Rabu, Februari 04, 2009

Ajang Kumpul Anak Jalan Sesama (part 2)


Tidak begitu sulit menemukan lokasi karena sehari sebelumnya aku udah ngintip via Google Earth. Sampai parkiran, bayar taksi, dan melengganglah kami menuju konter registrasi. Di arena rupanya sudah berkumpul banyak anak plus orang tua masing-masing. Bahkan ada beberapa bus yang ngangkut anak-anak sekolah yang khusus diundang oleh panitia penyelenggara.

Lokasi penyelenggaraan acara terbagi dua. Satu di plasa yang telah ditutup sama tenda gede dan tinggi untuk aneka permaianan tradisional yang ngingetin kita pada masa kecil dulu mulai dampu, gobak sodor, lompat tali, hingga tak jongkok. Juga ada tempat workshop bikin batik, pameran lukisan anak-anak TK & SD, dan jualan mainan tradisional. Satunya lagi di dalam ruangan untuk panggung live show Jalan Sesama (JS), main angklung, dan eksibisi Boneka Horta (boneka temuan anak-anak IPB yang terbuat dari serbuk kayu gergajian dan rumput hidup. Silakan membayangkan sendiri...).

Objek pertama yang langsung menyita perhatian tentulah yang ada di dekat gerbang masuk, yaitu foto-foto besar dari tokoh-tokoh JS lokal yang dibikin berdiri dengan penyangga. Juga display lukisan anak-anak TK dan SD yang harus diakui memang bagus-bagus belaka. Adegan selanjutnya tentulah kukeluarkan kamera, poto sana poto sini, mengabadikan suasana, keramaian, dan eksyen Wisang yang kecil-kecil sudah narsis berpose di samping foto tokoh-tokoh idolanya . Habis itu, kami masuklah ke arena yang di dalam, tempat boneka-boneka JS dimainkan secara live.

Tadinya kami ngebayangin bakalan mendapat suguhan berupa live show JS dengan satu cerita utuh begitu, karena setiap show dijadwalkan berlangsung 30 menit. Ternyata enggak. Yang keluar di show jam 11 siang hanya si Putri sama Momon, 5 menit pula. Sedangkan show yang jam 2 siang hanya ada si Jabrik dan Tantan, juga 5 menit, dan materinya cuma ngajari anak-anak bagaimana cara menulis alamat dan nempelin perangko di kartu pos. Habis itu sudah. Padahal ngantri masuknya tuh lama, udah gitu yang diutamakan adalah anak-anak SD atau TK yang katanya “undangan”. Mereka suruh baris di depan, sedangkan kami yang sudah nunggu dari tadi disuruh baris di belakang, yang artinya ntar duduknya juga bakalan jauh dari panggung. Aku sempat protes-protes sama panitia, loh emang kami bukan undangan? Kami juga diundang melalui Majalah JS toh. Jawabnya, bukan. Dus, kami ini dianggap bukan undangan. Sepertinya, duit yang kami keluarkan tiap bulan buat langganan Majalah JS itu nggak berarti apa-apa.

Usai menyaksikan show yang jam 11 yang cuma 5 menit itu, kami muter-muter nggak jelas, hingga jam makan siang tiba dan kami membuka bekal, duduk lesehan di sepanjang koridor yang dipakai buat pameran lukisan. Lagi asyik masyuk makan, keluarlah ke arena bermain dua tokoh JS dalam ukuran besar (di dalamnya berisi orang) namely Putri dan Momon. Sontak, anak-anak berhamburan mendekat ngajakin salaman n foto bersama. Suasananya begitu hiruk pikuk, berebutan, kayak nggak ada aturannya. Walhasil, nggak ada satupun pengunjung yang dapat kesempatan berfoto secara eksklusif dengan kedua karakter itu. Sayang banget, panitianya kok ya nggak cukup cerdas gitu lo, untuk ngatur. Padahal kalau rada pinter dikit, panitia bisa bikin registrasi, daftar siapa-siapa yang mau foto. Habis itu dipanggilin satu-satu . Tapi, ya sudahlah...

Salah satu alasan kuat kami mengajak Wisang berkunjung ke situ adalah karena dari pengumumannya kami menyangka akan ada pentas dalang cilik, atau kalau enggak ada semacam arena di mana Wisang nanti bisa pegang-pegang dan mainin wayang kulit. Sebagai apresiator wayang kulit sejati, aku memang punya obsesi untuk memperkenalkan Wisanggeni dan Ontoseno dengan dunia pewayangan, suatu dunia darimana nama kedua anakku itu berasal. Tapi, rupanya kami harus rada kecewa, karena ketika kami tanya ke panitia kapan pentas dalang cilik itu akan di gelar, jawaban mereka nggak jelas. Di bilang jam setengah tiga, tapi ditunggu sampai jam tiga juga belum ada tanda-tanda tuh pentas di mulai. Tempatnyapun juga nggak jelas di mana.

Mungkin karena ekspektasi kami berlebihan ya, aku dan emaknya anak-anak kok ngerasa bahwa penyelenggaraan acara ini baru bisa disejajarkan dengan lomba anak-anak 17-an tingkat RT. Tadinya kami ngebayangin bakalan ketemu dengan konter-konter yang dikelola rapi, setiap pengunjung dilayani dengan baik dan tidak dibeda-bedakan berdasarkan kasta “undangan” dan “tamu umum”. Tadinya kami pikir acaranya akan meriah, dengan suguhan utama live show JS dengan cerita utuh dan berdurasi lebih lama.

Jam empat sore kami tiba kembali di rumah Utan Kayu, dengan lega. Lega bukan karena habis berpartisipasi di acara off air Jalan Sesama yang meriah dan meninggalkan kesan mendalam, melainkan lega karena merasa beruntung, “Untung tadi si Ontoseno nggak diajak ya, Yah”, kata Emaknya anak-anak.

Tidak ada komentar: