Kamis, Desember 29, 2011

Macet itu indah, maka nikmatilah*

Tidak ada apapun di dunia ini yang diciptakan Tuhan untuk menjadi sia-sia. Itu bukan kata saya. Itu adalah kata Edi Santoso, teman kuliah saya di Komunikasi Undip dulu yang kini menjadi calon profesor di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto.

Nyamuk, misalnya. Ia diciptakan oleh Tuhan untuk menjaga keseimbangan ekosistem global. Beberapa spesies binatang maupun tumbuhan, seperti cicak, katak, kelelawar, dan kantong semar  memerlukan nyamuk atau larvanya untuk mempertahankan eksistensi mereka. Belatung adalah spesies penghancur bagi organisme yang telah mati. Bisakah Anda bayangkan, seberapa luas kuburan dibutuhkan untuk menampung miliaran manusia yang telah meninggal sejak peradaban manusia muncul sekian ribu tahun yang lalu hingga sekarang, jika mayat-mayat itu tetap utuh.

Contoh lain, Andika Kangen Band. Ia mungkin diciptakan oleh Tuhan untuk membuat kita optimis bahwa tampang ala kadarnya bukanlah halangan untuk tetap berkarya.

Pun macet yang hari demi hari kian membuat hidup di Jakarta bagaikan di surga. Kadang saya berpikir, betapa Bang Foke adalah gubernur dengan visi masa depan yang sangat brilian. Saya percaya, macet dan banjir Jakarta sesungguhnya adalah bagian dari visi itu. Tujuannya adalah untuk mengerem laju urbanisasi penduduk menuju Ibu Kota tercinta.

Dengan upaya sangat keras si abang dan jajarannya untuk menjadikan Jakarta tambah macet dan banjir saja, menurut data BPS DKI, laju pertumbuhan penduduk tahun 2000-2010 mencapai 1,40 persen per tahun yang sebagian besar disumbang oleh urbanisasi manusia dari kampung yang mengadu nasib ke Jakarta. Bayangkan kalau Bang Foke diam saja, dan jalan-jalan Jakarta dibiarkan lancar dan bebas banjir, pasti urbanisasi ke Jakarta bakalan makin menggila.

Makanya, daripada stres mikirin macet Jakarta, saya mengajak Anda untuk mencoba mengambil pelajaran dan memetik hikmah dari padanya. Menurut saya, setidaknya ada empat hikmah yang bisa kita peroleh dari macetnya Jakarta.

Pertama, melatih kesabaran. Macet adalah laboratorium sempurna untuk kita belajar sabar. Kota Harapan Indah - Menteng yang kalau nggak macet paling mentok hanya butuh 40 menit, dengan macet level 7 saja maka akan dibutuhkan setidaknya 1 jam 10 menit pakai motor, dan 2 jam pakai mobil. Kesabaran kita diuji di situ, dan bukankah innallaha ma’ashobirin (sesungguhnya, Allah menyukai orang yang sabar).

Kedua, belajar memaafkan. Kita hanya mungkin memaafkan hanya jika ada orang berbuat salah kepada kita. Setuju? Nah, di tengah kemacetan parah atau lalu lintas yang padat merayap, orang berbuat kesalahan akan sangat mudah kita jumpai. Banyak, tidak hanya ada. Paling sering adalah biker ngawur yang menyalip nggunting habis itu ngerem mendadak, atau biker dodol yang menyangka bahwa spakbor belakang atau knalpot motor kita adalah alat untuk menghentikan laju kendaraan dia. Belajarlah untuk memandang dia dengan senyum, maafkanlah kesalahannya. Ingatlah bahwa dia juga punya anak-anak yang lucu-lucu di rumah, berbaik sangkalah bahwa mungkin dia sedang kebelet beol dan kadung sudah kentut basah di celana.

Ketiga, indahnya berbagi. Uztad Yusuf Mansur dan Ustadz Maulana jamaah oh jamaah selalu berpesan kepada kita untuk jangan enggan berbagi. Berbagi itu tidak hanya uang. Bisa saja sebidang jalan ukuran 2 x 1 meter yang disamping motor kita, juga diisi oleh 10 motor yang lain. Adalah rejeki kita jika ternyata di depan kita ada cewek bohay yang membonceng motor dengan tipe boncengan yang rada nungging gitu (mudah-mudahan Anda bisa membayangkan). Jadi ada pemendangan gratis. Lagian, bukankah jalanan yang lega, sepi lagi lengang, cenderung membuat kita ngebut dan kurang hati-hati. Kecelakaan fatal hanya mungkin terjadi di jalanan yang kendaraan-kendaraannya bisa dipacu kenceng. Kalau di tengah kemacetan yang motor hanya bisa dipacu 5 km/hari paling-paling spakbor somplak atau kaki keinjak. Tidak mungkin fatal.

Keempat, memacu kreativitas. Jalanan yang lancar tanpa hambatan hanya akan membuat kita manja dan pada akhirnya membuat perjalanan kita monoton begitu-begitu saja. Dengan macet, otak kita akan bekerja dinamis yang pada gilirannya kreativitaspun muncul. Misalnya, jika Anda adalah biker, dan di depan, kanan, dan kiri Anda penuh dengan mobil. Kreativitas Anda akan terpacu untuk mencari jalan keluar yang sebaik-baiknya. Naik trotoar, melawan arus, melompat got, memanggul motor (kalau Anda kuat) adalah bagian dari kreatvitas yang hanya akan muncul di tengah kemacetan.

Jadi, Saudara-saudaraku, macet itu indah. Percayalah. Terima kasih, Bang Foke, sungguh Anda adalah idola saya.

*Ditulis jam 5 sore, sehabis hujan, sambil bersiap menikmati lalu lintas Menteng-Kota Harapan Indah yang pastilah amboi so sweetnya.

Senin, Agustus 22, 2011

Ketika pajak dianggap upeti

Pada dasarnya, saya bukan orang yang suka sebel berlama-lama. Jika ada masalah yang bikin saya mangkel, terus saya pakai tidur, ntar ketika bangun, pikiran saya sudah ringan kembali. Tapi entah sayanya yang lagi sensi, atau kasusnya memang kelewatan, kok peristiwa saya dizolimi ketika memperpanjang STNK di Samsat Jakarta Timur Sabtu (20/8) kemaren lusa masih bikin saya mangkel berkepanjangan. 

Maka, untuk sedikit membantu mengurangi perasaaan mangkel itu, saya ingin ngomongin tentang pajak lagi, tentu dengan analisis yang ala kadarnya, secara saya seumur-umur juga ndak pernah belajar tentang pajak. Gayus Tambunan jelas bukan lawan seimbang buat saya untuk topik yang satu ini. 


Jadi begini. Di jaman kerajaan dulu, ada upeti. Di jaman republik seperti sekarang ini, ada pajak. Meski sekilas terlihat serupa, sama-sama menyetorkan uang atau harta benda kepada negara, secara filosofis antara upeti dan pajak adalah dua hal yang teramat berbeda.

Upeti adalah simbol kesetiaan dan pengakuan kekuasaan sang raja. Tidak membayar upeti berarti membangkang, dan raja akan menumpasnya dengan kekuatan senjata dan prajurit segelar sepapan. Oleh karena itu, upeti lebih sering dibayarkan dengan terpaksa dan dilandasi rasa takut meski di depan raja tentu mereka harus berpura-pura menghaturkan dengan suka cita. Pembayar upeti menyerahkan upeti itu sambil menyembah takzim, dan sang raja menerima upeti sambil berkacak pinggang jumawa.

Upeti yang terkumpul adalah milik raja sepenuhnya, dan oleh karenanya, adalah suka-suka dia mau dipakai buat apa. Raja yang bijak akan memakainya untuk mensejahterakan kawula, dan raja yang lalim akan memakainya untuk kesenangan pribadinya. Memelihara ratusan selir, membangun istana semegah-megahnya, berpesta tiap saat, makan yang enak-enak sampai muntah, mengupah hulubalang tentara dan membeli senjata agar rakyat semakin takut kepadanya, dan lain sebagainya.

Pajak, di sisi lain, dibayar oleh rakyat sebagai pemilik sah negara dengan filosofi bahwa “hidup bermasyarakat butuh biaya”. Rakyat perlu urunan untuk menggaji para karyawannya. Dan yang namanya karyawan rakyat itu aduhai banyak jumlahnya, mulai presiden, anggota parlemen, guru, hingga penjaga mercusuar di pantai pulau-pulau terluar. Perlu menggaji tentara dan beli bedil untuk melindungi kedaulatan negara. Perlu mengupah polisi untuk menjaga ketertiban dan menciptakan rasa aman. Butuh membangun bendungan untuk mengairi sawah dan mencegah banjir. Dan seterusnya.

Pajak yang terkumpul tetaplah milik rakyat, dan harus digunakan untuk kepentingan rakyat. Bukan untuk dipakai jalan-jalan keluar negeri dengan bungkus studi banding, bukan pula untuk perjalanan dinas yang outputnya tidak jelas, atau untuk membeli motor voorijder pengawal mobil pejabat yang hanya mau lancar buat diri sendiri sementara jalanan sedang macet berat.

Maka, rakyat yang membayar pajak seharusnya dibayangkan seperti majikan yang sedang memberi upah kepada pekerjanya. Warganegara membayar pajak dengan perasaan superior, dan aparat pajak menyambut duit pajak dengan senyum ramah dan rasa terima kasih.

