Senin, April 28, 2008

Ngeliat bintang di Planetarium

Asri Rahmawati, seorang teman yang kukenal di Rotterdam ketika aku sekolah di sana karena ada sponsor khilaf ngasih beasiswa, suatu ketika pernah bilang begini: ekspektasi itu berbanding lurus dengan kekecewaan. Maksudnya, makin tinggi kita berharap pada sesuatu, makin besar pula kekecewaan yang bakalan kita rasakan jika apa yang terjadi nanti tidak sesuai dengan yang kita harapan. Tidak penting apakah dia ngomong gitu berdasarkan pengalaman pribadinya yang waktu itu sedang patah hati digombalin cowok atau ngutip dari pakar hebat yang memunculkan teori itu setelah melakukan rangkaian riset berbiaya mahal dalam waktu lama, dengan metoda ilmiah yang canggih dan gawat. Toh ini bukan paper yang harus ditulis dengan mengutip sumber secara baik dan benar.

Nggak usah mikir susah-susahpun dengan gampang kita juga bakalan sependapat belaka dengan itu, terus bilang: Iya ya, bener juga.... Contohnya, jika ada orang yang hobinya mabok dan judi, terus dia ditangkep polisi karena memperkosa mbak-mbak bakul jamu yang sering lewat di depan rumah kita, kita nggak bakalan terlalu kaget. Tapi jika ada ustadz yang alim dan hafal Quran, terus suatu malam dipergokin hansip sedang nyatronin istri tetangga, pasti kita bakalan syok dan kecewa berat, apalagi kalau tuh ustadz kita percaya juga jadi guru ngaji di keluarga kita. Atau kalau elo percaya banget sama pacar elo, yakin bener bahwa dia gak bakalan ngekhianatin elo, tahu-tahu elo mergokin pacar elo itu lagi main dokter-dokteran sama pembokat elo, taruhan elo bakalan kaget setengah mati serasa petir sedang nyamber hidung elo saat itu. Makanya Sodara-sodara sekalian, terutama para remaja putri, sama cowok tuh jangan percaya-percaya banget, tar elo sakit sendiri (ini apaan sih, kok malah ke mana-mana....).

Nah, tentang teori ekspektasi itu aku punya pengalaman sendiri. Ceritanya, Sabtu (26/4) pagi kemaren aku ke Planetarium di Taman Ismail Marzuki. Untuk apa lagi kalau bukan ngajakin Wisanggeni ngeliat pertunjukan bintang-gemintang di kamar beratap kubah itu. Pasti tuh anak bakalan seneng, wong kalau malam di rumah Harapan Indah Bekasi dia kuajak keluar ngeliat langit, dianya terlihat antusias.

“Nyonyo, bangun. Katanya mau ngeliat bintang di Planetarium’”, Emaknya nepuk-nepuk pantat si Wisang ngebangunin karena entah kenapa tuh anak tumben-tumbenan jam setengah delapan pagi masih saja pules tidurnya. Setiap hari dia emang nagih terus kapan ke Planetarium gara-gara aku janji begitu pas jalan-jalan ngasih makan burung merpati di Taman Suropati minggu sebelumnya.

Dulu, ketika masih pacaran, Planetarium adalah salah satu lokasi mojok favoritku dan Emaknya Wisang. Pertimbangannya simpel, karena tiketnya murah, cuma enam ribuan kalo nggak salah, jika dibandingkan dengan tiket nonton bioskop yang waktu itu bisa sampai 15 ribuan (dasar pelit, masih pacaran sudah itung-itungan). Pertimbangan lain, suasana di dalam toh juga sama gelapnya seperti di bisokop, sehingga kami bisa tetap “bebas berekspresi”. Makanya, dari seringnya ke sana, kami dulu bisa sampai pada kesimpulan bahwa pertunjukan Minggu relatif lebih ramai dibandingkan Sabtu karena pada hari Sabtu itu sebagian anak-anak sekolah pada masuk. Dan show yang pagi relatif lebih sepi daripada yang siangan. Nah, berbekal pengalaman itu, kami memutuskan untuk ngajakin Wisang ngelihat show hari Sabtu yang jam 10:00 pagi, biar sepi dan nggak banyak orang.


Arti penting lain mengajak Wisang ke Planetarium adalah agar dia bisa sekalian napak tilas tempat-tempat bersejarah, di mana Bapak Ibunya dulu menyiram benih-benih cinta (halah, gombal...).

