Jumat, Desember 31, 2010

Sepakbola di tangan mantan narapidana

Pernah kutulis dalam blog ini, selalu tersedia perspektif berbeda untuk melihat satu objek yang sama. Gelas dengan kapasitas 200ml dan terisi 100ml, oleh orang yang pesimis akan dilihat sebagai setengah kosong. Bagi orang optimis, ia akan dilihat sebagai setengah penuh.

Mikrolet yang seenak perut ngetem di depan Pasar Jatinegara padahal jelas-jelas lalu lintas sedang macet parah, adalah kesempatan bagi orang-orang beriman untuk memperbanyak istighfar. Dan buat orang yang tipis imannya, si mikrolet itu adalah sasaran halalan thoyiban untuk bersumpah serapah “asu!” dan “jiancuk!”.

Pun pengunduran diri dari jabatan publik. Mundur, bagi seorang ksatria, adalah ekspresi dari tanggung jawab. Dengan mundur, dia seolah berkata kepada khalayak: “Maafkan saya, Ibu-ibu dan Bapak-bapak sekalian. Saya telah gagal menjalankan amanah yang Anda berikan. Dengan segala sesal saya mundur. Setelah ini, mudah-mudahan Anda bisa memilih orang yang lebih baik dari saya”.

Bagi seorang pecundang, mundur adalah hilangnya jabatan, terhentinya kesempatan untuk menikmati fasilitas empuk nan aduhai, dan hilanya peluang untuk korupsi. Mundur bagi manusia jenis ini, sama artinya dengan kehilangan kehormatan yang sejatinya tidak pernah dia miliki meski berangkap-rangkap jabatan dia sandang. Jabatan adalah atribut untuk mendapatkan kehormatan semu yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang berjiwa kerdil lagi miskin percaya diri.

Anda tentu tahu, siapa yang sedang saya bicarakan. Di berbagai kesempatan, orang ini selalu berdalih bahwa mundur sama artinya dengan lari dari tanggung jawab. Pertanyaannya sekarang, apakah selama ini dia punya tanggung jawab? Sorry to say, saya kok nggak percaya dia memilikinya. Pada hari di mana dia resmi terpilih sebagai Ketua Umum PSSI, aku kok menduga, yang pertama-tama terlintas di kepalanya bukan niat suci untuk bagaimana membuat sepak bola nasional maju dan berprestasi, melainkan kesempatan untuk beronani memuaskan hasrat ingin dihormati sambil merasa diri besar lagi berkuasa.

Islam mengajarkan, segala sesuatu itu tergantung niatnya. Niatnya saja sudah nggak bener, maka jangan heran jika hasilnyapun juga nggak karu-karuan. Tujuh tahun lebih orang ini memimpin PSSI, dan selama itu pula sepak bola nasional berada di lembaran paling hitam sejarahnya. Kompetisi yang selalu berakhir dengan tawuran antar supproter atau antar pemain. Pemukulan wasit adalah tontonan tiap hari. Mana bisa kompetisi sepak bola kita dijual ke mancanegara dan mendatangkan devisa, wong di dalam negeri saja, dibandingkan sinetron sampah ala Cinta Fitri Season XII ratingnya nggak ada apa-apanya.

Tahun 2006, tak satupun klub Indonesia tampil di Piala Champion Asia. Sebabnya benar-benar konyol dan nggak masuk akal. PSSI telat mendaftarkan klub yang seharusnya berhak berlaga: Persipura dan Arema. Selama PSSI dibawah kendali bapak yang satu ini, tak satupun prestasi membanggakan mampu diukir, bahkan di tingkat Asia Tenggara nggak usah kejauhan ngomong tingkat dunia. Dan, di tengah-tengah terpuruknya prestasi, masih sempat-sempatnya PSSI bikin dagelan nggak lucu dengan mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Kegagalan timnas memboyong Piala AFF 2010 kemaren itu, mudah-mudahan ada juga hikmahnya. Yakni membuka mata semakin banyak orang Indonesia, bahwa dunia persepakbolaan kita benar-benar sekarat dan butuh tindakan nyata.

Kembali ke sosok Ketua Umum PSSI. Kehidupan pribadi orang ini di luar lapangan juga tak kalah hitamnya. Tahun 2004, ia adalah tersangka kasus penyelundupan gula impor ilegal; tahun 2005, ia dipenjara 2 tahun 6 bulan karena terlibat pelanggaran impor beras dari Vietnam; dan tahun 2007, ia dipenjara lagi karena dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi minyak goreng Koperasi Distribusi Indonesia.

Jika orang lain mesti melengkapi diri dengan Surat Keterangan (ber)Kelakuan Baik hanya untuk melamar menjadi tukang sapu dengan gaji di bawah UMR, bapak yang satu ini bisa memimpin PSSI (induk organisasi olah raga paling diminati di negeri berpenduduk terbesar ke-4 di dunia), dari balik jeruji besi. Kadang aku berpikir, ini nih dia yang sakti atau orang-orang PSSI-nya yang gendeng.

Memalukan!

Minggu, Desember 05, 2010

Gambar Apel di Laptop Pak SBY


Waktu nonton jumpa pers Pak SBY di TVOne hari Kamis (2/12) tempo hari, fokus perhatianku justru bukan pada substansi pidatonya, yakni klarifikasi beliau seputar sistem monarkhi di DIY versus demokrasi impor yang belakangan menuai kemarahan kawulo Ngayogyokarto Hadiningrat. Aku justru terpana melihat gadget canggih bergambar apel yang terpajang manis di podium, jauh lebih mencolok dibanding gambar Garuda Pancasila yang harus puas tersingkir beberapa sentimeter di bawah sang apel. Bangga sekaligus prihatin. Bangga karena Presidenku ternyata update teknologi terkini, nggak katrok dan malu-maluin. Wuih, Presidenku kereeeen....

Prihatin karena segera terbayang, pidato itu pasti diliput secara luas oleh media lokal maupun asing. Jika laptop merek lain mesti bayar juta-jutaan hanya untuk nongol 30 detik di TV atau sekian milimeter kali sekian milimeter di koran Kompas, Apple iPad seperti ketiban duren runtuh nongol di tivi-tivi nasional, BBC, CNN, dll gak pakai bayar, bermenit-menit pula. Nggak usah ngiklan, Steve Jobs spt sudah bisa ngomong ke seluruh orang Indonesia: “Tuh, presiden Loe aja pakai Apple”.

Aku yakin, Pak SBY pasti nggak sengaja dengan itu semua. Beliau tentu orang sangat sangat sibuk, sehingga yang begitu-begitu jelas bukan level dia untuk ngurus dan mikirin.

Tapi, nampangnya Pak SBY bersama gambar apel, di atas simbol negara Garuda Pancasila pula, buatku kok ironis banget. Terus, apa artinya selama ini beliau gembar-gembor sampai ludahnya berbusa-busa, menghabiskan duit miliaran buat bikin baliho gede-gede, jor-joran berkampanye di berbagai media utk mencintai produk-produk dalam negeri?

Kenapa sih gak pakai merek lokal saja? Atau, jika Pak SBY nggak pede dengan merek Advan, Axioo, atau Zyrex (sori kalau saya salah menyangka bhw merek-merek itu adl merek lokal. Soalnya laptop jatah negara buatku di kantor merek Acer, laptop di rumah juga Thosiba, hueheheh...), kenapa ya, nggak sekalian aja pakai telepromter seperti biasanya? Atau cara yang lebih primitif, diprint dulu di kertas A4, trs dibaca.

Kan kesannya jadi kayak lain yang diucapkan, lain pula yang dilakukan. Sengaja atau tidak, Pak SBY seperti hendak mengatakan: “Ayo, kita cintai produk Indonesia, tapi marilah beramai-ramai memakai produk Amerika”. Sama seperti Alim Markus pemilik Maspion yang bilang: “Cintailah, ploduk-ploduk Indonesia (kalau diperhatikan benar, melafalkannya memang “ploduk-ploduk” begitu, bukan “produk-produk”); tapi ketika mengatakan itu, dia pakai baju Armani dan parfum ST Dupont.

Andai sedikit saja Pak SBY atau protokol Istana mau belajar ilmu komunikasi, blunder yang begini tentu tidak perlu terjadi. Ilmu komunikasi meyakini, orang tuh cenderung lebih percaya apa yang secara riil dilakukan orang lain, lebih percaya dengan bahasa tubuh, lebih percaya bahasa non verbal, dibandingkan dengan bahasa verbal atau bahasa lisan. Percuma seorang suami tiap hari bilang I do love you ke istrinya, tapi dia main pukul dan tampar si istri dalam frekuensi yang sama intensnya.

Ketika tugas belajar di Jogja dulu, saya hendak main ke rumah teman di daerah Condongcatur dan saya bingung nyari alamatnya. Kutanya ke bapak-bapak tukang becak. Sambil mulutnya nyerocos penuh semangat ngasih petunjuk arah: “bla, bla, bla... setelah itu belok kiri”, tangan si bapak tukang becak tanpa sadar memperagakan gerakan membelok ke kanan. Beberapa menit kemudian, fakta membuktikan, gerakan tangan si bapak tukang becak itu lebih bisa dipercaya daripada omongannya.

Ah, if I were Pak SBY, momentum konperensi pers semacam kemarin itu tentu bakalan kugunakan sebagai ajang kampanye untuk mengajak semua orang mencintai produk-produk Indonesia. Di bawah sorotan kamera media daerah, nasional, dan asing, aku akan letakkan Laptop Axioo, pakai baju batik, dan sepatu Cibaduyut. Nggak masalah di ruang kerja PC-ku merek HP, ada TV Plasma gede merek Samsung. Tapi setidaknya di depan publik, di hadapan kamera media, kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita cinta buatan Indonesia. Kampanye model begini aku yakin pasti lebih efektif. Nggak perlu keluar biaya mahal buat bikin baliho narsis atau ngiklan di tivi dan koran.

Kalau sudah begitu, saya kok jadi keinget slogan untuk menenangkan cowok yang patah hati ditolak cewek: "mencintai itu tak harus memiliki, Bro". Slogan itu rupanya bisa juga kita pakai dalam kampanye produk lokal. Mencintai tak harus memakai. Begitulah.

Selasa, November 23, 2010

Mendesak, bekal ilmu kebal dan bela diri bagi calon TKW

Di mata para TKW, pilihannya bukan antara hujan emas di negeri orang dan hujan batu di negeri sendiri. Pilihan mereka adalah antara hujan batu di negeri orang atau mati di negeri sendiri. Tidak pantas disebut “hujan emas” di Arab Saudi, jika yang diterima adalah resiko dapat majikan sakit jiwa.

Di Arab Saudi atau Malaysia para TKW itu mungkin sengsara, tapi peluang untuk hidup betapapun kecilnya, tetaplah masih ada. Di negeri sendiri? Buat orang miskin, yang menurut sensus BPS 2010 jumlahnya 31,02 juta jiwa (lebih banyak dari total penduduk Malaysia yang hanya 28,9 juta), bahkan hanya untuk bisa makan sehari sekali saja bukan main susahnya.

Mengapa para perempuan itu sepertinya tak gentar pergi ke negeri nun jauh di seberang lautan sendirian, nekat menghadapi ancaman penyiksaan dan pemerkosaan oleh majikan, berani menghadapi pemerasan di bandara oleh aparat yg seharusnya melindungi, dan acuh terhadap ketidakpedulian kedutaan besar Indonesia di tanah rantau? Mengapa mereka seperti begitu tega meninggalkan anak-anak, suami, dan orang-orang tercinta bertahun-tahun tanpa kabar berita, untuk dikemudian di negeri rantau bekerja hanya dengan upah jauh dari manusiawi?

Sekadar membuat perbandingan. Dulu, kepergian saya ke Belanda hanyalah untuk setahun. Tidak perlu cemas anak istri yg ditinggal di tanah air kelaparan, karena gaji dari negara yang tetap saya terima sudah bisa mencukupi kebutuhan mereka meski tidak berkelebihan. Tidak pula perlu risau bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari di Belanda karena untuk itu, sponsor telah berbaik hati setiap bulan mentransfer duit setara 10 juta. Di rantau, tugas saya cuma satu: belajar. Itu pun setiap akhir pekan atau pas libur rada panjang bisa jalan-jalan keliling Eropa. Kalaupun pengen males-malesan di kamar, internet dengan broadband sempurna siap memanjakan, baik buat browsing, berlama-lama telepon keluarga di tanah air supermurah dengan VoiP, maupun mendownload film-film dewasa.

Bumi dan langit bedanya.

En toch begitu... kami yang ke negeri seberang lautan untuk bersenang-senang saja ketika berpisah mengucapkan selamat tinggal di bandara, tetap saja kurasakan suasana yang penuh duka dan mengharu biru. Tangis-tangisan, baik kami yang di antar maupun keluarga yang mengantar. Bulan-bulan pertama di sana, terpisah sanak keluarga, pun juga tak kalah melodramatiknya.

Apalagi para TKW, yang niat ke negeri rantau untuk jadi pembantu rumah tangga. Kita tentu bisa membayangkan betapa remuknya hati para perempuan itu dan keluarga ketika berpisah di bandara.

Makanya, kembali ke pertanyaan yang tadi: mengapa mereka tak gentar menghadapi bahaya dan sepertinya tega meninggalkan anak-anak dan suami tercinta?

Jawabnya sungguh teramat jelas, karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari itu. Mereka paling mentok hanya tamatan SMP, tidak punya skill apa-apa, sementara sawah ladang warisan leluhur juga telah dibeli oleh orang-orang kaya dari kota. Perusahaan mana yang mau mempekerjakan mereka kecuali yang niatnya memang mau rugi dan beramal.

* * *

Kisah tragis itu kembali berulang. Untuk kesekian kalinya, tenaga kerja wanita (istilah sopan untuk menyebut PRT asal Indonesia) dianiaya hingga tewas atau menjadi cacat seumur hidup. Kali ini, korban itu bernama Sumiyati. TKW asal Dompu, NTB. Jika keselamatan nyawa yang jadi ukuran, nasibnya masih lebih baik dari Kikim Komalasari, TKW asal Cianjur. Sumiyati “cuma” dianiaya hingga babak belur dan digunting bibirnya. Masih hidup meski tentu harus menanggung cacat tetap dan trauma sepanjang sisa hidupnya. Kikim Komalasari mesti meregang nyawa setelah dijadikan sansak hidup oleh majikannya.

Dan, seperti yang sudah-sudah, negara baru bereaksi setelah semuanya terjadi. Nanti, seperti yang sudah-sudah juga, penyelesaian kasus itu tidak benar-benar tuntas. Jangankan mencegah yang telah terjadi itu berulang kembali di masa datang, menuntaskan yang sudah ada saja negara tidak mampu (atau tidak mau?). Taruhan berapa.

Polanya dari waktu ke waktu selalu sama. Setelah sebuah kasus terjadi, dibentuk tim yang diberangkatkan ke negara ybs. Tapi, saya kok selalu curiga, tim yang dikirim itu tdk akan banyak berguna selain hanya menambah beban negara. Bagaimana bisa berguna kalau sesampai di sana, tim yang dalam SPPD resminya bekerja 3 hari, cuma mengunjungi korban di rumah sakit setengah hari, sementara 2,5 hari sisanya sibuk wisata dan belanja cindera mata.

Dengan gagah berani, para politisi dan elit politik negeri ini selalu mengatakan: hentikan pengiriman TKW ke luar negeri. Pertanyaannya, setelah ekspor TKW itu distop dan memulangkan TKW yang ada di luar negeri ke tanah air, lalu apa? Mereka disuruh kerja apaan di sini? Ada gitu, lapangan kerja buat eks TKW dan eks calon TKW itu di sini, yang layak, yang upahnya 80%-nya saja deh, nggak perlu sama atau lebih besar, dari yang mereka terima di Arab? Ingat ya, para TKW itu gajinya rata-rata setara dengan 2,5 juta/bulan. Bisa gitu, pemerintah menjamin mereka dan keluarga mereka tetap bisa makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari (yg minmal saja deh, nggak usah yg jauh-jauh kayak odol sama sabun)? I don't think so.


Memulangkan semua para TKW sama artinya menambah 6,3 juta pengangguran baru sementara pengangguran yang ada sekarang saja sudah 23 juta lebih.

Menjadi pembantu rumah tangga di Arab atau Malaysia akan terus jadi pilihan selama negara masih blm mampu memberi jaminan hidup bagi orang-orang kampung miskin tak terpelajar itu. Jika lapangan kerja bagi mereka tersedia di negeri sendiri, tidak perlulah moratorium, minat perempuan-perempuan miskin itu utk jadi TKW juga bakalan padam dengan sendirinya.

Coba deh, administrasinya ditata yang bener, jangan acak adut kayak sekarang. Bikin sistem online. Dengan begitu, kita jadi gampang ngelacaknya, Mbak Yati berkarier di mana, Mbak Asih mengabdi pada siapa, alamatnya di mana, dst. Dari situ, kita bisa buat perjanjian dengan pemerintah Arab. Setiap bulan bisa diadakan visit/kunjungan ke alamat si Mbak bekerja. Dengar keluh kesah mereka, catat dan follow up masalah mereka. Dengan begitu, kalau ada masalah sekecil apapun, cepat dapat dideteksi. Heran saya, pemerintah dan elit kita di atas sana kok nggak kesentuh sih, ada warga negaranya yang setiap hari cuma dikasih makan sepotong roti dan itu sudah berlangsung hingga 4 bulan. Empat bulan lo, 120 hari! Kok nggak ada yang merasa nasionalismenya terusik, ada yang memperlakukan warga negara kita tercinta ini lebih rendah ketimbang binatang piaraan.

Sementara itu, selagi negara masih gagal menyediakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar; juga belum gablek bikin sistem adminstrasi yang rada canggihan dikit, saya usulkan soluasi jangka pendek berikut.

Selain ngasih telepon seluler satu-satu sebagaimana ide brilian pak Esbeye, pelatihan bahasa Arab, belajar adat-istiadat orang Arab; para calon TKW itu perlu pula dibekali dengan ilmu kekebalan tubuh dan karate. Biar kalau ada majikan sadis yang niat menggunting bibir lagi, nggak mempan. Biar kalau ada majikan yang niat memperkosa, bekal karate bisa dipakai buat bikin klenger sang majikan.

Senin, November 22, 2010

Ngasih hadiah gak niat ala Carrefour

Minggu (21/11) kemaren, aku, Wisanggeni, Ontoseno, dan tidak ketinggalan ibunya tentu saja, belanja bulanan di Carrefour Harapan Indah. Buat keluarga Korpri tulen golongan 3, andalan penghasilan ya cuma dari gaji bulanan yang besarannya hanya satu setrip di atas UMR, sementara istri juga murni ibu rumah tangga, belanja bulanan pada tanggal tanggung bulan begitu tentu membutuhkan katabahan hati dan persiapan mental-psikologis tersendiri. Gimana enggak, di saat saldo rekening BNI Taplus sudah lampu merah, seratus ribu perak begitu berharga, eh pas satu demi satu belanjaan diitung sama si Mbak Kasir yang ramah itu, mak jreng tau-tau duit yang harus kami serahkan ke Carrefour dengan sukarela mencapai Rp713 ribu. Trembelane, nominal itu benar-benar bikin tensi darahku melonjak.

Kemaren itu adalah waktu belanja bulanan yang tidak sesuai jadwal. Maksudku, biasanya kami belanja itu ya ngepas di tanggal muda habis ada transferan gaji dari negara di rekening BNI kami. Tanggal 1 November lalu perasaan sudah belanja lo. La kok tau-tau Sabtu (20/11) susu Bendera 123 rasa madu si O’Shean habis. Popok Sweety ukuran L-nya juga sudah tinggal beberapa lembar. Eh, setelah dicek, minyak goreng Tropical, sabun Shinzu’i, gula pasir Gulaku, Masako rasa sapi, Kecap Bango, dan lain-lain kok ya pada menipis stoknya.

Waktu habis bayar, sambil menyerahkan kartu debet dan struk yg panjangnya sedepa, si Mbak Kasir wanti-wanti gini. “Pak, jangan lupa tunjukkan struk belanja ini ke bagian penitipan barang ya. Ada berbagai hadiah menarik menanti Anda”.

“Wah, terima kasih ya Mbak. Baik bener nih, Carrefour. Tumben-tumbenan ngasih hadiah, hadiah menarik pula”.

Begitulah. Sesuai instruksi si Mbak Kasir, aku melangkah menuju tempat penitipan barang. Penasaran membayangkan hadiah apakah gerangan yang bakalan kami terima.

“Selamat siang, Bapak. Ada yang bisa kami bantu?” sapa si Mbak di penitipan barang ramah.

“Selamat siang, Mbak. Anu, saya mau nukerin struk. Kata mbak kasir yang di sana itu, struk ini bisa ditukar dengan hadiah menarik. Benarkah begitu?”

“Iya, Pak. Benar sekali”. Habis berkata demikian, dengan cekatan dia menyetempel struk belanjaanku, mengambil tiga lembar stiker kecil dan menempelkannya di kartu yang telah didesain khusus, menstapler struk ke kartu itu, dan menyerahkannya kepadaku.

“Setiap belanja kelipatan 200 ribu, Bapak akan mendapatkan 1 stiker yang bisa ditukar dengan berbagai hadiah sampai dgn tanggal 14 Desember. Karena total belanja 713 ribu, maka Bapak berhak mendapatkan 3 stiker. Silakan kumpulkan stiker sebanyak-banyaknya agar Bapak bisa mendapatkan hadiah-hadiah menarik seperti tertera di sini, di kartu ini”, begitu katanya.

“Tahun ini, Carrefour berulang tahun yang ke-12. Berbagai hadiah telah kami sediakan bagi para pelanggan setia Carrefour, sebagai ungkapan terima kasih atas kepercayaan pelanggan kepada kami selama ini”, si mbak melanjutkan penjelasan dengan berapi-api. Si mbak itu cantik kayak idolaku si Audy Item, usianya sekitar 25 tahun, kulitnya putih, bodinya padat merayap, rambutnya hitam panjang tergerai, giginya putih berderet rapi (Maaf jika deskripsi ttg si mbak ini tidak relevan dgn tema kita kali ini. Habis, saya nggak tahan utk tdk menuliskannya di sini).

“Di hape flexi, istri saya kemaren dpt SMS, katanya belanja di Carrefour dapat pulsa Rp50 ribu, syarat dan ketentuan berlaku. Maksudnya apa tuh?” tanyaku.

“Oh, itu. Itu tuh ya termasuk dalam promo kami ini Pak. Seperti Bapak lihat di kartu ini, Bapak berhak mendapatkan top up voucher Flexi Trendy jika telah mengumpulkan 15 buah stiker sebelum 14 Desember”.

“Hah, 15 stiker! Berarti saya mesti belanja 3 juta dulu dong, baru dapat voucher 50 ribu?”

“Iya, Bapak (kalau bahasa gaul sekarang: yoi, Coy!)”, jawab si Mbak sambil tersenyum. Aih, cantiknyaaa...

Wedew, kere tenan! Come on, Carrefour, nggak ada promo yang lebih konyol apa?!

Niat mau ngasih hadiah nggak sih? Kalau nggak niat mbok ya sudah, nggak usah saja sekalian. Wong nggak pakai hadiah-hadiah begitu kami juga tetap belanja bulanan di Carrefour kok. Promo ngasih hadiah sak uprit, pulsa 50 ribu, setelah kita belanja minimal 3 juta dalam 25 hari itu kok buatku seperti mengatakan: “Kami akan kasih gratis 1 mangkok mie ayam kepada Anda jika dalam seminggu Anda membeli 60 mangkok mie ayam kami”.

Nggak mau rugi banget nih, Carrefour. Hadiah yang diberikan itu nggak benar-benar tulus dipersembahkan sebagai wujud terima kasih karena setelah 12 tahun Carrefour ada di sini, supermarket waralaba asal Perancis itu makin eksis berkat para pelanggan mereka. Bagiku, promo itu tak lebih dari cara mereka jualan nyari untung sebanyak-banyaknya dengan menipu orang pakai promo gimmick berkedok perayaan ulang tahun.

Tapi, apa cuma Carrefour yang nyari untung dengan nipu orang begini? Enggak. Kalau tidak percaya, lihatlah tawaran diskon-diskon di Matahari, Ramayana, atau supermarket lain. Tertulis gede-gede, mencolok, di tempat-tempat strategis: Dapatkan diskon up to 70%!

Istilahnya memang “up to” begitu, bukan “sampai dengan”, biar lebih keren pakai bahasa Inggris dan pembeli nggak nyadar bahwa 70% itu angka maksimal. Dari 10.000 item barang, yang didiskon 70% itu ya cuma 10 item, yang penting kan nggak nipu wong nyatanya memang ada kok yang didiskon sampai segitu.

Terus ada lagi, IM2 Broom Unlimited. Sekali lagi, pakai bahasa Inggris biar keren. Dengan 100 ribu perbulan, Anda bisa pakai sambungan internet up to 256 Kb/detik. Setelah pemakaian 2 Gb, Anda masih bisa pakai sampai kemeng meski kecepatannya kami kurangi up to 64 Kb/detik. Sekali lagi, istilahnya memang “up to” bukan “paling mentok”, biar pengguna nggak nyadar kalau sedang diapusi.

Kalau kemudian pas Anda make, kecepatannya lelet mampus, cuma 1 Kb/detik atau malah 0 Kb/detik, bukan salah kami lo, wong sudah kami bilangin kecepatannya up to 256 Kb/detik. Anda tau kan arti "up to"? Arinya tuh ya "paling mentok". Maksimal segitu, 256 Kb/detik itu. Minimalnya? Wallahu’alam, Bos.

Dan, kalau diperhatikan lebih jauh, nggak yang supermarket, nggak yang provider internet di negeri tercinta ini, kebanyakan memang berlomba-lomba nyari istilah-istilah kreatif buat membodohi orang. Di bawah ini adalah sedikit dari sekian banyak istilah favorit dari orang nyari untung gede dengan cara tipu-menipu customer itu.

1. ..., selama persediaan masih ada (*ternyata yang namanya “persediaan” itu ya cuma lima biji, yang nggak sampai dua jam juga sudah wassalam*)


2. ... untuk 50 pembeli pertama (*kita tdk pernah tahu dan mereka tdk pernah ngasih tau, kita itu pembeli ke berapa. Kata mereka, pokoknya kita adalah pembeli ke limapuluh sekian*)

3. syarat dan ketentuan berlaku (*syaratnya ya itu tadi, hadiah seharga 5.000 perak ini bisa Anda dapatkan setelah Anda belanja 5 miliar ke kami*)

Kepada mereka, mudah-mudahan segera dibukakan pintu taubat. Amin.


Jumat, Oktober 15, 2010

Susah Buang Air Besar di Hotel Mandarin

Di Hotel Mandarin Oriental, yang persis terletak di Bunderan HI itu, di manakah bisa kita temukan lokasi parkir untuk sepeda motor? Jawabnya, tidak di manapun. Jadi, bagi Anda semua yang kebetulan dapat undangan seminar di Hotel Mandarin, saya sangat menyarankan untuk jangan berani-berani naik motor apalagi sepeda onthel. Otherwise, Anda cuma akan dipermalukan petugas keamanan di sana, ditolak masuk, dan dipersilakan dengan hormat tapi dengan senyum penuh ejekan untuk parkir di gedung lain. Selain malu, sakit hati, Anda juga bakalan sakit betis karena jalan kaki dari parkiran Menara BBD (gedung terdekat yg ada parkiran buat motor) ke lobi Hotel Mandarin juga butuh waktu dan perjuangan ekstra.

Kamis (14/10) kemaren, aku dapat undangan dari Bank Dunia untuk sebuah workshop di Hotel Mandarin. Puji Tuhan, Alhamdulillah, berkat hidayah-Nya aku yang tadinya berniat langsungan berangkat dari rumah Harapan Indah pakai motor Honda Vario andalan tiba-tiba kepikiran untuk mampir dulu ke Bappenas. Parkir motor di kantor, terus berangkat ke lokasi syuting--yang sebetulnya hanya sepelemparan batu jaraknya--naik taksi Bluebird.

Coba kalau aku jadi naik motor? Bakalan sengsara. Pengelola Hotel Mandarin itu seperrtinya hendak berkata: Anda bawa mobil, kami sambut dengan suka cita. Anda bawa motor, kami usir dengan gegap gempita. Tidak ada tempat di hotel kami buat kere dan orang dengan kelas ekonomi nanggung macam Anda. Iya, nanggung. Menurutku orang yang kuatnya baru beli motor emang serba nanggung ekonominya. Kere jelas bukan, disebut kaya juga belum.

Dipikir-pikir, kok masih mending Hotel Borobudur ya, yang tempo hari aku protes di sini gara-gara parkir motornya jauuuh di belakang, di sebelah tempat sampah yang bau pula. Sudah gitu, kalau hujan, parkiran itu berubah menjadi empang. Tapi, toh begitu...., ada parkiran buat motor.


Kalau dipikir sekilas, emang bener sih logika yang coba dibangun pihak manajemen Hotel Mandarin itu. Orang yang nginepnya di hotel dengan tarif minimal Rp 1,35 juta permalam, tentulah mereka yang sudah tidak lagi kemana-mana cuma naik motor, apalagi kalau motornya sudahlah motor China, seken, kreditan pula.

Aku nyadarnya itu, bahwa di Hotel Mandarin ternyata nggak ada parkir buat motor, setelah seorang teman peserta workshop curhat seusai acara. Di lobi, dia bengong aja nunggu hujan yang masih saja belum berhenti sore kemarin itu.

“Man (namanya Arman), betah bener di sini?”

“Nungguin hujan, Mas”.

“Hujan kok ditungguin, kayak istri melahirkan aja. Emang nggak bawa jas hujan Lo?”

“Bawa si bawa Mas, gw taruh di bagasi motor. Tapi ke parkirannya itu yang susah. Gw nggak bawa payung, padahal Gw mesti parkir di Menara BBD. Di sini nggak tersedia tempat parkir motor”.

“Oooh...” (*prhihatin*)

Poor him!

Kesimpulannya, Bapak dan Ibu sekalian, kalau dipikir-pikir (lagi), hipotesisku tempo hari bahwa hotel tuh kalau makin mahal makin nyusahin makin mendekati kebenaran. Selain nggak ada tempat buat parkir motor, hotel-hotel mahal di Indonesia tercinta ini nyata sekali pengen memanjakan tamu bule sementara pada saat yang sama mencoba membikin sengsara tamu lokal pribumi. Padahal, taruhan deh, mau hotel bintang 7 sekalipun, selama dia ada di Jakarta, yang make tuh hotel pasti juga banyakan pribumi daripada bulenya. Taruhan berapa, dibandingin tamu bule, tamu hotel-hotel itu pastilah jauh lebih banyak orang daerah yang sedang dalam perjalanan bisnis atau wisata di Jakarta; atau orang Jakarta sendiri yang pada seminar, rapat, dan workshop; atau orang lokal pribumi yang butuh pelampiasan hasrat pengen ngamar bareng selingkuhan.

Standar yang digunakan adalah standar Amerika. Pipis, urinoirnya nggak ada pancuran kecil untuk cebok. Kloset, pasti kloset duduk nggak ada yang jongkok. Buat cebok kalau habis eek, pasti hanya tersedia tissu dan nggak ada semprotan airnya boro-boro ember sama gayung.

Coba deh kita bandingkan fasilitas yang tersedia di hotel-hotel dibawah ini, mulai yang tarifnya paling murah sampai yang paling mahal. Dan coba kita cek kelengkapan fasilitasnya, dengan standar kebutuhan rata-rata kita orang Indonesia. Bener kan, makin mahal makin nyusahin?



Kok seneng bener lo, jadi kacung orang asing. Ketemu bule, senyumnya polpolan, ramahnya selangit. Giliran ketemu saudara sebangsa sendiri, pasang tampang curiga dan senyum ala kadarnya. Hotel juga pakai standar mereka, padahal yang lebih banyak make kita-kita juga. Kalaulah memang harus tersedia tissu buat cebok bule, silakan sediakan. Tapi apa salah kalau juga disediakan semprotan air?

Harus diakui, makanan di Hotel Mandarin lumayan lezat. Di luar itu, cuma ada sedikit hal yang kusuka dari hotel ini. Yakni Mushola di lantai 2 yang lumayan luas, nggak kayak di Aryaduta yang sempit, atapnya pendek, jamaah laki-laki dan perempuan nyampur, dan letaknya persis di sebelah orang buang najis pula. Mushola di Mandarin cukup menampung ada kalau sepuluh orang, jamaah pria-wanita juga dipisah, tempat wudhunya pun lumayan oke.

Cuma, apa ya sah to wudhunya, kalau sebelumnya untuk cebok habis pipis saja nggak tersedia cukup air? Apa diterima to sholatnya, kalau sebelum sholat ni tadi habis eek ceboknya kita dipaksa cuma pakai tissu?

Sabtu, Oktober 02, 2010

Sudahlah, jangan berdebat lagi. Aku benar, kamu yang salah.