Tapi di negara tempat para preman bisa bebas berbuat anarkhi berkedok membela agama bernama Indonesia ini, semuanya memang serba kebalik-balik. Bayar pajak dibikin sulit, kesannya justru rakyatlah yang butuh. Sebaliknya, petugas pajak, orang-orang yang diupah negara untuk mengumpulkan uang urunan rakyat itu, acapkali malah berlaku seperti raja yang menerima upeti.

Jangankan ucapan terima kasih, senyum saja sepertinya tidak merasa perlu.

Minggu, Agustus 21, 2011

Membayar pajak dengan derita


Hanya terjadi di Indonesia, buronan kasus korupsi dijemput pulang dengan pesawat super mewah, sedangkan warganegara yang baik dibikin sengsara ketika membayar pajak.

Anda pasti langsung bisa menebak, siapa buronan yang diperlakukan istimewa itu. Tak lain dan tak bukan
, dialah Mas Nazaruddin. Dan, siapakah gerangan warganegara yang (mencoba) baik, yang merasa teraniaya padahal sedang menyumbang negara tadi? Orang itu adalah saya. Heriyadi alias Heri Sagiman.

Tanggal 24 Agustus nanti, motor Honda Vario merah andalan keluarga akan berulang tahun. Itu artinya, sebagai PNS yang pada HUT RI kemarin telah menerima Satyalencana Karya Satya untuk pengabdian tak kenal lelah selama 10 tahun kepada Negara
, dan mengemban tugas mulia sesuai Pancaprasetya Korpri untuk menjadi contoh bagaimana menjadi orang bijak yang taat pajak, saya mesti ngapel ke Kantor Samsat Jakarta Timur untuk perpanjangan STNK.

Pelayanan di Kantor Samsat Jakarta Timur pernah saya puji di blog ini, yakni ketika saya membandingkannya dengan sistem antrian barbar ala RS Persahabatan. Tahun 2008, kantor ini telah mengadopsi mesin antri yang tinggal pencet terus keluar nomornya. Kemudian, ada tivi 32 inchi yang menayangkan nomor antrian berapa yang sedang dilayani, berikut speaker untuk memanggil pengantri dengan menggunakan rekaman suara perempuan yang lembut mendayu, selaras dengan nomor yang ada di display tadi.


Tapi setelah 3 tahun berlalu, bukannya meningkat, pelayanan di kantor samsat itu justru bikin saya patah hati. Semboyan bahwa "hari ini harus lebih baik dari hari kemarin" hanyalah teori. Meski jelas-jelas parkir di Samsat aturannya gratis, prakteknya tidaklah demikian. Para pengunjung dikasih kartu tanda parkir satu-satu. Dan, ketika semua sdh selesai, di pintu keluar, petugas telah stanby bersiap meminta kembali kartu itu sambil  di tangan kirinya tergenggam segepok duit ribuan seperti kernet metromini. Kita orang Indonesia, yg sejak kecil sudah diajari untuk membaca gelagat, pasti tau apa maksud petugas parkir itu menggenggam duit begitu.

Antrian di loket. Mesin yang dipencet, kemudian keluar nomor antrian memang masih ada, masih berfungsi, dan masih difungsikan. Tapi, nggak jelas apa maksudnya, pas mengumpulkan berkas, mengambil notice, dan membayar di kasir, wajib pajak dipanggilnya bukan satu demi satu. Sekali panggil langsung 25 orang. Walhasil, yang terjadi selanjutnya adalah tumpukan manusia di depan loket, saling sikut dan saling gencet.

Dan, ketika tiba saatnya membayar, uang wajib pajak diminta paksa dan praktik kotor itu berlangsung telanjang di depan mata. Dalam kasus saya Sabtu (20/8) pagi kemarin, di notice tertera jumlah yang harus saya bayar adalah 238 ribu. Ketika saya sodorkan pecahan seratus ribuan 3 lembar, kembalian yang saya terima hanya 60 ribu. Ekspresi bapak-bapak petugas di balik loket itu terlihat lempeng. Tidak ada senyum, tidak ada penjelasan apa-apa, tidak ada kata-kata seperti, "maaf, kami kehabisan  uang pecahan 2 ribuan" atau "terima kasih telah mengikhlaskan 2 ribu Anda". Wajah Bapak itu sangatlah kalemnya, seolah memalak orang adalah hal biasa.

Ketika saya duduk kembali untuk menunggu STNK siap di loket berikutnya, saya curhat ke Om Om di sebelah saya. Dari cara bicara dan berpakaian, Om ini saya duga adalah pensiunan PNS kelas menengah. Dan tahukah Anda, kasus yang sama rupanya juga menimpanya. "You masih mending, cuma 2 ribu. Saya 13 ribu!". Anda tidak salah baca, kata si Om itu, dia memang dipalak tigabelas ribu rupiah. Ceritanya, yang semestinya dibayar adalah 237 ribu, dan ketika dia sodorkan 3 lembar uang ratusan, kembalian yang dia terima hanya 50 ribu. "Biarin saja, Dik, saya malu ribut-ribut di depan banyak orang", kata si Om tadi ketika saya tanya kenapa nggak protes. Ah, rupanya alasan yang sama dengan alasan saya. Sekali lagi, hanya terjadi di Indonesia, ada tukang palak yang pede beraksi di hadapan banyak orang, sementara korbannya malah yang malu berpanjang-panjang urusan.

Waduh. Saya hanya bisa membayangkan, jika sehari ada seribu wajib pajak yang dipalak paksa 2 ribu perak saja, uang hasil jarahan itu sudah akan terkumpul dua juta.

Itulah mengapa saya duga, meski teknologinya sudah ada, Samsat enggan menggunakan mesin gesek kartu debet atau kartu kredit. Uang jarahan 2 atau 3 ribu perkepala dari ribuan wajib pajak perhari terlalu aduhai untuk dihentikan begitu saja.

Gimana nih, Jenderal Timur Pradopo? Kok kelakuan anak buah Anda masih begini-begini saja.

Jumat, Agustus 19, 2011

Khotbah yang menyakiti

Anda yang muslim dan saya, harus meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar di sisi Tuhan. Di Al Qur’an ada ayatnya. Dus, itu firman Allah dan kita dilarang untuk mengingkarinya. Tapi menurut saya, ayat itu sama sekali bukan justifikasi untuk di pagi-pagi buta habis sholat Subuh, Anda ceramah menjelek-jelekkan agama lain memakai pengeras suara masjid yang jelas didengar oleh seisi kampung.

Saudara-saudara kita yang beragama Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan lainnya pasti punya keyakinan yang sama terhadap agama mereka masing-masing. Maka, perdebatan mengenai keyakinan jelas akan berujung sia-sia. Mengutip ayat itu sambil menjelek-jelekan agama yang berbeda dan didengar jelas oleh para pemeluknya adalah seperti menyanyi lagu Balonku Ada Lima di saat mengheningkan cipta. Tidak ada yang salah dengan ayat itu. Cuma, kesempatan, waktu, dan penggunaannya yang seharusnya lebih bijaksana. Percayalah, seorang pemeluk Katholik tidak akan tiba-tiba menjadi muslim hanya dengan mendengar ceramah ustadz bahwa selama ini mereka memeluk agama yang salah.

Islam seharusnya disebarkan dengan cara yang damai, bukan dengan menebarkan kebencian. Sejarah membuktikan, jazirah Arab menjadi pengikut Muhammad karena kagum akan keluhuran budi dan suri teladan sang Nabi. Tanah Jawa menjadi mayoritas muslim karena syiar toleran para Wali. Bukan melalui perang. Bukan melalui kekerasan.

With great power, comes great responsibility. Kekuatan yang besar selalu diikuti oleh tanggung jawab yang juga besar. Islam di Indonesia adalah mayoritas, dan oleh karenanya menjadi yang terkuat. Adalah tanggung jawab kita untuk melindungi yang minoritas, bukan malah menindas. Menebarkan kasih, alih-alih kebencian. Dan bersikap santun, bukan malah arogan. Dengan begitu, kita akan dihormati, dan bukan ditakuti. Saya kira Andapun mahfum, hormat dan takut adalah sangat berbeda. Penghormatan didasari oleh ketulusan dan rasa segan, sedangkan ketakutan landasannya adalah kebencian dan dendam.

Seminggu lalu, ratusan orang anggota FPI mengobrak-abrik warung makan yang tetap buka siang hari di Makassar. Beberapa hari kemudian, massa dari organisasi yang sama menyerbu warung di Cianjur. Yang dijadikan dalih sama, warung-warung makan itu tidak menghormati orang yang sedang berpuasa. Saudara-saudaraku FPI, sejak kapan penghormatan bisa didapat melalui ancaman?

Kita memang sedang berpuasa, tidak boleh makan dan tidak boleh minum. Tapi apa hak kita memaksa orang lain untuk juga ikut merasakan lapar. Selalu ada orang yang tidak sedang berpuasa. Saudara-saudara kita pemeluk agama lain, muslimah yang sedang berhalangan, laki-laki muslim yang karena keadaan diijinkan oleh Allah untuk tidak berpuasa, dan lain sebagainya. Maka, sebaiknya juga tidak perlu ada hukum yang melarang orang buka kedai nasi di bulan Ramadhan. Orang-orang itu disuruh makan apa coba, kalau mereka kebetulan tidak masak sendiri atau berstatus sebagai anak kos. Makan Indomie rebus terus-terusan jelas berbahaya bagi kesehatan.

