Beberapa minggu atau mungkin sudah dalam hitungan bulan terakhir ini, jalan Raya Bekasi nggak pernah nggak macet kalau pas jam berangkat kantor. Selain karena volume kendaraan yang makin melimpah, sebab tambahan yang bikin macet itu makin makin edan macetnya adalah proyek galian saluran air yang berlokasi persis di depan Carrefour Taman Modern. Proyek itu memakan separo lebih Jalan Raya Bekasi, dan di sekelilingnya ditutup seng warna kuning garis-garis item ditulisi ala kadarnya: HATI-HATI, ADA GALIAN!
Geram dan jengkel. Tapi mau marah, nggak tau mau marah sama siapa, wong selalu saja di situ nggak ada orang yang bisa dimarahin. Udah sebulan lebih, tuh jalan kok kayak dilubangi terus ditinggal begitu aja. Tidak ada secuilpun informasi gangguan itu akan berlangsung sampai berapa lama. Jadi penasaran pengen tahu tampang orang yang nulis itu. Enak aja, seolah-olah kalau udah nyuruh orang ati-ati tuh masalahnya selesai. Nggak ada permintaan maaf, padahal jelas-jelas tuh galian bikin banyak orang sengsara. Kalau aku Walikota Jakarta Timur, udah kupecat tuh Kepala Dinas PU-nya.
Sudah pasti nggak hanya di Jalan Raya Bekasi. Di banyak tempat di Jakarta bahkan di seluruh Indonesia, kita pasti sudah hafal dengan kasus orang seenak perut nutup jalan umum tanpa pemberitahuan sebelumnya dan tanpa kompensasi yang pantas. Kayak jalan itu jalannya moyang dia. Kebanyakan nyuruh orang: Hati-hati, nih jalan sedang Gw gali. Atau paling mentok cuma: Maaf, perjalanan Anda terganggu bla bla bla. Ada pula yang bilang: Hindari ruas jalan anu karena sedang ada pembangunan anu... La iya, kalau kita harus menghindari jalan itu, terus kita disuruh lewat jalan mana, wong itu jalan satu-satunya ke arah kantor. Atau, kalaupun ada jalan alternatif muternya mesti jauh gak ketulungan.
Harusnya, proyek yang ngangkangi jalan umum apalagi yang padat kendaraan, tritmennya dibikin beda dengan jika proyek itu di tengah kampung yang sepi atau di rimba belantara. Proyek yang memblokir sebagian kecil atau separo badan jalan padat kendaraan jelas mengganggu mobilitas banyak orang. Makin lama tuh proyek ngalangin jalan, makin banyak energi, BBM, dan waktu, yang terbuang percuma. Celakanya, yang begini-begini ini seringkali mereka lupa atau pura-pura lupa, karena toh bukan energi, BBM, dan waktu mereka yang kebuang.
Mestinya, ada upaya lebih keras dong. Kalau normalnya proyek dengan skala segitu tuh ditangani 10 orang, agar cepat selesai, tambahin 10 tukang lagi. Kalau normalnya jam empat sore para tukang dah pada pulang dan kerjaan terhenti, agar nggak kelamaan bikin sengsara orang, geber 24 jam, bagi tukang dalam tiga shift. Itu baru sip. Lebih sip lagi kalau pas di situ juga ada papan informasi yang ngasih tau, tuh proyek kapan kelarnya, dan gangguan terhadap pemakai jalan kapan berakhirnya. Jadi, nggak cuma modal minta maaf atau nyuruh orang ati-ati.
Maaf, Perjalanan Anda Terganggu... Maaf, maaf. Maaf matamu!
Senin, November 02, 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
