Sabtu, Desember 27, 2008

Istriku sebel sama Dude Herlino


Suatu sore menjelang malam di rumah Utan Kayu. Aku tiba dari kantor dengan ritual seperti biasa: motor Legenda butut inventaris keluarga kuparkir di belakang, lepas helm, sepatu, dan jaket, taruh tas, makan malam, dan mandi. Cuma, malam itu ada yang sedikit berbeda dengan istriku. Biasanya, dalam menyambut suami, sang Arjuna merangkap pahlawan devisa keluarga, ia selalu tersenyum dan cerah ceria. Tapi tidak kali itu. Wajahnya merengut bin cemberut. Weh, tumben, pasti sedang ada masalah serius.

“Ada apa sih, Bun? Kok tidak biasa-biasanya”, tanyaku setelah semua ritual pulang kantor selesai kujalani, termasuk mandi tentu saja. Nggak tahan juga lihat muka belahan jiwa yang makin montok mempesona itu terus ditekuk begitu.

“Bunda sebel sama sinetron Aqso dan Madina. Capek ngikutinnya. Dulu Bunda pikir ini sinetron dalam rangka menyambut puasa Ramadhan, sama seperti sinetron bikinan SinemArt tahun-tahun lalu. Dimulainya satu bulan sebelum Ramadhan, dan berakhir beberapa hari setelah Lebaran. Eh, ini sampai mau tahun baru nggak kelar juga. Mana alurnya juga makin nggak karu-karuan. Masa, tokoh jahat yang sudah insyaf, dibikin jahat lagi. Sebel!”

Oh, itu to pangkal persoalannya. Kirain dia denger gosip murahan aku selingkuh atau apa gitu yang gawat-gawat. Ternyata cuma masalah sinetron. Tiwas sudah degdegan...

“Yang bikin Bunda makin sakit hati tuh karena ternyata Dude ada di situ”, kata istriku masih bersungut-sungut.

Dude tuh maksudnya Dude Herlino, pemeran tokoh Aqso dalam sinetron striping Aqso dan Madina di RCTI. Dia aktor yang selama ini bikin aku cemburu berat karena istriku ngefans banget. Katanya ganteng dan baik hati. Wah, kalau bicara tampang emang membuatku jadi rendah diri. Dude yang ganteng itu pasti bukan tandinganku yang hanya satu setrip lebih keren dari sandal jepit butut.

“Bunda sendiri yang salah. Sudah tahu sinetron ngaco, nekat ditonton juga. Lagian, kok ya baru sekarang Bunda nyadar dan insyaf bahwa sinetron di tivi-tivi itu jauh lebih banyak yang ngawur daripada yang bener. Gimana mau bener kalau rating yang dijadikan patokan,” aku mulai ceramah. Ngaco, kalau ratingnya bagus, go ahead. Bagus, kalau ratingnya jeblok, minggir. Peduli setan sama logika, yang penting duit, duit, and duit. Makanya nggak heran ada sinetron judulnya Cinta SMU tapi yang nongol dan jadi pusat cerita anak balita mulu. Gak nyambung banget. Cerita diulur-ulur nggak jelas jluntrungannya, sampai sutradaranya aja ditanggung gak tahu endingnya tar gimana wong skenarionya konon baru jadi dua jam sebelum syuting kejar tayang dimulai. Sebaliknya, aku ingat dulu ada sinetron judulnya Jomblo di RCTI. Lumayan bagus, tapi gara-gara ratingnya rendah, tuh sinetron mesti dibabat dengan cara yang kasar pula.

Sebetulnya, cerita yang menghamba pada rating sudah ada sejak dulu kala, sejak Indonesia masih dalam abad kegelapan di tangan Orde Baru nan jaya. Jika Anda pendengar setia radio di tahun 80-an, boleh jadi Anda adalah penggemar sandiwara radio Saur Sepuh dengan tokoh utama sakti mandarguna Brama Kumbara dari Kerajaan Madangkara. Awalnya sih oke. Tapi berhubung pendengar pada kepincut, ceritanya dibikin puanjang dan berliku nggak habis-habis. Tokoh yang disukai pendengar, tak lain dan tak bukan ya Mas Brama itu, dibikin awet umurnya, nggak peduli betapa tidak masuk akalnya rentang usianya. Kalau dihitung-hitung ada kali 300 tahun.

Lebih aneh lagi sandiwara radio Misteri dari Gunung Merapi, dengan tokoh utama bernama Sembara dan gurunya Kakek Jabat. Di situ ada tokoh antagonis Mak Lampir, yang secara normatif harusnya binasa di tangan tokoh protagonis. Tapi karena Si Emak yang suka ketawa cekikikan padahal nggak ada yang lucu itu disukai pendengar, umurnya dibikin awet nggak mati-mati. Sampai Kakek Jabat matipun, Mak Lampir teuteup panjang umur, sehat, dan sejahtera selalu.

Kembali ke dunia pertelevisian di tanah air yang dipenuhsesaki oleh sinetron kejar tayang. Seingatku, sinetron terakhir yang membuatku kapok dan kemudian memutuskan untuk bilang enough is enough adalah Kecil-kecil Jadi Manten. Awalnya tuh sinetron bagus. Karakterisasi tokoh-tokohnya kuat, alurnya jelas, mesej yang ingin disampaikan dapat. Konon sinetron ini akan selesai dalam 13 episode. Eh, ternyata dipanjang-panjangin sampai 100-an episode karena tergoda duit. Dan sudah dapat diduga, ceritanya jadi kacau balau. Tokoh-tokohnya pada lebay, alurnya kentara banget dipaksain. Wis, pokoknya bikin gemes pengen banting tivi.

Selain jalan cerita yang “terserah apa kata rating”, penyakit lain dari sinetron-sinetron sampah idola kita itu adalah penokohannya yang pasti hitam putih. Contohnya gini. Tokoh antagonis tuh pasti sukanya mbentak-mbentak babu di rumah, hobinya marah-marah sama anak buah di kantor, korupsi, pikirannya selalu jahat, nggak pernah sholat, nggak berbakti sama orang tua, dan seterusnya. Si tokoh protagonis punya karakter sebaliknya. Yang jahat jahaaaat banget, yang baik ya baiiik banget. Nggak kreatif. Padahal di alam nyata, manusia kebanyakan abu-abu. Koruptor, tapi sholatnya kenceng. Pemarah, tapi berbakti sama orang tua. Dan seterusnya.

“Pesan moral dari uraian panjang lebar Ayah adalah, berhentilah nonton sinetron striping jika pikiran Bunda kepengen tetap waras”, kataku mengakhiri diskusi hangat kami. Istriku mengangguk. Mudah-mudahan itu pertanda bahwa dia memang benar-benar insyaf.

Saudara Dude Herlino, sorry to say, istriku tidak lagi ngefans sama kamu...

Jumat, November 28, 2008

Bob Hasan nyari SKKB

Enak betul jadi Nurdin Halid. Korupsi 169,7 miliar, dibui cuma dua tahun, padahal Jaksa menuntutnya 20 tahun. Tetap bisa memimpin PSSI dari balik penjara, tak tergoyahkan bahkan oleh gertakan FIFA. Dan, hukuman yang hanya dua tahun itupun cukup dijalani 14 bulan saja. Keluar penjara, jadi orang kaya lagi, jadi orang terhormat lagi, semua orang membungkuk-bungkuk segan lagi. Status mantan napi yang dia sandang tidak menggoyahkan sedikitpun status sosialnya.

Jadi Bob Hasan juga enak. Korupsi trilyunan rupiah juga cuma diganjar enam tahun penjara. Kamarnya di Nusakambangan semewah suit room hotel bintang lima, tetap bisa menjalankan bisnis, dan jangankan napi lain bahkan sipir penjarapun membungkuk hormat padanya. Di atas itu semua, hukuman yang 6 tahun itupun cukup dia jalani
sebelas bulan. Keluar penjara, jadi orang kaya lagi karena ganti rugi yang harus dia bayar ke negara tidak ada sekuku hitam total asetnya. Jadi orang terhormat lagi, jadi ketua PB PASI lagi. Setahun lalu, jelas banget dia sedang nampang di tivi ngasih penghargaan kepada para atlet berprestasi. Yang pada dikasih penghargaan itu pada membungkuk-bungkuk hormat, dan ketika tiba saat Om Bob ngasih selamat, mereka tak lupa mencium tangan si mantan napi itu. “Biar kata gue koruptor, atlet-atlet terbaik negeri ini tetep cium tangan gue”, begitu mungkin yang ada dibenaknya. Duh, enaknya.

Malang betul jadi Wagiyo, anak tetanggaku. Buat cari kerja jadi tukang sapu yang upahnya nggak sampai sejuta saja dia harus ngurus SKKB (Surat Keterangan ber-Kelakuan Baik) ke kepolisian, untuk membuktikan bahwa dia berkelakuan baik dan nggak pernah dipenjara.

Hanya terjadi di Indonesia. Sungguh negara yang aneh...

Selasa, November 11, 2008

Gatotkaca keguyur hujan (part 2 of 2)


Seperti telah kusinggung di bagian sebelumnya, bersih deso kali ini boleh dibilang agak spesial. Selain karena sifatnya yang multi-event, acara ini juga diselenggarakan pas di saat para politikus (baca: calon legislatif) sedang getol-getolnya ngambil hati warga biar pada pemilu ntar dapat menangguk suara sebanyak-banyaknya.

Syahdan, ada dua caleg DPRD Kota Semarang, satu dari Demokrat satunya lagi dari Golkar, yang malam itu turut datang memanfaatkan kesempatan dalam kesemutan. Dasar politikus, nggak bisa liat massa lagi ngumpul, maunya kampanye aja. Tindakan mereka jadi lucu-lucu. Bagi-bagi kalender bergambar sang caleg gede banget, stiker, hingga pasang spanduk di mulut jalan Mulawarman V. Momentum hadirnya caleg ini dilihat sebagai peluang emas oleh panitia untuk maen todong minta duit. Dan seperti sudah bisa diduga, para caleg itu dengan pringas-pringis, kecemat-kecemut, ngasih sumbangan untuk menutup biaya penyelenggaraan acara, yang kata Mas H.J. Rusyadi sang Ketua Panitia, masih kurang 14 juta. Ada yang ngasih sejuta, ada yang ngasih satu setengah. Yah, lumayan, buat nutup defisit...

Kini marilah kita kembali ke cerita tentang serah terima wayang Gatotkaca dari Pak Lurah ke Ki Dalang sebagai tanda dimulainya pagelaran wayang malam itu. Setelah wayang di serahkan, naiklah dalang ke panggung ke tempat di mana dia akan duduk semaleman, gamelan di tabuh, gunungan dicabut, show dimulai, dan.... hujan deras turun.

Halah, kere. Sesiangan tadi terang lo, meski langit disaput mendung. Bahkan pas acara sambutan-sambutan yang bertele-tele itu rembulan sempat tersenyum menampakkan diri. Eh, pas wayangnya mulai, la kok hujannya kayak dituang dari langit. Walhasil, penonton kocar kacir. Untungnya, sejak awal panitia emang sudah mengantisipasi kemungkinan hujan tak diundang itu, dengan menyiapkan terpal-terpal di sekeliling panggung. Sayangnya, terpal-terpal itu tidak mampu menampung penonton yang merangsek ke bawahnya, karena jumlahnya yang memang lumayan banyak. Praktis, acara malam itu menjadi nonton wayang sembari berteduh berjamaah, empet-empetan sama penonton lain. Alhamdulillah, rejekiiii... (batin mereka yang kebagian empet-empetan sama cewek cakep dan wangi); Ya Allah, cobaan apa yang Kau berikan padaku ini? (batin mereka yang dipepet embah-embah tukang batuk, napasnya beraroma sirih, plus badannya bau balsem).

Hujanpun reda. Tapi, situasinya sudah tidak lagi sama dengan sebelumnya. Kursi-kursi yang tak terlindung terpal, basah; tanah, becek; jalanan, berair; dan yang pasti, suhu udara malam itu juga jadi makin dingin. Belum lagi, sesekali gerimis menyusul, bahkan hujan rada besar turun sampai 2 kali lagi. Satu demi satu penonton beringsut pergi, dan tidak sampai jam 11 malam, tinggal beberapa gelintir manusia saja yang masih bertahan. Akan halnya diriku sendiri. Merasakan keadaan lingkungan yang kurang mendukung, ditambah entah kenapa pertunjukan malam itu kok seperti kurang greget, aku memutuskan kabur juga. Di luar kebiasaan sebetulnya, karena aku lebih sering nonton wayang sampai usai. Selanjutnya, aku memilih tidur-tiduran di kasur di ruang tamu, sambil nyruput kopi panas. Karena jarak rumah dan panggung wayang yang cuma sepelemparan batu, pertunjukan masih dengan sangat jelas kudengar, sebelum akhirnya aku tidak bisa mendengar apa-apa karena ketiduran kira-kira jam 12an. The party is over, dan pestapun usai sudah.

* * *

Minggu (9/11) malam. Sambil terkantuk-kantuk di gerbong 5 seat 6D kereta Senja Utama yang membawaku kembali ke Jakarta, aku coba mereview kembali hajatan bersih deso yang baru saja kuikuti dan saksikan. Di satu sisi aku seneng, ritual tahunan itu sekarang sudah makin penuh dengan inovasi, dengan mereformatnya menjadi multi-event. Cara panitia dalam memobilisasi dana juga makin kreatif, tidak semata-mata ngandelin iuran warga. Cuma, aku kok ngerasa tetap saja bersih deso ini dari tahun ke tahun makin pudar daya tariknya, makin nggak populer, terbukti makin sedikit animo masyarakat untuk turut larut di dalamnya.

Beberapa tradisi yang menjadi pelengkap juga sudah sejak lama ditinggalkan. Dulu, bersih deso semacam ini adalah juga momentum untuk bikin aneka masakan, seperti jenang, jadah, wajik, bandeng goreng, opor ayam, gulai sapi, dan lain-lain. Makanan-makanan itu, selain untuk dikonsumsi sendiri, juga diantar-antarkan ke kerabat yang dianggap lebih tua: paklik, pakde, embah; yang masih diberi umur panjang sama Allah, terutama kerabat di desa-desa sekitar (mudah-mudahan Anda bisa ngebayanginnya). Dalam kasus keluarga kami, aku sering kebagian ngeboncengin Ibuk nganter makanan bersih deso itu ke paklik/buliknya Bapak di Bulusan dan Ngembak, terus ke buliknya Bapak yang lain lagi di Tembalang (kata-kata aneh yang kutulis dengan underline adalah nama-nama desa di sekeliling desa kami). Tradisi nganter-nganter makanan macem itu yang kutahu kini sudah nggak ada lagi yang melestarikan. Jangankan untuk diantar-antarkan, untuk dimakan sendiri aja tidak bikin. Kami masak dengan reportoar menu tidak berbeda dengan hari-hari biasa.

Pagelaran wayang kulitnya sendiri juga kurasakan makin kehilangan daya pikatnya. Dulu, hingga aku usia SMA, bersih deso adalah event tahunan yang sangat ditunggu-tunggu oleh segenap warga. Di mana-mana, maksudnya baik di Kramas maupun desa-desa sebelah, acara tunggalnya memang hanya pertunjukan wayang kulit. Meski begitu, pertunjukan itu mampu menyedot penonton yang tidak saja terdiri dari penduduk desa yang bersangkutan tapi juga warga desa-desa lain. Karena semua kampung menyelenggarakan di bulan Apit, dan lebih sering dijatuhkan pas malam Minggu, setiap minggu selama sebulan itu selalu saja ada wayang. Bahkan, kadang-kadang bisa dalam satu malam ada wayang kulit di dua tempat sekaligus. Aku dan teman-teman di kampung pasti bakalan janjian untuk rame-rame menyerbu pentas wayang itu, di manapun berada.

Apalagi dulu, di desa-desa yang “kaya” karena penduduknya banyak (dus iuran yang terkumpul juga gede) plus di desa itu ada pabrik atau pusat bisnis besar yang bisa ditodong, dalang yang diundang tampil kadang yang sedang ngetop seperti Ki Anom Suroto, Ki Manteb Soedharsono, atau Ki Joko Edan. Tak ayal, penonton dari desa-desa sekitar, bahkan kampung yang jauh, makin deras mengalir. Sekarang, yang kayak gitu itu sudah nggak lagi terjadi. Jangankan ngejabanin wayangan di kampung sebelah, datang ke wayangan di kampung sendiri aja udah pada males.

Wayang kulit, dan ritual tahunan bersih deso, sepertinya memang sudah makin nggak populer. Bersyukur bahwa hingga saat ini kampungku masih bisa terus mempertahankannya. Cuma, pertanyaan yang selalu menggangguku, sampai kapan ia bisa terus bertahan? (The end).

Senin, November 10, 2008

Gatotkaca keguyur hujan (part 1 of 2)


Sebagai kampung dengan kultur dan tradisi Jawa yang kental, tanah tumpah darahku yang tak lain dan tak bukan adalah Kelurahan (sebelum tahun 80an dulu pake nama Desa) Kramas di Kota Semarang, punya agenda rutin tahunan yang diselenggarakan dalam rangka memanjatkan syukur kepada Tuhan atas limpahan rejeki selama setahun terakhir dan permohonan agar rejeki di tahun depan juga sama melimpahnya, serta dijauhkan dari bencana bin mara bahaya. Agenda tahunan itu diberi label merti deso, alias bersih deso, atau ada juga yang menyebutnya sedekah bumi.

Yang kutahu sih kampung-kampung lain di sekitar kami, seperti Srondol, Pedalangan, dan Bulusan juga punya tradisi serupa. Model-modelnyapun kurang lebih sama: dilaksanakan on one particular day in bulan Apit (itu adalah nama bulan setelah Syawal dalam penanggalan Jawa), biaya dikumpulkan dengan cara patungan orang sekampung plus nyari-nyari tambahan ke para donatur, dan sebagai puncak acara adalah pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang dihadiri oleh seluruh warga tanpa memandang usia dan jenis kelamin.

Beberapa hari lalu aku menyempatkan diri pulang ke Kramas, dengan pola klasik: Jumat sore jam limaan langsung ngacir ke stasiun dari kantor, Minggu malam balik lagi ke Jakarta tidur ndlosor beralas koran di atas gerbong kereta. Kepulangan itu untuk apa lagi kalau bukan dalam rangka hadir di tengah-tengah suasana bersih deso yang untuk tahun ini digelar tiga hari non stop tanggal 7-9 November, selain sudah barang tentu buat nengokin Ibuk. Dengan pertimbangan penghematan, aku pulang sendirian tanpa ditemani Wisanggeni, Ontoseno, dan emaknya.

Pulang sendiri, bisa pakai kereta rakyat yang tiketnya 100 ribuan, dus 200 ribu dah bisa pp Jakarta-Semarang. Sedangkan kalau sama anak-anak, dengan alasan menghindari dampak perilaku barbar dari penumpang jiancuk! yang seenaknya memproduksi racun di atas kereta yang menurut aturan seharusnya bebas asap rokok, kami mesti pakai Argo Muria. Tiga tiket, masing-masing 210 ribu, dus 1,26 juta hanya buat keretanya thok. Uang segitu buat Korpri kelas cekeremes sepertiku tentu gede bangets, wong setara dengan sebulan gaji kotor yang belum kena potongan utang koperasi dan cicilan rumah. Belum lagi, pertimbangan sempitnya waktu, menginap cuma semalam di kampung, padahal di jalannya malah dua malam. Kasihan anak-anak, capek di jalan. Ya kan?

Begitulah. Sabtu (8/11) dini hari aku sudah sampai di rumah. Dari stasiun ngojek, tarifnya 25 ribu karena jarak Stasiun Tawang ke rumah Kramas emang dari ujung ke ujung. Ngobrol bentar sama Ibuk, mandi pake air anget, dan bablas tidur sampai jam 9 pagi. Bye bye sholat Subuh.

Lokasi penyelenggaraan bersih desa tahun ini di tengah jalan Mulawarman V, jalan depan rumah kami. Benar-benar di tengah jalan, sehingga jalan yang biasanya sepanjang hari nggak pernah sepi dari lalu lalang mobil dan motor itu praktis ditutup. Panggung wayang kulitnya hanya berjarak 250 meter dari rumah kami, sehingga pasar dadakan khas hajatan yang menjajakan mulai bakso tenes hingga VCD bajakan juga meluber sampai depan rumah.

Ada yang berbeda dari penyelenggaraan bersih desa kali ini, yaitu bahwa kegiatan ini diformat sebagai multi-event, dalam artian tidak hanya menampilkan pertunjukan wayang kulit sebagai hiburan tunggal. Tahun ini, selain acara puncak wayang kulit di Sabtu malam, pada Jumat malamnya juga digelar aksi grup rebana dari Ibu-ibu pengajian, dilanjutkan pengajian umum, dan diakhiri dengan pentas dangdut (kombinasi yang aneh, habis ngaji terus ndugem dangdutan). Sabtu siang menjelang sore, ada juga penampilan jaran kepang alias kuda lumping yang mengundang antusiasme warga. Wis, pokoke seru....

Malam minggunya, jam setengah delapan, kursi-kursi di depan panggung wayang kulit sudah mulai terisi. Acara puncak, pertunjukan wayang kulit, dalang Ki Anom Dwijokangko mengambil judul Biografi Gatotkaca, akan segera dilaksanakan. Semakin malam semakin penuh, dan ketika jam sudah menunjukkan pukul 20:15, mulailah MC membuka acara. Seperti biasa, sambutan-sambutan mendominasi acara. Sudah gitu, yang namanya sambutan itu bisa sangat bertele-tele, mulai ketua panitia hingga Pak Lurah, satu orang bisa lebih dari seprapat jam. Acara seremonial ala 17-an malam itu diakhiri dengan penyerahan wayang Gatotkaca (yang malam itu jadi tokoh sentral cerita) dari Pak Lurah kepada Ki Dalang. Dan, jam sembilan malam lebih sekian menit, pertunjukan wayang kulit itupun dimulailah.... (to be continued).

Kamis, Oktober 23, 2008

Kado istimewa

Ada kado istimewa yang kuterima tepat di hari ulang tahunku, 16 Oktober, tempo hari. Sayangnya, kado itu bukan dalam bentuk buket bunga, makanan enak yang menggugah selera atau gadget terkini yang bisa dipakai tampil gaya. Kado itu berupa penyakit, dan penyakit itu kok ya jauh dari keren sehingga jadi bahan ledekan teman-teman. Orang-orang kampung di Jawa menyebutnya gondong, atau bahasa medisnya mumps alias parotitis.

Gondong itu aku dapat dari istriku, istriku dapat dari Wisanggeni anakku yang gede, la si Wisanggeni sepertinya ketularan teman sekolahnya. Dari situ dapatlah disimpulkan bahwa penyakit ini sangat menular.

Begitu si Wisang sakit gondong itu, aku segera googling mencari tahu apakah gerangan penyakit yang satu ini, dan inilah beberapa pointers kunci yang bisa dicatat (kalau mau sedikit lebih lengkap, silakan baca sendiri salah satu referensi yang kutemukan, di sini):

1. Penyebabnya virus (nama virusnya lumayan keren: myxovirus parotitidis, bisa tuh dipakai buat nama anak).
2. Lebih banyak kasus (85%) menyerang balita (berarti aku termasuk yang 15%).
3. Penyakit sekali seumur hidup. Maksudnya, orang yang pernah terserang gondong nggak bakalan kena lagi di kemudian hari.
4. Tidak menyerang bayi usia di bawah 6-8 bulan karena masih memiliki kekebalan dari plasenta (Ini yang membuatku tenang. Berarti si Ontoseno, adiknya Wisanggeni yang masih 2,5 bulan itu, nggak bakalan ketularan).
5. Masa masuknya virus hingga timbul keluhan (baca: masa inkubasi) rata-rata 14-24 hari.
6. Sangat menular, terutama melalui percikan ludah, kontak langsung, muntahan, dan air seni.
7. Gejalanya: demam, sakit kepala, dan nyeri otot; kemudian terjadi pembengkakan kelenjar di bawah telinga dan kadang-kadang nyebar juga ke bawah-bawah dagu.
8. Seperti penyakit lain yang disebabkan oleh virus, gondong bisa sembuh sendiri tanpa perlu diobati.
9. Pada laki-laki yang sudah akil balik, kadang bisa beresiko menjalar ke organ reproduksi (testis) dan menyebabkan kemandulan (Wah, boleh tuh jadi alternatif cara ber-KB).

Secara medis, konon penyakit ini enggak berbahaya kecuali adanya resiko menyerang organ reproduksi pada laki-laki dewasa. Itupun prevalensinya rendah banget, hanya ditemukan satu kasus di antara sekian ribu. Dari sisi rasa sakit juga enggak bikin sakit-sakit amat selain seharian di hari pertama saja kerasa demam dan pusing. Cuma, bengkak di leher itu lo, sangat potensial mengganggu penampilan dan menjatuhkan harga jual terutama bagi mereka yang masih lajang dan sedang getol-getolnya mencari pasangan hidup.

Kakak iparku yang ketularan gondong juga, entah dari si Wisang entah dari ibunya anak-anak, tempo hari punya cara jitu untuk “menyembunyikan” bengkak di lehernya. Kebetulan momentumnya juga pas di bulan suci Ramadhan. Yaitu dengan pakai jilbab. La kalau aku, masak cowok pakai jilbab sih. Ditaksir si Ryan jagal van Jombang baru tau rasa.

Untuk abdi negara sepertiku, juga para pekerja kantoran yang lain, gondong terbukti bikin repot dan serba salah. Ini penyakit ringan yang bisa berobat jalan. Tapi sembuhnya, maksudku kempesnya bengkak itu, bisa makan waktu hingga seminggu. Problemnya, aturan kepegawaian tidak mengijinkan orang sakit dengan berobat jalan absen lebih dari dua hari, kecuali siap tebal muka disemprot bos “emang iki kantore Mbahmu po! (emangnya ini kantor moyang Lo!)...”. Walhasil, pada hari ketiga dengan bengkak di seluruh penjuru leher, mulai dari bawah kuping kiri-kanan sampai bagian di bawah dagu sehingga membuat diriku kelihatan nggak punya leher, aku harus masuk kantor dan menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Seperti telah dijelaskan di atas, sakitnya sih emang tak seberapa, tapi tampangku yang sudah pas-pasan ini jadi makin kelihatan memprihatinkan. Kolega-kolega senior pada ngeledekin, office boy dan para yunior yang “kalah pangkat” pada senyum-senyum penuh arti. Wis jan, kampret!

Tapi, kena gondong pas di hari ulang tahun, sepertinya memang harus tetap disyukuri. Dengan begini, barangkali Gusti Allah sedang ngingetin: “Her, kamu sudah makin tua, penyakit makin gampang menyerang kapan saja. Makanya, jagalah kesehatan. Makan juga diatur, jangan tongseng dan sop kambing mulu.” Alhamdulillah ya Allah, Engkau ijinkan aku merayakan hari kelahiranku. Mudah-mudahan Engkau panjangkan umurku, sehatkanku selalu, limpahiku rejeki yang berkah dan manfaat, dan jadikanku orang yang pandai bersyukur atas segala nikmat-Mu.

Senin, September 22, 2008

In memoriam, Bapak

Kamis, 18 September 2008, sekira pukul 1 siang, resmi sudah aku menyandang status anak yatim. Bapakku, Sagiman bin Samidjan, dipanggil pulang oleh Yang Mahakekal dalam usia 71 tahun karena stroke, Sabtu (13/9) sebelumnya. Ini adalah stroke ketiga setelah yang pertama tahun 1998 dan kedua tahun 2006.

Selain sosok ayah, Bapak adalah guru bagiku. Darinya aku belajar bagaimana seharusnya menjadi laki-laki sembari berusaha untuk terus memperbaiki diri.

Ada dua jenis pelajaran yang Bapak ajarkan kepadaku. Pelajaran jenis pertama adalah tirakat, menempa diri dengan laku prihatin, terutama dengan beragam jenis puasa. Aku ingat, waktu itu usiaku belum lagi genap 10 tahun, Bapak sudah ngajakin aku pasa mutih, atau puasa yang hanya boleh minum air putih dan makan nasi berpantang garam. Karena sejak usia 7 tahun aku sudah mampu 30 hari penuh puasa Ramadhan, ajakan Bapak untuk pasa mutih yang cuma 3 hari, boleh makan dan minum pula, aku sanggupi dengan percaya diri berlebihan. Nyatanya, hari pertama dan kedua aku memang kuat. Tapi di hari ketiga, badanku terasa panas luar biasa, dan aku menyerah kalah. Pada pagi di hari ketiga itu, Ibuk yang selalu tanggap terhadap aspirasi putra tercintanya segera membuatkanku sayur lodeh dan tempe goreng dan aku menyantapnya bersama dua piring nasi dengan lahap. Pasa mutih rupanya tidak seenteng yang kubayangkan sebelumnya.

Ada juga puasa Senin-Kamis yang alhamdulillah sekali-sekali masih kujadwalkan, dan beberapa macam puasa yang hingga kini belum juga sempat dan sepertinya tidak bakalan mampu kujalani, seperti ngrowot (puasa yang hanya makan umbi-umbian rebus atau buah-buahan selama 21 hari), ngebleng (puasa sehari semalam plus nggak boleh tidur), dan pasa weton (puasa setiap hari weton kelahiranku, Kamis Wage). Menurut Bapak, beragam puasa itu adalah sarana latihan agar aku menjadi manusia yang punya naluri yang tajam dan menuju satu tahapan penting dalam hidup, yang dia sebut dengan istilah: wening ing pikir (kejernihan pikiran), tentrem ing ati (ketentraman hati), dan menep ing rasa (mengendapnya rasa).

Pelajaran jenis kedua berupa wejangan tentang kearifan dalam memandang hidup. Salah satunya adalah filosofi “menanam padi, bukan rumput” seperti pernah kutulis juga di blog ini. Nasehat lain yang juga sangat membekas dalam benakku adalah ngelmu ikhlas (ilmu tentang keikhlasan) yang Bapak rangkum dalam kalimat pendek, begini. ”Le, tansah elingo, bondo kuwi titipan, pangkat sampiran, lan nyowo mung silihan”. Tenang, buat Anda yang kagak ngarti bahasa Jawa, ini artinya: "Nak, ingatlah selalu, harta itu titipan, pangkat hanyalah sampiran, dan nyawa tak lebih dari pinjaman".

1. Dengan selalu ingat bahwa harta hanyalah titipan, kita bakalan lebih arif dalam memperlakukan harta. Tidak menumpuk-numpuknya apalagi dengan jalan yang dilarang agama, sebisa mungkin hanya mengambil yang kita butuhkan sembari menekan keinginan yang cenderung tanpa batas. Ibarat menghadiri pesta jamuan makan, yang kita inginkan adalah melahap seluruh hidangan. Tapi begitu dua piring nasi sudah kita santap, perut kita sudah tidak mampu lagi diisi makanan lainnya. “Ingatlah, kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak yang kamu miliki, tapi pada seberapa mampu kamu mensyukuri”, begitu kata Bapak.

2. Dengan selalu sadar bahwa pangkat tak lebih hanyalah sampiran, kita akan melihat jabatan dan status sosial bukan sebagai suatu kedudukan yang harus dikejar-kejar dengan cara seperti katak: menjilat ke atas, menginjak ke bawah, dan menyikut kiri kanan; melainkan amanah yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab kepada Dia yang menyampirkannya di pundak kita.

3. Dengan selalu ingat bahwa nyawa adalah titipan, kita akan menyikapi kehidupan dan kematian dengan lebih proporsional. Hidup adalah kesempatan untuk memayu hayuning bawono (menjadi rahmatan lil alamin), menebar kedamaian, dan berbagi cinta; sedangkan ajal adalah sebuah keniscayaan karena pada detik pertama ketika manusia dilahirkan pada saat itu pula hitung mundur kematian dinyalakan.

Inti dari ngelmu ikhlas itu kalau dipikir-pikir kok sejalan dengan “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un” (dari Dia segalanya berasal dan kepada-Nya semua kan kembali), yaitu bahwa kita diminta untuk selalu siap kehilangan harta, jabatan, bahkan nyawa karena toh itu semua milik Dia, bukan punya kita.

Kamis lalu, Bapak seperti mengingatkan aku akan wejangannya. Nyawa yang telah 71 tahun dia pinjam, diambil kembali oleh pemiliknya. Selamat jalan Pak, mudah-mudahan di hari akhir nanti kita bertemu lagi dalam barisan yang sama di belakang Kanjeng Nabi. Bapak sendiri kan yang bilang, “Jangankan aku yang sudah renta begini, bahkan bayi yang baru dilahirkan kemarin sore suatu saat juga akan mati. Hanya soal waktu dan apa yang kita tanam di sini untuk kita petik di sana”.

Pak, semalam aku mimpi, Bapak sedang lesehan sambil ngobrol santai dengan Rasulullah SAW, ditemani secangkir kopi dan sepiring singkong goreng kesukaan Bapak. Mudah-mudahan itu adalah pertanda bahwa Bapak kini tengah tertawa bahagia di sana.

Senin, September 08, 2008

Istirahat sementara ngutak-atik Blog

Seorang kawan yang ternyata rutin nyambangi blog nggak mutu ini tiba-tiba meninggalkan pesan di friendster-ku, “Her, udah sebulan lebih kok nggak ada tulisan baru? Bosen ya. Kangen juga gue, mbaca dobosan elo”. Terhadap pesan itu, reaksiku mendua. Terharu, karena itu berarti dia mengapresiasi tulisan-tulisanku, tapi juga kaget karena rupanya ada juga orang kurang kerjaan yang sempat-sempatnya rutin nengokin blog yang tagline-nya saja “nggak penting dan ngawur” ini.

Penjelasan dari pertanyaan itu begini. Hadirnya Ontoseno di tengah-tengah kami satu setengah bulan lalu, sebagaimana juga terjadi pada kasus Wisanggeni empat tahun silam, membawa konsekuensi besar dalam ritme hidupku. Konsekuensi pertama tentu bahagia, ada tangis bayi yang makin bikin rumah ingar bingar. Juga dengan begitu berarti kelelakianku terbukti cespleng setelah terpaksa dianggurin selama setahun (halah, nggilani...). Tapi, kebahagiaan itu tentu juga ada harganya, sebutlah itu sebagai konsekuensi berikutnya. Tak lain dan tak bukan adalah capek dan ngantuk karena kurang istirahat.

Pagi hingga lepas magrib, aku harus menjalankan tugas-tugas kenegaraan sebagai anggota Korpri yang belakangan ini kok terasa makin banyak saja. Syahdan, bulan-bulan ini emang bulan puncak beban kerja seluruh jajaran Korpri setanah air tercinta, tak terkecuali diriku. Ini karena konon seluruh instansi kejar tayang menyerap anggaran pada bulan-bulan April s.d. November. Sudah jadi rahasia umum bahwa cairnya anggaran di negara ini tidak pernah bisa pas tanggal 1 Januari, tutup bukupun juga nggak boleh ngepas 31 Desember.

Menjelang Isya begitu sampai rumah, Si Wisanggeni sudah nunggu ngajakin main. Dan malam, ketika dia sudah tidur, gantian Si Ontoseno adiknya yang minta ditemenin begadangan sampai pagi.

Walhasil, hari-hari belakangan badan terasa letih, lesu, lemah, sariawan, bibir pecah-pecah, dan susah buang air besar. Untuk menanggulangi keluhan-keluhan semacam ini, aku yakin dan percaya bahwa solusi paling mujarab adalah istirahat setiap kali ada kesempatan. Prioritas kegiatan harus disusun. Mana yang paling urgen dikerjakan dulu ditempatkan pada nomor satu, mana yang less urgen di nomor sekian, dan seterusnya. Sebagai kepala keluarga yang (mencoba) bertanggung jawab, prioritas nomor wahid tentulah anak-anak dan istri. Makanya, Si Wisang ngajakin main ku ladeni, Si O’Shean ngajak begadangan kujalani dengan tulus ikhlas. Sebagai PNS yang berdedikasi, berada di nomor urut priorotas selanjutnya adalah tugas-tugas kenegaraan. Setelah itu, barulah istirahat ada di prioritas ketiga.

Akan halnya ngeblog, aktivitas yang satu ini ada di prioritas kesekian, bahkan kalah penting dibandingkan dengan istirahat. Inilah aktivitas yang baru kulakukan manakala ada waktu senggang, ketika semua kerjaan beres, dan jika istirahat telah cukup. Makanya, ketika istirahat saja kadang harus kucuri-curi waktunya, ngutak-atik blog jadi aktivitas pertama yang paling bisa dikorbankan.

Mudah-mudahan uraian singkat ini cukup menjelaskan, terutama bagi Anda yang masih saja belum jera kurang kerjaan membaca blog ini. Terima kasih...

Senin, Agustus 04, 2008

Ontoseno, nama anakku


Gara-gara Ge-Er pasti bakalan banyak email ucapan selamat yang kuterima, Rabu (30/7) malam di sela-sela kesibukan baru begadangan, aku menyempatkan diri nyambangi warnet sebelah rumah. Pergi ke warnet memang jadi pilihan paling rasional jika ingin internetan, karena praktis aku terputus dari sambungan internet yang biasanya kudapat gratis di kantor sebagai fasilitas negara, seiring dengan keputusanku mengajukan cuti dari tanggl 28 Juli hingga 1 Agustus.

Kegeeranku rupanya terbukti benar adanya. Dari 63 email baru yang masuk, 37 di antaranya adalah doa dan ucapan selamat terkait kelahiran anak keduaku, baik dikirim via milis yang kuikuti maupun (ja)lur (pri)badi. Ucapan selamat serupa juga kuterima lewat beberapa oflain mesej yang nyangkut di Yahoo! Messenger. Semua itu tentulah perlu diapresiasi dan dibalas sebagai wujud terima kasih.

Kesempatan membalas email dan mesej malam itu aku gunakan pula untuk sekaligus mengumumkan nama bayi yang baru lahir kepada khalayak ramai. Dan inilah label yang kami pilih untuk anakku itu: Ontoseno Puguh Satriowibowo. Makna kata demi katanya sebagai berikut. Ontoseno adalah salah satu tokoh dari dunia pewayangan, anaknya Bima yang terlahir dari seorang bidadari putri dewa penjaga samudera. Wataknya jujur dan apa adanya, nyantai tapi get things done, penolong, dan selalu berpihak pada kebenaran. Ontoseno tuh boleh dibilang kembaran Wisanggeni, sepupunya, dalam hal karakter. Makanya, dua tokoh ini kompak banget kemana-mana berdua. Puguh artinya kukuh pada pendirian, sedangkan satriowibowo berarti kesatria yang berwibawa.

Kata orang, nama yang baik tuh sebaiknya yang di dalamnya terkandung doa. Nah, jika terjemahan di atas digabung-gabungkan, dengan memberinya nama Ontoseno Puguh Satriowibowo, kami berdoa agar kelak buah hati kami ini tumbuh menjadi kesatria berwibawa yang teguh pada pendirian dan punya karakter terpuji ala Ontoseno.

Pertanyaan kritis datang dari seorang teman, ”Her, kenapa sih dua anakmu nggak ada satupun yang pakai nama bahasa Arab? Kamu kan orang Islam”. Jawabanku simpel, karena Tuhan paham semua bahasa dan aku merasa lebih mantap berdoa dengan bahasa ibuku sendiri. Makanya, andai saja anakku itu perempuan dan lahir malam hari, aku bakalan lebih nyaman menamainya Wulandari atau Cahaya Rembulan ketimbang Nurul Qomariyah. Buatku, Islam tidak hanya Arab, dan tidak semua yang Arab pasti Islam. Hanya karena Qur'an ditulis dalam huruf Arab, bukan berarti huruf Arab lantas harus kita sucikan.

Nama Ontoseno rupanya menggelitik Hendrawan, sahabat teman sebangku dulu di kelas tiga IPA 1 SMA 3 Semarang. Boleh jadi karena membaca email yang kuposting di milis Alste (Alumni SMA Tiga dan Empat) sehari sebelumnya, sore itu tau-tau dia SMS begini: “Berarti kalau ntar elo punya anak cowok lagi, elo bakalan kasih dia nama Antareja ya Pak? Sangar tenan...” (Yang dia maksud dengan Antareja tuh kakaknya Ontoseno, putra Bima yang lain).

SMS itu memicu diskusi hangat hingga berakhir jam 12:00 keesokan harinya. Kepadanya intinya kuakui bahwa sejak lama aku memang punya obsesi untuk memberi nama anak-anakku dengan tokoh-tokoh wayang. Kesukaanku pada dunia wayang sepertinya sudah masuk dalam stadium kronis. Ini karena interaksiku dengan seni pedalangan telah berlangsung sepanjang usiaku. Bahkan skripsi S1-ku di Komunikasi Undip adalah tentang wayang, yakni mengenai sejauh mana kemampuan retorika dalang berpengaruh terhadap tingkat keseriusan audiens dalam menyaksikan pertunjukan wayang kulit.

Beruntung, aku mempunyai istri yang dengan ikhlas menyerahkan pemberian nama kepadaku seutuhnya. Beruntung pula kakek neneknya, baik yang di Semarang maupun Jakarta, adalah orang-orang tua yang tidak hobi turut campur dalam pemberian nama cucu sehingga anakku terhindar dari nama dengan taste gado-gado.

Dua teman lain menyampaikan pertanyaan kritis berbeda. Katanya, apa elo nggak salah ngasih nama Ontoseno? Ontoseno bukannya bandel, kasar, nggak ngerti tata krama? Apa kamu siap didurhakai anakmu? Weh, seru. Tanggapan dan jawabanku atas pertanyaan itu begini. Pertama, nggak pernah ada ceritanya Ontoseno ngelawan apalagi mendurhakai Bima, kecuali emang Bima-nya sendiri yang salah. Dan aku bilang, justru itu yang aku harapkan dari anak-anaku: tidak selalu pasif melaksanakan apapun omonganku. Aku rela diprotes jika memang keliru. Jadi, dia bisa menjadi pengingat saat aku lupa, tukang koreksi bila aku salah.

Mengenai sifat kasar dan tidak tahu tata krama, aku lebih memandangnya sebagai nggak kenal takut dan egaliter, dua watak yang kupikir justru relevan buat anak jaman sekarang di era demokratis seperti saat ini.

Kedua, sepertinya sudah menjadi konsensus bersama bahwa jika kita menamai anak dengan nama wayang, itu artinya hanya karakter baiknya saja yang diharapkan menempel pada si anak, sedangkan jeleknya biarlah menjadi milik tokoh aslinya. Orang yang ngasih nama anaknya Abimanyu, tentu nggak berharap si anak suatu saat pinter ngebohongin cewek, ngaku-ngaku masih bujangan padahal sudah punya istri, agar tuh cewek mau dia kawinin; atau mati muda mengenaskan dengan ribuan anak panah menancap ditubuhnya seperti tokoh Abimanyu asli. Kalau ngasih nama Permadi (or Arjuna), yang diharapkan tentu si anak jadi laki-laki macho, sakti, halus budi bahasanya, dan nggak berharap kelak tuh anak menjadi poligamer alias tukang kawin.
Wis ah. Mengakhiri tulisan ini, sekali lagi ijinkan aku menyampaikan terima kasih atas ungkapan selamat dari semuanya seraya minta didoakan semoga si Ontoseno, anak keduaku itu, jadi anak yang selalu sehat, berbakti pada orang tua, berbudi pekerti terpuji, bertakwa, dan mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Sabtu, Agustus 02, 2008

Kemping tiga malam di Rumah Sakit



Sabtu (26/7) hingga Selasa (29/7) lalu, keluarga kami untuk sementara tercerai-berai. Ini karena sesuai rencana yang telah disusun sebelumnya, aku dan istriku harus ngekos di (R)umah (S)akit (B)ersalin (A)lvernia (A)gusta di Jalan Pemuda 80 Rawamangun, sedangkan Wisanggeni tidur dikeloni Budenya di markas Utan Kayu.

Tentu Anda semua langsung bisa menebak, mengapakah gerangan kami berdua berkemah di rumah sakit bersalin. Untuk apa lagi kalau bukan melahirkan. Menurut itung-itungan dokter, adiknya Wisanggeni yang sudah ngendon sekian lama di perut emaknya tiba saatnya dikeluarkan. Hari yang dipilih adalah Minggu, 27 Juli 2008, melalui operasi cesar. Bukan karena dokternya pengikut setia Megawati sehingga memilih tanggal operasi yang bertepatan dengan peringatan penyerangan kantor PDI di Jalan Diponegoro. Pertimbangannya ya itu tadi, karena secara objektif usia janin memang sudah matang, 38 minggu.

Sedangkan operasi cesar itu setengahnya justru atas usulan kami sendiri karena dulu ketika melahirkan Wisanggeni, tekanan darah istriku tiba-tiba melonjak tinggi atau dalam istilah medisnya disebut preeklamsia. Operasi cesar kami usulkan untuk menghindari peristiwa itu terulang lagi, khawatir jadi duda di usia yang relatif muda. Kalau Aji Masaid yang jadi duda mah gampang banget cari gebetan baru. Udah ganteng, terkenal, kaya raya pula. Tak heran, kelasnya juga Angelina Sondakh: cantik, mulus, kinclong, putih, padat merayap, dan ramai lancar. La kalau aku yang jadi duda, Korpri miskin tampang juga pas-pasan hanya satu setrip lebih ganteng dari sendal jepit, siapakah gerangan yang rela tertimpa musibah kujadikan istri pengganti?

Tidak banyak yang bisa kuceritakan dari proses persalinan hari Minggu lalu. Berbeda dengan kelahiran Wisanggeni empat tahun silam yang berlangsung dramatis: bukaan satu ke bukaan berikutnya sangat lambat, diinduksi sampai emaknya kesakitan setengah mati 48 jam nonstop, pecah ketuban tapi pembukaan nggak juga beranjak, terus tekanan darahnya melonjak tiba-tiba ke angka 190/110, dan akhirnya terpaksa dilakukan pembedahan; kelahiran buah hati kami yang kedua ini boleh dibilang adem ayem, lancar sesuai skenario. Tidak ada kejutan berarti, beda sama sinetron sampah di layar kaca yang alurnya mustahil ditebak bahkan oleh pemeran utamanya sendiri karena striping bin syuting kejar tayang. Kalau dibikin sinetron, ratingnya pasti jatuh, dus jauh dari layak jual, beda sama sinetron Cerita SMA yang meski ngawur-ngawuran alurnya (masak, judulnya Cerita SMA tapi yang nongol anak balita mulu) tapi tetap ditunggu pemirsa.

Namun, proses persalinan itu tetaplah perlu kutulis, paling tidak untuk keperluan dokumentasi eh siapa tau aku besok jadi orang hebat terus ada orang mau bayar sekian juta dolar (amin, ya robbal alamin) untuk membuat biografi diriku, tulisan ini bisa menjadi salah satu referensi berharga.

Begitulah. Seperti sebagian telah kutulis di atas, cerita berawal Sabtu (26/7) malam. Kira-kira pukul 21:30, kami bertolak menuju RSB Alvernia Agusta dengan taksi setelah sebelumnya ngebilangin si Wisang bahwa malam ini dia harus tidur sama Bude. Karena jarak rumah ke RS tidak jauh, mungkin hanya 3 km, plus lalu lintas malam itu yang lumayan lancar, tidak sampai 10 menit kami telah sampai di lokasi. Setelah daftar di resepsionis, aku ngurus administrasi lanjutan: tandatangan surat pernyataan operasi cesar, bayar uang muka; sementara istri mengikuti rangkaian prosesi pra operasi, dimulai dengan "upacara bercukur" (mohon tidak menanyakan rambut bagian mana yang dicukur, terima kasih).

Setelah itu, masuklah kami ke kamar yang telah disiapkan, yakni kamar kelas 3 dengan fasilitas tiga tempat tidur pasien, tivi 14 inchi, dan AC yang lumayan dingin, mungkin freonnya baru diisi ulang. Di situ sudah ada satu pasien lain, seorang ibu yang usianya kira-kira sudah 50-an, yang besokannya mau dioperasi juga untuk pengangkatan rahim karena di dalamnya terdapat mium alias tumor.

Korpri penghuni lapisan terbawah struktur pemerintahan sepertiku memang tidak dianjurkan sok pahlawan memilih kamar kelas 1 rumah sakit, apalagi bayarnya nanti juga harus sambil meringis dirogoh dari kantong pribadi. Lagian, selisih biaya kamar di dua kelas itu bisa sampai satu juta perhari, dus empat juta untuk empat hari. Buatku, uang segitu tuh banyak bener karena besarannya setara dengan dua bulan gaji.

Malam itu, kami tidur kelonan berdua-duaan, di atas satu bed singel pasien. Kebayang kan, badanku yang bantet dan bodi istriku yang juga jumbo hamil 9 bulan tidur di atas satu bed singel? Kalau bisa nangis, nangis tuh dipan.

Keesokan paginya, jam lima kami sudah dibangunkan. Istriku dibawa ke ruang lain untuk persiapan operasi, dicolokin infus, dipakein baju dan penutup kepala warna ijo. Jam 07:15 menit, Dokter Winarno SPOG yang mau mimpin operasi masuk ruangan, ngobrol bentar sama kami, dan tak berapa lama kemudian turun perintah dia kepada tim untuk mulai. Istriku dibawa masuk ruang operasi, aku dipersilakan menunggu di ruang lain yang telah disediakan.
Minggu Legi (27/7) pukul 07:50. Sayup-sayup terdengar tangisan bayi dari ruang operasi, tanda bahwa anakku telah lahir. Terus, ia dibawa keluar dari kamar operasi untuk diperlihatkan kepada bapaknya dan diperdengarkan azan dan iqomah di telinga kanan dan kirinya. Tigapuluh menit setelah itu, istriku menyusul keluar, dan ngepos di kamar pasca operasi. Aku diijinkan menemaninya, ngobrol sebentar, sebelum diusir keluar suster. "Biar Ibu istirahat barang satu dua jam ya Pak," kata suster. Iya deh. Yang penting aku dah lihat, anakku lahir sehat, istrikupun selamat. Tenang hatiku.

Begitulah (lagi). Hari-hari berikutnya adalah saat-saat menemani istriku yang terbaring kesakitan pasca perutnya diobrak-abrik. Dan karena khawatir jahitan diperutnya bakalan kesenggol-senggol, maka mulai malam setelah operasi kami tidur terpisah: istri tetap di bed pasien, sedangkan aku nggelar koran tidur di lantai. Sebetulnya nggak baik untuk kesehatan sih, tapi ya bagaimana lagi, demi anak dan istri jangankan tidur beralas koran, berenang di lautan berapi pun juga kan kujalani (halah, gombal).

Selasa (29/7) sore, dokter datang mengecek, dan berdasarkan pengecekan itu diputuskan bahwa istri sudah boleh pulang hari itu juga. Maka, tanpa diperintah dua kali, acara selanjutnya adalah beres-beres, dan setelah itu aku pergi ke kasir untuk memenuhi kewajiban sebagai customer yang baik. "Tagihan Bapak Rp7.410.000,-", kata Mbak Kasir ramah. Kata orang, segitu sih murah, wong operasi cesar dan menginap tiga malam. Di rumah sakit lain jauh lebih mahal lo. Yasud, bayar jreng, cash, karena mereka nggak melayani pembayaran pakai kartu debit BCA.

Beres semua. Aku kedepan, ke pinggir jalan, mencegat taksi Bluebird, the baby dan ibunya menunggu di dalam. Taksi siap, dan meluncurlah kami ke markas Utan Kayu. Di sana, kamar yang sudah tiga malam kami tinggalkan, sudah menunggu untuk ditiduri kembali. Senang, karena itu berarti aku tidak perlu lagi tidur beralas koran, di samping tentu argo rumah sakit berhenti berputar. Tapi juga segera terbayang malam-malam panjang, mengganti popok kalau si kecil rewel pipis atau eek, nemenin ibunya begadangan netekin kalau dia kelaparan, dan menyesuaikan jam biologis dia yang dalam hari dan minggu pertama masih seperti janin dalam rahim: melek, aktif bergerak kalau ibunya istirahat/tidur di malam hari dan tertidur pulas ketika si ibu beraktivitas di siang siang. Capek sudah pasti, tapi capek yang satu ini sungguh momen yang begitu membahagiakan dan ditunggu-tunggu.

Senin, Juli 21, 2008

Wisang sekolah


Rasanya baru kemarin Wisanggeni Gagah Wicaksono, anak pertamaku, lahir menyapa dunia. Sabtu Pahing, 24 Juli 2004 jam 12 siang, tuh anak nongol dari perut emaknya melalui operasi cesar di RB Alvernia Agusta dekat Arion Plaza Rawamangun, dan dengan suara bergetar kulantunkan azan dan iqomat di telinga kanan dan kirinya.

Rasanya juga baru kemarin, ketika usianya masih belum genap sembilan bulan, dia aku jemput di Stasiun Tugu Jogja, turun dari kereta Taksaka yang membawanya dari Jakarta dalam gendongan embah putrinya, menyusulku yang sudah lebih dulu 45 hari berada di sana, untuk jadi suporter Bapaknya yang sedang disuruh sekolah lagi oleh negara di MPKD UGM satu setengah tahun lamanya (weh, Sodara-sodara, terima kasih atas ketabahan Anda membaca kalimat panjang berliku dan beranak cucu ini).

Tahu-tahu Senin (14/7) lalu dia sudah masuk sekolah. Dan seperti Anda semua maklumi, yang namanya sekolah itu adalah sebuah ritual panjang lagi melelahkan, satu point of no return, yang harus ditempuh sejak usia empat atau lima tahun di bangku TK hingga nanti lulus menjadi sarjana, 18 tahun nonstop. Proses itu bahkan acap bersambung dengan tambahan beberapa tahun lagi jika ingin menggali ilmu lebih dalam di bangku S2 dan S3.

Karena usianya baru mau empat tahun tanggal 24 nanti, Wisang dimasukkan dalam kelas TK A (atau kalau jaman kita dulu disebutnya TK nol kecil). TK itu bernama Daarut Tauhid, letaknya di Jalan Nanas yang berjarak 10 menit jalan kaki dari markas kami yang di Utan Kayu. Oia, meski namanya Daarut Tauhid, sekolahan ini nggak ada sangkut pautnya dengan Aa Gym. Kebetulan aja namanya sama.

Begitulah. Malam sebelumnya suasana di kamar kami sudah heboh, didominasi oleh suara istriku yang terus membujuk Wisanggeni untuk tidur lebih awal. Berbagai cara ia coba, mulai rayuan lembut hingga omelan dengan bonus cubitan. Semuanya nggak mempan. Dibujuk-bujuk begitu, tuh anak malah cuek mainan laptop. Tidur cepat memang bukan kebiasaan dia, dan karena itu maka jam sembilan malam adalah waktu yang masih terlalu sore baginya. Paling cepat buah cinta kami itu tidur jam setengah sebelas malam, dan baru bangun paling pagi jam delapan. Siklus yang beginian tentu kurang seusai dengan peran baru yang harus ia lakoni yang menuntutnya sudah harus masuk kelas jam 07:30 teng.