Menurut saya, tebal tipisnya iman seseorang bisa diukur dari seberapa tahan orang itu menghadapi godaan. Jika Anda laki-laki normal, kemudian Anda terdampar di sebuah pulau terpencil, sendirian. Setelah sekian lama, Anda tidak tergoda untuk berzina, maka terlalu tergesa-gesa untuk menyimpulkan bahwa iman Anda setebal tembok raksasa di China. Ya terang saja tidak tergoda, wong godaan itu memang tidak ada.

Lain soal jika Anda berada di kamar sebuah hotel, lalu masuklah Kim Kardashian pakai lingerie yang tipis dan menerawang, menari erotis di hadapan Anda untuk kemudian mengajak bercinta. Jika terhadap ajakan gurih dan asoy itu Anda bisa menolaknya, barulah saya akan memberi tepuk tangan yang keras untuk Anda.

Untuk ketahanan terhadap godaan yang makin besar, Tuhan menjanjikan pahala yang lebih besar pula. Itu kata almarhum Embah Kakung saya. Maka, memaksa warung-warung untuk tutup di bulan Ramadhan, sama artinya Anda tidak pede dengan tebalnya iman Anda dan menghilangkan peluang untuk mendapatkan lebih banyak pahala.

Selamat menunaikan ibadah puasa. Mudah-mudahan ibadah yang sedang kita jalankan ini menjadikan kita pribadi yang lebih santun dan toleran. Amin.

Minggu, Juli 31, 2011

Beribadah dengan menyebabkan derita


"Islam adalah rahmatan lil alamin. Rahmat bagi alam seisinya, termasuk bagi tumbuh-tumbuhan, anjing kurap, binatang berbisa, apalagi sesama manusia. Jadi, jika Anda mengaku diri muslim, lalu Anda beribadah dengan membuat orang lain menderita, percayalah, ada yang salah dengan cara Anda memahahami agama Anda".

Nabi Sulaiman adalah rasul favorit saya, simply karena sebagai laki-laki normal, saya mendambakan semua yang ada padanya. Seorang raja diraja yang tentu sangat berkuasa. Kekayaan? Bill Gates, apalagi Aburizal Bakrie, jelas bukan tandingannya. Punya istri seribu, cantik-cantik belaka dan mulus semua, bisa digilir kapan saja. Dan ketika ajal tiba, prosesnya begitu mudah tanpa rasa sakit. Dia mati dalam keadaan berdiri, yang bahkan ajudan setianya saja baru ngeh setelah tongkat yang menyangga jenasah Sulaiman lapuk dimakan rayap. Sori, dulu saya lupa bertanya kepada guru agama saya, kenapa itu bisa terjadi. Bukankah normalnya mikroorganisme penghancur jenasah bekerja jauh lebih cepat daripada rayap pemakan tongkat?

Enak bener jadi nabi Sulaiman. Hidup bergelimang harta, tahta, wanita, dan mati masuk surga.

Makanya, kalau pas ulang tahun terus ada teman mendoakan begini, ”Selamat ya Her, mudah-mudahan panjang umur, sehat, dan makin disayang sama Allah”, saya selalu minta tambahan doa. Iya, terima kasih. Tapi, doakan juga ya, Allah menyayangi saya secara Sulaiman. Bukan seperti Nabi Ayub yang disayang dengan kemiskinan, kelaparan, dan penyakit. Kalau Ayub mah tahan-tahan saja disayang dengan cara begitu. Dasarnya rasul, dia bahkan meminta tetap dibuat miskin semata-mata karena takut jika harta malah akan menjauhkannya dari Allah. Ayub justru bahagia dalam kemiskinan. Kalau saya? Jangan dong, pliiisss....

Satu lagi anugerah buat Sulaiman yang bikin saya mimpi jadi dia adalah kemampuan memahami bahasa binatang. Alkisah, Sulaiman sedang memimpin satu batalyon tentara untuk meninjau wilayah kekuasaannya. Di tengah jalan, tiba-tiba dia memberi aba-aba untuk berhenti, hening sejenak, dan kemudian jatuh perintah untuk meneruskan perjalanan dengan sedikit berbelok. Rupanya di jalan yang semula akan dilalui pasukan, ada lubang semut, dan Sulaiman mendengar semut-semut di situ berteriak heisteris karena takut terinjang-injak.

Nah, Ibu dan Bapak sekalian, dengan pembukaan ngalor ngidul sepanjang ini tadi, sesungguhnya saya hanya ingin membahas insiden Nabi Sulaiman vs semut. Pesan moral dari kisah ini menurut saya adalah, bahkan kepada semut, binatang kecil yang sering kita anggap tidak ada artinya, Islam seharusnya menjadi penebar rahmat.

Dalam satu kesempatan, Kanjengan Nabi Muhammad bersabda, “Tidak dianggap sebagai orang beriman, apabila kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara para tetangga kamu kelaparan di samping kamu”. Buat saya, hadits ini kira-kira bisa dibaca begini. Meskipun sholat kenceng, puasa polpolan, tahajud tiap malem, Anda bukanlah muslim yang baik jika Anda cuek dengan sesama. Dalam Islam yang saya yakini, hubungan dengan Allah memang penting, tapi hubungan dengan manusia juga tak kalah penting.

Bahkan tidak peduli saja dilarang, apalagi jika bikin orang lain sengsara. Maka, membaca berita di detikcom tadi malam ada tabligh akbar oleh gabungan beberapa ormas dengan menutup jalan raya, saya jadi bertanya, seandainya Kanjeng Nabi masih ada, beliau bakalan hepi ataukah murka.

Tabligh akbar, di tengah jalan raya yang tidak ada apa-apapun sudah langganan macet, dan membuat ribuan kendaraan terkunci 5 jam, saya segera membayangkan ribuan orang yang hanya bisa meneriakkan sumpah serapah atau hanya bisa pasrah. Ada ibu hamil yang sudah pecah ketuban yang harus segera melahirkan, pasien stroke yang butuh pertolongan segera, orang tua yang sudah sangat ditunggu-tunggu dengan cemas oleh anak-anaknya, dan calon penumpang pesawat yang butuh segera sampai di bandara. Mana yang lebih berat timbangannya, pahala dari mereka berzikir, ataukah dosa dari mereka menyengsarakan ribuan orang?

Minggu, Juli 17, 2011

Ucapan terima kasih yang berbeda makna

Kamis, 14 Juli 2011, saya naik Garuda dengan nomor penerbangan GA186 dari Jakarta menuju Medan. Pas mendarat di Polonia, setelah penumpang dibuat emosi karena check in-nya lama bener, ruang tunggu di pindah2 spt penumpang metromini 49 Pulogadung-Manggarai, setelah delay lebih dari satu jam, pramugara seperti biasa mengucapkan sambutan perpisahan:

"... bla, bla, bla; thank you for flying WITH Garuda Indonesia".

* * *

Sabtu, 16 Juli 2011, kembali saya naik Garuda, kali ini dengan nomor penerbangan GA185 dari Medan tujuan Jakarta. Pas mendarat di Soekarno-Hatta, pramugari --juga seperti biasa-- mengucapkan sambutan perpisahan:

"... bla, bla, bla; thank you for flying Garuda Indonesia". Tanpa with.

* * *

Loh, kok beda-beda? Dulu, waktu pertama kali naik Garuda, salam perpisahan adalah spt yang ke-2, yang tanpa with itu. Kata seorang kolega senior di Bappenas yang belajar bahasa Inggris belasan tahun di Amerika, dus bahasa Inggrisnya sudah pasti bagusnya, secara gramatikal tidak ada yang salah dari keduanya. Hanya, maknanya jauh berbeda.


Flying with Garuda berarti "terbang bersama Garuda".

Sedangkan, flying Garuda berarti "menerbangkan Garuda", dengan filosofi yang lebih humble. Dengan itu, mereka seolah mengatakan,"Para penumpang sekalian, terima kasih telah menerbangkan Garuda. Tanpa Anda, kami tidak akan bisa terbang". Anda adalah raja dan ratu, kami adalah pelayan Anda. Andalah yang sejatinya menerbangkan Garuda, bukan kami.

Jadi, mana menurut Anda yang lebih enak dirasakan? Saya kok lebih merasa nyaman dengan yang ke-2 meski, sekali lagi, tidak ada yang salah dengan yang pertama. Rasanya tuh lebih dihargai, diterima, dan diuwongke. Dan, dalam pergaulan di masyarakat, adakah perasaan yang lebih menyenangkan dari ketiga perasaan itu?

Perkara para penumpang yang disanjung-sanjung itu kemudian ternyata adalah penumpang katrok dan berperilaku ndeso, ah itu hal yang lain lagi. Katrok yang saya maksud adalah tidak sabaran menyalakan hape bahkan sebelum pesawat masih kencang melaju di darat setelah landing. Pengumuman sudah jelas, dalam dua bahasa pula, sehingga mustahil orang tidak paham, "jangan dulu menyalakan telepon genggam Anda sebelum sampai di ruang kedatangan!". Apa harus juga pakai bahasa daerah ya, biar pada ngerti semua maskudnya? Misalnya gini, "Hapemu ki mbok ojo kok uripke sik to, Su!".


