Selasa, November 23, 2010

Mendesak, bekal ilmu kebal dan bela diri bagi calon TKW

Di mata para TKW, pilihannya bukan antara hujan emas di negeri orang dan hujan batu di negeri sendiri. Pilihan mereka adalah antara hujan batu di negeri orang atau mati di negeri sendiri. Tidak pantas disebut “hujan emas” di Arab Saudi, jika yang diterima adalah resiko dapat majikan sakit jiwa.

Di Arab Saudi atau Malaysia para TKW itu mungkin sengsara, tapi peluang untuk hidup betapapun kecilnya, tetaplah masih ada. Di negeri sendiri? Buat orang miskin, yang menurut sensus BPS 2010 jumlahnya 31,02 juta jiwa (lebih banyak dari total penduduk Malaysia yang hanya 28,9 juta), bahkan hanya untuk bisa makan sehari sekali saja bukan main susahnya.

Mengapa para perempuan itu sepertinya tak gentar pergi ke negeri nun jauh di seberang lautan sendirian, nekat menghadapi ancaman penyiksaan dan pemerkosaan oleh majikan, berani menghadapi pemerasan di bandara oleh aparat yg seharusnya melindungi, dan acuh terhadap ketidakpedulian kedutaan besar Indonesia di tanah rantau? Mengapa mereka seperti begitu tega meninggalkan anak-anak, suami, dan orang-orang tercinta bertahun-tahun tanpa kabar berita, untuk dikemudian di negeri rantau bekerja hanya dengan upah jauh dari manusiawi?

Sekadar membuat perbandingan. Dulu, kepergian saya ke Belanda hanyalah untuk setahun. Tidak perlu cemas anak istri yg ditinggal di tanah air kelaparan, karena gaji dari negara yang tetap saya terima sudah bisa mencukupi kebutuhan mereka meski tidak berkelebihan. Tidak pula perlu risau bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari di Belanda karena untuk itu, sponsor telah berbaik hati setiap bulan mentransfer duit setara 10 juta. Di rantau, tugas saya cuma satu: belajar. Itu pun setiap akhir pekan atau pas libur rada panjang bisa jalan-jalan keliling Eropa. Kalaupun pengen males-malesan di kamar, internet dengan broadband sempurna siap memanjakan, baik buat browsing, berlama-lama telepon keluarga di tanah air supermurah dengan VoiP, maupun mendownload film-film dewasa.

Bumi dan langit bedanya.

En toch begitu... kami yang ke negeri seberang lautan untuk bersenang-senang saja ketika berpisah mengucapkan selamat tinggal di bandara, tetap saja kurasakan suasana yang penuh duka dan mengharu biru. Tangis-tangisan, baik kami yang di antar maupun keluarga yang mengantar. Bulan-bulan pertama di sana, terpisah sanak keluarga, pun juga tak kalah melodramatiknya.

Apalagi para TKW, yang niat ke negeri rantau untuk jadi pembantu rumah tangga. Kita tentu bisa membayangkan betapa remuknya hati para perempuan itu dan keluarga ketika berpisah di bandara.

Makanya, kembali ke pertanyaan yang tadi: mengapa mereka tak gentar menghadapi bahaya dan sepertinya tega meninggalkan anak-anak dan suami tercinta?

Jawabnya sungguh teramat jelas, karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari itu. Mereka paling mentok hanya tamatan SMP, tidak punya skill apa-apa, sementara sawah ladang warisan leluhur juga telah dibeli oleh orang-orang kaya dari kota. Perusahaan mana yang mau mempekerjakan mereka kecuali yang niatnya memang mau rugi dan beramal.

* * *

Kisah tragis itu kembali berulang. Untuk kesekian kalinya, tenaga kerja wanita (istilah sopan untuk menyebut PRT asal Indonesia) dianiaya hingga tewas atau menjadi cacat seumur hidup. Kali ini, korban itu bernama Sumiyati. TKW asal Dompu, NTB. Jika keselamatan nyawa yang jadi ukuran, nasibnya masih lebih baik dari Kikim Komalasari, TKW asal Cianjur. Sumiyati “cuma” dianiaya hingga babak belur dan digunting bibirnya. Masih hidup meski tentu harus menanggung cacat tetap dan trauma sepanjang sisa hidupnya. Kikim Komalasari mesti meregang nyawa setelah dijadikan sansak hidup oleh majikannya.

