Rabu, Agustus 26, 2009

Puasa bagi orang Jawa

Apa beda orang Betawi dan orang Jawa dalam memandang sholat dan puasa?

Kolega senior saya di kantor suatu ketika pernah cerita anekdot yang entah benar entah ngawur tentang orang Betawi. Buat masyarakat Betawi, kata beliau, sholat lebih penting dari puasa. Syahdan, di suatu siang yang terik di bulan Ramadhan, ada orang Betawi dengan nikmatnya minum es cincau. Baru tiga teguk tuh es dia minum, azan Dhuhur berkumandang, dan serta merta dia tinggalkan si es cincau untuk ambil air wudhu dan sholat.

Nah, kalau orang Jawa sebaliknya. Buat orang Jawa, puasa lebih penting daripada sholat. Dulu waktu aku kecil di Desa Kramas, kampungku tercinta di pinggiran Semarang yang masih jawa banget, banyak orang yang puasa Ramadhan, full sebulan penuh, tapi sholatnya absen mulu. Kelar sahur molor lagi nggak nunggu Subuh. Dhuhur lewat, Ashar pun bolong. Habis buka nggak pakai sholat Maghrib, azan Isya dicuekin boro-boro tarawih.

Untuk sholat penting puasa nggak penting model orang Betawi, jujur saya tidak bisa ngejelasin meski sekedar penjelasan ngawur tanpa dasar teori.

Sedangkan untuk puasa penting sholat nggak penting model orang Jawa, mungkin begini kira-kira riwayatnya. Jauh sebelum Islam masuk tanah Jawa, orang Jawa sudah punya habit puasa sebagai bagian dari tradisi leluhur. Bagi orang Jawa, ada dua amalan yang dianggap paling cespleng untuk menggapai tujuan hidup atau untuk makin mendekatkan diri pada Yang Memberi Hidup, yaitu melek (mengurangi tidur) dan luwe/ngelih (puasa). Banyak tembang kuno yang syair mengingatkan kita untuk menjalani dua hal itu, misalnya:


“Dadiya lakunireki, cegah dhahar lawan guling,...” (jadikanlah sebagai ibadahmu, mencegah makan dan tidur,...);

atau

“Aja turu sore Kaki, ana dewa nganglang jagad, nyangking bokor kencanane, isine donga tetulak, sandang kelawan pangan, tur iku bageyanipun, wong melek sabar narima” (Jangan tidur sore, Nak. Ada malaikat sedang patroli. Dia akan bagikan rejeki kepada mereka yang kuat menahan kantuk, sabar, lagi tawakal).

Kuat lapar dan betah nggak tidur. Itulah. Makanya, dalam masyarakat Jawa banyak kita temui berbagai jenis amalan puasa dengan beraneka tujuan, mulai dari mencari kesempurnaan hidup, mendekatkan diri kepada Tuhan, minta jodoh, mencari kesaktian, hingga nyantet orang. Ada puasa Senin Kamis ala Jawa yang manteng sehari semalam nggak hanya dari Subuh sampai Maghrib, ada puasa ngrowot (cuma makan umbi-umbian), ada puasa ngalong (menggantung di pohon semalaman posisi kaki diatas), puasa mutih (berpantang garam), puasa weton (puasa pas hari-pasaran kelahiran), puasa kungkum (sambil berendam semaleman di pertemuan dua arus kali), dan masih banyak lagi.


Sedangkan kuat melek, contohnya tidak jauh-jauh, almarhum Bapak. Yang saya ingat, beliau tidak pernah tidur lebih cepat dari tengah malam. Setiap tengah malam, beliau keluar ke halaman, berdiri menghadap kiblat memandang langit, sambil memanjatkan doa untuk memohon rejeki, kesehatan, dan kesejahteraan kami sekeluarga. Terkadang, saya juga mendengar beliau menyanyikan tembang Dhandanggula berikut ini:

Ana kidung rumeksa ing wengi, teguh hayu luputa ing lara, kalisa bilahi kabeh. Jim setan datan purun, paneluhan tan ana wani. Miwah penggawe ala. Gunane wong, luput. Agni atemahan tirta. Maling adoh tan ana ngarah ing mami. Tuju duduk pan sirna.