Hapenya pun mahal-mahal keluaran terbaru, baju yang dipakai bermerek, parfumnya juga mahal, pemiliknya pastilah dari kelas sosial tinggi, pendidikan juga minimal sarjana. Tapi apa boleh buat, di sini, di negara yang hipertensi diyakini sembuh dengan sate kambing dan gulai jerohan sapi ini, tingginya pendidikan dan kelas sosial memang tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesantunan berperilaku.


Ah, malah jadi ngelantur.

Sabtu, Juli 16, 2011

Ajaran sesat lagu anak-anak

Ontoseno, anak saya yang ragil (bungsu) bulan Juli ini sudah akan memasuki usia 3 tahun. Anak itu makin getol belajar menyanyi. Tidak seperti kakaknya yang dulu hobi lagu-lagu dewasa (bayangkan, anak umur 3 tahun apal di luar kepala lagu Teman Tapi Mesra-nya duo Ratu dan Kenangan Terindah-nya Samsons dan malah nangis kejer kalau disetelin Libur Tlah Tiba-nya Tasya), si Ontoseno lebih menyukai lagu anak-anak sesuai perkembangan usianya. Dia sudah hafal Cicak-cicak di dinding, Satu satu aku sayang Ibu, dan Balonku ada lima, meski dengan suara yang masih kurang pas nada-nadanya dan pelafalan syair yang masih perlu terus dibenahi.

Yang membuat saya rada gamang, kalau kita perhatikan dengan seksama, lagu anak-anak abadi yang dulu juga sering kita nyanyikan itu, syair-syairnya banyak yang salah, menyesatkan, dan ngajari nggak bener. Berikut ini adalah contohnya.

1. Pelangi pelangi. Coba kita simak penggalan syairnya berikut ini:Pelangi pelangi, alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru, pelukismu agung siapa gerangan, pelangi pelangi ciptaan Tuhan.

Lagu ini menyesatkan setidaknya dalam tiga hal. Pertama, pada bagian "merah kuning hijau di langit yang biru". Warna pelangi, tidak di Jakarta tidak di Jombang, itu ada 7 yang biasa disingkat me-ji-ku hi-bi-ni-u. Dus, tidak hanya merah, kuning, dan hijau. Merah kuning hijau adalah warna traffic light atau lampu lalu lintas.

Kedua, jika kita mengingat pelajaran IPA pas SD dulu, pelangi terbentuk dari sinar matahari yang dibiaskan oleh awan di atmosfer. Maka, pelangi hanya terjadi dalam keadaan langit berawan. Tidak mungkin "...di langit yang biru". Harusnya, di langit yang putih, kelabu, atau kehitam-hitaman, tergantung warna awannya (mohon lihat contoh foto di atas).

Ketiga, lagu ini sadar atau tidak, mendidik anak-anak untuk tidak menghargai hak cipta. Sudah jelas lagu pelangi-pelangi adalah ciptaan AT. Mahmud, la kok dibilang ciptaan Tuhan. Kalau mau dirunut-runut sih, semua memang ciptaan Tuhan. Mungkin karena lagu ini, sekarang kita jadi suka menggunakan produk bajakan.

2. Menanam jagung. Lagu ini sepertinya diciptakan oleh orang yang seumur-umur tidak pernah menanam jagung. Coba simak penggalan syair berikut: "...cangkul, cangkul, cangkul yang dalam; menanam jagung dikebun kita". Di mana-mana, cara menanam jagung yang benar adalah dengan membuat lubang di tanah sedalam maksimal 7 cm menggunakan kayu berdiameter tak lebih dari genggaman tangan yang diruncingi ujungnya spt pensil. Satu sampai 3 butir jagung dimasukkan ke situ, habis itu ditutup dengan tanah agar si biji aman tidak dipatok ayam. Jadi, nggak perlu susah-susah pakai cangkul apalagi menggali tanah dalam-dalam. Emangnya mau bikin sumur?

Lalu, ada bagian yang berbunyi: "beri pupuk supaya subur,.. Subur daunnya, lebat buahnya,.." Hal ini semakin jelas menunjukkan bahwa si pengarang tidak survei dulu ke lapangan sebelum menulis lagu. Selebat apapun pohonnya, yang namanya jagung, buahnya hanya akan ada satu (atau maksimal 2 pada varietas baru). Jadi, mau pupuknya setruk, buahnya tetap tidak akan lebat menuh-menuhin pohon seperti rambutan atau mangga.

3. Naik kereta api. Boleh jadi, lagu inilah yang jadi sebab kenapa KRL di Jabodetabek dan kereta jarak jauh seperti Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Semarang dipenuhi penumpang gelap. Syairnya sungguh provokatif dan merugikan PT KAI: “ke Bandung, Surabaya; bolehlah naik dengan percuma (alias gratis)”. La wong naik kereta api kok gratisan lo, emange sepure Mbahmu po? (memang ini kereta api moyang Loe?)

4. Desaku. Syair lengkapnya: Desaku yang kucinta, pujaan hatiku, tempat ayah dan bunda, dan handai tolanku. Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan, desaku yang permai.

Lagu ini tidak tepat diklaim sebagai lagu anak-anak. Merindukan sesuatu itu artinya si penutur sedang berada di suatu tempat untuk waktu yang lama. Susah saya membayangkan, bagaimana seorang anak kecil hidup sendirian di luar kota, jauh dari ayah, bunda, dan handai taulan. Tega benar sih, ayah dan bundanya. Mereka enak-enakan tinggal di desa yang permai, sementara si anak yang masih sangat belia disuruh merantau ke kota.

Begitulah tulisan ngawur ini. Sebagian di antara ulasan di atas--terutama untuk menanam jagung dan naik kereta api--sesungguhnya sudah lama ada dan oleh karenanya saya tdk berpretensi utk mengklaim itu sebagai ide saya. Tapi memang bukan itu intinya. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk lain kali lebih berhati-hati dalam menulis lagu, terutama lagu anak-anak, karena boleh jadi itu akan sedikit banyak membentuk karakter generasi bangsa ini di masa yang akan datang (halah, opooo...?).

Rabu, Juni 15, 2011

Pemarah yang penakut

"Kalau hanya tersedia  dua pilihan: jadi perokok pasif untuk 20 menit atau muka saya bonyok ditonjok orang, tentu saya pilih yang pertama saja".
 
Banyak teman yang bilang, saya ini orang yang nggak bisa marah. "Kamu itu kok sabaaaar banget to, Mas," kata Yuni dan Alin, tetangga sebelah kamar saya di Rotterdam. "Aku paling nggak bisa ngebayangin gimana tampang Heri kalau ngamuk. Habis, diapa-apain diem aja," kata Pak Haryo, kolega senior seruangan di Bappenas. Di mata mereka, saya ini penyabar to the max.  

Tapi, tahukah Anda, saya sebetulnya tidak semulia itu. Saya adalah orang yang sesungguhnya sangat mudah dibuat geram bahkan oleh sesuatu yang barangkali menurut Anda sepele.

Saya, misalnya, sangat bisa menjadi geram hanya karena pas ngantri panjang isi bensin motor Honda Vario andalan di SPBU terus motor di depan saya dibiarkan menyala oleh pemiliknya. Apalagi kalau motor itu suaranya berisik di kuping, asapnya mengepul bikin pedes mata dan bikin eneg kalau sudah kesedot hidung. Setiap kali motor di ujung sana kelar dilayani dan antrian bergerak sejengkal, motor di depanku itu geser juga sejengkal dengan gas ditarik sedikit, begitu seterusnya. Sering saya membatin, orang kok males bener, sampai geser motor di lintasan datar sejengkal saja--yang butuh energi pasti tidak sampai 1 kilo kalori--ogah pakai tenaga sendiri.

Kalau ditegur, mungkin biker itu akan bilang gini. "Ini motor, motor gue. Bensin juga gue sendiri yang bayar, kagak minta dibeliin sama moyang loe. Terserah gue dong ni motor mau gue nyalain kapan aja." Persis seperti stiker yang nempel di spakbor di bawah pelat nomor, motor aing kumaha aing (bahasa Sunda, katanya sih artinya kira-kira: motor gue, suka-suka gue dong).

Saya juga mudah sekali sebel sama tamu hotel yang karena merasa sudah bayar, terus sewenang-wenang jor-joran make air, listrik, tivi, dan nyalain AC bahkan ketika kamar ditinggal keluar seharian. "Biarin, terserah gue, toh sudah gue bayar," adalah justifikasi egois paling konyol yang pernah saya dengar.

Ini adalah khas pikiran orang-orang egois yang pusat dunia terletak di "saya". Pengetahuan bahwa dengan memboroskan listrik sama dengan mubazirin bahan bakar fosil, nyalain AC padahal ruangan dibiarkan kosong berarti menzalimi lapisan ozon, menyalakan motor pada saat mengisi BBM adalah menyumbang polusi; sepertinya harus puas hanya menjadi pengetahuan yang jauh dari diamalkan.

Saya juga mudah sekali tersulut emosi ketika menemukan orang, entah penumpang, kernet, atau malah sopirnya sendiri, yang merokok di dalam angkutan umum sembari menebar racun ke seluruh penumpang. Buat orang-orang macam ini, teori bahwa merokok sejatinya adalah aktivitas sosial dan bukan aktivitas individu tentulah tidak pernah terlintas di benak mereka.