Rekonsiliasi. Istilah ini dalam beberapa hari terakhir kembali naik daun. Tepatnya ketika santer diberitakan di banyak media, anak-anak tokoh utama seputar G30S berkumpul dan saling memaafkan. Ada Tommy Suharto, Amelia Yani, Nani DI Pandjaitan, Ilham Aidit, Feri Omar Dhani, dan masih banyak lagi. Ini jelas terkait dengan sebuah tanggal keramat yang menandai sejarah kelam bangsa ini, 30 September 1965. Bahwa pada tanggal itu, seperti kita semua mahfum, ada tujuh jenderal mati terbunuh (dan satu jenderal lainnya jadi juru selamat utk kemudian jadi diktator selama lebih 3 dekade). Dan hari-hari sesudahnya, terjadi pembantaian massal terhadap dua juta anak bangsa oleh saudara-saudara mereka sendiri. Tanpa surat perintah penangkapan, tanpa pengadilan, tanpa pembelaan.

Setelah itu istri, anak, cucu, atau keponakan dari orang-orang yang dibunuh itu dikebiri hak-hak politiknya, dimatikan rejekinya. Anak-anak yang tidak pernah meminta dari rahim siapa dia dilahirkan, dan dari sperma laki-laki mana dia diciptakan, harus menanggung dosa turunan. Nggak boleh jadi polisi, dilarang jadi tentara, haram jadi PNS, dan jika mau selamat harus pilih Golkar dalam setiap pemilu.

Rekonsiliasi. Saya nggak paham persis apa maknanya. Kecuali, ketika mendengar istilah itu yang segera terlintas dibenakku adalah: “yang sudah ya sudah, jangan diungkit-ungkit lagi”. Sing wis yo uwis. Bagus sih, sebetulnya. Sebuah ajakan untuk berdamai, merangkul saudara setelah sekian lama bertikai, dan saling memafkan untuk kemudian mencoba melupakan kesalahan masing-masing di masa lalu.

Cuma, kesalahan mana yang coba dimaafkan jika hingga rekonsiliasi itu diikrarkan, masing-masing pihak masih saja merasa bahwa dia dan hanya dialah yang benar sementara pihak lain salah. Rekonsiliasi semacam ini, seolah ingin mengatakan: Sudahlah, kamu memang salah, tapi gak apa-apa kok. Aku maafkan kamu.

Sebelum kata yang sudah ya sudah diucapkan, pernahkah secara kritis kita bertanya misalnya: Semua jenderal AD diincar, kenapa Pak Harto yang waktu itu juga strategis posisinya yakni Pangkostrad, kok nggak diincar? Jangan-jangan...


Ini adalah tulisan dari Budiman Sujatmiko tertanggal 18 November 2008, kutemukan di sini. I couldn't agree more with him.

Biasanya, istilah 'Rekonsiliasi' tidak berdiri sendiri. Ia selalu didahului dgn istilah 'Kebenaran' sebelum kata 'Rekonsiliasi', artinya: Sebelum rujuk, maka para pihak terkait akan bertutur di hadapan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, tentang apa saja yang mereka lakukan di masa lampau.

Artinya, si pelaku bersaksi atau mengakui: berapa orang yg telah dia bunuh, dia perkosa atau dia culik, di mana dia kuburkan korban-korbannya (sehingga keluarga si korban punya kesempatan memakamkannya kembali secara wajar atau, setidaknya, menziarahinya), siapa yang memerintahkan semua itu, dsb.

Nah setelah pengakuan ini diungkapkan, si pelaku tidak dipidana atas perbuatannya tersebut, melainkan--karena proses rekonsiliasi itu tadi--ia dimaafkan (karenanya tak dihukum), tetapi tidak dilupakan (artinya semua pengakuan itu didokumentasikan sebagai dokumen resmi negara, sebagai rujukan agar perbuatan yang sama tak diulangi lagi).

Dokumen tsb, di Argentina berisi pengakuan-pengakuan para pelaku dan juga korban yang berhasil selamat hidup-hidup dari periode Perang Kotor di era rejim militer (termasuk di dalamnya pengakuan sejumlah perwira tentara tentang bagaimana mereka membawa korban-korban penculikan dgn mata tertutup menaiki helikopter dan menerbangkannya, kemudian menjatuhkannya ke lautan Atlantik hidup-hidup dgn mata si korban tertutup).

Di Argentina, semua pengakuan tadi didokumentasikan dgn judul Nunca Mas, yang artinya Jangan Pernah Terulang...

Kalau sekarang di sini, orang bicara rekonsiliasi saja, tak berani bicara perlunya kebenaran. Sehingga agak aneh dan manipulatif.

Sebenarnya kita pernah punya komisi yang mengatur hal tersebut, namun oleh MK Undang-Undang KKR tersebut dibatalkan atas pengajuan KH Yusuf Hasyim dan penyair Taufik Ismail yang menganggap bahwa KKR dipakai utk 'mebangkitkan kembali PKI'

So....? Kita memang tak pernah bisa dewasa sebagai bangsa, meminta rekonsiliasi tapi tak mau kebenaran.

Dulu enak (karena bisa membunuh dan menculik), sekarang juga maunya enak: Rekonsiliasi! (tapi tidak pernah jelas apa duduk perkaranya krn tak ada kebenaran yg diungkap).

Selasa, September 21, 2010

Terima kasih telah jahat kepadaku

Meski lebih sering gagal daripada berhasil, aku adalah orang yang terus mencoba untuk berbaik sangka sama Allah, dalam arti aku selalu menganggap apapun yang terjadi padaku sekarang ini, yang kumiliki sekarang ini, adalah hal terbaik dari-Nya yang mesti kusyukuri.

Dan, setiap aku kumat, berbaik sangka seperti ini membawaku berterima kasih kepada siapa saja yang sengaja atau tidak, menyebabkan aku berada pada keadaanku sekarang. Ya. Siapa saja, termasuk orang yang pernah menjahati saya. Kalau dulu nggak ada orang sok tahu dan membuatku kesasar pas nyari kos-kosan di daerah Utan Kayu, mungkin aku nggak akan pernah ketemu dengan si Dani, gadis bohay montok nan cantik yang di kemudian hari kunikahi dan kini memberikan dua jagoan ganteng untukku. Andai saja nggak ada abang sopir metromini yang hobi bener ngetem bikin macet jalan, mungkin aku nggak bisa menjadi pribadi sesabar sekarang.

Dalam konteks yang berbeda dan rada-rada nggak nyambung dengan tulisan ini, para jagoan--baik yang nyata maupun fiksi--sesungguhnya perlu berterima kasih kepada para penjahat karena berkat jasa mereka juga, para jagoan itu bisa menjadi pahlawan. Pandawa bisa hebat karena dikuyo-kuyo sama Kurawa dan Sangkuni. Hanoman bisa jadi pahlawan karena ada Rahwana. Clark Kent bisa jadi hero karena Lex Luthor. Coba kalau di Kota Metropolis orangnya baik semua, Superman nggak akan eksis dan Lois Lane juga nggak bakalan naksir dia.

Orang kaya perlu berterima kasih kepada orang miskin. Bayangkan Anda punya duit dua triliun, tapi semua orang lain di muka bumi ini masing-masing punya uang minimal 150 triliun. Apakah Anda dapat disebut kaya? Tidak. Untuk bisa disebut kaya, haruslah ada orang lain yang punya harta lebih sedikit daripada Anda. Untuk bisa disebut dermawan, Anda memerlukan orang lain yang memerlukan sedekah dari Anda.

Maka itu, aku nggak sedang bercanda jika aku bilang aku berhutang budi pada Abang-abang sopir metromini yang jalannya pelaaaan.... nggak mau minggir dan mendadak ugal-ugalan jika di ujung jalan terlihat metromini lain menyusul.

Terima kasih pula kepada Mas-mas yang nekat merokok di ruangan ber-AC atau dalam angkutan umum.

Terima kasih kepada PDAM Kota Harapan Indah Bekasi yang memproduksi air keruh, keluarnya Senin-Kemis, sembari tetap percaya diri menaikkan tarif.

Terima kasih kepada pengendara yang main klakson di perempatan padahal lampu masih menyala merah.

Terima kasih, karena berkat perbuatan Anda, aku merasa kini menjadi pribadi yang lebih sabar (terima kasih Pak Mario Teguh yang super, atas kata “pribadi”-nya). Karena berkat tabiat dan perilaku barbar Anda, saya jadi lebih sering berzikir dan istighfar.

Selamat Idul Fitri 1431 H, Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. Mohon maaf lahir dan batin. Maaf juga untuk tulisan yang ndak jelas apa maksudnya ini.

Senin, Agustus 30, 2010

Andai Bang Foke Seorang Biker


Banyak kebijakan pemerintah yang lucu-lucu, itu kita semua sudah mahfum. Tadinya aku mengira penetapan anggaran pendidikan minimal 20% APBN dalam UUD 1945--sebagaimana telah kutulis di blog ini--adalah sudah yang paling konyol, eh ternyata ada lagi yang lebih konyol. Kebijakan itu bernama pelarangan masuk sepeda motor di jalan-jalan protokol Jakarta, yang katanya akan segera diberlakukan setelah lebaran nanti.

Come on, Pak Fauzi Bowo. Saya percaya kata teman saya, Anda tidak pintar. Tapi sumpah saya tidak pernah menyangka Anda sebodoh ini. Apa sih sumbangan policy ini bagi upaya mengatasi mampetnya Jakarta selain semakin memperjelas keyakinan orang bahwa pemerintah hanya menghamba pada si kaya? Sori, saya menyalahkan Anda karena selain saya tidak kenal siapa Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, kebijakan ini tentu tidak akan pernah ada tanpa endorsement dan tanda tangan Anda.

Alasan yang paling sering dikemukakan adalah karena sepeda motor adalah biang macet, ditambah dengan pertumbuhan jumlahnya yang memang gila, yakni rata-rata 327-an ribu unit/tahun (atau hampir 900 unit/hari). Karenanya, jika tidak dibatasi, nggak lama lagi Jakarta bakalan berubah jadi lautan sepeda motor. Tapi jangan salah, pertumbuhan mobil juga nggak kalah edan. Menurut catatan Polda Metro, tahun 2002 - 2007, mobil mengalami kenaikan hingga 100 ribu unit/tahun (atau hampir 275 unit/hari).

Jadi pengen tahu nih, berapa nilai matematika Pak Foke dulu pas sekolah atau kuliah. Kalau ngepas 6 atau C saja, aku yakin itung-itungannya bakalan rada-rada bener dikit. Sekarang mari kita hitung, berapa space yang diperlukan untuk menampung pertambahan masing-masing kendaraan. Biar mudah itung-itungannya, di sini aku pakai Honda Supra X utk mewakili ukuran motor, dan Toyota Avanza utk mobil.


Motor: P(1,889) x L(0,702) = 1,326 M2; dikalikan pertambahan perhari 900 unit = 1.193,47 M2

Mobil: P(4,120) x L(1,630) = 6,716 M2; dikalikan pertambahan perhari 275 unit = 1.846,79 M2

Jelas, meski pertambahan motor 3 kali lebih tinggi dari mobil, space yang diperlukan tetap saja banyakan mobilnya. Makanya dari awal kubilang konyol kalau justru hanya motor yang dibatas-batasi, sementara mobil dibiarin beranak-pinak nggak terkendali.