* * *

Keesokannya, Senin (14/7) pukul 06:30 pagi, perjuangan yang sama beratnya kembali harus dijalani istriku, kali ini dalam upaya membangunkan si Wisang. Ditepuk-tepuk pantatnya, tuh anak ngulet bentar, kemudian tidur lagi. Dicubit-cubit pipinya, “Nyonyo, bangun Nyo”, tuh anak malah mbalik badan meluk guling, terus molor, tak bergerak lagi, melanjutkan mimpi indahnya. Akhirnya, berkat perjuangan tak kenal lelah, cucu kesayangan mertua itu berhasil dibangunkan. Matanya masih setengah terbuka ketika kugendong keluar kamar, dan kuletakkan pantat mungilnya di kursi di ruang makan.

Tak sampai lima menit setelah itu, air hangat sudah tersedia di kamar mandi, siap mengguyur sekujur badan si Wisang yang berat totalnya kok masih saja belum beranjak dari 15 kilo di usianya yang sekarang. Setelah mandi, dipakaikanlah seragam untuk hari itu: baju putih polos plus celana pendek, rompi, dan dasi kupu-kupu yang semua berwarna hijau. Abis itu, sarapan nasi dengan lauk tiga potong chicken nugget So Good plus kecap, dan 120 ml susu Morinaga Chilschool rasa vanila (semoga gizinya cukup, amin yarobbal alamin).

Karena status sebagai tim pengantar, maka aku dan emaknya juga mesti mandi dan sarapan seperlunya. Skenario yang telah disusun untuk hari itu dan hari-hari sesudahnya terdiri atas empat adegan. Scene #1: kami berangkat bertiga dengan Honda Legenda butut andalan keluarga; scene #2: aku ngedrop mereka di sekolahan dan terusan ngantor; scene #3: emaknya nungguin sambil ngobrol dengan Ibu-ibu lain yang senasib sepenanggungan; dan scene #4: bubaran kelas, Wisang dituntun pulang jalan kaki.

Repotnya, Wisang tuh tipe anak yang nggak bisa jauh-jauh dari ibunya. Sebentar saja emaknya nggak ada dalam jangkauan pandangan matanya, dia pasti nyariin. Sebab itu, nggak ada pilihan lain buat istriku selain stenbai di depan kelas. Untunglah di minggu pertama pelajaran cuma akan sampai jam sembilan pagi. Mulai minggu kedua, barulah sampai jam 10:30. Mudah-mudahan dia segera bisa lepas dari kebiasaan mencari-cari ibunya. Dan jika kebiasaan itu sudah hilang, hanya aku yang akan mengantar, ngedrop doang terus bablas ke kantor, dan menjelang jam pulang istriku menjemput.

Begitulah (lagi). Jam 07:25 seluruh anggota rombongan siap, dan meluncurlah kami ke lokasi syuting. Honda Legenda butut andalan keluarga kustater, Wisang duduk di depan, aku nyetir di tengah, dan emaknya di belakang. Empat menit kemudian, sampailah kami di sana. Suasana sekolahan sudah ramai dengan anak-anak lain calon teman sekelas Wisang. Seragamnya baru-baru dan tentu saja bersih, sebersih hati mereka yang masih polos dan terbebas dari beratnya beban pikiran akibat membubungnya harga minyak mentah dunia dan carut marutnya peradilan Indonesia akibat perbuatan Jaksa Urip dan Artalyta (halah... kejauhan ngelanturnya).

“Ayah, Wisang sekolah dulu ya”, katanya sambil salim, mencium tanganku. Kukecup keningnya, sambil berdoa mudah-mudahan ia selalu sehat dan tumbuh menjadi anak cerdas, pintar, berbudi pekerti terpuji, dan berbakti kepada orang tua. Dia berlari meninggalkanku ke arah kerumunan calon classmate-nya, tanpa menoleh lagi. Aku memandanginya, dan entah kenapa untuk beberapa saat hatiku tercekam keharuan. Weh, anakku sudah sekolah.

Selamat belajar, Anakku. Tuntut ilmu setinggi yang kamu bisa, dan terbanglah sejauh yang kamu mampu...

Senin, Juli 14, 2008

Belajar sabar dari metromini *)

Allah sedang bicara denganmu, tentang sabar dan ikhlas...

Itu adalah penggalan dialog dalam film Ayat-ayat Cinta yang paling kuingat hingga sekarang. Adegannya adalah ketika Fahri, sang tokoh utama, merasa hampir putus asa karena ditahan polisi karena difitnah memperkosa anak orang. Dua jempol pantas kita acungkan buat Kang Abik dan Hanung Bramantyo yang telah menggerakkan orang seluruh negeri untuk makin mencintai film Indonesia. Begitu dahsyatnya film itu sampai Pak SBY, Pak JK, dan Ketua MPR Hidayat Nurwahid, bela-belain nonton di tengah kesibukan mereka yang pasti luar biasa padat mencurahkan tenaga dan pikiran untuk kejayaan negara. Tidak cukup sampai di situ. Aku, yang nggak suka nonton kecuali film-film dengan kategori “londo sumuk (bule kegerahan)”, pun akhirnya insyaf dan terbuka pintu hati untuk juga nyambangi Megaria.

Menurutku, ada satu pelajaran lain yang bisa dipetik dari penggalan dialog di atas, seperti juga pernah kutulis dalam blog ini, yaitu bahwa selalu tersedia perspektif berbeda untuk memandang satu masalah yang sama. Ketika gelas terisi separuhnya, kita bisa menganggapnya setengah penuh, tapi bisa pula melihatnya setengah kosong. Pun dengan cobaan yang sedang diterima si Fahri tadi. Dia bisa melihatnya sebagai petaka, tapi bisa pula dia lihat sebagai nikmat karena Tuhan sedang ngajak bicara (mengenai sabar dan ikhlas). Bukankah diajak bicara sama Tuhan adalah berkah yang pantas kita syukuri, karena dengan begitu kita masih dianggep sama Dia?

Satu peristiwa yang sama bisa jadi dosa, tapi bisa pula jadi pahala, tergangtung sepenuhnya pada kita. Kalau dibikin kesal sama orang terus kita misuh: ASU!, ya jadinya dosa. Tapi kalau dengan itu kita cukup ngelus dada (awas, dada sendiri lo, bukan dada cewek montok yang istri bukan muhrim juga bukan di samping kita, atau dada Julia Perez yang kebetulan lewat, atau dada... halah!) sambil istighfar: ASTAGHFIRULLAH, ya Insya Allah jadi pahala.

Dan ngomong-ngomong tentang kesabaran, kita pantas bersyukur, di Indonesia ini banyak hal yang bisa kita jadikan sarana latihan. Salah satu spesies yang diciptakan Tuhan untuk melatih kesabaran adalah supir metromini.

Baik ketika kita menjadi penumpang metromini maupun tidak, akan selalu ada cara buat Abang-abang Supir itu untuk menempa kesabaran dan ketabahan kita. Yang pertama adalah belajar tabah melihat sang supir merokok santai justru ketika metromini yang dia bawa sedang berjubel sesak penuh penumpang. Ibarat pesawat terbang, supir metromini adalah pilotnya (kok sadis bener sih Mas, ngebandingin pilot yang sekolahnya susah gajinya gede sama supir metromini yang sekolahnya SMP gak tamat, SIM-nya nembak, dan gajinya Senin-Kemis). Dia yang paling bertanggung jawab atas keselamatan seluruh penumpang, mau masuk jurang, nyungsep di got, atau masuk terminal, semuanya ada di tangannya. Dia juga yang harusnya paling punya kuasa menegur siapapun penumpang yang nggak tertib, atau melanggar perda larangan merokok di angkutan umum. Eh, yang ada malah mereka sendiri dengan santai merokok. Udara di dalam metromini yang sudah gerah, panas, bau bensin, bau keringat penumpang, bau kampas kopling, plus aroma ikan belanjaan ibu-ibu yang habis dari pasar yang berpadu menjadi satu bikin perut mual itu, makin tambah harum semerbak dengan asap rokok dari sang supir.

Pelajaran sabar kedua adalah melalui cara mereka menurunkan penumpang. Belum juga kaki kita firm menginjak tanah, tuh metromini sudah langsung tancap gas, hanya gara-gara dia nggak mau kesusul metromini di belakangnya atau pengen segera menyusul yang di depannya. Masih mending kalau metromini itu minggir. Sering-sering malah aksi nurunin penumpang sambil ugal-ugalan itu mereka lakukan di tengah jalan atau di jalur busway di lajur paling kanan, sementara lalu lintas di jalan itu sedang ramai-ramainya. Horor deh pokoknya. Turun dari metromini sudah perjuangan, dan kita nyeberang ke pinggir adalah perjuangan yang lain lagi. Sabar, sabar...

Pelajaran sabar selanjutnya adalah ketika metromini itu ngetem seenaknya, padahal para penumpang sudah pada bete. Kalaupun jalan, jika metromini di belakang belum keliatan, speednya bakalan nggak jauh-jauh dari 3 km/jam.

Nah, buat Anda yang bukan penumpang dan lebih memilih motor atau mobil pribadi sebagai moda transportasi andalan, seperti telah kukemukakan tadi, supir metromini itu tidak kekurangan akal dalam menggembleng kesabaran dan ketabahan Anda. Caranya? Lewatlah Jalan Utan Kayu (atau jalan lain yang punya karakter kurang lebih sama: cuma terdiri dari dua jalur, masing-masing satu untuk arus berlawanan, dan dilewati metromini). Di perempatan Kompleks Kehakiman yang rawan macet itu, bakal selalu kita temukan satu atau dua metromini ngetem dengan cueknya. Kalaupun jalan, ejlek ejlek ejlek..., kecepatannya ditanggung alon-alon waton kelakon. Becak yang nanjak di Jalan Kaliurang Jogja yang ditarik oleh embah penarik becak 93 tahun pun jadi kerasa seperti kereta peluru Sinkansen. Kita yang ada di belakangnya jadi serba salah. Mau nyalip, nggak bisa, karena arus lalu lintas yang berlawanan sedang gak bisa disela. Mau setia di belakangnya juga susah, karena pelaaan banget. Udah gitu mesti rela terus-terusan di kentutin asap knalpot yang hitam kayak kalau nenek sihir mau nongol, baunya nggak nahan, dan yang pasti racunnya bikin umur makin singkat dan kualitas sperma jauh menurun.

Nah, metromini yang adem ayem ngetem atau jalan dengan kecepatan putri kraton itu bakalan mendadak sontak ngebut ugal-ugalan jika metromini trayek yang sama kelihatan di depan atau dibelakangnya. Wush, wush,... ciiiit. Gas, rem, gas, rem, menikung, meliuk-liuk gak peduli penumpang di dalamnya setres, kepentok-pentok, dan gencet-gencetan. Masih untung kalau yang digencet tuh cewek bohay, montok, cantik, putih, harum, aktual, tajam dan terpercaya. La kalau yang digencet tuh mas-mas serem, tato di sana-sini, kumel, dan lecek jarang mandi... Dengan aksi heroik begitu, artinya kita juga mesti selalu waspada jika tahu-tahu ada metromini nongol mepet kita dari belakang, nyerobot antrian karena tuh metromini barusan ngambil lajur kanan.

Makanya ada satu cerita dari dosen S1-ku dulu yang membuat seisi kelas tertawa. Alkisah, di akherat sana ada dua orang, satu adalah ustadz di mesjid kampung, yang satunya lagi supir metromini. Si ustadz udah pede aja dia bakalan masuk surga karena ketika hidup di dunia berdakwah dan ceramah agama adalah makanan sehari-harinya, sedangkan si supir metromini pesimis, paling-paling dijatah neraka karena sepanjang karirnya dia selalu nyetir metromini dengan ugal-ugalan. Tapi, keputusan “pengadilan akherat” justru sebaliknya: ustadz neraka, dan supir metromini surga. Terang aja si ustadz kaget bukan main. Rupanya, yang jadi pertimbangan hakim adalah: si ustadz membawa pengaruh buruk, karena setiap kali dia ceramah, jamaah pada ketiduran. Sedangkan si supir metromini membawa pengaruh positif, karena setiap kali dia nyetir, seluruh penumpang kompak berdoa.

Banyak tindakan dan perilaku mereka yang aneh, nyentrik, nyeleneh, yang sulit dipahami, yang beyond our imagination alias diluar khayalan kita yang paling liar. Ketidakpahaman kita pada perilaku supir metromini, mungkin nggak jauh-jauh banget bedanya dengan ketidakpahaman Nabi Musa pada tindak tanduk Nabi Khidir. Semuanya serba bikin kesal, tapi pada hakekatnya beliau sedang menguji kepekaan nurani dan kesabaran Rasul pembawa Taurat itu.

Oke, mungkin terlalu berlebihan aku membandingkan Nabi Khidir dengan supir metromini, atau kalau dibalik, kurang ajar bener menyamakan kita yang lemah dan penuh dosa ini dengan Musa, Rasul agung kekasih Allah. Aku cuma ingin mengajak Anda semua mencari hikmah yang bisa kita petik dari persinggungan kita setiap hari dengan para Abang Supir Metromini itu. Dan yang bisa kita petik itu adalah, ya itu tadi, sabar dan ikhlas.

Aku akhiri tulisan ini sebelum makin jauh ngelantur, teriring doa semoga kita menjadi orang-orang yang selalu sabar dan ikhlas. Kalau enggak, mungkin Allah perlu menciptakan lebih banyak lagi supir metromini di muka bumi ini.

Catatan:
Atas saran seorang oknum yang menolak disebut namanya, judul yang semula "Supir metromini jxxxxxxx" diganti dengan yang sebagaimana tertulis di atas. Terima kasih...

Selasa, Juli 01, 2008

Dilarang parkir di depan pintu, Nyet!



