Di Arab Saudi atau Malaysia para TKW itu mungkin sengsara, tapi peluang untuk hidup betapapun kecilnya, tetaplah masih ada. Di negeri sendiri? Buat orang miskin, yang menurut sensus BPS 2010 jumlahnya 31,02 juta jiwa (lebih banyak dari total penduduk Malaysia yang hanya 28,9 juta), bahkan hanya untuk bisa makan sehari sekali saja bukan main susahnya.
Mengapa para perempuan itu sepertinya tak gentar pergi ke negeri nun jauh di seberang lautan sendirian, nekat menghadapi ancaman penyiksaan dan pemerkosaan oleh majikan, berani menghadapi pemerasan di bandara oleh aparat yg seharusnya melindungi, dan acuh terhadap ketidakpedulian kedutaan besar Indonesia di tanah rantau? Mengapa mereka seperti begitu tega meninggalkan anak-anak, suami, dan orang-orang tercinta bertahun-tahun tanpa kabar berita, untuk dikemudian di negeri rantau bekerja hanya dengan upah jauh dari manusiawi?
Sekadar membuat perbandingan. Dulu, kepergian saya ke Belanda hanyalah untuk setahun. Tidak perlu cemas anak istri yg ditinggal di tanah air kelaparan, karena gaji dari negara yang tetap saya terima sudah bisa mencukupi kebutuhan mereka meski tidak berkelebihan. Tidak pula perlu risau bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari di Belanda karena untuk itu, sponsor telah berbaik hati setiap bulan mentransfer duit setara 10 juta. Di rantau, tugas saya cuma satu: belajar. Itu pun setiap akhir pekan atau pas libur rada panjang bisa jalan-jalan keliling Eropa. Kalaupun pengen males-malesan di kamar, internet dengan broadband sempurna siap memanjakan, baik buat browsing, berlama-lama telepon keluarga di tanah air supermurah dengan VoiP, maupun mendownload film-film dewasa.
Bumi dan langit bedanya.
En toch begitu... kami yang ke negeri seberang lautan untuk bersenang-senang saja ketika berpisah mengucapkan selamat tinggal di bandara, tetap saja kurasakan suasana yang penuh duka dan mengharu biru. Tangis-tangisan, baik kami yang di antar maupun keluarga yang mengantar. Bulan-bulan pertama di sana, terpisah sanak keluarga, pun juga tak kalah melodramatiknya.
Apalagi para TKW, yang niat ke negeri rantau untuk jadi pembantu rumah tangga. Kita tentu bisa membayangkan betapa remuknya hati para perempuan itu dan keluarga ketika berpisah di bandara.
Makanya, kembali ke pertanyaan yang tadi: mengapa mereka tak gentar menghadapi bahaya dan sepertinya tega meninggalkan anak-anak dan suami tercinta?
Jawabnya sungguh teramat jelas, karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari itu. Mereka paling mentok hanya tamatan SMP, tidak punya skill apa-apa, sementara sawah ladang warisan leluhur juga telah dibeli oleh orang-orang kaya dari kota. Perusahaan mana yang mau mempekerjakan mereka kecuali yang niatnya memang mau rugi dan beramal.
* * *
Kisah tragis itu kembali berulang. Untuk kesekian kalinya, tenaga kerja wanita (istilah sopan untuk menyebut PRT asal Indonesia) dianiaya hingga tewas atau menjadi cacat seumur hidup. Kali ini, korban itu bernama Sumiyati. TKW asal Dompu, NTB. Jika keselamatan nyawa yang jadi ukuran, nasibnya masih lebih baik dari Kikim Komalasari, TKW asal Cianjur. Sumiyati “cuma” dianiaya hingga babak belur dan digunting bibirnya. Masih hidup meski tentu harus menanggung cacat tetap dan trauma sepanjang sisa hidupnya. Kikim Komalasari mesti meregang nyawa setelah dijadikan sansak hidup oleh majikannya.
Dan, seperti yang sudah-sudah, negara baru bereaksi setelah semuanya terjadi. Nanti, seperti yang sudah-sudah juga, penyelesaian kasus itu tidak benar-benar tuntas. Jangankan mencegah yang telah terjadi itu berulang kembali di masa datang, menuntaskan yang sudah ada saja negara tidak mampu (atau tidak mau?). Taruhan berapa.
Polanya dari waktu ke waktu selalu sama. Setelah sebuah kasus terjadi, dibentuk tim yang diberangkatkan ke negara ybs. Tapi, saya kok selalu curiga, tim yang dikirim itu tdk akan banyak berguna selain hanya menambah beban negara. Bagaimana bisa berguna kalau sesampai di sana, tim yang dalam SPPD resminya bekerja 3 hari, cuma mengunjungi korban di rumah sakit setengah hari, sementara 2,5 hari sisanya sibuk wisata dan belanja cindera mata.
Dengan gagah berani, para politisi dan elit politik negeri ini selalu mengatakan: hentikan pengiriman TKW ke luar negeri. Pertanyaannya, setelah ekspor TKW itu distop dan memulangkan TKW yang ada di luar negeri ke tanah air, lalu apa? Mereka disuruh kerja apaan di sini? Ada gitu, lapangan kerja buat eks TKW dan eks calon TKW itu di sini, yang layak, yang upahnya 80%-nya saja deh, nggak perlu sama atau lebih besar, dari yang mereka terima di Arab? Ingat ya, para TKW itu gajinya rata-rata setara dengan 2,5 juta/bulan. Bisa gitu, pemerintah menjamin mereka dan keluarga mereka tetap bisa makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari (yg minmal saja deh, nggak usah yg jauh-jauh kayak odol sama sabun)? I don't think so.
Memulangkan semua para TKW sama artinya menambah 6,3 juta pengangguran baru sementara pengangguran yang ada sekarang saja sudah 23 juta lebih.
Menjadi pembantu rumah tangga di Arab atau Malaysia akan terus jadi pilihan selama negara masih blm mampu memberi jaminan hidup bagi orang-orang kampung miskin tak terpelajar itu. Jika lapangan kerja bagi mereka tersedia di negeri sendiri, tidak perlulah moratorium, minat perempuan-perempuan miskin itu utk jadi TKW juga bakalan padam dengan sendirinya.
Coba deh, administrasinya ditata yang bener, jangan acak adut kayak sekarang. Bikin sistem online. Dengan begitu, kita jadi gampang ngelacaknya, Mbak Yati berkarier di mana, Mbak Asih mengabdi pada siapa, alamatnya di mana, dst. Dari situ, kita bisa buat perjanjian dengan pemerintah Arab. Setiap bulan bisa diadakan visit/kunjungan ke alamat si Mbak bekerja. Dengar keluh kesah mereka, catat dan follow up masalah mereka. Dengan begitu, kalau ada masalah sekecil apapun, cepat dapat dideteksi. Heran saya, pemerintah dan elit kita di atas sana kok nggak kesentuh sih, ada warga negaranya yang setiap hari cuma dikasih makan sepotong roti dan itu sudah berlangsung hingga 4 bulan. Empat bulan lo, 120 hari! Kok nggak ada yang merasa nasionalismenya terusik, ada yang memperlakukan warga negara kita tercinta ini lebih rendah ketimbang binatang piaraan.
Sementara itu, selagi negara masih gagal menyediakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar; juga belum gablek bikin sistem adminstrasi yang rada canggihan dikit, saya usulkan soluasi jangka pendek berikut.
Selain ngasih telepon seluler satu-satu sebagaimana ide brilian pak Esbeye, pelatihan bahasa Arab, belajar adat-istiadat orang Arab; para calon TKW itu perlu pula dibekali dengan ilmu kekebalan tubuh dan karate. Biar kalau ada majikan sadis yang niat menggunting bibir lagi, nggak mempan. Biar kalau ada majikan yang niat memperkosa, bekal karate bisa dipakai buat bikin klenger sang majikan.