Saya selalu berada dalam dilema menghadapi perokok dalam angkutan umum model begini. Mau turun saja, saya sudah kadung bayar ongkos. Mau didiemin, tersiksa. Cilakanya, mau negur, saya juga selalu tak punya cukup nyali. Ini karena trauma masa lalu yang hingga kini masih terus menghantui. Syahdan, saya pernah negur orang yang merokok di dalam metromini 49 jurusan Manggarai-Pulo Gadung. Bukannya minta maaf, saya malah ditantang berkelahi. Mana si Mas itu badannya kekar, item, sangar, ada tatonya pula gambar ular kobra di jidatnya. Jelas, saya langsung mengkeret. Saya, yang dari kecil hidup dalam keluarga bahagia, dan dididik untuk anti-kekerasan--dan menyukai kekenyalan--, jelas bukan lawan seimbang bagi preman model beginian. Realistis saja, kalau hanya tersedia  dua pilihan: jadi perokok pasif untuk 20 menit atau muka saya bonyok ditonjok orang, tentu saya pilih yang pertama saja.

Ngomong-ngomong tentang merokok di angkutan umum, saya kok jadi ingat pengumuman simpatik cerdas yang pernah saya temukan di Kaskus. "Kami tidak melarang Anda merokok di sini, tapi mohon asapnya ditelan". Itu pengumuman sangat brilian, menurut saya.

Kesimpulannya adalah, bukannya saya penyabar dan tidak mudah marah. Saya ini pemarah, tapi selalu takut jika kemarahan itu saya turuti, akibatnya justru akan merugikan saya.

Senin, Juni 13, 2011

Seribu hari Bapak pergi


Selasa Pon, 14 Juni 2011 ini, genap seribu hari sudah ayah saya, Sagiman bin Samidjan, dipanggil pulang oleh Yang Mahakekal. Nun di Kramas, kampung halaman saya di Semarang sana, sebuah upacara sederhana--namun mudah-mudahan khidmat--digelar. Sebagaimana masyarakat muslim tradisional Jawa pada umumnya, upacara peringatan nyeribu hari adalah rangkaian terakhir yang perlu dilaksanakan oleh sebuah keluarga yang salah satu anggotanya meninggal. Sebelumnya, ada tahlilan pada hari pertama s.d. ke-7. Terus 40 hari, lalu 100 hari, dilanjutkan satu tahun, dua tahun, dan terakhir 1.000 hari itu tadi. Inti acaranya sih kurang lebih sama, yakni tahlilan, baca surah Yasin, dan memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk memohonkan ampun bagi almarhum sekaligus meminta agar Dia sudi menerima amal ibadahnya selama hidup di dunia.

Oleh beberapa kelompok aliran agama Islam, rangkaian ritual yang kusebutkan di atas dianggap bid’ah karena Rasulullah tidak pernah mengajarkan, sebagian lagi bahkan mengharamkan. Kalau saya sih termasuk yang asik-asik aja. Wong ya tujuannya baik, niatnya juga baik lo. Baca Qur’an atau Yasin, diperintahkan. Berdoa memohonkan ampun orang yang sudah meninggal, sangat dianjurkan. Mengundang tetangga kiri kanan untuk saling bersilaturahmi, amat direkomendasikan. Dan motong kambing, dimakan bersama-sama dalam suasana guyup rukun, juga nggak ada ayat yang melarang.

Dalam penanggalan Jawa, pergantian hari adalah ketika matahari terbenam. Dus, Senin (13/6) sore ini sudah dianggap sebagai hari Selasa. Sehingga, acara tahlilan seperti kusebutkan tadipun juga rencananya digelar malam ini. Ketika kutelepon ini barusan, Mas Harsono kangmas saya yang mbarep (sulung) bilang bahwa seekor kambing sudah dipotong, Ibuk juga sudah pulang dari pasar beli segala keperluan, dan sekarang ini semuanya sedang dalam tahap masak-memasak dibantu oleh tante-tante saya dan Ibu-ibu tetangga kiri kanan. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar sesuai rencana.

Sebenarnya, jauh-jauh hari Ibuk sudah wanti-wanti agar saya bisa ikut bergabung dengan tahlilan malam nanti. “Kamu bisa pulang kan, Le?”, tanya Ibuk sebulan lalu. Tapi karena alasan klise, banyaknya pekerjaan kantor yang tidak bisa begitu saja ditinggal dan si Wisanggeni kok ya ngepas banget sedang ujian kenaikan kelas, beberapa hari lalu saya terpaksa bilang ke Ibuk tidak bisa ke Semarang dan hanya bisa kirim doa dari Jakarta saja. Terdengar nada kecewa di seberang sana, dan saya sangat bisa membayangkan ekspresi beliau kalau sudah kecewa begitu, tanpa harus melihatnya.

Sedih sih sebenarnya. Tapi saya yakin, Allah mendengar doa saya dari belahan bumi manapun doa itu saya panjatkan. Mudah-mudahan, seandainya bisa melihat dari alam sana, Bapak justru bangga karena menjadi PNS yang berdedikasi dan ayah yang bertanggung jawab adalah prinsip yang dulu setiap waktu beliau wasiatkan kepada saya.

Ketika saya posting tulisan ini di sini, ada kerinduan luar biasa kepada Bapak. Juga kangen yang tak tertahankan kepada Ibuk. Semoga Bapak sedang nyantai bahagia di sana, bersama para malaikat yang ramah menemaninya. Dan Ibuk, mudah-mudahan beliau terus dikasih sehat dan panjang umur, agar selalu dapat menyambutku dengan senyum dan elusan lembut di kepalaku setiap aku berkesempatan pulang ke dalam peluknya.

Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku. Kasihanilah mereka, sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu aku masih kecil. Amin.

Selasa, Juni 07, 2011

Negeri orang-orang egois

Buat Anda para pemotor, alasan mengapa Anda harus menyalakan lampu bahkan di siang hari, adalah agar Anda bisa selalu terlihat. Bukan agar Anda dapat melihat. Jadi, sekalipun Anda mempunyai mata setajam burung hantu, itu bukan pembenaran untuk pagi-pagi buta naik motor ngebut melawan arus tanpa menyalakan lampu!

Karena mesti datang ke kantor jauh lebih awal dari biasanya untuk satu dan lain hal, ini tadi jam lima pagi saya sudah mruput berangkat. Jalan-jalan masih gelap. Lagi enak-enaknya memacu kendaraan karena kondisinya yang masih lumayan lancar, tau-tau dari arah berlawanan, ada motor ngebut sambil dengan sangat percaya diri melaju tanpa lampu. Kecelakaan sih tidak karena refleksku yang masih lumayan bisa diandalkan, tapi tak ayal jantung ini rasanya mau copot.

Di sisa perjalanan ini tadi, sambil terus memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa telah terhindar dari kecelakaan konyol yang tidak perlu, saya juga tak henti-hentinya prihatin akan betapa Indonesia negera tercinta kita bersama ini kian hari kian dipenuhi oleh orang-orang egois. Seperti biker pemberani tadi, sikap egois itu berwujud: "yang penting gue bisa ngelihat loe, tak peduli loe bisa ngelihat gue apa kagak".

Egois, seperti Anda tahu, adalah sikap untuk melihat segala sesuatu dari kacamata diri sendiri. Saya adalah pusat dari segalanya, dan Anda hanyalah penggembira. Saya pemeran utama, Anda figurannya. Dan di sini, sikap egois itu makin menjadi primadona.

Pejabat dengan kawalan voorijder di jalan raya, “Biarin semua orang pada frustasi kejebak macet di mana-mana, asal gue lancar jaya tak kuang suatu apa”.

Koruptor, “egepe negeri ini bangkrut, yang penting gue kaya raya”.

Pemilik mobil yang membuang sampah dari balik kaca, “peduli setan jalanan jorok penuh sampah, asal mobilku bersih tanpa cela”.

Orang tolol sok jagoan yang merokok di metromini, “biarlah kalian keracunan mati pelan-pelan, yang penting gue asyik dengan rokok di setiap hisapan”.

Angkot yang ngetem sembarangan di perempatan, “biarlah semua orang sengsara jalanan mampet, yang penting setoran gue aman”.

Dan masih banyak lagi yang lainnya....

Apa boleh buat, level dari bangsa ini memang baru segini. Jan, kere tenan!

Senin, Mei 30, 2011

Mengobati Diabetes dengan Melahap Gula

Semua orang sudah tahu, paling telat tahun 2014 Jakarta lumpuh total. Semua orang telah mahfum, sebab dari kelumpuhtotalan itu adalah tak terkendalinya pertambahan kendaraan pribadi di satu sisi dan buruknya layanan angkutan umum di sisi yang lain.

Dari anak kecil sampai kakek-nenek juga pasti ngerti, solusi paling jitu untuk mencegah kelumpuhan Jakarta adalah dengan membatasi kendaraan. Bayangkan, setiap hari berganti, Jakarta ketambahan 1.172 kendaraan pribadi yang terdiri dari 186 unit mobil dan 986 unit motor.

Tapi, ini adalah kisah tentang sebuah negeri yang gemar melakukan penghancuran diri. Di sini, diabetes diobati dengan sebanyak mungkin menelan gula dan hipertensi diyakini sembuh dengan tongseng kambing dan gulai jerohan sapi.

Sudah tau macet hebat hanya bisa sembuh dengan membatasi jumlah kendaraan, tapi apa yang orang lakukan di sini? Hadiah bagi pemenang Gebyar Tahapan BCA adalah 5 unit Mercedes Benz S 350 L, 100 mobil Toyota Yaris, dan 1.000 motor Yamaha. Hadiah bagi pemenang Mandiri Fiesta adalah 50 Toyota New Camry, 200 Toyota Innova, dan 4.200 Motor Honda! BNI setali tiga uang dengan program “rejeki BNI taplus”-nya.