Artinya kira-kira begini: Ada kidung yang menjaga malam, kukuh selamat jauh dari penyakit, terbebas pula dari malapetaka. Jin (jahat) dan setan ketakutan. Teluh, santet, dan perbuatan jahat pun tak ada yang mempan. Api yang mendatangiku akan berubah menjadi air. Pencuri menjauh, tak ada yang mendekat. Guna-gunapun sirna.

Penggalan syair di atas di kemudian hari aku ketahui disebut sebagai Kidung Purwajati, yang sarat berisi doa permohonan keselamatan kepada Tuhan.

Selain itu, pada setiap malam 1 Syuro/1 Muharram, Bapak pasti tirakat tidak tidur semalaman. Ketika tengah malam menjelang, beliau akan keluar rumah untuk menelusuri jalan-jalan di kampung sambil mulutnya membisu (tapi hati dan pikiran terus berzikir). Setiap ketemu perempatan, barulah beliau berhenti, dan memanjatkan doa-doa.

Begitulah. Maaf, saya bercerita terlalu panjang mengenai almarhum Bapak. Kini kita kembali ke inti persoalan.

Sedikit berteori nih. Tata nilai pada hakekatnya cenderung status quo. Maksudnya, jika pada satu masyarakat diperkenalkan sebuah nilai baru, nilai yang lama cenderung resisten. Butuh waktu untuk transformasi dari tata nilai lama ke yang baru. Nah, kecepatan transformasi itu sendiri berbanding lurus dengan seberapa banyak atau seberapa besar unsur-unsur dalam tata nilai baru itu sesuai/mirip dengan tata nilai yang akan digantikan (halah, ngomong opo to Her, Her...?).

Simpulannya, makin banyak unsur yang mirip, makin cepat nilai baru diterima. Itulah kenapa wali favorit orang Jawa adalah Sunan Kalijaga, karena sementara wali-wali lain dakwah pakai jubah Arab lengkap dengan sorban, beliau memilih surjan (baju Jawa) dan blangkon. Sementara yang lain dakwah menggunakan rebana, beliau pakai gamelan dan wayang kulit. Kuncinya, Sunan Kalijaga adalah wali yang nilai baru yang ditawarkan paling banyak miripnya dengan nilai yang sudah existing. Perubahan yang dia lakukan lebih gradual, sedikit-demi sedikit, nggak langsung melarang ini itu. Wayang kulit boleh, tapi mukanya jangan gambar muka manusia. Kenduren/selametan boleh, tapi berdoanya jangan kepada hantu penunggu pohon melainkan kepada Allah. Nyekar ke makam silakan, tapi jangan minta ini itu ke arwah leluhur melainkan memohon kepada Allah agar si leluhur itu dikasih ampun atas dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya. Dan seterusnya.

Di sisi lain, perubahan yang bersifat radikal, resiko timbulnya chaos bakalan lebih besar daripada perubahan yang bersifat gradual. Bayangin, orang yang seumur-umur gak pernah makan keju, makannya nasi ama tempe mulu, tiba-tiba disuruh ngegadoin keju satu piring. Tanggung bakalan langsung mencret tuh orang. Tapi, kalau keju itu dicampurkan ke nasi hari ini sesendok selama seminggu, terus minggu depan 2 sendok selama 2 minggu, dst, adaptasi si perut bakalan berjalan lebih mulus.

Cobalah Anda membayangkan sebuah masyarakat yang sudah mempunyai tata nilai tertentu, sebuah sistem kepercayaan tertentu. Tahu-tahu ada habib dari Arab, pakai jubah dan surban, datang mentasbihkan diri sebagai guru ngaji. Pada ceramah pertama dia langsung bilang, kalian semua kafir. Yang kalian kerjakan semua musyrik, dan harus kalian tinggalkan saat ini juga. Ini lo, Islam, agama saya yang paling benar. Ada ayatnya di Al Qur'an. Kira-kira apa reaksi orang-orang? Saya kok menduga, nasib maling motor di Jakarta yang babak belur dihajar massa masih akan lebih mending dibandingkan si habib nekat ini tadi.

