Selasa, Februari 28, 2012

Penting nggak penting terkait Auckland

Buat Anda yang sudah terbiasa travelling ke luar negeri, apalagi telah berada di Auckland, uraian berikut ini sudah pasti tidak penting. Dus, Anda tidak perlu memboroskan waktu untuk membaca alenia berikutnya, apalagi membaca postingan ini sampai tuntas. Percayalah, berita tentang potongan baru rambut Morgan SM*SH atau lamaran Anang-Ashanty bakalan lebih bermanfaat. Tapi bagi Anda yang seumur-umur setia dengan Indonesia, perjalanan paling mentok juga cuma ke Wonosobo atau Garut, dan saat ini sedang bersiap diri untuk berkunjung atau tinggal di Auckland, yang akan saya sampaikan berikut ini barangkali ada juga gunanya.

Yang saya ceritakan ini bukan hal yang besar-besar alias hanya hal remeh-temeh saja. Tapi dari yang sepele itu, sejauh yang saya alami sendiri dan testimoni yang saya dengar, bisa saja berujung pada cerita konyol dan nyusahin, paling tidak di saat menjelang keberangkatan atau hari-hari pertama ketika Anda berada di Auckland sini.

Tentang mata uang. Untuk ukuran pegawai Bappenas, dalam hal bepergian ke luar negeri, saya termasuk jarang. Makanya untuk urusan satu ini saya katrok banget. Hanya karena dulu pernah ke Australia nyari dollar Australia mudah, dan pernah ke Belanda nyari Euro mudah, saya langsung mengambil kesimpulan bahwa nyari dollar Selandia Baru juga akan sama mudahnya. Seminggu sebelum berangkat, saya ke money changer Ayu Masagung di Kwitang, bawa duit sekian juta, dengan perasaan riang gembira. Ngantri aduhai panjangnya namun dengan semangat yang masih tetap membara. Tapi, begitu sampai di loket, saya langsung syok dibilangin bahwa mereka tidak punya stok NZD (dalam perdagangan valas, Dollar Selandia Baru disingkat dengan NZD). Ayu Masagung gitu lo, money changer paling top di Jakarta, nggak punya NZD. Harus kemana lagikah gerangan saya berburu NZD? Besokannya lagi ke sana, tetep nggak ada stok, sampai tiga kali, dan saya putus asa.

Belakangan barulah saya tahu bahwa untuk mata uang yang bukan mainstream seperti NZD, stok baru ada jika ada yang jual ke si money changer. Padahal, sangat jarang orang yang jual, dan kalau adapun juga nggak banyak nilainya. Jadi, kalau Anda ke money changer nyari Birr Ethiopia misalnya, terus Anda bawa duit Rupiah 100 juta, percayalah, Anda bakalan keluar dari money changer dengan raut muka bak PNS di tanggal tua. Raut muka patah hati, maksud saya.


Atas nasehat seorang teman, dan sekarang ini sayapun menasehati Anda, sebetulnya kita tidak selalu harus membawa Dollar Zimbabwe apabila kita mau ke Zimbabwe. Cukup Rupiah yang Anda punya tukarkanlah saja dengan mata uang mainstream yang diterima di semua negara, misalnya US Dollar atau Euro, untuk kemudian sesampai di sana ditukar lagi dengan mata uang negara yang bersangkutan. Di bandara internasional tempat Anda mendarat nanti, sudah hampir pasti ada money changer. Tukarkan saja secukupnya, karena biasanya nuker duit di bandara tuh kena fee lumayan dan perhitungan kursnya rada merugikan meski nggak banyak, dan sisanya nanti bisa ditukar di pusat kota yang kursnya lebih menguntungkan.


Tentang colokan listrik. Ini persoalan sepele yang bisa bikin orang mati gaya. Bayangkanlah sebuah situasi di mana Anda baru mendarat, cek in di kamar, sebetulnya ada sambungan internet dengan broadband sempurna, terus Anda ingin mengirim pesan via Yahoo! Messenger atau telepon keluarga di tanah air mengabari Anda telah tiba di tujuan dengan selamat, tapi ndilalah batere laptop dan hape sekarat, dan begitu mau nyolokin charger ke stop kontak ternyata colokannya beda dengan colokan yang Anda punya.

Colokan dgn 3 kaki, menggunakan standar Australia

Beda sama colokan listrik di Nganjuk yang cuma pakai dua kaki, colokan listrik di Selandia Baru adalah tiga kaki. Maka, jangan lupa untuk memasukan konverter colokan dalam list barang bawaan Anda. Tentu di sini banyak yang jual. Tapi, selain mahal, membawa konverter dari rumah adalah sangat disarankan agar langsung bisa dipakai begitu tiba di sini sementara Anda masih belum sempat ke toko listrik. Dan, jika perangkat elektronik Anda colokannya sudah tiga kaki, jangan buru-buru percaya diri, karena jangan-jangan colokan itu adalah colokan dengan standar Inggris atau Amerika Serikat. Tetep saja bakalan nggak bisa masuk. Saran paling simpel adalah, bawalah konverter colokan universal yang bisa dibeli di Ace Hardware (ini sekadar contoh nama toko yang jual, nggak ada maksud untuk ngiklan. Kalau di warung sayur di sebelah rumah Anda ada yang jual, ya silakan saja kalau mau beli di situ).

Tentang meludah dan buang ingus. Ingat-ingatlah kembali, apakah Anda termasuk orang yang--maaf--sedikit-sedikit pengen meludah dan buang ingus sembarangan jika sedang flu? Jika iya, mungkin Anda akan mengalami sedikit kesulitan untuk beradaptasi di sini. Indonesia adalah surga bagi orang dengan hobi--yang asyik buat yang melakukan tapi nyebelin buat yang ngelihat--ini karena aktivitas untuk itu bisa dilakukan di hampir semua tempat: di pinggir jalan, di got, di badan jalan sambil nyetir motor, bahkan di dalam bus. Di sini sejauh yang saya amati, tempat untuk itu hanyalah di toilet. Anda akan risih dilihatin orang jika meludah di pinggir jalan, diomel-omelin orang jika meludah di dalam bus, dan sudah pasti bakalan ditangkap polisi jika meludah di muka sopir busnya. Masih mending kalau Anda tidak dikasih bonus tonjok dari si Abang Supir yang rata-rata gede keker dan sangar.

Tips yang saya sarankan, bawalah tisu tangan kemanapun Anda bepergian. Jika Anda kerasa pengen meludah, meludahlah dengan gaya yang elegan di tisu yang sudah Anda siapkan tadi, pura-pura menyeka mulut atau apa gitu, terus cari tempat sampah terdekat dan buanglah tisu malang itu ke situ. Sebaiknya tisu yang sudah ternoda itu jangan Anda masukin kembali ke tas terus Anda bawa pulang, apalagi jika ludah Anda tadi ada sedikit kandungan dahaknya, kasihan orang rumah nanti ketularan.

Tentang cuaca. Pertama datang di Auckland, seorang kawan sempat berpesan, dalam satu hari, di Auckland bisa terjadi 4 musim sekaligus. Ini tentulah statement yang lebay, tapi makusdnya adalah cuaca di Auckland itu bisa berubah dengan sangat cepat. Saran yang paling umum adalah rajin-rajinlah mengecek ramalan cuaca. Dan jika ramalan cuaca mengatakan hari ini akan hujan sementara kondisi riil panas, jangan terus yakin bahwa ramalan cuaca itu keliru, kemudian Anda keluar rumah hanya pakai celana pendek dan singlet.

Ketimbang payung, saya lebih menyarankan Anda untuk menyiapkan jas hujan tipis saja. Bukan apa-apa, survei membuktikan hujan di Auckland itu lebih sering disertai angin kencang yang arah datangnya berubah-ubah. Membawa payung, apalagi payung yang ecek-ecek boleh dapat gratisan dari membuka rekening di bank, Anda berpotensi sengsara karena payung itu tidak akan berumur panjang. Somplak kena angin.

Tentang uang jaminan untuk kos-kosan. Ketika datang ke Auckland, saya merasa jadi orang kaya karena bawa uang saku saya itung-itung cukup untuk hidup dua bulan. Faktanya, dalam 4 hari sangu saya langsung ludes. Pangkal persoalannya adalah karena untuk menyewa apartemen di sini, diberlakukan sistem uang jaminan yang besarannya sungguh membuat saya terpana. Sejauh yang saya tahu, sistem sewa apartemen di sini basisnya adalah mingguan, bukan bulanan seperti kos-kosan di Jakarta. Dalam kasus saya, tarif apartemen perminggu adalah 160 dollar belum termasuk listrik dan internet. Mesti bayar untuk dua minggu ke depan, plus aplikasi 100 dollar, dan itu tadi, uang jaminan 800 dollar (yep, biaya hidup di Auckland memang mahal). Jadi, hanya untuk urusan akomodasi saja, saya yang tadinya merasa kaya, mendadak sontak langsung miskin merana. Memang sih, uang jaminan yang 800 dollar tadi akan dikembalikan jika kita keluar dari apartemen. Tapi, di apartemen yang baru nanti, tuh duit bakalan harus dipakai lagi untuk bayar uang jaminan, begitu seterusnya. Dus, tuh duit baru benar-benar bisa dipegang sebagai duit jika nanti kita sudah pulang untuk selamanya ke Indonesia, atau kita memutuskan untuk tinggal di mesjid nemenin pak marbot mesjid. Problemnya, di sini nggak ada mesjid.


Saya kira segini dulu. Masih ada beberapa hal lain sebetulnya, tapi tulisan ini saya lihat sudah terlalu panjang dan tangan saya juga sudah pegel ngetik. Nanti di kesempatan yang lain, Insya Allah saya tambahin lagi. Sekian, semoga bermanfaat.


Sabtu, Februari 25, 2012

Sate Thailand yang bikin trauma

Kalau kebetulan sedang jalan-jalan di pusat kota Auckland, terus perut lapar minta diisi, makanan Asia yang paling sering saya jumpai sejauh ini adalah masakan Jepang, China, Thailand, dan Malaysia. Ada juga warung makan Korea, bahkan Vietnam. Rumah makan Indonesia? Hanya sedikit saja, itupun pelayannya orang China dengan Bahasa Mandarin ketika mereka saling bicara.

Selain jumlah rumah makan Indonesia yang jadi minoritas di antara rumah makan Asia lainnya, makanan mateng di sini juga amboi mahalnya.

Alkisah, hari Minggu (19/2) lalu saya jalan ke downtown. Perut keroncongan, dan setelah muter-muter sejenak, ketemulah dengan rumah makan Thailand. Di situ, sate ayam satu porsi isinya cuma 4 tusuk dibandrol 9 dollar, belum nasi putih 2 dollar. Untung minum air putih boleh gratis. Display gambarnya sih indah, dan sepertinya rasanya juga menjanjikan. Tapi faktanya, rasa aslinya... jangan tanya. Pada gigitan pertama, saya langsung penasaran dan pengen kenalan sama kokinya. Sungguh saya salut atas kepercayaan diri yang begitu tinggi dari si koki. Berani-beraninya, masakan ndak jelas rasanya begitu buka warung makan. Kalau Pak Bondan Winarno sampai bilang tuh sate maknyus, saya bersumpah kredibiltas dia di mata saya bakalan habis tak bersisa.

Jika saya disuruh milih statement mana yang lebih saya dukung kebenarannya, apakah (a). Bapak Dr. Ir. H. Fauzi Bowo beneran bisa mengatasi banjir Jakarta; ataukah (b). sate ayam Thailand tadi enak rasanya; saya bakalan pilih (a) betapapun akal sehat saya tetap sulit menerima.

Karena terbatasnya makanan mateng dengan rasa Jawa-Indonesia, dan kalaupun ada  harganya juga sudah pasti mahal, maka pilihan paling masuk akal buat PNS tugas belajar dengan beasiswa paspasan seperti saya tentulah masak sendiri. Tersebutlah di jalan Karanghape, kira-kira 15 menit jalan kaki dari apartemen saya di Whitaker Place, ada toko supermarket yang melayani kebutuhan sehari-hari orang Asia. Namanya Lim Chhuor. Dari namanya saja, sudah jelas ni toko bukan milik orang Sunda. Tapi, inilah pilihan terbaik yang tersisa untuk belanja beras, sayur, dan bumbu-bumbu dapur. Kalau untuk orang dari negara-negara Asia lain banyak jenis dan ragam item yang dijual di situ, untuk kita orang Indonesia saya hanya melihat mie instan merek Sedap dan Kecap manis ABC. Bumbu instan merek Bamboe yang di Rotterdam dulu gampang saya temukan, di sini sama sekali nggak ada. Paling mentok adalah bumbu rendang merek Indofood , itupun sedikit banget, letaknya nyempil di antara tumpukan bumbu instan masakan khas Thailand, China, Jepang, dan Malaysia.

Apa ya yang salah dengan negaraku, sampai-sampai soal makanan saja, baik yang matengan mapun yang mentah, kita seperti dianggap tidak ada. China yang paling mendominasi, saya masih oke, secara dia negara dengan penduduk terbesar dan paling menyebar di dunia. Jepang, saya masih enggak apa-apa deh karena negaranya memang termasuk negara yang disegani mengingat kemajuan dan kekayaannya.

Tapi kalau dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, Vietnam, terus warung makan Indonesia kalah jumlah, kok saya sebetulnya rada-rada nggak ikhlas. Kita ini kurang apa coba. Secara geografis, dibandingkan dengan tiga negara itu, kita paling dekat dengan Selandia Baru. Jumlah penduduk kita juga paling besar, jauh lebih besar bahkan jika jumlah ketiganya digabungkan. Penduduk miskin kita saja  kalau dibandingkan dengan total populasi Malaysia masih banyakan orang miskin kita (sekadar catatan, penduduk miskin kita hingga sekarang masih ada di kisaran 30juta jiwa, sementara total populasi Malaysia hanya 29 juta).

Ayolah, Saudara-saudaraku orang Minang, Aceh, Manado, Sunda, dan bagian lain dari Nusantara. Datanglah ke Auckland dengan membawa kekayaan kuliner kita yang sungguh tiada duanya. Bukalah warung makan di sini, dan tunjukkan pada mereka bahwa sate a la Thailand yang aneh rasanya tadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan citarasa sate kambing madura, rendang, ayam tangkap, tongseng, ayam betutu, atau ikan bumbu woku, dll, dll yang sungguh menggugah selera.

Yakin deh, kekayaan kuliner kita ini sebetulnya hanya kurang promosi saja. Tahukah Anda bahwa nasi goreng adalah masakan sangat populer di antara orang asing dan para bule? Padahal, kalau saya disuruh buat peringkat 100 masakan Indonesia paling nikmat, nasi goreng mah paling mentok ada di ranking 93.

La wong sama nasi goreng aja orang-orang asing itu sudah manggut-manggut keenakan, gimana kalau mereka nemu bebek goreng cabe ijonya Bebek Kaleyo, atau konro bakarnya Maming Daeng Tata? Mungkin, di gigitan pertama, mereka akan langsung orgasme saking nikmatnya.

Rabu, Februari 22, 2012

Jadi pejalan kaki di Auckland: ikhlas vs terpaksa

Tarif parkir bikin klenger
Buat Korpri kelas kambing yang sedang prihatin menjalani tugas belajar seperti saya, yang meng-gantungkan hidup hanya dari duit beasiswa pemerintah yang besarannya tidak seberapa, dan konon di setiap akhir bulan harus banyak memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kiriman tidak tertunda, pilihan untuk mobilitas di Auckland hanya ada dua: terpaksa menjadi pejalan kaki, atau ikhlas menjadi pejalan kaki (maaf, kalimat ini sepertinya terlalu panjang dan kebanyakan "yang").

Naik mobil sendiri, selain “mobile sopo?”, juga parkir di sini adalah aduhai mahalnya. Naik bus, selain harus keluar duit, saya bilang juga kurang ekonomis karena kotanya sebetulnya kecil, kemana-mana bisa dijangkau dengan jalan kaki. Sementara, naik sepeda bukanlah pilihan karena topografi kota ini yang berbukit-bukit. Enak kalau pas turun, tinggal ngerem. La kalau pas nanjak, padahal tanjakan itu banyak yang levelnya sama dengan Gadog menuju Puncak atau Gombel ke arah Srondol di Semarang? Wong bawa badan sendiri saja sepertinya napas nyaris putus, apalagi mesti pakai acara nggowes sepeda. Tukang becak di Jogja yang punya pengalaman kerja 10 tahun juga bakalan nyerah mending jadi penyanyi boyband daripada disuruh nggenjot sepeda nanjak begitu.

Baru empat hari di sini, saya sudah jadi tukang jalan kaki dan kalau di jidat saya dipasang spedometer, mungkin penunjukan angkanya sudah ada kalau 15 kilometer. Kebanyakan dalam rangka belanja untuk keperluan di apartemen seperti bantal dan sprei (karena kedua barang itu tidak disediakan oleh pihak pengelola), beras, telur dan kebutuhan dapur lainnya, dan barang remeh temeh seperti gunting kuku dan hanger baju. Ke mana-mana jalan, naik turun, ngalor ngidul ngetan ngulon, yang hingga detik ini selalu berakhir dengan pergelangan kaki nyeri dan betis kriting.


Tanjakannya selevel dengan Gadog-Puncak
Untungnya (*kapan orang Jawa nggak untung?), jadi pejalan kaki di Auckland itu seperti jadi rombongan moge di Jakarta. Dapat prioritas pertama. Kalahnya hanya sama pemadam kebakaran dan ambulan. Seperti sudah saya singgung di postingan sebelumnya, pemerintah kota ini memang sepertinya mendorong sebanyak mungkin warganya untuk menjadi pejalan kaki. Beda banget sama Jakarta yang mendorong warganya untuk jadi biker dan bawa mobil pribadi betapapun macetnya, la wong kalau naik angkot malah diperkosa, jadi pejalan kaki juga dilabrak Avriani Susanti.

Bukti bahwa pejalan kaki prioritas, yang langsung nampak jelas, adalah sangat nyamannya jalur pedestrian. Lebar, bersih, nggak ada jebakan lobang, di beberapa lokasi juga terlindungi walaupun Auckland bukanlah kota yang panas (meski juga tidak dingin-dingin amat). Di setiap tempat penyeberangan, ada traffic light yang bisa dipencet kalau orang mau menyeberang, dan ketika lampu untuk penyeberang menyala hijau, kendaraan dari segala arah harus berhenti. Di sini, menabrak pejalan kaki, apalagi di zebra cross, adalah kejahatan serius dengan ancaman penjara maksimal. Jadi pejalan kaki di Auckland tidak harus ngosngosan memanjat sekian anak tangga, menyeberang, untuk kemudian menuruni lagi sekian anak tangga dengan resiko di jembatan itu ditodong preman.

Bukti lain adalah tersedianya banyak fountain, atau keran air yang airnya langsung bisa diminum, dan dapat diakses gratis oleh siapapun juga (kalau di Wonogiri sana, pas musim kemarau, keran model beginian pasti diantri orang untuk dipakai mandi). Lalu, kepada pejalan kaki yang kecapekan, jangan khawatir, selalu tersedia kursi panjang untuk duduk sekadar melepas lelah atau baca novel. Tidak ada ceritanya trotoar di sini dikangkangi warung tenda pecel lele, parkir liar, atau diserobot biker.

Maka, ketika di Jakarta jadi pejalan kaki adalah pilihan terakhir karena mau pakai mobil nggak punya mobil, mau naik taksi nggak punya duit, mau naik angkot takut diperkosa; menjadi pejalan kaki di Auckland adalah pilihan pertama. Banyak barengan, bisa sambil cuci mata karena selalu saja ada gadis-gadis cantik nan molek--atau kalau Anda adalah perempuan, tentu yang saya maksud adalah ada cowok ganteng lagi keren--yang papasan atau kita berjalan di belakangnya. Adalah pemandangan yang teramat biasa ketika ada mobil yang sedang melaju telah berada dekat dengan zebro cross, kemudian si pengemudi melihat ada pejalan kaki yang akan melintas, dia menghentikan mobilnya untuk memberi kesempatan bagi si pejalan kaki menyeberang duluan.

Begitulah. Dengan jutaan kenikmatan menjadi pejalan kaki di Auckland sini, saya kok yakin, tidak dalam waktu lama, Insya Allah, aktivitas yang terpaksa saya lakukan dalam empat hari belakangan ini berubah menjadi sesuatu yang sangat bisa saya nikmati. Sementara itu, biarlah saya nikmati dulu nyeri di pergelangan kaki dan pegel di betis. Adalah sebuah blunder, memang, kenapa saya lupa memasukkan counterpain dalam list barang bawaan. Padahal beras, mie sedap, kopi abc susu, balsem caplang, albothyl obat andalan untuk sariawan, bahkan jamu tolak angin saja saya ingat-ingat betul.

Senin, Februari 20, 2012

Kulonuwun, Auckland

Dalam hidup saya, ada tiga negara yang sejak lama paling ingin saya kunjungi. Pertama, Belanda; kedua, Suriname; ketiga, Selandia Baru.

Belanda, karena saya dulu sungguh penasaran, seperti apa negara yang telah menjajah negara kita selama tiga setengah abad. Juga penasaran, semaju apa negara yang katanya bahkan sudah ada universitasnya ketika bangsa kita masih menyembah batu dan pohon, dan belum ngerti pakai celana (sekadar catatan: Universitas Leiden di Belanda sudah ada sejak tahun 1575. Tahun segitu, di Jawa, Raden Sutawijaya baru pusing buka hutan untuk dijadiin kerajaan yang kelak dikemudian hari menjadi Kerajaan Mataram Islam).

Suriname, karena di negara nun jauh di Amerika Latin ini bermukim banyak orang keturunan Jawa. Beberapa orang terpenting di pemerintahan dan parlemen bahkan adalah keturunan Jawa. Didi Kempot konon sangat terkenal dan dipuja bak Justin Bieber di sana. Mungkin ini adalah perasaan sentimentil saya saja, karena siapapun yang mengenal saya tentu tahu saya ini orang Jawa. Setiap kali saya membayangkan orang-orang keturunan Jawa di Suriname, setiap kali pula saya membayangkan betapa nenek moyang mereka, empat atau lima generasi di atas mereka yg barangkali ada pertalian darah dengan kakek buyut saya, dulu sungguh prihatin hidupnya. Menyeberangi samudra ribuan kilometer berbulan-bulan, banyak yang sakit bahkan meninggal di atas kapal dan sudah pasti mayatnya langsung dibuang ke laut, dan setiba di sana hanya untuk menjadi kuli kontrak yang diperlakukan tidak lebih baik dari budak.

Dan, Selandia Baru? Alasannya mungkin sangat sederhana. Syahdan, suatu hari saya menyaksikan tayangan tivi tentang sebuah negara yang terpencil di pojokan Samudera Pasifik dan dekat-dekat kutub selatan, alamnya masih perawan, penduduknya sangat sedikit, tapi juga maju bukan main. Dari situ kemudian saya berangan-angan, ah, seandainya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri.