Iming-iming bagi pembeli rumah atau ruko di kawasan Harapan Indah Bekasi yang beruntung adalah dua unit Toyota Alphard. Di negeri paling lucu di dunia ini, jualan hape, cat tembok, teh botol, kacang kulit, kondom, bahkan celana dalam & BH; agar laku, sepertinya nggak afdol kalau nggak bikin promosi dengan hadiah kendaraan.

Itu tadi dari kalangan perbankan dan dunia usaha. Tak mau ketinggalan, Pemerintah sepertinya juga bersemangat untuk turut menyukseskan program “Ayo lumpuhkan Jakarta!”. Saya sendiri tak habis pikir, regulasi yang saat ini jadi primadona Pemerintah untuk dibahas dan diberlakukan adalah regulasi tentang produksi mobil murah. Jalan tol dibangun demi kepentingan mobil pribadi. Jalan-jalan layang didirikan, juga untuk kendaraan pribadi.

Dari tukang tambal ban sampai artis sinetron kejar tayang juga tahu, resep paling ampuh bagi kemacetan Jakarta adalah dengan menyediakan angkutan umum murah, nyaman, aman, dan tepat waktu.

Tapi, dari dulu sampai sekarang, jumlah kendaraan umum tidak juga bertambah. Tahun 2003 saja, persentasenya hanya 2% dari total jumlah kendaraan bermotor yang ada, dan cenderung terus berkurang. Dan yang sedikit itupun kondisinya kian hari kian memprihatinkan.

Di Kompas hari Minggu (29/5), ada berita Metromini jurusan Klender-Cililitan menyeruduk rumah warga. Batang setirnya patah sehingga metromini itu kehilangan kendali. Diceritakan, metromini itu--seperti umumnya metromini di Jakarta--telah berusia antara 20-30 tahun. Penggantian suku cadangnya adalah dengan cara kanibal. Dari situ saya jadi maklum, mengapa kebanyakan metromini dan bus-bus di Jakarta tampangnya bobrok menyedihkan, bodinya keropos kalau nyantol orang bisa tetanus, suaranya jauh dari merdu, dan asap knalpotnya hitam penuh racun yang membunuh pelan-pelan.

Belum lagi perilaku barbar supir dan kernetnya. Ngetem seenaknya, ugal-ugalan, main oper penumpang suka-suka, menaik-turunkan penumpang serampangan. Horor itu makin lengkap dengan kehadiran pengamen yang main ancam, copet yang bekerja rombongan, dan cowok sakit yang hobi menempelkan kemaluan di pantat penumpang perempuan.

Maka, menjadi penumpang angkutan umum di ibu kota adalah kutukan yang ingin dihindari sejauh bisa dilakukan. Memiliki mobil pribadi adalah dambaan setiap insan, peduli setan dengan macet yang makin tidak tertahankan.

Sementara itu, pejabat di atas sana punya solusi praktis namun egois. Ketimbang mengerahkan segenap daya upaya mengatasi macet dan membuat nyaman rakyat yang telah menggajinya, mereka lebih memilih cuek beibeh. Mungkin karena sepanjang jabatan itu masih ada dalam genggaman, selama itu pula kemacetan tidak pernah mereka rasakan. Biarlah jalanan macet, yang penting gue lancar. Caranya? Pakai voorijder, habis perkara!

Senin, Mei 16, 2011

Kamu membuatku iri

Pas chatting pakai Fesbuk dengan seorang teman lama yang sudah berabad-abad tidak berjumpa, si teman itu tiba-tiba bilang gini. “Wah, enak ya Her, jadi kamu. PNS, kerjanya nyantai, gaji gede, bisa kerja sambil mainan Fesbuk. Ntar kalau sudah pensiun, dapat uang pensiun pula. Bener-bener kayak di surga”.

Ah, andai dia tau, betapa saya juga iri sama dia...

Teman saya itu orang Jogja. Dia bercerita punya sebuah kafe yang lumayan eksis di jalan Kaliurang dan laundry kiloan yang tak pernah sepi di dekat kampus Atmajaya. Itu belum semua. Masih ada toko alat tulis dan fotokopi yang juga selalu ramai pembeli di pinggir Selokan Mataram. Penghasilanku, penghasilan Korpri kelas kambing, yang hanya satu setrip di atas UMR DKI ini, tentu tidak ada apa-apanya dibanding revenue dia dari bisnis-bisnisnya itu.

Teman itu iri pada saya karena hidup saya, di dalam benaknya, adalah hidup yang enak belaka. Tidak perlu pusing mikir kelangsungan usaha dan ancaman kompetitor. Sebaliknya saya, iri sama dia karena dia tidak harus frustasi dengan kemacetan dan banjir Jakarta, tidak terikat oleh jam kerja, tidak harus pusing dengan saldo rekening tabungan yg tiap tanggung bulan bikin berdebar-debar cukup enggaknya, dan tidak pula mesti capek hati menghadapi bos di kantor yang jalan pikirannya tidak selalu mudah dipahami.

Kerja nyantai dan gaji gede, dua hal yang membuat dia iri padaku, masih perlu diperdebatkan kebenarannya. Sedangkan kerja sambil Fesbukan? Siapa sih, orang yang nggak bisa begitu sekarang ini. Wong pembokat saja bisa terus ngeksis di Fesbuk sambil menyetrika baju majikannya.

Benar kata orang, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau...

Sudah dari sononya, kita adalah makhluk yang kalau melihat diri sendiri yang dilihat tuh cenderung yang pahitnya saja. Sebaliknya, ketika melihat orang lain, yang terus-terusan diperhatikan adalah yang manisnya belaka. Setelah itu, berkhayal akan betapa bahagianya kita jika yang enak-enak pada orang lain itu terjadi pula pada kita. Padahal, sudah jadi hukum Tuhan juga bahwa dibalik yang enak-enak yang membuat kita iri, yang gemerlap menyilaukan, pasti terdapat sisi nggak enak juga yang sering luput kita sadari.

Orang yang sedang dibuat sengsara jadi penumpang metromini akan membayangkan bahwa orang yang punya mobil pastilah enak setengah mati. Kemana-mana adem pakai AC, hujan tidak kebasahan. Barulah ketika mobil itu mampu dia beli, enak sih enak, tapi enaknya tidak akan sampai level "setengah mati" seperti bayangan semula. Benar kemana-mana adem dan bebas kehujanan. Tapi yang namanya mobil setiap tahun mesti bayar pajak sekian juta, agar nggak nyesek kalau kegores atau ilang mesti diasuransikan sekian juta, setiap sekian hari mesti dicuci. Setiap sekian ribu Km mesti dibawa ke bengkel dan ngantri sevis plus ganti oli. Itu belum kalau mesinnya tau-tau ngadat nggak bisa distater di jalan yang lagi macet hebat, atau ban kempes di tengah malam di jalan yang jauh dari mana-mana.

Edi, adik bungsu saya di Kramas, suatu ketika pernah iri pada tukang mie ayam langganannya di daerah Banyumanik. Dia iri karena tukang mie ayam itu sepertinya enak banget hidupnya. Buka warung jam 12 siang, langsung diserbu pembeli, dan dagangan sudah ludes jam 7 malam. “Duit kok sepertinya datang sendiri”, katanya. Cuma 7 jam kerja, penghasilan si tukang mie apes-apesnya 500 ribu perhari, jauh di atas penghasilan dia yang harus berdarah-darah bekerja 10 jam.

Adikku itu tidak tahu, si tukang mie ayam tadi hanya kelihatannya saja kerja 7 jam. Padahal, riilnya dia mesti bangun jam 5 pagi, ke pasar, dan belanja. Kembali ke rumah langsung harus menggulung-gulung mie, mencacah-cacah ayam, dan memasak hingga jam 11 siang. Menggotong semuanya ke warung setelah itu. Dan, jam 7 malam ketika warung tutup, dia belum bisa langsung istirahat. Dia masih harus beres-beres bangku, mencuci perkakas, dan lain-lain, dan semua itu baru akan selesai satu setengah jam kemudian.  

Sering kita memandang sukses orang lain sebagai sesuatu yang datang dengan tiba-tiba. Yang berdiri sendiri dan tanpa proses. Padahal sesungguhnya, di balik yang terlihat enak itu hampir selalu ada cerita tentang tetesan keringat, perjuangan tak kenal lelah yang tidak jarang berdarah-darah. Warung mie ayam yang membuat iri adikku tadi sudah pasti tidak langsung laris manis pada hari pertama dibuka. Barangkali, sebelum sesukses sekarang, si warung mie itu dulu harus melewati fase nyaris bangkrut atau kucing-kucingan dengan polisi pamong praja.

Maka, sikap paling baik adalah tidak membiarkan perasaan iri atas nikmat yg diterima orang lain menutup mata kita untuk berterima kasih kepada Tuhan atas nikmat dalam wujud berbeda yang juga kita terima. Karena kebahagiaan sesungguhnya tidak ditentukan oleh sebarapa banyak yang kita miliki, melainkan oleh seberapa pandai kita mensyukuri.

Senin, Mei 02, 2011

Beratnya jadi anak sekolah di Indonesia

Buat Wisanggeni, anak saya yang mbarep (sulung), sekolah adalah beban.

