
Di bagian sebelumnya sudah kuceritakan bagaimana aku harus berdarah-darah ngantri di loket pendaftaran, terus sejam lebih ngantri lagi di poli penyakit-dalam hanya untuk diukur tekanan darahku dan hanya untuk tahu bahwa aku salah masuk kamar. Saat-saat indah di RS Persahabatan hari itu ditutup dengan tekad untuk datang pada hari berikutnya (Rabu, 16/4), pagi-pagi jam 09:00, persis sesuai pesan petugas di poli bedah urologi.
Setelah istirahat seharian, dan tidur nyenyak semalaman, Rabu pagi itu sebetulnya kondisi badanku sudah jauh lebih baik. Perut sudah enakan, warna urin sepertinya sudah normal setidaknya menurut penilaian istriku dengan membandingkannya dengan punya dia. Pendek kata, sudah nggak ada masalah. Sempat juga berpikir untuk ngantor aja ketimbang ke Persahabatan lagi. Tapi pada akhirnya tetep, kami ke rumah sakit itu lagi dengan dua pertimbangan. Pertama, sayang duitnya udah kadung bayar 35 ribu. Kedua, aku pikir toh urusan entar nggak bakalan lama wong berkas-berkas sudah dikumpulin kemarin. Dus, kalau jam 09:00 mulai dan aku dipanggil di urutan ketiga saja, itu artinya sebelum jam setengah sepuluh juga bakalan dah kelar.
Maka dengan keyakinan diri yang menggelora, berangkatlah aku dan istriku ke Persahabatan, berboncengan naik motor, aku pegang setir, istri di belakang, persis adegan sehari sebelumnya. Jam sembilan kurang satu menit kami sampai di poli urologi, istriku duduk manis di ruang tunggu, sementara aku nyamperin meja resepsionis untuk konfirmasi ulang. “Iya, berkas Bapak sudah dimasukkan antrian, silakan duduk, nanti dipanggil. Dokternya belum datang”. Sampai detik itu aku masih yakin everything will be running well.
Satu jam berlalu. Jam digital di hape HiTech H38-ku, yang bisa untuk nyetel TV itu, sudah menunjukkan pukul 10:00. Istriku mulai gelisah, akupun mulai tak sabar. Kok dokternya belum datang juga. Jangan-jangan....
Karena sudah nungguin sejam, aku merasa punya hak bertanya ke petugas resepsionis, ada apakah gerangan sehingga the doctor belum juga nampak batang hidungnya. Si suster menjawab dengan penuh percaya diri,“Biasanya jam sembilan lebih dikit juga sudah datang. Mungkin dokternya lagi ada perlu. Tungguin aja”. Waduh, sontoloyo. I dont like it. Satu dari sekian hal yang paling gue kagak suka tuh yang kaya gini, nungguin sesuatu tanpa pernah tahu kapan sesuatu itu datang. Mungkin emang gini ya tipikal layanan yang disubsidi dan cenderung bersifat monopoli, khususnya di negara di mana masyarakat tidak dianggap sebagai pemilik saham negara seperti di Indonesia tercinta ini. Pelayanan menjadi asal-asalan, tanpa senyum, dan berprinsip elo yang butuh gue, bukan gue yang butuh elo. Walhasil, take it or leave it. Kalau nggak mau, silakan minggir, antrian manusia yang butuh gue masih panjang.
Jam 11:00, ketika istriku sudah cemberut dan tidak lagi bisa tersenyum, akhirnya dokter itu datanglah. Seorang dokter laki-laki yang kelihatan masih muda dan lumayan hensem. Jalan santai dan penuh perasaan tanpa menunjukkan ketergesa-gesaan sedikitpun seolah nggak sadar bahwa puluhan orang sudah enggak sabar nungguin dia dua jam. Atau justru momen kaya gini ini dia nikmati. Merasa dibutuhkan, merasa ditunggu-tunggu kehadirannya. It’s really cool, isn’t it? Ngapain aja sih Dok, kok gini hari baru datang? Udah gitu, Pak Dokter enggak langsung masuk. Di depan pintu malah sempat-sempatnya ngobrol sambil haha hihi dulu sama suster. Halah, guemes banget aku. Kalau saja waktu itu bawa granat, sudah kulempar tuh granat ke mukanya. La wis piye, anyel tenan je.... Nggak tau orang juga punya acara lain apa ya.
Setelah sesaat si dokter masuk ke ruangan, mulailah pasien dipanggil satu-satu. Aneh, kok aku nggak dipanggil-panggil. Logikanya, karena berkasku sudah masuk sejak kemarin, mestinya aku termasuk yang pertama dipanggil. Kok ini enggak? Rasa BeTe yang tadi sempat sirna, kini kembali bersemi. Harus nunggu berapa pasien lagi aku dipanggil masuk?
Inilah yang terjadi jika sistem antrian enggak transparan kayak gini. Padahal untuk hal beginian tuh sebetulnya gampang lo kalau RS Persahabatan sedikit saja punya will untuk menghargai pasien. Bikin saja sistem antrian yang pakai tiket dan papan display. Sudah banyak kan sistem kaya gitu dipakai di sini, di bank-bank, atau aku pernah lihat juga di Samsat Jakarta Timur. Dengan begitu, pasien bisa tahu persis yang sedang ditangani tuh antrian nomor berapa. Dari situ, pasien bisa ngira-ngira, jika antrean saya nomor sekian, saat ini pasien nomor sekian yang sedang dipanggil, dan satu pasien ditangani sekian menit, maka kurang lebih jam sekian lebih sekian menit giliran saya. Pasien menjadi lebih ada kepastian. Kalau harus nunggu lama, bisa jalan-jalan dulu, cuci mata, kali aja ada pasien di poli lain yang cakep dan bisa diajak kenalan dan siapa tahu bisa berlanjut ke pelaminan.
La kalau yang ada adalah sistem antrean ala jaman prasejarah gini, pasien kan jadi susah. Mau ke WC aja mikir-mikir, jangan-jangan pas lagi asyik masyuk pipis di WC, nama gue dipanggil, dan kalau gue gak muncul, dilompati pasien berikutnya dan mesti nunggu nggak jelas kapan dipanggil lagi.
Akhirnya, setelah menanti dengan segenap kesabaran dan ketabahan, namaku dipanggil juga. Tidak banyak percakapan antara diriku dengan si dokter. Aku cuma ditanya keluhannya apa, dan belum sampai mulutku selesai bicara, tuh dokter tahu-tahu udah nulis resep dan bikin surat pengantar untuk tes darah dan rontgent BNO (ket: berbeda dengan rontgent dada, BNO tuh yang dipotret bagian puser ke bawah. Katanya sih untuk ngedetect apakah ada batu atau benda-benda asing lainnya di ginjal). Weh, cepet banget. Ya maklum saja, wong tuh dokter datengnya telat, setengah jam lagi polinya harus tutup, sementara pasiennya masih bejibun. Tidak ada kesempatan sama sekali untuk curhat, boro-boro konsultasi. Bener-bener deh, take it or leave it....
Begitulah. Hari itu aku kembali dibikin mangkel sama RS Persahabatan. Kapok deh gue berobat ke situ.
Setelah istirahat seharian, dan tidur nyenyak semalaman, Rabu pagi itu sebetulnya kondisi badanku sudah jauh lebih baik. Perut sudah enakan, warna urin sepertinya sudah normal setidaknya menurut penilaian istriku dengan membandingkannya dengan punya dia. Pendek kata, sudah nggak ada masalah. Sempat juga berpikir untuk ngantor aja ketimbang ke Persahabatan lagi. Tapi pada akhirnya tetep, kami ke rumah sakit itu lagi dengan dua pertimbangan. Pertama, sayang duitnya udah kadung bayar 35 ribu. Kedua, aku pikir toh urusan entar nggak bakalan lama wong berkas-berkas sudah dikumpulin kemarin. Dus, kalau jam 09:00 mulai dan aku dipanggil di urutan ketiga saja, itu artinya sebelum jam setengah sepuluh juga bakalan dah kelar.
Maka dengan keyakinan diri yang menggelora, berangkatlah aku dan istriku ke Persahabatan, berboncengan naik motor, aku pegang setir, istri di belakang, persis adegan sehari sebelumnya. Jam sembilan kurang satu menit kami sampai di poli urologi, istriku duduk manis di ruang tunggu, sementara aku nyamperin meja resepsionis untuk konfirmasi ulang. “Iya, berkas Bapak sudah dimasukkan antrian, silakan duduk, nanti dipanggil. Dokternya belum datang”. Sampai detik itu aku masih yakin everything will be running well.
Satu jam berlalu. Jam digital di hape HiTech H38-ku, yang bisa untuk nyetel TV itu, sudah menunjukkan pukul 10:00. Istriku mulai gelisah, akupun mulai tak sabar. Kok dokternya belum datang juga. Jangan-jangan....
Karena sudah nungguin sejam, aku merasa punya hak bertanya ke petugas resepsionis, ada apakah gerangan sehingga the doctor belum juga nampak batang hidungnya. Si suster menjawab dengan penuh percaya diri,“Biasanya jam sembilan lebih dikit juga sudah datang. Mungkin dokternya lagi ada perlu. Tungguin aja”. Waduh, sontoloyo. I dont like it. Satu dari sekian hal yang paling gue kagak suka tuh yang kaya gini, nungguin sesuatu tanpa pernah tahu kapan sesuatu itu datang. Mungkin emang gini ya tipikal layanan yang disubsidi dan cenderung bersifat monopoli, khususnya di negara di mana masyarakat tidak dianggap sebagai pemilik saham negara seperti di Indonesia tercinta ini. Pelayanan menjadi asal-asalan, tanpa senyum, dan berprinsip elo yang butuh gue, bukan gue yang butuh elo. Walhasil, take it or leave it. Kalau nggak mau, silakan minggir, antrian manusia yang butuh gue masih panjang.
Jam 11:00, ketika istriku sudah cemberut dan tidak lagi bisa tersenyum, akhirnya dokter itu datanglah. Seorang dokter laki-laki yang kelihatan masih muda dan lumayan hensem. Jalan santai dan penuh perasaan tanpa menunjukkan ketergesa-gesaan sedikitpun seolah nggak sadar bahwa puluhan orang sudah enggak sabar nungguin dia dua jam. Atau justru momen kaya gini ini dia nikmati. Merasa dibutuhkan, merasa ditunggu-tunggu kehadirannya. It’s really cool, isn’t it? Ngapain aja sih Dok, kok gini hari baru datang? Udah gitu, Pak Dokter enggak langsung masuk. Di depan pintu malah sempat-sempatnya ngobrol sambil haha hihi dulu sama suster. Halah, guemes banget aku. Kalau saja waktu itu bawa granat, sudah kulempar tuh granat ke mukanya. La wis piye, anyel tenan je.... Nggak tau orang juga punya acara lain apa ya.
Setelah sesaat si dokter masuk ke ruangan, mulailah pasien dipanggil satu-satu. Aneh, kok aku nggak dipanggil-panggil. Logikanya, karena berkasku sudah masuk sejak kemarin, mestinya aku termasuk yang pertama dipanggil. Kok ini enggak? Rasa BeTe yang tadi sempat sirna, kini kembali bersemi. Harus nunggu berapa pasien lagi aku dipanggil masuk?
Inilah yang terjadi jika sistem antrian enggak transparan kayak gini. Padahal untuk hal beginian tuh sebetulnya gampang lo kalau RS Persahabatan sedikit saja punya will untuk menghargai pasien. Bikin saja sistem antrian yang pakai tiket dan papan display. Sudah banyak kan sistem kaya gitu dipakai di sini, di bank-bank, atau aku pernah lihat juga di Samsat Jakarta Timur. Dengan begitu, pasien bisa tahu persis yang sedang ditangani tuh antrian nomor berapa. Dari situ, pasien bisa ngira-ngira, jika antrean saya nomor sekian, saat ini pasien nomor sekian yang sedang dipanggil, dan satu pasien ditangani sekian menit, maka kurang lebih jam sekian lebih sekian menit giliran saya. Pasien menjadi lebih ada kepastian. Kalau harus nunggu lama, bisa jalan-jalan dulu, cuci mata, kali aja ada pasien di poli lain yang cakep dan bisa diajak kenalan dan siapa tahu bisa berlanjut ke pelaminan.
La kalau yang ada adalah sistem antrean ala jaman prasejarah gini, pasien kan jadi susah. Mau ke WC aja mikir-mikir, jangan-jangan pas lagi asyik masyuk pipis di WC, nama gue dipanggil, dan kalau gue gak muncul, dilompati pasien berikutnya dan mesti nunggu nggak jelas kapan dipanggil lagi.
Akhirnya, setelah menanti dengan segenap kesabaran dan ketabahan, namaku dipanggil juga. Tidak banyak percakapan antara diriku dengan si dokter. Aku cuma ditanya keluhannya apa, dan belum sampai mulutku selesai bicara, tuh dokter tahu-tahu udah nulis resep dan bikin surat pengantar untuk tes darah dan rontgent BNO (ket: berbeda dengan rontgent dada, BNO tuh yang dipotret bagian puser ke bawah. Katanya sih untuk ngedetect apakah ada batu atau benda-benda asing lainnya di ginjal). Weh, cepet banget. Ya maklum saja, wong tuh dokter datengnya telat, setengah jam lagi polinya harus tutup, sementara pasiennya masih bejibun. Tidak ada kesempatan sama sekali untuk curhat, boro-boro konsultasi. Bener-bener deh, take it or leave it....
Begitulah. Hari itu aku kembali dibikin mangkel sama RS Persahabatan. Kapok deh gue berobat ke situ.

2 komentar:
Tapi masih sempet moto-moto juga kan?.... :P
Eh, moto-moto itu salah satu strategi agar nggak makin emosi...
Posting Komentar