<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398</id><updated>2012-02-19T08:22:07.968+07:00</updated><title type='text'>Asalnjeplak Dotkom</title><subtitle type='html'>Nyangkem Cangkemku Dewe</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>100</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-438783824297134207</id><published>2012-01-07T09:37:00.002+07:00</published><updated>2012-01-07T09:51:27.190+07:00</updated><title type='text'>Gubernur, bukan tukang kerak telur</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bulan Januari 2012, sama dengan bulan yang sama tahun-tahun lampau, Jakarta diwarnai oleh aneka dukacerita tentang macet panjang akibat jalanan tergenang setelah hujan, pohon tumbang, papan reklame rubuh, dan orang-orang mengungsi karena rumahnya kebanjiran. Gubernur DKI datang silih berganti, dan masalah-masalah tadi makin parah boro-boro teratasi. Kalau ada pohon tumbang menimpa mobil atau rumah hingga ringsek, atau papan reklame rubuh menimpa orang sampai klenger alias meninggal dunia, Pemprov DKI cukuplah memberi uang duka 10 juta, setelah itu bisnis berjalan seperti biasa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Masyarakatpun juga sudah kadung percaya bahwa itu semua adalah takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, dan tidak pernah sekalipun saya dengar di radio, atau baca di koran, atau lihat di televisi, ada warga yang menuntut Pemprov DKI karena telah teledor membiarkan pohon tua dengan akar yang telah rapuh namun cabang yang tumbuh subur tidak dipangkas atau diremajakan. Tidak juga pernah ada class action mempermasalahkan kemungkinan papan reklame itu rubuh karena dipasang secara serampangan, dengan spesifikasi teknis yang asal-asalan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saya ingat dulu, Bpk. Dr. Ir. H. Fauzi Bowo, Gubernur DKI idola kita semua, pernah ngamuk-ngamuk ke wartawan gara-gara si wartawan berani kurang ajar bertanya kenapa setelah sekian tahun Jakarta di tangan ahlinya, masalah macet dan banjir kok malah makin menjadi-jadi. Si Abang bilang bahwa membenahi Jakarta itu tidak tidak bisa instan. “Emangnya bikin kerak telor,” sambung Bang Kumis sewot.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saya setuju dengan Anda, Bang Foke, membenahi ibu kota, termasuk tentu saja mengatasi banjir dan macetnya, memang tidak semudah bikin kerak telur. Tanggung jawab gubernur jelas jauh lebih besar daripada tanggung jawab tukang kerak telor. Itulah mengapa Anda digaji 80 juta perbulan (duit segitu sudah lebih dari cukup untuk membeli 6.500 bungkus kerak telur, itupun sudah yang pake telur bebek, bukan telur ayam); mobil dinas mewah lengkap dengan sopir, ajudan, dan kendaraan patwal; rumah dinas nyaman lagi bebas banjir di daerah Menteng dengan tagihan setrum, air, dan telepon tentu dibayar tidak perlu pakai duit sendiri; staf 85 ribu orang; dan APBD lebih dari 30 triliun pertahun. Ketika jalanan macet, voorijder selalu siap menyingkirkan mobil dan motor rakyat demi kelancaran perjalanan Anda. Ketika warga Jakarta mati gaya karena PAM ngadat berhari-hari bulan September 2011 dulu itu, truk tangki PT Palyja wara wiri menyuplai air bersih ke rumah Anda. Coba, kurang gurih gimana? Jadi kalau Anda mengeluh banyak orang yang ngomel ke Anda karena Jakarta tak kunjung tertata, saya kira kok kurang bijaksana. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;"With great power comes great responsibility", kata Uncle Ben kepada Spiderman. "With great facilities, comes great omelan masyarakat jika Anda tidak bekerja sungguh-sungguh," kata Heri kepada Bang Foke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hampir lima tahun sudah Anda bekerja. Benar bahwa menata Jakarta tidak bisa instan, ada tahap-tahapnya. Tapi sayanya yang kuper atau faktanya memang demikianlah adanya, kok sepertinya situasinya masih begini-begini saja. Padaha ibarat orang berhitung dari 1 sampai 10, okelah hitungan itu belum selesai, tapi mestinya sekarang ini harusnya sudah terlihat sudah sampai angka berapa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tahun 2012 ini adalah tahun di mana pilgub DKI digelar. Dan Bang Foke, kabarnya akan kembali berlaga. Ayolah Bang, beri saya alasan kenapa saya harus memilih Anda. Jokowi, Walikota Solo itu, dipilih oleh rakyat dengan perolehan suara fantastis lebih dari 90% tanpa susah payah kampanye, baliho narsis, atau aksi sok populis berkedok iklan layanan masyarakat di tivi-tivi. Dia dipilih kembali karena orang terkesan pada pemindahan PKL yang manusiawi, taman-taman kota yang makin tertata, keberpihakan pada pasar-pasar tradisional, dan ketulusan dalam melayani warganya. Ingat relokasi PKL tanpa rusuh, ingat Jokowi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ingat beras, ingat Cosmos.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ingat banjir, la kok saya langsung ingat Bang Foke.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-438783824297134207?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/438783824297134207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=438783824297134207' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/438783824297134207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/438783824297134207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2012/01/gubernur-bukan-tukang-kerak-telur.html' title='Gubernur, bukan tukang kerak telur'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-809936474198092033</id><published>2012-01-06T13:21:00.004+07:00</published><updated>2012-01-06T13:26:05.861+07:00</updated><title type='text'>Negeri agraris yang menindas petani</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Almarhum Bapak adalah petani tulen. Maksudnya, beliau tidak punya pekerjaan lain selain menjadi petani itu tadi, beda sama petani-petani lain yang nyambi jadi tukang becak, tukang batu, atau kuli di kota jika musim tanam telah lewat. Ibuku, selain jadi Ibu rumah tangga yang berdedikasi, beliau adalah juga petani sejati yang--sejauh kuingat--menjalani profesinya dengan penuh rasa syukur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kesetiaan Bapak dan Ibuk terhadap profesi mereka sungguh membuat saya terharu. Ketika sawah-sawah beririgasi teknis garapan tetangga kiri kanan sudah semua habis dibeli oleh developer untuk dialihfungsikan menjadi perumahan Graha Estetika bagi orang-orang berduit, Bapak tetap keukeuh mempertahankan sawah kami &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;di daerah Tembalang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;itu agar tidak ikut-ikutan dicaplok meski dengan iming-iming harga selangit--setidaknya untuk ukuran kami. Beliau selalu bilang, “biarlah rumah kita reyot dimakan rayap, baju kita hanya satu potong kering di badan, asal kita tetap punya sawah”. Buat Bapak, petani sudah tidak pantas lagi disebut petani jika sudah tidak lagi punya lahan garapan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Begitulah. Orang tua saya adalah petani yang setia tanpa reserve pada profesi. Namun begitu, Bapak ingin agar beliau adalah petani terakhir dalam garis keturunan keluarga kami. Di hari pertama ketika saya siap berangkat menunutut ilmu di kelas 1 SD suatu hari di tahun 1981, Bapak sudah langsung bilang, “Nak, balajarlah yang rajin. Sekolahlah yang tinggi, agar di kelak kemudian hari kamu tidak menjadi petani seperti Bapak dan Ibumu”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ini karena dalam keyakinan Bapak, petani, kere, miskin, melarat, adalah empat kata yang punya makna kurang lebih sama yang bisa saling dipertukarkan satu sama lain. Petani sudah pasti kere, dan kere identik dengan petani. Bapak meninggal di usia 71 tahun pada bulan September 2008 dengan membawa keyakinan itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jika yang menjadi referensi adalah negara tercinta Indonesia, almarhum Bapak jelas tidak salah. Ah, andai saja sebelum meninggal, Bapak dikasih tahu betapa petani di luar sana makmur dan sejahtera belaka karena negara begitu melindungi mereka... &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sensus terakhir menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar ke-4 di dunia. Dari 230 juta lebih penduduk Indonesia, di atas 40% angkatan kerjanya adalah petani. Kita punya matahari yang melimpah sepanjang tahun. Tapi, kita adalah importir terbesar di dunia untuk beberapa komoditas produk pertanian. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sekarang mari kita lihat Belanda. Dari total hanya 16 juta penduduk, tidak lebih dari 4% tenaga kerjanya adalah petani. Mereka kebagian terang matahari tak lebih 3 bulan dalam setahun. Kendati begitu, negara ini adalah eksportir produk-produk pertanian terebesar ke-3 di dunia. Tigaratus limapuluh tahun lebih kita dijajah orang Belanda, dan amat sedikit yang kita mampu tiru dari mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kalau soal menindas petani, negara ini memang jagonya. Musim panen raya, bagi negara ini, justru saat paling tepat untuk impor beras besar-besaran dari Thailand dan Vietnam, entah apa tujuannya. Mungkin agar harga beras makin jatuh dan petani makin kapok menanam padi. Jika harga pupuk melambung, petani dibiarkan berjuang sendiri ngutang rentenir; dan saat harga gabah meningkat, pemerintah cepat-cepat operasi pasar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Buah impor membanjir tak terbendung, membuat frustasi para petani buah lokal, dan keberpihakan pemerintah hanya berhenti jadi topik bahasan menarik di meja rapat. Dan ketika rapat usai, saat makan siang prasmanan tiba, di antara menu dengan cita rasa menggugah selera, yang jadi pencuci mulut adalah jeruk impor dari China.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sungguh, saya sangat bersyukur pada akhirnya harapan yang menjadi doa Bapak, agar saya tidak menjadi petani, dikabulkan sama Allah. Tapi saya juga prihatin, profesi petani--yang seumur hidup dijalani Bapak --, akan terus menjadi profesi yang sedapat-dapat dihindari di negara yang katanya subur makmur gemah ripah loh jinawi ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-809936474198092033?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/809936474198092033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=809936474198092033' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/809936474198092033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/809936474198092033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2012/01/negeri-agraris-yang-menindas-petani.html' title='Negeri agraris yang menindas petani'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-4123397648020595759</id><published>2012-01-01T16:49:00.003+07:00</published><updated>2012-01-01T16:53:52.162+07:00</updated><title type='text'>Ketika banyak sama dengan benar</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-fareast-font-family:Calibri;}@page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:70.9pt 70.9pt 70.9pt 70.9pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;}div.Section1 {page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-fareast-font-family:Calibri;}@page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:70.9pt 70.9pt 70.9pt 70.9pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;}div.Section1 {page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;"Penggal leher satu orang, dan kamu akan dihujat sebagai pembunuh. Jagal sejuta orang, maka kamu akan dipuja sebagai penakluk" &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ini adalah logika manusia yang jelas tidak sejalan dengan logika agama. Dalam agama yang saya anut, membunuh satu orang dianggap sama dengan membunuh seluruh manusia. Dari situ saya percaya, betapa Islam melarang pemeluknya berbuat kerusakan, sekecil apapun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Celakanya, logika pembunuh dan penakluk itu tadilah yang saya lihat sehari-hari dipercaya orang di negeri ini. Buat masyarakat yang sakit, beda pembunuh dan penakluk ada pada jumlah. Antara pecundang dan pemenang disekat oleh kuantitas. Pas berangkat ke kantor pagi-pagi, lawanlah arus di Jalan Raya Bekasi sendirian, dan Anda akan ditilang polisi. Tapi jika melawan arus itu Anda lakukan beramai-ramai, maka Anda akan lebih cepat sampai tujuan dibandingkan dengan pemakai jalan lain yang tertib mengantri, lagi bebas dari resiko kena sanksi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bakarlah fasilitas umum sendirian, dan Anda akan dipenjara sebagai kriminal. Tapi cobalah Anda hancurkan fasilitas umum beramai-ramai, plus atas nama Tuhan, maka Anda akan bebas merdeka dan bahkan dipuja sebagai pejuang jihad. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk kesekian kali, saya patah hati. Solusi untuk perbedaan pendapat dan keberagaman di sini hanya satu, dan itu adalah kekerasan. Makin hari makin tak terkendali. Belum selesai kasus Ahmadiyah, baru-baru ini muncul lagi kasus lain yang lagi-lagi soal agama. Karena negara gagal dan selalu terlambat melindungi warganya, maka hukum yang berlaku adalah hukum jumlah. Siapa yang lebih banyak, itulah yang menang, dan oleh karenanya berhak atas klaim kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lokasi kejadian kali ini di Sampang, Madura. Terjadinya berulang-ulang dan yang terakhir adalah hari Kamis, 29 Desember 2011. Yang satu kelompok Sunni, yang satunya lagi Syiah. Mereka berslisih paham. Jumlah orang Sunni lebih banyak dari Syiah. Maka, akhir dari cerita ini gampanglah ditebak. Kelompok Syiah kalah. Madrasah, mushola, dan rumah mereka dibakar. Jamaahnya dikejar-kejar seperti mengejar babi hutan, dipukuli, dan dibunuh. Sementara aparat negara diam di tempat, terpaku menjadi penonton yang baik. Yang saya maksud dengan diam di tempat itu tidak hanya terbatas pada polisi tidak hadir pada saat kerusuhan terjadi, melainkan juga ketidakmampuan intelijen untuk mendeteksi bibit konflik ketika konflik itu masih berupa kecambah dan belum kadung jadi pohon yang menjulang ke langit dengan akar yang menghujam dalam ke tanah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pembukaan UUD 1945 jelas-jelas ngomong, tujuan kita membentuk negara ini adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, apapun sukunya, apapun agamanya. Apalagi untuk urusan keyakinan, yang mau berdebat 7 hari 7 malam juga pasti nggak akan ada selesainya. Jika yang kuat dibiarkan menindas yang lemah, dan yang mayoritas menindas yang minoritas, tidak perlulah ada institusi bernama negara. Dibiarin saja, yang terjadi juga akan demikian adanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Telah terlalu lama kita ini terpaku pada jumlah. Perhatian baru diberikan jika pelakunya massal. Kalau ada bencana atau kecelakaan lalu lintas, yang ditanayakan dulu pastilah berapa korbannya. Kalau sedikit, biarin aja. TKW yang terancam hukuman mati, karena jumlahnya cuma satu di Arab sono, ya dicuekin. Padahal mau satu atau seribu, yang namanya nyawa warga negara haruslah menjadi prioritas utama. Makanya, saya sering bertanya: seandainya ada WNI yang mau dihukum pancung di Arab Saudi, dan WNI itu adalah Edi Baskoro Yudhoyono putra kesayangan Ibu Negara, akankah pemerintah bereaksi dalam kadar yang sama cueknya? Jika iya, berarti negara ini sudah tidak pantas ada; jika tidak, berarti amanat konstitusi yang menyatakan bahwa setiap warga negara punya kedudukan yang sama di mata hukum dan pemerintahan adalah omong kosong belaka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pun untuk korban pembunuhan oleh kelompok manusia yang mengatasnamakan Tuhan, yang merasa bahwa agamanya yang paling benar, dan penganut alirannya saja yang berhak masuk surga. Negara ini seperti berlagak buta jika yang melayang hanya 1 atau 2 nyawa. Saya tidak sedang tertarik untuk membahas Islam aliran mana yang benar dan mana yang sesat, karena ngomongin itu setiap orang pasti punya argumentasi masing-masing. Di Sampang, Sunni boleh jadi menang, bukan karena mereka yang benar, tapi lebih karena jumlah mereka lebih banyak dari Syiah. Tapi di Iran? Cobalah Anda bilang Syiah sesat, dan Anda akan dicincang beramai-ramai di alun-alun Teheran. Saya hanya ingin bilang, membunuh orang lain, dengan dalih beda keyakinan atau aliran agama, tidak seharusnya terjadi di negara dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selamat tahun baru 2012. Semoga Indonesia tambah dewasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-4123397648020595759?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/4123397648020595759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=4123397648020595759' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4123397648020595759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4123397648020595759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2012/01/ketika-banyak-sama-dengan-benar.html' title='Ketika banyak sama dengan benar'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-5496229300934490206</id><published>2011-12-29T17:01:00.001+07:00</published><updated>2011-12-29T17:07:09.147+07:00</updated><title type='text'>Macet itu indah, maka nikmatilah*</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-fareast-font-family:Calibri;}@page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;}div.Section1 {page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tidak ada apapun di dunia ini yang diciptakan Tuhan untuk menjadi sia-sia. Itu bukan kata saya. Itu adalah kata Edi Santoso, teman kuliah saya di Komunikasi Undip dulu yang kini menjadi calon profesor di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Nyamuk, misalnya. Ia diciptakan oleh Tuhan untuk menjaga keseimbangan ekosistem global. Beberapa spesies binatang maupun tumbuhan, seperti cicak, katak, kelelawar, dan kantong semar&amp;nbsp; memerlukan nyamuk atau larvanya untuk mempertahankan eksistensi mereka. Belatung adalah spesies penghancur bagi organisme yang telah mati. Bisakah Anda bayangkan, seberapa luas kuburan dibutuhkan untuk menampung miliaran manusia yang telah meninggal sejak peradaban manusia muncul sekian ribu tahun yang lalu hingga sekarang, jika mayat-mayat itu tetap utuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Contoh lain, Andika Kangen Band. Ia mungkin diciptakan oleh Tuhan untuk membuat kita optimis bahwa tampang ala kadarnya bukanlah halangan untuk tetap berkarya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pun macet yang hari demi hari kian membuat hidup di Jakarta bagaikan di surga. Kadang saya berpikir, betapa Bang Foke adalah gubernur dengan visi masa depan yang sangat brilian. Saya percaya, macet dan banjir Jakarta sesungguhnya adalah bagian dari visi itu. Tujuannya adalah untuk mengerem laju urbanisasi penduduk menuju Ibu Kota tercinta. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan upaya sangat keras si abang dan jajarannya untuk menjadikan Jakarta tambah macet dan banjir saja, menurut data BPS DKI, laju pertumbuhan penduduk tahun 2000-2010 mencapai 1,40 persen per tahun yang sebagian besar disumbang oleh urbanisasi manusia dari kampung yang mengadu nasib ke Jakarta. Bayangkan kalau Bang Foke diam saja, dan jalan-jalan Jakarta dibiarkan lancar dan bebas banjir, pasti urbanisasi ke Jakarta bakalan makin menggila. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Makanya, daripada stres mikirin macet Jakarta, saya mengajak Anda untuk mencoba mengambil pelajaran dan memetik hikmah dari padanya. Menurut saya, setidaknya ada empat hikmah yang bisa kita peroleh dari macetnya Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pertama, melatih kesabaran. Macet adalah laboratorium sempurna untuk kita belajar sabar. Kota Harapan Indah - Menteng yang kalau nggak macet paling mentok hanya butuh 40 menit, dengan macet level 7 saja maka akan dibutuhkan setidaknya 1 jam 10 menit pakai motor, dan 2 jam pakai mobil. Kesabaran kita diuji di situ, dan bukankah innallaha ma’ashobirin (sesungguhnya, Allah menyukai orang yang sabar).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kedua, belajar memaafkan. Kita hanya mungkin memaafkan hanya jika ada orang berbuat salah kepada kita. Setuju? Nah, di tengah kemacetan parah atau lalu lintas yang padat merayap, orang berbuat kesalahan akan sangat mudah kita jumpai. Banyak, tidak hanya ada. Paling sering adalah biker ngawur yang menyalip nggunting habis itu ngerem mendadak, atau biker dodol yang menyangka bahwa spakbor belakang atau knalpot motor kita adalah alat untuk menghentikan laju kendaraan dia. Belajarlah untuk memandang dia dengan senyum, maafkanlah kesalahannya. Ingatlah bahwa dia juga punya anak-anak yang lucu-lucu di rumah, berbaik sangkalah bahwa mungkin dia sedang kebelet beol dan kadung sudah kentut basah di celana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketiga, indahnya berbagi. Uztad Yusuf Mansur dan Ustadz Maulana jamaah oh jamaah selalu berpesan kepada kita untuk jangan enggan berbagi. Berbagi itu tidak hanya uang. Bisa saja sebidang jalan ukuran 2 x 1 meter yang disamping motor kita, juga diisi oleh 10 motor yang lain. Adalah rejeki kita jika ternyata di depan kita ada cewek bohay yang membonceng motor dengan tipe boncengan yang rada nungging gitu (mudah-mudahan Anda bisa membayangkan). Jadi ada pemendangan gratis. Lagian, bukankah jalanan yang lega, sepi lagi lengang, cenderung membuat kita ngebut dan kurang hati-hati. Kecelakaan fatal hanya mungkin terjadi di jalanan yang kendaraan-kendaraannya bisa dipacu kenceng. Kalau di tengah kemacetan yang motor hanya bisa dipacu 5 km/hari paling-paling spakbor somplak atau kaki keinjak. Tidak mungkin fatal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Keempat, memacu kreativitas. Jalanan yang lancar tanpa hambatan hanya akan membuat kita manja dan pada akhirnya membuat perjalanan kita monoton begitu-begitu saja. Dengan macet, otak kita akan bekerja dinamis yang pada gilirannya kreativitaspun muncul. Misalnya, jika Anda adalah biker, dan di depan, kanan, dan kiri Anda penuh dengan mobil. Kreativitas Anda akan terpacu untuk mencari jalan keluar yang sebaik-baiknya. Naik trotoar, melawan arus, melompat got, memanggul motor (kalau Anda kuat) adalah bagian dari kreatvitas yang hanya akan muncul di tengah kemacetan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jadi, Saudara-saudaraku, macet itu indah. Percayalah. Terima kasih, Bang Foke, sungguh Anda adalah idola saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;*Ditulis jam 5 sore, sehabis hujan, sambil bersiap menikmati lalu lintas Menteng-Kota Harapan Indah yang pastilah amboi so sweetnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-5496229300934490206?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/5496229300934490206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=5496229300934490206' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5496229300934490206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5496229300934490206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/12/macet-itu-indah-maka-nikmatilah.html' title='Macet itu indah, maka nikmatilah*'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-1724362878426944149</id><published>2011-09-02T08:46:00.003+07:00</published><updated>2011-10-27T11:59:31.222+07:00</updated><title type='text'>Sidang Isbat yang bikin mati gaya</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Berikut ini adalah dialog imejiner saya dengan seorang petugas reservasi sebuah hotel, seminggu sebelum Lebaran tiba:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Petugas Reservasi (PR): “Halooo, Hotel Suryadharma, may I help you?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saya: “Iya halo, selamat siang Mbak. Saya Heri, dari Menteng, mau booking ruangan dan catering, bisa dibantu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;PR: “O iya, Pak, silakan. Untuk hari apa dan yang kapasitas berapa orang Pak?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saya: “Untuk kira-kira seribu orang. Yang tanggal 1 Syawal ya Mbak, buat halal bihalal habis sholat Ied”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;PR: “Baik Pak, jadi untuk seribu orang, tanggal 30 Agustus 2011”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saya: “Bukan Mbak, bukan 30 Agustus 2011. Tanggal 1 Syawal 1432 Hijriyah. Tanggal di kalender nasionalnya nanti silakan menunggu keputusan sidang isbat Kementerian Agama”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;PR: ????? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;* Saya membayangkan, petugas reservasi di seberang sana tiba-tiba butuh sebutir Panadol Extra.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saya heran, orang pinter makin banyak, teknologi juga makin maju, tapi penetapan hari raya Idul Fitri 1 Syawal kok malah jadi makin ribet? Seumur-umur, yang saya ingat, baru kali ini saya mengalami dua hal. Pertama, sidang isbat yang berlangsung hingga hampir jam 10 malam waktu Indonesia Bagian Timur. Dan kedua, penetapan tanggal 1 Syawal yang berbeda dengan penanggalan di kalender nasional yang telah dibuat sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dulu waktu masih tinggal di Kramas, jaman saya masih kecil, menjadi abege, dan kemudian beranjak remaja, Lebaran itu sudah dapat dirayakan sehabis sholat Ashar. Tradisi di kampungku tercinta itu kira-kira berlangsung dalam urut-urutan sebagai berikut. Habis sholat Ashar di hari terakhir puasa, ditabuhlah bedug di masjid dan langgar-langgar sebagai penanda bahwa dalam 2-3 jam ke depan hari kemenangan akan segera tiba. Sejurus kemudian, warga sekampung tanpa dikomando akan berbondong-bondong ke kuburan sambil membawa kembang, sabit, dan sapu lidi untuk berziarah dan bersih-bersih makam. Dan, selepas maghrib, suasana kampung akan berubah hiruk pikuk dengan suara takbir bersahut-sahutan, ledakan petasan dari yang segede kelingking sampai kaleng sarden, dan takbir keliling. Anak-anak muda dan dewasa akan begadang semalaman. Ada yang mengumandangkan takbir, sebagian yang lain sekadar jalan muter-muter ndak jelas dari surau ke surau. Kemudian, jam 2 pagi-pagi buta, kami punya tradisi untuk mandi di sendang di pinggiran kampung. Bagi yang belum tahu, yang disebut dengan “sendang” adalah semacam sumber mata air yang membentuk kolam alam berukuran 3x4 meter persegi dengan kedalaman 1 - 1,5 meter.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Jadi, seingat saya, tidak ada acara nungguin sidang isbat dulu melalui tivi atau radio sambil harap-harap cemas seperti kemarin itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Bahwa kadang-kadang ada perbedaan penetapan hari raya antara Pemerintah dengan satu atau dua ormas Islam, jelas sudah lama sekali terjadi. Tidak pernah ada masalah dengan itu. Kita fine-fine saja. Maka, saya heran, sepertinya kok malah hari lebaran yang beda itu yang dicemaskan oleh para elit di atas sana, yang mereka pikir bakalan jadi penyebab konflik di level akar rumput.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Buat saya, problem utama Senin (29/8) kemarin sesungguhnya terletak pada leletnya pemerintah dalam memutuskan apakah Selasa besoknya sudah Lebaran atau kita mesti puasa sehari lagi. Senin lalu, waktu sudah hampir jam 10 malam di Ambon, dan umat Islam di seluruh negeri masih dibikin bingung. Opor dan ketupat sudah pada mateng, rombongan takbir keliling di seantero negeri sudah pada standby dalam resah, jamaah sholat Isyak pada mati gaya mau lanjut tarawih atau takbiran. Dan di Jakarta, Kementerian Agama asyik masyuk sidang isbat nggak kelar-kelar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dan, ketika palu itu diketok Menteri Agama hampir jam 8 malam WIB, bahwa 1 Syawal adalah 31 Agustus, suasana jadi mendadak aneh, minimal di Kramas tempat saya merayakan lebaran tahun ini. Tarawih berjamaah sudah terlalu larut untuk digelar, tadarus sudah tidak ada lagi, tapi takbiran juga tertunda berkumandang. Mercon-mercon kok ya ikut-ikutan tidak jadi disulut, seolah turut berpartisipasi menciptakan sunyi. Seperti ada jeda, puasa sudah kelar tapi lebarannya mesti nunggu sehari. Mungkin hanya perasaan saya saja, tapi suasana malam Selasa kemarin itu bahkan lebih sepi dari malam weekdays di bulan biasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pertanyaan saya selanjutnya, apakah yang begini ini akan terus berulang? Apakah tahun depan nungguin keputusan besok sudah lebaran atau masih puasa akan harus sampai jam 10 malam waktu Jayapura lagi? Kok kasihan bener jadi umat Islam di Indonesia. Dibutuhkan waktu minimal sesiangan untuk bikin ketupat plus motong ayam, nyabutin bulunya, bikin bumbu, dan memasak si ayam menjadi opor siap santap. Untuk open house atau silaturahim halal bihalal habis sholat Ied, catering mesti dipesan paling telat dua hari sebelumnya, nggak bisa dadak-dadakan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sori, saya memang awam tentang agama, tentang bagaimana menentukan bulan baru dalam kalender komariah. Saya hanya tahu, bulan baru itu ditentukan dengan cara melihat bulan sabit pertama kali &lt;i&gt;(hilal)&lt;/i&gt; dalam besaran sudut tertentu. Tapi, saya kira di negeri ini ada ribuan astronom yang jago-jago, dan telah tersedia pula teknologi canggih yang memungkinkan manusia menghitung skenario peredaran bulan dalam presisi yang tinggi bahkan untuk setahun ke depan. Tolong koreksi saya jika saya salah mengenai ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Maka, berhentilah menggunakan cara-cara kuno pakai teropong ketinggalan jaman untuk menentukan tanggal 1 Syawal di saat seharusnya takbir kemenangan sudah bisa dikumandangkan dan masakan khas lebaran sudah rapi tertata di meja makan. Manfaatkan orang-orang pinter yang ngerti mengenai tabiat bulan, gunakan alat-alat yang lebih canggih untuk itu. Allah berfirman bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Kenapa kita justru mengingkarinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-1724362878426944149?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/1724362878426944149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=1724362878426944149' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1724362878426944149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1724362878426944149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/09/andai-ada-alat-untuk-menciptakan-opor.html' title='Sidang Isbat yang bikin mati gaya'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-2332412810054132655</id><published>2011-08-22T09:54:00.008+07:00</published><updated>2011-08-26T11:16:27.083+07:00</updated><title type='text'>Ketika pajak dianggap upeti</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-fareast-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada dasarnya, saya bukan orang yang suka sebel berlama-lama. Jika ada masalah yang bikin saya mangkel, terus saya pakai tidur, ntar ketika bangun, pikiran saya sudah ringan kembali. Tapi entah sayanya yang lagi sensi, atau kasusnya memang kelewatan, kok peristiwa saya dizolimi ketika memperpanjang STNK di Samsat Jakarta Timur Sabtu (20/8) kemaren lusa masih bikin saya mangkel berkepanjangan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Maka, untuk sedikit membantu mengurangi perasaaan mangkel itu, saya ingin ngomongin tentang pajak lagi, tentu dengan analisis yang ala kadarnya, secara saya seumur-umur juga ndak pernah belajar tentang pajak. Gayus Tambunan jelas bukan lawan seimbang buat saya untuk topik yang satu ini.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi begini. Di jaman kerajaan dulu, ada upeti. Di jaman republik seperti sekarang ini, ada pajak. Meski sekilas terlihat serupa, sama-sama menyetorkan uang atau harta benda kepada negara, secara filosofis antara upeti dan pajak adalah dua hal yang teramat berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Upeti adalah simbol kesetiaan dan pengakuan kekuasaan sang raja. Tidak membayar upeti berarti membangkang, dan raja akan menumpasnya dengan kekuatan senjata dan prajurit segelar sepapan. Oleh karena itu, upeti lebih sering dibayarkan dengan terpaksa dan dilandasi rasa takut meski di depan raja tentu mereka harus berpura-pura menghaturkan dengan suka cita. Pembayar upeti menyerahkan upeti itu sambil menyembah takzim, dan sang raja menerima upeti sambil berkacak pinggang jumawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Upeti yang terkumpul adalah milik raja sepenuhnya, dan oleh karenanya, adalah suka-suka dia mau dipakai buat apa. Raja yang bijak akan memakainya untuk mensejahterakan kawula, dan raja yang lalim akan memakainya untuk kesenangan pribadinya. Memelihara ratusan selir, membangun istana semegah-megahnya, berpesta tiap saat, makan yang enak-enak sampai muntah, mengupah hulubalang tentara dan membeli senjata agar rakyat semakin takut kepadanya, dan lain sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pajak, di sisi lain, dibayar oleh rakyat sebagai pemilik sah negara dengan filosofi bahwa “hidup bermasyarakat butuh biaya”. Rakyat perlu urunan untuk menggaji para karyawannya. Dan yang namanya karyawan rakyat itu aduhai banyak jumlahnya, mulai presiden, anggota parlemen, guru, hingga penjaga mercusuar di pantai pulau-pulau terluar. Perlu menggaji tentara dan beli bedil untuk melindungi kedaulatan negara. Perlu mengupah polisi untuk menjaga ketertiban dan menciptakan rasa aman. Butuh membangun bendungan untuk mengairi sawah dan mencegah banjir. Dan seterusnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pajak yang terkumpul tetaplah milik rakyat, dan harus digunakan untuk kepentingan rakyat. Bukan untuk dipakai jalan-jalan keluar negeri dengan bungkus studi banding, bukan pula untuk perjalanan dinas yang outputnya tidak jelas, atau untuk membeli motor voorijder pengawal mobil pejabat yang hanya mau lancar buat diri sendiri sementara jalanan sedang macet berat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Maka, rakyat yang membayar pajak seharusnya dibayangkan seperti majikan yang sedang memberi upah kepada pekerjanya. Warganegara membayar pajak dengan perasaan superior, dan aparat pajak menyambut duit pajak dengan senyum ramah dan rasa terima kasih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tapi di negara tempat para preman bisa bebas berbuat anarkhi berkedok membela agama bernama Indonesia ini, semuanya memang serba kebalik-balik. Bayar pajak dibikin sulit, kesannya justru rakyatlah yang butuh. Sebaliknya, petugas pajak, orang-orang yang diupah negara untuk mengumpulkan uang urunan rakyat itu, acapkali malah berlaku seperti raja yang menerima upeti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jangankan ucapan terima kasih, senyum saja sepertinya tidak merasa perlu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-2332412810054132655?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/2332412810054132655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=2332412810054132655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2332412810054132655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2332412810054132655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/08/ketika-pajak-dianggap-upeti.html' title='Ketika pajak dianggap upeti'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-2216660181505161437</id><published>2011-08-21T06:03:00.007+07:00</published><updated>2011-08-21T06:36:00.331+07:00</updated><title type='text'>Membayar pajak dengan derita</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Hanya terjadi di Indonesia, buronan kasus korupsi dijemput pulang &lt;/span&gt;dengan &lt;span lang="EN-US"&gt;pesawat super mewah, sedangkan warganegara y&lt;/span&gt;an&lt;span lang="EN-US"&gt;g baik dibikin sengsara ketika membayar pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti langsung bisa menebak, siapa buronan yang diperlakukan istimewa itu. Tak lain dan tak bukan&lt;/span&gt;, dialah &lt;span lang="EN-US"&gt;Mas Nazarud&lt;/span&gt;d&lt;span lang="EN-US"&gt;in. Dan, siapakah gerangan warganegara yang &lt;/span&gt;(mencoba) &lt;span lang="EN-US"&gt;baik, yang merasa teraniaya padahal sedang menyumbang negara tadi? Orang itu adalah saya. Heriyadi alias Heri Sagiman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 24 Agustus nanti, motor Honda Vario merah andalan keluarga akan berulang tahun. Itu artinya, sebagai PNS yang pada HUT RI kemarin telah menerima Satyalencana Karya Satya untuk pengabdian tak kenal lelah selama 10 tahun kepada Negara&lt;/span&gt;,&lt;span lang="EN-US"&gt; dan mengemban tugas mulia &lt;/span&gt;sesuai Pancaprasetya Korpri &lt;span lang="EN-US"&gt;untuk menjadi contoh bagaimana menjadi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;orang bijak yang taat pajak&lt;span lang="EN-US"&gt;, saya mesti &lt;/span&gt;ngapel &lt;span lang="EN-US"&gt;ke Kantor Samsat Jakarta Timur untuk &lt;/span&gt;perpanjangan STNK&lt;span lang="EN-US"&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pelayanan di Kantor Samsat Jakarta Timur pernah saya puji di blog ini, yakni ketika saya membandingkannya dengan sistem &lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2008/04/rs-persahabatan-yang-ngajak-musuhan_18.html"&gt;antrian barbar&lt;/a&gt; ala RS Persahabatan. Tahun 2008, kantor ini telah mengadopsi mesin antri yang tinggal pencet terus keluar nomornya. Kemudian, ada tivi 32 inchi yang menayangkan nomor antrian berapa yang sedang dilayani, berikut speaker untuk memanggil pengantri dengan menggunakan rekaman suara perempuan yang lembut mendayu, selaras dengan nomor yang ada di display tadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tapi setelah 3 tahun berlalu, bukannya meningkat, pelayanan di kantor samsat itu justru bikin saya patah hati. Semboyan bahwa "hari ini harus lebih baik dari hari kemarin" hanyalah teori. Meski jelas-jelas parkir di Samsat aturannya gratis, prakteknya tidaklah demikian. Para pengunjung dikasih kartu tanda parkir satu-satu. Dan, ketika semua sdh selesai, di pintu keluar, petugas telah stanby bersiap meminta kembali kartu itu sambil&amp;nbsp; di tangan kirinya tergenggam segepok duit ribuan seperti kernet metromini. Kita orang Indonesia, yg sejak kecil sudah diajari untuk membaca gelagat, pasti tau apa maksud petugas parkir itu menggenggam duit begitu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Antrian di loket. Mesin yang dipencet, kemudian keluar nomor antrian memang masih ada, masih berfungsi, dan masih difungsikan. Tapi, nggak jelas apa maksudnya, pas mengumpulkan berkas, mengambil notice, dan membayar di kasir, wajib pajak dipanggilnya bukan satu demi satu. Sekali panggil langsung 25 orang. Walhasil, yang terjadi selanjutnya adalah tumpukan manusia di depan loket, saling sikut dan saling gencet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dan, ketika tiba saatnya membayar, uang wajib pajak diminta paksa dan praktik kotor itu berlangsung telanjang di depan mata. Dalam kasus saya Sabtu (20/8) pagi kemarin, di notice tertera jumlah yang harus saya bayar adalah 238 ribu. Ketika saya sodorkan pecahan seratus ribuan 3 lembar, kembalian yang saya terima hanya 60 ribu. Ekspresi bapak-bapak petugas di balik loket itu terlihat lempeng. Tidak ada senyum, tidak ada penjelasan apa-apa, tidak ada kata-kata seperti, "maaf, kami kehabisan&amp;nbsp; uang pecahan 2 ribuan" atau "terima kasih telah mengikhlaskan 2 ribu Anda". Wajah Bapak itu sangatlah kalemnya, seolah memalak orang adalah hal biasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ketika saya duduk kembali untuk menunggu STNK siap di loket berikutnya, saya curhat ke Om Om di sebelah saya. Dari cara bicara dan berpakaian, Om ini saya duga adalah pensiunan PNS kelas menengah. Dan tahukah Anda, kasus yang sama rupanya juga menimpanya. "You masih mending, cuma 2 ribu. Saya 13 ribu!". Anda tidak salah baca, kata si Om itu, dia memang dipalak tigabelas ribu rupiah. Ceritanya, yang semestinya dibayar adalah 237 ribu, dan ketika dia sodorkan 3 lembar uang ratusan, kembalian yang dia terima hanya 50 ribu. "Biarin saja, Dik, saya malu ribut-ribut di depan banyak orang", kata si Om tadi ketika saya tanya kenapa nggak protes. Ah, rupanya alasan yang sama dengan alasan saya. Sekali lagi, hanya terjadi di Indonesia, ada tukang palak yang pede beraksi di hadapan banyak orang, sementara korbannya malah yang malu berpanjang-panjang urusan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Waduh. Saya hanya bisa membayangkan, jika sehari ada seribu wajib pajak yang dipalak paksa 2 ribu perak saja, uang hasil jarahan itu sudah akan terkumpul dua juta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Itulah mengapa saya duga, meski teknologinya sudah ada, Samsat enggan menggunakan mesin gesek kartu debet atau kartu kredit. Uang jarahan 2 atau 3 ribu perkepala dari ribuan wajib pajak perhari terlalu aduhai untuk dihentikan begitu saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cfe2f3; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Gimana nih, Jenderal Timur Pradopo? Kok kelakuan anak buah Anda masih begini-begini saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-2216660181505161437?