Seorang teman mengeluh, dalam sehari uangnya habis untuk bayar parkir. Dia kesal, di Jakarta ini sepertinya nggak ada tempat yang nggak ditarik uang parkir. Anda mungkin punya keluhan yang kurang lebih sama. Makan pecel lele di pinggir jalan, parkir seribu. Sewa film ke rental VCD, sewu. Fotokopi dua lembar yang cuma habis 300 perak, seceng. Belanja Indomie dua bungkus di Indomaret, seribu lagi. Bahkan, ke ATM buat ngecek saldo, bentar banget cuma tiga menit doang, tau-tau pas keluar ATM dah ada mas-mas stenbai di samping motor, cengar-cengir minta jatah uang parkir, padahal tadi pas kita taruh motor, keadaan sepi, tuh orang nggak tau sedang ada di mana.

Yang bikin heran, tukang-tukang parkir itu lebih sering nggak modal. Boro-boro baju seragam atau atribut lain, satu lembar karcis pun jarang banget mereka punya. Satu-satunya penanda bahwa mereka adalah tukang parkir adalah sempritan yang ditiup “prittt...” pendek asal-asalan plus males-malesan. Mending jika si abang itu masih modal sempritan. Minggu (22/6) lalu aku bahkan menemui tukang parkir yang nggak modal apa-apa selain tampang serem.

Ceritanya, pagi itu kami bertiga: aku, Wisanggeni, dan emaknya, makan di depan Masjid Sunda Kelapa setelah sebelumnya jalan-jalan di Taman Suropati depan Bappenas. Motor Honda Legenda butut andalan keluarga kuparkir seperlunya, aku pesan soto Lamongan, istriku pesan sate Padang plus es kelapa muda Garut, dan Wisanggeni minta sate ayam Madura. Tak berapa lama, aneka hidangan berbau Bhinneka Tunggal Ika itu licin tandas, berpindah ke perut masing-masing. Tibalah saatnya beranjak meninggalkan lokasi mangkal makanan-makanan enak yang sudah terkenal di seantero Jakarta itu. Motor aku stater, dan jreng jreng..., datanglah si abang parkir menghampiri. Seorang pria berusia 40an, pake baju kotak-kotak lengan panjang. Nggak ada atribut apapun. Tidak baju seragam, tidak pula sempritan. Ketika dia dengan penuh percaya diri menadahkan tangannya di sampingku dan mulutnya berujar singkat: “parkir...”, barulah aku tahu apa profesinya. Dan setelah seribu perak berpindah tangan, si abang itu ngeloyor pergi, nyantai banget. Ekspresinya datar, nggak ada ucapan terima kasih, apalagi basa-basi standar ala tukang parkir seperti ikut menarik motor kebelakang atau nyetop mobil dan motor yang lewat untuk membuka jalan buat kita. Saat itu aku kok lebih ngerasa sedang dipalak preman daripada dimintai ongkos parkir.

Kalau uang yang ditarik itu administrasinya bener, terus dikembalikan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sih nggak terlalu jadi soal. Masalahnya, uang parkir yang aku yakin di Jakarta saja jumlahnya bisa miliaran dalam sehari itu nggak jelas masuk ke kantong siapa dan dipakai buat ngapain aja. Gimana administrasinya jelas kalau karcis selembar aja nggak pernah kita terima. Sudah gitu tarifnya juga nggak standar. Di pasar Kompleks Harapan Indah Bekasi: 500, di ATM BCA jalan Utan Kayu: 1.000, di Stasiun Jatinegara: 2.000. Kecuali di pasar Harapan Indah Bekasi, semua lokasi yang aku sebut tadi nggak ngasih secuilpun karcis.

Tapi, benarkah di Jakarta nggak ada tempat untuk parkir gratis? Jawabnya, enggak juga. Masih ada kok parkir gratis. Pengen bukti, datanglah ke Jalan Nanas Utan Kayu. Anda bakalan menemukan mobil-mobil nongkrong mulai mulut jalan di depan toko material hingga jalan habis di ujung sana. Hampir nggak ada sela kecuali pas di depan pintu pagar yang memang selalu ditulisi “Dilarang Parkir Depan Pintu”. Walhasil, Jalan Nanas yang sebetulnya cukup lebar dan bisa dipakai dua arah, sering banget bikin kesal karena jika ada dua mobil papasan, satunya mesti ngalah, nyari-nyari celah di depan pintu rumah orang, hingga bikin lalu lintas rawan macet. Parkir di sepanjang Jalan Nanas itu pasti nyaman, dan tentu saja gratis.

Mobil-mobil itu adalah milik warga yang “kuat beli mobil tapi gak mampu bikin garasi”. Mereka dengan cueknya menjadikan jalan sebagai garasi permanen, mengklaim milik umum sebagai milik pribadi. Jalan di depan rumah gue adalah warisan moyang gue, terserah gue dong tuh jalan gue kangkangin buat garasi. Peduli setan jalan yang sebetulnya bisa dilalui dua mobil lantas jadi cuma bisa buat satu mobil. Nggak ada rasa bersalah sema sekali. Sense, bahwa dengan memakai jalan untuk parkir permanen berarti merampas hak orang lain, telah mati. Tetangga kami bahkan punya modus unik untuk memastikan jalan di depan rumah mereka bisa dipakai sewaktu-waktu untuk garasi. Caranya, jika mobil mereka tidak sedang ada di “garasi serobotan”, mereka pasang plang bertuliskan huruf P dicoret (tanda dilarang parkir) dan di bawahnya tertulis: ADA KEPERLUAN (lihat gambar di atas). Niat banget, bukan?

Selain bikin macet, tindakan biadab itu tentu menyebabkan kerepotan-kerepotan lain. Salah satunya adalah sulitnya mencari tempat parkir buat tamu. Pernah pas libur, Anang Prakasa temanku kuliah dulu di Komunikasi Undip berkunjung, setengah mati dia cari tempat buat markirin mobilnya. Space jalan di depan rumah kami sudah dipakai tetangga depan rumah buat garasi dua mobil mereka. Di sebelah-sebelah juga sama. Setelah perjuangan panjang dan melelahkan, akhirnya si Anang dapat juga tempat parkir nun jauh di ujung jalan sana. Edan, limabelas menit waktu habis hanya untuk cari tempat parkir.

Ketika aku ungkapkan kekesalanku, emaknya Wisanggeni menanggapinya dengan dingin. “Halah, Ayah ngiri aja sama mereka. Coba aja ntar kalau kita bisa beli mobil. Mau dikandangin di mana coba, kalau nggak di jalan depan rumah? Wong kita juga nggak punya garasi”.

Iya juga, ya. Wah, gawat, jangan-jangan kami nggak nyerobot jalan umum untuk garasi pribadi tuh karena kami belum punya mobil. Jangan-jangan, aku nggak korupsi tuh karena aku memang belum punya kesempatan. Jangan-jangan....

Senin, Juni 30, 2008

Jalan-jalan, eh fieldtrip ke Cirebon (Part 2)


Pada bagian terdahulu telah kuceritakan mengenai bagaimana pada akhirnya aku berkesempatan menginjakkan kaki di Kota Cirebon. Juga pengalamanku menjadi turis jadi-jadian di Keraton Kasepuhan, dengan diantar Mas Dangi, teman kuliah seangkatan di IHS dulu yang kebetulan dinas di Bappeda Kabupaten Cirebon.

“Kemana lagi kita, Mas?”, tanyaku ke Mas Dangi selepas sholat Ashar di Masjid Agung dekat Keraton Kasepuhan yang baru saja kami kunjungi.

“Ke rumahku yuk”.

“Jauh nggak?”

“Dekat. Cuma 15 menit naik motor”, katanya meyakinkan.

“Deket dong kalo gitu. Ya sudah, ayo”, sampai detik itu aku masih belum sadar baru saja menjadi korban penipuan. Dan, 17:24 Honda Win milik negara itu melesat meninggalkan Kota Cirebon menuju wilayah Kabupaten. Motor melaju kencang di jalanan yang sepi. Secara objektif memang sepi betulan lho, bukan subjektif menurut penilaian pengemudi Honda Legenda butut langganan macet dengan tingkat kemacetan yang gila, wedhus, kere, jiancuk, asu! (maaf, emosi...) trayek Harapan Indah Bekasi-Taman Suropati pp sepertiku.

Tapi, setelah seperempat jam berlalu, la kok nggak ada tanda-tanda ojek gratis yang kutumpangi ini memperlambat laju atau pasang lampu sen untuk berbelok? Kampret, gue ketipu. Ternyata yang dibilang 15 menit itu baru sampai Sumber, pusat pemerintahan Kabupaten Cirebon. Rumah Mas Dangi? Nun jauh di lereng Gunung Ciremai. Jan, kere!

Acara utama di rumah di kampung terpencil itu adalah nyambangi Nabila, anak pertama Mas Dangi yang kini kok tau-tau sudah besar dan katanya sedang bersiap masuk SD. Tiga tahun lalu, ketika satu setengah tahun lamanya kami kuliah di UGM, ngontrak rumah dan mendatangkan anak istri masing-masing untuk jadi suporter, kami sering saling berkunjung sehingga persaudaraan yang terjalin juga menular ke mereka. Walhasil, Nabila jadi akrab sama aku, sering kugendong-gendong. Wisanggeni juga lengket sama Mas Dangi yang dipanggilnya “Pakde”. Maka, penat dan pantat kesemutan akibat perjalanan panjang dan berliku terbayar lunas oleh senyum si Nabila, plus bonus ekspresi inosen Naufal, adiknya yang lahir dua bulan menjelang kami berangkat ke Belanda.

Pukul 20:27 kami telah kembali berada di tengah-tengah peradaban Kota Cirebon. Tawaran makan malam dari nyonya rumah tadi aku tolak dengan halus, karena sejak awal niatku memang dinner dengan empal gentong. Sebetulnya sih aku pernah juga menyantap makanan khas Cirebon yang legendaris itu, tepatnya ketika seorang kolega mantu di aula Masjid Sunda Kelapa empat bulan lalu. Tapi makan adalah aktivitas yang seringkali sangat spiritual dan tidak hanya urusan perut. Makanya, orang baru merasa sreg jika makan gudeg itu ya di Jogja meski di Jakarta, Ny. Suharti dan Bu Tjitro bertebaran di sana sini.

Sayang, aku kurang beruntung malam itu. Jam segitu rupanya rumah-rumah makan yang menyajikan empal gentong sudah pada tutup. Ada juga sih yang jualan pakai gerobak dorong gitu, atau warung tenda kecil di samping alun-alun. Cuma, aku khawatir salah ngambil sampel, dan tidak mendapatkan kualitas rasa sesungguhnya, karena penampilan gerobak-gerobak itu yang kurang bonafid dan sangat sporadisnya pembeli, indikasi tuh tukang jualan kurang laku.

Untung masih ada satu lagi pusaka kuliner khas lainnya yang bisa dicoba sehingga kegagalan menjajal kesaktian empal gentong di tempat aslinya bisa sedikit terobati, tak lain dan tak bukan adalah “nasi jamblang”. Maka, berlabuhlah kami malam itu di Nasi Jamblang Mas Toto di dekat-dekat Hotel Tryas. Ini adalah pengalaman pertamaku, dan yang namanya nasi jamblang itu rupanya mirip-mirip dengan sego kucing angkringan di Solo atau Jogja, setidaknya dalam hal porsi. Deskripsi lengkapnya, nasi putih yang cuma tiga suap itu dibungkus daun jati, lauknya ngambil sendiri dari belasan baskom yang ditata berjajar dan nanti pada saat bayar harus dilaporkan secara jujur dan transparan. Lauknya beraneka ragam yang sebagian besar berupa daging binatang hidup kecuali tahu tempe, sehingga kurang direkomendasikan untuk vegetarian. Ada sate usus, sate telur puyuh, sate kerang, paru goreng, cumi-cumi, gulai sapi, ayam goreng, dan masih banyak lagi.

Perut kenyang usai menyantap lima porsi nasi jamblang, dan diantarlah aku kembali ke hotel. Mas Dangi pamitan karena besoknya harus kerja, sementara akunya juga butuh istirahat. Di lobi rupanya teman-teman sedang berkumpul dan bersiap menikmati kehidupan malam Cirebon. Ajakan untuk bergabung terpaksa kutolak berkenaan dengan kantuk yang nggak lagi bisa diajak kompromi, dan masuklah aku ke kamar usai melepas kepergian mereka dengan pesan: jangan nakal, ingat anak istri di rumah menunggu dengan cemas.

Keesokannya, Kamis (19/6), entah dapat bisikan gaib dari mana, tumben-tumbenan aku tergerak untuk jalan-jalan pagi. Pakai kaos celana bola plus sepatu kets, mulailah aku keluar hotel menyusuri jalan menuju gerbang selamat datang, kemudian berbalik arah menuju alun-alun tempat Masjid At Taqwa, yang menaranya belum sepenuhnya selesai dibangun, berdiri dengan megahnya.

Pukul 08:13, mulailah agenda resmi yakni berkunjung ke UKM. Tempat pertama adalah usaha pembuatan sendal hotel, kemudian dilanjutkan ke pengrajin rotan, sanggar lukisan kaca, dan berakhir di pembuatan paving block. Tidak banyak yang bisa kucatat dari kunjungan itu karena prakteknya aku malah keasyikan potret sana potret sini ketimbang memperhatikan penjelasan para pelaku UKM itu. Dari yang sedikit itu, bolehlah aku simpulkan bahwa UKM di sana menghadapi kendala-kendala berupa terbatasnya modal kerja, minimnya akses pada bahan baku, kurangnya dukungan pemerintah, dan makin bengkaknya biaya produksi akibat naiknya harga-harga kebutuhan pokok dan BBM. Aku kira, itu adalah masalah klasik yang juga dialami oleh UKM di manapun di tanah air tercinta ini.

Acara selanjutnya adalah makan siang sambil ngobrol-ngobrol dengan pejabat di Dinas Koperasi dan UKM. Tur hari itu berakhir happy ending, yakni belanja di toko oleh-oleh makanan khas Cirebon yang hampir semuanya dibayari oleh Kang Sudira, kolega peserta diklat dari Direktorat Otonomi Daerah yang terkenal generous nggak sayang duit.

