Kamis, April 17, 2008

RS Persahabatan yang ngajak musuhan (part 1)



Selasa (16/4) kemaren aku ke Rumah Sakit Persahabatan di bilangan Rawamangun Jakarta Timur untuk berobat karena sejak dua hari sebelumnya saya sakit. Nyeri di bagian perut dan pas bangun tidur hari Minggunya air seni sepertinya kok lebih keruh dari biasanya. Dalam keadaan biasa, saya biasanya cuek. Paling masuk angin, dan ntar juga sembuh sendiri. Tentang air seni yang keruh itu paling-paling karena malemnya makan indomie rebus di warung sebelah rumah pakai saus sambel agak banyakan. Cuma, momen datangnya rasa sakit itu tidak tepat. Beberapa hari sebelumnya seorang teman meninggal mendadak karena stroke padahal malam sebelumnya dia masih chatting. Terus ada juga teman cerita tentang temannya yang gagal ginjal dan harus cuci darah seminggu sekali. Terus ada kolega senior seruangan di kantor yang bilang, “ati-ati, mungkin livermu kena”. Waaa, setres denger itu semua. Mana anak masih 3 tahun, istri juga baru hamil 5 bulan. Makanya, daripada daripada, akhirnya diputuskanlah untuk berobat.

Bukan sakitnya itu yang pengen saya ceritakan. Saya pengen curhat disiyo-siyo dua hari di rumah sakit itu. Namanya doang “persahabatan”, rumah sakit itu faktanya ngajakin saya musuhan. Ceritanya, dengan pertimbangan jarak yang lebih dekat dari rumah saya di daerah Utan Kayu, dan kali-kali aja kartu askes (yang sudah empat tahun ngendon di dompet tapi seumur-umur belum pernah kepakai) bisa dimanfaatkan di tuh rumah sakit, berangkatlah saya ke Persahabatan. Dani, istriku tersayang, duduk manis di goncengan motor Honda Legenda butut andalan keluarga, memeluk erat suaminya seerat pelukan istri yang nggak rela dipoligami.

Jam 09:00 pas kami tiba di loket pendaftaran. Weh, yang ngantri banyak bener. Suasanya mirip Stasiun Senen dua hari menjelang Idul Fitri. Berhubung seumur-umur nggak pernah berobat ke situ, saya dekati si Mas yang jaga mesin nomor antrian untuk ngambil nomor sekalian nanya-nanya gimana prosedur yang mesti dilewati dan apakah kartu Askes wasiat yang nggak pernah dipakai tapi sudah bau apek akibat diperam empat tahun dalam dompet lusuh itu bisa saya manfaatkan. Tentu dengan bisik-bisik biar nggak ketahuan sama pasien lain kalau saya pengen berobat gratisan. “Wah, nggak bisa Pak kalau nggak pakai rujukan dari Puskesmas”, jawab si Mas dingin tanpa ekspresi.

Walah, yo wis. Berhubung sudah kadung di situ, aku daftar saja sebagai pasien biasa non-Askes. Di loket pendaftaran itu, setelah ngantri, akhirnya sampai juga giliranku dilayani. Ditanya-tanya mau ke poli apa. Wah, I have no idea mau ke mana. Setelah cerita mengenai keluhan saya, si Bapak penjaga loket mengarahkan saya ke poli penyakit dalam. Jreng, 35 ribu pindah tangan, dan melangganglah kami ke lantai dua tempat si poli berada.

Waduh, sing ngantri akeh banget. “Maklum Yah, rumah sakit negeri,” istriku berusaha menenangkan hatiku (dan hatinya juga, I guess). Menit demi menit berlalu, tanpa kepastian kapan dipanggil. Koran Kompas sudah khatam 2 kali. Baru setelah sejam lebih... “Heriyadi!”, panggilan melalui pengeras suara membahana. Akhirnya, namaku dipanggil juga, bareng sama 10 orang lain. Lah, kok dipanggilnya bertubi-tubi gitu, 10 orang sekaligus? Curiga, jangan-jangan di dalam malah diajak arisan. Benar juga, ternyata dipanggil itu belum berarti langsung diperiksa. Itu panggilan untuk diukur tekanan darahnya doang, oleh suster. Caranya, pasien yang tadi dipanggil rame-rame itu disuruh duduk umpel-umpelan, dan satu meter di depan kami ada meja tensimeter, desk tempat si suster manggil kami satu-satu untuk di tensi, sambil di tanya-tanya apa keluhannya. Wah, setres juga ditanya-tanya gitu di depan pasien lain. Mana nanyanya kenceng lagi. Ada pasien dengan kartu gakin (alias keluarga miskin) yang salah prosedur, terus dibilangin “Bukan karena Ibu gakin lo. Ini betul-betul karena prosedurnya harus begitu”. Mungkin, si pasien mbatin,”Yaaa, ketahuan deh gue orang miskin”. Semua orang yang ada di ruangan sempit itu kemudian menjadi tau, Bapak itu sakit anu, Ibu itu sakit anu. Padahal setahu saya, penyakit seseorang itu harusnya menjadi rahasia antara si pasien dan dokter. Kalau dibahas keras-keras disaksikan pasien lain begitu, nanggung. Sekalian aja di pasang pengeras suara atau di shoot kamera terus disiarin di Liputan 6 SCTV.

Tibalah giliranku. Sama seperti yang lain, aku juga ditanya-tanya apa keluhannya sambil ditensi. Hasilnya, tensi lumayan bagus 130/80. Tapi, ada tapinya.... Ternyata, saya salah kamar, Sodara-sodara. Keluhan seperti yang saya rasakan, seharusnya bukan di poli penyakit dalam, tapi di poli bedah urologi. “Jadi, kartu ini silakan Bapak bawa ke bedah urologi. Jika ditolak, kembali ke sini,” kata suster polos. Walah, kere. Setelah nunggu berjam-jam, dipanggil cuma untuk di tensi dan mengetahui bahwa saya salah kamar. Tarbayang lagi wajah si Bapak di loket registrasi yang dengan gagah perkasa tadi bilang “Oke, kalau begitu Anda ke poli penyakit dalam”. Wis jan, wadhuz!

Sampai di bedah urologi di lantai satu, saya lapor sambil menyerahkan kartu hasil tensi tadi ke suster. Tapi, “kartu ini saya simpan, besok Bapak ke sini lagi pagi-pagi jam 09:00. Hari ini bedah urologi tutup”. Halah. (bersambung)

Tidak ada komentar: