
Dulu, aku pernah sangat menyukai tayangan infotainmen di tivi. Dulu banget, waktu masih bujangan. Menyaksikan kehidupan pribadi artis-artis ibu kota, entah kenapa membangkitkan sensasi. Padahal berita seputar mereka tuh nggak jauh-jauh dari pacaran, cerai, dan berantem. Atau si artis anu lagi demen ngecet rambut, sementara si artis anu yang lain lagi hobi koleksi sendal. Pokoknya nggak penting banget.
Yang rada terganggu dengan ritual nonton infotainmen itu masku, Harsono. Pernah suatu sore, dia nyuruh aku beli pralon di toko matrial buat mbetulin pompa air sumur, aku ogah-ogahan karena sedang nonton Cek n Ricek di RCTI. Karena mangkel, dia bilang gini, “Artis kok diurusin. Nggak nambah wawasan”.
Lambat laun, aku insyaf juga. Apalagi waktu stasiun-stasiun tivi bikin infotainmen semua, dengan artis 4L alias lu lagi lu lagi. Kalau nggak Saipul Jamil, ya Dewi Perssik. Diulang ulang bikin bosen. Udah gitu, kadang-kadang beritanya mengada-ada, dicari-cari, yang nggak nyambung disambung-sambungin. Coba aja, jelas si Saipul udah lama cerai sama Dewi Perssik, terus ada berita Dewi Perssik lagi dekat sama cowok asal Belanda yang siapa tuh namanya. Eh, la kok yang dikonfirmasi malah si Saipul. Apa hubungannya, coba? Suami bukan, suadara bukan, teman juga kagak. Ajaibnya, si Saipul juga kelihatan enjoy dan antusias ngejawabnya. Ini nih sebetulnya yang gila Saipulnya apa infotainmennya. Dan, dari pagi sampai tengah malam, infotainmen mulu, beritanya ya yang itu-itu saja.
Cuma, meski insyaf, harus diakui bahwa hidupku tidak kemudian steril dari gosip artis. Pertama, karena sebab yang tadi, perilaku stasiun-stasiun tivi yang makin jor-joran nayangin infotainmen itu sekali-sekali ya membuat perhatianku nyangkut juga. Kedua, karena embah putrinya anak-anak di Utan Kayu adalah pelanggan setia tabloid Bintang yang terbit setiap Sabtu sehingga kadang-kadang membuatku nebeng baca. Walhasil, meski telah membulatkan tekad menjauhkan diri dari infotainmen, mau nggak mau aku ya jadi tetap update kabar-kabar para so-called selebritis.
Salah satu yang saat ini lagi heboh adalah kasus Manohara, anak ingusan yang bodinya bongsor lagi cantik, yang ditaksir pangeran kaya dari Malaysia, terus dikawinkan sama tuh pangeran, dan nggak lama setelah itu ibunya kelabakan ngomong kesana-kemari bahwa si anak disiksa suaminya. Tidak cukup sampai di situ, sentimen harga diri bangsa juga coba dibangkit-bangkitkan, dan seperti bisa ditebak, dukunganpun mengalir termasuk organisasi yang menamakan dirinya Laskar Merah Putih (wuih, merah putih, patriotis banget tuh, Man!).
Orang Indonesia tuh memang begitu, gampang banget emosi kalau udah ngomongin Malaysia. Psikologi orang kalah, iri dan gampang tersinggung dengan prestasi tetangga. Waktu Reog dicomot Malaysia dan dijadikan ikon pariwisata, kita marah setengah mampus tanpa usaha sama sekali untuk belajar dari kasus itu. Yang ada cuma nyalahin. Malaysia setan, Indonesia malaikat. Lo salah, Gue bener. Makanya, nggak perlu heran kalau kasusnya kembali berulang pada batik dan lagu Rasa Sayange. Padahal kalau mau introspeksi, kasus-kasus itu harusnya membuka mata kita, what’s wrong with us? (weh, bahasa Inggris).
Sudah berbuat apa sih kita untuk menjaga dan melestarikan Reog (dan kesenian tradisional lainnya), selain menyia-nyiakannya? Sudah ngapain aja sih kita untuk mengembangkan batik Nusantara, selain membiarkannya hidup enggan mati tak mau? Giliran Malaysia mau ngopeni, kitanya mencak-mencak. Padahal, setelah itu ya business as usual, Reog dicuekin batik juga teuteup ditelantarin.
Kembali ke kasus Manohara. Karena tivi-tivi itu pada lebay dalam memberitakan, aku jadi gatel pengen ikutan menebak-nebak. Begini. Semuanya serba mungkin sih, dan salah satu kemungkinan itu adalah perbedaan antara ekspektasi dengan kenyataannya sebagaimana pernah pula kutulis dalam blog ini. Pada saat Ibu Daisy Fajarina mengijinkan (atau mungkin nyorong-nyorongin, entahlah) si Manohara untuk diperistri Fakhry, mungkin yang ada dalam benaknya adalah bahwa sang anak akan “naik kelas” jadi bangsawan putri raja, di mana-mana orang membungkuk hormat. Kemana-mana naik mobil mewah, tinggal di istana megah, pakaian dan perhiasannya mahal-mahal. Mau apa-apa dilayani para dayang. Sementara Daisy sang ibunda, juga bakalan enak belaka. Jadi besan raja, kalau punya utang bakalan ada yang dimintai bantuan (entah ditalangin dulu entah gratis) untuk ngelunasin. Pokoknya enak semua dah, nggak ada nggak enaknya.
Padahal, di mana-mana hukumnya sama saja: jadi apapun, ada enaknya pasti ada juga nggak enaknya. Celakanya, yang enggak enak enggak enak itu mungkin nggak kepikir sebelumnya. Kalau kemudian hanya mau enaknya tapi nggak mau konsekuensinya, yang ada jelas kecewa. Jadi istri pangeran, selain yang enak-enak tadi, juga ada nggak enaknya. Mesti tunduk pada protokoler istana, nggak boleh lagi pakai baju seksi, mesti stop ndugem, nggak boleh lagi jadi model (anak mantu Sultan masa mau pamer aurat), kemana-mana mesti dikawal, and so on. Pokoknya, nggak bebas ini itu. Sebulan dua bulan mungkin kuat. Tapi, anak umur 16 tahun, emosinya masih labil, sepanjang hidupnya tinggal di Eropa biasa bebas merdeka mau ngapa-ngapain juga, tiba-tiba disuruh hidup dengan pola yang “enggak gue banget”, ya berontak. La, si pangeran yang sejak lahir cenger udah jadi anak raja, seumur-umur nggak pernah dibantah, semua orang nurut omongan dia, ketemu istri suka ngelawan, wajar to ya kalau terus jadi emosi. Sekali lagi, ini mungkin lo ya, mudah-mudahan tidak menjadi fitnah.
Yang rada terganggu dengan ritual nonton infotainmen itu masku, Harsono. Pernah suatu sore, dia nyuruh aku beli pralon di toko matrial buat mbetulin pompa air sumur, aku ogah-ogahan karena sedang nonton Cek n Ricek di RCTI. Karena mangkel, dia bilang gini, “Artis kok diurusin. Nggak nambah wawasan”.
Lambat laun, aku insyaf juga. Apalagi waktu stasiun-stasiun tivi bikin infotainmen semua, dengan artis 4L alias lu lagi lu lagi. Kalau nggak Saipul Jamil, ya Dewi Perssik. Diulang ulang bikin bosen. Udah gitu, kadang-kadang beritanya mengada-ada, dicari-cari, yang nggak nyambung disambung-sambungin. Coba aja, jelas si Saipul udah lama cerai sama Dewi Perssik, terus ada berita Dewi Perssik lagi dekat sama cowok asal Belanda yang siapa tuh namanya. Eh, la kok yang dikonfirmasi malah si Saipul. Apa hubungannya, coba? Suami bukan, suadara bukan, teman juga kagak. Ajaibnya, si Saipul juga kelihatan enjoy dan antusias ngejawabnya. Ini nih sebetulnya yang gila Saipulnya apa infotainmennya. Dan, dari pagi sampai tengah malam, infotainmen mulu, beritanya ya yang itu-itu saja.
Cuma, meski insyaf, harus diakui bahwa hidupku tidak kemudian steril dari gosip artis. Pertama, karena sebab yang tadi, perilaku stasiun-stasiun tivi yang makin jor-joran nayangin infotainmen itu sekali-sekali ya membuat perhatianku nyangkut juga. Kedua, karena embah putrinya anak-anak di Utan Kayu adalah pelanggan setia tabloid Bintang yang terbit setiap Sabtu sehingga kadang-kadang membuatku nebeng baca. Walhasil, meski telah membulatkan tekad menjauhkan diri dari infotainmen, mau nggak mau aku ya jadi tetap update kabar-kabar para so-called selebritis.
Salah satu yang saat ini lagi heboh adalah kasus Manohara, anak ingusan yang bodinya bongsor lagi cantik, yang ditaksir pangeran kaya dari Malaysia, terus dikawinkan sama tuh pangeran, dan nggak lama setelah itu ibunya kelabakan ngomong kesana-kemari bahwa si anak disiksa suaminya. Tidak cukup sampai di situ, sentimen harga diri bangsa juga coba dibangkit-bangkitkan, dan seperti bisa ditebak, dukunganpun mengalir termasuk organisasi yang menamakan dirinya Laskar Merah Putih (wuih, merah putih, patriotis banget tuh, Man!).
Orang Indonesia tuh memang begitu, gampang banget emosi kalau udah ngomongin Malaysia. Psikologi orang kalah, iri dan gampang tersinggung dengan prestasi tetangga. Waktu Reog dicomot Malaysia dan dijadikan ikon pariwisata, kita marah setengah mampus tanpa usaha sama sekali untuk belajar dari kasus itu. Yang ada cuma nyalahin. Malaysia setan, Indonesia malaikat. Lo salah, Gue bener. Makanya, nggak perlu heran kalau kasusnya kembali berulang pada batik dan lagu Rasa Sayange. Padahal kalau mau introspeksi, kasus-kasus itu harusnya membuka mata kita, what’s wrong with us? (weh, bahasa Inggris).