Pukul 15:00, Cirebon Ekspres membawa kami kembali ke Jakarta. Aku tentulah berharap, mudah-mudahan fieldtrip ini benar-benar menjadi inspirasi buat kami, para perencana di lembaga yang paling bertanggung jawab terhadap perencanaan pembangunan di negeri berpenduduk lebih dari seperempat miliar manusia ini, sehingga yang makmur dan sejahtera bukan hanya Anggota DPR saja, tapi juga rakyat yang mereka wakili. Semoga.

Jalan-jalan, eh fieldtrip ke Cirebon (Part 1)


Anda tentu setuju bahwa “berada” dan “menginjakkan kaki” punya makna yang bumi langit berbeda. Ini yang juga terjadi padaku belum lama ini. Cirebon! Aku sudah puluhan kali berada, tapi baru sekali menginjakkan kaki di kota ini. Setiap pulang ke Kramas Jumat malam, aku selalu menggelar koran ndlosor di lantai dan (berusaha) tidur selepas Stasiun Cikampek. Dan ketika kereta berhenti, terus ratusan asongan menyerbu masuk dan membuatku pasti terbangun karena suara riuh rendah pengasong-pengasong itu menjajakan dagangan dan kaki-kaki mereka menginjak-injak kakiku, tahulah aku bahwa kereta sedang berhenti di Stasiun Cirebon. Bertahun-tahun, aku hanya mengenal Cirebon dari balik jendela kereta tanpa pernah sekalipun menginjakkan kakiku di kota yang menjadi satu pusat penyebaran agama Islam di pulau Jawa itu.

Rabu dan Kamis (18-19/6) tempo hari, akhinya, for the first time in my life, aku berkunjung ke Cirebon sebagai bagian dari rangkaian acara Diklat Fungsional Perencana Muda Angkatan XVI sebagaimana telah kuceritakan tempo hari. Ini adalah fieldtrip untuk meninjau (U)saha (K)ecil dan (M)enengah yang tujuan mulianya agar kami nantinya sensitif terhadap wong cilik dalam merumuskan perencanaan pembangunan nasional. Sebuah tujuan mulia dan membuat terharu sekaligus bangga. Tapi, kalau dipikir-pikir, ngapain sih jauh-jauh ke sana jika hanya mau ngeliat UKM? Bukankah di Jakarta juga malah jauh lebih banyak?

“Ngabis-ngabisin duit aja. Paling-paling melihat langsung UKM ke Cirebon ini hanya bungkus, niat sebenarnya ya jalan-jalan” kataku sok kritis suatu saat pas break makan siang.

“Tapi kamu seneng juga, kan? Ayo, ngaku aja!”, sindir Mas Bagyo (bukan nama sebenarnya), salah seorang kolega sesama peserta diklat. Weh, tembakannya telak mengenai sasaran, dan aku tak bisa berkata lain selain mengiyakan. Aku kok tiba-tiba ngebayangin Bapak-bapak di atas sana, yang sangat heroik bicara berbusa-busa tentang pentingnya penghematan keuangan negara; “rakyat sedang susah”, katanya; tapi hatinya sontak berbunga-bunga ketika ditawari studi banding ke luar negeri. Hanya untuk mencari tahu kapan hari ulang tahun Jawa Timur, anggota DPRD sampai merasa perlu berkunjung ke Belanda. Parahnya, yang ke sana tidak cukup satu atau dua orang saja. Parahnya lagi, pakai ngajak istri dan keluarga segala.

Begitulah. Rabu (18/6) jam 09:35 pagi, Cirebon Ekspres yang membawa rombongan kami bertolak dari jalur 4 Stasiun Gambir. Tepat tiga jam kemudian, atau 12:30 kereta mendarat dengan mulus di Stasiun Cirebon. On time, tiba tepat waktu seperti tertera dalam tiket. Tumben. Jemputan dari Hotel Tryas tempat kami menginap telah menunggu. Tapi, karena jemputannya Kijang yang cuma muat 7 orang, bukan minibus seperti dijanjikan, rombongan harus rela diangkut dengan sistem nyicil bolak-balik hingga tiga kali.

Singkat cerita, tibalah kami di Hotel Tryas, dan petualangan dua haripun dimulai...

Jam 13:30. Sasaran pertama: Nasi Lengko Pak Barno di Jalan Pagongan. Serbuan ke warung nasi ini tentulah terkait dengan aspirasi perut yang sudah sangat keroncongan dan nggak ada kaitannya dengan kunjungan UKM yang resminya baru diagendakan besokannya. Dan karena ini acara di luar protokoler, pesertanya juga nggak seluruhnya. Cuma berdelapan cowok semua, nebeng mobil Kang Sudira, salah satu peserta, yang didatangkan langsung dari Jakarta.

Ini pertama kali aku makan nasi lengko khas Cirebon. Yang namanya nasi lengko itu ternyata adalah nasi biasa yang dicampur dengan toge mentah, irisan ketimun, dan tahu tempe yang digoreng setengah mateng terus dipotong-potong. Di kesempatan pertama itu, nasi lengko disantap dengan paduan sate kambing muda. Rasanya? Lumayan enak sih, tapi menurutku belum masuk kategori “mak nyus”.

Tiba kembali di hotel usai makan siang, aku punya acara pribadi, bertemu teman kuliah di IHS yang kebetulan dinas di Bappeda Kabupaten Cirebon. Jauh sebelum fieldtrip itu, aku memang sudah kontak Mas Dangi, nama teman kuliahku itu, untuk bikin reuni kecil dengan Mas Selamet Edy Santoso (teman seangkatan di IHS juga, yang dinas di Cirebon juga) sambil menjajal kesaktian kuliner khas yang lain: nasi jamblang dan empal gentong. Sayang, Mas Selamet-nya malah pas banget sedang dinas ke Jakarta, berangkatnya pagi tadi juga, dus tlisipan alias berselisih jalan. Walah, yo wis. Tapi, the show must go on. Pukul 15:17 sore, Mas Dangi yang masih berpakaian dinas lengkap tiba dengan motor Honda Win plat merah. Weh, gagah dan berwibawa. Tanpa banyak cakap, meluncurlah kami dengan kendaraan milik negara itu ke tempat yang sudah lama ingin kukunjungi: Keraton Kasepuhan.

Mas Dangi yakin, dan aku setuju belaka, penggunaan motor dinas ini sama sekali bukan bentuk pemanfaatan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, karena kendaraan itu toh dipakai tetap dalam kerangka dinas, yakni “memfasilitasi pejabat pusat yang sedang berkunjung ke daerah” (halah, alasan!). Setiba di lokasi syuting dan mengisi buku tamu dan bayar 6 ribu rupiah, seorang guide cowok, usianya kira-kira sama denganku, dengan pakaian adat Cirebon, siap memandu.

“Mari, silakan Bapak-bapak”, kata si Mas guide sambil berjalan satu dua langkah di depan kami menuju gapura masuk keraton. Ternyata, Keraton Kasepuhan Cirebon beda banget sama Keraton Jogja. Bukan arsitektur bangunannya. Kalau itu sih, jelas. Beda yang kumaksud di sini adalah tingkat keterawatannya. Keraton Jogja yang kukunjungi beberapa kali ketika sekolah di UGM dulu, sangat terawat. Kontras dengan Kasepuhan yang kondisinya memprihatinkan, lapuk di sana sini, kusam, dan entah kenapa aura wibawanya juga tidak kurasakan. Mungkin karena Keraton Jogja secara teknis masih digunakan dan secara politis lebih diperhitungkan. Yang empunya, Sultan Hamengkubowono X, adalah gubernur DIY sekaligus tokoh nasional. Pasokan dana, baik dari APBN maupun APBD tentu lebih deras mengalir, di samping konon juga punya beberapa perusahaan yang menghidup-hidupi seperti pabrik gula, restoran, dan industri rokok.

Dalam hal jumlah pengunjung, Keraton Kasepuhan tidak ada apa-apanya dibanding Jogja yang setiap hari disambangi ratusan atau bahkan ribuan wisatawan, di mana banyak di antaranya bule pembawa dolar. Di Keraton Kasepuhan itu, sepertinya pengunjungnya hanya kami, dua turis jadi-jadian yang cuma bawa rupiah, bukannya dolar. Malang nian Keraton Kasepuhan, kedatangan pengunjung kok ya cuma dua batang, pegawai negeri kere pula.

Oleh si Mas guide, kami dibawa berkeliling mulai dari gapura masuk, bagian paling depan tempat diselenggarakan sidang paripurna, museum kereta Singa Barong, bagian dalam keraton, hingga petilasan tempat Sunan Gunung Jati dan para wali lain dulu rapat.

Sebelum berpisah, aku tanya,”Mas, berapa saya harus ngasih sampean?”

“Terserah Bapak saja. Tapi, biasanya sih rata-rata kami mendapat 25 ribu rupiah untuk sekali mengantar berkeliling”, jawabnya mantap.

O, ya sudah. Kebetulan ada uang pas, dan duapuluh lima ribu pun berpindah tangan, disertai ucapan terima kasih atas kebaikan hati si Mas guide itu menemani dan menjelaskan secara runtut dan gamblang tentang situs bersejarah yang baru kami datangi itu. Kami tinggalkan lokasi dengan harapan yang dalam, mudah-mudahan Keraton Kasepuhan makin banyak pengunjungnya dan makin banyak pula orang yang peduli pada kelestariannya. (bersambung)

Selasa, Juni 17, 2008

Nurdin Halid jadi Presiden FIFA

Menyaksikan antusiasme manusia di seantero negeri menyambut Piala Eropa Austria-Swiss 2008, semakin yakinlah kita bahwa sepak bola adalah olah raga paling populer di Indonesia. Luar biasa. Begitu Piala Eropa digelar, demo mahasiswa menentang kenaikan harga BBM langsung surut. Gegap gempita menuntut penurunan harga sembako juga mak pet, padam. Jangan-jangan, Panglima Laskar Islam, Munarman, menyerahkan diri tempo hari juga bukan semata-mata karena SKB Tiga Menteri mengenai Ahmadiyah sudah keluar, tapi lebih karena dia ingin nonton bareng Piala Eropa di tahanan Polda.

Istanto Sugondo, teman kuliahku di (M)agister (P)erencanaan (K)ota dan (D)aerah UGM asal Purbalingga, adalah tipe penggila bola. Begitu cintanya dia pada olah raga ini, sampai-sampai anak sulungnya yang kini berusia tiga tahun dia beri nama Kaka, superstar yang oleh FIFA dinobatkan sebagai si terbaik dunia. Andri Indra Widianto, teman kuliahku yang lain, juga sama. Ketergila-gilaannya pada si kulit bundar sudah masuk stadium lanjut, sampai-sampai turnamen sepak bola kelas tarkam saja dengan antusias dia tongkrongi dari kick-off sampai kelar.

Akan halnya diriku. Jangankan kompetisi liga nasional Indonesia yang kadang sulit dibedakan sebetulnya pertandingan bola ataukah perlombaan tawuran, Liga Spanyol dan Seri A Italia yang bertabur bintang saja tidak cukup membuatku tertarik menonton. Satu-satunya liga sepak bola yang kuikuti hanyalah Liga Inggris, itupun jika yang main MU atau Chelsea, selebihnya tidak ada. Singkat kata, pada dasarnya aku bukanlah penggemar sepak bola. En toch, hari-hari terakhir ini aku tidak pernah absen menyaksikan siaran langsung setiap partai Piala Eropa 2008, sejak pembukaan hingga sekarang.

Yakin, aku hanyalah satu dari sekian banyak orang yang sebetulnya bukan bolamania, namun larut juga dalam hingar-bingar Piala Eropa. Kenapa? In my humble opinion, menurut pendapatku yang tentu sangat cetek ini, karena dengan menyaksikan pertandingan, menangkap aura magis yang entah mengapa begitu kuat terpancar, dan membicarakannya dengan hangat bersama kolega keesokan harinya, kita merasa menjadi bagian dari sebuah hajatan dunia yang dirayakan oleh miliaran manusia di jagat raya. Perasaan bahwa kita terhubung dengan begitu banyak orang di belahan bumi yang berbeda, perasaan bahwa we are not alone, sungguh menentramkan dan membuat hidup terasa penuh warna.

Begitulah. Sore itu, Kamis (12/6), setelah Maghrib aku berniat tidur sebagai persiapan begadang, sambil berpesan kepada Emaknya Wisanggeni untuk “membangunkanku jika bolanya sudah mulai”. Malam itu, Jerman dan Kroasia bakalan bertarung, dan aku menduga bakalan seru sehingga sayang kalau sampai dilewatkan.

Jam sebelas malam kurang dikit, aku sudah stenbai manis di depan tivi di kamar. Lagapun dimulai. Dugaanku nggak meleset. Selama 90 menit, penonton disuguhi permainan yang terus terjaga kualitasnya. Kroasia tidak hanya tak gentar menghadapi nama besar Jerman, tapi juga mendominasi jalannya pertandingan. Tim dari negeri Balkan ini menunjukkan performa sebagai tim juara. Barisan belakangnya kokoh tak gampang ditembus, midfieldernya cerdas dalam mengatur serangan, dan ujung tombaknya tajam. Maka, skor 2-1 di akhir pertandingan untuk kemenangan Kroasia Jumat dinihari itu adalah hasil yang adil bagi keduanya. Beruntunglah rakyat Kroasia, punya skuad tim nasional sehebat Luca Modric dan kawan-kawan yang mampu membungkam Jerman si langganan juara dunia.

Bila dibandingkan dengan kita, aku kok jadi prihatin memikirkannya. Malang nian rakyat Indonesia. Negara ini tak kunjung bisa menemukan putra terbaiknya, sebelas orang saja di antara 230 juta, yang mampu berlaga di kancah sepak bola dunia. Jangankan tingkat dunia, di Asia Tenggara saja timnas kita lebih sering jadi pecundang ketika harus berhadapan dengan Thailand atau Malaysia. Irak saja, yang hancur karena diobrak-abrik presiden negara adikuasa yang rada-rada sakit jiwa, masih bisa jadi kampiun di Asia. Indonesia? Mesakke tenan, kasihan sekali.

