Tentang mata uang. Untuk ukuran pegawai Bappenas, dalam hal bepergian ke luar negeri, saya termasuk jarang. Makanya untuk urusan satu ini saya katrok banget. Hanya karena dulu pernah ke Australia nyari dollar Australia mudah, dan pernah ke Belanda nyari Euro mudah, saya langsung mengambil kesimpulan bahwa nyari dollar Selandia Baru juga akan sama mudahnya. Seminggu sebelum berangkat, saya ke money changer Ayu Masagung di Kwitang, bawa duit sekian juta, dengan perasaan riang gembira. Ngantri aduhai panjangnya namun dengan semangat yang masih tetap membara. Tapi, begitu sampai di loket, saya langsung syok dibilangin bahwa mereka tidak punya stok NZD (dalam perdagangan valas, Dollar Selandia Baru disingkat dengan NZD). Ayu Masagung gitu lo, money changer paling top di Jakarta, nggak punya NZD. Harus kemana lagikah gerangan saya berburu NZD? Besokannya lagi ke sana, tetep nggak ada stok, sampai tiga kali, dan saya putus asa.
Belakangan barulah saya tahu bahwa untuk mata uang yang bukan mainstream seperti NZD, stok baru ada jika ada yang jual ke si money changer. Padahal, sangat jarang orang yang jual, dan kalau adapun juga nggak banyak nilainya. Jadi, kalau Anda ke money changer nyari Birr Ethiopia misalnya, terus Anda bawa duit Rupiah 100 juta, percayalah, Anda bakalan keluar dari money changer dengan raut muka bak PNS di tanggal tua. Raut muka patah hati, maksud saya.
Atas nasehat seorang teman, dan sekarang ini sayapun menasehati Anda, sebetulnya kita tidak selalu harus membawa Dollar Zimbabwe apabila kita mau ke Zimbabwe. Cukup Rupiah yang Anda punya tukarkanlah saja dengan mata uang mainstream yang diterima di semua negara, misalnya US Dollar atau Euro, untuk kemudian sesampai di sana ditukar lagi dengan mata uang negara yang bersangkutan. Di bandara internasional tempat Anda mendarat nanti, sudah hampir pasti ada money changer. Tukarkan saja secukupnya, karena biasanya nuker duit di bandara tuh kena fee lumayan dan perhitungan kursnya rada merugikan meski nggak banyak, dan sisanya nanti bisa ditukar di pusat kota yang kursnya lebih menguntungkan.
Tentang colokan listrik. Ini persoalan sepele yang bisa bikin orang mati gaya. Bayangkanlah sebuah situasi di mana Anda baru mendarat, cek in di kamar, sebetulnya ada sambungan internet dengan broadband sempurna, terus Anda ingin mengirim pesan via Yahoo! Messenger atau telepon keluarga di tanah air mengabari Anda telah tiba di tujuan dengan selamat, tapi ndilalah batere laptop dan hape sekarat, dan begitu mau nyolokin charger ke stop kontak ternyata colokannya beda dengan colokan yang Anda punya.
Colokan dgn 3 kaki, menggunakan standar Australia
|
Beda sama colokan listrik di Nganjuk yang cuma pakai dua kaki, colokan listrik di Selandia Baru adalah tiga kaki. Maka, jangan lupa untuk memasukan konverter colokan dalam list barang bawaan Anda. Tentu di sini banyak yang jual. Tapi, selain mahal, membawa konverter dari rumah adalah sangat disarankan agar langsung bisa dipakai begitu tiba di sini sementara Anda masih belum sempat ke toko listrik. Dan, jika perangkat elektronik Anda colokannya sudah tiga kaki, jangan buru-buru percaya diri, karena jangan-jangan colokan itu adalah colokan dengan standar Inggris atau Amerika Serikat. Tetep saja bakalan nggak bisa masuk. Saran paling simpel adalah, bawalah konverter colokan universal yang bisa dibeli di Ace Hardware (ini sekadar contoh nama toko yang jual, nggak ada maksud untuk ngiklan. Kalau di warung sayur di sebelah rumah Anda ada yang jual, ya silakan saja kalau mau beli di situ).
