Ternyata nggak gampang ngajarin Wisanggeni nyanyi lagu Gundul-gundul Pacul meski syairnya sebetulnya simpel. Selain karena usianya masih belum genap empat tahun, plus ngomong “l” dan “r” belum articulate, Bahasa Jawa bukanlah bahasa yang akrab ditelinga dan lidahnya. Kalau hanya ngeliat namanya sih tuh anak emang meyakinkan ke-Jawa-annya, Wisanggeni Gagah Wicaksono. Cuma, sejak lahir cenger sampai sekarang dia berada di lingkungan berbahasa Indonesia. Sempat sih, selama setahun dulu tinggal di Jogja nemenin Bapaknya sekolah di UGM. Tapi karena kami berasal dari Jakarta, tetangga kiri kanan selalu ngajakin ngomong Bahasa Indonesia, terutama kepada Wisang dan Emaknya, perempuan Indo Sunda-Jawa. Walhasil, setahun di Jogja itu tak berhasil menancapkan satupun kosa kata Bahasa Jawa di kepala si Wisang.
Setelah susah payah belajar syair dan lagunya, inilah yang kemudian keluar dari mulut mungilnya: Gunduy-gunduy pacuy-cuy gembeyengan/ nyunggi-nyunggi wakuy-kuy petentengan/ wakuy nggyimpang segane dadi sak yatay. Yah, lumayanlah. Not bad untuk ukuran anak balita yang bukan native speaker.
Tantangan berikutnya adalah ngajarin dia menerjemahkan syair-syairnya karena meski hafal di luar kepala, dia pasti nggak paham apa maskudnya, sama seperti aku yang hafal lirik lagu India gara-gara kalau nonton wayang Joko Edan dari Pudakpayung, si Nurhana istrinya yang masih kinyis-kinyis itu nyanyi lagu India pas adegan Limbukan atau Goro-goro (yang nggak pernah nonton wayang, itu semacam adegan intermezo yang isinya lawakan gitu). Lagu India yang itu lo, yang syairnya kira-kira gini: Sawan kama hina/ pawane karisore/ diararejumne hese tiseben manajemo.... Tuh kan, hafal gue (meski mungkin spellingnya ngawur), tapi kagak ngarti pegimane maksudnye.
“Gunduy-gunduy pacuy itu apaan sih, Bunda?”, Wisanggeni mulai kritis melontarkan pertanyaan itu kepada Emaknya, cewek Jakarta tulen blasteran Garut-Purworejo, sehingga Bahasa Jawa jelas bagaikan bahasa Mesir kuno yang dia nggak familier.
“Wah, Bunda nggak tahu Nyo, tanya no ke Ayah”. Emaknya itu emang suka manggil Nyonyo ke si Wisang.
Begitulah, menit-menit selanjutnya adalah ngajarin dia artinya. Dan, weh... ajaib, tidak seperti yang kuduga sebelumya, terjemahan lagu itu cepet banget nyantol di kepalanya.
“Gunduy-gunduy pacuy tuh anak yang kepayanya botak,” begitu katanya, di hadapan Mbah Kakung dan Putri Utan Kayu, Bude, Bokap dan Nyokapnya ketika dia dites dihadapan sidang paripurna keluarga Utan Kayu suatu sore. “Dia mengangkat bakuy di atas kepayanya, enggak dia pegangin, mayah be(r)kacak pinggang. Bakuynya tumpah, nasinya be(r)seyakan deh...”.
Weeh, anakku pinter. Spontan tanpa komando, peserta sidang satu persatu mendaratkan ciuman di pipinya yang tembem.
“Makanya, jadi anak jangan sombong”, sambungnya setelah hujan ciuman mereda. That’s it. Jangan sombong itulah yang aku yakini sebagai inti pesan dari Gundul-gundul Pacul. Sang komposer, tak lain dan tak bukan adalah Sunan Kalijaga, wali paling diidolai oleh orang Jawa itu, emang jenius. Paling bisa membuat lagu yang simpel, easy listening, tapi dalam banget maknanya, bahkan buat anak-anak yang masih sangat beliausia.
Menurut pendapat sok tau-ku, pesan yang diajarkan oleh Gundul-gundul Pacul itu ya itu tadi, janganlah sombong dan takabur karena Tuhan benci banget sama orang sombong. Makanya, Kanjeng Nabi wanti-wanti begini: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam lubuk hatinya terdapat perasaan sombong meski cuma sebesar atom”.
Dalam tataran paling sederhana kesombongan dan ketakaburan itu bisa berwujud seperti si anak dalam lagu Gundul-gundul Pacul itu. Merasa hebat sehingga ketika mengangkat bakul di atas kepala, dia tidak merasa perlu memegangi bakul itu. Lebih tinggi tingkatannya adalah kesombongan ngerasa sudah tahu padahal belum ngerti apa-apa. Kesombongan, membuat orang nggak merasa perlu untuk terus belajar, merasa diri lebih baik, dan menganggap orang lain kecil di matanya.
Lebih tinggi lagi barangkali adalah kesombongan karena merasa diri paling shaleh, paling beriman, sehingga ngeremehin yang lain, dan merasa paling berhak masuk surga. Nih, gue, gak pernah absen sholat, selalu bangun malam untuk tahajjud, Senin-Kemisnya rajin, nggak kayak elo....
Ada satu jenis kesombongan lain lagi yang menurutku paling canggih. Kesombongan yang nggak nampak karena tersembunyi di dasar hati manusia yang terdalam. Secara kasat orang dengan kesombongan jenis ini keliatan begitu alim, rendah hati, memancarkan wibawa sehingga membuat orang takzim dan hormat padanya. Padahal jauh di dasar hatinya, ia merasa hebat karena merasa telah mampu mengenyahkan kesombongan dari dalam dirinya.
Maka dari itu, sebagai kata penutup, mari kita simak kembali pesan Bang Napi: "Waspadalah, waspadalah....!"
Jumat, April 25, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
Iya, lucu juga ya tingkah polah anak bila ditulis demikian. Anakku yang baru 3 tahun juga punya lelucon lain, dia itu mengucapkan huruf K, T, dan S itu sama, semua menjadi T. Mbah Kakungnya sambil guyon minta dia ngucapin: "Kung-kung, kuku kaki-ku kok kaku-kaku ya Kung". Ternyata diucapkan jadi "Tung-tung, tutu tati-tu to tatu-tatu ya tung".
weee...pesan sponsornya berat yee...terutama buat yg berbakat narsis kayak aku...hehehhe
Posting Komentar