Rabu, Juni 15, 2011

Pemarah yang penakut

"Kalau hanya tersedia  dua pilihan: jadi perokok pasif untuk 20 menit atau muka saya bonyok ditonjok orang, tentu saya pilih yang pertama saja".
 
Banyak teman yang bilang, saya ini orang yang nggak bisa marah. "Kamu itu kok sabaaaar banget to, Mas," kata Yuni dan Alin, tetangga sebelah kamar saya di Rotterdam. "Aku paling nggak bisa ngebayangin gimana tampang Heri kalau ngamuk. Habis, diapa-apain diem aja," kata Pak Haryo, kolega senior seruangan di Bappenas. Di mata mereka, saya ini penyabar to the max.  

Tapi, tahukah Anda, saya sebetulnya tidak semulia itu. Saya adalah orang yang sesungguhnya sangat mudah dibuat geram bahkan oleh sesuatu yang barangkali menurut Anda sepele.

Saya, misalnya, sangat bisa menjadi geram hanya karena pas ngantri panjang isi bensin motor Honda Vario andalan di SPBU terus motor di depan saya dibiarkan menyala oleh pemiliknya. Apalagi kalau motor itu suaranya berisik di kuping, asapnya mengepul bikin pedes mata dan bikin eneg kalau sudah kesedot hidung. Setiap kali motor di ujung sana kelar dilayani dan antrian bergerak sejengkal, motor di depanku itu geser juga sejengkal dengan gas ditarik sedikit, begitu seterusnya. Sering saya membatin, orang kok males bener, sampai geser motor di lintasan datar sejengkal saja--yang butuh energi pasti tidak sampai 1 kilo kalori--ogah pakai tenaga sendiri.

Kalau ditegur, mungkin biker itu akan bilang gini. "Ini motor, motor gue. Bensin juga gue sendiri yang bayar, kagak minta dibeliin sama moyang loe. Terserah gue dong ni motor mau gue nyalain kapan aja." Persis seperti stiker yang nempel di spakbor di bawah pelat nomor, motor aing kumaha aing (bahasa Sunda, katanya sih artinya kira-kira: motor gue, suka-suka gue dong).

Saya juga mudah sekali sebel sama tamu hotel yang karena merasa sudah bayar, terus sewenang-wenang jor-joran make air, listrik, tivi, dan nyalain AC bahkan ketika kamar ditinggal keluar seharian. "Biarin, terserah gue, toh sudah gue bayar," adalah justifikasi egois paling konyol yang pernah saya dengar.

Ini adalah khas pikiran orang-orang egois yang pusat dunia terletak di "saya". Pengetahuan bahwa dengan memboroskan listrik sama dengan mubazirin bahan bakar fosil, nyalain AC padahal ruangan dibiarkan kosong berarti menzalimi lapisan ozon, menyalakan motor pada saat mengisi BBM adalah menyumbang polusi; sepertinya harus puas hanya menjadi pengetahuan yang jauh dari diamalkan.

Saya juga mudah sekali tersulut emosi ketika menemukan orang, entah penumpang, kernet, atau malah sopirnya sendiri, yang merokok di dalam angkutan umum sembari menebar racun ke seluruh penumpang. Buat orang-orang macam ini, teori bahwa merokok sejatinya adalah aktivitas sosial dan bukan aktivitas individu tentulah tidak pernah terlintas di benak mereka.

Saya selalu berada dalam dilema menghadapi perokok dalam angkutan umum model begini. Mau turun saja, saya sudah kadung bayar ongkos. Mau didiemin, tersiksa. Cilakanya, mau negur, saya juga selalu tak punya cukup nyali. Ini karena trauma masa lalu yang hingga kini masih terus menghantui. Syahdan, saya pernah negur orang yang merokok di dalam metromini 49 jurusan Manggarai-Pulo Gadung. Bukannya minta maaf, saya malah ditantang berkelahi. Mana si Mas itu badannya kekar, item, sangar, ada tatonya pula gambar ular kobra di jidatnya. Jelas, saya langsung mengkeret. Saya, yang dari kecil hidup dalam keluarga bahagia, dan dididik untuk anti-kekerasan--dan menyukai kekenyalan--, jelas bukan lawan seimbang bagi preman model beginian. Realistis saja, kalau hanya tersedia  dua pilihan: jadi perokok pasif untuk 20 menit atau muka saya bonyok ditonjok orang, tentu saya pilih yang pertama saja.

Ngomong-ngomong tentang merokok di angkutan umum, saya kok jadi ingat pengumuman simpatik cerdas yang pernah saya temukan di Kaskus. "Kami tidak melarang Anda merokok di sini, tapi mohon asapnya ditelan". Itu pengumuman sangat brilian, menurut saya.

Kesimpulannya adalah, bukannya saya penyabar dan tidak mudah marah. Saya ini pemarah, tapi selalu takut jika kemarahan itu saya turuti, akibatnya justru akan merugikan saya.

Senin, Juni 13, 2011

Seribu hari Bapak pergi


Selasa Pon, 14 Juni 2011 ini, genap seribu hari sudah ayah saya, Sagiman bin Samidjan, dipanggil pulang oleh Yang Mahakekal. Nun di Kramas, kampung halaman saya di Semarang sana, sebuah upacara sederhana--namun mudah-mudahan khidmat--digelar. Sebagaimana masyarakat muslim tradisional Jawa pada umumnya, upacara peringatan nyeribu hari adalah rangkaian terakhir yang perlu dilaksanakan oleh sebuah keluarga yang salah satu anggotanya meninggal. Sebelumnya, ada tahlilan pada hari pertama s.d. ke-7. Terus 40 hari, lalu 100 hari, dilanjutkan satu tahun, dua tahun, dan terakhir 1.000 hari itu tadi. Inti acaranya sih kurang lebih sama, yakni tahlilan, baca surah Yasin, dan memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk memohonkan ampun bagi almarhum sekaligus meminta agar Dia sudi menerima amal ibadahnya selama hidup di dunia.

Oleh beberapa kelompok aliran agama Islam, rangkaian ritual yang kusebutkan di atas dianggap bid’ah karena Rasulullah tidak pernah mengajarkan, sebagian lagi bahkan mengharamkan. Kalau saya sih termasuk yang asik-asik aja. Wong ya tujuannya baik, niatnya juga baik lo. Baca Qur’an atau Yasin, diperintahkan. Berdoa memohonkan ampun orang yang sudah meninggal, sangat dianjurkan. Mengundang tetangga kiri kanan untuk saling bersilaturahmi, amat direkomendasikan. Dan motong kambing, dimakan bersama-sama dalam suasana guyup rukun, juga nggak ada ayat yang melarang.

Dalam penanggalan Jawa, pergantian hari adalah ketika matahari terbenam. Dus, Senin (13/6) sore ini sudah dianggap sebagai hari Selasa. Sehingga, acara tahlilan seperti kusebutkan tadipun juga rencananya digelar malam ini. Ketika kutelepon ini barusan, Mas Harsono kangmas saya yang mbarep (sulung) bilang bahwa seekor kambing sudah dipotong, Ibuk juga sudah pulang dari pasar beli segala keperluan, dan sekarang ini semuanya sedang dalam tahap masak-memasak dibantu oleh tante-tante saya dan Ibu-ibu tetangga kiri kanan. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar sesuai rencana.

Sebenarnya, jauh-jauh hari Ibuk sudah wanti-wanti agar saya bisa ikut bergabung dengan tahlilan malam nanti. “Kamu bisa pulang kan, Le?”, tanya Ibuk sebulan lalu. Tapi karena alasan klise, banyaknya pekerjaan kantor yang tidak bisa begitu saja ditinggal dan si Wisanggeni kok ya ngepas banget sedang ujian kenaikan kelas, beberapa hari lalu saya terpaksa bilang ke Ibuk tidak bisa ke Semarang dan hanya bisa kirim doa dari Jakarta saja. Terdengar nada kecewa di seberang sana, dan saya sangat bisa membayangkan ekspresi beliau kalau sudah kecewa begitu, tanpa harus melihatnya.

