Senin, Februari 14, 2011
Lebih penting mana, hak berorganisasi atau hak hidup tenang?
Jadi, jika Anda mengaku muslim, lalu perilaku Anda justru membawa permusuhan alih-alih perdamaian, justru meresahkan bukannya membawa ketentraman, justru menebarkan kebencian alih-alih kasih sayang; maka percayalah, ada yang salah dengan cara Anda memahami agama yang Anda anut.
Ada seorang pelacur yang dibilang Rasulullah bakalan masuk surga. Sebabnya, “hanya” karena dia telah berbaik hati memberi minum anjing kurap yang nyaris mati? Bukan betapa indahnya surga yang saya mau bahas di sini, tidak juga seseksi apa bodi pelacur itu. Bukan. Saya cuma mau bilang, bahkan kepada anjing kurap yang hina, yang air liurnya adalah najis berat, seorang muslim seharusnya menjadi rahmat.
Ada lagi. Dalam sebuah pertempuran pedang satu lawan satu, Ali bin Abi Thalib tinggal menghabisi musuhnya. Cukup satu dorongan ringan, maka ujung pedang beliau sudah akan menembus jantung si musuh. Tapi tiba-tiba musuh itu meludahi Ali. Yang terjadi selanjutnya, beliau justru batal menusukkan pedangnya. “Saya takut membunuh karena dorongan rasa benci, dan bukan karena ikhlas menegakkan jalan Allah”, kata beliau. Si musuh diampuni, dan setelah itu berikrar syahadat karena kagum akan kemuliaan Islam yang terpersonifikasi pada diri Sayyidina Ali. Bahkan dalam perang paling ganas, Islam mengajari kita untuk mengendalikan nafsu.
Dalam Islam yang saya yakini, perang dan kekerasan adalah jalan terakhir jika cara lain sudah tidak ada lagi. Rasulullah berdakwah dengan teladan akan keluhuran budi, kejujuran, dan kasih sayang. Coba deh dicek yang bener, dan Anda akan dapati bahwa perang pada jaman Rasulullah adalah perang yang terpaksa dilakukan either karena diserang duluan atau karena ruang untuk diplomasi sudah tidak ada lagi.
Maka, buat saya, membubarkan ormas anarkhis mungkin bukan satu-satunya jalan, tapi jelas harus dilakukan. Benar, adalah hak setiap orang untuk bebas berorganisasi dan menyatakan pendapat. Tapi, adalah hak setiap orang pula untuk hidup tenang terbebas dari rasa takut. Negara ini negara hukum, maka jangan biarkan ada kelompok orang yang merasa tak tersentuh hukum hanya karena klaim bahwa apapun yang mereka lakukan adalah atas nama Tuhan, dan mereka melakukan itu secara beramai-ramai.
Negara ini punya semua alat yang diperlukan untuk menjamin ketenteraman hidup rakyatnya. Jika ada kelompok orang yang kerjaannya bikin onar, adalah sah dan konstitusional--bahkan wajib--bagi Negara untuk menangkapi orang-orang itu, menjebloskan ke penjara, dan membubarkan organisasinya. Jumlah polisi kita hampir satu setengah juta. TNI, empatratus ribu lebih. Punya bedil, pesawat tempur, kendaraan lapis baja, dan segala jenis senjata. Di atas itu semua, hukum membolehkan mereka menembak atau melakukan kekerasan fisik jika perlu, apabila keselamatan rakyat jadi taruhan.
Jadi, kurang apa lagi? Bubarkan ormas anarkhis. Sekarang!
Rabu, Februari 09, 2011
Peduli yang tidak pada tempatnya
Yang selalu bikin heran, intelijen kita kok seperti tidak punya daya. Anggaran makin gede, teknologi makin canggih, cuma ngadepi modus kuno pengrusakan tempat ibadah saja kok ya terus-terusan kecolongan. Okelah, kalaupun intelijen kita sebegitu lemahnya nggak sanggup mendeteksi potensi gangguan kamtibmas-- yang sebetulnya jauh dari rumit--itu sehingga massa kadung terkonsentrasi, apa polisi yang bersiaga di lapangan itu begitu lamban sehingga tidak sigap meminta tambahan personil agar jumlah mereka seimbang dengan jumlah massa. Wong jaman sekarang lo, teknologi komunikasi makin canggih. Jangankan polisi, tukang tambal ban saja hapenya tiga.
Sementara intelijen dan aparat keamanan kita belum bisa kita andalkan, gini aja deh. Bisa nggak, mulai sekarang, masing-masing kita fokus saja pada diri sendiri? Kalau mau lebih luas dari diri sendiri, paling mentok di level keluarga sajalah. Maksudku, kita fokus saja untuk menjalankan ajaran agama kita masing-masing sesuai dengan yang kita yakini masing-masing.
Stop mikirin orang lain sholatnya bagaimana, puasanya bagaimana, agamanya apaan. Toh Allah sendiri yang nyuruh kita untuk bilang gini: “untukmu agamamu dan untukku agamaku”. La ikra hafiddin. Allah berfirman nggak ada paksaan dalam beragama. Dia saja nyantai lo, la kok Anda malah yang mencak-mencak sama cara orang lain beribadah dan menjalankan agama mereka. Apa hak Anda coba?
Tuhanlah yang paling berhak menilai, ibadah kita diterima atau tidak. Anda tidak punya kapasitas apapun untuk mengatakan bahwa Anda yang paling beriman sementara orang lain kafir. Jadi, sekali lagi berhentilah peduli yang tidak pada tempatnya. Berhentilah mikirin orang lain ibadahnya gimana, agamanya apa. Toh kalau di akherat nanti terbukti bahwa Ahmadiyah beneran sesat, yang masuk neraka juga mereka, bukan Anda. Kalau agama lain ternyata salah dan hanya Islam aliran Anda yang diridhoi Tuhan, toh yang disiksa juga mereka, bukan Anda. Susah amat, sih.
Islam adalah agama yang saya yakini paling bener, dan karena itulah saya menjadi seorang muslim. Saya juga yakin bahwa Islam adalah agama yang hebat, yang akan dijaga Allah dengan tangan Dia sendiri, hingga akhir jaman. Maka, saya tak habis mengerti kenapa ada orang yang sok perkasa, menganggap Islam lemah, sehingga merasa perlu membuat organisasi front pembela.
Bahkan seandainya tak satupun manusia beriman kepada-Nya, tidak setitik debupun Allah akan berkurang Kemahabesarannya. Itu bukan kata-kata saya. Itu kata Pak Busyairi, guru agamaku di SMP Negeri 21 Banyumanik Semarang dulu, yang entah karangan beliau sendiri entah co-past dari mana. Allah nggak butuh disembah, kitalah yang butuh menyembah-Nya.
Coba, sekarang saya tanya. Andai Rasulullah sekarang ini masih ada, kira-kira beliau marah nggak, sosoknya dibikin kartun olok-olok sama orang Denmark? Saya yakin, beliau nggak bakalan marah. Pernah dengar cerita kan, tentang Rasulullah yang tiap kali lewat sebuah rumah diludahi sama si empunya rumah? Beliau stay cool, nyantai. Suatu ketika, Rasulullah lewat rumah itu lagi dan tumben-tumbenan nggak ada yang ngeludahi. Karena penasaran, beliau ketuk pintu rumahnya, dan mendapati orang itu terbaring sakit. Rasulullah menjadi orang pertama yang bezoek, memberikan obat, dan akhirnya menyembuhkannya. Orang itu menyesal tiada terkira, dan di hadapan Rasulullah berikrar syahadat. Diludahi Bro, berkali-kali pula, dan beliau nggak marah. Apalagi cuma kartun olok-olok. Sejuta kartunpun tak bakalan kuasa meruntuhkan kesabaran dan kemualiaannya. Maka, sayapun heran melihat orang yang ngaku umat Muhammad tapi emosian dan nggak sabaran.
Ah, sudahlah. Saya sudah pusing dengan kelakuan Nurdin Halid dan pengurus PSSI, tolong jangan bikin saya tambah pusing. Tolong.
Selasa, Februari 08, 2011
Allahu Akbar plus golok
Adegan itu terekam jelas oleh kamera. Jadi, kalau polisi beneran punya niat menangkap para penyerang, sebetulnya rekaman kamera itu bisa jadi alat yang mujarab. Wong wajah orang itu jelas close up, asal orang-orang itu dari kampung dan kelompok mana juga mestinya gampang ditebak.
Segera kebayang, apa jadinya jika video berita itu diambil BBC dan CNN, terus publik di seantero dunia melihat bagaimana beringasnya orang-orang yang teriak Allahu Akbar sambil bawa golok itu. Kakek nenek saya muslim, orang tua saya muslim, dan saya sendiri--seperti Anda semua telah ketahui-- juga muslim. En toch, melihat berita tadi itu, saya merinding ngeri. Apalagi orang Amerika atau Belanda, yang seumur-umur mengenal Islam dari tayangan-tayangan tivi. Perbuatan itu jelas makin membuat buram citra Islam.
Standar sikap dan perilaku seorang muslim adalah insan kamil bernama Muhammad SAW. Jika Anda ingin jadi orang Islam yang sebenar-benarnya, tirulah tabiat Muhammad. Dan, sikap beliau dalam berdakwah adalah jelas: ANTI KEKERASAN. Jangankan kepada sesama muslim, bahkan kepada Yahudi dan Nasrani, jalan dakwah Anda seharusnya lembut sebagaimana beliau contohkan. Banyak kisah orang Yahudi yang ikhlas bersyahadat setelah merasakan keluhuran budi Rasulullah. Tak terhitung pula cerita orang Nasrani mantap jadi muallaf karena kelemahlembutan dan wisdom para Sahabat. Maka percayalah, menyadarkan Ahmadiyah tidak akan pernah tuntas hanya dengan membakar tempat ibadah, apalagi memukuli dan membunuh jamaah.
“Menundukkan” AS hanya mungkin jika kita mampu membuat mereka terpesona akan keluhuran Islam. Bukan dengan cara instan menubrukkan pesawat ke menara kembar WTC. Tidak pula melalui perang terbuka karena sementara modal kita hanya F16 uzur sebelas biji, mereka punya pesawat tempur teknologi terbaru dalam jumlah yang sama dengan motor di jalan-jalan Jakarta. Memang akan butuh waktu berpuluh bahkan beratus tahun, tapi jangan ngaku umat Muhammad jika Anda bukan orang yang mau belajar sabar.
Jadi penasaran pengen tau, orang-orang yang menyerbu, teriak Allahu Akbar! Kafir!, sambil di tangannya terhunus golok itu kehidupan sehari-harinya kayak gimana. Apa profesi hariannya selain nakut-nakutin orang? Apa benar mereka sholatnya sudah tertib, ibadahnya sudah lurus, nggak main pukul istri di rumah, punya hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar tempat tinggalnya? Apa benar mereka nggak doyan nonton bokep? Apa benar mereka sudah nggak ijo matanya dan netes liurnya lihat Kim Kardashian pakai lingerie?
Kalau begini terus, kapan negara ini maju? Ada sekelompok orang yang merasa punya hak menyebut kelompok lain kafir dan oleh karenanya sah dibunuh dan disiksa. Negara lain sudah makin melesat jauh ke depan dengan temuan-temuan dahsyat di bidang fisika, kedokteran, nanoteknologi, internet berkecepatan tinggi, dan eksplorasi luar angkasa; sementara kita berjalan mundur dari dulu sibuk berantem sesama bangsa sendiri, berbuat anarkhis atas nama Allah. Sungguh, saya patah hati.