Beban yang saya maksud di sini pertama-tama adalah beban fisik. Iseng-iseng saya pernah menimbang tas sekolah yang saban hari nangkring di punggung si Wisang menggunakan timbangan badan. Itu karena setiap kali berangkat sekolah, anak itu terlihat berjalan tertatih-tatih.

Hampir lima kilogram! Anda tidak salah baca, saya juga tidak sedang salah tulis. Tas sekolah si Wisang beratnya memang segitu, lima kilogram itu. Selain tasnya sendiri yang tentu menghasilkan sekian ons gaya gravitasi, berat segitu itu juga dihasilkan dari banyaknya buku dan alat tulis yang mesti ia bawa. Asal tau saja, dalam sehari, ia harus membawa buku-buku dari 4 mata pelajaran yang berbeda. Masing-masing mata pelajaran terdiri atas: 1 buku paket, 1 LKS, 1 buku PR, 1 buku tulis harian, dan untuk Bahasa Indonesia plus 1 buku menulis halus. Alat tulis, selain yang standar, mesti ditambah pula dengan krayon untuk hari di mana ada pelajaran kesenian.

Sudah? Beluuuuum! Tas sekolah yang telah penuh sesak oleh buku itu, harus ditambah pula dengan payung lipat untuk antisipasi hujan yang datangnya bisa tidak terduga. Dan karena saya dan ibunya khawatir dengan kebersihan dan kesehatan jajanan di sekolah yang konon sarat dengan zat pewarna tekstil, boraks, vetsin, zat pemanis buatan, dan minyak goreng yang sudah 117 kali buat nggoreng nggak diganti-ganti; maka kotak makan berisi roti plus gelas plastik Tupperware berisi 200 ml air Aqua tak ketinggalan ikut meramaikan acara.

Mudah-mudahan sekarang Anda sudah bisa membayangkan, betapa berat beban yang mesti ditanggung si Wisanggeni sepanjang perjalanan berangkat dan pulang sekolah.

Meski Bapak dan Ibunya berbadan semok, postur tubuh si Wisang termasuk imut entah nurun dari siapa. Di usianya yang 6 tahun 9 bulan itu, tingginya baru 110 sentimeter dan berat badannya masih belum beranjak di kisaran 18 kilogram.

Wisanggeni Gagah Wicaksono. Nama tengah yang kuberikan adalah “Gagah”, tapi hampir 5 kg tas sekolah adalah berarti hampir 1/3 berat badan dia. Saya saja yang 73 Kg, ngos-ngosan kalau mesti nenteng barang yang beratnya 10 Kg, lebih dari 30 detik. Padahal 10 Kg itu jelas tidak sampai 1/7 berat badan saya. Maka, begitu anak itu libur sekolah, saya dan ibunya anak-anak segera membelikan dia tas model travel baq yang ada rodanya dan diseret-seret itu. Pernahkah Anda memperhatikan, tren tas sekolah sekarang ini memang seperti itu, model koper beroda 2 dibawa dengan diseret; gede, berat, seperti saya kalau dinas ke luar kota selama sebulan. Seingat saya, dulu saya berangkat sekolah enteng-entang saja tuh tasnya, dan Indonesia dulu sekolahnya termasuk yang terbaik di Asia Tenggara. Sekarang, dengan buku pelajaran dan LKS segunung begitu, la kok sama Malaysia saja kita ndak ada apa-apanya, saya nggak sampai hati membandingkan dengan Singapura.

Itu tadi baru beban dalam arti fisik, yang saya bayangkan juga ditanggung oleh anak-anak lain seusianya di manapun di seluruh Nusantara. Barangkali termasuk juga putri-putra Anda.

Beban selanjutnya adalah beban pikiran. Dulu pernah saya tulis di blog ini, sekolahan di tanah air tercinta ini kok kesannya hanya jadi institusi pencetak robot penghafal. Menciptakan siswa yang hanya pintar menjawab dengan jawaban tunggal, yang bahkan tidak dipahami benar oleh si siswa apa filosofinya. Dengan begitu, sekolah yang seharusnya merupakan aktivitas yang asyik, fun, terlebih buat anak-anak yang masih kelas 1 SD, berubah jadi aktivitas penuh tekanan. Jika di negara-negara yang sudah maju, anak-anak pulang sekolah ikut lesnya les piano atau balet; di Indonesia, les juga sih, tapi lesnya adalah les matematika, bahasa Inggris, IPA, dan pelajaran yang sudah diajarkan di kelas pagi-siang sebelumnya; seolah-olah yang tadi pagi dengan susah payah dipelajari masih jauh dari cukup. Bimbingan belajar a.k.a bimbel, fenomena ini hanya ada di negara bernama Indonesia.

Ciri-ciri sekolah yang cuma mencetak penghafal adalah seperti contoh berikut ini. Guru: “Orang Islam bersembahyang di mas....?; Murid-murid: “... jiiiiiiid”. Guru: “Pak Sakerah dari Madura, dia berjualan sate kam....?”; Murid-murid: “... preeeeettt”.

Dan, tekanan itu terus berlanjut. Ntar kalau sudah kelas enam dan menjelang UAN, hari tenang bukannya disuruh istirahat, mereka malah diajak istighosah sama kepala sekolah yang makin membuat siswa justru ketakutan dan trauma. Karena by definisi, Istighosah adalah doa yang dimintakan kepada Allah karena keadaan yang genting darurat.

Tuhan memang Maha Kuasa, yang sangat bisa membuat peserta ujian menjawab ngawur, terus jawaban itu bener semua. Tapi Dia adalah juga Yang Maha Adil, yang memberi hasil yang lebih baik bagi ikhtiar yang lebih bersungguh-sungguh. Dan buat saya, istighosah bukan ikhtiar. Peruntukannya jelas beda.

Seorang teman pernah bilang sama saya, anak yang cerdas sejatinya tidak diukur dari seberapa pandai dia menjawab, melainkan justru seberapa kritis dia bertanya. Makanya saya jadi mahfum, kenapa Maartje van Eerd, dosen pembimbing thesis saya dulu, cerewet betul dengan research question saya.

Tugas sekolah adalah mempersiapkan siswa agar kelak jadi manusia yang terus berpikir kritis, sistematis, analitis, selalu ingin tahu, dan pintar mencari jawaban atas keingintahuannya itu. Bukan malah jadi tukang hafal, dan kalau lupa dengan hafalannya berubah jadi tukang contek.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, mudah-mudahan Indonesia makin cerdas dan berilmu.

Senin, April 11, 2011

Surat terbuka untuk Pak Arifinto

Di dunia ini, mungkin tidak sampai 15 persen laki-laki yang tidak seneng nonton film porno. Sembilan persen karena berasal dari suku terasing yang belum kenal teknologi dan listrik, 1 persen karena kelainan jiwa, dan 5 persen karena masih balita.

Maka, mengetahui Anda jadi bulan-bulanan media karena ketangkap basah sedang asyik masyuk nonton film porno dari gadget canggih Anda, saya hanya bisa tersenyum tapi juga sekaligus prihatin.

Tersenyum. Ini adalah bentuk permakluman saya. Karena meski Anda berasal dari Partai Keluaran Surga yang mengusung citra bersih baik dari korupsi maupun pornografi, Anda tetaplah laki-laki sewajarnya. Prihatin, karena meski menyandang titel anggota dewan yang terhormat, perilaku Anda jauh dari harapan akan sosok wakil rakyat yang seharusnya cerdas dan pandai membawa diri.

Yang menjadikan citra Anda jatuh di mata saya bukan kegemaran Anda nonton film porno itu. Percayalah, 85 persen laki-laki di dunia termasuk juga saya adalah penggemar film porno seperti Anda. Boleh diadu, porn collection Anda pasti tidak lebih komplit daripada punya saya. Tapi timingnya, Pak. Timingnya. Menonton film porno pada saat sidang paripurna adalah seperti mengajak kawin Angelina Sondakh di waktu jenazah Adjie Massaid dimandiin. Diterima jelas tidak, digampar malah iya. Baiklah, mungkin saya rada lebay dalam membuat perumpamaan. Saya hanya hendak mengingatkan Anda, sebuah perbuatan boleh wajar, manusiawi, dan dapat diterima akal sehat (terlepas dari apakah perbuatan itu dibenarkan oleh agama atau tidak). Tapi jika dilakukan pada saat yang tidak tepat, perbuatan itu bisa menjadi sangat salah.

Teman saya pernah bilang, ada dua kelengkapan yang membuat laki-laki jadi makhluk mulia. Otak dan kemaluan. Otak, karena dengan itu laki-laki (tentu dalam hal ini perempuan juga) bisa jadi makhluk kreatif, inovatif, dan menjadi khalifah di muka bumi. Kemaluan, karena dengan itu laki-laki bisa mempertahankan eksistensi umat manusia di dunia. Kelemahannya adalah, laki-laki tidak bisa menggunakan keduanya dalam waktu yang sama.

Pada saat saya memeras otak mengerjakan tes TOEFL atau soal-soal matematika yang rumit, pasti kemaluan saya tidak bisa on, entah kalau punya Anda. Sebaliknya, pada saat saya horny berat, akal saya sudah pasti akan langsung berhenti bekerja.

Saya membayangkan, ketika film porno itu Anda akses, saat itu juga celana Anda menjadi sesak karena membengkaknya kemaluan Anda, dan--mengikuti hukum "otak vs kemaluan" tadi--otak Anda langsung berhenti bekerja. Maka, sidang paripurna yang seharusnya penting itu, yang seharusnya Anda ikuti dengan seksama itu, tak lebih hanya menjadi suara latar dari fantasi jorok Anda.