Sedih sih sebenarnya. Tapi saya yakin, Allah mendengar doa saya dari belahan bumi manapun doa itu saya panjatkan. Mudah-mudahan, seandainya bisa melihat dari alam sana, Bapak justru bangga karena menjadi PNS yang berdedikasi dan ayah yang bertanggung jawab adalah prinsip yang dulu setiap waktu beliau wasiatkan kepada saya.

Ketika saya posting tulisan ini di sini, ada kerinduan luar biasa kepada Bapak. Juga kangen yang tak tertahankan kepada Ibuk. Semoga Bapak sedang nyantai bahagia di sana, bersama para malaikat yang ramah menemaninya. Dan Ibuk, mudah-mudahan beliau terus dikasih sehat dan panjang umur, agar selalu dapat menyambutku dengan senyum dan elusan lembut di kepalaku setiap aku berkesempatan pulang ke dalam peluknya.

Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku. Kasihanilah mereka, sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu aku masih kecil. Amin.

Selasa, Juni 07, 2011

Negeri orang-orang egois

Buat Anda para pemotor, alasan mengapa Anda harus menyalakan lampu bahkan di siang hari, adalah agar Anda bisa selalu terlihat. Bukan agar Anda dapat melihat. Jadi, sekalipun Anda mempunyai mata setajam burung hantu, itu bukan pembenaran untuk pagi-pagi buta naik motor ngebut melawan arus tanpa menyalakan lampu!

Karena mesti datang ke kantor jauh lebih awal dari biasanya untuk satu dan lain hal, ini tadi jam lima pagi saya sudah mruput berangkat. Jalan-jalan masih gelap. Lagi enak-enaknya memacu kendaraan karena kondisinya yang masih lumayan lancar, tau-tau dari arah berlawanan, ada motor ngebut sambil dengan sangat percaya diri melaju tanpa lampu. Kecelakaan sih tidak karena refleksku yang masih lumayan bisa diandalkan, tapi tak ayal jantung ini rasanya mau copot.

Di sisa perjalanan ini tadi, sambil terus memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa telah terhindar dari kecelakaan konyol yang tidak perlu, saya juga tak henti-hentinya prihatin akan betapa Indonesia negera tercinta kita bersama ini kian hari kian dipenuhi oleh orang-orang egois. Seperti biker pemberani tadi, sikap egois itu berwujud: "yang penting gue bisa ngelihat loe, tak peduli loe bisa ngelihat gue apa kagak".

Egois, seperti Anda tahu, adalah sikap untuk melihat segala sesuatu dari kacamata diri sendiri. Saya adalah pusat dari segalanya, dan Anda hanyalah penggembira. Saya pemeran utama, Anda figurannya. Dan di sini, sikap egois itu makin menjadi primadona.

Pejabat dengan kawalan voorijder di jalan raya, “Biarin semua orang pada frustasi kejebak macet di mana-mana, asal gue lancar jaya tak kuang suatu apa”.

Koruptor, “egepe negeri ini bangkrut, yang penting gue kaya raya”.

Pemilik mobil yang membuang sampah dari balik kaca, “peduli setan jalanan jorok penuh sampah, asal mobilku bersih tanpa cela”.

Orang tolol sok jagoan yang merokok di metromini, “biarlah kalian keracunan mati pelan-pelan, yang penting gue asyik dengan rokok di setiap hisapan”.

Angkot yang ngetem sembarangan di perempatan, “biarlah semua orang sengsara jalanan mampet, yang penting setoran gue aman”.

Dan masih banyak lagi yang lainnya....

Apa boleh buat, level dari bangsa ini memang baru segini. Jan, kere tenan!