Words dont mean, people do....
Enam tahun kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, mungkin itulah satu-satunya teori yang secara ajaib bisa dan masih nyantol di kepalaku hingga sekarang. Itupun aku lupa siapa orang hebat yang pertama kali ngomong gitu. Gimana enggak, wong untuk mata kuliah Teori Komunuikasi yang angker itu aku cuma dikasih C. Dasar takdirnya C, dibela-belain ngulang sampai malu berkali-kali kuliah bareng yunior, tetep aja hasilnya C.
Teori di atas kurang lebih maksudnya adalah pada hakikatnya kata-kata tidak mempunyai makna, manusialah yang melekatkan makna pada kata-kata itu. Kata “amis” misalnya, bagi orang Jawa berarti anyir seperti bau ikan. Tapi, bagi orang Sunda berarti manis seperti rasa gula. Beda jauh maknanya, meski antara orang Jawa dan Sunda secara geografis tinggal di satu pulau. Aku ingat dulu waktu belum baliq ngaji Qur’an diajarin Paklik Marsani di Mushola Al Barokah yang didirikan Embah Kakungku di Kramas (daerah Tembalang Semarang –Her), aku ketawa ngakak nggak brenti-brenti ketika membaca ayat yang ada kata-kata yang kira-kira bunyinya “wala tai asu...”. Maafkan aku karena usiaku yang masih begitu muda waktu itu. Tapi sungguh, ketika membaca itu kok tiba-tiba pikiran saya ngebayangin yang bukan-bukan, yang najis jika menyentuhnya. Astaghfirullah hal’adziim. Ya Tuhan, ampuni hamba-Mu.
Pembentukan makna pada kata-kata tertentu berlangsung dalam sebuah proses konsensus sosial. Orang-orang dalam suatu komunitas yang pada akhirnya nanti akan mempertukarkan kata-kata itu, mesti saling sepakat dulu kata ini maknanya apa, kata yang itu artinya apa.
Dan prosesnya tidak hanya berhenti sampai di situ. Setelah sepakat dengan makna pada sebuah kata, tahapan berikutnya adalah meletakkan asosiasi sehingga menjadikan kata itu punya muatan nilai: baik buruk, sopan tidak sopan, dan seterusnya. Maka dari itu kemudian orang Jawa misalnya akan bilang bahwa kata “mangan” itu kasar, dan kata “dhahar” itu halus. Tidur, untuk Embah kita harus bilang sare, tapi untuk kita sendiri cukup kita bilang turu. Kenapa kata anjing dianggap kasar? Karena kata itu sering digunakan orang untuk mengekspresikan kemarahan, hinaan, atau hal-hal negatif lainnya.
Itulah kenapa ketika kita mempelajari satu bahasa, kita juga harus belajar mengenai kultur dari masyarakat di mana bahasa itu digunakan. Kultur tak pelak punya keterkaitan yang erat dengan bahasa. Indonesia, negara dengan kultur agraris yang kuat, punya banyak nama untuk “padi” --mulai dari padi itu sendiri (jika masih dalam bentuk tanaman), gabah (biji padi yang masih ada kulitnya), beras (jika sudah dikupas), nasi (jika sudah dimasak), menir (bhs Jawa, artinya kurang lebih beras yang patah kecil-kecil), upo (bhs jawa juga, artinya nasi dalam skala satuan)-- yang semunya cuma dibilang “rice” dalam bahas Inggris.
Sebaliknya, karena orang Eskimo akrab dengan salju, konon mereka punya lebih dari 50 kata untuk menyebut jenis dan bentuk salju yang berlainan, yang dalam bahasa Indonesia kita hanya punya satu kata, ya itu tadi, “salju”.
Hal lain adalah bagaimana secara psikologis kita terbiasa mengucapkan dan mendengarkan sebuah kata. Susah mau ngejelasinnya. Makanya, daripada susah-susah, mending langsung ke contoh kasus berikut. Akhir-akhir ini ada satu kata yang makin populer: “Bos”. Itu adalah kata ganti orang kedua yang kira-kira bisa berarti Dik, Mas, Mbak, Om, Pakde, Bang, Pok, Teh, dll. Jadi, Bos itu bentuk generik, enggak memandang lawan bicara lebih muda atau lebih tua, cowok atau cewek, kaya atau miskin, semuanya bisa memakai sebutan Bos. Tukang parkir yang usianya tanggung, kira-kira belum genap 18 tahun, begitu menerima recehan dari jendela mobil setelah dia bekerja keras meniup sempritan nyariin jalan keluar, akan bilang: “Makasih, Bos”. Mau yang ngasih duit itu sopir merangkap jongos yang gajinya pas-pasan, atau direktur perusahaan bonafid yang gajinya selangit dan usianya sudah kepala lima, si tukang parkir itu istiqomah menggunakan kata yang sama untuk menyapa: Bos.
Hebatnya, yang begitu itu tidak hanya anak-anak muda lo. Pernah nih, suatu malam pas aku mampir beli nasi uduk di deket rumah di kawasan Harapan Indah Bekasi, karena ketika siap-siap pulang kantor tau-tau Emaknya Wisanggeni SMS, bilang gak ada makanan di rumah, si Ibu penjual nasi uduk itu bikin aku terkejut dengan cara dia menyapaku. Ya itu tadi, pakai kata Bos segala. “Berapa bungkus, Bos?”. Weh, kaget. Secara tuh ibu sudah sepuh, limapuluhan gitu deh, seumuran sama emak gue, enteng aja bas-bos-bas-bos ke aku sepanjang kita bertransaksi.
Jujur, hingga kini aku belum bisa ngerasa nyaman jika ada orang menyapaku bos begitu. Mungkin karena itu hal baru buatku, dan manusiawi kan jika hal baru tuh selalu bikin canggung? Sama seperti dulu ketika aku dan istri, karena persiapan menjadi orang tua di saat Wisanggeni sudah umur tiga bulan dalam kandungan, sepakat saling memanggil Ayah dan Bunda, dari yang tadinya aku manggil dia nama dan dia ke aku “Mas”. Seminggu dua minggu, hingga sebulan rasanya aneh. Tapi, begitu sudah terbiasa seperti sekarang, kalau mau balik ke kebiasaan dulu manggil dia nama, atau mendengar dia memanggilku Mas, rasanya kok jadi nggak enak di mulut dan di kuping.
Aku memang lebih terbiasa dipanggil Heri saja oleh yang seumuran atau lebih tua, Mas Heri oleh yang lebih muda, atau Dik Heri oleh yang lebih tua. Maka mendengar orang, terlebih yang kenal aja kagak, memanggilku Bos, hati kecilku selalu saja bilang nih orang songong banget sih. Sok akrab. Rada-rada jengkel, mungkin sama mangkelnya dengan orang yang namanya Bambang tapi tiba-tiba dipanggil “Wagiyem”. Tapi, ya itu tadi, jika terus dibiasakan, lama-lama ya enak juga. Mungkin.
Begitulah. Pesan moral dari khotbah nggak penting ini adalah, nggak usah segan memanggilku Bos karena makin sering aku dipanggil Bos, makin cepat pula aku beradaptasi dengan panggilan Bos itu, dan dengan demikian aku menjadi nyaman jika ada orang nggak kenal tahu-tahu menyapaku “Halo, apa kabar, Bos?” (halah, lambemu Her, Her. Ngomong kok mbulet....).
Senin, April 21, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

3 komentar:
Pagi bos,
Bos, mas, mbak. pakde, om atau tante hanyalah kata ganti.
Kalau bos memang terkesan inferior, but its ok.
"Bos" merupakan simbol yang bermakna orang itu dianggap lebih dari yang memanggilnya.
That's about penghargaan terhadap orang yang dianggap lebih tinggi. That's it.
Tabik
YL
Bos Heri... Perasaan dulu ada yg ga mau di panggil Bos deh... hehehe
O iya, jadi inget nih...ada yg menginternasionalkan kata "Asu" se Eropa tahun lalu... hehehe....
Mungkin di kepala orang2 tersebut Asu artinya "Wadoh Kepleset..." atau... "Iiiih...cakepppp.." hehehe.. (Ga lucu yaaa...)....hhmmppfff
Posting Komentar