Jumat, Desember 31, 2010

Sepakbola di tangan mantan narapidana

Pernah kutulis dalam blog ini, selalu tersedia perspektif berbeda untuk melihat satu objek yang sama. Gelas dengan kapasitas 200ml dan terisi 100ml, oleh orang yang pesimis akan dilihat sebagai setengah kosong. Bagi orang optimis, ia akan dilihat sebagai setengah penuh.

Mikrolet yang seenak perut ngetem di depan Pasar Jatinegara padahal jelas-jelas lalu lintas sedang macet parah, adalah kesempatan bagi orang-orang beriman untuk memperbanyak istighfar. Dan buat orang yang tipis imannya, si mikrolet itu adalah sasaran halalan thoyiban untuk bersumpah serapah “asu!” dan “jiancuk!”.

Pun pengunduran diri dari jabatan publik. Mundur, bagi seorang ksatria, adalah ekspresi dari tanggung jawab. Dengan mundur, dia seolah berkata kepada khalayak: “Maafkan saya, Ibu-ibu dan Bapak-bapak sekalian. Saya telah gagal menjalankan amanah yang Anda berikan. Dengan segala sesal saya mundur. Setelah ini, mudah-mudahan Anda bisa memilih orang yang lebih baik dari saya”.

Bagi seorang pecundang, mundur adalah hilangnya jabatan, terhentinya kesempatan untuk menikmati fasilitas empuk nan aduhai, dan hilanya peluang untuk korupsi. Mundur bagi manusia jenis ini, sama artinya dengan kehilangan kehormatan yang sejatinya tidak pernah dia miliki meski berangkap-rangkap jabatan dia sandang. Jabatan adalah atribut untuk mendapatkan kehormatan semu yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang berjiwa kerdil lagi miskin percaya diri.

Anda tentu tahu, siapa yang sedang saya bicarakan. Di berbagai kesempatan, orang ini selalu berdalih bahwa mundur sama artinya dengan lari dari tanggung jawab. Pertanyaannya sekarang, apakah selama ini dia punya tanggung jawab? Sorry to say, saya kok nggak percaya dia memilikinya. Pada hari di mana dia resmi terpilih sebagai Ketua Umum PSSI, aku kok menduga, yang pertama-tama terlintas di kepalanya bukan niat suci untuk bagaimana membuat sepak bola nasional maju dan berprestasi, melainkan kesempatan untuk beronani memuaskan hasrat ingin dihormati sambil merasa diri besar lagi berkuasa.

Islam mengajarkan, segala sesuatu itu tergantung niatnya. Niatnya saja sudah nggak bener, maka jangan heran jika hasilnyapun juga nggak karu-karuan. Tujuh tahun lebih orang ini memimpin PSSI, dan selama itu pula sepak bola nasional berada di lembaran paling hitam sejarahnya. Kompetisi yang selalu berakhir dengan tawuran antar supproter atau antar pemain. Pemukulan wasit adalah tontonan tiap hari. Mana bisa kompetisi sepak bola kita dijual ke mancanegara dan mendatangkan devisa, wong di dalam negeri saja, dibandingkan sinetron sampah ala Cinta Fitri Season XII ratingnya nggak ada apa-apanya.

Tahun 2006, tak satupun klub Indonesia tampil di Piala Champion Asia. Sebabnya benar-benar konyol dan nggak masuk akal. PSSI telat mendaftarkan klub yang seharusnya berhak berlaga: Persipura dan Arema. Selama PSSI dibawah kendali bapak yang satu ini, tak satupun prestasi membanggakan mampu diukir, bahkan di tingkat Asia Tenggara nggak usah kejauhan ngomong tingkat dunia. Dan, di tengah-tengah terpuruknya prestasi, masih sempat-sempatnya PSSI bikin dagelan nggak lucu dengan mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Kegagalan timnas memboyong Piala AFF 2010 kemaren itu, mudah-mudahan ada juga hikmahnya. Yakni membuka mata semakin banyak orang Indonesia, bahwa dunia persepakbolaan kita benar-benar sekarat dan butuh tindakan nyata.

Kembali ke sosok Ketua Umum PSSI. Kehidupan pribadi orang ini di luar lapangan juga tak kalah hitamnya. Tahun 2004, ia adalah tersangka kasus penyelundupan gula impor ilegal; tahun 2005, ia dipenjara 2 tahun 6 bulan karena terlibat pelanggaran impor beras dari Vietnam; dan tahun 2007, ia dipenjara lagi karena dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi minyak goreng Koperasi Distribusi Indonesia.

Jika orang lain mesti melengkapi diri dengan Surat Keterangan (ber)Kelakuan Baik hanya untuk melamar menjadi tukang sapu dengan gaji di bawah UMR, bapak yang satu ini bisa memimpin PSSI (induk organisasi olah raga paling diminati di negeri berpenduduk terbesar ke-4 di dunia), dari balik jeruji besi. Kadang aku berpikir, ini nih dia yang sakti atau orang-orang PSSI-nya yang gendeng.

Memalukan!