Sekarang dilihat dari konusmsi BBM. Mobil paling irit sekalipun mengkonsumsi bensin minimal 2x motor paling boros. Sementara dalam hal utilisasi, yang namanya mobil mau jumlah kursinya 4 atau 7, tetep aja isinya cuma satu orang, paling banter dua itupun sudah termasuk sopir. Argumentasi kebijakan ini jelas keliru, kecuali jika niatnya mau boros BBM sambil membiarkan mobil-mobil yang lebih makan tempat padahal hanya berisi satu orang itu makin bikin sesak Jakarta.

Taruhan, kebijakan itu secuilpun nggak bakalan ada kontribusinya buat mengatasi macet. Malah makin bikin frustasi, iya. Yang kuceritakan berikut ini adalah fakta. Di tempat tinggalku, Klaster Taman Sari Kota Harapan Indah, populasi mobil lebih banyak daripada rumah, dalam arti hampir semua keluarga punya mobil dan tidak hanya satu. Mobil-mobil itu lebih banyak nongkrong di garasi atau diparkir pinggir jalan di muka rumah, sementara si empunya lebih memilih jadi biker. Yakin deh, yang beginian ini tidak hanya terjadi di kompleks tempat tinggalku. Jumlahnya jelas ratusan kalau nggak ribuan. Nah, sekarang coba bayangkan, kalau kebijakan pembatasan motor ini diterapkan, dan semua orang yang punya mobil tapi lebih memilih jadi biker itu nggak punya pilihan selain membawa mobil-mobil mereka.

Macet dan semrawut membuat orang Jakarta sehat secara fisik tapi jiwanya sakit semua. Jalanan di Jakarta adalah rimba belantara yang penuh sumpah serapah. Dan itu adalah karena pemerintah gagal menyediakan angkutan umum yang layak buat warganya. Titik. Bukan karena yang lain. Percayalah.

Kebijakan melarang masuk sepeda motor ke jalan-jalan protokol pasti hanyalah ide orang yang bener-bener sudah kehilangan akal. Ntar kalau jalan-jalan itu ternyata masih saja macet, dan itu pasti, siap-siap saja dengan kebijakan tdk masuk akal lainnya yang makin jelas menghamba pada si kaya.

"Dilarang Masuk Jalan Ini Selain Mobil dengan Harga di Atas Rp 1 Miliar".

Yo wis, sak karepmulah. Pancen dalan iki dalane Mbahmu!*)


*) Terserah Lo, memang jalan ini jalan moyang Lo!

Senin, Agustus 23, 2010

Ketika orang Islam hanya boleh sholat di mesjid

Dua minggu terakhir ini si Wisanggeni dapat ulangan di sekolahnya. Dan terdorong keinginan agar anakku itu dapat nilai bagus, tiap hari aku ikut-ikutan sibuk menemani dia belajar setelah selama ini istrikulah yang lebih banyak menjalankan fungsi itu. Sebelumnya, hanya kadang-kadang saja aku nemenin si Wisang belajar atau nggarap PR karena padatnya tugas-tugas kenegaraan yang mesti kuselesaikan (halah, alesan!).

Materi yang diujikan adalah pelajaran selama satu bulan terakhir. Yang harus dipelajari, kalau nggak buku cetak ya Lembar Kerja Siswa (LKS).

Setiap kali membuka buku cetak pelajaran dan LKS si Wisang, setiap kali pula emosiku kok jadi gampang tersulut. Penginnya misuh-misuh (mengumpat-ngumpat). La wis piye (habis, gimana lagi), bukannya mencerdaskan, materi yang diajarkan kok rasa-rasanya malah bikin goblok anak didik. Ini penyakit lama yang nggak sembuh-sembuh dan herannya kok yang kayak gini nih sepertinya makin parah. Sepertinya, anggaran minimal 20% APBN utk sektor pendidikan sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 itu nggak ada efeknya sama sekali.

Cobalah perhatikan contoh soal-soal di LKS Ilmu Pengetahuan Sosial di bawah ini:



Mari kita bahas soal-soal yang nomornya dilingkari merah (yukkkk mareee...):

1. Hal yang pertama disebut saat memperkenalkan diri adalah ... (jawaban yang dikehendaki/JyD: nama)
2. Ada nama lengkap ada juga nama ..... (JyD: panggilan)
3. Orang yang melahirkan kita biasa kita panggil .... (JyD: ibu)
4. Paman adalah panggilan untuk .... (JyD: saudara laki-laki ayah atau ibu)

Yang ada di dalam kurung itu adalah jawaban-jawaban yang dikehendaki*) baik oleh kunci jawaban maupun oleh bu guru. Selain jawaban-jawaban itu, salah alias wrong answers.


Wis jan, ra mutu tenan! Wong LKS kayak gitu kok dipakai lo. Heran Gue.

Soal-soal di atas hanya empat dari ratusan soal di LKS pelajaran IPS dan ribuan soal di LKS di pelajaran-pelajaran lainnya. Jawabannya mesti teksbuk, dan tidak terbuka ruang bagi anak didik untuk kreatif membuat jawaban yang berbeda. Padahal, apa ya salah jika pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab oleh si Wisang dengan jawaban sbb:

1.
Hal yang pertama disebut saat memperkenalkan diri adalah ... (jawaban Wisang/JW: Assalamu'alaikum)
2. Ada nama lengkap ada juga nama ..... (JW: samaran)
3. Orang yang melahirkan kita biasa kita panggil .... (JW: simbok)
4. Paman adalah panggilan untuk .... (JW: Om)

Entah si Wisanggeni yang terlalu pinter, entah pembuat pertanyaannya yang dodol, pas pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tempo hari, ada soal gini:

Umat Islam bersembahyang di .....

Titik-titik itu dijawab si Wisang, sehingga kalimat lengkapnya berbunyi: “umat Islam bersembahyang di LAPANGAN”. Itu karena dia ingat pas Idul Fitri tahun lalu dia kuajak sholat Ied di lapangan sepak bola di Semarang. Untung gurunya cukup wise dan tidak menyalahkan jawaban itu, meski aku ngebayangin dia pasti geleng-geleng kepala dan nyengir liat jawaban kreatif si Wisang. Cuma, aku khawatir jangan-jangan ada lebih banyak guru yang buru-buru menganggap salah jawaban si murid hanya gara-gara jawaban itu tidak sama dengan yang ada di kunci jawaban. Padahal yang namanya sholat tuh bisa dilakukan di mana saja, bahkan di gereja seperti dilakukan seorang kenalanku yang kebetulan bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sana.

Gimana nih, Pak Mendiknas? Kapan negara kita ini maju kalau tunas-tunas bangsa ini dicetak hanya menjadi robot penghafal.


*) Jawaban yang dikehendaki aku karang sendiri, tapi mudah-mudahan seperti itulah adanya

Jumat, Agustus 20, 2010

Waktu(ku) adalah uang

Nasionalismeku sumpah jangan Anda ragukan lagi. Dus, jelas bukan karena aku antek kumpeni kalau tulisan-tulisanku sepertinya menyanjung kumpeni setinggi langit sementara pada saat yang sama mencela bangsa sendiri. Tolonglah itu semua diartikan sebagai keinginanku untuk menjadikan negaraku tercinta ini maju dan beradab. Alasannya sangat sangat sepele, yakni karena seumur-umur ya baru di negara itu aku numpang hidup rada lama. Beda sama teman-temanku di Bappenas sini yang beruntung tahun ini hinggap di US, dua tahun depan pindah lagi ke Australia, tahun depannya lagi hinggap di Jepang, dan seterusnya.

Selain mie tektek dan ketoprak gerobakan, atau warung tenda pecel lele yang dengan santai menyerobot trotoar, satu hal indah lain yang membuat aku merasa kehilangan selama setahun numpang hidup di Belanda adalah raungan suara sirine voorrijder (moge yang ditunggangi polisi dengan sirine bikin budeg telinga buat nyuruh minggir kendaraan lain, biar mobil yang dia kawal melaju mulus bebas macet).

Seingatku, duabelas bulan tinggal di negeri kumpeni, satu kalipun nggak pernah kudengar sirine voorrijder. Padahal kos-kosan tempatku tinggal (namanya Weenapad) lokasinya dekat banget sama pusat kota di kota terbesar kedua di negeri itu. Di tanah air tercinta, sehari bisa dua hingga empat kali. Sering-seringnya sih rombongan Wapres yang mau berangkat ke Istana atau pulang ke rumah dinasnya yang kebetulan berada persis di samping Bappenas instansi tempatku berkarya untuk negara. Kadang-kadang juga mobil yang nggak ketahuan siapa gerangan yang ada di dalamnya yang ketemu pas dalam perjalananku dari markas Harapan Indah ke Bappenas pulang pergi. Orang dalam mobil yang dikawal itu pastilah sangat menghargai waktu, setiap detik sungguh berarti. Kalau enggak, ngapain juga dia begitu penuh semangat menyela antrean pengen duluan padahal jelas dia tahu persis lalu lintas sedang padat merayap kalau nggak malah macet berat.

Jadi, siapa bilang orang Indonesia nggak menghargai waktu? Cuma, penghargaan terhadap waktu itu masih sebatas pada “waktuku”, dan belum pada "waktu kita" boro-boro “waktumu”. Orang dalam mobil yang dikawal polisi itu seperti hendak berkata: “minggur Lo semua, Gw banyak urusan. So, Gw mesti cepat sampai tujuan”. Waktuku adalah uang, dan waktumu bukan apa-apa. Kalau aku telat dunia kiamat, kalau kamu yang telat kagak ada ngaruhnya.

Celakanya, setiap orang mikir kayak gitu. Emangnya yang punya urusan penting cuma kamu, Njing? Emange kowe dewe sing butuh cepet, Su? Maka, jadilah jalan raya rimba belantara orang-orang egois yang merasa harus secepatnya sampai tujuan, peduli setan jika dengan perilaku dia berkendara keselamatan diri sendiri dan orang lain jadi taruhan.

Hanya untuk sampai kantor lebih cepat lima menit saja, orang nekat menerobos palang pintu KA yang jelas-jelas sudah ditutup. Padahal kalau udah sampai kantor, satu jam pertama juga paling-paling dihabiskan buat mbuka pesbuk, mbalesin offline mesej di YM, atau hal-hal nggak penting lainnya.

Kalau pas nemu perempatan, tiap orang sepertinya pada nggak sabaran. Lampu udah merah masih juga nekat diterobos. Belum lagi ketika nungguin lampu ijo, motor aneka merek menyemut memenuhi zebra cross, membuat pejalan kaki di Jakarta ini sungguh tiada terkira sengsaranya. Lampu masih merah juga udah pada mainan klakson, karena pikiran menyimpang a la Jakarta berikut ini telah diyakini oleh hampir semua orang: tanda boleh jalan bukan jika lampu di depan kita menyala ijo, melainkan jika lampu dari arah yang bersilangan sudah berwarna kuning.

Apa boleh buat, orang Jakarta fisiknya memang terlihat sehat, tapi jiwanya pada sakit semua.

Kamis, Agustus 19, 2010

Teler bersama Lion Air

KABIN LION AIR, 2/12/2009. Karena air mineral nggak dikasih boro-boro snack, koran gratis juga nggak ada, sementara SMS-an pakai hape juga jelas tidak diijinkan oleh Undang-undang, kita jadi nggak ada pilihan lain selain baca-baca buku petunjuk keselamatan sampai khatam berulang-ulang. Secara kebetulan nemu majalah terbitan maskapai ini. Baru halaman pertama, eh sudah ilfil nemu istilah bahasa asing yang ditulis sembrono. Multi-Player effect...??? Multiplier effects kaleeeee!



Gara-gara si Joko temanku curhat mengenai Lion Air sebagaimana beberapa waktu lalu kuposting dalam blog ini, aku jadi teringat perjalanan dinasku ke Manado hampir setahun lalu. Sudah usang sih peristiwanya, tapi aku pikir masih sangat relevan isunya, karena toh insiden yang sama masih saja berulang-berulang terjadinya.

Sama dengan si Joko, aku juga sempat heran juga awalnya, kok Lion lo yang dipilih sama kolega kantor yang ngatur tiket. Padahal dengan SPPD at cost kayak sekarang, mestinya mbok ya dipilih Garuda gitu yang rada lebih keren dan bonafid. Toh berapapun harga tiketnya, asal masih kelas ekonomi, pasti diganti sama negara.

Teman-teman bilang, sekali lagi teman-teman lo yang bilang, bukan saya, bahwa kebanyakan pramugari Lion Air tuh modal tampang doang. Ayu-ayu, ning (tapi) Bahasa Inggrise memble, kurang cekatan, sopan santun ke penumpang kurang, wis pokoknya servisnya masih banyak yang harus dibenahi.

Teman kuliah di MPKD UGM dulu, namanya Adi Nusantara, pernah bikin joke tentang Lion. Dia bilang gini, Lion Air tuh perusahaan penerbangan apa bandar sabu-sabu sih sebetulnya?

Emang kenapa, Bro?, tanyaku

Lah itu, mosok maskapai penerbangan kok semboyannya “make people fly”, bikin orang teler.

Hayah! Mereka punya semboyan bikin orang teler, eh bikin orang terbang, itu kan ya ada maksudnya to, Bro. Kalau kita melihat kebelakang, Lion Air-lah yang mempelopori penerbangan murah. Dulu, waktu naik pasawat masih muahal, hanya orang-orang berduit atau Korpri kere seperti kita tapi beruntung dibayari negara, saja yang bisa pergi ke sana kemari pakai pesawat. Selebihnya, ya mesti rela tepos pantatnya Jakarta-Medan pakai Bus Lorena, atau mesti rela berlatih sabar Jakarta-Makassar berhari-hari berada dalam kapal laut.

Kini, lihatlah, berkat jasa Lion Air juga, bandara dapat diakses oleh siapapun, baik yang pake sepatu mahal maupun yang bersendal jepit, baik yang baunya wangi pakai Channel dan Bvlgari maupun yang bau balsem Cap Lang. Berkat kepeloporan Lion Air, naik pesawat sekarang bukan lagi aktivitas eksklusif yang hanya bisa dinikmati sedikit orang.

Lion Air emang hebat. Kalau orang ditanya, selain Garuda, maskapai domestik apa yang paling sering Anda tumpangi?, hampir semua orang akan bilang Lion.

Cuma ya itu, orang bilang ada harga ada rupa, Anda membayar lebih banyak saya menservis lebih yahud, atau anekdot tentang tukang becak: “wong cuma bayar 4 ribu kok pengen selamet”. Layanan Lion Air boleh dibilang mengikuti adigium canggih itu. Bener-bener, saya dibuat sengsara selama berangkat dan pulang bersama Lion.

Pas cek in Jakarta-Manado, jelas-jelas kubilang ke si Mas petugas, aku minta window seat yang bisa jelas ngeliat ke bawah. Dikasih nomer 22F. Dapat nomor seat itu, aku langsung ngebayangin bakalan duduk di belakang, pas menjelang landing menikmati suasana senja kota Manado. Eh, begitu sampai di kabin, nomer 22F itu pas di sayap. Pesawatnya rupanya pesawat Boeing 747 seri 900 yang nomer seat-nya sampai 38.

Sebelumnya, di ruang tunggu. Jelas-jelas di boarding pass tertulis waktu boarding (masuk pesawat) adalah jam 12:15. Eh, sampai jam 13:00 belum ada tanda-tanda pesawatnya siap. Sepuluh menit kemudian, tahu-tahu ada pengumuman bahwa ruang tunggu dialihkan dari F4 ke F1. Ngoper-ngoper penumpang dari satu ruang tunggu ke ruang tunggu berikutnya seperti ini sering banget dilakukan, seperti oper-operan penumpang metromini. Tidak ada pemberitahuan bahwa terlambat, tidak ada permintaan maaf penumpang harus pindah2 pintu boarding, seolah-olah dua hal itu sudah sangat lazim adanya.

Di dalam pesawat. Reputasi bahwa pramugari Lion Air cuma modal tampang (padahal yang namanya tampang itu juga sebenernya nggak cantik-cantik amat) rupanya memang bukan hanya mitos. Penumpang di sebelahku ada yang iseng motret, mungkin karena dia terlalu eksaited seumur-umur baru sekali itu terbang. Pramugari menegurnya dengan kata-kata dan intonasi yang kurang pantas. Intinya dia bilang memotret adalah aktivitas yang dilarang dilakukan di kabin. Tapi cara Mbak Pramugari bicara, dan kata-kata yang dia pilih, sama sekali tidak nyaman ditelingaku yang kebetulan ikut nguping, apalagi di telinga penumpang sebelah yang kena tegur.

Ketika kembali ke Jakarta, urusan bagasi giliran bikin pening kepala. Perasaan jalan kaki dari pesawat tadi mendarat ke tempat klaim bagasi sudah rada jauh dan lama (buat Anda yang biasa mendarat di Sukarno-Hatta airport pasti tahu persis betapa jauhnya). Ditambah pipis di toilet. Eh, nungguin koper bagasi ternyata masih butuh 30 menit waktu tambahan. Itu belum seberapa, karena ternyata hampir separo lebih penumpang termasuk saya mesti menunggu lebih lama lagi. Pasalnya, sebagian bagasi kami entah kenapa katut pasawat Lion yang terbang ke Surabaya. Parah banget, dan lebih parah lagi tidak ada informasi secuilpun mengenai insiden ini seandainya tidak ada Bapak-bapak yang ngamuk-ngamuk ke petugas bagasi Lion yang dari tadi cuma mondar-mandir nggak jelas. Kampret!

Rabu, Agustus 18, 2010

Karena kamu komunis, maka kamu atheis

Solo itu gudangnya fundamentalis: yang Islam banyak, yang Kristen juga. Kejawen masih eksis, komunis pun masih ada (Joko Widodo, Walikota Solo sebagaimana dikutip Majalah Tempo Edisi 17-23 Agustus 2009).

Bapak dan Ibu sekalian, bahkan seorang walikotapun percaya bahwa komunis adalah kata ganti yang sahih untuk atheis. Maafkan saya Pak Jokowi, mungkin saya keliru menafsirkan statement Anda. Kesimpulan saya hanya berangkat dari logika sederhana kalimat Anda. Islam jelas agama, Kristen juga agama. Kejawen bagi banyak orang dipercaya juga sebagai "agama tanda kutip" (Kejawen = sinkretisme dari ajaran Hindu, Budha, Islam, plus animisme). Dengan meletakkan kata komunis setelah ke-3 agama yang disebut sebelumnya, saya yakin bahwa Anda menganggap komunisme sebagai sebuah sistem agama.

Setelah Pak Harto lengser, semuanya berubah. Indonesia yang tadinya adalah negara swasembada beras, berganti menjadi negara importir beras terbesar di dunia. Indonesia yang tadinya adalah negara dengan KB paling berhasil, berganti menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan penduduk tertinggi di dunia. Indonesia yang tadinya sangat represif terhadap pers, menjadi negara dengan kebebasan pers yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.Tapi ada satu hal yang nampaknya tetap lestari. Ya itu tadi, kita tetap meyakini bahwa “komunisme” sama dengan “atheisme”.

Di Solo sebuah radio diprotes ormas Islam gara-gara memutar lagu Genjer-genjer yang oleh Orde Baru dianggap lagu kebangsaan PKI. Padahal, lirik lagu itu nggak ada satupun kata yang bernada mengajak makar atau memuja PKI. Kata orang, syair Genjer-genjer murni bercerita tentang kehidupan rakyat kecil sehari-hari yang mesti makan genjer (gulma yang tumbuh di sawah) karena orang pada kelaparan akibat Romusha. Jelas berbeda dengan Mars Nasional Demokrat-nya Surya Paloh, atau Mars Partai Demokrat karangan Esbeye. Sial bener nasib penciptanya, (konon bernama Muhammad Arief) gara-gara lagu itu, dia ikut-ikutan dibunuh karena dianggap terlibat G30S.

Kalau kita mau membuat pertentangan seperti siang vs malam atau pahit vs manis, lawan kata “komunisme” seharusnya adalah “kapitalisme”. Ini karena komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap faham kapitalisme di awal abad ke-19, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Melalui buku Das Kapital--yang diyakini orang sebagai kitab sucinya orang komunis--, Karl Marx melakukan analisis kritis terhadap kapitalisme dan aplikasi praktisnya dalam ekonomi.

Satu hal yang mungkin membuat orang mengidentikkan komunisme dengan atheisme adalah pernyataan Marx bahwa agama adalah candu. Menurutnya, agama membuat manusia hidup dalam dunia khayal. Entah siapa yang membangun logika berikut ini. Premis #1: Karl Marx seorang atheis; Premis #2: Karl Marx menulis Das Kapital; Premis #3: Das Kapital adalah dasar paham komunisme. Maka: Komunis = atheis.

Misliding terjadi pada titik ini. Karena Marx seorang atheis, maka semua orang komunis adalah atheis. Logika ini sebetulnya bisa dengan mudah dipatahkan. Komunisme adalah lawan kata kapitalisme. Jika komunis adalah tak ber-Tuhan, maka kapitalis adalah ber-Tuhan. Kenyataannya? Belanda adalah negeri kapitalis, tapi 42% penduduknya atheis (jauh lebih banyak dari jumlah penganut agama terbesar di sana, Katholik Roma, yang hanya dianut oleh 26% penduduk). China adalah negara komunis, tapi hampir semua orang di sana memeluk agama tertentu (paling besar agama Budha, disusul agama Tao, Islam, Katholik, dan Kristen).

Jadi, menurut saya, ini hanyalah hasil dari perang ideologi. Dan kebetulan kapitalisme yang keluar sebagai pemenang. Berandai-andai saja, jika komunisme yang menang, barangkali gantian kapitalisme yang diidentikkan dengan atheisme. Mungkin saja, mengapa tidak.

Kamis, Agustus 12, 2010

Ketika bertanya adalah salah

Satu dari sedikit hal paling mengganggu pikiranku adalah ketika aku divonis bersalah padahal aku nggak merasa bersalah. Ketika aku dinyatakan salah di hadapan sebuah forum, dan aku tidak punya sedikitpun kesempatan untuk menyampaikan klarifikasi di forum yang sama. Tanpa diskusi, tanpa argumentasi. Kamu salah, titik. Celakanya, dasar menentukan vonis itu kadang-kadang hanya berupa pengaduan orang mengenai apa yang aku katakan, yang sangat mungkin ditambah-tambahi opini subjektif si pelapor. Ini tidak ada kaitannya dengan aku difitnah atau bukan. Ini cuma masalah informasi yang terdistorsi dan belum tentu akurat jika hanya bersumber dari satu sisi.

Baru-baru ini ada seorang teman bercerita, tepatnya curhat. Namanya, sebut saja Joko. Dia seorang PNS di sebuah kementerian di Jakarta. Syahdan, Joko mendapatkan tugas dari bosnya ke Surabaya untuk menghadiri sebuah seminar.

Dulu, orang yang dapat tugas luar kota semacam ini bakalan bersorak gembira karena di kepalanya langsung kebayang tabungan bakalan nambah. Ini karena aturan perjalanan dinas bagi PNS a la jaman baheula adalah, yang bersangkutan dikasih segepok duit yang sudah diasumsikan cukup untuk tiket Garuda, hotel standar, dan biaya hidup selama di lapangan. Perkara kemudian dia berangkatnya nebeng truk sembako, tidurnya di emperan toko, terus makannya minta ditraktir panitia, itu pinter-pinternya ybs. Yang penting kerjaan beres. Sisa uang dinas adalah hak ybs, mau diapain saja, monggo terserah.

Lain dulu, lain sekarang. Aturan perjalanan dinas sekarang ini adalah at cost. Negara akan memberi ongkos hanya sebesar pengeluaran riil, itu juga asalkan tidak melebihi jatah plafon maksimal yang sudah dijatahkan. Maksudnya kira-kira, kalau sewa kamar hotel utk PNS golongan Anda standarnya 400 ribu, terus Anda berani-beraninya buking kamar yang 1 juta, maka 600 ribu kekurangannya silakan Anda tombokin sendiri. Sebaliknya, kalau Anda nggak keluar ongkos sewa hotel karena ada marbot/takmir masjid yang berbaik hati mempersilakan Anda tidur di teras kantornya, maka negara tidak akan memberikan Anda sepeserpun duit untuk biaya menginap. Anda sudah dianggarkan naik pesawat Garuda. Kalau Anda pengennya teuteup naik kereta kelas ekonomi yang bau pesing, banyak orang goblok merokok, dan toiletnya bau pesing, ya monggo. Tapi negara cuma akan ganti duitnya sebesar harga tiket KA kelas ekonomi tadi.

Kembali ke kisah mengenai si Joko di atas. Sebagai pegawai yang baik, dia oke-oke saja ditugasin dinas ke mana saja. Masalah kemudian muncul, berawal dari keputusan bos si Joko untuk membelikan tiket pesawatnya Lion Air dan bukan Garuda sebagaimana lazimnya. Iya, Lion Air , yang terkenal dengan slogannya WE MAKE PEOPLE FLY (KAMI BIKIN ORANG TELER) karena saking seringnya delay nggak jelas. Sebagai pegawai yang mencoba utk tidak hanya sendika dhawuh, dia kemudian bertanya ke si Mbak tenaga kontrak yang mbantuin pesen tiket dan seorang kolega senior yang in charge: Lo Mbak, Pak, kenapa Lion? Kan ke Surabaya ada juga Garuda?

Dia sebetulnya hanya bertanya. Nggak ada pretensi apa-apa dengan pertanyaannya itu. Dia sudah akan puas hanya dengan jawaban: Oh, yang Garuda sudah nggak dapat seat. Atau: Oh, duitnya kurang kalau mau pakai Garuda.

Tapi, rupanya pertanyaan ini berbuntut panjang....

Dalam sebuah rapat sehari setelah Joko kembali dari Surabaya, bencana itu terjadilah. Semua staf dipanggil Direktur. Acara intinya adalah mendengarkan nasehat dan vonis Pak Direktur. Salah satunya ya vonis bahwa si Joko telah bersalah karena berani kurang ajar bertanya mengapa pakai Lion, bukan Garuda tadi. Bunyi vonis: Joko, you are guilty (Ind: kamu bersalah; Jw: Kowe luput)! Sayalah yang berhak ngatur semua staf di sini, dinas keluar kota naik apa. Kamu tidak punya wewenang apapun untuk menentukan, apalagi mendikte maumu naik pesawat ini atau naik pesawat itu. Kamu salah. Titik. Case closed. Nggak ada klarifikasi, nggak ada argumentasi di forum ini.

Keluar “ruang sidang”, si Joko meneleponku. Dia tahu persis aku orang yang nggak suka divonis bersalah tanpa pengadilan yang fair. Curhatnya bertubi-tubi nggak bisa kusela, begini:

Her, tau gak, gara-gara Gw bertanya kenapa pas tugas ke Surabaya Gw dibeliinnya tiket Lion Air, bukan Garuda, ni tadi Gw dapat teguran dari Bos Gw. Padahal Gw tuh cuma nanya doang, lain kagak. Malah Gw dituduh manja, maunya macem-macem.

Bagi Gw, masalahnya bukan simply karena Garuda dapat snack sementara Lion cuma dianggurin, Garuda servisnya oke sementara Lion pramugarinya modal cakep doang. Bukan. Masalahnya buat Gw lebih prinsip, karena reputasi keselamatan Garuda lebih baik dari Lion. Banyak orang khawatir naik Lion karena citra negatif maskapai ini, suka maen-maenin nyawa penumpang. Kalau Gw dianggap salah, fine! Tapi, sampai kapan juga Gw nggak bakalan mau mengaku salah karena bertanya mengenai sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan jiwa Gw.

Parahnya, ni tadi Gw gak dikasih kesempatan untuk klarifikasi sama sekali. Gw ngerasa jadi kayak terdakwa yang diadili tanpa didampingi pengacara, tanpa sempat membacakan pleidoi.


Mendengar itu, aku bilang gini. Sudahlah Jok, santai aja. Aku juga sering kok ngalamin kejadian kayak gitu. Kamu nggak sendiri. Berdoa saja, mudah-mudahan direkturmu itu suatu saat tahu isi hatimu. Berdoa saja, mudah-mudahan bosmu itu lain kali lebih wise untuk tidak merasa sudah tahu persis semuanya, ngerti banget duduk masalahnya, padahal informasi yang dia dapat baru separonya.

Selasa, Juli 20, 2010

20 Juli 2003


Dear Istriku, terima kasih atas 7 tahun yang indah yang telah kita lalui. Please, tetaplah bersamaku, menjadi inspirasi dan mendampingiku hingga habis sisa usiaku. HALAH, GOMBAL!

Pagi tadi di depan rumah, seperti ritual di hari-hari lain sebelum berangkat ke kantor, si Dani my lovely wife mencium punggung tanganku, setelah itu kukecup keningnya. Yang tidak biasa adalah ketika aku kasih bonus dengan mencium bibirnya. Kasihan dia, sampai tersipu-sipu begitu, karena adegan hot itu kami lakukan pas di depan hidung tetangga. “Ih, ayah genit, malu diliatin tetangga tuh”, protesnya. Pura-pura nggak denger protesnya, aku bilang gini: “Selamat ulang tahun pernikahan ya Bun. Biarin tetangga lihat, biarin seluruh dunia tahu betapa aku mencintai kamu”. Istriku pasang tampang mrengut, sambil bilang “halah, gomballll!”, dan tak lupa mencubit kecil lenganku, tapi dengan ekspresi seperti itu hatinya pastilah sedang berbunga-bunga.

Hari ini (20/7/2010), tujuh tahun sudah kami menikah. Wuih, nggak kerasa, tahu-tahu sudah tujuh tahun aja. Jadi ingat dulu waktu bulan-bulan awal berumah tangga (sebetulnya sampai sekarang juga masih sih), kami mesti melalui proses saling adaptasi yang tidak selalu mudah. Aku berasal dari kampung nun di pinggiran Semarang sana, Jawa tulen, bapak-ibuku petani. Sementara istriku adalah tipe cewek metropolitan, lahir besar di Jakarta, darah setengah Sunda, bapaknya orang kantoran pula. Adat dan nilai yang kami anut jelas beda. Ukuran bersih-kotor, sopan-nggak sopan nggak sama. Bahkan kebiasaan makan aja mesti dicari di mana titik temunya. Aku biasa makan makanan yang basah kuyup, banjir, lagi berkuah-kuah santan; sementara istriku yang setengah Sunda itu biasa makan yang kering kerontang lalap-lalapan. Aku dibesarkan dengan keyakinan bhw seorang istri harus mijitin suami sebagai bukti pengabdian; sementara dia dibesarkan dengan keyakinan bhw suamilah yang harus mijitin istri sebagai bukti pengayoman. Masih banyak lagi yang mesti di-adjust, dan alhamdulillah sejauh ini kami bisa melewatinya dengan baik dan benar.

Seorang teman pernah usil nanya: “Her, cantikan mana istrimu sama si Kokom?” (tau aja dia, gw ngefans berat sama cewek direktorat sebelah itu). Aku jawab diplomatis gini: “Dia cantik, istri gw juga cantik. Tapi Bro, gw pilih istri gw bukan karena cantiknya. Gw pilih dia karena gw yakin dialah yang terbaik yang Tuhan kasih buat gw”. Halah, lambemu Her, Her....

Eh, tapi ini serius. Aku selalu mencoba untuk berbaik sangka sama Allah, dalam arti aku selalu menganggap apapun yang terjadi padaku sekarang ini, yang kumiliki sekarang ini, adalah hal terbaik dari-Nya yang mesti kusyukuri. Kalau istriku bukan dia, mungkin perpaduan antara spermaku dan sel telur cewek lain yg jadi istriku tdk akan menjadi dua cowok ganteng seganteng buah hati kami: Wisanggeni dan Ontoseno.

Cewek lain mungkin tidak akan tahan punya suami jarang mandi sptku (ups!). Dia bilang gini nih kalau aku nggak mandi: “Ayah nggak mandi ya? Hmmm... bau keringat Ayah bikin Bunda horny. Bau asem, tapi menentramkan”. Oh God, I love her!

Cewek lain bakalan gagal ngatur cashflow keluarga PNS tulen dengan tingkat penghasilan hanya satu setrip di atas UMR sepertiku. Dia bilang gini nih kalau tanggung bulan saldo di BNI sudah mulai lampu kuning: “Alhamdulillah Yah, uang sekolah si Wisang, PLN, PAM, dan iuran sampah sudah kebayar semua. Mudah2an sisa gaji Ayah msh cukup sampai akhir bulan”. Oh God, I love her sooooo much!

Cewek lain mungkin bakalan uring-uringan punya suami matanya nggak kedip lihat cewek cakep nan putih lagi montok lewat. Dia bilang gini nih kalau aku ketangkap basah sedang bengong lihat cewek bohay: “Emang tuh cewek cakep banget, Yah. Alhamdulillah, Bunda dapat suami laki-laki normal”. Oh God, I can’t live without her!

Ni ntar malam, kalau anak2 dah tidur, aku mau setelin dia lagunya Marcell sambil belai-belai rambutnya and so on and so on. Mudah2an dia meleleh denger lagu itu. Gw paling suka pas syairnya gini:

Hanyalah kau yang ada di relungku. Hanyalah dirimu, mampu membuatku jatuh dan mencinta. Kau bukan hanya sekedar indah, kau tak akan tergantiiii...

Halah, gombal maneh.

Rabu, Februari 17, 2010

Kontrol Tanpa Huruf “R”


Coba bayangkan, apa jadinya kalau di koran yang kredibilitasnya sudah tidak diragukan lagi semisal Kompas, tau-tau ada kata KONTROL yang ketinggalan huruf “R”-nya. Atau, ketika menurunkan berita seputar mudik, koran nomor wahid ini menulis judul gede-gede “Meski Sudah Memegang Tiket, Puluhan Calon Pemudik Tidak Terangkut”, tapi waktu ngetik huruf “I” pada kata “TIKET” jurutulisnya ngantuk dan keliru mencet huruf “O”. Tanggung insiden itu bakal seharian jadi obrolan hangat di Facebook dan Twitter.

Waktu di SMA 3 Semarang dulu, aku punya guru sejarah yang paling nggak suka jika menemukan kata yang salah eja. Nilai ulangan yang mestinya 90, bisa dia diskon jadi 75. Dan diskon itu bisa makin sadis jika yang salah tulis adalah nama, misalnya yang seharusnya Dr. Tjipto Mangunkusumo kita nulisnya Dr. Cipto Mangun Kusumo (dengan “C” bukan “Tj“, dan Mangun Kusumo dipisah padahal menurut dia mestinya disambung).

“Jangan anggap remeh nama seseorang, karena di dalam setiap hurufnya terkandung makna atau doa yang ingin dipanjatkan oleh si pemberi nama”, begitu kira-kira beliau selalu berpesan. Maka dari itu, upayakan untuk selalu precise. “Kalau nggak yakin, jangan malu-malu bertanya langsung ke si empunya nama”, imbuhnya. La kalau orangnya sudah meninggal kayak Dr. Tjipto itu Bu, pegimane? (tanyaku, tentu hanya dalam hati).

Sebagai orang yang lumayan sering jadi korban kesewenang-wenangan salah tulis nama, aku termasuk pihak yang mendukung keyakinan guruku tadi. Aneh tapi nyata, di negaraku sendiri, namaku yang cuma satu kata, Heriyadi, dan kupikir nggak rumit-rumit amat, sering banget ditulis secara salah oleh orang-orang. Kalau nama semisal Adhitya Mulya, penulis jempolan kreator “Jomblo” yang fenomenal itu, salah ditulis orang ya rada lebih masuk akal wong memang nama itu lumayan rumit, setidaknya pada di mana harus meletakkan huruf “h”, apakah di depan sehingga menjadi Adhitya atau di belakang, Adithya.



Kembali ke namaku yang ditulis secara salah tadi. Kasus paling mutakhir terjadi kemarin dan kemarin lusa oleh Asisten Dokter Irawati dan Apotek Kasih, dokter dan apotek langganan keluarga kami di Harapan Indah. Wong sudah berkali-kali dibilangin, kok ya masih saja sak enak sendiri lo mereka itu. Kok ya masih saja salah. Kemarin lusa (15/2), namaku ditulis Haryadi; kemarin (16/2), namaku ditulis lain lagi: Heryadi. Di lain waktu dan kesempatan, kadang pula mereka menulisnya Hariyadi. Halah!


Kalau di rata-rata, dalam waktu hanya 3 bulan mungkin bisa sampai 5 kali namaku ditulis secara salah sama orang di negaraku sendiri. Coba tebak, waktu di Belanda selama 12 bulan, berapa kali kira-kira namaku ditulis salah? Jawabnya, tidak sekalipun!


Kenapa ya bisa begitu? Analisisnya mungkin begini (Warning buat yang lagi nyusun skripsi atau thesis! Jangan sekali-sekali mengutip analsis di bawah ini, karena tindakan tersebut pasti bakalan membuyarkan kerja keras Anda).

Kemungkinan pertama, kita belum punya tradisi baca-tulis yang kuat. Iingat, selama berabad-abad bangsa kita lebih mengandalkan tradisi tutur/lisan. Ini pula yang menjelaskan kenapa kita orang Melayu kalau bingung nyari alamat lebih suka nanya dulu ke abang becak maski akhirnya makin kesasar ketimbang baca petunjuk arah; sementara bule lebih suka mbaca peta dulu, dan baru setelah mentok karena petanya ternyata ngaco, dia nanya ke orang. Kita kurang menghargai bahasa tulis, dan oleh karenanya kita sudah cukup puas dengan hanya “asal apa yang kita tulis itu bunyinya sudah sama dengan cara melafalkannya”.

Kemungkinan kedua, kita belum punya cukup kesadaran bahwa nama adalah identitas yang unik dari seseorang, dan oleh karenanya alih-alih berpikir “nama kan umumnya Hariyadi bukan Heriyadi” kita justru berpikir “apa ya, yang tidak umum dari nama orang ini?”. Jika landasan berpikirnya sudah yang kedua, taruhan kita pasti akan jauh lebih berhati-hati.

Kemungkinan ketiga, pada diri kita bangsa Indonesia umumnya, belum tumbuh penghargaan terhadap “kesakralan” nama itu sendiri (halah kok malah mbulet). Langsung aja ke kisah nyata biar lebih konkret. Dulu banget ketika masih SMA, waktu aku ikut test penempatan untuk kursus bahasa Inggris di IEC Jl. Piere Tendean Semarang, pertanyaan pertama dari pewawancara adalah: What is your name?; dilanjutkan dengan: How do you spell it? Waktu membuka rekening bank di ABN Amro, atau ndaftar surat ijin tinggal di Balai Kota Rotterdam, urutan pertanyaan seperti itu pula yang aku harus jawab.

Coba sekarang di ingat-ingat, kalau di sini kita ditanya-tanya tentang identitas kita, baik ketika disensus sama orang BPS, diprospek sama agen asuransi, dijadikan target marketing oleh sales, atau diinterogasi sama polisi, seberapa sering kita disuruh mengeja nama kita terlebih kalau nama kita tergolong “pasaran”? Makanya, sepupu jauhku di Kramas sering banget ditulis orang bernama Franky padahal di akte, resminya dia bernama Frengki.

Jadi ingat waktu dulu ikut lomba nyanyi tembang Jawa di Semarang, aku dapat piagam penghargaan. Di piagam itu tercetak gede dengan huruf kapital semua nama HARIYADI. Ketika kuprotes ke panitia, Mbak-mbak panitia yang menerimaku menjawab enteng begini: “Eh, salah ya? Kirain udah benar, habis nama orang kan biasanya Hariyadi. Baru nemu sekarang lo, ada yang namanya Heriyadi pakai E”. Waktu ngomong gitu bibirnya mencos-mencos bikin gregetan, serasa pengen ngiket pakai tali rafia.

Eh, la kok ini tadi ada SMS dari nomer yang belum kusimpan di phonebook, sepertinya orang Bappeda kabupaten apa gitu yang tempo hari kenalan di sebuah seminar, begini bunyi SMS-nya: “Haloooo Pak Hari, apa kabar?”

Hari, Hari... Hari gundulmu!


Selasa, Februari 16, 2010

Kena Cacar



Usia sudah lebih dari tiga setengah dasawarsa, mestinya sama penyakit-penyakit anak kecil sudah kebal, eh KO juga aku oleh cacar. Demamnya sejak Sabtu (13/2) malem. Aku pikir kecapekan atau flu gitu, wong paginya pas hujan deras seharian merata di Jabodetabek aku nekat kegiatan outdoor seharian di Kalideres, makan siangnya telat pula jam 2 siang baru makan.

Karena sampai Senin (15/2) masih juga demam, akhirnya sambil dalam hati meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia yang menggajiku dengan duit pajak mereka, aku putusin absen, dan ke dokter. Kok ndilalah dokternya juga yakin aku cuma kecapekan, masuk angin, plus flu itu, jadi dia nyaranin cukup istirahat seharian, dan Selasa besok (maksudnya hari ini) bisa kembali menajalankan tugas-tugas negara.

Malang tak dapat ditolak, Senin siang sepulang dari dokter, elho, la kok keluar bisul-bisul kecil segede jerawat mulai dari kulit kepala, makin sore makin banyak, makin malam makin kolosal. Dan, tadi pagi pas bangun, weladalah, mukaku sudah nggak berbentuk muka homo sapiens pada umumnya. Tampangku yang dari sononya sudah pas-pasan, tadi pagi terlihat makin memprihatinkan.

Begitu bangun, istriku yang tidur tepat di sampingku langsung panik dan histeris. “Aaaaaaa.... Who are you? Where is my husband?” (halah lebay!).

Setelah situasi tenang dan kami bisa kembali berpikir jernih, keputusan kami bulat, tak bisa ditunda lagi aku harus ke dokter lagi. Jam 07:30, habis ngedrop si Wisanggeni di sekolahannya, aku langsung bablas ke dokter. Dan, beginilah kira-kira kalimat dokter ketika tadi pagi menjatuhkan vonis:

“Saudara Heriyadi, Saudara telah terbukti secara sah dan meyakinkan terserang cacar. Untuk itu, demi kesehatan Saudara sendiri dan kemaslahatan banyak orang, Saudara harus istirahat di rumah paling enggak selama seminggu, minum obat teratur, dan jauhi anak istri”. Asem! Sadis! Istirahat di rumah, yang berarti nggak kerja, selama seminggu sih enak, sudah pasti jadi dambaan setiap Korpri di seluruh Nusantara. La kalau menjauhi anak apalagi istri, seminggu pula, manalah bisa tahan.

“Yo wis dinikmatin aja, Her”, kata Bu Yohandarwati bosku via SMS. “Get well soon, Bro”, kata teman-teman via Facebook. Alhamdulillah, puji Tuhan, matur nuwun Gusti, punya banyak teman yang mendoakan kesembuhan saya.

Ada juga teman nun jauh di Bali sana yang berbagi tips gimana penanganan pasca cacar agar kulit kembali halus dan mulus. “Dulu saya kena cacar. Karena taat berobat, jadi gak ada bekas. Tapi emang obatnya tradisional, lulur beras dengan umbi-umbian yang mungkin gak ada di Jakarta. Ada yang bilang, biar tidak berbekas, pake parutan jagung. Coba ditanya lagi, takut bertentangan dengan medis. Semoga lekas sembuh ya!”, begitu katanya via SMS. Wah, tips ajaib. Pasti ampuh, dan tentu saja patut dicoba. Tapi entar kalau cacarnya dah sembuh. Ni sekarang aku lagi menikmati jendulan-jendulan kecil yang rame rasanya ini. Gatel, kalau digaruk jadi enak sih, tapi abis itu jadi perih. Perih-perih enak deh pokoknya.
Mau? Monggo lo kalau ada yang pengen.

Mudah-mudahan virus cacar tidak menular melalui blogspot.