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/2216660181505161437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=2216660181505161437' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2216660181505161437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2216660181505161437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/08/membayar-pajak-dengan-derita_21.html' title='Membayar pajak dengan derita'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-392681644834864080</id><published>2011-08-19T13:33:00.002+07:00</published><updated>2011-08-19T15:29:32.634+07:00</updated><title type='text'>Khotbah yang menyakiti</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Anda yang muslim dan saya, harus meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar di sisi Tuhan. Di Al Qur’an ada ayatnya. Dus, itu firman Allah dan kita dilarang untuk mengingkarinya. Tapi menurut saya, ayat itu sama sekali bukan justifikasi untuk di pagi-pagi buta habis sholat Subuh, Anda ceramah menjelek-jelekkan agama lain memakai pengeras suara masjid yang jelas didengar oleh seisi kampung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saudara-saudara kita yang beragama Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan lainnya pasti punya keyakinan yang sama terhadap agama mereka masing-masing. Maka, perdebatan mengenai keyakinan jelas akan berujung sia-sia. Mengutip ayat itu sambil menjelek-jelekan agama yang berbeda dan didengar jelas oleh para pemeluknya adalah seperti menyanyi lagu Balonku Ada Lima di saat mengheningkan cipta. Tidak ada yang salah dengan ayat itu. Cuma, kesempatan, waktu, dan penggunaannya yang seharusnya lebih bijaksana. Percayalah, seorang pemeluk Katholik tidak akan tiba-tiba menjadi muslim hanya dengan mendengar ceramah ustadz bahwa selama ini mereka memeluk agama yang salah.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Islam seharusnya disebarkan dengan cara yang damai, bukan dengan menebarkan kebencian. Sejarah membuktikan, jazirah Arab menjadi pengikut Muhammad karena kagum akan keluhuran budi dan suri teladan sang Nabi. Tanah Jawa menjadi mayoritas muslim karena syiar toleran para Wali. Bukan melalui perang. Bukan melalui kekerasan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;With great power, comes great responsibility. &lt;/i&gt;Kekuatan yang besar selalu diikuti oleh tanggung jawab yang juga besar. Islam di Indonesia adalah mayoritas, dan oleh karenanya menjadi yang terkuat. Adalah tanggung jawab kita untuk melindungi yang minoritas, bukan malah menindas. Menebarkan kasih, alih-alih kebencian. Dan bersikap santun, bukan malah arogan. Dengan begitu, kita akan dihormati, dan bukan ditakuti. Saya kira Andapun mahfum, hormat dan takut adalah sangat berbeda. Penghormatan didasari oleh ketulusan dan rasa segan, sedangkan ketakutan landasannya adalah kebencian dan dendam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seminggu lalu, ratusan orang anggota FPI mengobrak-abrik warung makan yang tetap buka siang hari di Makassar. Beberapa hari kemudian, massa dari organisasi yang sama menyerbu warung di Cianjur. Yang dijadikan dalih sama, warung-warung makan itu tidak menghormati orang yang sedang berpuasa. Saudara-saudaraku FPI, sejak kapan penghormatan bisa didapat melalui ancaman? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kita memang sedang berpuasa, tidak boleh makan dan tidak boleh minum. Tapi apa hak kita memaksa orang lain untuk juga ikut merasakan lapar. Selalu ada orang yang tidak sedang berpuasa. Saudara-saudara kita pemeluk agama lain, muslimah yang sedang berhalangan, laki-laki muslim yang karena keadaan diijinkan oleh Allah untuk tidak berpuasa, dan lain sebagainya. Maka, sebaiknya juga tidak perlu ada hukum yang melarang orang buka kedai nasi di bulan Ramadhan. Orang-orang itu disuruh makan apa coba, kalau mereka kebetulan tidak masak sendiri atau berstatus sebagai anak kos. Makan Indomie rebus terus-terusan jelas berbahaya bagi kesehatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut saya, tebal tipisnya iman seseorang bisa diukur dari seberapa tahan orang itu menghadapi godaan. Jika Anda laki-laki normal, kemudian Anda terdampar di sebuah pulau terpencil, sendirian. Setelah sekian lama, Anda tidak tergoda untuk berzina, maka terlalu tergesa-gesa untuk menyimpulkan bahwa iman Anda setebal tembok raksasa di China. Ya terang saja tidak tergoda, wong godaan itu memang tidak ada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lain soal jika Anda berada di kamar sebuah hotel, lalu masuklah Kim Kardashian pakai lingerie yang tipis dan menerawang, menari erotis di hadapan Anda untuk kemudian mengajak bercinta. Jika terhadap ajakan gurih dan asoy itu Anda bisa menolaknya, barulah saya akan memberi tepuk tangan yang keras untuk Anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk ketahanan terhadap godaan yang makin besar, Tuhan menjanjikan pahala yang lebih besar pula. Itu kata almarhum Embah Kakung saya. Maka, memaksa warung-warung untuk tutup di bulan Ramadhan, sama artinya Anda tidak pede dengan tebalnya iman Anda dan menghilangkan peluang untuk mendapatkan lebih banyak pahala. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selamat menunaikan ibadah puasa. Mudah-mudahan ibadah yang sedang kita jalankan ini menjadikan kita pribadi yang lebih santun dan toleran. Amin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-392681644834864080?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/392681644834864080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=392681644834864080' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/392681644834864080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/392681644834864080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/08/khotbah-yang-menyakiti.html' title='Khotbah yang menyakiti'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-4265247859005232326</id><published>2011-07-31T08:33:00.001+07:00</published><updated>2011-07-31T08:38:22.520+07:00</updated><title type='text'>Beribadah dengan menyebabkan derita</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-fareast-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;"&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Islam adalah rahmatan lil alamin. Rahmat bagi alam seisinya, termasuk bagi tumbuh-tumbuhan, anjing kurap, binatang berbisa, apalagi sesama manusia. Jadi, jika Anda mengaku diri muslim, lalu Anda beribadah dengan membuat orang lain menderita, percayalah, ada yang salah dengan cara Anda memahahami agama Anda".&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Nabi Sulaiman adalah rasul favorit saya, simply karena sebagai laki-laki normal, saya mendambakan semua yang ada padanya. Seorang raja diraja yang tentu sangat berkuasa. Kekayaan? Bill Gates, apalagi Aburizal Bakrie, jelas bukan tandingannya. Punya istri seribu, cantik-cantik belaka dan mulus semua, bisa digilir kapan saja. Dan ketika ajal tiba, prosesnya begitu mudah tanpa rasa sakit. Dia mati dalam keadaan berdiri, yang bahkan ajudan setianya saja baru ngeh setelah tongkat yang menyangga jenasah Sulaiman lapuk dimakan rayap. Sori, dulu saya lupa bertanya kepada guru agama saya, kenapa itu bisa terjadi. Bukankah normalnya mikroorganisme penghancur jenasah bekerja jauh lebih cepat daripada rayap pemakan tongkat?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Enak bener jadi nabi Sulaiman. Hidup bergelimang harta, tahta, wanita, dan mati masuk surga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Makanya, kalau pas ulang tahun terus ada teman mendoakan begini, ”Selamat ya Her, mudah-mudahan panjang umur, sehat, dan makin disayang sama Allah”, saya selalu minta tambahan doa. Iya, terima kasih. Tapi, doakan juga ya, Allah menyayangi saya secara Sulaiman. Bukan seperti Nabi Ayub yang disayang dengan kemiskinan, kelaparan, dan penyakit. Kalau Ayub mah tahan-tahan saja disayang dengan cara begitu. Dasarnya rasul, dia bahkan meminta tetap dibuat miskin semata-mata karena takut jika harta malah akan menjauhkannya dari Allah. Ayub justru bahagia dalam kemiskinan. Kalau saya? Jangan dong, pliiisss....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Satu lagi anugerah buat Sulaiman yang bikin saya mimpi jadi dia adalah kemampuan memahami bahasa binatang. Alkisah, Sulaiman sedang memimpin satu batalyon tentara untuk meninjau wilayah kekuasaannya. Di tengah jalan, tiba-tiba dia memberi aba-aba untuk berhenti, hening sejenak, dan kemudian jatuh perintah untuk meneruskan perjalanan dengan sedikit berbelok. Rupanya di jalan yang semula akan dilalui pasukan, ada lubang semut, dan Sulaiman mendengar semut-semut di situ berteriak heisteris karena takut terinjang-injak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Nah, Ibu dan Bapak sekalian, dengan pembukaan ngalor ngidul sepanjang ini tadi, sesungguhnya saya hanya ingin membahas insiden Nabi Sulaiman vs semut. Pesan moral dari kisah ini menurut saya adalah, bahkan kepada semut, binatang kecil yang sering kita anggap tidak ada artinya, Islam seharusnya menjadi penebar rahmat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dalam satu kesempatan, Kanjengan Nabi Muhammad bersabda, “Tidak dianggap sebagai orang beriman, apabila kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara para tetangga kamu kelaparan di samping kamu”. Buat saya, hadits ini kira-kira bisa dibaca begini. Meskipun sholat kenceng, puasa polpolan, tahajud tiap malem, Anda bukanlah muslim yang baik jika Anda cuek dengan sesama. Dalam Islam yang saya yakini, hubungan dengan Allah memang penting, tapi hubungan dengan manusia juga tak kalah penting. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahkan tidak peduli saja dilarang, apalagi jika bikin orang lain sengsara. Maka, membaca &lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2011/07/30/193856/1693012/10/ada-tabligh-akbar-jl-tanjung-barat-arah-depok-macet-total"&gt;berita di detikcom&lt;/a&gt; tadi malam ada tabligh akbar oleh gabungan beberapa ormas dengan menutup jalan raya, saya jadi bertanya, seandainya Kanjeng Nabi masih ada, beliau bakalan hepi ataukah murka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tabligh akbar, di tengah jalan raya yang tidak ada apa-apapun sudah langganan macet, dan membuat ribuan kendaraan terkunci 5 jam, saya segera membayangkan ribuan orang yang hanya bisa meneriakkan sumpah serapah atau hanya bisa pasrah. Ada ibu hamil yang sudah pecah ketuban yang harus segera melahirkan, pasien stroke yang butuh pertolongan segera, orang tua yang sudah sangat ditunggu-tunggu dengan cemas oleh anak-anaknya, dan calon penumpang pesawat yang butuh segera sampai di bandara. Mana yang lebih berat timbangannya, pahala dari mereka berzikir, ataukah dosa dari mereka menyengsarakan ribuan orang?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-4265247859005232326?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/4265247859005232326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=4265247859005232326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4265247859005232326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4265247859005232326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/07/beribadah-dengan-menyebabkan-derita.html' title='Beribadah dengan menyebabkan derita'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-5203367419472813053</id><published>2011-07-17T10:19:00.004+07:00</published><updated>2011-07-17T10:59:08.391+07:00</updated><title type='text'>Ucapan terima kasih yang berbeda makna</title><content type='html'>&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Kamis, 14 Juli 2011, saya naik Garuda dengan nomor penerbangan GA186 dari Jakarta menuju Medan. Pas mendarat di Polonia, setelah penumpang dibuat emosi karena check in-nya lama bener, ruang tunggu di pindah2 spt penumpang metromini 49 Pulogadung-Manggarai, setelah delay lebih dari satu jam, pramugara seperti biasa mengucapkan sambutan perpisahan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;"... bla, bla, bla; thank you for flying WITH Garuda Indonesia".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sabtu, 16 Juli 2011, kembali saya naik Garuda, kali ini dengan nomor penerbangan GA185 dari Medan tujuan Jakarta. Pas mendarat di Soekarno-Hatta, pramugari --juga seperti biasa-- mengucapkan sambutan perpisahan: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;"... bla, bla, bla; thank you for flying Garuda Indonesia". Tanpa with.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Loh, kok beda-beda? Dulu, waktu pertama kali naik Garuda, salam perpisahan adalah spt yang ke-2, yang tanpa with itu. Kata seorang kolega senior di Bappenas yang belajar bahasa Inggris belasan tahun di Amerika, dus bahasa Inggrisnya sudah pasti bagusnya, secara gramatikal tidak ada yang salah dari keduanya. Hanya, maknanya jauh berbeda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Flying with Garuda berarti "terbang bersama Garuda". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sedangkan, flying Garuda berarti "menerbangkan Garuda", dengan filosofi yang lebih humble. Dengan itu, mereka seolah mengatakan,"Para penumpang sekalian, terima kasih telah menerbangkan Garuda. Tanpa Anda, kami tidak akan bisa terbang". Anda adalah raja dan ratu, kami adalah pelayan Anda. Andalah yang sejatinya menerbangkan Garuda, bukan kami. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Jadi, mana menurut Anda yang lebih enak dirasakan? Saya kok lebih merasa nyaman dengan yang ke-2 meski, sekali lagi, tidak ada yang salah dengan yang pertama. Rasanya tuh lebih dihargai, diterima, dan diuwongke. Dan, dalam pergaulan di masyarakat, adakah perasaan yang lebih menyenangkan dari ketiga perasaan itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Perkara para penumpang yang disanjung-sanjung itu kemudian ternyata adalah penumpang katrok dan berperilaku ndeso, ah itu hal yang lain lagi. Katrok yang saya maksud adalah tidak sabaran menyalakan hape bahkan sebelum pesawat masih kencang melaju di darat setelah landing. Pengumuman sudah jelas, dalam dua bahasa pula, sehingga mustahil orang tidak paham, "jangan dulu menyalakan telepon genggam Anda sebelum sampai di ruang kedatangan!". Apa harus juga pakai bahasa daerah ya, biar pada ngerti semua maskudnya? Misalnya gini, "Hapemu ki mbok ojo kok uripke sik to, Su!".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Hapenya pun mahal-mahal keluaran terbaru, baju yang dipakai bermerek, parfumnya juga mahal, pemiliknya pastilah dari kelas sosial tinggi, pendidikan juga minimal sarjana. Tapi apa boleh buat, di sini, di negara yang &lt;/span&gt;&lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/05/mengobati-diabetes-dengan-melahap-gula.html"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;hipertensi diyakini sembuh dengan sate kambing&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt; dan gulai jerohan sapi ini, tingginya pendidikan dan kelas sosial memang tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesantunan berperilaku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Ah, malah jadi ngelantur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-5203367419472813053?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/5203367419472813053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=5203367419472813053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5203367419472813053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5203367419472813053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/07/ucapan-terima-kasih-yang-berbeda-makna.html' title='Ucapan terima kasih yang berbeda makna'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-4017578711706450866</id><published>2011-07-16T07:15:00.005+07:00</published><updated>2011-07-16T07:45:09.863+07:00</updated><title type='text'>Ajaran sesat lagu anak-anak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-yhi3OMGUnzM/TiDXVMCBMoI/AAAAAAAAABo/HrRbVhnRWxI/s1600/Pelangi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-yhi3OMGUnzM/TiDXVMCBMoI/AAAAAAAAABo/HrRbVhnRWxI/s320/Pelangi.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ontoseno, anak saya yang &lt;i&gt;ragil &lt;/i&gt;(bungsu) bulan Juli ini sudah akan memasuki usia 3 tahun. Anak itu makin getol belajar menyanyi. Tidak seperti kakaknya yang dulu hobi lagu-lagu dewasa (bayangkan, anak umur 3 tahun apal di luar kepala lagu Teman Tapi Mesra-nya duo Ratu  dan Kenangan Terindah-nya Samsons dan malah nangis kejer kalau disetelin Libur Tlah Tiba-nya Tasya), si Ontoseno lebih menyukai lagu anak-anak sesuai perkembangan usianya. Dia sudah hafal Cicak-cicak di dinding, Satu satu aku sayang Ibu, dan Balonku ada lima, meski dengan suara yang masih kurang pas nada-nadanya dan pelafalan syair yang masih perlu terus dibenahi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang membuat saya rada gamang, kalau kita perhatikan dengan seksama, lagu anak-anak abadi yang dulu juga sering kita nyanyikan itu, syair-syairnya banyak yang salah, menyesatkan, dan ngajari nggak bener. Berikut ini adalah contohnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;1. Pelangi pelangi.&lt;/b&gt; Coba kita simak penggalan syairnya berikut ini:&lt;i&gt;Pelangi pelangi, alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru, pelukismu agung siapa gerangan, pelangi pelangi ciptaan Tuhan.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lagu ini menyesatkan setidaknya dalam  tiga hal. Pertama, pada bagian "merah kuning hijau di langit yang biru". Warna pelangi, tidak di Jakarta tidak di Jombang, itu ada 7 yang biasa disingkat me-ji-ku hi-bi-ni-u. Dus, tidak hanya merah, kuning, dan hijau. Merah kuning hijau adalah warna traffic light, dan pesawat Lion Air jurusan Jakarta-Medan jelas tidak memerlukan traffic light di ketinggian 36.000 kaki. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kedua, jika kita mengingat peajaran IPA pas SD dulu, pelangi terbentuk dari sinar matahari yang dibiaskan oleh awan di atmosfer. Maka, pelangi hanya terjadi dalam keadaan langit berawan. Tidak mungkin "...di langit yang biru". Harusnya, di langit yang putih, kelabu, atau kehitam-hitaman, tergantung warna awannya (mohon lihat contoh foto di atas).