Dan, seperti yang sudah-sudah, negara baru bereaksi setelah semuanya terjadi. Nanti, seperti yang sudah-sudah juga, penyelesaian kasus itu tidak benar-benar tuntas. Jangankan mencegah yang telah terjadi itu berulang kembali di masa datang, menuntaskan yang sudah ada saja negara tidak mampu (atau tidak mau?). Taruhan berapa.

Polanya dari waktu ke waktu selalu sama. Setelah sebuah kasus terjadi, dibentuk tim yang diberangkatkan ke negara ybs. Tapi, saya kok selalu curiga, tim yang dikirim itu tdk akan banyak berguna selain hanya menambah beban negara. Bagaimana bisa berguna kalau sesampai di sana, tim yang dalam SPPD resminya bekerja 3 hari, cuma mengunjungi korban di rumah sakit setengah hari, sementara 2,5 hari sisanya sibuk wisata dan belanja cindera mata.

Dengan gagah berani, para politisi dan elit politik negeri ini selalu mengatakan: hentikan pengiriman TKW ke luar negeri. Pertanyaannya, setelah ekspor TKW itu distop dan memulangkan TKW yang ada di luar negeri ke tanah air, lalu apa? Mereka disuruh kerja apaan di sini? Ada gitu, lapangan kerja buat eks TKW dan eks calon TKW itu di sini, yang layak, yang upahnya 80%-nya saja deh, nggak perlu sama atau lebih besar, dari yang mereka terima di Arab? Ingat ya, para TKW itu gajinya rata-rata setara dengan 2,5 juta/bulan. Bisa gitu, pemerintah menjamin mereka dan keluarga mereka tetap bisa makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari (yg minmal saja deh, nggak usah yg jauh-jauh kayak odol sama sabun)? I don't think so.


Memulangkan semua para TKW sama artinya menambah 6,3 juta pengangguran baru sementara pengangguran yang ada sekarang saja sudah 23 juta lebih.

Menjadi pembantu rumah tangga di Arab atau Malaysia akan terus jadi pilihan selama negara masih blm mampu memberi jaminan hidup bagi orang-orang kampung miskin tak terpelajar itu. Jika lapangan kerja bagi mereka tersedia di negeri sendiri, tidak perlulah moratorium, minat perempuan-perempuan miskin itu utk jadi TKW juga bakalan padam dengan sendirinya.

Coba deh, administrasinya ditata yang bener, jangan acak adut kayak sekarang. Bikin sistem online. Dengan begitu, kita jadi gampang ngelacaknya, Mbak Yati berkarier di mana, Mbak Asih mengabdi pada siapa, alamatnya di mana, dst. Dari situ, kita bisa buat perjanjian dengan pemerintah Arab. Setiap bulan bisa diadakan visit/kunjungan ke alamat si Mbak bekerja. Dengar keluh kesah mereka, catat dan follow up masalah mereka. Dengan begitu, kalau ada masalah sekecil apapun, cepat dapat dideteksi. Heran saya, pemerintah dan elit kita di atas sana kok nggak kesentuh sih, ada warga negaranya yang setiap hari cuma dikasih makan sepotong roti dan itu sudah berlangsung hingga 4 bulan. Empat bulan lo, 120 hari! Kok nggak ada yang merasa nasionalismenya terusik, ada yang memperlakukan warga negara kita tercinta ini lebih rendah ketimbang binatang piaraan.

Sementara itu, selagi negara masih gagal menyediakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar; juga belum gablek bikin sistem adminstrasi yang rada canggihan dikit, saya usulkan soluasi jangka pendek berikut.

Selain ngasih telepon seluler satu-satu sebagaimana ide brilian pak Esbeye, pelatihan bahasa Arab, belajar adat-istiadat orang Arab; para calon TKW itu perlu pula dibekali dengan ilmu kekebalan tubuh dan karate. Biar kalau ada majikan sadis yang niat menggunting bibir lagi, nggak mempan. Biar kalau ada majikan yang niat memperkosa, bekal karate bisa dipakai buat bikin klenger sang majikan.