Begitulah. Setelah mandi, sarapan, dan persiapan ala kadarnya, tepat jam 08:55, berangkatlah rombongan kecil kami dari rumah Utan Kayu, dengan Honda Legenda butut andalan keluarga. Wisanggeni duduk di depan, aku pegang setir, dan istri nemplok di goncengan belakang. Weh, what a happy family.

Sesampai di lokasi syuting, belum lagi masuk ke gedungnya, waduh, la kok rame banget kedengarannya. Curiga nih kita, jangan-jangan.... Benar juga, ketika kami sampai pintu masuk, busyet dah, suasananya bener-bener kayak konggres playgroup sedunia. Pengunjungnya banyak banget yang sebagian besar anak-anak TK dan playgroup, pakai seragam sekolah masing-masing. Wah, tiket pasti bakalan ludes diborong sama Bu Guru. Belakangan ketika aku ke WC buat pipis, nanya ke si Mas penjaga WC, katanya yang begini masih belum apa-apa dibanding biasanya. Wah....

Pas ke loket, seperti sudah diduga sebelumnya, tiket yang buat jam 10:00 sudah sold out, padahal waktu itu masih jam sembilan lebih dikit. Pilihan hanya ada dua, mau nonton yang berikutnya, yang berarti mesti nunggu loket di buka ntar jam 10:30, terus nunggu lagi untuk masuk ntar jam 11:20. Atau pilihan lain, pulang aja. Akhirnya, dengan pertimbangan sudah kadung sampai situ, sekalian aja, kita pilih go on dengan alternatif pertama.

Bengong sejam nunggu loket dibuka jam 10:30 sudah pasti. Dan enggak selesai di situ, kita juga mesti baris nunggu pintu masuk dibuka karena tiket tidak ada nomor tempat duduk, sehingga siapa yang di barisan paling depan dia bisa duluan milih tempat duduk. Kalau kita enggak ikutan baris, resiko yang sangat mungkin ditanggung adalah enggak kebagian kursi yang jejeran. Kebayang kan, jika cuma tersisa satu tempat duduk di belakang sementara anak istri terpaksa kebagian satu kursi nun jauh di depan sana?

Jam 11:30. Penonton sudah duduk manis di kursi masing-masing. Lampu diredupkan, ilustrasi musik dibunyikan, susunan bintang gemintang ditayangkan, penonton bertepuk tangan, dan mulailah si Bapak Narator bicara. Suaranya pelan, intonasinya datar. Beberapa kali mencoba bikin joke, tapi nggak ada yang ketawa wong nggak lucu. Jayus. Detik demi detik berjalan, la kok gambar yang ditayangin nggak ganti-ganti? Seingatku, dulu nggak gitu deh. Dulu tuh yang ditayangin begitu atraktif, bintang-bintang yang bertaburan itu bergerak-gerak, terus penonton diajak untuk menjelajahi rasi-rasi bintang. Itu yang tadinya kubayangin bakalan bikin Wisang antusias. La ini malah si Bapak ngomong mulu, sementara gambarnya tetep yang itu. Mana yang diomongin tuh yang ilmiah banget, pakai istilah-istilah yang ditanggung para penonton yang sebagian besar anak-anak TK dan playgroup itu kagak ngarti. Yang medan magnetlah, yang planet teresteriallah, yang planet kerdillah, belum lagi si Bapak nyebut-nyebut nama orang yang aneh-aneh, dari Ptolemius sampai Copernicus.

Setelah lima menit show berlangsung, Wisang minta dipangku emaknya. Duduknya dalam posisi hampir telentang, mengikuti posisi emaknya yang mengikuti sudut yang dibentuk oleh tempat duduk di situ, sehingga kepala dan mata bisa bebas melihat ke atas seperti jika kita telentang memandang langit (buat yang pernah ke Planetarium TIM, pasti ngerti maksud kalimat yang membingungkan ini). Sempat ngoceh bentar, untuk kemudian diam. Kami pikir tuh anak sudah mulai bisa berkonsentrasi, memperhatikan “langit” sambil mendengarkan penjelasan. Tapi..., lo kok diamnya mencurigakan? Kugunakan cahaya HP untuk menerangi wajah si Wisang. Halah, tuh anak ternyata tidur dengan nyenyaknya, Sodara-sodara sekalian. Kami cuma bisa saling pandang dalam kegelapan sambil senyum-senyum kecut.

Jalan-jalan dan nonton bintang yang kubayangin bakal bikin Wisang antusias dan happy belaka ternyata berakhir antiklimaks. Planetarium rupanya telah berubah....

Tidak ada komentar: