Rabu, Agustus 22, 2012

Kangen SM*SH pamer sosis

Bulan Ramadhan yang telah lewat barusan adalah pengalaman kali kedua saya menjalani puasa di negeri orang. Dan seperti barangkali Anda semua telah mahfum, berpuasa di negara di mana Islam minoritas, adalah seperti puasa Senin-Kamis. Nggak ada kemeriahan orang-orang pada ngabuburit menjelang waktu berbuka; nggak ada pasar kaget di pinggir-pinggir jalan yang menjual kolak, biji salak, dan aneka kue; nggak ada infotainment berisi berita artis yang mendadak berlomba-lomba pakai baju muslimah dan ngajakin bukber anak yatim padahal di luar Ramadhan terbiasa pamer paha dan buah semangka; nggak ada dagelan-dagelan di TV menemani kita sahur, yang berusaha melucu dengan lawakan garing nan menggemaskan (gemes pengen nimpuk, maksudnya); dan last but not least, nggak ada SM*SH jualan sosis siap santap yang tinggal lhebbb! itu.

Anda tentu juga sudah mahfum, durasi puasa tidak ditentukan oleh jam, melainkan oleh pergerakan matahari. Kapan dia terbit dan kapan dia tenggelam. Nah, untuk urusan yang satu itu, hamba Allah termasuk saya yang sedang berpuasa di belahan bumi selatan, lumayan diuntungkan. Ini karena bulan Ramadhan kali ini jatuh pada musim dingin, sehingga Subuh baru jam 6 pagi dan sudah Maghrib padahal baru jam 5 sore.

Tapi, bukan hanya itu yang saya nikmati dari puasa di sini, melainkan hal-hal berikut. Pertama, puasa di sini mulainya bareng, selesainyapun bareng. Umat kompak meski berasal dari berbagai aliran dan dari berbagai negara. Orang yang di Indonesia tanah air tercinta tercerai berai karena yang ini ikut Muhammadiyah, yang itu ikut NU, yang lain ikut ormas anu, dst; yang jalan sendiri-sendiri menuruti ego masing-masing dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan; ternyata bisa juga kompak giliran puasanya di luar negeri. "Perbedaan memang adalah rahmat, tapi itu kalau terjadi negara yang beda", begitu kata Prof. Sofyan, guru agama saya di Rotterdam dulu. Maksud beliau itu mungkin begini, kalau istri Anda maunya mulai puasa ikut Muhammadiyah, sedangkan Anda ikut Pemerintah, masa iya sih yang begitu itu rahmat?

Kedua, tidak ada orang ngamuk-ngamuk, memekik takbir tapi sambil matanya mecicil dan merusak, karena melihat warung makan tetap buka siang hari. Tentang hal ini sudah pernah saya singgung di blog ini, dulu banget. Intinya, warung-warung itu semestinya memang tahu diri. Tapi, kitapun juga harus tenggang rasa pada yang karena satu dan lain hal tidak puasa. Perempuan yang sedang berhalangan, mereka yang tidak beragama Islam, atau laki-laki muslim baliq yang karena satu dan lain hal memang sedang dikasih dispensasi sama Gusti Allah untuk tidak berpuasa. La kalau mereka ngekos atau nggak sempat masak, ngegadoin Indomie mentah terus-terusan tentu bukan ide yang baik dan cerdas. Jadi kalaupun mau minta warung tutup, saya kira selalu ada cara yang elegan dan lembut untuk itu.

Ketiga, tidak ada remaja-remaja tanggung yang nabuh galon Aqua buat ngebangunin sahur bahkan ketika waktu baru menunjukkan pukul 2 dini hari. Padahal sahur saya biasanya mepet waktu subuh (kata guru ngaji saya, begitulah sesungguhnya yang disunnahkan Kanjeng Nabi: mendahulukan berbuka dan mengakhirkan sahur). Dipaksa mendengar anak-anak muda tanggung itu bikin huru hara jam 2 pagi, sementara jam 1 malem saya baru tidur karena ada saja kerjaan yang mesti dilembur, adalah sungguh rutinitas yang bagi saya kurang menyenangkan. Kalau mau ngebangunin sahur itu mbok ya entar-entar dikit, jam 3-an atau berapa gitu.

Keempat, tidak ada pejabat publik yang mencoba memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, agar di pemilu nanti dipilih rakyat. Tiba-tiba rajin safari Ramadhan, sahur bersama, pengajian, buka bersama, tarawih bersama, dan bagi-bagi sedekah (pakai duit APBD dan dana hibah bukan?); padahal dulu selama 4 tahun kita nggak tau dia kemana dan ngapain aja. Khusus untuk Ramadhan tahun ini, dari yang saya baca, di media-media online, ceramah sholat Jumat atau tarawih, dibanyak lokasi berubah menjadi ajang kampanye untuk mengajak memilih calon yang ini dan jangan memilih calon yang itu.

“Pilihlah Foke-Nara, atau Anda adalah golongan orang-orang kafir”. Widih, ancamannya serem bener. 

Sekali lagi, terlepas dari rindu saya yang membara pada anak-istri, saya merasa beruntung berpuasa jauh dari Jakarta. Kalaupun ada yang bikin saya rugi, itu adalah karena sepanjang Ramadhan kali ini saya tidak bisa menyaksikan SM*SH boyband idola kita semua nyanyi doa puasa pas waktu imsak di SCTV.

Taqoballahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri 1433H, mohon maaf lahir dan batin.

Minggu, Maret 18, 2012

Ketika gila lebih ngetren dari waras

Apabila istri saya mengijinkan poligami dan di hadapan saya tersedia hanya dua pilihan orang untuk saya peristri, Adele atau bencong Taman Lawang, logika yang waras sudah pasti akan bisa menebak ke jari manis siapa cincin kawin saya sematkan. Jelas Adele, dong. Anak itu sudahlah pinter nyanyi, pinter bikin lagu, pinter nyari duit, cantik, putih, montok, bahasa Inggrisnya bagus pula. Sempurna.

La terus, bencongnya? Silakan kalau Anda berminat.

* -------- *

Suatu saat, apabila kamu mengalami jaman edan, kamu akan berada dalam situasi serba salah. Mau ikut gila, bertentangan dengan hati nurani. Jika tidak ikut, nggak kebagian rejeki. Bakalan miskin dan kelaparan. Tapi pada akhirnya, kehendak Tuhanlah yang akan berlaku, bahwa seberuntung apapun orang yang “lupa”, masih lebih beruntung mereka yang “ingat” dan waspada (menempuh jalan kebaikan dan dalam ridha-Nya).

Paragraf di atas adalah terjemahan saya (tafsir ngawur, lebih tepatnya) atas satu bait tembang yang tertuang dalam Serat Kalatidha gubahan pujangga jempolan, Raden Ngabehi Ranggawarsita. Jika Anda lupa-lupa ingat, atau tidak pernah tahu sama sekali, berikut ini adalah syair dalam bahasa aslinya:

Amenangi jaman edan; Ewuh aya ing pambudi; Melu edan ora tahan; Yen tan melu anglakoni; Boya keduman melik; Kaliren wekasanipun; Ndilalah kersa Allah; Begja begjaning kang lali; Luwih begja wong kang eling lan waspada.

Kalau Anda bukan orang Jawa dengan skor TOJFL (Test of Javanese as a Foreign Language) yang hanya berada di kisaran 450, terus bingung memahami artinya, tenang. Rileks. Percayalah, bahkan anak-anak muda sekarang yang bapak ibunya orang Jawa tulen dan lahir di tanah Jawa-pun juga belum tentu ngerti.

Syair tembang Sinom itu digubah oleh R. Ng. Ranggawarsita pada pertengahan abad ke-19 sebagai semacam ramalan akan apa yang terjadi di masa depan. Oleh para pemujanya, ia dipercaya mempu menembus dimensi ruang dan waktu karena tingginya daya spiritualistas. Ramalan-ramalannya banyak yang terbukti akurat, bahkan ramalan tentang saat kematiannya sendiri (luar biasa, bukan? Mendiang Mama Loren mah lewat, maaf saja).

Sudahkah jaman edan itu terjadi sekarang ini?

Dalang wayang kulit idola saya, Ki Manteb Soedharsono (kalau mau mengikuti kaidah penulisan bahasa Jawa yang baik dan benar, nama itu seharusnya ditulis begini: Ki Manteb Sudarsana; dengan “d” bukan “dh”, dan “a” bukan “o” pada dua vokal terakhir), pernah mengatakan begini dalam salah satu pementasan wayang di mana saya turut menyaksikan: adalah terserah kepada setiap masing-masing individu untuk menilai, sudah, sedang, atau belumkah jaman edan itu terjadi. Ki Manteb lebih berhati-hati menjawabnya, mungkin karena dia sedang di atas pentas yang disakasikan oleh para pejabat yang--dalam kategoarisasi R. Ng. Ranggawarsita—lebih banyak yang “lupa” daripada yang “ingat”. Mungkin, dia khawatir menyinggung para pejabat yang hadir dan pulangnya nggak dikasih amplop...

Saya sendiri cenderung percaya bahwa jaman edan itu telah datang, minimal di Indonesia. Kalau Anda masih rada ragu, iya deh, minimal di Jakarta ibu kota negara kita tercinta. Sudah dan sedang terjadi, dan saya tidak cukup yakin akan berakhir dalam waktu dekat ini.

Jaman edan menurut saya, sesungguhnya adalah masa di mana banyak hal terjadi tidak sesuai logika akal sehat. Contohnya, kalau Anda sudah tau kena diabetes, terus anda malah hobi ngemil tumpeng atau minum teh segelas dengan gula 5 sendok makan, maka dalam lingkup mikro, Anda telah penjadi pelaku jaman edan itu.

Logikanya, jalanan macet hanya bisa diatasi dengan mengurangi jumlah kendaraan dan memotivasi orang untuk pindah ke angkutan umum. Bukankah jaman edan namanya jika yang terjadi adalah semua orang berlomba membeli kendaraan dan pemerintah membiarkan angkutan umum jadi sarang pemerkosa?

Menurut logika waras, makin tinggi jabatan orang, standar moral yang dipersyaratkan seharusnya juga makin tinggi. Karena jaman edan, maka yang terjadi adalah untuk hanya jadi cleaning service diperlukan SKKB kepolisian, sementara seorang narapida bisa tetap memimpin PSSI, induk organisasi olah raga paling digemari di Indonesia (ah, jadi ingat Nurdin Halid), dan mantan koruptor tetap bisa menjadi Ketua PB PASI (ah, jadi ingat Bob Hasan).

Di atas itu semua, saya akan makin percaya jaman edan sudah benar-benar terjadi, jika pada pilkada DKI nanti, Bang Foke a.k.a Bang Kumis a.k.a Bapak Dr. Ing. H. Fauzi Bowo terpilih kembali.

Misi utama dari menjadi Gubernur DKI itu nggak usahlah muluk-muluk. Macet dan banjir diberesin. Kalaupun belum berhasil dalam satu periode yang 5 tahun, sementara kita juga maklum bahwa untuk itu butuh waktu 20 tahun, setidaknya kedua masalah itu berkurang bukannya bertambah parah. Siapa yang tidak setuju dengan saya bahwa dalam 5 tahun terakhir ini Jakarta tambah macet dan penanganan banjir begitu-begitu saja, silakan tunjuk tangan.

Tidak adakah orang lain, 1 saja dari 9.607.787 penduduk Jakarta yang punya kemampuan, dan kemauan untuk tulus mengabdi, lebih dari gubernur yang sekarang? Saya percaya, yang sesungguhnya mampu banyak banget, meski yang mau belum tentu ada seperseratusnya. Saya kira Andapun setuju, untuk menjadi pemimpin, pinter saja memang tidak cukup.

Yang dijadikan alasan para elit parpol oportunis itu untuk mencalonkan kembali Si Abang sebagian besar bener-bener klise. “Kita pilih yang sudah punya pengalaman”, atau “calon-calon yang lain belum teruji”, atau “belum tentu calon-calon lain mampu”. Terkait prestasi dalam menata ruwetnya ibu kota, terutama macet dan banjirnya, jika nalar Anda waras maka gradasi mulai paling baik ke paling buruk berikut inilah yang mestinya Anda yakini: (1). Terbukti berhasil, (2) Belum tentu berhasil, (3) Mungkin gagal, (4) Terbukti gagal.  

Begitulah. Saya akan makin yakin, jaman edan memang beneran sedang berlangsung jika alasan orang memilih pemimpin adalah “lebih baik memilih kembali incumbent yang SUDAH JELAS GAGAL, daripada calon yang BELUM TENTU BERHASIL”. Coba, nanti kita lihat.

Rabu, Maret 07, 2012

Jika Anda bernama Wagiyem

Pilih mana: pakai satu nama tapi 2 bulan baru jadi (atas),
atau nama diulang tapi langsung jadi (bawah)?
Berikut ini adalah lanjutan gambusan saya mengenai serba serbi hal penting nggak penting terkait Auckland yang tempo hari sudah saya tulis di sini. Selamat menyaksikan....

Tentang nama. Apakah nama Anda terdiri atas satu kata dan di belakangnya tidak ada embel-embel lain lagi? Nama yang saya maksud, misalnya: Rantinem, Marsono, Paidi, Ponirah, Bejo, atau Slamet, dan sudah. Kalau iya, Anda sangat mungkin bernasib sama seperti saya.

Orang Barat, yang katanya demokratis itu, ternyata bisa sangat otoriter untuk urusan yang satu ini. Entah karena kuper, entah naif, mereka memaksa kita untuk punya nama dengan dua kata atau lebih, yang mereka sebut dengan istilah first/given name dan family/last name. Padahal, kita orang Indonesia dan banyak negara Asia, mayoritas tidak memiliki kultur dua nama seperti itu. Hanya di beberapa daerah saja, seperti Batak atau Manado orang punya nama marga. Selebihya, meski nama seseorang panjang, sesungguhnya itu adalah nama tunggal. Contoh, apabila nama Anda adalah Siti Nikmatilah Sepuasnya, sesungguhnya 3 penggalan nama itu semuanya adalah first name, kecuali jika semua orang dalam keluarga Anda punya nama paling belakang sama, yakni Sepuasnya.

Kalau kebetulan mengisi formulir online, nama Anda cuma satu kata, Poniyem, dan Anda nekat memasukkan nama yang indah itu hanya di satu field--di kolom first name tok, atau di kolom last name tok--, sudah pasti hasilnya bakalan error. Percayalah, berapa kalipun Anda mencoba, ujung-ujungnya pasti sama.

Sebagaimana Anda tahu, nama resmi saya di KTP adalah Heriyadi. Titik. Harap dicatat baik-baik, Heri Sagiman hanyalah nama artis, dus saya tidak bisa menggunakannya untuk urusan yang bersifat resmi. Waktu bikin akun bank di Rotterdam dulu, nama KTP itu jadi masalah. Customer service officer (CSO) Bank ABN Amro itu amboi cantiknya, tapi juga aduhai ngeyelnya. Sudah berkali-kali saya jelaskan, nama tunggal adalah hal sangat lumrah untuk orang Indonesia. Dia ngeyel.

Ketika saya tantang begini, “Kalau Mbak nggak percaya, besok kita ke Semarang, kita ketemu Bapak saya yang dulu kasih nama ke saya”. Tetap, dia ngeyel.

Dan..., perdebatan itu berakhir dengan skor 1-1.

Skor 1 untuk saya karena rekening bank ABN Amro itu jadi juga, dengan menggunakan satu nama saya. Tapi, skor 1 pula untuk si Mbak CSO, karena rekening itu baru jadi dua bulan kemudian, setelah masalah itu dibawa ke kantor pusat! Teman-teman sudah sejahtera hidupnya, dapat kiriman duit bulanan dari StuNed, sementara saya harus merana karena urusan nama.

Maka, untuk tidak mengulangi kasus itu terjadi di sini, saya punya tips, dan tips itu kini saya bagi ke Anda. Jika nama Anda hanya satu kata, perlakukanlah ia sebagai first dan last name sekaligus. Jadi, dalam kasus saya di Auckland sini, nama saya di rekening bank, di kartu mahasiswa, dan kartu asuransi adalah Heriyadi Heriyadi. Biarin, rada wagu dikit, tapi it works. Anda yang bernama tunggal Abal, mulailah membiasakan diri dengan nama baru, Abal Abal.

Tentang daging halal. Isu yang satu ini saya kira hanya akan dihadapi oleh Anda yang muslim, khususnya yang ingin mengkonsumsi daging yang tidak saja halal jenis binatangnya, tapi juga halal dari cara menyembelihnya, halal pula dari cara mengemas dan mengolahnya. Kalau hanya daging sapi atau ayam, di mana-mana banyak yang jual. Tapi, kalau daging itu harus halal, di Auckland sini masih sangat terbatas. Anda yang pernah tinggal di, katakanlah, Rotterdam, akan merasakan betapa untuk urusan satu ini, dua kota ini jauh bener bedanya. Di Rotterdam, 13% penduduknya (atau kira-kira 80.000 jiwa) adalah muslim. Bahkan, sang walikota, Ahmed Aboutaleb, adalah seorang muslim keturunan Maroko. Oleh karenanya, daging halal bisa ditemukan di mana-mana.

Sepengetahuan saya (tentu ini adalah pengetahuan dari orang yang belum genap sebulan tinggal di Auckland, itupun jarang keluar kamar), daging halal di sini hanya bisa dibeli di lokasi-lokasi tertentu, seperti di Sandringham yang letaknya jauh di pinggiran kota, meski kadang-kadang ada juga di Forte Convenience dekat kampus Universitas Auckland, tentu dengan harga lebih mahal.

Cuma, enaknya di negara yang sudah mapan termasuk Selandia Baru, apabila daging sudah dilabeli halal, dia Insya Allah memang adalah daging halal betulan. Lagipula sehat, karena tukang jagalnya haruslah bersertifikat yang mengerti cara-cara menyembelih binatang dengan baik, tempat pemotongannya juga tidak boleh di sembarang tempat, cara pengemasannya juga harus higienis.

Kalau di Indonesia, apalagi di Jakarta, saya kok malah kadang-kadang ragu, bener nggak sih daging yang saya beli halal? Siapa yang bisa jamin bahwa daging ayam yang kita beli di pasar Family Mart Harapan Indah Bekasi bukan ayam tiren (mati kemaren); atau, daging sapi yang kita beli di Pasar Pagi Rawamangun bukanlah daging sapi glonggongan. Bahkan terhadap ikan, yang secara syariat bangkainya saja sebetulnya halal, saya tetap saja nggak yakin wong kadang-kadang suka dikasih tawas dan formalin biar terlihat segar dan tidak gampang busuk.

Tentang kaca mata hitam. Anda yang biasa main layangan di Brebes, atau di manapun di Indonesia, dus terbiasa dengan cahaya matahari, jangan dulu merasa percaya diri. Kaca mata hitam untuk summer, apalagi ketika matahari bersinar terik, tetap diperlukan. Ini karena intensitas cahaya matahari di sini bukan main menyilaukannya. Kata seorang teman, sinar UV di sini juga sangat jahat.

Kaca mata hitam, selain diperlukan untuk melindungi mata dari silau matahari dan sinar ultra violet pada saat summer, juga dapat berguna untuk melindungi mata dari ketahuan melirik gadis-gadis Auckland yang aduhai molek-molek belaka. Musim panas di Auckland adalah momentum penuh dilema bagi laki-laki dewasa normal yang jauh dari istri tercinta seperti saya. Banyak gadis-gadis yang seperti nggak sadar diri, sudah tahu posturnya pada segar menggoda, la kok sukanya pakai baju yang kekecilan lo. Saya kan jadi serba salah. Mau dicuekin, kok ya eman-eman (sayang); mau dilihatin, dosa. Akhirnya.., saya lebih sering memilih dosa daripada eman-eman.

Saran saya, bawalah kaca mata hitam dari Indonesia saja karena di sini, barang itu, bahkan untuk yang kelas ecek-ecek, minimal harus ditebus dengan 10 dollar. Padahal, di Jakarta, dengan 20 ribu perak saja kita sudah akan dapat yang lumayan keren.

Begitulah. Semoga bermanfaat.

Selasa, Februari 28, 2012

Penting nggak penting terkait Auckland

Buat Anda yang sudah terbiasa travelling ke luar negeri, apalagi telah berada di Auckland, uraian berikut ini sudah pasti tidak penting. Dus, Anda tidak perlu memboroskan waktu untuk membaca alenia berikutnya, apalagi membaca postingan ini sampai tuntas. Percayalah, berita tentang potongan baru rambut Morgan SM*SH atau lamaran Anang-Ashanty bakalan lebih bermanfaat. Tapi bagi Anda yang seumur-umur setia dengan Indonesia, perjalanan paling mentok juga cuma ke Wonosobo atau Garut, dan saat ini sedang bersiap diri untuk berkunjung atau tinggal di Auckland, yang akan saya sampaikan berikut ini barangkali ada juga gunanya.

Yang saya ceritakan ini bukan hal yang besar-besar alias hanya hal remeh-temeh saja. Tapi dari yang sepele itu, sejauh yang saya alami sendiri dan testimoni yang saya dengar, bisa saja berujung pada cerita konyol dan nyusahin, paling tidak di saat menjelang keberangkatan atau hari-hari pertama ketika Anda berada di Auckland sini.

Tentang mata uang. Untuk ukuran pegawai Bappenas, dalam hal bepergian ke luar negeri, saya termasuk jarang. Makanya untuk urusan satu ini saya katrok banget. Hanya karena dulu pernah ke Australia nyari dollar Australia mudah, dan pernah ke Belanda nyari Euro mudah, saya langsung mengambil kesimpulan bahwa nyari dollar Selandia Baru juga akan sama mudahnya. Seminggu sebelum berangkat, saya ke money changer Ayu Masagung di Kwitang, bawa duit sekian juta, dengan perasaan riang gembira. Ngantri aduhai panjangnya namun dengan semangat yang masih tetap membara. Tapi, begitu sampai di loket, saya langsung syok dibilangin bahwa mereka tidak punya stok NZD (dalam perdagangan valas, Dollar Selandia Baru disingkat dengan NZD). Ayu Masagung gitu lo, money changer paling top di Jakarta, nggak punya NZD. Harus kemana lagikah gerangan saya berburu NZD? Besokannya lagi ke sana, tetep nggak ada stok, sampai tiga kali, dan saya putus asa.

Belakangan barulah saya tahu bahwa untuk mata uang yang bukan mainstream seperti NZD, stok baru ada jika ada yang jual ke si money changer. Padahal, sangat jarang orang yang jual, dan kalau adapun juga nggak banyak nilainya. Jadi, kalau Anda ke money changer nyari Birr Ethiopia misalnya, terus Anda bawa duit Rupiah 100 juta, percayalah, Anda bakalan keluar dari money changer dengan raut muka bak PNS di tanggal tua. Raut muka patah hati, maksud saya.


Atas nasehat seorang teman, dan sekarang ini sayapun menasehati Anda, sebetulnya kita tidak selalu harus membawa Dollar Zimbabwe apabila kita mau ke Zimbabwe. Cukup Rupiah yang Anda punya tukarkanlah saja dengan mata uang mainstream yang diterima di semua negara, misalnya US Dollar atau Euro, untuk kemudian sesampai di sana ditukar lagi dengan mata uang negara yang bersangkutan. Di bandara internasional tempat Anda mendarat nanti, sudah hampir pasti ada money changer. Tukarkan saja secukupnya, karena biasanya nuker duit di bandara tuh kena fee lumayan dan perhitungan kursnya rada merugikan meski nggak banyak, dan sisanya nanti bisa ditukar di pusat kota yang kursnya lebih menguntungkan.


Tentang colokan listrik. Ini persoalan sepele yang bisa bikin orang mati gaya. Bayangkanlah sebuah situasi di mana Anda baru mendarat, cek in di kamar, sebetulnya ada sambungan internet dengan broadband sempurna, terus Anda ingin mengirim pesan via Yahoo! Messenger atau telepon keluarga di tanah air mengabari Anda telah tiba di tujuan dengan selamat, tapi ndilalah batere laptop dan hape sekarat, dan begitu mau nyolokin charger ke stop kontak ternyata colokannya beda dengan colokan yang Anda punya.

Colokan dgn 3 kaki, menggunakan standar Australia

Beda sama colokan listrik di Nganjuk yang cuma pakai dua kaki, colokan listrik di Selandia Baru adalah tiga kaki. Maka, jangan lupa untuk memasukan konverter colokan dalam list barang bawaan Anda. Tentu di sini banyak yang jual. Tapi, selain mahal, membawa konverter dari rumah adalah sangat disarankan agar langsung bisa dipakai begitu tiba di sini sementara Anda masih belum sempat ke toko listrik. Dan, jika perangkat elektronik Anda colokannya sudah tiga kaki, jangan buru-buru percaya diri, karena jangan-jangan colokan itu adalah colokan dengan standar Inggris atau Amerika Serikat. Tetep saja bakalan nggak bisa masuk. Saran paling simpel adalah, bawalah konverter colokan universal yang bisa dibeli di Ace Hardware (ini sekadar contoh nama toko yang jual, nggak ada maksud untuk ngiklan. Kalau di warung sayur di sebelah rumah Anda ada yang jual, ya silakan saja kalau mau beli di situ).

Tentang meludah dan buang ingus. Ingat-ingatlah kembali, apakah Anda termasuk orang yang--maaf--sedikit-sedikit pengen meludah dan buang ingus sembarangan jika sedang flu? Jika iya, mungkin Anda akan mengalami sedikit kesulitan untuk beradaptasi di sini. Indonesia adalah surga bagi orang dengan hobi--yang asyik buat yang melakukan tapi nyebelin buat yang ngelihat--ini karena aktivitas untuk itu bisa dilakukan di hampir semua tempat: di pinggir jalan, di got, di badan jalan sambil nyetir motor, bahkan di dalam bus. Di sini sejauh yang saya amati, tempat untuk itu hanyalah di toilet. Anda akan risih dilihatin orang jika meludah di pinggir jalan, diomel-omelin orang jika meludah di dalam bus, dan sudah pasti bakalan ditangkap polisi jika meludah di muka sopir busnya. Masih mending kalau Anda tidak dikasih bonus tonjok dari si Abang Supir yang rata-rata gede keker dan sangar.

Tips yang saya sarankan, bawalah tisu tangan kemanapun Anda bepergian. Jika Anda kerasa pengen meludah, meludahlah dengan gaya yang elegan di tisu yang sudah Anda siapkan tadi, pura-pura menyeka mulut atau apa gitu, terus cari tempat sampah terdekat dan buanglah tisu malang itu ke situ. Sebaiknya tisu yang sudah ternoda itu jangan Anda masukin kembali ke tas terus Anda bawa pulang, apalagi jika ludah Anda tadi ada sedikit kandungan dahaknya, kasihan orang rumah nanti ketularan.

Tentang cuaca. Pertama datang di Auckland, seorang kawan sempat berpesan, dalam satu hari, di Auckland bisa terjadi 4 musim sekaligus. Ini tentulah statement yang lebay, tapi makusdnya adalah cuaca di Auckland itu bisa berubah dengan sangat cepat. Saran yang paling umum adalah rajin-rajinlah mengecek ramalan cuaca. Dan jika ramalan cuaca mengatakan hari ini akan hujan sementara kondisi riil panas, jangan terus yakin bahwa ramalan cuaca itu keliru, kemudian Anda keluar rumah hanya pakai celana pendek dan singlet.

Ketimbang payung, saya lebih menyarankan Anda untuk menyiapkan jas hujan tipis saja. Bukan apa-apa, survei membuktikan hujan di Auckland itu lebih sering disertai angin kencang yang arah datangnya berubah-ubah. Membawa payung, apalagi payung yang ecek-ecek boleh dapat gratisan dari membuka rekening di bank, Anda berpotensi sengsara karena payung itu tidak akan berumur panjang. Somplak kena angin.

Tentang uang jaminan untuk kos-kosan. Ketika datang ke Auckland, saya merasa jadi orang kaya karena bawa uang saku saya itung-itung cukup untuk hidup dua bulan. Faktanya, dalam 4 hari sangu saya langsung ludes. Pangkal persoalannya adalah karena untuk menyewa apartemen di sini, diberlakukan sistem uang jaminan yang besarannya sungguh membuat saya terpana. Sejauh yang saya tahu, sistem sewa apartemen di sini basisnya adalah mingguan, bukan bulanan seperti kos-kosan di Jakarta. Dalam kasus saya, tarif apartemen perminggu adalah 160 dollar belum termasuk listrik dan internet. Mesti bayar untuk dua minggu ke depan, plus aplikasi 100 dollar, dan itu tadi, uang jaminan 800 dollar (yep, biaya hidup di Auckland memang mahal). Jadi, hanya untuk urusan akomodasi saja, saya yang tadinya merasa kaya, mendadak sontak langsung miskin merana. Memang sih, uang jaminan yang 800 dollar tadi akan dikembalikan jika kita keluar dari apartemen. Tapi, di apartemen yang baru nanti, tuh duit bakalan harus dipakai lagi untuk bayar uang jaminan, begitu seterusnya. Dus, tuh duit baru benar-benar bisa dipegang sebagai duit jika nanti kita sudah pulang untuk selamanya ke Indonesia, atau kita memutuskan untuk tinggal di mesjid nemenin pak marbot mesjid. Problemnya, di sini nggak ada mesjid.


Saya kira segini dulu. Masih ada beberapa hal lain sebetulnya, tapi tulisan ini saya lihat sudah terlalu panjang dan tangan saya juga sudah pegel ngetik. Nanti di kesempatan yang lain, Insya Allah saya tambahin lagi. Sekian, semoga bermanfaat.


Sabtu, Februari 25, 2012

Sate Thailand yang bikin trauma

Kalau kebetulan sedang jalan-jalan di pusat kota Auckland, terus perut lapar minta diisi, makanan Asia yang paling sering saya jumpai sejauh ini adalah masakan Jepang, China, Thailand, dan Malaysia. Ada juga warung makan Korea, bahkan Vietnam. Rumah makan Indonesia? Hanya sedikit saja, itupun pelayannya orang China dengan Bahasa Mandarin ketika mereka saling bicara.

Selain jumlah rumah makan Indonesia yang jadi minoritas di antara rumah makan Asia lainnya, makanan mateng di sini juga amboi mahalnya.

Alkisah, hari Minggu (19/2) lalu saya jalan ke downtown. Perut keroncongan, dan setelah muter-muter sejenak, ketemulah dengan rumah makan Thailand. Di situ, sate ayam satu porsi isinya cuma 4 tusuk dibandrol 9 dollar, belum nasi putih 2 dollar. Untung minum air putih boleh gratis. Display gambarnya sih indah, dan sepertinya rasanya juga menjanjikan. Tapi faktanya, rasa aslinya... jangan tanya. Pada gigitan pertama, saya langsung penasaran dan pengen kenalan sama kokinya. Sungguh saya salut atas kepercayaan diri yang begitu tinggi dari si koki. Berani-beraninya, masakan ndak jelas rasanya begitu buka warung makan. Kalau Pak Bondan Winarno sampai bilang tuh sate maknyus, saya bersumpah kredibiltas dia di mata saya bakalan habis tak bersisa.

Jika saya disuruh milih statement mana yang lebih saya dukung kebenarannya, apakah (a). Bapak Dr. Ir. H. Fauzi Bowo beneran bisa mengatasi banjir Jakarta; ataukah (b). sate ayam Thailand tadi enak rasanya; saya bakalan pilih (a) betapapun akal sehat saya tetap sulit menerima.

Karena terbatasnya makanan mateng dengan rasa Jawa-Indonesia, dan kalaupun ada  harganya juga sudah pasti mahal, maka pilihan paling masuk akal buat PNS tugas belajar dengan beasiswa paspasan seperti saya tentulah masak sendiri. Tersebutlah di jalan Karanghape, kira-kira 15 menit jalan kaki dari apartemen saya di Whitaker Place, ada toko supermarket yang melayani kebutuhan sehari-hari orang Asia. Namanya Lim Chhuor. Dari namanya saja, sudah jelas ni toko bukan milik orang Sunda. Tapi, inilah pilihan terbaik yang tersisa untuk belanja beras, sayur, dan bumbu-bumbu dapur. Kalau untuk orang dari negara-negara Asia lain banyak jenis dan ragam item yang dijual di situ, untuk kita orang Indonesia saya hanya melihat mie instan merek Sedap dan Kecap manis ABC. Bumbu instan merek Bamboe yang di Rotterdam dulu gampang saya temukan, di sini sama sekali nggak ada. Paling mentok adalah bumbu rendang merek Indofood , itupun sedikit banget, letaknya nyempil di antara tumpukan bumbu instan masakan khas Thailand, China, Jepang, dan Malaysia.

Apa ya yang salah dengan negaraku, sampai-sampai soal makanan saja, baik yang matengan mapun yang mentah, kita seperti dianggap tidak ada. China yang paling mendominasi, saya masih oke, secara dia negara dengan penduduk terbesar dan paling menyebar di dunia. Jepang, saya masih enggak apa-apa deh karena negaranya memang termasuk negara yang disegani mengingat kemajuan dan kekayaannya.

Tapi kalau dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, Vietnam, terus warung makan Indonesia kalah jumlah, kok saya sebetulnya rada-rada nggak ikhlas. Kita ini kurang apa coba. Secara geografis, dibandingkan dengan tiga negara itu, kita paling dekat dengan Selandia Baru. Jumlah penduduk kita juga paling besar, jauh lebih besar bahkan jika jumlah ketiganya digabungkan. Penduduk miskin kita saja  kalau dibandingkan dengan total populasi Malaysia masih banyakan orang miskin kita (sekadar catatan, penduduk miskin kita hingga sekarang masih ada di kisaran 30juta jiwa, sementara total populasi Malaysia hanya 29 juta).

Ayolah, Saudara-saudaraku orang Minang, Aceh, Manado, Sunda, dan bagian lain dari Nusantara. Datanglah ke Auckland dengan membawa kekayaan kuliner kita yang sungguh tiada duanya. Bukalah warung makan di sini, dan tunjukkan pada mereka bahwa sate a la Thailand yang aneh rasanya tadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan citarasa sate kambing madura, rendang, ayam tangkap, tongseng, ayam betutu, atau ikan bumbu woku, dll, dll yang sungguh menggugah selera.

Yakin deh, kekayaan kuliner kita ini sebetulnya hanya kurang promosi saja. Tahukah Anda bahwa nasi goreng adalah masakan sangat populer di antara orang asing dan para bule? Padahal, kalau saya disuruh buat peringkat 100 masakan Indonesia paling nikmat, nasi goreng mah paling mentok ada di ranking 93.

La wong sama nasi goreng aja orang-orang asing itu sudah manggut-manggut keenakan, gimana kalau mereka nemu bebek goreng cabe ijonya Bebek Kaleyo, atau konro bakarnya Maming Daeng Tata? Mungkin, di gigitan pertama, mereka akan langsung orgasme saking nikmatnya.

Rabu, Februari 22, 2012

Jadi pejalan kaki di Auckland: ikhlas vs terpaksa

Tarif parkir bikin klenger
Buat Korpri kelas kambing yang sedang prihatin menjalani tugas belajar seperti saya, yang meng-gantungkan hidup hanya dari duit beasiswa pemerintah yang besarannya tidak seberapa, dan konon di setiap akhir bulan harus banyak memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kiriman tidak tertunda, pilihan untuk mobilitas di Auckland hanya ada dua: terpaksa menjadi pejalan kaki, atau ikhlas menjadi pejalan kaki (maaf, kalimat ini sepertinya terlalu panjang dan kebanyakan "yang").

Naik mobil sendiri, selain “mobile sopo?”, juga parkir di sini adalah aduhai mahalnya. Naik bus, selain harus keluar duit, saya bilang juga kurang ekonomis karena kotanya sebetulnya kecil, kemana-mana bisa dijangkau dengan jalan kaki. Sementara, naik sepeda bukanlah pilihan karena topografi kota ini yang berbukit-bukit. Enak kalau pas turun, tinggal ngerem. La kalau pas nanjak, padahal tanjakan itu banyak yang levelnya sama dengan Gadog menuju Puncak atau Gombel ke arah Srondol di Semarang? Wong bawa badan sendiri saja sepertinya napas nyaris putus, apalagi mesti pakai acara nggowes sepeda. Tukang becak di Jogja yang punya pengalaman kerja 10 tahun juga bakalan nyerah mending jadi penyanyi boyband daripada disuruh nggenjot sepeda nanjak begitu.

Baru empat hari di sini, saya sudah jadi tukang jalan kaki dan kalau di jidat saya dipasang spedometer, mungkin penunjukan angkanya sudah ada kalau 15 kilometer. Kebanyakan dalam rangka belanja untuk keperluan di apartemen seperti bantal dan sprei (karena kedua barang itu tidak disediakan oleh pihak pengelola), beras, telur dan kebutuhan dapur lainnya, dan barang remeh temeh seperti gunting kuku dan hanger baju. Ke mana-mana jalan, naik turun, ngalor ngidul ngetan ngulon, yang hingga detik ini selalu berakhir dengan pergelangan kaki nyeri dan betis kriting.


Tanjakannya selevel dengan Gadog-Puncak
Untungnya (*kapan orang Jawa nggak untung?), jadi pejalan kaki di Auckland itu seperti jadi rombongan moge di Jakarta. Dapat prioritas pertama. Kalahnya hanya sama pemadam kebakaran dan ambulan. Seperti sudah saya singgung di postingan sebelumnya, pemerintah kota ini memang sepertinya mendorong sebanyak mungkin warganya untuk menjadi pejalan kaki. Beda banget sama Jakarta yang mendorong warganya untuk jadi biker dan bawa mobil pribadi betapapun macetnya, la wong kalau naik angkot malah diperkosa, jadi pejalan kaki juga dilabrak Avriani Susanti.

Bukti bahwa pejalan kaki prioritas, yang langsung nampak jelas, adalah sangat nyamannya jalur pedestrian. Lebar, bersih, nggak ada jebakan lobang, di beberapa lokasi juga terlindungi walaupun Auckland bukanlah kota yang panas (meski juga tidak dingin-dingin amat). Di setiap tempat penyeberangan, ada traffic light yang bisa dipencet kalau orang mau menyeberang, dan ketika lampu untuk penyeberang menyala hijau, kendaraan dari segala arah harus berhenti. Di sini, menabrak pejalan kaki, apalagi di zebra cross, adalah kejahatan serius dengan ancaman penjara maksimal. Jadi pejalan kaki di Auckland tidak harus ngosngosan memanjat sekian anak tangga, menyeberang, untuk kemudian menuruni lagi sekian anak tangga dengan resiko di jembatan itu ditodong preman.

Bukti lain adalah tersedianya banyak fountain, atau keran air yang airnya langsung bisa diminum, dan dapat diakses gratis oleh siapapun juga (kalau di Wonogiri sana, pas musim kemarau, keran model beginian pasti diantri orang untuk dipakai mandi). Lalu, kepada pejalan kaki yang kecapekan, jangan khawatir, selalu tersedia kursi panjang untuk duduk sekadar melepas lelah atau baca novel. Tidak ada ceritanya trotoar di sini dikangkangi warung tenda pecel lele, parkir liar, atau diserobot biker.

Maka, ketika di Jakarta jadi pejalan kaki adalah pilihan terakhir karena mau pakai mobil nggak punya mobil, mau naik taksi nggak punya duit, mau naik angkot takut diperkosa; menjadi pejalan kaki di Auckland adalah pilihan pertama. Banyak barengan, bisa sambil cuci mata karena selalu saja ada gadis-gadis cantik nan molek--atau kalau Anda adalah perempuan, tentu yang saya maksud adalah ada cowok ganteng lagi keren--yang papasan atau kita berjalan di belakangnya. Adalah pemandangan yang teramat biasa ketika ada mobil yang sedang melaju telah berada dekat dengan zebro cross, kemudian si pengemudi melihat ada pejalan kaki yang akan melintas, dia menghentikan mobilnya untuk memberi kesempatan bagi si pejalan kaki menyeberang duluan.

Begitulah. Dengan jutaan kenikmatan menjadi pejalan kaki di Auckland sini, saya kok yakin, tidak dalam waktu lama, Insya Allah, aktivitas yang terpaksa saya lakukan dalam empat hari belakangan ini berubah menjadi sesuatu yang sangat bisa saya nikmati. Sementara itu, biarlah saya nikmati dulu nyeri di pergelangan kaki dan pegel di betis. Adalah sebuah blunder, memang, kenapa saya lupa memasukkan counterpain dalam list barang bawaan. Padahal beras, mie sedap, kopi abc susu, balsem caplang, albothyl obat andalan untuk sariawan, bahkan jamu tolak angin saja saya ingat-ingat betul.

Senin, Februari 20, 2012

Kulonuwun, Auckland

Dalam hidup saya, ada tiga negara yang sejak lama paling ingin saya kunjungi. Pertama, Belanda; kedua, Suriname; ketiga, Selandia Baru.

Belanda, karena saya dulu sungguh penasaran, seperti apa negara yang telah menjajah negara kita selama tiga setengah abad. Juga penasaran, semaju apa negara yang katanya bahkan sudah ada universitasnya ketika bangsa kita masih menyembah batu dan pohon, dan belum ngerti pakai celana (sekadar catatan: Universitas Leiden di Belanda sudah ada sejak tahun 1575. Tahun segitu, di Jawa, Raden Sutawijaya baru pusing buka hutan untuk dijadiin kerajaan yang kelak dikemudian hari menjadi Kerajaan Mataram Islam).

Suriname, karena di negara nun jauh di Amerika Latin ini bermukim banyak orang keturunan Jawa. Beberapa orang terpenting di pemerintahan dan parlemen bahkan adalah keturunan Jawa. Didi Kempot konon sangat terkenal dan dipuja bak Justin Bieber di sana. Mungkin ini adalah perasaan sentimentil saya saja, karena siapapun yang mengenal saya tentu tahu saya ini orang Jawa. Setiap kali saya membayangkan orang-orang keturunan Jawa di Suriname, setiap kali pula saya membayangkan betapa nenek moyang mereka, empat atau lima generasi di atas mereka yg barangkali ada pertalian darah dengan kakek buyut saya, dulu sungguh prihatin hidupnya. Menyeberangi samudra ribuan kilometer berbulan-bulan, banyak yang sakit bahkan meninggal di atas kapal dan sudah pasti mayatnya langsung dibuang ke laut, dan setiba di sana hanya untuk menjadi kuli kontrak yang diperlakukan tidak lebih baik dari budak.

Dan, Selandia Baru? Alasannya mungkin sangat sederhana. Syahdan, suatu hari saya menyaksikan tayangan tivi tentang sebuah negara yang terpencil di pojokan Samudera Pasifik dan dekat-dekat kutub selatan, alamnya masih perawan, penduduknya sangat sedikit, tapi juga maju bukan main. Dari situ kemudian saya berangan-angan, ah, seandainya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri.

Alhamdulillah, Belanda pernah saya tinggali meski hanya untuk 12 bulan. Sebelum berangkat ke sana, saya sudah menyimpan kekaguman. Dan ketika saya sudah ada di sana, saya makin terpana. Rasanya, hampir semua yang ada di negara itu merupakan kebalikan Indonesia. Petaninya cuma 4% dari total angkatan kerja (dari hanya 16 juta gelintir penduduk), luas negaranya juga cuma 1/4 pulau Jawa. Tapi mereka adalah eksportir produk pertanian terbesar ke-3 di dunia. Sementara kita, adalah importir produk pertanian terbesar di dunia, padahal petaninya 40% (dari lebih 230 juta orang). Separuh daratannya ada di bawah permukaan laut, tapi mereka tidak pernah kebanjiran; sementara kita adalah pelanggan banjir bahkan di daerah yang jauh di atas permukaan laut. Banyak orang dinegeri itu adalah atheis, tapi pemerintahan mereka bersih dari korupsi; sementara di Indonesia yang hampir semua orang ngaku punya Tuhan, pada jadi maling dan koruptor. Paragraf ini bisa sangat panjang kalau saya terus-teruskan, padahal bukan ini yang hendak saya sampaikan.

Sabtu, 18 Februari 2012. Ini adalah hari di mana akhirnya mimpi saya untuk mengunjungi Selandia Baru terwujud. Setelah selama 18 jam saya jadi mister nobody, sendirian seperti orang ilang di antara banyak orang, akhirnya pesawat Thai Airways yang saya tumpangi sampai pegel dan pantat tepos, mendarat juga di Auckland.

Auckland adalah kota terbesar di Selandia Baru yang dihuni oleh lebih dari sepertiga dari total populasi negara ini, padahal dia bukan Ibu Kota negara (#sekadar catatan: Ibu kota negara ini adalah Wellington. Kasusnya kayak Australia, yang beribu kota di Canberra, tapi kota terbesarnya adalah Sydney). Tapi ya, jangan bandingkan dengan Jakarta. Yang berjumlah sepertiga itu hanyalah tak lebih dari 1,4 juta orang, karena total penduduknya juga cuma 4,4 juta. Kebayang kan, bagaimana sepinya bagian lain dari negara ini?
Setelah cek in di penampungan sementara untuk calon mahasiswa yang baru datang, atas kebaikan hati seorang kawan yang kebetulan sudah setahun tinggal, saya langsung diajak keluar jalan-jalan keliling kota. Kesan pertama saya, kota ini alangkah rindangnya. Di mana-mana pohon. Bahkan di samping gedung pencakar langit, ada hutan. Saya langsung heran, lokasi strategis tengah kota, harga tanah permeter persegi pastilah aduhai mahalnya, bukannya dibangun mal malah dijadikan hutan. Jalan cuma sebentar langsung nemu taman atau public space yang bisa diakses gratis. Makanya, no wonder kota ini dinobatkan sebagai salah satu kota paling layak huni di dunia.

Sebagaimana layaknya kota lain di negara yang sudah beradab, pemerintah memberi prioritas nomor satu buat pejalan kaki. Maka, jangan bandingkan Jakarta yang urut-urutan penguasa jalan adalah: Presiden-Wapres, konvoi moge yang pakai voorijder, konvoi motor FPI dan FBR yang boncengan tiga nggak pakai helm terus mobat-mabitin galah bambu, metromini bobrok, bajaj butut, baru diurutan paling buncit adalah ambulan dan pejalan kaki.

Trotoar buat pejalan kaki amboi lapang dan nyamannya, lebarnya jauh melebihi badan jalan untuk kendaraan. Dan di atas itu semua, sudah jelas tidak ada yang dikangkangi sama tenda pecel lele apalagi buat parkir liar yang duitnya entah kemana mengalirnya. Melihat itu semua, saya hanya bisa iri dan patah hati

Sementara, belum banyak yang telah saya eksplor di sini karena saya juga baru 3 hari nyampai. Itupun waktu saya lebih banyak saya habiskan buat belanja kebutuhan ini itu, ngendon di kamar chatting dan Skypean sama istri dan anak-anak, untuk kemudian tidur karena jetlag kok rasanya belum ilang-ilang. Mudah-mudahan saya bisa belajar banyak di sini, bukan saja dari kampusnya, tapi juga dari orang-orangnya yang--harus diakui--masih lebih pintar dari saya dan mungkin juga Anda.


Sabtu, Januari 07, 2012

Gubernur, bukan tukang kerak telur

Bulan Januari 2012, sama dengan bulan yang sama tahun-tahun lampau, Jakarta diwarnai oleh aneka dukacerita tentang macet panjang akibat jalanan tergenang setelah hujan, pohon tumbang, papan reklame rubuh, dan orang-orang mengungsi karena rumahnya kebanjiran. Gubernur DKI datang silih berganti, dan masalah-masalah tadi makin parah boro-boro teratasi. Kalau ada pohon tumbang menimpa mobil atau rumah hingga ringsek, atau papan reklame rubuh menimpa orang sampai klenger alias meninggal dunia, Pemprov DKI cukuplah memberi uang duka 10 juta, setelah itu bisnis berjalan seperti biasa.

Masyarakatpun juga sudah kadung percaya bahwa itu semua adalah takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, dan tidak pernah sekalipun saya dengar di radio, atau baca di koran, atau lihat di televisi, ada warga yang menuntut Pemprov DKI karena telah teledor membiarkan pohon tua dengan akar yang telah rapuh namun cabang yang tumbuh subur tidak dipangkas atau diremajakan. Tidak juga pernah ada class action mempermasalahkan kemungkinan papan reklame itu rubuh karena dipasang secara serampangan, dengan spesifikasi teknis yang asal-asalan.

Saya ingat dulu, Bpk. Dr. Ir. H. Fauzi Bowo, Gubernur DKI idola kita semua, pernah ngamuk-ngamuk ke wartawan gara-gara si wartawan berani kurang ajar bertanya kenapa setelah sekian tahun Jakarta di tangan ahlinya, masalah macet dan banjir kok malah makin menjadi-jadi. Si Abang bilang bahwa membenahi Jakarta itu tidak tidak bisa instan. “Emangnya bikin kerak telor,” sambung Bang Kumis sewot.

Saya setuju dengan Anda, Bang Foke, membenahi ibu kota, termasuk tentu saja mengatasi banjir dan macetnya, memang tidak semudah bikin kerak telur. Tanggung jawab gubernur jelas jauh lebih besar daripada tanggung jawab tukang kerak telor. Itulah mengapa Anda digaji 80 juta perbulan (duit segitu sudah lebih dari cukup untuk membeli 6.500 bungkus kerak telur, itupun sudah yang pake telur bebek, bukan telur ayam); mobil dinas mewah lengkap dengan sopir, ajudan, dan kendaraan patwal; rumah dinas nyaman lagi bebas banjir di daerah Menteng dengan tagihan setrum, air, dan telepon tentu dibayar tidak perlu pakai duit sendiri; staf 85 ribu orang; dan APBD lebih dari 30 triliun pertahun. Ketika jalanan macet, voorijder selalu siap menyingkirkan mobil dan motor rakyat demi kelancaran perjalanan Anda. Ketika warga Jakarta mati gaya karena PAM ngadat berhari-hari bulan September 2011 dulu itu, truk tangki PT Palyja wara wiri menyuplai air bersih ke rumah Anda. Coba, kurang gurih gimana? Jadi kalau Anda mengeluh banyak orang yang ngomel ke Anda karena Jakarta tak kunjung tertata, saya kira kok kurang bijaksana.

"With great power comes great responsibility", kata Uncle Ben kepada Spiderman. "With great facilities, comes great omelan masyarakat jika Anda tidak bekerja sungguh-sungguh," kata Heri kepada Bang Foke.

Hampir lima tahun sudah Anda bekerja. Benar bahwa menata Jakarta tidak bisa instan, ada tahap-tahapnya. Tapi sayanya yang kuper atau faktanya memang demikianlah adanya, kok sepertinya situasinya masih begini-begini saja. Padaha ibarat orang berhitung dari 1 sampai 10, okelah hitungan itu belum selesai, tapi mestinya sekarang ini harusnya sudah terlihat sudah sampai angka berapa.

Tahun 2012 ini adalah tahun di mana pilgub DKI digelar. Dan Bang Foke, kabarnya akan kembali berlaga. Ayolah Bang, beri saya alasan kenapa saya harus memilih Anda. Jokowi, Walikota Solo itu, dipilih oleh rakyat dengan perolehan suara fantastis lebih dari 90% tanpa susah payah kampanye, baliho narsis, atau aksi sok populis berkedok iklan layanan masyarakat di tivi-tivi. Dia dipilih kembali karena orang terkesan pada pemindahan PKL yang manusiawi, taman-taman kota yang makin tertata, keberpihakan pada pasar-pasar tradisional, dan ketulusan dalam melayani warganya. Ingat relokasi PKL tanpa rusuh, ingat Jokowi.

Ingat beras, ingat Cosmos. 

Ingat banjir, la kok saya langsung ingat Bang Foke.

Jumat, Januari 06, 2012

Negeri agraris yang menindas petani

Almarhum Bapak adalah petani tulen. Maksudnya, beliau tidak punya pekerjaan lain selain menjadi petani itu tadi, beda sama petani-petani lain yang nyambi jadi tukang becak, tukang batu, atau kuli di kota jika musim tanam telah lewat. Ibuku, selain jadi Ibu rumah tangga yang berdedikasi, beliau adalah juga petani sejati yang--sejauh kuingat--menjalani profesinya dengan penuh rasa syukur.

Kesetiaan Bapak dan Ibuk terhadap profesi mereka sungguh membuat saya terharu. Ketika sawah-sawah beririgasi teknis garapan tetangga kiri kanan sudah semua habis dibeli oleh developer untuk dialihfungsikan menjadi perumahan Graha Estetika bagi orang-orang berduit, Bapak tetap keukeuh mempertahankan sawah kami di daerah Tembalang itu agar tidak ikut-ikutan dicaplok meski dengan iming-iming harga selangit--setidaknya untuk ukuran kami. Beliau selalu bilang, “biarlah rumah kita reyot dimakan rayap, baju kita hanya satu potong kering di badan, asal kita tetap punya sawah”. Buat Bapak, petani sudah tidak pantas lagi disebut petani jika sudah tidak lagi punya lahan garapan.

Begitulah. Orang tua saya adalah petani yang setia tanpa reserve pada profesi. Namun begitu, Bapak ingin agar beliau adalah petani terakhir dalam garis keturunan keluarga kami. Di hari pertama ketika saya siap berangkat menunutut ilmu di kelas 1 SD suatu hari di tahun 1981, Bapak sudah langsung bilang, “Nak, balajarlah yang rajin. Sekolahlah yang tinggi, agar di kelak kemudian hari kamu tidak menjadi petani seperti Bapak dan Ibumu”.

Ini karena dalam keyakinan Bapak, petani, kere, miskin, melarat, adalah empat kata yang punya makna kurang lebih sama yang bisa saling dipertukarkan satu sama lain. Petani sudah pasti kere, dan kere identik dengan petani. Bapak meninggal di usia 71 tahun pada bulan September 2008 dengan membawa keyakinan itu.