Senin, November 22, 2010

Ngasih hadiah gak niat ala Carrefour

Minggu (21/11) kemaren, aku, Wisanggeni, Ontoseno, dan tidak ketinggalan ibunya tentu saja, belanja bulanan di Carrefour Harapan Indah. Buat keluarga Korpri tulen golongan 3, andalan penghasilan ya cuma dari gaji bulanan yang besarannya hanya satu setrip di atas UMR, sementara istri juga murni ibu rumah tangga, belanja bulanan pada tanggal tanggung bulan begitu tentu membutuhkan katabahan hati dan persiapan mental-psikologis tersendiri. Gimana enggak, di saat saldo rekening BNI Taplus sudah lampu merah, seratus ribu perak begitu berharga, eh pas satu demi satu belanjaan diitung sama si Mbak Kasir yang ramah itu, mak jreng tau-tau duit yang harus kami serahkan ke Carrefour dengan sukarela mencapai Rp713 ribu. Trembelane, nominal itu benar-benar bikin tensi darahku melonjak.

Kemaren itu adalah waktu belanja bulanan yang tidak sesuai jadwal. Maksudku, biasanya kami belanja itu ya ngepas di tanggal muda habis ada transferan gaji dari negara di rekening BNI kami. Tanggal 1 November lalu perasaan sudah belanja lo. La kok tau-tau Sabtu (20/11) susu Bendera 123 rasa madu si O’Shean habis. Popok Sweety ukuran L-nya juga sudah tinggal beberapa lembar. Eh, setelah dicek, minyak goreng Tropical, sabun Shinzu’i, gula pasir Gulaku, Masako rasa sapi, Kecap Bango, dan lain-lain kok ya pada menipis stoknya.

Waktu habis bayar, sambil menyerahkan kartu debet dan struk yg panjangnya sedepa, si Mbak Kasir wanti-wanti gini. “Pak, jangan lupa tunjukkan struk belanja ini ke bagian penitipan barang ya. Ada berbagai hadiah menarik menanti Anda”.

“Wah, terima kasih ya Mbak. Baik bener nih, Carrefour. Tumben-tumbenan ngasih hadiah, hadiah menarik pula”.

Begitulah. Sesuai instruksi si Mbak Kasir, aku melangkah menuju tempat penitipan barang. Penasaran membayangkan hadiah apakah gerangan yang bakalan kami terima.

“Selamat siang, Bapak. Ada yang bisa kami bantu?” sapa si Mbak di penitipan barang ramah.

“Selamat siang, Mbak. Anu, saya mau nukerin struk. Kata mbak kasir yang di sana itu, struk ini bisa ditukar dengan hadiah menarik. Benarkah begitu?”

“Iya, Pak. Benar sekali”. Habis berkata demikian, dengan cekatan dia menyetempel struk belanjaanku, mengambil tiga lembar stiker kecil dan menempelkannya di kartu yang telah didesain khusus, menstapler struk ke kartu itu, dan menyerahkannya kepadaku.

“Setiap belanja kelipatan 200 ribu, Bapak akan mendapatkan 1 stiker yang bisa ditukar dengan berbagai hadiah sampai dgn tanggal 14 Desember. Karena total belanja 713 ribu, maka Bapak berhak mendapatkan 3 stiker. Silakan kumpulkan stiker sebanyak-banyaknya agar Bapak bisa mendapatkan hadiah-hadiah menarik seperti tertera di sini, di kartu ini”, begitu katanya.

“Tahun ini, Carrefour berulang tahun yang ke-12. Berbagai hadiah telah kami sediakan bagi para pelanggan setia Carrefour, sebagai ungkapan terima kasih atas kepercayaan pelanggan kepada kami selama ini”, si mbak melanjutkan penjelasan dengan berapi-api. Si mbak itu cantik kayak idolaku si Audy Item, usianya sekitar 25 tahun, kulitnya putih, bodinya padat merayap, rambutnya hitam panjang tergerai, giginya putih berderet rapi (Maaf jika deskripsi ttg si mbak ini tidak relevan dgn tema kita kali ini. Habis, saya nggak tahan utk tdk menuliskannya di sini).

“Di hape flexi, istri saya kemaren dpt SMS, katanya belanja di Carrefour dapat pulsa Rp50 ribu, syarat dan ketentuan berlaku. Maksudnya apa tuh?” tanyaku.

