Kamis, April 10, 2008

Ayo, temenin saya isep racun


Rasanya sudah tidak terhitung lagi berapa kali saya memohon kesadaran Pak AN (kolega senior satu ruangan di kantor) agar tidak morokok di ruangan kerja kami. Saya telah berusaha untuk menyadarkan dia, mulai dari cara yang sangat halus dengan menunjukkan artikel di koran mengenai bahaya yang mengancam perokok pasif; menyindir dia dengan memakai masker penutup hidung dan mulut manakala dia merokok di ruangan; hingga cara yang menurut saya paling maksimal, yaitu mengungkapkan keluhan saya secara eksplisit. Namun semua upaya saya itu agaknya sia-sia. Dia tidak bergeming. Jawabannya juga kurang lebih sama:”Makanya Her, kamu merokok saja sekalian”. Waduh, susah...

Bagi saya, menyuruh saya ikut-ikutan merokok adalah solusi yang nggak mutu. Selain karena alasan penghasilan yang pas-pasan, juga karena prinsip hidup saya yang tidak mau berurusan dengan asap rokok.

Agaknya perlu dibangkitkan kesadaran bahwa merokok bukan merupakan aktivitas pribadi, melainkan aktivitas sosial. Tidak seperti makan pisang goreng atau mengulum permen yang jika ada racunnya maka si pemakan atau pengulum itulah, the one and only, yang jadi korban dan nggak bawa-bawa orang lain untuk nemenin. Ketika orang merokok, mau tidak mau orang lain akan ikut menghirup asap yang dihasilkannya. Asap yang “terpaksa” diisap oleh perokok pasif bukan hanya yang keluar dari mulut dan hidung si perokok, tetapi juga dari --dan menurut para pakar kesehatan justru inilah yang lebih berbahaya-- bara tembakau yang terbakar diujung rokok.

Usaha untuk menumbuhkan kesadaran semacam ini menjadi semakin terasa berat oleh karena target sasarannya adalah hampir semua lapisan masyarakat di Indonesia. Tidak hanya para tukang becak dan kuli panggul di pasar-pasar, bahkan para pejabat instansi pemerintah dan eksekutif perusahaan swasta yang notabene lebih berpendidikan pun juga melakukan hal yang sama. Mereka bahkan lebih parah lagi, karena apa yang dilakukan adalah merokok dalam ruangan ber-AC dan tertutup rapat sehingga sirkulasi udara tidak sempurna.

Di negara-negara maju, konon kesadaran tersebut sudah ada dan membudaya. Buktinya, si perokok akan meminta ijin orang yang duduk di sebelahnya,”Boleh saya merokok?” Dan jika orang itu keberatan, si prokok akan mengurungkan niatnya. Saya berangan-angan kapan hal itu terjadi di Indonesia.

Salah seorang kawan saya, sebut saja namanya Wahyu (31), barangkali bisa disebut sebagai satu contoh korban dari betapa ganasnya asap rokok di ruang kerja ber-AC. Beberapa bulan terakhir dia harus bolak-balik ke rumah sakit karena ada yang tidak beres dengan paru-parunya. Penyebab sakitnya itu memang bukan semata-mata karena asap rokok. Namun demikian, kondisi ruang kerja yang tidak sehat (satu ruangan sempit, tertutup rapat, ber-AC, tidak memiliki fasilitas exhaust fan, sementara perokok berat yang ada di dalamnya lebih dari 3 orang) menurut penuturan dokter yang merawatnya juga memiliki andil yang sangat signifikan bagi semakin parahnya kondisi kesehatan Wahyu.
Dengan menulis ini, saya tidak sedang menyuruh orang untuk berhenti merokok, karena buat saya keputusan untuk menjadi perokok atau tidak, terletak pada diri pribadi masing-masing. Saya hanya berharap agar para pembayar pajak dari cukai rokok itu tidak memaksa orang lain ikut mengisap racun yang dia produksi.

2 komentar:

Rusni mengatakan...

I couldn't agree more deh... Sampe pingin nangis lho Mas ngingetin orang agar jangan merokok sembarangan. Padahal aku nih kan belum pernah hamil...belum punya anak...(belum punya suami..., ga punya pacaaar... lhooo, kok malah curhat yg lain...) Mestinya mereka sadar dong kalo asap rokok tuh ga sehat juga buat kesehatan rahim perempuan... huuuuh.... (meskipun aku sendiri ga tau penjelasan medisnya)....Tapi ku anggep aja gitu, huuuh...

dian mengatakan...

walah... kangmas Hari njih ngeblog to?
btw, dalem nembe berusaha keras berhenti merokok kok mas. Awrat sanget, but i'll try.
halah! piye to, bahasaku iki..