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ketiga, lagu ini sadar atau tidak, mendidik anak-anak untuk tidak menghargai hak cipta. Sudah jelas lagu pelangi-pelangi adalah ciptaan AT. Mahmud, la kok dibilang ciptaan Tuhan. Kalau mau dirunut-runut sih, semua memang ciptaan Tuhan. Mungkin karena lagu ini, sekarang kita jadi suka menggunakan produk bajakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;2. Menanam jagung.&lt;/b&gt; Lagu ini sepertinya diciptakan oleh orang yang seumur-umur tidak pernah menanam jagung. Coba simak penggalan syair berikut: &lt;i&gt;"...cangkul, cangkul, cangkul yang dalam; menanam jagung dikebun kita"&lt;/i&gt;. Di mana-mana, cara menanam jagung yang benar adalah dengan membuat lubang di tanah sedalam maksimal 7 cm menggunakan kayu berdiameter tak lebih dari genggaman tangan yang diruncingi ujungnya spt pensil. Satu sampai 3 butir jagung dimasukkan ke situ, habis itu ditutup dengan tanah agar si biji aman tidak dipatok ayam. Jadi, nggak perlu susah-susah pakai cangkul apalagi menggali tanah dalam-dalam. Emangnya mau bikin sumur?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lalu, ada bagian yang berbunyi: &lt;i&gt;"beri pupuk supaya subur,.. Subur daunnya, lebat buahnya,.."&lt;/i&gt; Hal ini semakin jelas menunjukkan bahwa si pengarang tidak survei dulu ke lapangan sebelum menulis lagu. Selebat apapun pohonnya, yang namanya jagung, buahnya hanya akan ada satu (atau maksimal 2 pada varietas baru). Jadi, mau pupuknya setruk, buahnya tetap tidak akan lebat menuh-menuhin pohon seperti rambutan atau mangga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;3. Naik kereta api.&lt;/b&gt; Boleh jadi, lagu inilah yang jadi sebab kenapa KRL di Jabodetabek dan kereta jarak jauh seperti Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Semarang dipenuhi penumpang gelap. Syairnya sungguh provokatif dan merugikan PT KAI: &lt;i&gt;“ke Bandung, Surabaya; bolehlah naik dengan percuma (alias gratis)”&lt;/i&gt;. La wong naik kereta api kok gratisan lo, &lt;i&gt;emange sepure Mbahmu po?&lt;/i&gt; (memang ini kereta api moyang Loe?) &lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;4. Desaku.&lt;/b&gt; Syair lengkapnya: &lt;i&gt;Desaku  yang kucinta, pujaan hatiku, tempat ayah dan bunda, dan handai tolanku. Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan, desaku yang permai.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lagu ini tidak tepat diklaim sebagai lagu anak-anak. Merindukan sesuatu itu artinya si penutur sedang berada di suatu tempat untuk waktu yang lama. Susah saya membayangkan, bagaimana seorang anak kecil hidup sendirian di luar kota, jauh dari ayah, bunda, dan handai taulan. Tega benar sih, ayah dan bundanya. Mereka enak-enakan tinggal di desa yang permai, sementara si anak yang masih sangat belia disuruh merantau ke kota.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Begitulah tulisan ngawur ini. Sebagian di antara ulasan di atas--terutama untuk menanam jagung dan naik kereta api--sesungguhnya sudah lama ada dan oleh karenanya saya tdk berpretensi utk mengklaim itu sebagai ide saya. Tapi memang bukan itu intinya. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk lain kali lebih berhati-hati dalam menulis lagu, terutama lagu anak-anak, karena boleh jadi itu akan sedikit banyak membentuk karakter generasi bangsa ini di masa yang akan datang (halah, opooo...?).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-4017578711706450866?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/4017578711706450866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=4017578711706450866' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4017578711706450866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4017578711706450866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/07/ajaran-sesat-lagu-anak-anak.html' title='Ajaran sesat lagu anak-anak'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-yhi3OMGUnzM/TiDXVMCBMoI/AAAAAAAAABo/HrRbVhnRWxI/s72-c/Pelangi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-4480283693175677063</id><published>2011-06-15T15:06:00.005+07:00</published><updated>2011-07-27T12:08:08.385+07:00</updated><title type='text'>Pemarah yang penakut</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:10.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-ansi-language:EN-US;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Kalau hanya tersedia &amp;nbsp;dua pilihan: jadi perokok pasif untuk 20 menit atau muka saya bonyok ditonjok orang, tentu saya pilih yang pertama saja".&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;Banyak teman yang bilang, saya ini orang yang nggak bisa marah. "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kamu itu kok sabaaaar banget to&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;, Mas," kata Yuni dan Alin, tetangga sebelah kamar saya di Rotterdam. "Aku paling nggak bisa ngebayangin gimana tampang Heri kalau ngamuk. Habis, diapa-apain diem aja," kata Pak Haryo, kolega senior seruangan di Bappenas. Di mata mereka, saya ini penyabar &lt;i&gt;to the max. &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;Tapi, tahukah Anda, saya sebetulnya tidak semulia itu. Saya adalah orang yang sesungguhnya sangat mudah dibuat geram bahkan oleh sesuatu yang barangkali menurut Anda sepele.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;Saya, misalnya, sangat bisa menjadi geram hanya karena pas ngantri panjang isi bensin motor Honda Vario andalan di SPBU terus motor di depan saya dibiarkan menyala oleh pemiliknya. Apalagi kalau motor itu suaranya berisik di kuping, asapnya mengepul bikin pedes mata dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bikin &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;eneg kalau sudah kesedot hidung. Setiap kali motor di ujung sana kelar dilayani dan antrian bergerak sejengkal, motor di depanku itu geser juga sejengkal dengan gas ditarik sedikit, begitu seterusnya. Sering saya membatin, orang kok males bener, sampai geser motor di lintasan datar sejengkal saja--yang butuh energi pasti tidak sampai 1 kilo kalori--ogah pakai tenaga sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;Kalau ditegur, mungkin biker itu akan bilang gini. "Ini motor, motor gue. Bensin juga gue sendiri yang bayar, kagak minta dibeliin sama moyang loe. Terserah gue dong ni motor mau gue nyalain kapan aja." Persis seperti stiker yang nempel di spakbor di bawah pelat nomor, &lt;i&gt;motor aing kumaha aing &lt;/i&gt;(bahasa Sunda, katanya sih artinya kira-kira: &lt;i&gt;motor gue, suka-suka gue&lt;/i&gt; &lt;i&gt;dong&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;Saya juga mudah sekali sebel sama tamu hotel yang karena merasa sudah bayar, terus sewenang-wenang jor-joran make air, listrik, tivi, dan nyalain AC bahkan ketika kamar ditinggal keluar seharian. "Biarin, terserah gue, toh sudah gue bayar," adalah justifikasi egois paling konyol yang pernah saya dengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;Ini adalah khas pikiran orang-orang egois yang pusat dunia terletak di "saya". Pengetahuan bahwa dengan memboroskan listrik sama dengan mubazirin bahan bakar fosil, nyalain AC padahal ruangan dibiarkan kosong berarti menzalimi lapisan ozon, menyalakan motor pada saat mengisi BBM adalah menyumbang polusi; sepertinya harus puas hanya menjadi pengetahuan yang jauh dari diamalkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;Saya juga mudah sekali tersulut emosi ketika menemukan orang, entah penumpang, kernet, atau malah sopirnya sendiri, yang merokok di dalam angkutan umum sembari menebar racun ke seluruh penumpang. Buat orang-orang macam ini, teori bahwa merokok sejatinya adalah aktivitas sosial dan bukan aktivitas individu tentulah tidak pernah terlintas di benak mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;Saya selalu berada dalam dilema menghadapi perokok dalam angkutan umum model begini. Mau turun saja, saya sudah kadung bayar ongkos. Mau didiemin, tersiksa. Cilakanya, mau negur, saya juga selalu tak punya cukup nyali. Ini karena trauma masa lalu yang hingga kini masih terus menghantui. Syahdan, saya pernah negur orang yang merokok di dalam metromini 49 jurusan Manggarai-Pulo Gadung. Bukannya minta maaf, saya malah ditantang berkelahi. Mana si Mas itu badannya kekar, item, sangar, ada tatonya pula gambar ular kobra di jidatnya. Jelas, saya langsung mengkeret. Saya, yang dari kecil hidup dalam keluarga bahagia, dan dididik untuk anti-kekerasan--dan menyukai kekenyalan--, jelas bukan lawan seimbang bagi preman model beginian. Realistis saja, kalau hanya tersedia &amp;nbsp;dua pilihan: jadi perokok pasif untuk 20 menit atau muka saya bonyok ditonjok orang, tentu saya pilih yang pertama saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;Ngomong-ngomong tentang merokok di angkutan umum, saya kok jadi ingat pengumuman simpatik cerdas yang pernah saya temukan di Kaskus. "Kami tidak melarang Anda merokok di sini, tapi mohon asapnya ditelan". Itu pengumuman sangat brilian, menurut saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: small;"&gt;Kesimpulannya adalah, bukannya saya penyabar dan tidak mudah marah. Saya ini pemarah, tapi selalu takut jika kemarahan itu saya turuti, akibatnya justru akan merugikan saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-4480283693175677063?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/4480283693175677063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=4480283693175677063' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4480283693175677063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4480283693175677063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/06/pemarah-yang-penakut.html' title='Pemarah yang penakut'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-1274903406544996690</id><published>2011-06-13T14:39:00.002+07:00</published><updated>2011-06-13T16:27:37.458+07:00</updated><title type='text'>Seribu hari Bapak pergi</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5COwner%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-fareast-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:21.0cm 842.0pt;	margin:70.9pt 70.9pt 70.9pt 70.9pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Selasa Pon, 14 Juni 2011 ini, genap seribu hari sudah ayah saya, Sagiman bin Samidjan, &lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2008/09/in-memoriam-bapak.html"&gt;dipanggil pulang&lt;/a&gt; oleh Yang Mahakekal. Nun di Kramas, kampung halaman saya di Semarang sana, sebuah upacara sederhana--namun mudah-mudahan khidmat--digelar. Sebagaimana masyarakat muslim tradisional Jawa pada umumnya, upacara peringatan nyeribu hari adalah rangkaian terakhir yang perlu dilaksanakan oleh sebuah keluarga yang salah satu anggotanya meninggal. Sebelumnya, ada tahlilan pada hari pertama s.d. ke-7. Terus 40 hari, lalu 100 hari, dilanjutkan satu tahun, dua tahun, dan terakhir 1.000 hari itu tadi. Inti acaranya sih kurang lebih sama, yakni tahlilan, baca surah Yasin, dan memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk memohonkan ampun bagi almarhum sekaligus meminta agar Dia sudi menerima amal ibadahnya selama hidup di dunia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Oleh beberapa kelompok aliran agama Islam, rangkaian ritual yang kusebutkan di atas dianggap bid’ah karena Rasulullah tidak pernah mengajarkan, sebagian lagi bahkan mengharamkan. Kalau saya sih termasuk yang asik-asik aja. Wong ya tujuannya baik, niatnya juga baik lo. Baca Qur’an atau Yasin, diperintahkan. Berdoa memohonkan ampun orang yang sudah meninggal, sangat dianjurkan. Mengundang tetangga kiri kanan untuk saling bersilaturahmi, amat direkomendasikan. Dan motong kambing, dimakan bersama-sama dalam suasana guyup rukun, juga nggak ada ayat yang melarang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam penanggalan Jawa, pergantian hari adalah ketika matahari terbenam. Dus, Senin (13/6) sore ini sudah dianggap sebagai hari Selasa. Sehingga, acara tahlilan seperti kusebutkan tadipun juga rencananya digelar malam ini. Ketika kutelepon ini barusan, Mas Harsono &lt;i&gt;kangmas&lt;/i&gt; saya yang &lt;i&gt;mbarep&lt;/i&gt; (sulung) bilang bahwa seekor kambing sudah dipotong, Ibuk juga sudah pulang dari pasar beli segala keperluan, dan sekarang ini semuanya sedang dalam tahap masak-memasak dibantu oleh tante-tante saya dan Ibu-ibu tetangga kiri kanan. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar sesuai rencana.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sebenarnya, jauh-jauh hari Ibuk sudah wanti-wanti agar saya bisa ikut bergabung dengan tahlilan malam nanti. “Kamu bisa pulang kan, &lt;i&gt;Le&lt;/i&gt;?”, tanya Ibuk sebulan lalu. Tapi karena alasan klise, banyaknya pekerjaan kantor yang tidak bisa begitu saja ditinggal dan si Wisanggeni kok ya ngepas banget sedang ujian kenaikan kelas, beberapa hari lalu saya terpaksa bilang ke Ibuk tidak bisa ke Semarang dan hanya bisa kirim doa dari Jakarta saja. Terdengar nada kecewa di seberang sana, dan saya sangat bisa membayangkan ekspresi beliau kalau sudah kecewa begitu, tanpa harus melihatnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sedih sih sebenarnya. Tapi saya yakin, Allah mendengar doa saya dari belahan bumi manapun doa itu saya panjatkan. Mudah-mudahan, seandainya bisa melihat dari alam sana, Bapak justru bangga karena menjadi PNS yang berdedikasi dan ayah yang bertanggung jawab adalah prinsip yang dulu setiap waktu beliau wasiatkan kepada saya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ketika saya posting tulisan ini di sini, ada kerinduan luar biasa kepada Bapak. Juga kangen yang tak tertahankan kepada Ibuk. Semoga Bapak sedang nyantai bahagia di sana, bersama para malaikat yang ramah menemaninya. Dan Ibuk, mudah-mudahan beliau terus dikasih sehat dan panjang umur, agar selalu dapat menyambutku dengan senyum dan elusan lembut di kepalaku setiap aku berkesempatan pulang ke dalam peluknya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku. Kasihanilah mereka, sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu aku masih kecil. &lt;/i&gt;Amin.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-1274903406544996690?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/1274903406544996690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=1274903406544996690' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1274903406544996690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1274903406544996690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/06/seribu-hari-bapak-pergi.html' title='Seribu hari Bapak pergi'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-4602201916429309860</id><published>2011-06-07T08:43:00.000+07:00</published><updated>2011-06-07T08:43:19.568+07:00</updated><title type='text'>Negeri orang-orang egois</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;Buat Anda para pemotor, alasan mengapa Anda harus menyalakan lampu bahkan di siang hari, adalah agar Anda bisa selalu terlihat. &lt;u&gt;Bukan&lt;/u&gt; agar Anda dapat melihat. Jadi, sekalipun Anda mempunyai mata setajam burung hantu, itu bukan pembenaran untuk pagi-pagi buta naik motor ngebut melawan arus tanpa menyalakan lampu!&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Karena mesti datang ke kantor jauh lebih awal dari biasanya untuk satu dan lain hal, ini tadi jam lima pagi saya sudah mruput berangkat. Jalan-jalan masih gelap. Lagi enak-enaknya memacu kendaraan karena kondisinya yang masih lumayan lancar, tau-tau dari arah berlawanan, ada motor ngebut sambil dengan sangat percaya diri melaju tanpa lampu. Kecelakaan sih tidak karena refleksku yang masih lumayan bisa diandalkan, tapi tak ayal jantung ini rasanya mau copot.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Di sisa perjalanan ini tadi, sambil terus memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa telah terhindar dari kecelakaan konyol yang tidak perlu, saya juga tak henti-hentinya prihatin akan betapa Indonesia negera tercinta kita bersama ini kian hari kian dipenuhi oleh orang-orang egois. Seperti &lt;em&gt;biker &lt;/em&gt;pemberani tadi, sikap egois itu berwujud: "yang penting gue bisa ngelihat loe, tak peduli loe bisa ngelihat gue apa kagak".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Egois, seperti Anda tahu, adalah sikap untuk melihat segala sesuatu dari kacamata diri sendiri. Saya adalah pusat dari segalanya, dan Anda hanyalah penggembira. Saya pemeran utama, Anda figurannya. Dan di sini, sikap egois itu makin menjadi primadona. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Pejabat dengan kawalan &lt;em&gt;voorijder &lt;/em&gt;di jalan raya, “Biarin semua orang pada frustasi kejebak macet di mana-mana, asal gue lancar jaya tak kuang suatu apa”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Koruptor, “egepe negeri ini bangkrut, yang penting gue kaya raya”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Pemilik mobil yang membuang sampah dari balik kaca, “peduli setan jalanan jorok penuh sampah, asal mobilku bersih tanpa cela”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Orang tolol sok jagoan yang merokok di metromini, “biarlah kalian keracunan mati pelan-pelan, yang penting gue asyik dengan rokok di setiap hisapan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Angkot yang ngetem sembarangan di perempatan, “biarlah semua orang sengsara jalanan mampet, yang penting setoran gue aman”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Dan masih banyak lagi yang lainnya.... &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Apa boleh buat, level dari bangsa ini memang baru segini. Jan, kere tenan!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-4602201916429309860?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/4602201916429309860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=4602201916429309860' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4602201916429309860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4602201916429309860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/06/negeri-orang-orang-egois.html' title='Negeri orang-orang egois'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-4013128071233719131</id><published>2011-05-30T12:19:00.006+07:00</published><updated>2011-06-03T22:16:09.178+07:00</updated><title type='text'>Mengobati Diabetes dengan Melahap Gula</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-sSspgRAimpA/Tej5gqiTnQI/AAAAAAAAABk/4-NlHIWbFM8/s1600/Gebyar_BCA.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-sSspgRAimpA/Tej5gqiTnQI/AAAAAAAAABk/4-NlHIWbFM8/s320/Gebyar_BCA.jpg" width="219" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Semua orang sudah tahu, paling telat tahun 2014 Jakarta lumpuh total. Semua orang telah mahfum, sebab dari kelumpuhtotalan itu adalah tak terkendalinya pertambahan kendaraan pribadi di satu sisi dan buruknya layanan angkutan umum di sisi yang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dari anak kecil sampai kakek-nenek juga pasti ngerti, solusi paling jitu untuk mencegah kelumpuhan Jakarta adalah dengan membatasi kendaraan. Bayangkan, setiap hari berganti, Jakarta ketambahan 1.172 kendaraan pribadi yang terdiri dari 186 unit mobil dan 986 unit motor.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tapi, ini adalah kisah tentang sebuah negeri yang gemar melakukan penghancuran diri. Di sini, &lt;span lang="EN-US"&gt;diabetes diobati dengan sebanyak mungkin menelan gula&lt;/span&gt; dan h&lt;span lang="EN-US"&gt;ipertensi di&lt;/span&gt;yakini &lt;span lang="EN-US"&gt;sembuh dengan tongseng kambing&lt;/span&gt; dan gulai&lt;span lang="EN-US"&gt; jerohan sapi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sudah tau macet hebat hanya bisa sembuh dengan membatasi jumlah kendaraan, tapi apa yang orang lakukan di sini? Hadiah bagi pemenang Gebyar Tahapan BCA adalah 5 unit Mercedes Benz S 350 L, 100 mobil Toyota Yaris, dan 1.000 motor Yamaha. Hadiah bagi pemenang Mandiri Fiesta adalah 50 Toyota New Camry, 200 Toyota Innova, dan 4.200 Motor Honda! BNI setali tiga uang dengan program “rejeki BNI taplus”-nya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-eV8Pgma2CV8/Tej4fukarlI/AAAAAAAAABg/ugvMJPtbRcQ/s1600/IMG00100-20110602-1045.