Senin, April 11, 2011

Surat terbuka untuk Pak Arifinto

Di dunia ini, mungkin tidak sampai 15 persen laki-laki yang tidak seneng nonton film porno. Sembilan persen karena berasal dari suku terasing yang belum kenal teknologi dan listrik, 1 persen karena kelainan jiwa, dan 5 persen karena masih balita.

Maka, mengetahui Anda jadi bulan-bulanan media karena ketangkap basah sedang asyik masyuk nonton film porno dari gadget canggih Anda, saya hanya bisa tersenyum tapi juga sekaligus prihatin.

Tersenyum. Ini adalah bentuk permakluman saya. Karena meski Anda berasal dari Partai Keluaran Surga yang mengusung citra bersih baik dari korupsi maupun pornografi, Anda tetaplah laki-laki sewajarnya. Prihatin, karena meski menyandang titel anggota dewan yang terhormat, perilaku Anda jauh dari harapan akan sosok wakil rakyat yang seharusnya cerdas dan pandai membawa diri.

Yang menjadikan citra Anda jatuh di mata saya bukan kegemaran Anda nonton film porno itu. Percayalah, 85 persen laki-laki di dunia termasuk juga saya adalah penggemar film porno seperti Anda. Boleh diadu, porn collection Anda pasti tidak lebih komplit daripada punya saya. Tapi timingnya, Pak. Timingnya. Menonton film porno pada saat sidang paripurna adalah seperti mengajak kawin Angelina Sondakh di waktu jenazah Adjie Massaid dimandiin. Diterima jelas tidak, digampar malah iya. Baiklah, mungkin saya rada lebay dalam membuat perumpamaan. Saya hanya hendak mengingatkan Anda, sebuah perbuatan boleh wajar, manusiawi, dan dapat diterima akal sehat (terlepas dari apakah perbuatan itu dibenarkan oleh agama atau tidak). Tapi jika dilakukan pada saat yang tidak tepat, perbuatan itu bisa menjadi sangat salah.

Teman saya pernah bilang, ada dua kelengkapan yang membuat laki-laki jadi makhluk mulia. Otak dan kemaluan. Otak, karena dengan itu laki-laki (tentu dalam hal ini perempuan juga) bisa jadi makhluk kreatif, inovatif, dan menjadi khalifah di muka bumi. Kemaluan, karena dengan itu laki-laki bisa mempertahankan eksistensi umat manusia di dunia. Kelemahannya adalah, laki-laki tidak bisa menggunakan keduanya dalam waktu yang sama.

Pada saat saya memeras otak mengerjakan tes TOEFL atau soal-soal matematika yang rumit, pasti kemaluan saya tidak bisa on, entah kalau punya Anda. Sebaliknya, pada saat saya horny berat, akal saya sudah pasti akan langsung berhenti bekerja.

Saya membayangkan, ketika film porno itu Anda akses, saat itu juga celana Anda menjadi sesak karena membengkaknya kemaluan Anda, dan--mengikuti hukum "otak vs kemaluan" tadi--otak Anda langsung berhenti bekerja. Maka, sidang paripurna yang seharusnya penting itu, yang seharusnya Anda ikuti dengan seksama itu, tak lebih hanya menjadi suara latar dari fantasi jorok Anda.

Pak Arifinto, ini adalah blunder paling konyol yang pernah saya saksikan dalam 37 tahun hidup saya.