Jika yang menjadi referensi adalah negara tercinta Indonesia, almarhum Bapak jelas tidak salah. Ah, andai saja sebelum meninggal, Bapak dikasih tahu betapa petani di luar sana makmur dan sejahtera belaka karena negara begitu melindungi mereka...

Sensus terakhir menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar ke-4 di dunia. Dari 230 juta lebih penduduk Indonesia, di atas 40% angkatan kerjanya adalah petani. Kita punya matahari yang melimpah sepanjang tahun. Tapi, kita adalah importir terbesar di dunia untuk beberapa komoditas produk pertanian.

Sekarang mari kita lihat Belanda. Dari total hanya 16 juta penduduk, tidak lebih dari 4% tenaga kerjanya adalah petani. Mereka kebagian terang matahari tak lebih 3 bulan dalam setahun. Kendati begitu, negara ini adalah eksportir produk-produk pertanian terebesar ke-3 di dunia. Tigaratus limapuluh tahun lebih kita dijajah orang Belanda, dan amat sedikit yang kita mampu tiru dari mereka.

Kalau soal menindas petani, negara ini memang jagonya. Musim panen raya, bagi negara ini, justru saat paling tepat untuk impor beras besar-besaran dari Thailand dan Vietnam, entah apa tujuannya. Mungkin agar harga beras makin jatuh dan petani makin kapok menanam padi. Jika harga pupuk melambung, petani dibiarkan berjuang sendiri ngutang rentenir; dan saat harga gabah meningkat, pemerintah cepat-cepat operasi pasar.

Buah impor membanjir tak terbendung, membuat frustasi para petani buah lokal, dan keberpihakan pemerintah hanya berhenti jadi topik bahasan menarik di meja rapat. Dan ketika rapat usai, saat makan siang prasmanan tiba, di antara menu dengan cita rasa menggugah selera, yang jadi pencuci mulut adalah jeruk impor dari China.

Sungguh, saya sangat bersyukur pada akhirnya harapan yang menjadi doa Bapak, agar saya tidak menjadi petani, dikabulkan sama Allah. Tapi saya juga prihatin, profesi petani--yang seumur hidup dijalani Bapak --, akan terus menjadi profesi yang sedapat-dapat dihindari di negara yang katanya subur makmur gemah ripah loh jinawi ini.

Minggu, Januari 01, 2012

Ketika banyak sama dengan benar

"Penggal leher satu orang, dan kamu akan dihujat sebagai pembunuh. Jagal sejuta orang, maka kamu akan dipuja sebagai penakluk..." (Jean Rostand, 1939).

Ini adalah logika manusia yang jelas tidak sejalan dengan logika agama. Dalam agama yang saya anut, membunuh satu orang --tentu dengan syarat, bukan karena orang itu telah membunuh atau membuat kerusakan di muka bumi-- dianggap sama dengan membunuh seluruh manusia (Surah Al Maidah: 32). Dari situ saya percaya, betapa Islam melarang pemeluknya berbuat kerusakan, sekecil apapun.

Celakanya, logika pembunuh dan penakluk itu tadilah yang saya lihat sehari-hari dipercaya orang di negeri ini. Buat masyarakat yang sakit, beda pembunuh dan penakluk ada pada jumlah. Antara pecundang dan pemenang disekat oleh kuantitas. Pas berangkat ke kantor pagi-pagi, lawanlah arus di Jalan Raya Bekasi sendirian, dan Anda akan ditilang polisi. Tapi jika melawan arus itu Anda lakukan beramai-ramai, maka Anda akan lebih cepat sampai tujuan dibandingkan dengan pemakai jalan lain yang tertib mengantri, lagi bebas dari resiko kena sanksi.

Bakarlah fasilitas umum sendirian, dan Anda akan dipenjara sebagai kriminal. Tapi cobalah Anda hancurkan fasilitas umum beramai-ramai, plus atas nama Tuhan, maka Anda akan bebas merdeka dan bahkan dipuja sebagai pejuang jihad.

Untuk kesekian kali, saya patah hati. Solusi untuk perbedaan pendapat dan keberagaman di sini hanya satu, dan itu adalah kekerasan. Makin hari makin tak terkendali. Belum selesai kasus Ahmadiyah, baru-baru ini muncul lagi kasus lain yang lagi-lagi soal agama. Karena negara gagal dan selalu terlambat melindungi warganya, maka hukum yang berlaku adalah hukum jumlah. Siapa yang lebih banyak, itulah yang menang, dan oleh karenanya berhak atas klaim kebenaran.

Lokasi kejadian kali ini di Sampang, Madura. Terjadinya berulang-ulang dan yang terakhir adalah hari Kamis, 29 Desember 2011. Yang satu kelompok Sunni, yang satunya lagi Syiah. Mereka berslisih paham. Jumlah orang Sunni lebih banyak dari Syiah. Maka, akhir dari cerita ini gampanglah ditebak. Kelompok Syiah kalah. Madrasah, mushola, dan rumah mereka dibakar. Jamaahnya dikejar-kejar seperti mengejar babi hutan, dipukuli, dan dibunuh. Sementara aparat negara diam di tempat, terpaku menjadi penonton yang baik. Yang saya maksud dengan diam di tempat itu tidak hanya terbatas pada polisi tidak hadir pada saat kerusuhan terjadi, melainkan juga ketidakmampuan intelijen untuk mendeteksi bibit konflik ketika konflik itu masih berupa kecambah dan belum kadung jadi pohon yang menjulang ke langit dengan akar yang menghujam dalam ke tanah.

Pembukaan UUD 1945 jelas-jelas ngomong, tujuan kita membentuk negara ini adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, apapun sukunya, apapun agamanya. Apalagi untuk urusan keyakinan, yang mau berdebat 7 hari 7 malam juga pasti nggak akan ada selesainya. Jika yang kuat dibiarkan menindas yang lemah, dan yang mayoritas menindas yang minoritas, tidak perlulah ada institusi bernama negara. Dibiarin saja, yang terjadi juga akan demikian adanya.

Telah terlalu lama kita ini terpaku pada jumlah. Perhatian baru diberikan jika pelakunya massal. Kalau ada bencana atau kecelakaan lalu lintas, yang ditanayakan dulu pastilah berapa korbannya. Kalau sedikit, biarin aja. TKW yang terancam hukuman mati, karena jumlahnya cuma satu di Arab sono, ya dicuekin. Padahal mau satu atau seribu, yang namanya nyawa warga negara haruslah menjadi prioritas utama. Makanya, saya sering bertanya: seandainya ada WNI yang mau dihukum pancung di Arab Saudi, dan WNI itu adalah Edi Baskoro Yudhoyono putra kesayangan Ibu Negara, akankah pemerintah bereaksi dalam kadar yang sama cueknya? Jika iya, berarti negara ini sudah tidak pantas ada; jika tidak, berarti amanat konstitusi yang menyatakan bahwa setiap warga negara punya kedudukan yang sama di mata hukum dan pemerintahan adalah omong kosong belaka.

Pun untuk korban pembunuhan oleh kelompok manusia yang mengatasnamakan Tuhan, yang merasa bahwa agamanya yang paling benar, dan penganut alirannya saja yang berhak masuk surga. Negara ini seperti berlagak buta jika yang melayang hanya 1 atau 2 nyawa. Saya tidak sedang tertarik untuk membahas Islam aliran mana yang benar dan mana yang sesat, karena ngomongin itu setiap orang pasti punya argumentasi masing-masing. Di Sampang, Sunni boleh jadi menang, bukan karena mereka yang benar, tapi lebih karena jumlah mereka lebih banyak dari Syiah. Tapi di Iran? Cobalah Anda bilang Syiah sesat, dan Anda akan dicincang beramai-ramai di alun-alun Teheran. Saya hanya ingin bilang, membunuh orang lain, dengan dalih beda keyakinan atau aliran agama, tidak seharusnya terjadi di negara dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Selamat tahun baru 2012. Semoga Indonesia tambah dewasa.