Kalau India nggak pernah kedengeran namanya dalam blantika sepak bola dunia, ya wajar, wong di negara yang tiang listrik bisa jadi sarana ngerayu wanita itu bola emang bukan olah raga utama. Di sana kriket dan hoki yang paling dipuja. Jika China jarang lolos kualifikasi piala dunia, nggak heran juga, wong penduduknya lebih suka main tenis meja. La Indonesia, kurang cinta gimana coba, sama sepak bola? Di antara seperempat miliar penduduknya, barangkali sepertiganya adalah penggila si kulit bundar. Saking cintanya pada bola, kita bahkan rela tidak tidur semalaman nonton Piala Eropa yang sebetulnya nggak ada sangkut pautnya sama kita. Begitu senangnya anak-anak Indonesia pada bola, hingga enak saja mereka menutup jalan umum justru di sore hari ketika lalu lintas sedang padat-padatnya.

Sepak bola tuh demokratis sekaligus egaliter. Olah raga ini bisa sangat mahal karena gaji David Beckham satu jam saja setara dengan dua tahun upah Korpri seperti saya. Tapi, dia juga bisa menjadi olah raga paling murah meriah di kolong langit, sehingga memenuhi syarat untuk jadi hobi banyak orang dari negeri melarat seperti Indonesia. Bayangkan, dengan hanya bermodal bola plastik dan sendal jepit trepes yang nyaris putus sebagai gawangnya, belasan orang sudah bisa berolah raga bersama-sama, sepuas-puasnya.

Sial memang, sepak bola Indonesia terus-menerus jadi cabang olah raga yang salah urus. Kompetisi sih rajin digelar. Tapi, alih-alih menyajikan hiburan yang laku dijual hingga manca negara dan mendatangkan devisa, event itu malah lebih sering jadi sumber petaka. Di negeri yang katanya rakyatnya ramah-ramah ini, tak terhitung lagi berapa nyawa telah melayang karena kerusuhan sepak bola.

Bapakku sering bilang, “yen nandurmu pari, ojo ngarep-arep ngundhuh jagung (jika kamu menanam padi, janganlah berharap panen jagung)”. Gampangnya, yang akan kita petik tuh ya apa yang kita tanam. Jadi, jangan berani mimpi punya tim sepak bola hebat kalau yang kita lakukan tak lebih dari mencetak preman, yang hanya bisa mukulin wasit dan jadi pecandu narkoba. Lagian, prestasi macam apa yang bisa diharapkan dari cabang olah raga yang induk organisasinya dipimpin oleh seorang narapidana?

Dan ngomong-ngomong tentang organisasi induk sepak bola nasional (PSSI), menurutku, Nurdin Halid sangat pantas dinobatkan sebagai manusia paling sakti di jagat raya. Sakti, karena dengan status pesakitan, dia tetap bisa memimpin olah raga paling populer di negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dari balik penjara, dan tak seorangpun kuasa melengserkannya. Jangankan Menpora, Presiden saja sepertinya tak berdaya dihadapannya.

Makanya, ketika Nurdin Halid diusulkan untuk jadi Presiden FIFA, aku adalah pendukung utama yang memimpin demo besar-besaran mencoba mempengaruhi proses pengambilan keputusan, agar dia gol jadi orang nomor satu di induk organisasi sepak bola dunia.

“Ayah, bangun, bangun... Tuh, Austria lawan Polandia sudah mulai dari tadi”, istriku menggoyang-goyang badanku, memotong mimpi indahku, sekitar jam dua Jumat (13/6) pagi itu. Dia nglilir, terbangun sebentar, hendak ke kamar mandi karena semakin gede perutnya yang kini memasuki 32 minggu usia kehamilan, semakin sering siklus pipisnya.

Aku tergagap, mengucek-ucek mata. Weh, ladalah. Ternyata aku ketiduran barusan, ketika bolak-balik mencet remote tivi usai Jerman vs Kroasia, nungguin partai berikutnya yang berselang sejam. Benar juga, sudah jam dua, artinya partai Austria vs Polandia sudah seperempat jam berjalan.

“Astaghfirullah hal adzim”.

“Kenapa Yah?”, istriku heran, tidak biasa dia mendengarku istighfar saat bangun tidur begitu.

“Ah enggak, nggak ada apa-apa Bun”, aku mencoba berbohong dan bersikap biasa saja di hadapannya. Padahal, dalam mimpiku, aku telah membuat kacau persepakbolaan dunia...

Rabu, Juni 11, 2008

Memaksa kucing makan black forest


Mulai 12 Mei hingga 27 Juni nanti, jadi hingga tulisan ini kubuat sudah berlangsung empat setengah minggu, aku dibebaskan dari kewajiban masuk kantor dan sebagai gantinya negara menugaskanku untuk mengikuti diklat di (L)embaga (P)enyelidikan (E)konomi dan (M)asyarakat, (U)niversitas (I)ndonesia Salemba. Sisi positifnya, untuk sementara waktu aku bisa lepas dari kewajiban mengabdi pada nusa dan bangsa yang harus diakui kadang-kadang bikin pening kepala juga.

Sisi negatifnya, sepanjang waktu itu pula aku tidak bisa leluasa membuka email, membaca Kompas online, YM-an, atau ngecek Friendster menggunakan internet fasilitas negara yang otomatis tersambung begitu komputer di meja kerja dinyalakan. Ya, salah satu fasilitas yang paling kunikmati adalah sambungan internet itu, yang terbukti sangat membantu tugas-tugas kenegaraan, meski tidak bisa dipungkiri lebih sering diselewengkan untuk urusan pribadi seperti ngutak-atik blog ini, dan meski kecepatan aksesnya lebih sering bikin gemes saking leletnya. Kadang aku menduga, sambungan internet di Bappenas memang sengaja dibikin alon-alon waton kelakon begitu untuk menguji kesabaran, agar segenap karyawan Bappenas bisa menjadi manusia yang tabah dan berhati seluas samudera.

Diklat yang sedang kuikuti ini nama resminya adalah Diklat Penjenjangan Perencana tingkat Muda Angkatan XVI. Ini adalah diklat yang diperuntukkan bagi PNS yang memilih menjadi fungsional perencana. Sedikit mengulas, yang kutahu sih ada empat jenjang untuk perencana, kayak pangkat dalam militer gitu. Untuk Korpri yang masih fresh sekelas letnan namanya Perencana Pertama, di atasnya dikit termasuk saya namanya Perencana Muda, di atasnya lagi Perencana Madya, dan di atasnya lagi, yang paling top sekelas jenderal, namanya Perencana Utama. Buat yang bukan PNS, mungkin rada-rada sulit memahaminya. Don’t worry, nggak penting juga kok tahu tentang ini, sama nggak pentingnya dengan pengetahuan mengenai berapa ukuran bra Julia Perez atau mengapa Farhat Abas hobi kawin sama janda.

Aku termasuk pihak yang lumayan diuntungkan dengan lokasi pelaksanaan diklat ini, UI Salemba, karena jaraknya yang menurut spidometer Honda Legenda butut inventaris keluarga hanya 3 Km dari Utan Kayu (lebih dekat dibandingkan dengan Utan Kayu-Bappenas yang 5 Km), dan bisa dijangkau dalam 10 menit. Padahal, diklat baru dimulai pukul 08:30, itupun jika dosennya bukan pelestari budaya bangsa adilihung bernama jam karet. Atau, itupun jika pada jam setengah sembilan teng jumlah peserta sudah memenuhi quorum. Maka, lokasi dan waktu pelaksanaan diklat ini menjadi lebih akomodatif terhadap ritme hidup bangsawan (bangsane sing do tangi awan-awan, golongan orang yang hobi bangun kesiangan) sepertiku.

Penyakit paling sering menyerang peserta diklat model beginian adalah perilaku tidak displin, terutama dalam hal ketepatan waktu, tidak terkecuali angkatanku ini. Makanya, LPEM yang jadi penyelenggaranya mesti putar otak gimana caranya agar yang pada hobi ngaret itu rada-rada ngeper dan mikir-mikir untuk datang telat. Salah satu solusinya adalah dengan ngasih stiker bintang bagi yang datang ontime. Untuk memotivasi agar peserta nggak ngantuk, ketiduran, atau asik sendiri main laptop, panitia juga mengganjar stiker bintang bagi peserta yang aktif bertanya atau berkomentar. Dibuatlah aturan, hanya peserta yang bisa mengumpulkan stiker minimal 20 biji yang boleh ikut ujian kompetensi.

Hasilnya? Orang dengan tipe nggak enakan model aku bisalah diatur. Tapi buat yang bandel kayak si Marwoto, teman seangkatanku di Bappenas (sori Bro, kamu aku casting jadi tokoh antagonis kali ini), aturan model beginian mah kagak mempan. Doi cuek aja sampai sekarang stiker bintangnya baru satu biji, sementara temen-temen lain rata-rata sudah belasan. Yo wis, buat kami, ini malah nanti bisa jadi test case, ancaman mesti ngumpulin bintang minimal 20 itu emang betulan atau omong doang.

Pesertanya 19 orang termasuk aku, empat perempuan dan sisanya laki-laki, berasal dari beragam direktorat yang ada di Bappenas. Background keilmuannya bermacam-macam, ada yang dari ilmu sosial sepertiku, teknik, ilmu hukum, dan lain sebagainya. Di antara peserta, enam orang telah kukenal karena kebetulan seangkatan pas diklat (P)erencanaan (P)embangunan (N)asional tahun 2002, atau pas Diklatpim IV (diklat wajib untuk menduduki jabatan Kasubbag) tahun 2003 dulu. Delapan orang kukenal di kantor karena ruang kerjanya tetanggaan, pernah kerja bareng, atau cuma kenal tampang pas di kantor tapi nggak kenal namanya; dan empat sisanya sama sekali asing dan baru kukenal sekarang.

Setiap orang punya pribadi dan karakter yang khas, pasti Anda semua setuju belaka dengan ini. Tak terkecuali juga dengan teman-temanku tercinta para peserta Diklat FPP Muda Angkatan XVI ini. Nah, di antara mereka itu, ada tiga nama yang dalam empat setengah minggu terakhir ini paling menyita perhatianku karena unik, nyeleneh, dan rada-rada nyentrik.

Tokoh #1: Marwoto (bukan nama sebenarnya). Nih anak datangnya nggak pernah lebih pagi dari jam 10. Terus pas perkuliahan berangsung, kabur baca koran di perpustakaan dan baru kembali pas materi mau kelar. Sepertinya target yang dipasang sederhana, bisa tanda tangan setiap kali daftar hadir diedarkan. Pernah dia duduk disampingku, pas sesi siang jam 13:00 dimulai, baru 5 menit, dia pamitan keluar katanya mau sholat Dhuhur. Kirain sebentar, eh, ditunggu-tunggu sampai sesinya kelar nggak muncul-muncul lagi. Mungkin Sholat di Tasikmalaya.

Tokoh #2: Slamet (juga bukan nama sebenarnya). Doi adalah tokoh antagonis lain selain Marwoto tadi. Hobinya ngeyel kalau diskusi. Tukang telat juga, di samping doyan molor di kelas. Kadang kalau ngantuk, cuek aja tidur sambil ngorok kenceng. Anehnya, begitu bangun, doi nanya, pertanyaannya selalu kontekstual, nyambung sama yang sedang dibahas. Sakti, kayak Gus Dur. Bung Slamet ini emang cerdas. Cuma, kebiasaan dia yang bikin sebel adalah pemilihan waktu dia dalam bertanya yang sering nggak pas. Sudah tahu kalau jam setengah enam sore tuh waktunya dah habis, eh malah dia nanya macem-macem, bikin peserta lain yang dah kebelet pengen pulang terpaksa tertahan beberapa saat lamanya. Terang temen-temen pada mencak-mencak.

Tokoh #3: Marfuah (jelas, ini juga nama samaran). Selain hobi datang siang, ibu satu ini punya kebiasaan yang khas. Begitu masuk ruangan, ngambil tempat duduk di depan, terus tak lama setelah itu tidur, nyenyak banget. Dia juga selalu bawa-bawa barang dagangannya berupa kerudung, baju gamis, berikut katalognya, bermerek Permata, yang tanpa lelah dia tawar-tawarkan kepada siapapun yang berminat termasuk tentu saja kepada peserta lain. Insting bisnisnya betul-betul tajam.

Ngomongin materi diklatnya pasti nggak bakalan menarik. Jangankan ngebahas di blog ini, ngikutinnya di kelas aja aku lebih sering ngantuk dan tidur daripada ndengerin dan nyatet. Dalam satu setengah jam untuk setiap sesi, memperhatikan dobosan dosen dengan konsentrasi penuh tuh rata-rata cuma di 15 menit pertama. Selanjutnya, aktivitas mulia memperhatikan dosen tadi haruslah dikombinasi dengan ngantuk-ngantuk, tidur, corat-coret bikin gambar nggak penting, atau nonton TV dari Hape HiTech H38 andalan, biar hati tetap tenteram dan pikiran tetap waras.

Pangkal persoalannya adalah karena materi diklat ini terlalu ekonomi, plus pakai acara itung-itungan segala. Materi diklat, terutama di minggu-minggu pertama kemaren, temanya sungguh aneh dan lucu-lucu: Kerangka Konsep Makro, Struktur Pasar dan Persaingan Usaha, Input-Output Model (halah, opo kuwi?). Walhasil, aku yang background-nya dari ilmu sosial dan seumur-umur kerja di Bappenas jadi staf Humas, jadi kayak kucing yang dipaksa makan black forest. Males-malesan ngunyahnya, susah nelennya, dan setengah mati mencernanya.

Tapi biar bagaimanapun, ini adalah satu tahap yang harus ditempuh. Jadi, tidak ada pilihan lain selain menjalaninya dengan iklhas dan riang gembira sambil berharap yang kupelajari ini suatu saat nanti berguna, sehingga 46 hari diklat ini tidak menjadi 46 hari yang sia-sia.