpin satu batalyon tentara untuk meninjau wilayah kekuasaannya. Di tengah jalan, tiba-tiba dia memberi aba-aba untuk berhenti, hening sejenak, dan kemudian jatuh perintah untuk meneruskan perjalanan dengan sedikit berbelok. Rupanya di jalan yang semula akan dilalui pasukan, ada lubang semut, dan Sulaiman mendengar semut-semut di situ berteriak heisteris karena takut terinjang-injak.
Nah, Ibu dan Bapak sekalian, dengan pembukaan ngalor ngidul sepanjang ini tadi, sesungguhnya saya hanya ingin membahas insiden Nabi Sulaiman vs semut. Pesan moral dari kisah ini menurut saya adalah, bahkan kepada semut, binatang kecil yang sering kita anggap tidak ada artinya, Islam seharusnya menjadi penebar rahmat.
Dalam satu kesempatan, Kanjengan Nabi Muhammad bersabda, “Tidak dianggap sebagai orang beriman, apabila kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara para tetangga kamu kelaparan di samping kamu”. Buat saya, hadits ini kira-kira bisa dibaca begini. Meskipun sholat kenceng, puasa polpolan, tahajud tiap malem, Anda bukanlah muslim yang baik jika Anda cuek dengan sesama. Dalam Islam yang saya yakini, hubungan dengan Allah memang penting, tapi hubungan dengan manusia juga tak kalah penting.
Bahkan tidak peduli saja dilarang, apalagi jika bikin orang lain sengsara. Maka, membaca berita di detikcom tadi malam ada tabligh akbar oleh gabungan beberapa ormas dengan menutup jalan raya, saya jadi bertanya, seandainya Kanjeng Nabi masih ada, beliau bakalan hepi ataukah murka.
Tabligh akbar, di tengah jalan raya yang tidak ada apa-apapun sudah langganan macet, dan membuat ribuan kendaraan terkunci 5 jam, saya segera membayangkan ribuan orang yang hanya bisa meneriakkan sumpah serapah atau hanya bisa pasrah. Ada ibu hamil yang sudah pecah ketuban yang harus segera melahirkan, pasien stroke yang butuh pertolongan segera, orang tua yang sudah sangat ditunggu-tunggu dengan cemas oleh anak-anaknya, dan calon penumpang pesawat yang butuh segera sampai di bandara. Mana yang lebih berat timbangannya, pahala dari mereka berzikir, ataukah dosa dari mereka menyengsarakan ribuan orang?