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://4.bp.blogspot.com/-eV8Pgma2CV8/Tej4fukarlI/AAAAAAAAABg/ugvMJPtbRcQ/s200/IMG00100-20110602-1045.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Iming-iming bagi pembeli rumah atau ruko di kawasan Harapan Indah Bekasi yang beruntung adalah dua unit Toyota Alphard. Di negeri paling lucu di dunia ini, jualan hape, cat tembok, teh botol, kacang kulit, kondom, bahkan celana dalam &amp;amp; BH; agar laku, sepertinya nggak afdol kalau nggak bikin promosi dengan hadiah kendaraan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Itu tadi dari kalangan perbankan dan dunia usaha. Tak mau ketinggalan, Pemerintah sepertinya juga bersemangat untuk turut menyukseskan program “Ayo lumpuhkan Jakarta!”. Saya sendiri tak habis pikir, regulasi yang saat ini jadi primadona Pemerintah untuk dibahas dan diberlakukan adalah regulasi tentang produksi mobil murah. Jalan tol dibangun demi kepentingan mobil pribadi. Jalan-jalan layang didirikan, juga untuk kendaraan pribadi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dari tukang tambal ban sampai artis sinetron kejar tayang juga tahu, resep paling ampuh bagi kemacetan Jakarta adalah dengan menyediakan angkutan umum murah, nyaman, aman, dan tepat waktu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tapi, dari dulu sampai sekarang, jumlah kendaraan umum tidak juga bertambah. Tahun 2003 saja, persentasenya hanya 2% dari total jumlah kendaraan bermotor yang ada, dan cenderung terus berkurang. Dan yang sedikit itupun kondisinya kian hari kian memprihatinkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Di Kompas hari Minggu (29/5), ada berita Metromini jurusan Klender-Cililitan menyeruduk rumah warga. Batang setirnya patah sehingga metromini itu kehilangan kendali. Diceritakan, metromini itu--seperti umumnya metromini di Jakarta--telah berusia antara 20-30 tahun. Penggantian suku cadangnya adalah dengan cara kanibal. Dari situ saya jadi maklum, mengapa kebanyakan metromini dan bus-bus di Jakarta tampangnya bobrok menyedihkan, bodinya keropos kalau nyantol orang bisa tetanus, suaranya jauh dari merdu, dan asap knalpotnya hitam penuh racun yang membunuh pelan-pelan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Belum lagi perilaku barbar supir dan kernetnya. Ngetem seenaknya, ugal-ugalan, main oper penumpang suka-suka, menaik-turunkan penumpang serampangan. Horor itu makin lengkap dengan kehadiran pengamen yang main ancam, copet yang bekerja rombongan, dan cowok sakit yang hobi menempelkan kemaluan di pantat penumpang perempuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Maka, menjadi penumpang angkutan umum di ibu kota adalah kutukan yang ingin dihindari sejauh bisa dilakukan. Memiliki mobil pribadi adalah dambaan setiap insan, peduli setan dengan macet yang makin tidak tertahankan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sementara itu, pejabat di atas sana punya solusi praktis namun egois. Ketimbang mengerahkan segenap daya upaya mengatasi macet dan membuat nyaman rakyat yang telah menggajinya, mereka lebih memilih cuek beibeh. Mungkin karena sepanjang jabatan itu masih ada dalam genggaman, selama itu pula kemacetan tidak pernah mereka rasakan. Biarlah jalanan macet, yang penting gue lancar. Caranya? Pakai voorijder, habis perkara!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-4013128071233719131?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/4013128071233719131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=4013128071233719131' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4013128071233719131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4013128071233719131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/05/mengobati-diabetes-dengan-melahap-gula.html' title='Mengobati Diabetes dengan Melahap Gula'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-sSspgRAimpA/Tej5gqiTnQI/AAAAAAAAABk/4-NlHIWbFM8/s72-c/Gebyar_BCA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-8931156464567698614</id><published>2011-05-16T01:04:00.006+07:00</published><updated>2011-05-20T14:32:11.469+07:00</updated><title type='text'>Kamu membuatku iri</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pas chatting pakai Fesbuk dengan seorang teman lama yang sudah berabad-abad tidak berjumpa, si teman itu tiba-tiba bilang gini. “Wah, enak ya Her, jadi kamu. PNS, kerjanya nyantai, gaji gede, bisa kerja sambil mainan Fesbuk. Ntar kalau sudah pensiun, dapat uang pensiun pula. Bener-bener kayak di surga”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Ah, andai dia tau, betapa saya juga iri sama dia...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Teman saya itu orang Jogja. Dia bercerita punya sebuah kafe yang lumayan eksis di jalan Kaliurang dan laundry kiloan yang tak pernah sepi di dekat kampus Atmajaya. Itu belum semua. Masih ada toko alat tulis dan fotokopi yang juga selalu ramai pembeli di pinggir Selokan Mataram. Penghasilanku, penghasilan Korpri kelas kambing, yang hanya satu setrip di atas UMR DKI ini, tentu tidak ada apa-apanya dibanding revenue dia dari bisnis-bisnisnya itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Teman itu iri pada saya karena hidup saya, di dalam benaknya, adalah hidup yang enak belaka. Tidak perlu pusing mikir kelangsungan usaha dan ancaman kompetitor. Sebaliknya saya, iri sama dia karena dia tidak harus frustasi dengan kemacetan dan banjir Jakarta, tidak terikat oleh jam kerja, tidak harus pusing dengan saldo rekening tabungan yg tiap tanggung bulan bikin berdebar-debar cukup enggaknya, dan tidak pula mesti capek hati menghadapi bos di kantor yang jalan pikirannya tidak selalu mudah dipahami. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kerja nyantai dan gaji gede, dua hal yang membuat dia iri padaku, masih perlu diperdebatkan kebenarannya. Sedangkan kerja sambil Fesbukan? Siapa sih, orang yang nggak bisa begitu sekarang ini. Wong pembokat saja bisa terus ngeksis di Fesbuk sambil menyetrika baju majikannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Benar kata orang, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sudah dari sononya, kita adalah makhluk yang kalau melihat diri sendiri yang dilihat tuh cenderung yang pahitnya saja. Sebaliknya, ketika melihat orang lain, yang terus-terusan diperhatikan adalah yang manisnya belaka. Setelah itu, berkhayal akan betapa bahagianya kita jika yang enak-enak pada orang lain itu terjadi pula pada kita. Padahal, sudah jadi hukum Tuhan juga bahwa dibalik yang enak-enak yang membuat kita iri, yang gemerlap menyilaukan, pasti terdapat sisi nggak enak juga yang sering luput kita sadari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Orang yang sedang dibuat sengsara jadi penumpang metromini akan membayangkan bahwa orang yang punya mobil pastilah enak setengah mati. Kemana-mana adem pakai AC, hujan tidak kebasahan. Barulah ketika mobil itu mampu dia beli, enak sih enak, tapi enaknya tidak akan sampai level "setengah mati" seperti bayangan semula. Benar kemana-mana adem dan bebas kehujanan. Tapi yang namanya mobil setiap tahun mesti bayar pajak sekian juta, agar nggak nyesek kalau kegores atau ilang mesti diasuransikan sekian juta, setiap sekian hari mesti dicuci. Setiap sekian ribu Km mesti dibawa ke bengkel dan ngantri sevis plus ganti oli. Itu belum kalau mesinnya tau-tau ngadat nggak bisa distater di jalan yang lagi macet hebat, atau ban kempes di tengah malam di jalan yang jauh dari mana-mana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Edi, adik bungsu saya di Kramas, suatu ketika pernah iri pada tukang mie ayam langganannya di daerah Banyumanik. Dia iri karena tukang mie ayam itu sepertinya enak banget hidupnya. Buka warung jam 12 siang, langsung diserbu pembeli, dan dagangan sudah ludes jam 7 malam. “Duit kok sepertinya datang sendiri”, katanya. Cuma 7 jam kerja, penghasilan si tukang mie apes-apesnya 500 ribu perhari, jauh di atas penghasilan dia yang harus berdarah-darah bekerja 10 jam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Adikku itu tidak tahu, si tukang mie ayam tadi hanya kelihatannya saja kerja 7 jam. Padahal, riilnya dia mesti bangun jam 5 pagi, ke pasar, dan belanja. Kembali ke rumah langsung harus menggulung-gulung mie, mencacah-cacah ayam, dan memasak hingga jam 11 siang. Menggotong semuanya ke warung setelah itu. Dan, jam 7 malam ketika warung tutup, dia belum bisa langsung istirahat. Dia masih harus beres-beres bangku, mencuci perkakas, dan lain-lain, dan semua itu baru akan selesai satu setengah jam kemudian. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sering kita memandang sukses orang lain sebagai sesuatu yang datang dengan tiba-tiba. Yang berdiri sendiri dan tanpa proses. Padahal sesungguhnya, di balik yang terlihat enak itu hampir selalu ada cerita tentang tetesan keringat, perjuangan tak kenal lelah yang tidak jarang berdarah-darah. Warung mie ayam yang membuat iri adikku tadi sudah pasti tidak langsung laris manis pada hari pertama dibuka. Barangkali, sebelum sesukses sekarang, si warung mie itu dulu harus melewati fase nyaris bangkrut atau kucing-kucingan dengan polisi pamong praja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman','serif';"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Maka, sikap paling baik adalah tidak membiarkan perasaan iri atas nikmat yg diterima orang lain menutup mata kita untuk berterima kasih kepada Tuhan atas nikmat dalam wujud berbeda yang juga kita terima. Karena kebahagiaan sesungguhnya tidak ditentukan oleh sebarapa banyak yang kita miliki, melainkan oleh seberapa pandai kita mensyukuri. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-8931156464567698614?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/8931156464567698614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=8931156464567698614' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/8931156464567698614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/8931156464567698614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/05/kamu-membuatku-iri.html' title='Kamu membuatku iri'/><author><name>Heri Sagiman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15902661714825369438</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-tOzCkPaBSdU/TdAiiVlLg4I/AAAAAAAAAA4/hnCTdbGsfM4/s220/Picture0168.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-2832967839478681447</id><published>2011-05-02T15:00:00.006+07:00</published><updated>2011-05-03T11:55:53.378+07:00</updated><title type='text'>Beratnya jadi anak sekolah di Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Buat Wisanggeni, anak saya yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mbarep&lt;/span&gt; (sulung), sekolah adalah beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban yang saya maksud di sini pertama-tama adalah beban fisik. Iseng-iseng saya pernah menimbang tas sekolah yang saban hari nangkring di punggung si Wisang menggunakan timbangan badan. Itu karena setiap kali berangkat sekolah, anak itu terlihat berjalan tertatih-tatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga kilogram lebih! Anda tidak salah baca, saya juga tidak sedang salah tulis. Tas sekolah si Wisang beratnya memang segitu, tiga kilogram lebih itu. Selain tasnya sendiri yang tentu menghasilkan sekian ons gaya gravitasi, berat tiga kilo lebih itu dihasilkan dari banyaknya buku dan alat tulis yang mesti ia bawa. Asal tau saja, dalam sehari, ia harus membawa buku-buku dari 4 mata pelajaran yang berbeda. Masing-masing mata pelajaran terdiri atas: 1 buku paket, 1 LKS, 1 buku PR, 1 buku tulis harian, dan untuk Bahasa Indonesia plus 1 buku menulis halus. Alat tulis, selain yang standar, mesti ditambah pula dengan krayon untuk hari di mana ada pelajaran kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah? Beluuuuum! Tas sekolah yang telah penuh sesak oleh buku itu, harus ditambah pula dengan payung lipat untuk antisipasi hujan yang datangnya bisa tidak terduga. Dan karena saya dan ibunya khawatir dengan kebersihan dan kesehatan jajanan di sekolah yang konon sarat dengan zat pewarna tekstil, boraks, vetsin, zat pemanis buatan, dan minyak goreng yang sudah 117 kali buat nggoreng nggak diganti-ganti; maka kotak makan berisi roti plus gelas plastik Tupperware berisi 200 ml air Aqua tak ketinggalan ikut meramaikan acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan sekarang Anda sudah bisa membayangkan, betapa berat beban yang mesti ditanggung si Wisanggeni sepanjang perjalanan berangkat dan pulang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Bapak dan Ibunya berbadan semok, postur tubuh si Wisang termasuk imut entah nurun dari siapa. Di usianya yang 6 tahun 9 bulan itu, tingginya baru 110 sentimeter dan berat badannya masih belum beranjak di kisaran 18 kilogram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisanggeni Gagah Wicaksono. Nama tengah yang kuberikan adalah “Gagah”, tapi 3 kilo lebih tas sekolah adalah berarti 1/6 berat badan dia. Saya saja yang 73 Kg, ngos-ngosan kalau mesti nenteng barang yang beratnya 10 Kg, lebih dari 30 detik. Padahal 10 Kg itu jelas tidak sampai 1/7 berat badan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tadi baru beban dalam arti fisik, yang saya bayangkan juga ditanggung oleh anak-anak lain seusianya di manapun di seluruh Nusantara. Barangkali termasuk juga putri-putra Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban selanjutnya adalah beban pikiran. Dulu &lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/08/dua-minggu-terakhir-ini-si-wisanggeni.html"&gt;pernah saya tulis &lt;/a&gt;di blog ini, sekolahan di tanah air tercinta ini kok kesannya hanya jadi institusi pencetak robot penghafal. Menciptakan siswa yang hanya pintar menjawab dengan jawaban tunggal, yang bahkan tidak dipahami benar oleh si siswa apa filosofinya. Dengan begitu, sekolah yang seharusnya merupakan aktivitas yang asyik, fun, terlebih buat anak-anak yang masih kelas 1 SD, berubah jadi aktivitas penuh tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri sekolah yang cuma mencetak penghafal adalah seperti contoh berikut ini. Guru: “Orang Islam bersembahyang di mas....?; Murid-murid: “... jiiiiiiid”. Guru: “Pak Sakerah dari Madura, dia berjualan sate kam....?”; Murid-murid: “... preeeeettt”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, tekanan itu terus berlanjut. Ntar kalau sudah kelas enam dan menjelang UAN, hari tenang bukannya disuruh istirahat, mereka malah diajak istighosah sama kepala sekolah yang makin membuat siswa justru ketakutan dan trauma. Karena by definisi, Istighosah adalah doa yang dimintakan kepada Allah karena keadaan yang genting darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memang Maha Kuasa, yang sangat bisa membuat peserta ujian menjawab ngawur, terus jawaban itu bener semua. Tapi Dia adalah juga Yang Maha Adil, yang memberi hasil yang lebih baik bagi ikhtiar yang lebih bersungguh-sungguh. Dan buat saya, istighosah bukan ikhtiar. Peruntukannya jelas beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman pernah bilang sama saya, anak yang cerdas sejatinya tidak diukur dari seberapa pandai dia menjawab, melainkan justru seberapa kritis dia bertanya. Makanya saya jadi mahfum, kenapa Maartje van Eerd, dosen pembimbing thesis saya dulu, cerewet betul dengan &lt;em&gt;research question&lt;/em&gt; saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas sekolah adalah mempersiapkan siswa agar kelak jadi manusia yang terus berpikir kritis, sistematis, analitis, selalu ingin tahu, dan pintar mencari jawaban atas keingintahuannya itu. Bukan malah jadi tukang hafal, dan kalau lupa dengan hafalannya berubah jadi tukang contek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Pendidikan Nasional, mudah-mudahan Indonesia makin cerdas dan berilmu. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-2832967839478681447?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/2832967839478681447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=2832967839478681447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2832967839478681447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2832967839478681447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/05/beratnya-jadi-anak-sekolah-di-indonesia.html' title='Beratnya jadi anak sekolah di Indonesia'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-6874259524414211148</id><published>2011-04-11T09:21:00.013+07:00</published><updated>2011-06-08T09:50:41.635+07:00</updated><title type='text'>Surat terbuka untuk Pak Arifinto</title><content type='html'>Di dunia ini, mungkin tidak sampai 15 persen laki-laki yang tidak seneng nonton film porno. Sembilan persen karena berasal dari suku terasing yang belum kenal teknologi dan listrik, 1 persen karena kelainan jiwa, dan 5 persen karena masih balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mengetahui Anda jadi bulan-bulanan media karena ketangkap basah sedang asyik masyuk nonton film porno dari gadget canggih Anda, saya hanya bisa tersenyum tapi juga sekaligus prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum. Ini adalah bentuk permakluman saya. Karena meski Anda berasal dari Partai Keluaran Surga yang mengusung citra bersih baik dari korupsi maupun pornografi, Anda tetaplah laki-laki sewajarnya. Prihatin, karena meski menyandang titel anggota dewan yang terhormat, perilaku Anda jauh dari harapan akan sosok wakil rakyat yang seharusnya cerdas dan pandai membawa diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadikan citra Anda jatuh di mata saya bukan kegemaran Anda nonton film porno itu. Percayalah, 85 persen laki-laki di dunia termasuk juga saya adalah penggemar film porno seperti Anda. Boleh diadu, porn collection Anda pasti tidak lebih komplit daripada punya saya. Tapi timingnya, Pak. Timingnya. Menonton film porno pada saat sidang paripurna adalah seperti mengajak kawin Angelina Sondakh di waktu jenazah Adjie Massaid dimandiin. Diterima jelas tidak, digampar malah iya. Baiklah, mungkin saya rada lebay dalam membuat perumpamaan. Saya hanya hendak mengingatkan Anda, sebuah perbuatan boleh wajar, manusiawi, dan dapat diterima akal sehat (terlepas dari apakah perbuatan itu dibenarkan oleh agama atau tidak). Tapi jika dilakukan pada saat yang tidak tepat, perbuatan itu bisa menjadi sangat salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya pernah bilang, ada dua kelengkapan yang membuat laki-laki jadi makhluk mulia. Otak dan kemaluan. Otak, karena dengan itu laki-laki (tentu dalam hal ini perempuan juga) bisa jadi makhluk kreatif, inovatif, dan menjadi khalifah di muka bumi. Kemaluan, karena dengan itu laki-laki bisa mempertahankan eksistensi umat manusia di dunia. Kelemahannya adalah, laki-laki tidak bisa menggunakan keduanya dalam waktu yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat saya memeras otak mengerjakan tes TOEFL atau soal-soal matematika yang rumit, pasti kemaluan saya tidak bisa on, entah kalau punya Anda. Sebaliknya, pada saat saya horny berat, akal saya sudah pasti akan langsung berhenti bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan, ketika film porno itu Anda akses, saat itu juga celana Anda menjadi sesak karena membengkaknya kemaluan Anda, dan--mengikuti hukum "otak vs kemaluan" tadi--otak Anda langsung berhenti bekerja. Maka, sidang paripurna yang seharusnya penting itu, yang seharusnya Anda ikuti dengan seksama itu, tak lebih hanya menjadi suara latar dari fantasi jorok Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Arifinto, ini adalah blunder paling konyol yang pernah saya saksikan dalam 37 tahun hidup saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-6874259524414211148?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/6874259524414211148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=6874259524414211148' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6874259524414211148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6874259524414211148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/04/surat-terbuka-untuk-pak-arifinto.html' title='Surat terbuka untuk Pak Arifinto'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-7013780789897912723</id><published>2011-03-28T13:54:00.006+07:00</published><updated>2011-04-11T09:53:46.033+07:00</updated><title type='text'>Ketika terlambat adalah hal biasa</title><content type='html'>Kalau Anda muslim, surat pendek apa yang paling sering Anda baca setelah Fatihah ketika Anda sholat? Saya yakin, surat Al Ashr adalah salah satunya. Alasan paling klasik adalah karena surat ini memang pendek dalam arti sesungguhnya, jadi pas bener buat kita yang pengen sholatnya cepat berakhir, agar bisa segera kembali terhubung dengan Facebook, Twitter, dan Yahoo! Messenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dari sekian juta penduduk Indonesia yang muslim dan sholat, rasanya hampir semuanya lain yang diikrarkan lain pula yang dilakukan. Surat Al Ashr diturunkan oleh Tuhan agar kita menghargai waktu. Dan Anda tentu setuju, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tapi sekaligus adalah negeri penyia-nyia waktu paling konsisten di jagat raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda, yang 42% penduduknya atheis, adalah satu dari sedikit negara dengan ketepatan waktu keberangkatan-kedatangan kereta api paling presisi di muka bumi. Kalau sebuah KA di sana dijawdwalkan berangkat jam 17:58 dan sudah meninggalkan stasiun ketika waktu di jam tangan Anda baru pukul 17:55, maka kemungkinan lebih besar adalah jam tangan Andalah yang telat 3 menit dari seharusnya. Jepang, yang suka dibilang Habib Anu kafir karena 107 dari 130 juta penduduknya menyembah bola gas hidrogen dan helium (baca: matahari), adalah negara dengan reputasi ketepatan waktu berangkat maskapai penerbangan paling tanpa kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan kemarin saya ke Semarang, nyambangin Ibuk di Kramas yang sudah tiga bulan nggak saya tengok, sekaligus menghadiri pernikahan adik sepupu. Berangkat pakai Senja Utama Jumat (25/3) jam 19:20 dari stasiun Senen. Di tiket tertulis waktu tiba di stasiun Tawang adalah dinihari jam 03:01. Faktanya, berangkat memang on time, tapi waktu nyampainya molor nggak karu-karuan hingga 04:30. Telat satu setengah jam! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang ke Jakarta, meski sudah pilih kereta eksekutif Argo Muria yang paling mahal, dan asumsinya nggak berenti-berenti mulu di tengah sawah nunggu dikentutin sama kereta yang lebih mahal, toh ceritanya juga setali tiga uang alias sami mawon. Berangkat Minggu (27/3) jam 16:00. Di tiket tertulis sampai Gambir jam 22:03. Prakteknya, jam 22:30 saja baru nyampai Jatinegara. Terlambat setengah jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering saya membatin heran, kok PT KAI nggaya banget sih, pakai nulis jadwal kedatangan dalam skala menit gitu. “Kereta ini akan tiba di Semarang pukul 03:01”, atau “Sepur ini akan sampai di Gambir jam 22 lebih 3 menit”. Halah, preeeeetttt! Mbelgedes! Penipu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari puluhan perjalanan KA dari Jakarta ke berbagai kota di Jawa dan sebaliknya dalam sehari, nggak ada satupun yang tepat waktu sampainya. Dan yang namanya terlambat itu sering banget nggak tanggung-tanggung sadisnya, masih mending kalau cuma 15 atau 23 menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tau sudah jelas nggak bakal bisa tepat waktu, kenapa sih nggak ditulis saja waktu dalam kelipatan setengah jam, misalnya jam tiga, setengah empat, empat, dst. Atau kelipatan 15 menit seperti jam 10 seprapat, jam setengah 11, jam 11 kurang seprapat, dst. Buat apa keren-kerenan kayak di luar negeri tertulis waktu tiba di tujuan jam 22:03, tapi prakteknya selalu telat sejam. Jadinya malah nggak menepati janji, dosa. Nggak takut masuk neraka apa ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah dari itu, terlambat tiba di tujuan a la KA di Indonesia semacam ini rupanya sama sekali bukanlah sebuah kesalahan sehingga tidak diperlukan permintaan maaf apalagi kompensasi. Maka, ketika Argo Muria telah hampir sampai di Jatinegara setengah jam terlambat dari seharusnya, pengumuman inilah yang terdengar dari pengeras suara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para penumpang sekalian, beberapa saat lagi kita akan tiba di Stasiun Jatinegara. Periksa kembali barang bawaan Anda, jangan sampai ketinggalan. Kepada para penumpang yang akan menereuskan perjalanan hingga Gambir, kereta ini hanya akan berhenti selama tiga menit...”. Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada permintaan maaf telah tidak menepati janji. Santai saja telah mengambil waktu sekian banyak penumpang tanpa permisi. Tidak pula terdengar nada sesal telah membuat penjemput lumutan menunggu. Semua terasa biasa saja. Suka, silakan nikmati apa yang ada. Tidak suka, minggir, yang ngantri jasa kami masih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap maklum, waktu di sini memang tidak ada harganya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-7013780789897912723?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/7013780789897912723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=7013780789897912723' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/7013780789897912723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/7013780789897912723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/03/ka-argo-muria-2203-sampai-jakarta_28.html' title='Ketika terlambat adalah hal biasa'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-3718414528348323608</id><published>2011-03-24T09:58:00.009+07:00</published><updated>2011-03-24T16:36:47.799+07:00</updated><title type='text'>Umpatan Bahasa Inggris vs Bahasa Indonesia, kita juaranya</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;WARNING:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt; Tulisan berikut ini mengandung konten dewasa dan rada-rada vulgar. Putra-putri Anda yang masih berumur di bawah 17 tahun dan nekat pengen tetap membaca, saya sangat sarankan untuk terus Anda dampingi dengan penuh kasih sayang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara pagi ini (24/3) jalan Raya Bekasi macet total, karena banyak mobil, angkot, dan motor nyelonong ngelawan arus dan arus sebaliknya nggak mau ngalah, perjalanan Harapan Indah-Taman Suropati tadi pagi jadi perjalanan yang penuh sumpah serapah alias pisuh-pisuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sopir truk, yang di bak truknya tertulis “Aku pergi karena tugas, aku kembali karena rindu”, yang misuh jiancuk! Ada pengendara motor Honda Tiger, yang di spakbornya tertempel stiker “Cowok pakai motor matik, sekalian saja pakai lipstick”, yang tak tahan untuk mengumpat anjing! Dan masih banyak lagi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya diriku. Polsek Cakung yang biasanya bisa kucapai dengan motor Honda Vario butut andalan keluarga dalam 10 menit tapi pagi tadi aku butuh setengah jam, tak pelak juga membuatku sempat menginventarisasi kosa kata pisuh-pisuhan dalam berbagai bahasa yang kukuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, semua kosa kata itu hanya berhenti di benak saya saja, dan tidak sempat satupun terucap di bibir. Karena selain tidak berkontribusi apa-apa bagi kondisi lalu lintas, teriakan sumpah serapah itu sudah pasti hanyalah akan menambah dosa saya yang kuyakin sudah segunung tingginya. Akhirnya, daripada misuh-misuh, ini tadi sepanjang jalan saya berzikir dan istighfar. Alhamdulillah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kumpulan kosa kata pisuh-pisuhan yang sudah kadung ngendon di kepala ini tadi ternyata tidak benar-benar hilang dari benak saya. Walhasil saya malah jadi mendapatkan sebuah kesimpulan menarik tentang perbandingan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Ternyata, bahasa Indonesia tuh lebih praktis dan efektif daripada bahasa Inggris, terutama dalam hal itu tadi, pisuh-pisuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keparktisan paling mendasar terletak pada jumlah kata yang harus diucapkan untuk misuh atau mengekspresikan kemarahan. Anda sependapat kan dengan saya, bahwa yang namanya orang lagi marah tuh kan enaknya ngomong satu kata yang pendek saja, kemarahan itu sudah terwakili. Nah, untuk keperluan itu, kebanyakan pisuh-pisuhan dalam Bahasa Inggris memerlukan lebih dari satu kata, sementara Bahasa Indonesia cuma butuh satu kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak percaya, silakan disimak contoh-contoh berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Inggris harus bilang “son of a bitch” (4 kata) untuk misuh, sedangkan kita cukup teriak “asu!” (satu kata) saja rasanya sudah mantep banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Amerika mesti bilang “mother fucker” atau “fuck you!” (2 kata), kita cukup bilang “jiancuk!” (sekali lagi, satu kata Saudara-saudara) rasanya segala emosi sudah seluruhnya tercurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi, mereka harus ngomong dua kata "ass-hole!", nggak praktis. Padahal kalau kita cukup satu kata untuk mengumpat dengan maksud yg sama: "silit!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisuh-pisuhan orang Inggris paling pendek adalah “shit!” atau “damn!”. Ada 4 huruf di sana. Masih kalah sama pisuhan kita, “asu” atau “tai” yang hanya tiga huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya, yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu karena toh Anda semua lebih jago daripada saya. Bukan begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu, apakah setelah membaca tulisan ngawur ini Anda akan makin bangga ataukah makin tidak percaya diri terhadap bahasa Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-3718414528348323608?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/3718414528348323608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=3718414528348323608' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/3718414528348323608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/3718414528348323608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/03/umpatan-bahasa-inggris-vs-bahasa.html' title='Umpatan Bahasa Inggris vs Bahasa Indonesia, kita juaranya'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-2389307643171979723</id><published>2011-03-04T09:18:00.008+07:00</published><updated>2011-03-25T08:08:17.690+07:00</updated><title type='text'>Kuis Mengenal Nurdin Halid. WTF?!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-2QGobT9mMzg/TXBjLGiBXII/AAAAAAAAAOk/yLxU6HaW1YY/s1600/Kuis%2BNurdin%2BHalid.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580068980695063682" style="width: 400px; height: 251px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-2QGobT9mMzg/TXBjLGiBXII/AAAAAAAAAOk/yLxU6HaW1YY/s400/Kuis%2BNurdin%2BHalid.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ada kuis mengenal NH di media online. Gini nih kata pengantarnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;"Siapa yang tak kesal dengan sosok Nurdin Halid? Berpuluh-puluh ribu orang berdemo memprotes kepemimpinan NH. Eh, ia malah ngotot dan ngeyel mau mencalonkan diri kembali sebagai Ketua Umum PSSI.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Tapi kami penasaran, apakah kalian benar-benar tahu inti permasalahan yang mengguncang sepakbola Indonesia ini dan mengenal siapa sebenarnya NH yang akrab disapa Puang tersebut? Atau jangan-jangan kalian HANYA IKUT-IKUTAN? &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Buktikan keraguan kami salah dengan menjawab kuis berikut!"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dan ini salah satu contoh soalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-x7KbG0mid94/TXBjTZ3BbvI/AAAAAAAAAOs/0XE3EO0AxKM/s1600/NH_1.bmp"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580069123322375922" style="width: 400px; height: 233px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-x7KbG0mid94/TXBjTZ3BbvI/AAAAAAAAAOs/0XE3EO0AxKM/s400/NH_1.bmp" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jadi penasaran, siapa orang dibalik kuis ini? Emang mesti tau dulu ya di mana NH dilahirkan, apa hobinya, apa orientasi sex-nya, dia itu waras ataukah sakit jiwa, dan lain-lain utk punya aspirasi agar si NH itu mundur saja? Untuk tidak dianggap HANYA IKUT-IKUTAN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sepak bola Indonesia salah urus dan miskin prestasi di bawah kepemimpinan dia. Secara moral tdk layak memimpin karena keluar masuk penjara. Setiap pertandingan bola selalu jadi ajang tawuran supporter dan pemukulan wasit. Jangankan di kancah dunia, atau Asia, bahkan di tingkat ASEAN saja negeri dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia ini tak mampu berbicara, keok lawan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saya tahunya hanya ini saja, dan tak satupun pertanyaan kuis itu mampu saya jawab dengan benar, akankah saya dianggap hanya ikut-ikutan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayolah, tidak ada kuis yang lebih kampungan lagi apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatku, hanya ada dua alasan yang bisa diterima akal sehat untuk seseorang bisa menduduki jabatan ketua umum induk organisasi olahraga untuk yang ke-3 kalinya. &lt;em&gt;Pertama,&lt;/em&gt; karena begitu tidak menariknya jabatan itu sehingga tidak ada orang lain lagi yang berminat. &lt;em&gt;Kedua,&lt;/em&gt; karena sang patahana &lt;em&gt;(incumbent)&lt;/em&gt; yang sudah menjabat 2x itu begitu luar biasa prestasinya, mengagumkan, lagi hebat &lt;em&gt;to the max&lt;/em&gt;. Pokoknya, "kau bukan hanya sekadar indah, kau tak akan terganti...", kata Marcell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan tipe manusia rasis. Maka, peduli setan dia lahir di Sulawesi Selatan atau di Planet Mars. EGP juga dia suku Bugis atau Jawa. Kagak ngaruh dia berjenis kelamin laki-laki atau banci. Ukurannya cuma satu, dan itu tidak sulit dilihat dan dirasakan: prestasi. Berprestasi, silakan lanjut! Memble, minggir ganti orang lain yang lebih mampu!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Nah, setelah delapan tahun PSSI dipimpin sama dia, .... mana prestasinyaaaaaaa???? (*tolong bayangkan, saya menulis kalimat terakhir barusan dengan ekspresi jauh lebih gemes dan kesal dari cowok yang diiklan rokok dulu itu ketika dia bilang "mana ekspresinyaaaa?...*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-2389307643171979723?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/2389307643171979723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=2389307643171979723' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2389307643171979723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2389307643171979723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/03/kuis-mengenal-nurdin-halid-wtf.html' title='Kuis Mengenal Nurdin Halid. WTF?!'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-2QGobT9mMzg/TXBjLGiBXII/AAAAAAAAAOk/yLxU6HaW1YY/s72-c/Kuis%2BNurdin%2BHalid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-2532976810114559669</id><published>2011-02-14T13:41:00.007+07:00</published><updated>2011-03-25T08:12:22.564+07:00</updated><title type='text'>Lebih penting mana, hak berorganisasi atau hak hidup tenang?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Islam adalah rahmatan lil alamin. Artinya, membawa rahmat bagi alam seisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika Anda mengaku muslim, lalu perilaku Anda justru membawa permusuhan alih-alih perdamaian, justru meresahkan bukannya membawa ketentraman, justru menebarkan kebencian alih-alih kasih sayang; maka percayalah, ada yang salah dengan cara Anda memahami agama yang Anda anut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang pelacur yang dibilang Rasulullah bakalan masuk surga. Sebabnya, “hanya” karena dia telah berbaik hati memberi minum anjing kurap yang nyaris mati? Bukan betapa indahnya surga yang saya mau bahas di sini, tidak juga seseksi apa bodi pelacur itu. Bukan. Saya cuma mau bilang, bahkan kepada anjing kurap yang hina, yang air liurnya adalah najis berat, seorang muslim seharusnya menjadi rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi. Dalam sebuah pertempuran pedang satu lawan satu, Ali bin Abi Thalib tinggal menghabisi musuhnya. Cukup satu dorongan ringan, maka ujung pedang beliau sudah akan menembus jantung si musuh. Tapi tiba-tiba musuh itu meludahi Ali. Yang terjadi selanjutnya, beliau justru batal menusukkan pedangnya. “Saya takut membunuh karena dorongan rasa benci, dan bukan karena ikhlas menegakkan jalan Allah”, kata beliau. Si musuh diampuni, dan setelah itu berikrar syahadat karena kagum akan kemuliaan Islam yang terpersonifikasi pada diri Sayyidina Ali. Bahkan dalam perang paling ganas, Islam mengajari kita untuk mengendalikan nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam yang saya yakini, perang dan kekerasan adalah jalan terakhir jika cara lain sudah tidak ada lagi. Rasulullah berdakwah dengan teladan akan keluhuran budi, kejujuran, dan kasih sayang. Coba deh dicek yang bener, dan Anda akan dapati bahwa perang pada jaman Rasulullah adalah perang yang terpaksa dilakukan either karena diserang duluan atau karena ruang untuk diplomasi sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, buat saya, membubarkan ormas anarkhis mungkin bukan satu-satunya jalan, tapi jelas harus dilakukan. Benar, adalah hak setiap orang untuk bebas berorganisasi dan menyatakan pendapat. Tapi, adalah hak setiap orang pula untuk hidup tenang terbebas dari rasa takut. Negara ini negara hukum, maka jangan biarkan ada kelompok orang yang merasa tak tersentuh hukum hanya karena klaim bahwa apapun yang mereka lakukan adalah atas nama Tuhan, dan mereka melakukan itu secara beramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara ini punya semua alat yang diperlukan untuk menjamin ketenteraman hidup rakyatnya. Jika ada kelompok orang yang kerjaannya bikin onar, adalah sah dan konstitusional--bahkan wajib--bagi Negara untuk menangkapi orang-orang itu, menjebloskan ke penjara, dan membubarkan organisasinya. Jumlah polisi kita hampir satu setengah juta. TNI, empatratus ribu lebih. Punya bedil, pesawat tempur, kendaraan lapis baja, dan segala jenis senjata. Di atas itu semua, hukum membolehkan mereka menembak atau melakukan kekerasan fisik jika perlu, apabila keselamatan rakyat jadi taruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kurang apa lagi? Bubarkan ormas anarkhis. Sekarang!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-2532976810114559669?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/2532976810114559669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=2532976810114559669' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2532976810114559669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2532976810114559669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/02/3-0-hak-berorganisasi-vs-hak-hidup.html' title='Lebih penting mana, hak berorganisasi atau hak hidup tenang?'