Alhamdulillah, Belanda pernah saya tinggali meski hanya untuk 12 bulan. Sebelum berangkat ke sana, saya sudah menyimpan kekaguman. Dan ketika saya sudah ada di sana, saya makin terpana. Rasanya, hampir semua yang ada di negara itu merupakan kebalikan Indonesia. Petaninya cuma 4% dari total angkatan kerja (dari hanya 16 juta gelintir penduduk), luas negaranya juga cuma 1/4 pulau Jawa. Tapi mereka adalah eksportir produk pertanian terbesar ke-3 di dunia. Sementara kita, adalah importir produk pertanian terbesar di dunia, padahal petaninya 40% (dari lebih 230 juta orang). Separuh daratannya ada di bawah permukaan laut, tapi mereka tidak pernah kebanjiran; sementara kita adalah pelanggan banjir bahkan di daerah yang jauh di atas permukaan laut. Banyak orang dinegeri itu adalah atheis, tapi pemerintahan mereka bersih dari korupsi; sementara di Indonesia yang hampir semua orang ngaku punya Tuhan, pada jadi maling dan koruptor. Paragraf ini bisa sangat panjang kalau saya terus-teruskan, padahal bukan ini yang hendak saya sampaikan.

Sabtu, 18 Februari 2012. Ini adalah hari di mana akhirnya mimpi saya untuk mengunjungi Selandia Baru terwujud. Setelah selama 18 jam saya jadi mister nobody, sendirian seperti orang ilang di antara banyak orang, akhirnya pesawat Thai Airways yang saya tumpangi sampai pegel dan pantat tepos, mendarat juga di Auckland.

Auckland adalah kota terbesar di Selandia Baru yang dihuni oleh lebih dari sepertiga dari total populasi negara ini, padahal dia bukan Ibu Kota negara (#sekadar catatan: Ibu kota negara ini adalah Wellington. Kasusnya kayak Australia, yang beribu kota di Canberra, tapi kota terbesarnya adalah Sydney). Tapi ya, jangan bandingkan dengan Jakarta. Yang berjumlah sepertiga itu hanyalah tak lebih dari 1,4 juta orang, karena total penduduknya juga cuma 4,4 juta. Kebayang kan, bagaimana sepinya bagian lain dari negara ini?
Setelah cek in di penampungan sementara untuk calon mahasiswa yang baru datang, atas kebaikan hati seorang kawan yang kebetulan sudah setahun tinggal, saya langsung diajak keluar jalan-jalan keliling kota. Kesan pertama saya, kota ini alangkah rindangnya. Di mana-mana pohon. Bahkan di samping gedung pencakar langit, ada hutan. Saya langsung heran, lokasi strategis tengah kota, harga tanah permeter persegi pastilah aduhai mahalnya, bukannya dibangun mal malah dijadikan hutan. Jalan cuma sebentar langsung nemu taman atau public space yang bisa diakses gratis. Makanya, no wonder kota ini dinobatkan sebagai salah satu kota paling layak huni di dunia.

Sebagaimana layaknya kota lain di negara yang sudah beradab, pemerintah memberi prioritas nomor satu buat pejalan kaki. Maka, jangan bandingkan Jakarta yang urut-urutan penguasa jalan adalah: Presiden-Wapres, konvoi moge yang pakai voorijder, konvoi motor FPI dan FBR yang boncengan tiga nggak pakai helm terus mobat-mabitin galah bambu, metromini bobrok, bajaj butut, baru diurutan paling buncit adalah ambulan dan pejalan kaki.

Trotoar buat pejalan kaki amboi lapang dan nyamannya, lebarnya jauh melebihi badan jalan untuk kendaraan. Dan di atas itu semua, sudah jelas tidak ada yang dikangkangi sama tenda pecel lele apalagi buat parkir liar yang duitnya entah kemana mengalirnya. Melihat itu semua, saya hanya bisa iri dan patah hati

Sementara, belum banyak yang telah saya eksplor di sini karena saya juga baru 3 hari nyampai. Itupun waktu saya lebih banyak saya habiskan buat belanja kebutuhan ini itu, ngendon di kamar chatting dan Skypean sama istri dan anak-anak, untuk kemudian tidur karena jetlag kok rasanya belum ilang-ilang. Mudah-mudahan saya bisa belajar banyak di sini, bukan saja dari kampusnya, tapi juga dari orang-orangnya yang--harus diakui--masih lebih pintar dari saya dan mungkin juga Anda.