
Suatu sore menjelang malam di rumah Utan Kayu. Aku tiba dari kantor dengan ritual seperti biasa: motor Legenda butut inventaris keluarga kuparkir di belakang, lepas helm, sepatu, dan jaket, taruh tas, makan malam, dan mandi. Cuma, malam itu ada yang sedikit berbeda dengan istriku. Biasanya, dalam menyambut suami, sang Arjuna merangkap pahlawan devisa keluarga, ia selalu tersenyum dan cerah ceria. Tapi tidak kali itu. Wajahnya merengut bin cemberut. Weh, tumben, pasti sedang ada masalah serius.
“Ada apa sih, Bun? Kok tidak biasa-biasanya”, tanyaku setelah semua ritual pulang kantor selesai kujalani, termasuk mandi tentu saja. Nggak tahan juga lihat muka belahan jiwa yang makin montok mempesona itu terus ditekuk begitu.
“Bunda sebel sama sinetron Aqso dan Madina. Capek ngikutinnya. Dulu Bunda pikir ini sinetron dalam rangka menyambut puasa Ramadhan, sama seperti sinetron bikinan SinemArt tahun-tahun lalu. Dimulainya satu bulan sebelum Ramadhan, dan berakhir beberapa hari setelah Lebaran. Eh, ini sampai mau tahun baru nggak kelar juga. Mana alurnya juga makin nggak karu-karuan. Masa, tokoh jahat yang sudah insyaf, dibikin jahat lagi. Sebel!”
Oh, itu to pangkal persoalannya. Kirain dia denger gosip murahan aku selingkuh atau apa gitu yang gawat-gawat. Ternyata cuma masalah sinetron. Tiwas sudah degdegan...
“Yang bikin Bunda makin sakit hati tuh karena ternyata Dude ada di situ”, kata istriku masih bersungut-sungut.
Dude tuh maksudnya Dude Herlino, pemeran tokoh Aqso dalam sinetron striping Aqso dan Madina di RCTI. Dia aktor yang selama ini bikin aku cemburu berat karena istriku ngefans banget. Katanya ganteng dan baik hati. Wah, kalau bicara tampang emang membuatku jadi rendah diri. Dude yang ganteng itu pasti bukan tandinganku yang hanya satu setrip lebih keren dari sandal jepit butut.
“Bunda sendiri yang salah. Sudah tahu sinetron ngaco, nekat ditonton juga. Lagian, kok ya baru sekarang Bunda nyadar dan insyaf bahwa sinetron di tivi-tivi itu jauh lebih banyak yang ngawur daripada yang bener. Gimana mau bener kalau rating yang dijadikan patokan,” aku mulai ceramah. Ngaco, kalau ratingnya bagus, go ahead. Bagus, kalau ratingnya jeblok, minggir. Peduli setan sama logika, yang penting duit, duit, and duit. Makanya nggak heran ada sinetron judulnya Cinta SMU tapi yang nongol dan jadi pusat cerita anak balita mulu. Gak nyambung banget. Cerita diulur-ulur nggak jelas jluntrungannya, sampai sutradaranya aja ditanggung gak tahu endingnya tar gimana wong skenarionya konon baru jadi dua jam sebelum syuting kejar tayang dimulai. Sebaliknya, aku ingat dulu ada sinetron judulnya Jomblo di RCTI. Lumayan bagus, tapi gara-gara ratingnya rendah, tuh sinetron mesti dibabat dengan cara yang kasar pula.
Sebetulnya, cerita yang menghamba pada rating sudah ada sejak dulu kala, sejak Indonesia masih dalam abad kegelapan di tangan Orde Baru nan jaya. Jika Anda pendengar setia radio di tahun 80-an, boleh jadi Anda adalah penggemar sandiwara radio Saur Sepuh dengan tokoh utama sakti mandarguna Brama Kumbara dari Kerajaan Madangkara. Awalnya sih oke. Tapi berhubung pendengar pada kepincut, ceritanya dibikin puanjang dan berliku nggak habis-habis. Tokoh yang disukai pendengar, tak lain dan tak bukan ya Mas Brama itu, dibikin awet umurnya, nggak peduli betapa tidak masuk akalnya rentang usianya. Kalau dihitung-hitung ada kali 300 tahun.
Lebih aneh lagi sandiwara radio Misteri dari Gunung Merapi, dengan tokoh utama bernama Sembara dan gurunya Kakek Jabat. Di situ ada tokoh antagonis Mak Lampir, yang secara normatif harusnya binasa di tangan tokoh protagonis. Tapi karena Si Emak yang suka ketawa cekikikan padahal nggak ada yang lucu itu disukai pendengar, umurnya dibikin awet nggak mati-mati. Sampai Kakek Jabat matipun, Mak Lampir teuteup panjang umur, sehat, dan sejahtera selalu.
Kembali ke dunia pertelevisian di tanah air yang dipenuhsesaki oleh sinetron kejar tayang. Seingatku, sinetron terakhir yang membuatku kapok dan kemudian memutuskan untuk bilang enough is enough adalah Kecil-kecil Jadi Manten. Awalnya tuh sinetron bagus. Karakterisasi tokoh-tokohnya kuat, alurnya jelas, mesej yang ingin disampaikan dapat. Konon sinetron ini akan selesai dalam 13 episode. Eh, ternyata dipanjang-panjangin sampai 100-an episode karena tergoda duit. Dan sudah dapat diduga, ceritanya jadi kacau balau. Tokoh-tokohnya pada lebay, alurnya kentara banget dipaksain. Wis, pokoknya bikin gemes pengen banting tivi.
Selain jalan cerita yang “terserah apa kata rating”, penyakit lain dari sinetron-sinetron sampah idola kita itu adalah penokohannya yang pasti hitam putih. Contohnya gini. Tokoh antagonis tuh pasti sukanya mbentak-mbentak babu di rumah, hobinya marah-marah sama anak buah di kantor, korupsi, pikirannya selalu jahat, nggak pernah sholat, nggak berbakti sama orang tua, dan seterusnya. Si tokoh protagonis punya karakter sebaliknya. Yang jahat jahaaaat banget, yang baik ya baiiik banget. Nggak kreatif. Padahal di alam nyata, manusia kebanyakan abu-abu. Koruptor, tapi sholatnya kenceng. Pemarah, tapi berbakti sama orang tua. Dan seterusnya.
“Pesan moral dari uraian panjang lebar Ayah adalah, berhentilah nonton sinetron striping jika pikiran Bunda kepengen tetap waras”, kataku mengakhiri diskusi hangat kami. Istriku mengangguk. Mudah-mudahan itu pertanda bahwa dia memang benar-benar insyaf.
Saudara Dude Herlino, sorry to say, istriku tidak lagi ngefans sama kamu...
“Ada apa sih, Bun? Kok tidak biasa-biasanya”, tanyaku setelah semua ritual pulang kantor selesai kujalani, termasuk mandi tentu saja. Nggak tahan juga lihat muka belahan jiwa yang makin montok mempesona itu terus ditekuk begitu.
“Bunda sebel sama sinetron Aqso dan Madina. Capek ngikutinnya. Dulu Bunda pikir ini sinetron dalam rangka menyambut puasa Ramadhan, sama seperti sinetron bikinan SinemArt tahun-tahun lalu. Dimulainya satu bulan sebelum Ramadhan, dan berakhir beberapa hari setelah Lebaran. Eh, ini sampai mau tahun baru nggak kelar juga. Mana alurnya juga makin nggak karu-karuan. Masa, tokoh jahat yang sudah insyaf, dibikin jahat lagi. Sebel!”
Oh, itu to pangkal persoalannya. Kirain dia denger gosip murahan aku selingkuh atau apa gitu yang gawat-gawat. Ternyata cuma masalah sinetron. Tiwas sudah degdegan...
“Yang bikin Bunda makin sakit hati tuh karena ternyata Dude ada di situ”, kata istriku masih bersungut-sungut.
Dude tuh maksudnya Dude Herlino, pemeran tokoh Aqso dalam sinetron striping Aqso dan Madina di RCTI. Dia aktor yang selama ini bikin aku cemburu berat karena istriku ngefans banget. Katanya ganteng dan baik hati. Wah, kalau bicara tampang emang membuatku jadi rendah diri. Dude yang ganteng itu pasti bukan tandinganku yang hanya satu setrip lebih keren dari sandal jepit butut.
