Coba bayangkan, apa jadinya kalau di koran yang kredibilitasnya sudah tidak diragukan lagi semisal Kompas, tau-tau ada kata KONTROL yang ketinggalan huruf “R”-nya. Atau, ketika menurunkan berita seputar mudik, koran nomor wahid ini menulis judul gede-gede “Meski Sudah Memegang Tiket, Puluhan Calon Pemudik Tidak Terangkut”, tapi waktu ngetik huruf “I” pada kata “TIKET” jurutulisnya ngantuk dan keliru mencet huruf “O”. Tanggung insiden itu bakal seharian jadi obrolan hangat di Facebook dan Twitter.
Waktu di SMA 3 Semarang dulu, aku punya guru sejarah yang paling nggak suka jika menemukan kata yang salah eja. Nilai ulangan yang mestinya 90, bisa dia diskon jadi 75. Dan diskon itu bisa makin sadis jika yang salah tulis adalah nama, misalnya yang seharusnya Dr. Tjipto Mangunkusumo kita nulisnya Dr. Cipto Mangun Kusumo (dengan “C” bukan “Tj“, dan Mangun Kusumo dipisah padahal menurut dia mestinya disambung).
“Jangan anggap remeh nama seseorang, karena di dalam setiap hurufnya terkandung makna atau doa yang ingin dipanjatkan oleh si pemberi nama”, begitu kira-kira beliau selalu berpesan. Maka dari itu, upayakan untuk selalu precise. “Kalau nggak yakin, jangan malu-malu bertanya langsung ke si empunya nama”, imbuhnya. La kalau orangnya sudah meninggal kayak Dr. Tjipto itu Bu, pegimane? (tanyaku, tentu hanya dalam hati).
Sebagai orang yang lumayan sering jadi korban kesewenang-wenangan salah tulis nama, aku termasuk pihak yang mendukung keyakinan guruku tadi. Aneh tapi nyata, di negaraku sendiri, namaku yang cuma satu kata, Heriyadi, dan kupikir nggak rumit-rumit amat, sering banget ditulis secara salah oleh orang-orang. Kalau nama semisal Adhitya Mulya, penulis jempolan kreator “Jomblo” yang fenomenal itu, salah ditulis orang ya rada lebih masuk akal wong memang nama itu lumayan rumit, setidaknya pada di mana harus meletakkan huruf “h”, apakah di depan sehingga menjadi Adhitya atau di belakang, Adithya.
Kembali ke namaku yang ditulis secara salah tadi. Kasus paling mutakhir terjadi kemarin dan kemarin lusa oleh Asisten Dokter Irawati dan Apotek Kasih, dokter dan apotek langganan keluarga kami di Harapan Indah. Wong sudah berkali-kali dibilangin, kok ya masih saja sak enak sendiri lo mereka itu. Kok ya masih saja salah. Kemarin lusa (15/2), namaku ditulis Haryadi; kemarin (16/2), namaku ditulis lain lagi: Heryadi. Di lain waktu dan kesempatan, kadang pula mereka menulisnya Hariyadi. Halah!
Kalau di rata-rata, dalam waktu hanya 3 bulan mungkin bisa sampai 5 kali namaku ditulis secara salah sama orang di negaraku sendiri. Coba tebak, waktu di Belanda selama 12 bulan, berapa kali kira-kira namaku ditulis salah? Jawabnya, tidak sekalipun!
Waktu di SMA 3 Semarang dulu, aku punya guru sejarah yang paling nggak suka jika menemukan kata yang salah eja. Nilai ulangan yang mestinya 90, bisa dia diskon jadi 75. Dan diskon itu bisa makin sadis jika yang salah tulis adalah nama, misalnya yang seharusnya Dr. Tjipto Mangunkusumo kita nulisnya Dr. Cipto Mangun Kusumo (dengan “C” bukan “Tj“, dan Mangun Kusumo dipisah padahal menurut dia mestinya disambung).
“Jangan anggap remeh nama seseorang, karena di dalam setiap hurufnya terkandung makna atau doa yang ingin dipanjatkan oleh si pemberi nama”, begitu kira-kira beliau selalu berpesan. Maka dari itu, upayakan untuk selalu precise. “Kalau nggak yakin, jangan malu-malu bertanya langsung ke si empunya nama”, imbuhnya. La kalau orangnya sudah meninggal kayak Dr. Tjipto itu Bu, pegimane? (tanyaku, tentu hanya dalam hati).
Sebagai orang yang lumayan sering jadi korban kesewenang-wenangan salah tulis nama, aku termasuk pihak yang mendukung keyakinan guruku tadi. Aneh tapi nyata, di negaraku sendiri, namaku yang cuma satu kata, Heriyadi, dan kupikir nggak rumit-rumit amat, sering banget ditulis secara salah oleh orang-orang. Kalau nama semisal Adhitya Mulya, penulis jempolan kreator “Jomblo” yang fenomenal itu, salah ditulis orang ya rada lebih masuk akal wong memang nama itu lumayan rumit, setidaknya pada di mana harus meletakkan huruf “h”, apakah di depan sehingga menjadi Adhitya atau di belakang, Adithya.
