Selasa, Februari 24, 2009

Kecanduan Api di Bukit Menoreh


Seminggu terakhir ini, dan sepertinya bakalan berlanjut hingga ke hari-hari ke depan, aku dibuat kecanduan oleh cerita silat karangan almarhum SH Mintardja, Api di Bukit Menoreh (AdBM). Benar, cerita ini sudah kuno banget dan bisa kuterima kalau ada yang kemudian bilang: “Dulu kemana aja, Bos?”. Sesungguhnya, bukan baru sekarang aku tahu ada cersil dahsyat ini. Dulu, ketika masih SD, aku juga sudah keranjingan dengan karya SH Mintardja yang lain, Naga Sasra Sabuk Inten (itu tuh, yang tokoh utamanya Mahesa Jenar yang kemudian dijadikan julukan bagi tim bola PSIS Semarang). Juga sempat menonton di TVRI ketika AdBM diangkat ke layar gelas kalo nggak salah tahun 80an gitu. Tapi, entah kenapa waktu itu aku masih saja nggak tertarik untuk mengeksplor cerita versi aslinya.

Semuanya berawal dari iseng googling ngetik kata “Agung Sedayu” karena gencarnya iklan properti dengan nama itu di tivi. Nama Agung Sedayu itu telah mengingatkanku kembali pada masa kecilku di Semarang, masa-masa aku keranjingan mendengarkan sandiwara radio Saur Sepuh dan membaca cerita silat Nagasasra Sabuk Inten koleksi sepupu iparku. Oleh karenanya, masa itu adalah masa ketika kepalaku dijejali khayalan-khayalan untuk jadi jago silat yang kebal, bisa ngilang, terbang, dan punya senjata ampuh yang tersimpan di bawah kulit di atas daging. Dus, kucari “Agung Sedayu” di Google tidak dengan keinginan untuk tahu lebih jauh mengenai developer kaya itu, melainkan untuk mencari-cari apakah di internet ada yang ngebahas tentang AdBM.

Rupanya ada. Di samping artikel yang sifatnya ngebahas si Sedayu, ada juga yang ternyata malah menampilkan cerita itu as it is, beralamat di http://adbmcadangan.wordpress.com/. Weh, hebat bener tuh orang, secara AdBM di blog itu aku kira diketik ulang dari naskah aslinya yang kalau ditumpuk bakalan setinggi kulkas.

Maka, sejak libur Sabtu (21/2) lalu aku mulai membaca dari awal banget. Hebat, dahsyat.

Yang kukagumi dari SH Mintardja sang author adalah kepiawaiannya merangkai cerita demi cerita sehingga aku seperti larut di dalamnya. Walhasil, mulai Sabtu itu aku selalu mantengin laptop begitu ada kesempatan. Enggak pagi, enggak siang, enggak malam. Anytime. Di sela-sela tugas negara di kantor (meski jelas kalau ketahuan SBY pasti bakalan kena marah ada anggota Korpri yang nekat baca cersil di jam kerja), sambil makan, dan di rumah di sela-sela nemenin maen Wisanggeni dan Ontoseno, atau ketika istri dan anak-anakku itu sudah terlelap. Tadi malam bahkan aku mamaksa diri tidur jam 2 karena terus-terusan penasaran mengenai kelanjutan ceritanya.

Hingga tulisan ini kuposting, aku baru sampai di Buku 16 (dari ratusan buku yang ada), pada bagian di mana sisa-sisa laskar Kadipaten Jipang menyerahkan diri agar mendapat pengampunan dari otoritas Pajang setelah sebelumnya Senopati mereka yang bernama Tohpati gugur dalam duel satu lawan satu dengan Senopati Pajang bernama Untara.

Dalam penilaianku sejauh ini, yang membuat AdBM jadi candu adalah karena ia tidak hanya menyajikan cerita gedebak-gedebuk orang berantem. Cerita ini begitu kuat spiritualitasnya. Ada pertentangan batin manusia yang selalu muncul, rumitnya jalan pikiran orang, atau betapa sumir batas antara cerdik dengan licik. Tidak seperti sinetron-sinetron sampah yang bertebaran di tivi-tivi nasional, AdBM memandang dua kubu yang saling berperang tidak selalu dari kacamata hitam putih.

Contohnya, di sana diceritakan bahwa Prajurit Jipang yang katanya berada di pihak yang salah itupun juga punya istri setia dan anak-anak yang lucu-lucu yang terpaksa ditinggalkan karena kewajiban mengemban tugas.

Aku kok terus ngebayangin para tentara yang saling berhadapan dalam perang yang sesungguhnya. Di Irak, di Afghanistan, atau di manapun di muka bumi ini. Mereka, tentara-tentara itu, pastilah juga punya ibu, istri, anak-anak, dan anggota keluarga lain di rumah yang mencemaskan keselamatan mereka. Di luar ketegaan membunuh, mereka pastilah punya sisi-sisi lembut dalam diri. Sayangnya, hukum pasar mengatakan bahwa yang tinggi ratingnya adalah yang hitam putih itu; yang laku ditonton orang adalah yang jahat tuh jahaaaat banget dan yang baik itu baiiiiik banget nggak ada jahat-jahatnya. Maka, lihatlah, bahkan film-film perang produksi Hollywood pun, adegan wajibnya ketika pamit berangkat ke medan laga adalah: si jagoan yang tentara dari AS itu akan menggendong anak balitanya yang innocent, memeluknya dengan kasih sayang, seraya mencium mesra istrinya. Orangnya welas asih, baik hati dan tidak sombong. Sementara si musuh dari negeri yang dicap teroris digambarkan kejam, nggak ada senyum, selalu membentak, dan seolah hidup sendiri tanpa ada satupun anak atau istri yang dengan cemas menunggunya pulang.
Begitulah. Dan, akibat yang mesti kutanggung adalah terganggunya waktu tidurku. Dalam keadaan biasa, basically aku seorang tukang tidur. Paling telat jam setengah sepuluh malam aku dah molor, dan baru bangun jam setengah enam pagi. Dus, tidur minimal delapan jam dalam sehari. Semalam aku tidur jam 2 pagi, kemaren jam 1 pagi, dan kemarennya lagi jam 12 malam. Entah, apakah malam nanti aku akan bisa terus membaca lanjutan AdBM. Sepertinya enggak mampu, wong sekarangpun tulisan ini aku ketik dalam keadaan mata sepet saking ngantuknya.

Tidak ada komentar: