Kamis, September 24, 2009

Darah itu merah, Jenderal!


Satu hari di bulan September pertengahan tahun 80an. Waktu itu, aku masih kelas 5 SD. Semua siswa SD Negeri Kramas I dan II, dari kelas 1 s.d 6, dikomando Kepala Sekolah dan guru-guru mendatangi balai kelurahan. Balai yang hari-hari biasa digunakan untuk rembug desa dan pertunjukan kesenian, hari itu disulap menjadi gedung bioskop. Ventilasi dan jendela pada ditutup koran biar ruangan gelap. Di depan ada layar, dan di tengah-tengah ruangan ada alat aneh yang dikemudian hari aku ketahui bernama proyektor. Ada sound system yang berbunyi menggelegar ketika Pak Kepala Sekolah menyampaikan sambutan. Kami semua duduk lesehan dan diperintahkan untuk tidak gaduh.

Acara utama hari itu adalah menonton film, judulnya aneh tapi juga kesannya serem: Pengkhianatan G30S/PKI. Khusus buat kami siswa kelas 4 s.d 6, tugas yang diberikan lebih berat, karena kami wajib membuat semacam tulisan untuk menceritakan kembali film yang kami tonton itu.

Pak Kepala Sekolah selesai sambutan, lampu dimatikan, ruangan gelap, dan film horor itupun mulai diputar. Selama lebih dari 3,5 jam, kami anak-anak bau kencur yang belum juga genap berumur 12 tahun disuguhi adegan-adegan mengerikan, dar der dor, penuh kekerasan dan ceceran darah di sana sini yang entah kenapa kok mulus aja nggak kena gunting Badan Sensor Film. Teman-temanku, terutama cewek, banyak yang menjerit ketakutan sambil menutup mata setiap kali adegan penyiksaan dan penembakan para jenderal ditayangkan. Kami jadi serba salah. Nggak tahan nonton tuh film, tapi mau keluar juga takut sama Pak Guru. Dan, ketika film itu usai diputar, kamipun keluar balai kelurahan dengan perasaan lega. Siksaan berakhir, meski kulihat beberapa teman masih kelihatan pucat mukanya.

Terus terang, buat aku, film itu bikin trauma dan trauma itu nggak benar-benar hilang sampai sekarang. Apalagi setiap tanggal 30 September tuh film pasti diputar di satu-satunya sarana hiburan yang kita punya, TVRI. Anda yang melewati masa kanak-kanak dan remaja atau penonton setia TVRI dari pertengahan tahun 80an sampai akhir 90an ketika Suharto akhirnya lengser, pasti akrab dengan adegan-adegan khas ala film G30S/PKI itu. Buat aku, yang paling kuingat tuh ada adegan close up mulut yang menenuhi layar, dan dari tuh mulut keluar asap rokok.

Kalau kata-kata, yang paling kuingat adalah si tokoh PKI yang paling suka menyapa temannya dengan sebutan “kawan”, atau quotasi abadi “darah itu merah, Jendralll!”. Musiknya juga mencekam. Paling bikin aku ngeri tuh kalau sudah sampai adegan pas pasukan Cakrabirawa meloncat turun dari truk nyamperin rumah Jenderal-jenderal yang dijadikan target, pakai gerakan lambat, dengan iringan musik yang khas. Mana kalau diputar di TVRI, adegan itu muncul pas jamnya udah malam abis Dunia Dalam Berita. Selalu jadi dilema, mau terusin nonton ngeri, mau dimatiin tuh tivi satu-satunya hiburan yang kita punya. Andai saja waktu itu udah ada Melati untuk Marvel, meskipun Gw najis banget nontonnya, Gw bakalan milih tuh sinetron sampah.
Kalau tujuan film itu untuk nakut-nakutin dan bikin trauma anak kecil, tuh film berhasil banget. Nggak ada hepi-hepinya deh nonton tuh film. Satu-satunya cerita indah adalah ketika Pak Guru membagikan nilai dari tugas untuk menceritakan kembali film Pengkhinatan G30S/PKI yang kami dipaksa nonton dibalai kelurahan sebagaimana kuceritakan di awal tulisan ini. Aku dapat nilai 90 (kayaknya itu nilai tertinggi di kelas), boleh jadi karena di alenia terakhir kutulis begini: “Pemberontakan G30S membuktikan bahwa PKI sangat licik. Untunglah ada Bapak Suharto yang dengan gagah berani mampu menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh PKI tersebut”.

Selamat memperingati hari Kesaktian Pak Harto, eh Kesaktian Pancasila ding. Sekian.

Selasa, September 15, 2009

Pakai Kebaya Naik Angkot

Cobalah Lo pakai kebaya, beskap, atau pakaian tradisional derah lain (koteka barangkali), terus naiklah mikrolet, metromini, atau bis kota. Tanggung Lo bakalan saltum mati gaya dan jadi pusat perhatian penumpang lainnya. Di Jakarta, dan di manapun di negeri tercinta Indonesia, kostum standar naik angkutan umum tuh nggak jauh-jauh dari jins belel-kaos oblong butut, atau baju seragam kantor, paling mentok ya blazer. Dus, keliatan nggak pantes banget pakai jas apalagi pakaian tradisional.

Setuju nggak, kalau kubilang bahwa penyediaan angkutan umum di Indonesia tuh disadari atau enggak berangkat dari prinsip menyediakan sarana transportasi bagi mereka yang miskin atau belum mampu beli kendaraan sendiri. Akibatnya, layanan yang diberikan juga ala kadarnya, sebatas "asal Lo keangkut juga udah syukur". Akibatnya (lagi), buat banyak orang naik angkot tuh jadinya juga didorong oleh rasa terpaksa karena enggak ada pilihan lain, sambil dalam hati berangan-angan penuh dendam: “awas, kalau gue tar punya mobil sendiri, gak bakalan sudi gue naik nih angkot”.

Gimana nggak terpaksa kalau mutu layanan angkutan umum dari waktu ke waktu bukannya tambah baik malah makin amburadul. Saat naik angkot adalah momentum di mana kesabaran dan ketabahan kita diuji. Sudahlah waktu kedatangan dan tiba di tempat tujuan nggak bisa ditebak, ngetem seenak perut pula seolah waktu penumpang tuh nggak ada harganya. Abis itu, ugal-ugalan kalau dari jauh keliatan angkot lain nyusul. Waktu naik, kaki sebelah masih ngegantung si angkot udah main tancap gas; dan waktu turun, si sopir dan kenek suka nggak sabaran teriak nyuruh cepet sambil ngetok-ngetokin koin ke kaca atau besi pegangan dengan ritme mengintimidasi (kalau Anda user angkot, Anda pasti hafal dengan kelakuan kenek yang beginian). Belum lagi copet yang makin canggih bekerja dalam tim 4-6 orang, pengamen nggak jelas, orang minta sumbangan main ancam ngaku baru keluar dari penjara karena mbunuh orang dan sedang butuh duit buat pulang kampung, penumpang kampret egois atau malah sopir dan kenek jiancuk yang dengan cueknya menebar racun merokok di tengah penuh sesak penumpang. Dan, masih banyak lagi yang lainnya yang bikin naik angkot di sini tuh aktivitas yang jauh dari menyenangkan.

Punya mobil sendiri agar terbebas dari pedihnya siksa angkot adalah dambaan setiap insan di sini. Di Indonesia, di mana orang dihargai karena isi kantongnya dan bukan isi kepalanya, berlaku hukum “ada uang Anda dipuja, nggak ada uang Anda dinista”. Makanya nggak heran kalau urutan yang diutamakan dalam mempergunakan jalan dan parkir di sini adalah: mobil, motor, baru kemudian sepeda atau pejalan kaki. Buktinya, kalau kita datang ke hotel atau mall, di mana parkir untuk sepeda? Nggak ada Bos. La kalau parkir motor? Nun jauh di pojok, atau di basement paling bawah. Mobil? Di depan donk, atau dibasement yang dekat pintu masuk atau nggak jauh dari lift. Heran, padahal kalau mau dihitung-hitung parkir motor tuh bisa mendatangkan duit lebih banyak dari mobil, wong space untuk satu mobil bisa dipakai buat paling enggak empat motor.

Pejalan kaki dan pengguna angkot jelas paling sengsara. Di banyak tempat tidak tersedia trotoar, atau kalaupun tersedia, trotoar itu lebih sering diserobot motor atau warung tenda buat jualan pecel lele. Penyandang cacat apa lagi. Nggak ada tempat bagi mereka unless they have their own car.

Bensin murah, mobil butut karatan yang kalau nyantol orang bisa bikin tetanus dan harusnya jadi besi tua tetep boleh jalan, kredit mobil atau motor bisa tanpa DePe, dan masih banyak lagi kemudahan-kemudahan lain jelas bikin orang makin napsu punya kendaraan sendiri. Akibatnya, mau dibikin lebar selebar lapangan bola sekalipun, mau dibikin jalan layang sekalipun, jalanan tetap aja macet wong kendaraan pribadi jumlahnya nambah terus nggak terkendali.

Harusnya, penyediaan angkutan umum tuh didasari niat yang lebih mulia, misalnya penghematan energi, pengurangan polusi, atau ketertiban kota agar nyaman dihuni oleh penduduknya. Dengan motif seperti itu, prinsip “pokoknya orang terangkut” jelas nggak cukup. Kalau angkot tuh tepat waktu datang dan nyampainya, tarifnya murah atau gratis sekalian, nggak ngetem atau ugal-ugalan, nggak desek-desekan, bebas copet, bebas pengamen, bebas asap rokok, terminal dan haltenya nyaman gak bau pesing, sopir dan keneknya santun, aksesibel buat semua; sementara harga bensin mahal, harga beli dan pajak mobil selangit, tarif parkir bikin klenger; enggak usah disuruh juga orang pada rame-rame naik angkot.