Nah, ketika Islam disebarkan oleh para wali, ajaran yang dibawa terutama rukun Islam ketiga yakni puasa klop bener dengan ajaran puasa para leluhur orang Jawa. Puasa jadi ibadah favorit orang Jawa karena sudah ada tradisinya. Sementara sholat enggak. Sayangnya, untuk beberapa kelompok masyarakat di Jawa, ajaran Sunan Kalijaga itu belum tuntas, mungkin karena beliau mikir, “yang penting letakkan dulu dasar-dasarnya, biar ntar ulama setelah aku yang makin menyempurnakan”. Walhasil, banyak orang di Jawa yang nyembelih ayam sudah baca basmalah, nyebut nama Kanjeng Nabi Muhammad, eh habis itu masih juga nyebut-nyebut Kiai Lurah Semar dan Batara Guru.

Selasa, Agustus 25, 2009

Dilarang mencari rejeki di Bulan Ramadhan

Gue sedang puasa, Lo nggak boleh jualan makanan di depan hidung Gue. Kalau nekat, awas!

Pas hari pertama puasa kemaren, di Metrotivi ada berita yang sebetulnya sudah menjadi berita rutin saban tahun. Di Kabupaten Bengkalis Riau, Bupati mengeluarkan edaran agar selama bulan Ramadhan, warung-warung makan tutup dari Subuh sampai Magrib untuk menghormati mereka yang sedang berpuasa. Akan diberikan sanksi bagi mereka yang tidak mengindahkan edaran ini. Tidak hanya Riau, di Jawa Timur dan di daerah-daerah lain yang mayoritas penduduknya beragama Islam larangan semacam ini lumrah adanya.

Aku kok kurang setuju ya, dengan peraturan untuk nutup warung makan selama bulan Ramadhan itu. Rasanya kok arogan gitu, mentang-mentang umat mayoritas, terus seenak perut sendiri main larang orang buat mengais rejeki. Mbah Kakungku dulu pernah bilang, godaan bagi ibadah kita tuh anggaplah sebagai berkah karena “semakin besar godaannya, makin besar pula pahalanya”. Penutupan warung semacam itu bukankah makin mengurangi kesempatan kita untuk memperbesar pahala.

Selalu saja ada orang yang enggak puasa: saudara-saudara kita pemeluk agama lain, para perempuan yang sedang berhalangan, musyafir, atau laki-laki muslim baliq yang karena keadaannya diberi keringanan sama Gusti Allah untuk nggak puasa. La kalau mereka hidupnya ngekos, terus nggak punya kompor, apa ya disuruh nggadoin Indomie mentah terus-terusan? Kok kasihan bener. Ramadhan yang sama Allah diset menjadi bulan penuh berkah untuk alam seisinya, termasuk buat mereka yang nggak puasa, kok malah diubah jadi nyusahin hanya untuk cari sarapan dan makan siang aja.

Kalau Ramadhan ntar kelar, lebaran pun tiba. Dan sepeti sudah menjadi tradisi, yang namanya lebaran tuh bakalan dirayakan dengan sedikit lebih mewah dari hari-hari biasa. Masak masakan yang tidak biasa, beli baju baru, bagi angpau buat ponakan dan anak-anak tetangga, and so on. Pendek kata, butuh banyak biaya untuk selebrasi lebaran, even buat mereka yang puasanya hanya pas hari pertama dan hari terakhir. La kalau orang yang rejekinya cuma satu sumber, dari buka warung tok, apa ya ndak kasihan to mereka itu.

Makanya, kalau boleh nyaranin sih, mbok ya biar to warung-warung itu pada buka saja, wong ya rejeki mereka dari situ. Wong ya nyari rejeki dengan cara halal begitu. Yang puasa, puasa; yang warunga, ya silakan warungan.

Selamat menjalankan ibadah puasa, Saudara-saudara. Mudah-mudahan puasa kita makin bikin Dia Yang Di Atas sayang sama kita.