Rabu, Agustus 22, 2012

Kangen SM*SH pamer sosis

Bulan Ramadhan yang telah lewat barusan adalah pengalaman kali kedua saya menjalani puasa di negeri orang. Dan seperti barangkali Anda semua telah mahfum, berpuasa di negara di mana Islam minoritas, adalah seperti puasa Senin-Kamis. Nggak ada kemeriahan orang-orang pada ngabuburit menjelang waktu berbuka; nggak ada pasar kaget di pinggir-pinggir jalan yang menjual kolak, biji salak, dan aneka kue; nggak ada infotainment berisi berita artis yang mendadak berlomba-lomba pakai baju muslimah dan ngajakin bukber anak yatim padahal di luar Ramadhan terbiasa pamer paha dan buah semangka; nggak ada dagelan-dagelan di TV menemani kita sahur, yang berusaha melucu dengan lawakan garing nan menggemaskan (gemes pengen nimpuk, maksudnya); dan last but not least, nggak ada SM*SH jualan sosis siap santap yang tinggal lhebbb! itu.

Anda tentu juga sudah mahfum, durasi puasa tidak ditentukan oleh jam, melainkan oleh pergerakan matahari. Kapan dia terbit dan kapan dia tenggelam. Nah, untuk urusan yang satu itu, hamba Allah termasuk saya yang sedang berpuasa di belahan bumi selatan, lumayan diuntungkan. Ini karena bulan Ramadhan kali ini jatuh pada musim dingin, sehingga Subuh baru jam 6 pagi dan sudah Maghrib padahal baru jam 5 sore.

Tapi, bukan hanya itu yang saya nikmati dari puasa di sini, melainkan hal-hal berikut. Pertama, puasa di sini mulainya bareng, selesainyapun bareng. Umat kompak meski berasal dari berbagai aliran dan dari berbagai negara. Orang yang di Indonesia tanah air tercinta tercerai berai karena yang ini ikut Muhammadiyah, yang itu ikut NU, yang lain ikut ormas anu, dst; yang jalan sendiri-sendiri menuruti ego masing-masing dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan; ternyata bisa juga kompak giliran puasanya di luar negeri. "Perbedaan memang adalah rahmat, tapi itu kalau terjadi negara yang beda", begitu kata Prof. Sofyan, guru agama saya di Rotterdam dulu. Maksud beliau itu mungkin begini, kalau istri Anda maunya mulai puasa ikut Muhammadiyah, sedangkan Anda ikut Pemerintah, masa iya sih yang begitu itu rahmat?

Kedua, tidak ada orang ngamuk-ngamuk, memekik takbir tapi sambil matanya mecicil dan merusak, karena melihat warung makan tetap buka siang hari. Tentang hal ini sudah pernah saya singgung di blog ini, dulu banget. Intinya, warung-warung itu semestinya memang tahu diri. Tapi, kitapun juga harus tenggang rasa pada yang karena satu dan lain hal tidak puasa. Perempuan yang sedang berhalangan, mereka yang tidak beragama Islam, atau laki-laki muslim baliq yang karena satu dan lain hal memang sedang dikasih dispensasi sama Gusti Allah untuk tidak berpuasa. La kalau mereka ngekos atau nggak sempat masak, ngegadoin Indomie mentah terus-terusan tentu bukan ide yang baik dan cerdas. Jadi kalaupun mau minta warung tutup, saya kira selalu ada cara yang elegan dan lembut untuk itu.

Ketiga, tidak ada remaja-remaja tanggung yang nabuh galon Aqua buat ngebangunin sahur bahkan ketika waktu baru menunjukkan pukul 2 dini hari. Padahal sahur saya biasanya mepet waktu subuh (kata guru ngaji saya, begitulah sesungguhnya yang disunnahkan Kanjeng Nabi: mendahulukan berbuka dan mengakhirkan sahur). Dipaksa mendengar anak-anak muda tanggung itu bikin huru hara jam 2 pagi, sementara jam 1 malem saya baru tidur karena ada saja kerjaan yang mesti dilembur, adalah sungguh rutinitas yang bagi saya kurang menyenangkan. Kalau mau ngebangunin sahur itu mbok ya entar-entar dikit, jam 3-an atau berapa gitu.

Keempat, tidak ada pejabat publik yang mencoba memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, agar di pemilu nanti dipilih rakyat. Tiba-tiba rajin safari Ramadhan, sahur bersama, pengajian, buka bersama, tarawih bersama, dan bagi-bagi sedekah (pakai duit APBD dan dana hibah bukan?); padahal dulu selama 4 tahun kita nggak tau dia kemana dan ngapain aja. Khusus untuk Ramadhan tahun ini, dari yang saya baca, di media-media online, ceramah sholat Jumat atau tarawih, dibanyak lokasi berubah menjadi ajang kampanye untuk mengajak memilih calon yang ini dan jangan memilih calon yang itu.

“Pilihlah Foke-Nara, atau Anda adalah golongan orang-orang kafir”. Widih, ancamannya serem bener. 

Sekali lagi, terlepas dari rindu saya yang membara pada anak-istri, saya merasa beruntung berpuasa jauh dari Jakarta. Kalaupun ada yang bikin saya rugi, itu adalah karena sepanjang Ramadhan kali ini saya tidak bisa menyaksikan SM*SH boyband idola kita semua nyanyi doa puasa pas waktu imsak di SCTV.

Taqoballahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri 1433H, mohon maaf lahir dan batin.