Sudah berbuat apa sih kita untuk menjaga dan melestarikan Reog (dan kesenian tradisional lainnya), selain menyia-nyiakannya? Sudah ngapain aja sih kita untuk mengembangkan batik Nusantara, selain membiarkannya hidup enggan mati tak mau? Giliran Malaysia mau ngopeni, kitanya mencak-mencak. Padahal, setelah itu ya business as usual, Reog dicuekin batik juga teuteup ditelantarin.
Kembali ke kasus Manohara. Karena tivi-tivi itu pada lebay dalam memberitakan, aku jadi gatel pengen ikutan menebak-nebak. Begini. Semuanya serba mungkin sih, dan salah satu kemungkinan itu adalah perbedaan antara ekspektasi dengan kenyataannya sebagaimana pernah pula kutulis dalam blog ini. Pada saat Ibu Daisy Fajarina mengijinkan (atau mungkin nyorong-nyorongin, entahlah) si Manohara untuk diperistri Fakhry, mungkin yang ada dalam benaknya adalah bahwa sang anak akan “naik kelas” jadi bangsawan putri raja, di mana-mana orang membungkuk hormat. Kemana-mana naik mobil mewah, tinggal di istana megah, pakaian dan perhiasannya mahal-mahal. Mau apa-apa dilayani para dayang. Sementara Daisy sang ibunda, juga bakalan enak belaka. Jadi besan raja, kalau punya utang bakalan ada yang dimintai bantuan (entah ditalangin dulu entah gratis) untuk ngelunasin. Pokoknya enak semua dah, nggak ada nggak enaknya.
Padahal, di mana-mana hukumnya sama saja: jadi apapun, ada enaknya pasti ada juga nggak enaknya. Celakanya, yang enggak enak enggak enak itu mungkin nggak kepikir sebelumnya. Kalau kemudian hanya mau enaknya tapi nggak mau konsekuensinya, yang ada jelas kecewa. Jadi istri pangeran, selain yang enak-enak tadi, juga ada nggak enaknya. Mesti tunduk pada protokoler istana, nggak boleh lagi pakai baju seksi, mesti stop ndugem, nggak boleh lagi jadi model (anak mantu Sultan masa mau pamer aurat), kemana-mana mesti dikawal, and so on. Pokoknya, nggak bebas ini itu. Sebulan dua bulan mungkin kuat. Tapi, anak umur 16 tahun, emosinya masih labil, sepanjang hidupnya tinggal di Eropa biasa bebas merdeka mau ngapa-ngapain juga, tiba-tiba disuruh hidup dengan pola yang “enggak gue banget”, ya berontak. La, si pangeran yang sejak lahir cenger udah jadi anak raja, seumur-umur nggak pernah dibantah, semua orang nurut omongan dia, ketemu istri suka ngelawan, wajar to ya kalau terus jadi emosi. Sekali lagi, ini mungkin lo ya, mudah-mudahan tidak menjadi fitnah.
Eh, aku kok malah jadi seperti nyalahin Bu Daisy to ini. Habis, si ibu ini kadang suka nggak sinkron sih, antara bahasa tubuh dengan bahasa mulutnya. Masak, dia bilang anaknya jadi korban KDRT, yang katanya trauma, eh, sambil ngomong gitu tampangnya kok ya yang cengar-cengir, cengengesan kayak nggak serius. Nggak berkesan sedih atau apa. Kayak main-main. Makanya Ratna Sarumpaet yang udah komit mau bantu, mundur. OC Kaligis yang siap pasang badan jadi penasehat hukum, minggir sambil misuh-misuh. La wis piye, absurd. Orang kan jadi nggak percaya. Sama nggak percayanya dengan ndenger Bill Gates ngaku nggak punya duit.
Tentang pengakuan bahwa dia nikahin si Mano tidak dengan alasan harta, alasan yang dia kemukakan kok ya yang malah kontradiktif. Katanya, sejak lama dia dan anak-anaknya biasa hidup mewah. Nyekolahin anak di sekolah mahal, belanjanya di butik, jalan-jalannya ke luar negeri mulu. Tajir dah pokoknya. Lah, justru karena dia dah biasa jadi orang kaya. Tanpa belajar sampai botak di jurusan psikologi pun orang juga tau, tingkat penderitaan orang kaya yang jatuh miskin tentulah lebih berat dibandingin dengan menderitanya hidup orang miskin yang emang sudah kere sejak dari sononya.
Orang cenderung bisa naik, tapi sangat sulit untuk bisa turun. Coba aja, buat Lo yang biasanya terpaksa jalan kaki, terus bisa beli motor Yamaha Mio pasti Lo bakalan seneng banget. Tapi, kalau Lo biasa naik BMW, terus dipaksa naik Daihatsu Xenia, taruhan Lo bakalan ngerasa biasa aja kalo gak malah tersiksa. Padahal Xenia jelas jauh lebih mahal dari Mio. Makanya, orang kalau sudah biasa kaya, dia cenderung beruasaha untuk tetap jadi kaya, apapun caranya.
Jadi... Entahlah.
