Rabu, Januari 12, 2011

Bangga menjadi pengguna

Apa yang bisa kita simpulkan dari data mengenai negara kita tercinta Indonesia di bawah ini.

1. FACEBOOK. Dari total 571,9 juta pemilik akun thn 2010 di dunia, Indonesia adalah juara kedua setelah AS, dengan 31,8 juta Facebooker.

2. TWITTER. Indonesia adalah pengguna Twitter terbesar ke-3 setelah AS dan Jepang. Bahkan, dalam soal penetrasi, populasi pengguna internet Indonesia menempati ranking pertama di Twitter. Proporsi pengunjung Twitter asal Indonesia memiliki pangsa 20,8 persen.

3. BLACKBERRY. Tahun 2009, Indonesia adalah juara dunia dalam hal pertumbuhan pengguna Blackberry.

Ada satu kata kunci yang sama-sama dimiliki oleh ketiga fakta di atas, yakni "pengguna". Celakanya, jika fakta-fakta ini dirilis Majalah Time atau Newsweek, reaksi kebanyakan kita adalah biasa saja atau malah bangga. Nggak ada sedikitpun rasa malu, boro-boro miris.

Setelah lebih dari 65 tahun menyatakan diri merdeka, level kita ternyata masih belum juga beranjak dari bangsa yang hanya bisa menggunakan. Belum bisa menjadi bangsa pembuat apalagi penemu. Negara kita, dengan jumlah penduduk 230 juta, adalah pasar yang teramat menggiurkan bagi produsen laptop, hape, motor, mobil, televisi, susu formula, BH yang katanya ada sinar infra merahnya yang bisa bikin buah dada kendor jadi kenceng, celana dalam wanita yg dibilang mengandung magnet yg bisa bikin vagina keputihan bau ikan asin menjadi harum semerbak mewangi, bahkan pakaian bekas.

Saya menduga, dimasukkannya Indonesia sebagai negara anggota G-20, bukan karena kita adalah negara yang kuat secara ekonomi, melainkan karena kita adalah pasar raksasa yang teramat mudah dipenetrasi. Di negeri tempat banyak perguruan tinggi gedungnya berdiri megah dengan AC di setiap ruangannya (tapi mutunya bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan universitas mirip kandang ayam di India) ini, negeri yang orang-orangnya lebih dinilai dari isi kantongnya daripada isi hati dan kepalanya ini, sepertinya apa saja laku dijual. Cara menjualnyapun mudah. Rekrut bule untuk jadi bintang iklan, bayar artis terkenal utk memberi testimoni, dan jangan lupa gunakan bahasa Inggris meski pasar yang dibidik jelas orang-orang pribumi yang nilai TOEFLnya nggak jauh-jauh dari 400. Pasti laku!

Padahal, kalau kita bisa memproduksi apa-apa sendiri, tidak usahlah kita mikirin ekspor, pasar dalam negeri juga sudah sedemikian dahsyatnya. Andai Anda adalah produsen sepeda motor, dan seluruh keluarga Indonesia membeli motor buatan Anda, percayalah, Anda sudah akan jadi lima besar manusia paling kaya di dunia. Sayang, kita hanya bisa menjadi bangsa pengguna yang bangga memakai barang bikinan orang lain. Kampanye cinta produk Indonesia hanya slogan tak bermakna, yang bahkan dimentahkan sendiri oleh kepala negara.

Lalu, apa yang bisa kita simpulkan dari data lain berikut ini?

Pada thn 2010, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 57,8 juta, dan sekitar 52,4% koneksi internet dilakukan dari kantor.


Sudah lama kita sebetulnya dikenal sebagai bangsa pekerja keras. Di Bappenas, dan saya kira di instansi lain baik yang milik negara maupun swasta, adalah hal biasa kita berangkat pagi buta dan pulang ketika langit telah gelap gulita. Libur tahunan paling lama adalah ketika Lebaran plus cuti bersama yang lima hari itu. Tapi, benarkah jam kerja yang panjang itu kita gunakan untuk benar-benar bekerja? Percayalah, jika jawaban Anda adalah ya, Anda pastilah orang yang sangat luar biasa.

Di negara-negara maju, jam kerja lebih singkat. Jam 8 pagi masuk kantor, jam 4 sore pulang. Jam 9 malam, tidur. Libur tahunan mereka jauh lebih lama dari kita. Ada libur Paskah seminggu, ada libur Natal & Tahun Baru seminggu, dan liburan musim panas yang bisa sebulan. Tapi, antara jam 8 pagi hingga jam 4 sore itu, minus istirahat makan siang sejam tentu saja, mereka benar-benar bekerja jangan harap bisa chatting YM dan ngobrol nggak penting.
Jadi, Ibu dan Bapak sekalian. Kuncinya adalah produktivitas. Bekerja cerdas, tidak cukup hanya bekerja keras.

Tenang, saya tidak sedang menuding Anda sambil berlagak tak berdosa karena yang saya maksud dengan “kita” di sini adalah juga termasuk saya. Buktinya, tulisan nggak jelas ini toh saya buat pada jam kerja, dan saya unggah di blog ini menggunakan internet gratisan fasilitas negara pula.