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-6891967474758480419</id><published>2011-02-09T14:49:00.003+07:00</published><updated>2011-02-09T22:20:42.074+07:00</updated><title type='text'>Peduli yang tidak pada tempatnya</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Belum juga saya &lt;em&gt;log out &lt;/em&gt;dari blogger habis posting tulisan tentang penyerbuan Ahamdiyah kemarin, eh sudah ada berita lain lagi seputar kekerasan atas nama agama. Kali ini di Temanggung. Seribuan orang sambil teriak membesarkan nama Allah, melakukan tindakan pengrusakan yang pasti dimurka Allah. Dan seperti di mana saja di tanah air tercinta ini, polisi baru bisa mengendalikan situasi setelah semuanya terlanjur hancur dan berdarah-darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu bikin heran, intelijen kita kok seperti tidak punya daya. Anggaran makin gede, teknologi makin canggih, cuma ngadepi modus kuno pengrusakan tempat ibadah saja kok ya terus-terusan kecolongan. Okelah, kalaupun intelijen kita sebegitu lemahnya nggak sanggup mendeteksi potensi gangguan kamtibmas-- yang sebetulnya jauh dari rumit--itu sehingga massa kadung terkonsentrasi, apa polisi yang bersiaga di lapangan itu begitu lamban sehingga tidak sigap meminta tambahan personil agar jumlah mereka seimbang dengan jumlah massa. Wong jaman sekarang lo, teknologi komunikasi makin canggih. Jangankan polisi, tukang tambal ban saja hapenya tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara intelijen dan aparat keamanan kita belum bisa kita andalkan, gini aja deh. Bisa nggak, mulai sekarang, masing-masing kita fokus saja pada diri sendiri? Kalau mau lebih luas dari diri sendiri, paling mentok di level keluarga sajalah. Maksudku, kita fokus saja untuk menjalankan ajaran agama kita masing-masing sesuai dengan yang kita yakini masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop mikirin orang lain sholatnya bagaimana, puasanya bagaimana, agamanya apaan. Toh Allah sendiri yang nyuruh kita untuk bilang gini: “untukmu agamamu dan untukku agamaku”. &lt;em&gt;La ikra hafiddin&lt;/em&gt;. Allah berfirman nggak ada paksaan dalam beragama. Dia saja nyantai lo, la kok Anda malah yang mencak-mencak sama cara orang lain beribadah dan menjalankan agama mereka. Apa hak Anda coba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanlah yang paling berhak menilai, ibadah kita diterima atau tidak. Anda tidak punya kapasitas apapun untuk mengatakan bahwa Anda yang paling beriman sementara orang lain kafir. Jadi, sekali lagi berhentilah peduli yang tidak pada tempatnya. Berhentilah mikirin orang lain ibadahnya gimana, agamanya apa. Toh kalau di akherat nanti terbukti bahwa Ahmadiyah beneran sesat, yang masuk neraka juga mereka, bukan Anda. Kalau agama lain ternyata salah dan hanya Islam aliran Anda yang diridhoi Tuhan, toh yang disiksa juga mereka, bukan Anda. Susah amat, sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah agama yang saya yakini paling bener, dan karena itulah saya menjadi seorang muslim. Saya juga yakin bahwa Islam adalah agama yang hebat, yang akan dijaga Allah dengan tangan Dia sendiri, hingga akhir jaman. Maka, saya tak habis mengerti kenapa ada orang yang sok perkasa, menganggap Islam lemah, sehingga merasa perlu membuat organisasi front pembela. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bahkan seandainya tak satupun manusia beriman kepada-Nya, tidak setitik debupun Allah akan berkurang Kemahabesarannya. Itu bukan kata-kata saya. Itu kata Pak Busyairi, guru agamaku di SMP Negeri 21 Banyumanik Semarang dulu, yang entah karangan beliau sendiri entah co-past dari mana. Allah nggak butuh disembah, kitalah yang butuh menyembah-Nya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Coba, sekarang saya tanya. Andai Rasulullah sekarang ini masih ada, kira-kira beliau marah nggak, sosoknya dibikin kartun olok-olok sama orang Denmark? Saya yakin, beliau nggak bakalan marah. Pernah dengar cerita kan, tentang Rasulullah yang tiap kali lewat sebuah rumah diludahi sama si empunya rumah? Beliau &lt;em&gt;stay cool&lt;/em&gt;, nyantai. Suatu ketika, Rasulullah lewat rumah itu lagi dan tumben-tumbenan nggak ada yang ngeludahi. Karena penasaran, beliau ketuk pintu rumahnya, dan mendapati orang itu terbaring sakit. Rasulullah menjadi orang pertama yang bezoek, memberikan obat, dan akhirnya menyembuhkannya. Orang itu menyesal tiada terkira, dan di hadapan Rasulullah berikrar syahadat. Diludahi Bro, berkali-kali pula, dan beliau nggak marah. Apalagi cuma kartun olok-olok. Sejuta kartunpun tak bakalan kuasa meruntuhkan kesabaran dan kemualiaannya. Maka, sayapun heran melihat orang yang ngaku umat Muhammad tapi emosian dan nggak sabaran. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ah, sudahlah. Saya sudah pusing dengan kelakuan Nurdin Halid dan pengurus PSSI, tolong jangan bikin saya tambah pusing. Tolong.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-6891967474758480419?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/6891967474758480419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=6891967474758480419' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6891967474758480419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6891967474758480419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/02/peduli-yang-tidak-pada-tempatnya.html' title='Peduli yang tidak pada tempatnya'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-3107767648961185983</id><published>2011-02-08T17:39:00.008+07:00</published><updated>2011-02-11T14:18:46.294+07:00</updated><title type='text'>Allahu Akbar plus golok</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Headline news Metrotv Senin (7/2), jam 7 pagi. Berita tentang penyerbuan Ahmadiyah lagi. Kali ini di Pandeglang, Banten. Ada sekelompok massa, berpeci, tampangnya serem penuh kemarahan, teriak Allahu Akbar! Kafir!, sambil di tangannya terhunus golok. Sejurus kemudian, adegan berganti menjadi saling lempar tidak seimbang dan pengrusakan. Terlihat seorang laki-laki berpeci, rupanya dari rombongan penyerbu tadi, mengibas-kibaskan golok dengan gaya yang mengingatkan kita pada jagoan silat legenda Betawi, Si Pitung. Di akhir berita, pembawa acara menyebutkan, dalam penyerbuan itu, 3 orang dinyatakan tewas, dan 7 lainnya luka berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan itu terekam jelas oleh kamera. Jadi, kalau polisi beneran punya niat menangkap para penyerang, sebetulnya rekaman kamera itu bisa jadi alat yang mujarab. Wong wajah orang itu jelas close up, asal orang-orang itu dari kampung dan kelompok mana juga mestinya gampang ditebak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Segera kebayang, apa jadinya jika video berita itu diambil BBC dan CNN, terus publik di seantero dunia melihat bagaimana beringasnya orang-orang yang teriak Allahu Akbar sambil bawa golok itu. Kakek nenek saya muslim, orang tua saya muslim, dan saya sendiri--seperti Anda semua telah ketahui-- juga muslim. En toch, melihat berita tadi itu, saya merinding ngeri. Apalagi orang Amerika atau Belanda, yang seumur-umur mengenal Islam dari tayangan-tayangan tivi. Perbuatan itu jelas makin membuat buram citra Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar sikap dan perilaku seorang muslim adalah insan kamil bernama Muhammad SAW. Jika Anda ingin jadi orang Islam yang sebenar-benarnya, tirulah tabiat Muhammad. Dan, sikap beliau dalam berdakwah adalah jelas: ANTI KEKERASAN. Jangankan kepada sesama muslim, bahkan kepada Yahudi dan Nasrani, jalan dakwah Anda seharusnya lembut sebagaimana beliau contohkan. Banyak kisah orang Yahudi yang ikhlas bersyahadat setelah merasakan keluhuran budi Rasulullah. Tak terhitung pula cerita orang Nasrani mantap jadi muallaf karena kelemahlembutan dan wisdom para Sahabat. Maka percayalah, menyadarkan Ahmadiyah tidak akan pernah tuntas hanya dengan membakar tempat ibadah, apalagi memukuli dan membunuh jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menundukkan” AS hanya mungkin jika kita mampu membuat mereka terpesona akan keluhuran Islam. Bukan dengan cara instan menubrukkan pesawat ke menara kembar WTC. Tidak pula melalui perang terbuka karena sementara modal kita hanya F16 uzur sebelas biji, mereka punya pesawat tempur teknologi terbaru dalam jumlah yang sama dengan motor di jalan-jalan Jakarta. Memang akan butuh waktu berpuluh bahkan beratus tahun, tapi jangan ngaku umat Muhammad jika Anda bukan orang yang mau belajar sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi penasaran pengen tau, orang-orang yang menyerbu, teriak Allahu Akbar! Kafir!, sambil di tangannya terhunus golok itu kehidupan sehari-harinya kayak gimana. Apa profesi hariannya selain nakut-nakutin orang? Apa benar mereka sholatnya sudah tertib, ibadahnya sudah lurus, nggak main pukul istri di rumah, punya hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar tempat tinggalnya? Apa benar mereka nggak doyan nonton bokep? Apa benar mereka sudah nggak ijo matanya dan netes liurnya lihat Kim Kardashian pakai lingerie?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Kalau begini terus, kapan negara ini maju? Ada sekelompok orang yang merasa punya hak menyebut kelompok lain kafir dan oleh karenanya sah dibunuh dan disiksa. Negara lain sudah makin melesat jauh ke depan dengan temuan-temuan dahsyat di bidang fisika, kedokteran, nanoteknologi, internet berkecepatan tinggi, dan eksplorasi luar angkasa; sementara kita berjalan mundur dari dulu sibuk berantem sesama bangsa sendiri, berbuat anarkhis atas nama Allah. Sungguh, saya patah hati.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-3107767648961185983?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/3107767648961185983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=3107767648961185983' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/3107767648961185983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/3107767648961185983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/02/allahu-akbar-plus-golok.html' title='Allahu Akbar plus golok'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-6581019897331063120</id><published>2011-01-12T14:48:00.013+07:00</published><updated>2011-03-25T08:19:17.197+07:00</updated><title type='text'>Bangga menjadi pengguna</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa yang bisa kita simpulkan dari data mengenai negara kita tercinta Indonesia di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dhiez.wordpress.com/2010/12/11/10-negara-pengakses-facebook-terbesar-di-2010/"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; FACEBOOK. Dari total 571,9 juta pemilik akun thn 2010 di dunia, Indonesia adalah juara kedua setelah AS, dengan 31,8 juta Facebooker.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://000bisnis.blogspot.com/2011/01/indonesia-pengakses-tertinggi-di.html"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; TWITTER. Indonesia adalah pengguna Twitter terbesar ke-3 setelah AS dan Jepang. Bahkan, dalam soal penetrasi, populasi pengguna internet Indonesia menempati ranking pertama di Twitter. Proporsi pengunjung Twitter asal Indonesia memiliki pangsa 20,8 persen. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;a href="http://teknologi.vivanews.com/news/read/113306-pertumbuhan_blackberry_di_indonesia_500_"&gt;3.&lt;/a&gt; BLACKBERRY. Tahun 2009, Indonesia adalah juara dunia dalam hal pertumbuhan pengguna Blackberry.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ada satu kata kunci yang sama-sama dimiliki oleh ketiga fakta di atas, yakni "pengguna". Celakanya, jika fakta-fakta ini dirilis Majalah Time atau Newsweek, reaksi kebanyakan kita adalah biasa saja atau malah bangga. Nggak ada sedikitpun rasa malu, boro-boro miris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Setelah lebih dari 65 tahun menyatakan diri merdeka, level kita ternyata masih belum juga beranjak dari bangsa yang hanya bisa menggunakan. Belum bisa menjadi bangsa pembuat apalagi penemu. Negara kita, dengan jumlah penduduk 230 juta, adalah pasar yang teramat menggiurkan bagi produsen laptop, hape, motor, mobil, televisi, susu formula, BH yang katanya ada sinar infra merahnya yang bisa bikin buah dada kendor jadi kenceng, celana dalam wanita yg dibilang mengandung magnet yg bisa bikin vagina keputihan bau ikan asin menjadi harum semerbak mewangi, bahkan pakaian bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menduga, dimasukkannya Indonesia sebagai negara anggota G-20, bukan karena kita adalah negara yang kuat secara ekonomi, melainkan karena kita adalah pasar raksasa yang teramat mudah dipenetrasi. Di negeri tempat banyak perguruan tinggi gedungnya berdiri megah dengan AC di setiap ruangannya (tapi mutunya bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan universitas mirip kandang ayam di India) ini, negeri yang orang-orangnya lebih dinilai dari isi kantongnya daripada isi hati dan kepalanya ini, sepertinya apa saja laku dijual. Cara menjualnyapun mudah. Rekrut bule untuk jadi bintang iklan, bayar artis terkenal utk memberi testimoni, dan jangan lupa gunakan bahasa Inggris meski pasar yang dibidik jelas orang-orang pribumi yang nilai TOEFLnya nggak jauh-jauh dari 400. Pasti laku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kalau kita bisa memproduksi apa-apa sendiri, tidak usahlah kita mikirin ekspor, pasar dalam negeri juga sudah sedemikian dahsyatnya. Andai Anda adalah produsen sepeda motor, dan seluruh keluarga Indonesia membeli motor buatan Anda, percayalah, Anda sudah akan jadi lima besar manusia paling kaya di dunia. Sayang, kita hanya bisa menjadi bangsa pengguna yang bangga memakai barang bikinan orang lain. Kampanye cinta produk Indonesia hanya slogan tak bermakna, yang bahkan &lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/12/gambar-apel-di-laptop-pak-sby.html"&gt;dimentahkan&lt;/a&gt; sendiri oleh kepala negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang bisa kita simpulkan dari data lain berikut ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada thn 2010, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/25/time/174121/idnews/884242/idkanal/398"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;pengguna internet&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; di Indonesia diperkirakan mencapai 57,8 juta, dan sekitar 52,4% koneksi internet dilakukan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://marsnewsletter.wordpress.com/2010/02/08/52-koneksi-internet-dilakukan-dari-kantor/"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dari kantor&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama kita sebetulnya dikenal sebagai bangsa pekerja keras. Di Bappenas, dan saya kira di instansi lain baik yang milik negara maupun swasta, adalah hal biasa kita berangkat pagi buta dan pulang ketika langit telah gelap gulita. Libur tahunan paling lama adalah ketika Lebaran plus cuti bersama yang lima hari itu. Tapi, benarkah jam kerja yang panjang itu kita gunakan untuk benar-benar bekerja? Percayalah, jika jawaban Anda adalah ya, Anda pastilah orang yang sangat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara-negara maju, jam kerja lebih singkat. Jam 8 pagi masuk kantor, jam 4 sore pulang. Jam 9 malam, tidur. Libur tahunan mereka jauh lebih lama dari kita. Ada libur Paskah seminggu, ada libur Natal &amp;amp; Tahun Baru seminggu, dan liburan musim panas yang bisa sebulan. Tapi, antara jam 8 pagi hingga jam 4 sore itu, minus istirahat makan siang sejam tentu saja, mereka benar-benar bekerja jangan harap bisa chatting YM dan ngobrol nggak penting.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jadi, Ibu dan Bapak sekalian. Kuncinya adalah produktivitas. Bekerja cerdas, tidak cukup hanya bekerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tenang, saya tidak sedang menuding Anda sambil berlagak tak berdosa karena yang saya maksud dengan “kita” di sini adalah juga termasuk saya. Buktinya, tulisan nggak jelas ini toh saya buat pada jam kerja, dan saya unggah di blog ini menggunakan internet gratisan fasilitas negara pula.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-6581019897331063120?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/6581019897331063120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=6581019897331063120' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6581019897331063120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6581019897331063120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/01/apa-yang-bisa-kita-simpulkan-dari-data.html' title='Bangga menjadi pengguna'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-8648020092927534960</id><published>2011-01-01T09:38:00.003+07:00</published><updated>2011-02-10T15:48:02.900+07:00</updated><title type='text'>Orang hebat itu bernama Dr. Warsito Purwo Taruno</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Barusan nonton Orange Juice di B TV. Ini adalah acara talkshow yang dipandu Ronal &amp;amp; Tike. Bintang tamunya Jaya Suprana, orang dengan banyak predikat: budayawan, pengusaha, pianis, kolumnis, kelirumolog, dan tentu saja yang nggak boleh ketinggalan adalah penggagas Museum Rekor Indonesia alias MURI. Saya kagum sama orang ini. Pikiran-pikirannya yang sering ia tuangkan di harian Kompas selalu membuatku termenung-menung. Tapi..., bukan dia yang ingin aku bahas di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara itu, dia mengajak seorang pemegang rekor MURI. Namanya Warsito, lengkapnya Doktor Warsito Purwo Taruno. Lahir di Solo, umurnya cuma lebih tua 7 tahun dariku, tapi prestasi yg telah dia ukir sungguh luar biasa. Untuk mendapatkan sedikit gambaran ttg siapa dia, silakan dibaca kutipan dua paragraf berikut. Saya akan sangat heran jika Anda tidak bangga ada orang Indonesia kayak dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Penemuannya yang paling spektakuler adalah tomografi volumetrik (ini adalah semacam alat pemindai) 4D yang dipatenkan di AS dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Teknologi ini diperkirakan akan mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi di berbagai bidang dari energi, proses kimia, kedokteran, hingga nano-teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuannya telah dipakai di berbagai institusi kelas dunia, seperti NASA, Ohio State University (AS), Cambrige University (UK), B&amp;amp;W Company (AS), dan Morgantown National Laboratory (Dept. of Energy, WA, AS). Institusi yang ia bangun menjadi standar bagi teknologi tomografi volumetrik yang dikembangkan di seluruh dunia, dan dipublikasikan di dua jurnal internasional terkemuka, Measurement Science and Technology (UK) dan IEE Sensors Journal (AS)”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Penemuannya itu mengungguli teknologi pemindai 2 dimensi semacam CT Scan dan MRI di dunia kedokteran. Dan, asal tau saja, penemu CT Scan, Sir Godfrey Hounsfield dan Dr. Alan Cormack, diganjar Nobel thn 1979. Penemu MRI, Paul Lauterbur dan Sir Peter Mansfield, juga diganjar Nobel tahun 2003. Jadi, adalah teramat layak jika Dr. Warsito menerima penghargaan yang sama karena temuannya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Saya merinding membaca profilnya. Tujuh tahun lagi ketika aku seusia dia, mungkin aku masih akan begini-begini saja sementara dia sudah makin melesat jauh dengan temuan-temuan hebatnya. Kadang aku curiga setengah yakin, orang-orang semacam ini pasti otaknya tak pernah berhenti bekerja. Tengah malam, ketika kita nyenyak tidur, pasti dia sedang asyik masyuk dengan tulisan ilmiahnya. Siang hari bolong ketika kita chatting, mainan fesbuk, atau dengan mata nanar mantengin situs porno, dia pasti sedang tenggelam mengutak-atik rumus ilmiah karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti Nelson Tansu (profesor termuda pakar nanoteknologi di Lehigh University AS yg meraih gelar PhD di usianya yg belum genap 26 tahun), atau Ken Soetanto (peraih gelar profesor dan 4 doktor di Jepang dengan 31 paten internasional), orang ini bekerja dalam sunyi dan jauh dari hingar-bingar. Di lembaga-lembaga riset top dunia atau institusi paling disegani, nama Dr. Warsito Purwo Taruno sangatlah harum. Tapi di sini, nama itu jelas sama asingnya dengan Heriyadi dari Bappenas. Kalah tenar di bandingkan dengan Bambang Soesatyo, Nurdin Halid, atau Aburizal Bakrie, orang-orang yang entah berkontribusi apa terhadap kemajuan negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap dicatat, dalam pandanganku Dr. Warsito, Prof. Nelson Tansu, Prof. Ken Soetanto, dan orang-orang semacam ini lebih nasionalis dari politisi yang hanya bisa ngomong narsis sok populis, demonstran berikat kepala merah putih tapi beraksi anarkhis, habib bersorban yang berperan ganda jadi provokator massa untuk menganiaya atas nama agama, atau pengusaha yg slogannya saja go green tapi sejatinya merusak lingkungan dengan telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Dr. Warsito dkk itu lebih suka temuan-temuannya di patenkan di luar negeri, atau mereka berkarya di seberang lautan, itu karena di negeri mereka sendiri mereka tidak dihargai. Saya kira, tak seorangpun --di dalamnya pastilah saya juga Anda-- yang bersedia diperlakukan tidak sepantasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersediakah Anda, jika Anda memiliki achievement dan tingkat pendidikan seperti mereka, tetap bertahan di negeri ini mengajukan proposal riset dan tidak ada satupun pihak yang peduli, sementara rayuan dari institusi bergengsi di luar negeri datang bertubi-tubi? Maukah Anda, dengan kualifikasi seperti mereka, tetap bertahan di negeri ini dengan standar gaji tidak lebih tinggi dari tukang mie ayam sementara di luar sana rayuan gaji setara menteri datang silih berganti?