Kembali ke namaku yang ditulis secara salah tadi. Kasus paling mutakhir terjadi kemarin dan kemarin lusa oleh Asisten Dokter Irawati dan Apotek Kasih, dokter dan apotek langganan keluarga kami di Harapan Indah. Wong sudah berkali-kali dibilangin, kok ya masih saja sak enak sendiri lo mereka itu. Kok ya masih saja salah. Kemarin lusa (15/2), namaku ditulis Haryadi; kemarin (16/2), namaku ditulis lain lagi: Heryadi. Di lain waktu dan kesempatan, kadang pula mereka menulisnya Hariyadi. Halah!
Kalau di rata-rata, dalam waktu hanya 3 bulan mungkin bisa sampai 5 kali namaku ditulis secara salah sama orang di negaraku sendiri. Coba tebak, waktu di Belanda selama 12 bulan, berapa kali kira-kira namaku ditulis salah? Jawabnya, tidak sekalipun!
Kenapa ya bisa begitu? Analisisnya mungkin begini (Warning buat yang lagi nyusun skripsi atau thesis! Jangan sekali-sekali mengutip analsis di bawah ini, karena tindakan tersebut pasti bakalan membuyarkan kerja keras Anda).
Kemungkinan pertama, kita belum punya tradisi baca-tulis yang kuat. Iingat, selama berabad-abad bangsa kita lebih mengandalkan tradisi tutur/lisan. Ini pula yang menjelaskan kenapa kita orang Melayu kalau bingung nyari alamat lebih suka nanya dulu ke abang becak maski akhirnya makin kesasar ketimbang baca petunjuk arah; sementara bule lebih suka mbaca peta dulu, dan baru setelah mentok karena petanya ternyata ngaco, dia nanya ke orang. Kita kurang menghargai bahasa tulis, dan oleh karenanya kita sudah cukup puas dengan hanya “asal apa yang kita tulis itu bunyinya sudah sama dengan cara melafalkannya”.
Kemungkinan kedua, kita belum punya cukup kesadaran bahwa nama adalah identitas yang unik dari seseorang, dan oleh karenanya alih-alih berpikir “nama kan umumnya Hariyadi bukan Heriyadi” kita justru berpikir “apa ya, yang tidak umum dari nama orang ini?”. Jika landasan berpikirnya sudah yang kedua, taruhan kita pasti akan jauh lebih berhati-hati.
Kemungkinan ketiga, pada diri kita bangsa Indonesia umumnya, belum tumbuh penghargaan terhadap “kesakralan” nama itu sendiri (halah kok malah mbulet). Langsung aja ke kisah nyata biar lebih konkret. Dulu banget ketika masih SMA, waktu aku ikut test penempatan untuk kursus bahasa Inggris di IEC Jl. Piere Tendean Semarang, pertanyaan pertama dari pewawancara adalah: What is your name?; dilanjutkan dengan: How do you spell it? Waktu membuka rekening bank di ABN Amro, atau ndaftar surat ijin tinggal di Balai Kota Rotterdam, urutan pertanyaan seperti itu pula yang aku harus jawab.
Coba sekarang di ingat-ingat, kalau di sini kita ditanya-tanya tentang identitas kita, baik ketika disensus sama orang BPS, diprospek sama agen asuransi, dijadikan target marketing oleh sales, atau diinterogasi sama polisi, seberapa sering kita disuruh mengeja nama kita terlebih kalau nama kita tergolong “pasaran”? Makanya, sepupu jauhku di Kramas sering banget ditulis orang bernama Franky padahal di akte, resminya dia bernama Frengki.
Jadi ingat waktu dulu ikut lomba nyanyi tembang Jawa di Semarang, aku dapat piagam penghargaan. Di piagam itu tercetak gede dengan huruf kapital semua nama HARIYADI. Ketika kuprotes ke panitia, Mbak-mbak panitia yang menerimaku menjawab enteng begini: “Eh, salah ya? Kirain udah benar, habis nama orang kan biasanya Hariyadi. Baru nemu sekarang lo, ada yang namanya Heriyadi pakai E”. Waktu ngomong gitu bibirnya mencos-mencos bikin gregetan, serasa pengen ngiket pakai tali rafia.
Eh, la kok ini tadi ada SMS dari nomer yang belum kusimpan di phonebook, sepertinya orang Bappeda kabupaten apa gitu yang tempo hari kenalan di sebuah seminar, begini bunyi SMS-nya: “Haloooo Pak Hari, apa kabar?”
Hari, Hari... Hari gundulmu!

