"Kalau hanya tersedia dua pilihan: jadi perokok pasif untuk 20 menit atau muka saya bonyok ditonjok orang, tentu saya pilih yang pertama saja".
Banyak teman yang bilang, saya ini orang yang nggak bisa marah. "Kamu itu kok sabaaaar banget to, Mas," kata Yuni dan Alin, tetangga sebelah kamar saya di Rotterdam. "Aku paling nggak bisa ngebayangin gimana tampang Heri kalau ngamuk. Habis, diapa-apain diem aja," kata Pak Haryo, kolega senior seruangan di Bappenas. Di mata mereka, saya ini penyabar to the max.
Banyak teman yang bilang, saya ini orang yang nggak bisa marah. "Kamu itu kok sabaaaar banget to, Mas," kata Yuni dan Alin, tetangga sebelah kamar saya di Rotterdam. "Aku paling nggak bisa ngebayangin gimana tampang Heri kalau ngamuk. Habis, diapa-apain diem aja," kata Pak Haryo, kolega senior seruangan di Bappenas. Di mata mereka, saya ini penyabar to the max.
Tapi, tahukah Anda, saya sebetulnya tidak semulia itu. Saya adalah orang yang sesungguhnya sangat mudah dibuat geram bahkan oleh sesuatu yang barangkali menurut Anda sepele.
Saya, misalnya, sangat bisa menjadi geram hanya karena pas ngantri panjang isi bensin motor Honda Vario andalan di SPBU terus motor di depan saya dibiarkan menyala oleh pemiliknya. Apalagi kalau motor itu suaranya berisik di kuping, asapnya mengepul bikin pedes mata dan bikin eneg kalau sudah kesedot hidung. Setiap kali motor di ujung sana kelar dilayani dan antrian bergerak sejengkal, motor di depanku itu geser juga sejengkal dengan gas ditarik sedikit, begitu seterusnya. Sering saya membatin, orang kok males bener, sampai geser motor di lintasan datar sejengkal saja--yang butuh energi pasti tidak sampai 1 kilo kalori--ogah pakai tenaga sendiri.
Kalau ditegur, mungkin biker itu akan bilang gini. "Ini motor, motor gue. Bensin juga gue sendiri yang bayar, kagak minta dibeliin sama moyang loe. Terserah gue dong ni motor mau gue nyalain kapan aja." Persis seperti stiker yang nempel di spakbor di bawah pelat nomor, motor aing kumaha aing (bahasa Sunda, katanya sih artinya kira-kira: motor gue, suka-suka gue dong).
Saya juga mudah sekali sebel sama tamu hotel yang karena merasa sudah bayar, terus sewenang-wenang jor-joran make air, listrik, tivi, dan nyalain AC bahkan ketika kamar ditinggal keluar seharian. "Biarin, terserah gue, toh sudah gue bayar," adalah justifikasi egois paling konyol yang pernah saya dengar.
Ini adalah khas pikiran orang-orang egois yang pusat dunia terletak di "saya". Pengetahuan bahwa dengan memboroskan listrik sama dengan mubazirin bahan bakar fosil, nyalain AC padahal ruangan dibiarkan kosong berarti menzalimi lapisan ozon, menyalakan motor pada saat mengisi BBM adalah menyumbang polusi; sepertinya harus puas hanya menjadi pengetahuan yang jauh dari diamalkan.
Saya juga mudah sekali tersulut emosi ketika menemukan orang, entah penumpang, kernet, atau malah sopirnya sendiri, yang merokok di dalam angkutan umum sembari menebar racun ke seluruh penumpang. Buat orang-orang macam ini, teori bahwa merokok sejatinya adalah aktivitas sosial dan bukan aktivitas individu tentulah tidak pernah terlintas di benak mereka.
Saya selalu berada dalam dilema menghadapi perokok dalam angkutan umum model begini. Mau turun saja, saya sudah kadung bayar ongkos. Mau didiemin, tersiksa. Cilakanya, mau negur, saya juga selalu tak punya cukup nyali. Ini karena trauma masa lalu yang hingga kini masih terus menghantui. Syahdan, saya pernah negur orang yang merokok di dalam metromini 49 jurusan Manggarai-Pulo Gadung. Bukannya minta maaf, saya malah ditantang berkelahi. Mana si Mas itu badannya kekar, item, sangar, ada tatonya pula gambar ular kobra di jidatnya. Jelas, saya langsung mengkeret. Saya, yang dari kecil hidup dalam keluarga bahagia, dan dididik untuk anti-kekerasan--dan menyukai kekenyalan--, jelas bukan lawan seimbang bagi preman model beginian. Realistis saja, kalau hanya tersedia dua pilihan: jadi perokok pasif untuk 20 menit atau muka saya bonyok ditonjok orang, tentu saya pilih yang pertama saja.
Ngomong-ngomong tentang merokok di angkutan umum, saya kok jadi ingat pengumuman simpatik cerdas yang pernah saya temukan di Kaskus. "Kami tidak melarang Anda merokok di sini, tapi mohon asapnya ditelan". Itu pengumuman sangat brilian, menurut saya.
Kesimpulannya adalah, bukannya saya penyabar dan tidak mudah marah. Saya ini pemarah, tapi selalu takut jika kemarahan itu saya turuti, akibatnya justru akan merugikan saya.
