Kamis, Desember 29, 2011

Macet itu indah, maka nikmatilah*

Tidak ada apapun di dunia ini yang diciptakan Tuhan untuk menjadi sia-sia. Itu bukan kata saya. Itu adalah kata Edi Santoso, teman kuliah saya di Komunikasi Undip dulu yang kini menjadi calon profesor di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto.

Nyamuk, misalnya. Ia diciptakan oleh Tuhan untuk menjaga keseimbangan ekosistem global. Beberapa spesies binatang maupun tumbuhan, seperti cicak, katak, kelelawar, dan kantong semar  memerlukan nyamuk atau larvanya untuk mempertahankan eksistensi mereka. Belatung adalah spesies penghancur bagi organisme yang telah mati. Bisakah Anda bayangkan, seberapa luas kuburan dibutuhkan untuk menampung miliaran manusia yang telah meninggal sejak peradaban manusia muncul sekian ribu tahun yang lalu hingga sekarang, jika mayat-mayat itu tetap utuh.

Contoh lain, Andika Kangen Band. Ia mungkin diciptakan oleh Tuhan untuk membuat kita optimis bahwa tampang ala kadarnya bukanlah halangan untuk tetap berkarya.

Pun macet yang hari demi hari kian membuat hidup di Jakarta bagaikan di surga. Kadang saya berpikir, betapa Bang Foke adalah gubernur dengan visi masa depan yang sangat brilian. Saya percaya, macet dan banjir Jakarta sesungguhnya adalah bagian dari visi itu. Tujuannya adalah untuk mengerem laju urbanisasi penduduk menuju Ibu Kota tercinta.

Dengan upaya sangat keras si abang dan jajarannya untuk menjadikan Jakarta tambah macet dan banjir saja, menurut data BPS DKI, laju pertumbuhan penduduk tahun 2000-2010 mencapai 1,40 persen per tahun yang sebagian besar disumbang oleh urbanisasi manusia dari kampung yang mengadu nasib ke Jakarta. Bayangkan kalau Bang Foke diam saja, dan jalan-jalan Jakarta dibiarkan lancar dan bebas banjir, pasti urbanisasi ke Jakarta bakalan makin menggila.

Makanya, daripada stres mikirin macet Jakarta, saya mengajak Anda untuk mencoba mengambil pelajaran dan memetik hikmah dari padanya. Menurut saya, setidaknya ada empat hikmah yang bisa kita peroleh dari macetnya Jakarta.

Pertama, melatih kesabaran. Macet adalah laboratorium sempurna untuk kita belajar sabar. Kota Harapan Indah - Menteng yang kalau nggak macet paling mentok hanya butuh 40 menit, dengan macet level 7 saja maka akan dibutuhkan setidaknya 1 jam 10 menit pakai motor, dan 2 jam pakai mobil. Kesabaran kita diuji di situ, dan bukankah innallaha ma’ashobirin (sesungguhnya, Allah menyukai orang yang sabar).

Kedua, belajar memaafkan. Kita hanya mungkin memaafkan hanya jika ada orang berbuat salah kepada kita. Setuju? Nah, di tengah kemacetan parah atau lalu lintas yang padat merayap, orang berbuat kesalahan akan sangat mudah kita jumpai. Banyak, tidak hanya ada. Paling sering adalah biker ngawur yang menyalip nggunting habis itu ngerem mendadak, atau biker dodol yang menyangka bahwa spakbor belakang atau knalpot motor kita adalah alat untuk menghentikan laju kendaraan dia. Belajarlah untuk memandang dia dengan senyum, maafkanlah kesalahannya. Ingatlah bahwa dia juga punya anak-anak yang lucu-lucu di rumah, berbaik sangkalah bahwa mungkin dia sedang kebelet beol dan kadung sudah kentut basah di celana.

Ketiga, indahnya berbagi. Uztad Yusuf Mansur dan Ustadz Maulana jamaah oh jamaah selalu berpesan kepada kita untuk jangan enggan berbagi. Berbagi itu tidak hanya uang. Bisa saja sebidang jalan ukuran 2 x 1 meter yang disamping motor kita, juga diisi oleh 10 motor yang lain. Adalah rejeki kita jika ternyata di depan kita ada cewek bohay yang membonceng motor dengan tipe boncengan yang rada nungging gitu (mudah-mudahan Anda bisa membayangkan). Jadi ada pemendangan gratis. Lagian, bukankah jalanan yang lega, sepi lagi lengang, cenderung membuat kita ngebut dan kurang hati-hati. Kecelakaan fatal hanya mungkin terjadi di jalanan yang kendaraan-kendaraannya bisa dipacu kenceng. Kalau di tengah kemacetan yang motor hanya bisa dipacu 5 km/hari paling-paling spakbor somplak atau kaki keinjak. Tidak mungkin fatal.

Keempat, memacu kreativitas. Jalanan yang lancar tanpa hambatan hanya akan membuat kita manja dan pada akhirnya membuat perjalanan kita monoton begitu-begitu saja. Dengan macet, otak kita akan bekerja dinamis yang pada gilirannya kreativitaspun muncul. Misalnya, jika Anda adalah biker, dan di depan, kanan, dan kiri Anda penuh dengan mobil. Kreativitas Anda akan terpacu untuk mencari jalan keluar yang sebaik-baiknya. Naik trotoar, melawan arus, melompat got, memanggul motor (kalau Anda kuat) adalah bagian dari kreatvitas yang hanya akan muncul di tengah kemacetan.

Jadi, Saudara-saudaraku, macet itu indah. Percayalah. Terima kasih, Bang Foke, sungguh Anda adalah idola saya.

*Ditulis jam 5 sore, sehabis hujan, sambil bersiap menikmati lalu lintas Menteng-Kota Harapan Indah yang pastilah amboi so sweetnya.