Pak Arifinto, ini adalah blunder paling konyol yang pernah saya saksikan dalam 37 tahun hidup saya.

Senin, Maret 28, 2011

Ketika terlambat adalah hal biasa

Kalau Anda muslim, surat pendek apa yang paling sering Anda baca setelah Fatihah ketika Anda sholat? Saya yakin, surat Al Ashr adalah salah satunya. Alasan paling klasik adalah karena surat ini memang pendek dalam arti sesungguhnya, jadi pas bener buat kita yang pengen sholatnya cepat berakhir, agar bisa segera kembali terhubung dengan Facebook, Twitter, dan Yahoo! Messenger.

Tapi, dari sekian juta penduduk Indonesia yang muslim dan sholat, rasanya hampir semuanya lain yang diikrarkan lain pula yang dilakukan. Surat Al Ashr diturunkan oleh Tuhan agar kita menghargai waktu. Dan Anda tentu setuju, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tapi sekaligus adalah negeri penyia-nyia waktu paling konsisten di jagat raya.

Belanda, yang 42% penduduknya atheis, adalah satu dari sedikit negara dengan ketepatan waktu keberangkatan-kedatangan kereta api paling presisi di muka bumi. Kalau sebuah KA di sana dijawdwalkan berangkat jam 17:58 dan sudah meninggalkan stasiun ketika waktu di jam tangan Anda baru pukul 17:55, maka kemungkinan lebih besar adalah jam tangan Andalah yang telat 3 menit dari seharusnya. Jepang, yang suka dibilang Habib Anu kafir karena 107 dari 130 juta penduduknya menyembah bola gas hidrogen dan helium (baca: matahari), adalah negara dengan reputasi ketepatan waktu berangkat maskapai penerbangan paling tanpa kompromi.

Akhir pekan kemarin saya ke Semarang, nyambangin Ibuk di Kramas yang sudah tiga bulan nggak saya tengok, sekaligus menghadiri pernikahan adik sepupu. Berangkat pakai Senja Utama Jumat (25/3) jam 19:20 dari stasiun Senen. Di tiket tertulis waktu tiba di stasiun Tawang adalah dinihari jam 03:01. Faktanya, berangkat memang on time, tapi waktu nyampainya molor nggak karu-karuan hingga 04:30. Telat satu setengah jam!

Pulang ke Jakarta, meski sudah pilih kereta eksekutif Argo Muria yang paling mahal, dan asumsinya nggak berenti-berenti mulu di tengah sawah nunggu dikentutin sama kereta yang lebih mahal, toh ceritanya juga setali tiga uang alias sami mawon. Berangkat Minggu (27/3) jam 16:00. Di tiket tertulis sampai Gambir jam 22:03. Prakteknya, jam 22:30 saja baru nyampai Jatinegara. Terlambat setengah jam.

Sering saya membatin heran, kok PT KAI nggaya banget sih, pakai nulis jadwal kedatangan dalam skala menit gitu. “Kereta ini akan tiba di Semarang pukul 03:01”, atau “Sepur ini akan sampai di Gambir jam 22 lebih 3 menit”. Halah, preeeeetttt! Mbelgedes! Penipu!

Dari puluhan perjalanan KA dari Jakarta ke berbagai kota di Jawa dan sebaliknya dalam sehari, nggak ada satupun yang tepat waktu sampainya. Dan yang namanya terlambat itu sering banget nggak tanggung-tanggung sadisnya, masih mending kalau cuma 15 atau 23 menit.

Kalau tau sudah jelas nggak bakal bisa tepat waktu, kenapa sih nggak ditulis saja waktu dalam kelipatan setengah jam, misalnya jam tiga, setengah empat, empat, dst. Atau kelipatan 15 menit seperti jam 10 seprapat, jam setengah 11, jam 11 kurang seprapat, dst. Buat apa keren-kerenan kayak di luar negeri tertulis waktu tiba di tujuan jam 22:03, tapi prakteknya selalu telat sejam. Jadinya malah nggak menepati janji, dosa. Nggak takut masuk neraka apa ya.

Lebih parah dari itu, terlambat tiba di tujuan a la KA di Indonesia semacam ini rupanya sama sekali bukanlah sebuah kesalahan sehingga tidak diperlukan permintaan maaf apalagi kompensasi. Maka, ketika Argo Muria telah hampir sampai di Jatinegara setengah jam terlambat dari seharusnya, pengumuman inilah yang terdengar dari pengeras suara:

“Para penumpang sekalian, beberapa saat lagi kita akan tiba di Stasiun Jatinegara. Periksa kembali barang bawaan Anda, jangan sampai ketinggalan. Kepada para penumpang yang akan menereuskan perjalanan hingga Gambir, kereta ini hanya akan berhenti selama tiga menit...”. Titik.

Tidak ada permintaan maaf telah tidak menepati janji. Santai saja telah mengambil waktu sekian banyak penumpang tanpa permisi. Tidak pula terdengar nada sesal telah membuat penjemput lumutan menunggu. Semua terasa biasa saja. Suka, silakan nikmati apa yang ada. Tidak suka, minggir, yang ngantri jasa kami masih panjang.

Harap maklum, waktu di sini memang tidak ada harganya.

Kamis, Maret 24, 2011

Umpatan Bahasa Inggris vs Bahasa Indonesia, kita juaranya

WARNING: Tulisan berikut ini mengandung konten dewasa dan vulgar. Konkritnya, saya menggunakan banyak kata-kata kasar dan umpatan. Anda atau putra-putri Anda yang masih di bawah 17 tahun sebaiknya meninggalkan halaman ini, dan bacalah postingan saya yang lain. Mohon maaf apabila ada di antara Anda yang merasa kurang nyaman. 

Gara-gara pagi ini (24/3) jalan Raya Bekasi macet total, karena banyak mobil, angkot, dan motor nyelonong ngelawan arus dan arus sebaliknya nggak mau ngalah, perjalanan Harapan Indah-Taman Suropati tadi pagi jadi perjalanan yang penuh sumpah serapah alias pisuh-pisuhan.

Ada sopir truk, yang di bak truknya tertulis “Aku pergi karena tugas, aku kembali karena rindu”, yang misuh jiancuk! Ada pengendara motor Honda Tiger, yang di spakbornya tertempel stiker “Cowok pakai motor matik, sekalian saja pakai lipstick”, yang tak tahan untuk mengumpat anjing! Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Akan halnya diriku. Polsek Cakung yang biasanya bisa kucapai dengan motor Honda Vario butut andalan keluarga dalam 10 menit tapi pagi tadi aku butuh setengah jam, tak pelak juga membuatku sempat menginventarisasi kosa kata pisuh-pisuhan dalam berbagai bahasa yang kukuasai.

Untunglah, semua kosa kata itu hanya berhenti di benak saya saja, dan tidak sempat satupun terucap di bibir. Karena selain tidak berkontribusi apa-apa bagi kondisi lalu lintas, teriakan sumpah serapah itu sudah pasti hanyalah akan menambah dosa saya yang kuyakin sudah segunung tingginya. Akhirnya, daripada misuh-misuh, ini tadi sepanjang jalan saya berzikir dan istighfar. Alhamdulillah...

Tapi, kumpulan kosa kata pisuh-pisuhan yang sudah kadung ngendon di kepala ini tadi ternyata tidak benar-benar hilang dari benak saya. Walhasil saya malah jadi mendapatkan sebuah kesimpulan menarik tentang perbandingan bahasa.

Begini. Ternyata, bahasa Indonesia tuh lebih praktis dan efektif daripada bahasa Inggris, terutama dalam hal itu tadi, pisuh-pisuhan.

Keparktisan paling mendasar terletak pada jumlah kata yang harus diucapkan untuk misuh atau mengekspresikan kemarahan. Anda sependapat kan dengan saya, bahwa yang namanya orang lagi marah tuh kan enaknya ngomong satu kata yang pendek saja, kemarahan itu sudah terwakili. Nah, untuk keperluan itu, kebanyakan pisuh-pisuhan dalam Bahasa Inggris memerlukan lebih dari satu kata, sementara Bahasa Indonesia cuma butuh satu kata.

Nggak percaya, silakan disimak contoh-contoh berikut ini.

Orang Inggris harus bilang “son of a bitch” (4 kata) untuk misuh, sedangkan kita cukup teriak “asu!” (satu kata) saja rasanya sudah mantep banget.

Orang Amerika mesti bilang “mother fucker” atau “fuck you!” (2 kata), kita cukup bilang “jiancuk!” (sekali lagi, satu kata Saudara-saudara) rasanya segala emosi sudah seluruhnya tercurah.

Ada lagi, mereka harus ngomong dua kata "ass-hole!", nggak praktis. Padahal kalau kita cukup satu kata untuk mengumpat dengan maksud yg sama: "silit!"

Pisuh-pisuhan orang Inggris paling pendek adalah “shit!” atau “damn!”. Ada 4 huruf di sana. Masih kalah sama pisuhan kita, “asu” atau “tai” yang hanya tiga huruf.

Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya, yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu karena toh Anda semua lebih jago daripada saya. Bukan begitu?

Saya tidak tahu, apakah setelah membaca tulisan ngawur ini Anda akan makin bangga ataukah makin tidak percaya diri terhadap bahasa Indonesia.