Minggu, Juli 31, 2011

Beribadah dengan menyebabkan derita


"Islam adalah rahmatan lil alamin. Rahmat bagi alam seisinya, termasuk bagi tumbuh-tumbuhan, anjing kurap, binatang berbisa, apalagi sesama manusia. Jadi, jika Anda mengaku diri muslim, lalu Anda beribadah dengan membuat orang lain menderita, percayalah, ada yang salah dengan cara Anda memahahami agama Anda".

Nabi Sulaiman adalah rasul favorit saya, simply karena sebagai laki-laki normal, saya mendambakan semua yang ada padanya. Seorang raja diraja yang tentu sangat berkuasa. Kekayaan? Bill Gates, apalagi Aburizal Bakrie, jelas bukan tandingannya. Punya istri seribu, cantik-cantik belaka dan mulus semua, bisa digilir kapan saja. Dan ketika ajal tiba, prosesnya begitu mudah tanpa rasa sakit. Dia mati dalam keadaan berdiri, yang bahkan ajudan setianya saja baru ngeh setelah tongkat yang menyangga jenasah Sulaiman lapuk dimakan rayap. Sori, dulu saya lupa bertanya kepada guru agama saya, kenapa itu bisa terjadi. Bukankah normalnya mikroorganisme penghancur jenasah bekerja jauh lebih cepat daripada rayap pemakan tongkat?

Enak bener jadi nabi Sulaiman. Hidup bergelimang harta, tahta, wanita, dan mati masuk surga.

Makanya, kalau pas ulang tahun terus ada teman mendoakan begini, ”Selamat ya Her, mudah-mudahan panjang umur, sehat, dan makin disayang sama Allah”, saya selalu minta tambahan doa. Iya, terima kasih. Tapi, doakan juga ya, Allah menyayangi saya secara Sulaiman. Bukan seperti Nabi Ayub yang disayang dengan kemiskinan, kelaparan, dan penyakit. Kalau Ayub mah tahan-tahan saja disayang dengan cara begitu. Dasarnya rasul, dia bahkan meminta tetap dibuat miskin semata-mata karena takut jika harta malah akan menjauhkannya dari Allah. Ayub justru bahagia dalam kemiskinan. Kalau saya? Jangan dong, pliiisss....

Satu lagi anugerah buat Sulaiman yang bikin saya mimpi jadi dia adalah kemampuan memahami bahasa binatang. Alkisah, Sulaiman sedang memimpin satu batalyon tentara untuk meninjau wilayah kekuasaannya. Di tengah jalan, tiba-tiba dia memberi aba-aba untuk berhenti, hening sejenak, dan kemudian jatuh perintah untuk meneruskan perjalanan dengan sedikit berbelok. Rupanya di jalan yang semula akan dilalui pasukan, ada lubang semut, dan Sulaiman mendengar semut-semut di situ berteriak heisteris karena takut terinjang-injak.

Nah, Ibu dan Bapak sekalian, dengan pembukaan ngalor ngidul sepanjang ini tadi, sesungguhnya saya hanya ingin membahas insiden Nabi Sulaiman vs semut. Pesan moral dari kisah ini menurut saya adalah, bahkan kepada semut, binatang kecil yang sering kita anggap tidak ada artinya, Islam seharusnya menjadi penebar rahmat.

Dalam satu kesempatan, Kanjengan Nabi Muhammad bersabda, “Tidak dianggap sebagai orang beriman, apabila kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara para tetangga kamu kelaparan di samping kamu”. Buat saya, hadits ini kira-kira bisa dibaca begini. Meskipun sholat kenceng, puasa polpolan, tahajud tiap malem, Anda bukanlah muslim yang baik jika Anda cuek dengan sesama. Dalam Islam yang saya yakini, hubungan dengan Allah memang penting, tapi hubungan dengan manusia juga tak kalah penting.

Bahkan tidak peduli saja dilarang, apalagi jika bikin orang lain sengsara. Maka, membaca berita di detikcom tadi malam ada tabligh akbar oleh gabungan beberapa ormas dengan menutup jalan raya, saya jadi bertanya, seandainya Kanjeng Nabi masih ada, beliau bakalan hepi ataukah murka.

Tabligh akbar, di tengah jalan raya yang tidak ada apa-apapun sudah langganan macet, dan membuat ribuan kendaraan terkunci 5 jam, saya segera membayangkan ribuan orang yang hanya bisa meneriakkan sumpah serapah atau hanya bisa pasrah. Ada ibu hamil yang sudah pecah ketuban yang harus segera melahirkan, pasien stroke yang butuh pertolongan segera, orang tua yang sudah sangat ditunggu-tunggu dengan cemas oleh anak-anaknya, dan calon penumpang pesawat yang butuh segera sampai di bandara. Mana yang lebih berat timbangannya, pahala dari mereka berzikir, ataukah dosa dari mereka menyengsarakan ribuan orang?

Minggu, Juli 17, 2011

Ucapan terima kasih yang berbeda makna

Kamis, 14 Juli 2011, saya naik Garuda dengan nomor penerbangan GA186 dari Jakarta menuju Medan. Pas mendarat di Polonia, setelah penumpang dibuat emosi karena check in-nya lama bener, ruang tunggu di pindah2 spt penumpang metromini 49 Pulogadung-Manggarai, setelah delay lebih dari satu jam, pramugara seperti biasa mengucapkan sambutan perpisahan:

"... bla, bla, bla; thank you for flying WITH Garuda Indonesia".

* * *

Sabtu, 16 Juli 2011, kembali saya naik Garuda, kali ini dengan nomor penerbangan GA185 dari Medan tujuan Jakarta. Pas mendarat di Soekarno-Hatta, pramugari --juga seperti biasa-- mengucapkan sambutan perpisahan:

"... bla, bla, bla; thank you for flying Garuda Indonesia". Tanpa with.

* * *

Loh, kok beda-beda? Dulu, waktu pertama kali naik Garuda, salam perpisahan adalah spt yang ke-2, yang tanpa with itu. Kata seorang kolega senior di Bappenas yang belajar bahasa Inggris belasan tahun di Amerika, dus bahasa Inggrisnya sudah pasti bagusnya, secara gramatikal tidak ada yang salah dari keduanya. Hanya, maknanya jauh berbeda.


Flying with Garuda berarti "terbang bersama Garuda".

Sedangkan, flying Garuda berarti "menerbangkan Garuda", dengan filosofi yang lebih humble. Dengan itu, mereka seolah mengatakan,"Para penumpang sekalian, terima kasih telah menerbangkan Garuda. Tanpa Anda, kami tidak akan bisa terbang". Anda adalah raja dan ratu, kami adalah pelayan Anda. Andalah yang sejatinya menerbangkan Garuda, bukan kami.

Jadi, mana menurut Anda yang lebih enak dirasakan? Saya kok lebih merasa nyaman dengan yang ke-2 meski, sekali lagi, tidak ada yang salah dengan yang pertama. Rasanya tuh lebih dihargai, diterima, dan diuwongke. Dan, dalam pergaulan di masyarakat, adakah perasaan yang lebih menyenangkan dari ketiga perasaan itu?

Perkara para penumpang yang disanjung-sanjung itu kemudian ternyata adalah penumpang katrok dan berperilaku ndeso, ah itu hal yang lain lagi. Katrok yang saya maksud adalah tidak sabaran menyalakan hape bahkan sebelum pesawat masih kencang melaju di darat setelah landing. Pengumuman sudah jelas, dalam dua bahasa pula, sehingga mustahil orang tidak paham, "jangan dulu menyalakan telepon genggam Anda sebelum sampai di ruang kedatangan!". Apa harus juga pakai bahasa daerah ya, biar pada ngerti semua maskudnya? Misalnya gini, "Hapemu ki mbok ojo kok uripke sik to, Su!".


Hapenya pun mahal-mahal keluaran terbaru, baju yang dipakai bermerek, parfumnya juga mahal, pemiliknya pastilah dari kelas sosial tinggi, pendidikan juga minimal sarjana. Tapi apa boleh buat, di sini, di negara yang hipertensi diyakini sembuh dengan sate kambing dan gulai jerohan sapi ini, tingginya pendidikan dan kelas sosial memang tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesantunan berperilaku.


Ah, malah jadi ngelantur.

Sabtu, Juli 16, 2011

Ajaran sesat lagu anak-anak

Ontoseno, anak saya yang ragil (bungsu) bulan Juli ini sudah akan memasuki usia 3 tahun. Anak itu makin getol belajar menyanyi. Tidak seperti kakaknya yang dulu hobi lagu-lagu dewasa (bayangkan, anak umur 3 tahun apal di luar kepala lagu Teman Tapi Mesra-nya duo Ratu dan Kenangan Terindah-nya Samsons dan malah nangis kejer kalau disetelin Libur Tlah Tiba-nya Tasya), si Ontoseno lebih menyukai lagu anak-anak sesuai perkembangan usianya. Dia sudah hafal Cicak-cicak di dinding, Satu satu aku sayang Ibu, dan Balonku ada lima, meski dengan suara yang masih kurang pas nada-nadanya dan pelafalan syair yang masih perlu terus dibenahi.

Yang membuat saya rada gamang, kalau kita perhatikan dengan seksama, lagu anak-anak abadi yang dulu juga sering kita nyanyikan itu, syair-syairnya banyak yang salah, menyesatkan, dan ngajari nggak bener. Berikut ini adalah contohnya.

1. Pelangi pelangi. Coba kita simak penggalan syairnya berikut ini:Pelangi pelangi, alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru, pelukismu agung siapa gerangan, pelangi pelangi ciptaan Tuhan.

Lagu ini menyesatkan setidaknya dalam tiga hal. Pertama, pada bagian "merah kuning hijau di langit yang biru". Warna pelangi, tidak di Jakarta tidak di Jombang, itu ada 7 yang biasa disingkat me-ji-ku hi-bi-ni-u. Dus, tidak hanya merah, kuning, dan hijau. Merah kuning hijau adalah warna traffic light atau lampu lalu lintas.

Kedua, jika kita mengingat pelajaran IPA pas SD dulu, pelangi terbentuk dari sinar matahari yang dibiaskan oleh awan di atmosfer. Maka, pelangi hanya terjadi dalam keadaan langit berawan. Tidak mungkin "...di langit yang biru". Harusnya, di langit yang putih, kelabu, atau kehitam-hitaman, tergantung warna awannya (mohon lihat contoh foto di atas).

Ketiga, lagu ini sadar atau tidak, mendidik anak-anak untuk tidak menghargai hak cipta. Sudah jelas lagu pelangi-pelangi adalah ciptaan AT. Mahmud, la kok dibilang ciptaan Tuhan. Kalau mau dirunut-runut sih, semua memang ciptaan Tuhan. Mungkin karena lagu ini, sekarang kita jadi suka menggunakan produk bajakan.

2. Menanam jagung. Lagu ini sepertinya diciptakan oleh orang yang seumur-umur tidak pernah menanam jagung. Coba simak penggalan syair berikut: "...cangkul, cangkul, cangkul yang dalam; menanam jagung dikebun kita". Di mana-mana, cara menanam jagung yang benar adalah dengan membuat lubang di tanah sedalam maksimal 7 cm menggunakan kayu berdiameter tak lebih dari genggaman tangan yang diruncingi ujungnya spt pensil. Satu sampai 3 butir jagung dimasukkan ke situ, habis itu ditutup dengan tanah agar si biji aman tidak dipatok ayam. Jadi, nggak perlu susah-susah pakai cangkul apalagi menggali tanah dalam-dalam. Emangnya mau bikin sumur?

Lalu, ada bagian yang berbunyi: "beri pupuk supaya subur,.. Subur daunnya, lebat buahnya,.." Hal ini semakin jelas menunjukkan bahwa si pengarang tidak survei dulu ke lapangan sebelum menulis lagu. Selebat apapun pohonnya, yang namanya jagung, buahnya hanya akan ada satu (atau maksimal 2 pada varietas baru). Jadi, mau pupuknya setruk, buahnya tetap tidak akan lebat menuh-menuhin pohon seperti rambutan atau mangga.

3. Naik kereta api. Boleh jadi, lagu inilah yang jadi sebab kenapa KRL di Jabodetabek dan kereta jarak jauh seperti Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Semarang dipenuhi penumpang gelap. Syairnya sungguh provokatif dan merugikan PT KAI: “ke Bandung, Surabaya; bolehlah naik dengan percuma (alias gratis)”. La wong naik kereta api kok gratisan lo, emange sepure Mbahmu po? (memang ini kereta api moyang Loe?)

4. Desaku. Syair lengkapnya: Desaku yang kucinta, pujaan hatiku, tempat ayah dan bunda, dan handai tolanku. Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan, desaku yang permai.

Lagu ini tidak tepat diklaim sebagai lagu anak-anak. Merindukan sesuatu itu artinya si penutur sedang berada di suatu tempat untuk waktu yang lama. Susah saya membayangkan, bagaimana seorang anak kecil hidup sendirian di luar kota, jauh dari ayah, bunda, dan handai taulan. Tega benar sih, ayah dan bundanya. Mereka enak-enakan tinggal di desa yang permai, sementara si anak yang masih sangat belia disuruh merantau ke kota.

Begitulah tulisan ngawur ini. Sebagian di antara ulasan di atas--terutama untuk menanam jagung dan naik kereta api--sesungguhnya sudah lama ada dan oleh karenanya saya tdk berpretensi utk mengklaim itu sebagai ide saya. Tapi memang bukan itu intinya. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk lain kali lebih berhati-hati dalam menulis lagu, terutama lagu anak-anak, karena boleh jadi itu akan sedikit banyak membentuk karakter generasi bangsa ini di masa yang akan datang (halah, opooo...?).