Minggu, Desember 05, 2010

Gambar Apel di Laptop Pak SBY


Waktu nonton jumpa pers Pak SBY di TVOne hari Kamis (2/12) tempo hari, fokus perhatianku justru bukan pada substansi pidatonya, yakni klarifikasi beliau seputar sistem monarkhi di DIY versus demokrasi impor yang belakangan menuai kemarahan kawulo Ngayogyokarto Hadiningrat. Aku justru terpana melihat gadget canggih bergambar apel yang terpajang manis di podium, jauh lebih mencolok dibanding gambar Garuda Pancasila yang harus puas tersingkir beberapa sentimeter di bawah sang apel. Bangga sekaligus prihatin. Bangga karena Presidenku ternyata update teknologi terkini, nggak katrok dan malu-maluin. Wuih, Presidenku kereeeen....

Prihatin karena segera terbayang, pidato itu pasti diliput secara luas oleh media lokal maupun asing. Jika laptop merek lain mesti bayar juta-jutaan hanya untuk nongol 30 detik di TV atau sekian milimeter kali sekian milimeter di koran Kompas, Apple iPad seperti ketiban duren runtuh nongol di tivi-tivi nasional, BBC, CNN, dll gak pakai bayar, bermenit-menit pula. Nggak usah ngiklan, Steve Jobs spt sudah bisa ngomong ke seluruh orang Indonesia: “Tuh, presiden Loe aja pakai Apple”.

Aku yakin, Pak SBY pasti nggak sengaja dengan itu semua. Beliau tentu orang sangat sangat sibuk, sehingga yang begitu-begitu jelas bukan level dia untuk ngurus dan mikirin.

Tapi, nampangnya Pak SBY bersama gambar apel, di atas simbol negara Garuda Pancasila pula, buatku kok ironis banget. Terus, apa artinya selama ini beliau gembar-gembor sampai ludahnya berbusa-busa, menghabiskan duit miliaran buat bikin baliho gede-gede, jor-joran berkampanye di berbagai media utk mencintai produk-produk dalam negeri?

Kenapa sih gak pakai merek lokal saja? Atau, jika Pak SBY nggak pede dengan merek Advan, Axioo, atau Zyrex (sori kalau saya salah menyangka bhw merek-merek itu adl merek lokal. Soalnya laptop jatah negara buatku di kantor merek Acer, laptop di rumah juga Thosiba, hueheheh...), kenapa ya, nggak sekalian aja pakai telepromter seperti biasanya? Atau cara yang lebih primitif, diprint dulu di kertas A4, trs dibaca.

Kan kesannya jadi kayak lain yang diucapkan, lain pula yang dilakukan. Sengaja atau tidak, Pak SBY seperti hendak mengatakan: “Ayo, kita cintai produk Indonesia, tapi marilah beramai-ramai memakai produk Amerika”. Sama seperti Alim Markus pemilik Maspion yang bilang: “Cintailah, ploduk-ploduk Indonesia (kalau diperhatikan benar, melafalkannya memang “ploduk-ploduk” begitu, bukan “produk-produk”); tapi ketika mengatakan itu, dia pakai baju Armani dan parfum ST Dupont.

Andai sedikit saja Pak SBY atau protokol Istana mau belajar ilmu komunikasi, blunder yang begini tentu tidak perlu terjadi. Ilmu komunikasi meyakini, orang tuh cenderung lebih percaya apa yang secara riil dilakukan orang lain, lebih percaya dengan bahasa tubuh, lebih percaya bahasa non verbal, dibandingkan dengan bahasa verbal atau bahasa lisan. Percuma seorang suami tiap hari bilang I do love you ke istrinya, tapi dia main pukul dan tampar si istri dalam frekuensi yang sama intensnya.

Ketika tugas belajar di Jogja dulu, saya hendak main ke rumah teman di daerah Condongcatur dan saya bingung nyari alamatnya. Kutanya ke bapak-bapak tukang becak. Sambil mulutnya nyerocos penuh semangat ngasih petunjuk arah: “bla, bla, bla... setelah itu belok kiri”, tangan si bapak tukang becak tanpa sadar memperagakan gerakan membelok ke kanan. Beberapa menit kemudian, fakta membuktikan, gerakan tangan si bapak tukang becak itu lebih bisa dipercaya daripada omongannya.

Ah, if I were Pak SBY, momentum konperensi pers semacam kemarin itu tentu bakalan kugunakan sebagai ajang kampanye untuk mengajak semua orang mencintai produk-produk Indonesia. Di bawah sorotan kamera media daerah, nasional, dan asing, aku akan letakkan Laptop Axioo, pakai baju batik, dan sepatu Cibaduyut. Nggak masalah di ruang kerja PC-ku merek HP, ada TV Plasma gede merek Samsung. Tapi setidaknya di depan publik, di hadapan kamera media, kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita cinta buatan Indonesia. Kampanye model begini aku yakin pasti lebih efektif. Nggak perlu keluar biaya mahal buat bikin baliho narsis atau ngiklan di tivi dan koran.

Kalau sudah begitu, saya kok jadi keinget slogan untuk menenangkan cowok yang patah hati ditolak cewek: "mencintai itu tak harus memiliki, Bro". Slogan itu rupanya bisa juga kita pakai dalam kampanye produk lokal. Mencintai tak harus memakai. Begitulah.