Selasa, Juli 20, 2010

20 Juli 2003


Dear Istriku, terima kasih atas 7 tahun yang indah yang telah kita lalui. Please, tetaplah bersamaku, menjadi inspirasi dan mendampingiku hingga habis sisa usiaku. HALAH, GOMBAL!

Pagi tadi di depan rumah, seperti ritual di hari-hari lain sebelum berangkat ke kantor, si Dani my lovely wife mencium punggung tanganku, setelah itu kukecup keningnya. Yang tidak biasa adalah ketika aku kasih bonus dengan mencium bibirnya. Kasihan dia, sampai tersipu-sipu begitu, karena adegan hot itu kami lakukan pas di depan hidung tetangga. “Ih, ayah genit, malu diliatin tetangga tuh”, protesnya. Pura-pura nggak denger protesnya, aku bilang gini: “Selamat ulang tahun pernikahan ya Bun. Biarin tetangga lihat, biarin seluruh dunia tahu betapa aku mencintai kamu”. Istriku pasang tampang mrengut, sambil bilang “halah, gomballll!”, dan tak lupa mencubit kecil lenganku, tapi dengan ekspresi seperti itu hatinya pastilah sedang berbunga-bunga.

Hari ini (20/7/2010), tujuh tahun sudah kami menikah. Wuih, nggak kerasa, tahu-tahu sudah tujuh tahun aja. Jadi ingat dulu waktu bulan-bulan awal berumah tangga (sebetulnya sampai sekarang juga masih sih), kami mesti melalui proses saling adaptasi yang tidak selalu mudah. Aku berasal dari kampung nun di pinggiran Semarang sana, Jawa tulen, bapak-ibuku petani. Sementara istriku adalah tipe cewek metropolitan, lahir besar di Jakarta, darah setengah Sunda, bapaknya orang kantoran pula. Adat dan nilai yang kami anut jelas beda. Ukuran bersih-kotor, sopan-nggak sopan nggak sama. Bahkan kebiasaan makan aja mesti dicari di mana titik temunya. Aku biasa makan makanan yang basah kuyup, banjir, lagi berkuah-kuah santan; sementara istriku yang setengah Sunda itu biasa makan yang kering kerontang lalap-lalapan. Aku dibesarkan dengan keyakinan bhw seorang istri harus mijitin suami sebagai bukti pengabdian; sementara dia dibesarkan dengan keyakinan bhw suamilah yang harus mijitin istri sebagai bukti pengayoman. Masih banyak lagi yang mesti di-adjust, dan alhamdulillah sejauh ini kami bisa melewatinya dengan baik dan benar.

Seorang teman pernah usil nanya: “Her, cantikan mana istrimu sama si Kokom?” (tau aja dia, gw ngefans berat sama cewek direktorat sebelah itu). Aku jawab diplomatis gini: “Dia cantik, istri gw juga cantik. Tapi Bro, gw pilih istri gw bukan karena cantiknya. Gw pilih dia karena gw yakin dialah yang terbaik yang Tuhan kasih buat gw”. Halah, lambemu Her, Her....

Eh, tapi ini serius. Aku selalu mencoba untuk berbaik sangka sama Allah, dalam arti aku selalu menganggap apapun yang terjadi padaku sekarang ini, yang kumiliki sekarang ini, adalah hal terbaik dari-Nya yang mesti kusyukuri. Kalau istriku bukan dia, mungkin perpaduan antara spermaku dan sel telur cewek lain yg jadi istriku tdk akan menjadi dua cowok ganteng seganteng buah hati kami: Wisanggeni dan Ontoseno.

Cewek lain mungkin tidak akan tahan punya suami jarang mandi sptku (ups!). Dia bilang gini nih kalau aku nggak mandi: “Ayah nggak mandi ya? Hmmm... bau keringat Ayah bikin Bunda horny. Bau asem, tapi menentramkan”. Oh God, I love her!

Cewek lain bakalan gagal ngatur cashflow keluarga PNS tulen dengan tingkat penghasilan hanya satu setrip di atas UMR sepertiku. Dia bilang gini nih kalau tanggung bulan saldo di BNI sudah mulai lampu kuning: “Alhamdulillah Yah, uang sekolah si Wisang, PLN, PAM, dan iuran sampah sudah kebayar semua. Mudah2an sisa gaji Ayah msh cukup sampai akhir bulan”. Oh God, I love her sooooo much!

Cewek lain mungkin bakalan uring-uringan punya suami matanya nggak kedip lihat cewek cakep nan putih lagi montok lewat. Dia bilang gini nih kalau aku ketangkap basah sedang bengong lihat cewek bohay: “Emang tuh cewek cakep banget, Yah. Alhamdulillah, Bunda dapat suami laki-laki normal”. Oh God, I can’t live without her!

Ni ntar malam, kalau anak2 dah tidur, aku mau setelin dia lagunya Marcell sambil belai-belai rambutnya and so on and so on. Mudah2an dia meleleh denger lagu itu. Gw paling suka pas syairnya gini:

Hanyalah kau yang ada di relungku. Hanyalah dirimu, mampu membuatku jatuh dan mencinta. Kau bukan hanya sekedar indah, kau tak akan tergantiiii...

Halah, gombal maneh.