Sabtu, Januari 01, 2011

Orang hebat itu bernama Dr. Warsito Purwo Taruno

Barusan nonton Orange Juice di B TV. Ini adalah acara talkshow yang dipandu Ronal & Tike. Bintang tamunya Jaya Suprana, orang dengan banyak predikat: budayawan, pengusaha, pianis, kolumnis, kelirumolog, dan tentu saja yang nggak boleh ketinggalan adalah penggagas Museum Rekor Indonesia alias MURI. Saya kagum sama orang ini. Pikiran-pikirannya yang sering ia tuangkan di harian Kompas selalu membuatku termenung-menung. Tapi..., bukan dia yang ingin aku bahas di sini.

Dalam acara itu, dia mengajak seorang pemegang rekor MURI. Namanya Warsito, lengkapnya Doktor Warsito Purwo Taruno. Lahir di Solo, umurnya cuma lebih tua 7 tahun dariku, tapi prestasi yg telah dia ukir sungguh luar biasa. Untuk mendapatkan sedikit gambaran ttg siapa dia, silakan dibaca kutipan dua paragraf berikut. Saya akan sangat heran jika Anda tidak bangga ada orang Indonesia kayak dia.

“Penemuannya yang paling spektakuler adalah tomografi volumetrik (ini adalah semacam alat pemindai) 4D yang dipatenkan di AS dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Teknologi ini diperkirakan akan mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi di berbagai bidang dari energi, proses kimia, kedokteran, hingga nano-teknologi.

Temuannya telah dipakai di berbagai institusi kelas dunia, seperti NASA, Ohio State University (AS), Cambrige University (UK), B&W Company (AS), dan Morgantown National Laboratory (Dept. of Energy, WA, AS). Institusi yang ia bangun menjadi standar bagi teknologi tomografi volumetrik yang dikembangkan di seluruh dunia, dan dipublikasikan di dua jurnal internasional terkemuka, Measurement Science and Technology (UK) dan IEE Sensors Journal (AS)”.

Penemuannya itu mengungguli teknologi pemindai 2 dimensi semacam CT Scan dan MRI di dunia kedokteran. Dan, asal tau saja, penemu CT Scan, Sir Godfrey Hounsfield dan Dr. Alan Cormack, diganjar Nobel thn 1979. Penemu MRI, Paul Lauterbur dan Sir Peter Mansfield, juga diganjar Nobel tahun 2003. Jadi, adalah teramat layak jika Dr. Warsito menerima penghargaan yang sama karena temuannya itu.

Saya merinding membaca profilnya. Tujuh tahun lagi ketika aku seusia dia, mungkin aku masih akan begini-begini saja sementara dia sudah makin melesat jauh dengan temuan-temuan hebatnya. Kadang aku curiga setengah yakin, orang-orang semacam ini pasti otaknya tak pernah berhenti bekerja. Tengah malam, ketika kita nyenyak tidur, pasti dia sedang asyik masyuk dengan tulisan ilmiahnya. Siang hari bolong ketika kita chatting, mainan fesbuk, atau dengan mata nanar mantengin situs porno, dia pasti sedang tenggelam mengutak-atik rumus ilmiah karyanya.

Dan seperti Nelson Tansu (profesor termuda pakar nanoteknologi di Lehigh University AS yg meraih gelar PhD di usianya yg belum genap 26 tahun), atau Ken Soetanto (peraih gelar profesor dan 4 doktor di Jepang dengan 31 paten internasional), orang ini bekerja dalam sunyi dan jauh dari hingar-bingar. Di lembaga-lembaga riset top dunia atau institusi paling disegani, nama Dr. Warsito Purwo Taruno sangatlah harum. Tapi di sini, nama itu jelas sama asingnya dengan Heriyadi dari Bappenas. Kalah tenar di bandingkan dengan Bambang Soesatyo, Nurdin Halid, atau Aburizal Bakrie, orang-orang yang entah berkontribusi apa terhadap kemajuan negeri ini.

Harap dicatat, dalam pandanganku Dr. Warsito, Prof. Nelson Tansu, Prof. Ken Soetanto, dan orang-orang semacam ini lebih nasionalis dari politisi yang hanya bisa ngomong narsis sok populis, demonstran berikat kepala merah putih tapi beraksi anarkhis, habib bersorban yang berperan ganda jadi provokator massa untuk menganiaya atas nama agama, atau pengusaha yg slogannya saja go green tapi sejatinya merusak lingkungan dengan telanjang.

Kalau Dr. Warsito dkk itu lebih suka temuan-temuannya di patenkan di luar negeri, atau mereka berkarya di seberang lautan, itu karena di negeri mereka sendiri mereka tidak dihargai. Saya kira, tak seorangpun --di dalamnya pastilah saya juga Anda-- yang bersedia diperlakukan tidak sepantasnya.

Bersediakah Anda, jika Anda memiliki achievement dan tingkat pendidikan seperti mereka, tetap bertahan di negeri ini mengajukan proposal riset dan tidak ada satupun pihak yang peduli, sementara rayuan dari institusi bergengsi di luar negeri datang bertubi-tubi? Maukah Anda, dengan kualifikasi seperti mereka, tetap bertahan di negeri ini dengan standar gaji tidak lebih tinggi dari tukang mie ayam sementara di luar sana rayuan gaji setara menteri datang silih berganti?