Tentang meludah dan buang ingus. Ingat-ingatlah kembali, apakah Anda termasuk orang yang--maaf--sedikit-sedikit pengen meludah dan buang ingus sembarangan jika sedang flu? Jika iya, mungkin Anda akan mengalami sedikit kesulitan untuk beradaptasi di sini. Indonesia adalah surga bagi orang dengan hobi--yang asyik buat yang melakukan tapi nyebelin buat yang ngelihat--ini karena aktivitas untuk itu bisa dilakukan di hampir semua tempat: di pinggir jalan, di got, di badan jalan sambil nyetir motor, bahkan di dalam bus. Di sini sejauh yang saya amati, tempat untuk itu hanyalah di toilet. Anda akan risih dilihatin orang jika meludah di pinggir jalan, diomel-omelin orang jika meludah di dalam bus, dan sudah pasti bakalan ditangkap polisi jika meludah di muka sopir busnya. Masih mending kalau Anda tidak dikasih bonus tonjok dari si Abang Supir yang rata-rata gede keker dan sangar.
Tips yang saya sarankan, bawalah tisu tangan kemanapun Anda bepergian. Jika Anda kerasa pengen meludah, meludahlah dengan gaya yang elegan di tisu yang sudah Anda siapkan tadi, pura-pura menyeka mulut atau apa gitu, terus cari tempat sampah terdekat dan buanglah tisu malang itu ke situ. Sebaiknya tisu yang sudah ternoda itu jangan Anda masukin kembali ke tas terus Anda bawa pulang, apalagi jika ludah Anda tadi ada sedikit kandungan dahaknya, kasihan orang rumah nanti ketularan.
Tentang cuaca. Pertama datang di Auckland, seorang kawan sempat berpesan, dalam satu hari, di Auckland bisa terjadi 4 musim sekaligus. Ini tentulah statement yang lebay, tapi makusdnya adalah cuaca di Auckland itu bisa berubah dengan sangat cepat. Saran yang paling umum adalah rajin-rajinlah mengecek ramalan cuaca. Dan jika ramalan cuaca mengatakan hari ini akan hujan sementara kondisi riil panas, jangan terus yakin bahwa ramalan cuaca itu keliru, kemudian Anda keluar rumah hanya pakai celana pendek dan singlet.
Ketimbang payung, saya lebih menyarankan Anda untuk menyiapkan jas hujan tipis saja. Bukan apa-apa, survei membuktikan hujan di Auckland itu lebih sering disertai angin kencang yang arah datangnya berubah-ubah. Membawa payung, apalagi payung yang ecek-ecek boleh dapat gratisan dari membuka rekening di bank, Anda berpotensi sengsara karena payung itu tidak akan berumur panjang. Somplak kena angin.
Tentang uang jaminan untuk kos-kosan. Ketika datang ke Auckland, saya merasa jadi orang kaya karena bawa uang saku saya itung-itung cukup untuk hidup dua bulan. Faktanya, dalam 4 hari sangu saya langsung ludes. Pangkal persoalannya adalah karena untuk menyewa apartemen di sini, diberlakukan sistem uang jaminan yang besarannya sungguh membuat saya terpana. Sejauh yang saya tahu, sistem sewa apartemen di sini basisnya adalah mingguan, bukan bulanan seperti kos-kosan di Jakarta. Dalam kasus saya, tarif apartemen perminggu adalah 160 dollar belum termasuk listrik dan internet. Mesti bayar untuk dua minggu ke depan, plus aplikasi 100 dollar, dan itu tadi, uang jaminan 800 dollar (yep, biaya hidup di Auckland memang mahal). Jadi, hanya untuk urusan akomodasi saja, saya yang tadinya merasa kaya, mendadak sontak langsung miskin merana. Memang sih, uang jaminan yang 800 dollar tadi akan dikembalikan jika kita keluar dari apartemen. Tapi, di apartemen yang baru nanti, tuh duit bakalan harus dipakai lagi untuk bayar uang jaminan, begitu seterusnya. Dus, tuh duit baru benar-benar bisa dipegang sebagai duit jika nanti kita sudah pulang untuk selamanya ke Indonesia, atau kita memutuskan untuk tinggal di mesjid nemenin pak marbot mesjid. Problemnya, di sini nggak ada mesjid.
Saya kira segini dulu. Masih ada beberapa hal lain sebetulnya, tapi tulisan ini saya lihat sudah terlalu panjang dan tangan saya juga sudah pegel ngetik. Nanti di kesempatan yang lain, Insya Allah saya tambahin lagi. Sekian, semoga bermanfaat.

