Rabu, April 23, 2008

Pesan damai yang berakhir ancaman


“...Ini doa Nabi Muhammad s.a.w. Kirim pd 5 teman, Insya Allah 2 hari kmdian Anda akn m’dgr kabar baik dgn m’dpt kbhgiaan. Tp jk Anda tdk mnybrkn, maka Anda akan m’dpt musibah bsr, DEMI ALLAH". Preeeeettttt!!!!

Seperti aku, mungkin Anda sering menerima SMS berantai seperti di atas. Polanya kurang lebih sama: diawali dengan hal-hal indah seolah menyebarkan kedamaian, kemudian disisipi dulu dengan iming-iming bahwa kita bakalan dapat keberuntungan jika kita mau meneruskan rantai pesan itu ke sekian orang, dan ditutup dengan ancaman akan mendapat celaka jika kita enggak memforwardnya. Dan, pesan berantai itu lebih sering, kalau enggak boleh dibilang selalu, menggunakan kalimat-kalimat religius, menyentuh hal paling prinsip dari sebagian besar kita, keimanan. Rupanya, “SMS religius” semacam ini juga melanda HP temen-temen dari agama lain. Si Meitha, temen seruanganku yang Kristen, mengaku juga sering dapet SMS kaya gituan.

Cuma, begitu pesan itu diakhiri dengan kalimat bernada ancaman, bukannya respek, aku justru lebih sering sebel. Bukan pada si teman pengirim pesan karena aku percaya dia melakukan itu biar dapat jackpot sekaligus terhindar dari celaka, tapi lebih pada orang yang aku nggak kenal namanya, nggak pernah tahu wajahnya seperti apa, dan have no idea juga dia ada di mana, yang menjadi sumber pertama dari pesan itu. Di mataku, orang itu justru melecehkan agama yang kuyakini karena mengatasnamakan Tuhan untuk mengancam orang, seolah dia paling tahu isi hati dan kehendak-Nya. Jauh lebih parah, tapi mirip-mirip, dengan orang yang pakai kartu nama Jenderal untuk nakut-nakutin Polantas berpangkat Kopral ketika disemprit karena melanggar rambu lalu lintas, agar tidak kena tilang, padahal sang Jenderal juga mungkin lupa kapan dan di mana tuh kartu-nama dia kasihin ke tuh orang.

Islam yang aku pelajari dan yakini adalah agama yang mengajarkan cinta kasih dan bukannya kebencian. Tuhan yang aku sembah adalah Dia yang Maha Pengampun dan Pemberi Rahmat, bukan Maha Pendendam dan Penebar Bencana. Dan Nabi yang aku teladani adalah sosok rahmatan lil alamin, penebar rahmat bagi dunia seisinya, yang dengan tulus memberi maaf bahkan kepada orang yang menzalimi dan meludahinya, menjadi orang pertama yang datang dan merawat orang itu ketika ia sakit dan tiada yang peduli. Maaf itu beliau berikan bahkan jauh sebelum orang itu memintanya.

Satu dari sedikit ayat Quran yang aku hafal adalah “laa iqra hafiddin”, artinya kurang lebih “nggak ada paksaan dalam beragama”. Mudah-mudahan aku nggak salah, ayat itu kira-kira mau bilang Tuhan nyuruh elo sholat, tapi kalau elo nggak sholat nothing will happen to you. Elo wajib puasa, tapi kalau elo nggak puasa nggak bakalan tiba-tiba elo ketabrak mobil atau kesamber petir. Itung-itungannya bakalan ada ntar di akhirat sono, bukan di sini. Makanya aku heran kok ada aja orang yang main ancam kalau elo nggak sebarin ini SMS ke 5 temen elo, elo bakalan kena musibah dua hari lagi.

Nah kalau Tuhan tuh nggak suka main ancam, apakah janji akan adanya neraka itu bukan ancaman? Menurutku bukan. Tentu ini hanya pendapat orang yang gak banyak ngerti mengenai agama, tapi menurutku neraka tuh mesti kita lihat lebih sebagai sebuah konsekuensi dari tindakan ketimbang ancaman. Maksudku, seperti kalau Anda makan, maka Anda kenyang. Kalau Anda pegang bara api, maka tangan Anda bakalan kebakar. Just that simple. Aturan-aturannya jelas, baik dalam Quran maupun Hadits, yang begini-begini hukumnya wajib, yang begini sunnah, yang ini mubah, yang ini makruh, yang ini haram. Yang ini diperintahkan, yang itu dilarang.

Akhir cerita, aku hanya ingin menghimbau kepada siapapun Anda, jangan mudah memforward SMS yang ujung-ujungnya main ancam karena dengan begitu, berarti kita bikin tidak tenang orang. Sadar atau tidak, kita justru bakalan makin jauh dari esensi ajaran agama yang kita anut, yang selalu menyeru agar kita bisa menjadi rahmat bagi sesama. Kalaupun kita mau memforward tuh SMS karena niat suci untuk syiar, luangkan sedikit waktu untuk menghapus bagian ancaman itu. Lebih baik lagi jika Anda juga menghapus bagian “....Insya Allah 2 hari kemudian Anda akan mendengar kabar baik dengan mendapat kebahagiaan”, pertama agar niat Anda betul-betul lurus mengharap ridho Illahi dan bukan ngirim SMS karena ada maunya. Kedua, agar jika yang Anda kirimi SMS tidak mendapat kebahagiaan seperti bunyi pesan dalam SMS itu, Anda tidak harus berdosa karena mengingkari janji.

Tidak ada alasan untuk takut dapat celaka karena tidak memforward SMS. Tuhan toh sudah melengkapi kehidupan setiap makhluk-Nya dengan takdir masing-masing. Bapak saya sering bilang gini, siji pati, loro jodho, telu wahyu kuwi ono astane Gusti Kang Moho Kuwoso (ajal, jodoh, dan rejeki itu ada di tangan Allah). Maka, tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan, selain berserah diri kepada-Nya sembari memohon ridho dan berikhtiar yang kita bisa...

Cukup sekian, mau minum obat dulu. Sudah mulai ngaco nih omongan gue....

2 komentar:

Rusni mengatakan...

Setujuh Mas... Setujuh deh aku... Aku juga sering sebel kalo dapet sms ato email2 ato posting2 kayak gitu...

Thohir Afandi mengatakan...

Betul Mas Heri, saya juga seringkali menemukan kejadian demikian, baik yang dikirim by sms atau tiba2 dikirim fotocopy satu gepok isinya ya gitu, ngaco. Dalam hal disampaikan via sms, yang saya lakukan adalah membalas si pengirim sambil meng-educate agar hal-hal demikian tidak sampai mengacaukan akidah, kepercayaan yang berlebih kepada berita yang jauh dari dasar2 keimanan justru akan merusak keimanan itu sendiri. Malah saya balas dengan kiriman amalan doa2, dengan pesan tambahan: boleh diteruskan ke orang lain, atau diamalkan sendiri, atau tidak diamalkan sama sekali, semua tidak berakibat resiko yang mengerikan.