“Bunda sendiri yang salah. Sudah tahu sinetron ngaco, nekat ditonton juga. Lagian, kok ya baru sekarang Bunda nyadar dan insyaf bahwa sinetron di tivi-tivi itu jauh lebih banyak yang ngawur daripada yang bener. Gimana mau bener kalau rating yang dijadikan patokan,” aku mulai ceramah. Ngaco, kalau ratingnya bagus, go ahead. Bagus, kalau ratingnya jeblok, minggir. Peduli setan sama logika, yang penting duit, duit, and duit. Makanya nggak heran ada sinetron judulnya Cinta SMU tapi yang nongol dan jadi pusat cerita anak balita mulu. Gak nyambung banget. Cerita diulur-ulur nggak jelas jluntrungannya, sampai sutradaranya aja ditanggung gak tahu endingnya tar gimana wong skenarionya konon baru jadi dua jam sebelum syuting kejar tayang dimulai. Sebaliknya, aku ingat dulu ada sinetron judulnya Jomblo di RCTI. Lumayan bagus, tapi gara-gara ratingnya rendah, tuh sinetron mesti dibabat dengan cara yang kasar pula.
Sebetulnya, cerita yang menghamba pada rating sudah ada sejak dulu kala, sejak Indonesia masih dalam abad kegelapan di tangan Orde Baru nan jaya. Jika Anda pendengar setia radio di tahun 80-an, boleh jadi Anda adalah penggemar sandiwara radio Saur Sepuh dengan tokoh utama sakti mandarguna Brama Kumbara dari Kerajaan Madangkara. Awalnya sih oke. Tapi berhubung pendengar pada kepincut, ceritanya dibikin puanjang dan berliku nggak habis-habis. Tokoh yang disukai pendengar, tak lain dan tak bukan ya Mas Brama itu, dibikin awet umurnya, nggak peduli betapa tidak masuk akalnya rentang usianya. Kalau dihitung-hitung ada kali 300 tahun.
Lebih aneh lagi sandiwara radio Misteri dari Gunung Merapi, dengan tokoh utama bernama Sembara dan gurunya Kakek Jabat. Di situ ada tokoh antagonis Mak Lampir, yang secara normatif harusnya binasa di tangan tokoh protagonis. Tapi karena Si Emak yang suka ketawa cekikikan padahal nggak ada yang lucu itu disukai pendengar, umurnya dibikin awet nggak mati-mati. Sampai Kakek Jabat matipun, Mak Lampir teuteup panjang umur, sehat, dan sejahtera selalu.
Kembali ke dunia pertelevisian di tanah air yang dipenuhsesaki oleh sinetron kejar tayang. Seingatku, sinetron terakhir yang membuatku kapok dan kemudian memutuskan untuk bilang enough is enough adalah Kecil-kecil Jadi Manten. Awalnya tuh sinetron bagus. Karakterisasi tokoh-tokohnya kuat, alurnya jelas, mesej yang ingin disampaikan dapat. Konon sinetron ini akan selesai dalam 13 episode. Eh, ternyata dipanjang-panjangin sampai 100-an episode karena tergoda duit. Dan sudah dapat diduga, ceritanya jadi kacau balau. Tokoh-tokohnya pada lebay, alurnya kentara banget dipaksain. Wis, pokoknya bikin gemes pengen banting tivi.
Selain jalan cerita yang “terserah apa kata rating”, penyakit lain dari sinetron-sinetron sampah idola kita itu adalah penokohannya yang pasti hitam putih. Contohnya gini. Tokoh antagonis tuh pasti sukanya mbentak-mbentak babu di rumah, hobinya marah-marah sama anak buah di kantor, korupsi, pikirannya selalu jahat, nggak pernah sholat, nggak berbakti sama orang tua, dan seterusnya. Si tokoh protagonis punya karakter sebaliknya. Yang jahat jahaaaat banget, yang baik ya baiiik banget. Nggak kreatif. Padahal di alam nyata, manusia kebanyakan abu-abu. Koruptor, tapi sholatnya kenceng. Pemarah, tapi berbakti sama orang tua. Dan seterusnya.
“Pesan moral dari uraian panjang lebar Ayah adalah, berhentilah nonton sinetron striping jika pikiran Bunda kepengen tetap waras”, kataku mengakhiri diskusi hangat kami. Istriku mengangguk. Mudah-mudahan itu pertanda bahwa dia memang benar-benar insyaf.
Saudara Dude Herlino, sorry to say, istriku tidak lagi ngefans sama kamu...