“Oh, itu. Itu tuh ya termasuk dalam promo kami ini Pak. Seperti Bapak lihat di kartu ini, Bapak berhak mendapatkan top up voucher Flexi Trendy jika telah mengumpulkan 15 buah stiker sebelum 14 Desember”.

“Hah, 15 stiker! Berarti saya mesti belanja 3 juta dulu dong, baru dapat voucher 50 ribu?”

“Iya, Bapak (kalau bahasa gaul sekarang: yoi, Coy!)”, jawab si Mbak sambil tersenyum. Aih, cantiknyaaa...

Wedew, kere tenan! Come on, Carrefour, nggak ada promo yang lebih konyol apa?!

Niat mau ngasih hadiah nggak sih? Kalau nggak niat mbok ya sudah, nggak usah saja sekalian. Wong nggak pakai hadiah-hadiah begitu kami juga tetap belanja bulanan di Carrefour kok. Promo ngasih hadiah sak uprit, pulsa 50 ribu, setelah kita belanja minimal 3 juta dalam 25 hari itu kok buatku seperti mengatakan: “Kami akan kasih gratis 1 mangkok mie ayam kepada Anda jika dalam seminggu Anda membeli 60 mangkok mie ayam kami”.

Nggak mau rugi banget nih, Carrefour. Hadiah yang diberikan itu nggak benar-benar tulus dipersembahkan sebagai wujud terima kasih karena setelah 12 tahun Carrefour ada di sini, supermarket waralaba asal Perancis itu makin eksis berkat para pelanggan mereka. Bagiku, promo itu tak lebih dari cara mereka jualan nyari untung sebanyak-banyaknya dengan menipu orang pakai promo gimmick berkedok perayaan ulang tahun.

Tapi, apa cuma Carrefour yang nyari untung dengan nipu orang begini? Enggak. Kalau tidak percaya, lihatlah tawaran diskon-diskon di Matahari, Ramayana, atau supermarket lain. Tertulis gede-gede, mencolok, di tempat-tempat strategis: Dapatkan diskon up to 70%!

Istilahnya memang “up to” begitu, bukan “sampai dengan”, biar lebih keren pakai bahasa Inggris dan pembeli nggak nyadar bahwa 70% itu angka maksimal. Dari 10.000 item barang, yang didiskon 70% itu ya cuma 10 item, yang penting kan nggak nipu wong nyatanya memang ada kok yang didiskon sampai segitu.

Terus ada lagi, IM2 Broom Unlimited. Sekali lagi, pakai bahasa Inggris biar keren. Dengan 100 ribu perbulan, Anda bisa pakai sambungan internet up to 256 Kb/detik. Setelah pemakaian 2 Gb, Anda masih bisa pakai sampai kemeng meski kecepatannya kami kurangi up to 64 Kb/detik. Sekali lagi, istilahnya memang “up to” bukan “paling mentok”, biar pengguna nggak nyadar kalau sedang diapusi.

Kalau kemudian pas Anda make, kecepatannya lelet mampus, cuma 1 Kb/detik atau malah 0 Kb/detik, bukan salah kami lo, wong sudah kami bilangin kecepatannya up to 256 Kb/detik. Anda tau kan arti "up to"? Arinya tuh ya "paling mentok". Maksimal segitu, 256 Kb/detik itu. Minimalnya? Wallahu’alam, Bos.

Dan, kalau diperhatikan lebih jauh, nggak yang supermarket, nggak yang provider internet di negeri tercinta ini, kebanyakan memang berlomba-lomba nyari istilah-istilah kreatif buat membodohi orang. Di bawah ini adalah sedikit dari sekian banyak istilah favorit dari orang nyari untung gede dengan cara tipu-menipu customer itu.

1. ..., selama persediaan masih ada (*ternyata yang namanya “persediaan” itu ya cuma lima biji, yang nggak sampai dua jam juga sudah wassalam*)


2. ... untuk 50 pembeli pertama (*kita tdk pernah tahu dan mereka tdk pernah ngasih tau, kita itu pembeli ke berapa. Kata mereka, pokoknya kita adalah pembeli ke limapuluh sekian*)

3. syarat dan ketentuan berlaku (*syaratnya ya itu tadi, hadiah seharga 5.000 perak ini bisa Anda dapatkan setelah Anda belanja 5 miliar ke kami*)

Kepada mereka, mudah-mudahan segera dibukakan pintu taubat. Amin.