Anda
tentu juga sudah mahfum, durasi puasa tidak ditentukan oleh jam, melainkan oleh
pergerakan matahari. Kapan dia terbit dan kapan dia tenggelam. Nah, untuk
urusan yang satu itu, hamba Allah termasuk saya yang sedang berpuasa di belahan
bumi selatan, lumayan diuntungkan. Ini karena bulan Ramadhan kali ini jatuh
pada musim dingin, sehingga Subuh baru jam 6 pagi dan sudah Maghrib padahal baru
jam 5 sore.
Tapi,
bukan hanya itu yang saya nikmati dari puasa di sini, melainkan hal-hal berikut.
Pertama, puasa di sini mulainya bareng, selesainyapun bareng. Umat kompak meski
berasal dari berbagai aliran dan dari berbagai negara. Orang yang di Indonesia tanah
air tercinta tercerai berai karena yang ini ikut Muhammadiyah, yang itu ikut
NU, yang lain ikut ormas anu, dst; yang jalan sendiri-sendiri menuruti ego
masing-masing dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan; ternyata bisa juga
kompak giliran puasanya di luar negeri. "Perbedaan memang adalah rahmat,
tapi itu kalau terjadi negara yang beda", begitu kata Prof. Sofyan, guru
agama saya di Rotterdam dulu. Maksud beliau itu mungkin begini, kalau istri
Anda maunya mulai puasa ikut Muhammadiyah, sedangkan Anda ikut Pemerintah, masa
iya sih yang begitu itu rahmat?
Kedua,
tidak ada orang ngamuk-ngamuk, memekik takbir tapi sambil matanya mecicil
dan merusak, karena melihat warung makan tetap buka siang hari. Tentang hal ini
sudah pernah saya singgung di blog ini, dulu banget. Intinya, warung-warung itu
semestinya memang tahu diri. Tapi, kitapun juga harus tenggang rasa pada yang
karena satu dan lain hal tidak puasa. Perempuan yang sedang berhalangan, mereka
yang tidak beragama Islam, atau laki-laki muslim baliq yang karena satu dan
lain hal memang sedang dikasih dispensasi sama Gusti Allah untuk tidak berpuasa.
La kalau mereka ngekos atau nggak sempat masak, ngegadoin Indomie mentah
terus-terusan tentu bukan ide yang baik dan cerdas. Jadi kalaupun mau minta warung tutup, saya kira selalu ada cara yang elegan dan lembut untuk itu.
Ketiga,
tidak ada remaja-remaja tanggung yang nabuh galon Aqua buat ngebangunin sahur
bahkan ketika waktu baru menunjukkan pukul 2 dini hari. Padahal sahur saya
biasanya mepet waktu subuh (kata guru ngaji saya, begitulah sesungguhnya yang
disunnahkan Kanjeng Nabi: mendahulukan berbuka dan mengakhirkan sahur). Dipaksa
mendengar anak-anak muda tanggung itu bikin huru hara jam 2 pagi, sementara jam
1 malem saya baru tidur karena ada saja kerjaan yang mesti dilembur, adalah sungguh
rutinitas yang bagi saya kurang menyenangkan. Kalau mau ngebangunin sahur itu mbok ya entar-entar dikit, jam 3-an atau berapa gitu.
Keempat,
tidak ada pejabat publik yang mencoba memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,
agar di pemilu nanti dipilih rakyat. Tiba-tiba rajin safari Ramadhan, sahur
bersama, pengajian, buka bersama, tarawih bersama, dan bagi-bagi sedekah (pakai duit APBD dan dana hibah bukan?); padahal dulu selama 4 tahun kita nggak tau dia
kemana dan ngapain aja. Khusus untuk Ramadhan tahun ini, dari yang saya baca, di
media-media online, ceramah sholat Jumat atau tarawih, dibanyak lokasi berubah
menjadi ajang kampanye untuk mengajak memilih calon yang ini dan jangan memilih
calon yang itu.
“Pilihlah
Foke-Nara, atau Anda adalah golongan orang-orang kafir”. Widih, ancamannya
serem bener.
Sekali
lagi, terlepas dari rindu saya yang membara pada anak-istri, saya merasa
beruntung berpuasa jauh dari Jakarta. Kalaupun ada yang bikin saya rugi, itu adalah
karena sepanjang Ramadhan kali ini saya tidak bisa menyaksikan SM*SH boyband
idola kita semua nyanyi doa puasa pas waktu imsak di SCTV.
Taqoballahu
minna wa minkum. Selamat Idul Fitri 1433H, mohon maaf lahir dan batin.