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-8648020092927534960?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/8648020092927534960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=8648020092927534960' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/8648020092927534960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/8648020092927534960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2011/01/orang-hebat-itu-bernama-dr-warsito.html' title='Orang hebat itu bernama Dr. Warsito Purwo Taruno'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-8421041791414931907</id><published>2010-12-31T10:01:00.007+07:00</published><updated>2011-01-01T07:37:04.691+07:00</updated><title type='text'>Sepakbola di tangan mantan narapidana</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pernah &lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2008/05/mensyukuri-musibah.html"&gt;kutulis&lt;/a&gt; dalam blog ini, selalu tersedia perspektif berbeda untuk melihat satu objek yang sama. Gelas dengan kapasitas 200ml dan terisi 100ml, oleh orang yang pesimis akan dilihat sebagai setengah kosong. Bagi orang optimis, ia akan dilihat sebagai setengah penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikrolet yang seenak perut ngetem di depan Pasar Jatinegara padahal jelas-jelas lalu lintas sedang macet parah, adalah kesempatan bagi orang-orang beriman untuk memperbanyak istighfar. Dan buat orang yang tipis imannya, si mikrolet itu adalah sasaran halalan thoyiban untuk bersumpah serapah “asu!” dan “jiancuk!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun pengunduran diri dari jabatan publik. Mundur, bagi seorang ksatria, adalah ekspresi dari tanggung jawab. Dengan mundur, dia seolah berkata kepada khalayak: “Maafkan saya, Ibu-ibu dan Bapak-bapak sekalian. Saya telah gagal menjalankan amanah yang Anda berikan. Dengan segala sesal saya mundur. Setelah ini, mudah-mudahan Anda bisa memilih orang yang lebih baik dari saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang pecundang, mundur adalah hilangnya jabatan, terhentinya kesempatan untuk menikmati fasilitas empuk nan aduhai, dan hilanya peluang untuk korupsi. Mundur bagi manusia jenis ini, sama artinya dengan kehilangan kehormatan yang sejatinya tidak pernah dia miliki meski berangkap-rangkap jabatan dia sandang. Jabatan adalah atribut untuk mendapatkan kehormatan semu yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang berjiwa kerdil lagi miskin percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tentu tahu, siapa yang sedang saya bicarakan. Di berbagai kesempatan, orang ini selalu berdalih bahwa mundur sama artinya dengan lari dari tanggung jawab. Pertanyaannya sekarang, apakah selama ini dia punya tanggung jawab? Sorry to say, saya kok nggak percaya dia memilikinya. Pada hari di mana dia resmi terpilih sebagai Ketua Umum PSSI, aku kok menduga, yang pertama-tama terlintas di kepalanya bukan niat suci untuk bagaimana membuat sepak bola nasional maju dan berprestasi, melainkan kesempatan untuk beronani memuaskan hasrat ingin dihormati sambil merasa diri besar lagi berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan, segala sesuatu itu tergantung niatnya. Niatnya saja sudah nggak bener, maka jangan heran jika hasilnyapun juga nggak karu-karuan. Tujuh tahun lebih orang ini memimpin PSSI, dan selama itu pula sepak bola nasional berada di lembaran paling hitam sejarahnya. Kompetisi yang selalu berakhir dengan tawuran antar supproter atau antar pemain. Pemukulan wasit adalah tontonan tiap hari. Mana bisa kompetisi sepak bola kita dijual ke mancanegara dan mendatangkan devisa, wong di dalam negeri saja, dibandingkan sinetron sampah ala Cinta Fitri Season XII ratingnya nggak ada apa-apanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006, tak satupun klub Indonesia tampil di Piala Champion Asia. Sebabnya benar-benar konyol dan nggak masuk akal. PSSI telat mendaftarkan klub yang seharusnya berhak berlaga: Persipura dan Arema. Selama PSSI dibawah kendali bapak yang satu ini, tak satupun prestasi membanggakan mampu diukir, bahkan di tingkat Asia Tenggara nggak usah kejauhan ngomong tingkat dunia. Dan, di tengah-tengah terpuruknya prestasi, masih sempat-sempatnya PSSI bikin dagelan nggak lucu dengan mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan timnas memboyong Piala AFF 2010 kemaren itu, mudah-mudahan ada juga hikmahnya. Yakni membuka mata semakin banyak orang Indonesia, bahwa dunia persepakbolaan kita benar-benar sekarat dan butuh tindakan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke sosok Ketua Umum PSSI. Kehidupan pribadi orang ini di luar lapangan juga tak kalah hitamnya. Tahun 2004, ia adalah tersangka kasus penyelundupan gula impor ilegal; tahun 2005, ia dipenjara 2 tahun 6 bulan karena terlibat pelanggaran impor beras dari Vietnam; dan tahun 2007, ia dipenjara lagi karena dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi minyak goreng Koperasi Distribusi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang lain mesti melengkapi diri dengan Surat Keterangan (ber)Kelakuan Baik hanya untuk melamar menjadi tukang sapu dengan gaji di bawah UMR, bapak yang satu ini bisa memimpin PSSI (induk organisasi olah raga paling diminati di negeri berpenduduk terbesar ke-4 di dunia), dari balik jeruji besi. Kadang aku berpikir, ini nih dia yang sakti atau orang-orang PSSI-nya yang gendeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memalukan!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-8421041791414931907?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/8421041791414931907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=8421041791414931907' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/8421041791414931907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/8421041791414931907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/12/sepakbola-di-tangan-mantan-narapidana.html' title='Sepakbola di tangan mantan narapidana'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-5449921406038659045</id><published>2010-12-05T10:20:00.007+07:00</published><updated>2010-12-15T14:38:07.718+07:00</updated><title type='text'>Gambar Apel di Laptop Pak SBY</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TPsFkqeCXTI/AAAAAAAAAOQ/JCpCRDHjRxE/s1600/Picture1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5547033493470600498" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 201px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TPsFkqeCXTI/AAAAAAAAAOQ/JCpCRDHjRxE/s400/Picture1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Waktu nonton jumpa pers Pak SBY di TVOne hari Kamis (2/12) tempo hari, fokus perhatianku justru bukan pada substansi pidatonya, yakni klarifikasi beliau seputar sistem monarkhi di DIY versus demokrasi impor yang belakangan menuai kemarahan kawulo Ngayogyokarto Hadiningrat. Aku justru terpana melihat gadget canggih bergambar apel yang terpajang manis di podium, jauh lebih mencolok dibanding gambar Garuda Pancasila yang harus puas tersingkir beberapa sentimeter di bawah sang apel. Bangga sekaligus prihatin. Bangga karena Presidenku ternyata update teknologi terkini, nggak katrok dan malu-maluin. Wuih, Presidenku kereeeen....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prihatin karena segera terbayang, pidato itu pasti diliput secara luas oleh media lokal maupun asing. Jika laptop merek lain mesti bayar juta-jutaan hanya untuk nongol 30 detik di TV atau sekian milimeter kali sekian milimeter di koran Kompas, Apple iPad seperti ketiban duren runtuh nongol di tivi-tivi nasional, BBC, CNN, dll gak pakai bayar, bermenit-menit pula. Nggak usah ngiklan, Steve Jobs spt sudah bisa ngomong ke seluruh orang Indonesia: “Tuh, presiden Loe aja pakai Apple”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin, Pak SBY pasti nggak sengaja dengan itu semua. Beliau tentu orang sangat sangat sibuk, sehingga yang begitu-begitu jelas bukan level dia untuk ngurus dan mikirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, nampangnya Pak SBY bersama gambar apel, di atas simbol negara Garuda Pancasila pula, buatku kok ironis banget. Terus, apa artinya selama ini beliau gembar-gembor sampai ludahnya berbusa-busa, menghabiskan duit miliaran buat bikin baliho gede-gede, jor-joran berkampanye di berbagai media utk mencintai produk-produk dalam negeri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sih gak pakai merek lokal saja? Atau, jika Pak SBY nggak pede dengan merek Advan, Axioo, atau Zyrex (sori kalau saya salah menyangka bhw merek-merek itu adl merek lokal. Soalnya laptop jatah negara buatku di kantor merek Acer, laptop di rumah juga Thosiba, hueheheh...), kenapa ya, nggak sekalian aja pakai telepromter seperti biasanya? Atau cara yang lebih primitif, diprint dulu di kertas A4, trs dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kan kesannya jadi kayak lain yang diucapkan, lain pula yang dilakukan. Sengaja atau tidak, Pak SBY seperti hendak mengatakan: “Ayo, kita cintai produk Indonesia, tapi marilah beramai-ramai memakai produk Amerika”. Sama seperti Alim Markus pemilik Maspion yang bilang: “Cintailah, ploduk-ploduk Indonesia (kalau diperhatikan benar, melafalkannya memang “ploduk-ploduk” begitu, bukan “produk-produk”); tapi ketika mengatakan itu, dia pakai baju Armani dan parfum ST Dupont.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai sedikit saja Pak SBY atau protokol Istana mau belajar ilmu komunikasi, blunder yang begini tentu tidak perlu terjadi. Ilmu komunikasi meyakini, orang tuh cenderung lebih percaya apa yang secara riil dilakukan orang lain, lebih percaya dengan bahasa tubuh, lebih percaya bahasa non verbal, dibandingkan dengan bahasa verbal atau bahasa lisan. Percuma seorang suami tiap hari bilang I do love you ke istrinya, tapi dia main pukul dan tampar si istri dalam frekuensi yang sama intensnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tugas belajar di Jogja dulu, saya hendak main ke rumah teman di daerah Condongcatur dan saya bingung nyari alamatnya. Kutanya ke bapak-bapak tukang becak. Sambil mulutnya nyerocos penuh semangat ngasih petunjuk arah: “bla, bla, bla... setelah itu belok kiri”, tangan si bapak tukang becak tanpa sadar memperagakan gerakan membelok ke kanan. Beberapa menit kemudian, fakta membuktikan, gerakan tangan si bapak tukang becak itu lebih bisa dipercaya daripada omongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, if I were Pak SBY, momentum konperensi pers semacam kemarin itu tentu bakalan kugunakan sebagai ajang kampanye untuk mengajak semua orang mencintai produk-produk Indonesia. Di bawah sorotan kamera media daerah, nasional, dan asing, aku akan letakkan Laptop Axioo, pakai baju batik, dan sepatu Cibaduyut. Nggak masalah di ruang kerja PC-ku merek HP, ada TV Plasma gede merek Samsung. Tapi setidaknya di depan publik, di hadapan kamera media, kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita cinta buatan Indonesia. Kampanye model begini aku yakin pasti lebih efektif. Nggak perlu keluar biaya mahal buat bikin baliho narsis atau ngiklan di tivi dan koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada pihak protokol Istana dan Sekretriat Negara, mohon maaf atas kecurigaan saya. Saya curiga, usai konperensi pers Kamis (2/12) kemaren itu, sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan hati Anda, Apple mengirimkan sepuluh unit iPad ke Istana dan kantor Sekretriat Negara. Gratissss...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi keinget slogan untuk nenangin cowok patah hati ditolak cewek: mencintai tak harus memiliki. Slogan itu rupanya bisa juga kita pakai dalam kampanye produk lokal. Mencintai tak harus memakai. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini memang bangsa paling lucu di dunia (*geleng-geleng kepala*).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-5449921406038659045?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/5449921406038659045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=5449921406038659045' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5449921406038659045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5449921406038659045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/12/gambar-apel-di-laptop-pak-sby.html' title='Gambar Apel di Laptop Pak SBY'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TPsFkqeCXTI/AAAAAAAAAOQ/JCpCRDHjRxE/s72-c/Picture1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-1932962549426751283</id><published>2010-11-23T12:29:00.009+07:00</published><updated>2010-12-05T00:39:47.206+07:00</updated><title type='text'>Mendesak, bekal ilmu kebal dan bela diri bagi calon TKW</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di mata para TKW, pilihannya bukan antara hujan emas di negeri orang dan hujan batu di negeri sendiri. Pilihan mereka adalah antara hujan batu di negeri orang atau mati di negeri sendiri. Tidak pantas disebut “hujan emas” di Arab Saudi, jika yang diterima adalah resiko dapat majikan sakit jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Arab Saudi atau Malaysia para TKW itu mungkin sengsara, tapi peluang untuk hidup betapapun kecilnya, tetaplah masih ada. Di negeri sendiri? Buat orang miskin, yang menurut sensus BPS 2010 jumlahnya 31,02 juta jiwa (lebih banyak dari total penduduk Malaysia yang hanya 28,9 juta), bahkan hanya untuk bisa makan sehari sekali saja bukan main susahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa para perempuan itu sepertinya tak gentar pergi ke negeri nun jauh di seberang lautan sendirian, nekat menghadapi ancaman penyiksaan dan pemerkosaan oleh majikan, berani menghadapi pemerasan di bandara oleh aparat yg seharusnya melindungi, dan acuh terhadap ketidakpedulian kedutaan besar Indonesia di tanah rantau? Mengapa mereka seperti begitu tega meninggalkan anak-anak, suami, dan orang-orang tercinta bertahun-tahun tanpa kabar berita, untuk dikemudian di negeri rantau bekerja hanya dengan upah jauh dari manusiawi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar membuat perbandingan. Dulu, kepergian saya ke Belanda hanyalah untuk setahun. Tidak perlu cemas anak istri yg ditinggal di tanah air kelaparan, karena gaji dari negara yang tetap saya terima sudah bisa mencukupi kebutuhan mereka meski tidak berkelebihan. Tidak pula perlu risau bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari di Belanda karena untuk itu, sponsor telah berbaik hati setiap bulan mentransfer duit setara 10 juta. Di rantau, tugas saya cuma satu: belajar. Itu pun setiap akhir pekan atau pas libur rada panjang bisa jalan-jalan keliling Eropa. Kalaupun pengen males-malesan di kamar, internet dengan broadband sempurna siap memanjakan, baik buat browsing, berlama-lama telepon keluarga di tanah air supermurah dengan VoiP, maupun mendownload film-film dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi dan langit bedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;En toch &lt;/em&gt;begitu... kami yang ke negeri seberang lautan untuk bersenang-senang saja ketika berpisah mengucapkan selamat tinggal di bandara, tetap saja kurasakan suasana yang penuh duka dan mengharu biru. Tangis-tangisan, baik kami yang di antar maupun keluarga yang mengantar. Bulan-bulan pertama di sana, terpisah sanak keluarga, pun juga tak kalah melodramatiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi para TKW, yang niat ke negeri rantau untuk jadi pembantu rumah tangga. Kita tentu bisa membayangkan betapa remuknya hati para perempuan itu dan keluarga ketika berpisah di bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, kembali ke pertanyaan yang tadi: mengapa mereka tak gentar menghadapi bahaya dan sepertinya tega meninggalkan anak-anak dan suami tercinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya sungguh teramat jelas, karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari itu. Mereka paling mentok hanya tamatan SMP, tidak punya skill apa-apa, sementara sawah ladang warisan leluhur juga telah dibeli oleh orang-orang kaya dari kota. Perusahaan mana yang mau mempekerjakan mereka kecuali yang niatnya memang mau rugi dan beramal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tragis itu kembali berulang. Untuk kesekian kalinya, tenaga kerja wanita (istilah sopan untuk menyebut PRT asal Indonesia) dianiaya hingga tewas atau menjadi cacat seumur hidup. Kali ini, korban itu bernama Sumiyati. TKW asal Dompu, NTB. Jika keselamatan nyawa yang jadi ukuran, nasibnya masih lebih baik dari Kikim Komalasari, TKW asal Cianjur. Sumiyati “cuma” dianiaya hingga babak belur dan digunting bibirnya. Masih hidup meski tentu harus menanggung cacat tetap dan trauma sepanjang sisa hidupnya. Kikim Komalasari mesti meregang nyawa setelah dijadikan sansak hidup oleh majikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, seperti yang sudah-sudah, negara baru bereaksi setelah semuanya terjadi. Nanti, seperti yang sudah-sudah juga, penyelesaian kasus itu tidak benar-benar tuntas. Jangankan mencegah yang telah terjadi itu berulang kembali di masa datang, menuntaskan yang sudah ada saja negara tidak mampu (atau tidak mau?). Taruhan berapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polanya dari waktu ke waktu selalu sama. Setelah sebuah kasus terjadi, dibentuk tim yang diberangkatkan ke negara ybs. Tapi, saya kok selalu curiga, tim yang dikirim itu tdk akan banyak berguna selain hanya menambah beban negara. Bagaimana bisa berguna kalau sesampai di sana, tim yang dalam SPPD resminya bekerja 3 hari, cuma mengunjungi korban di rumah sakit setengah hari, sementara 2,5 hari sisanya sibuk wisata dan belanja cindera mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gagah berani, para politisi dan elit politik negeri ini selalu mengatakan: hentikan pengiriman TKW ke luar negeri. Pertanyaannya, setelah ekspor TKW itu distop dan memulangkan TKW yang ada di luar negeri ke tanah air, lalu apa? Mereka disuruh kerja apaan di sini? Ada gitu, lapangan kerja buat eks TKW dan eks calon TKW itu di sini, yang layak, yang upahnya 80%-nya saja deh, nggak perlu sama atau lebih besar, dari yang mereka terima di Arab? Ingat ya, para TKW itu gajinya rata-rata setara dengan 2,5 juta/bulan. Bisa gitu, pemerintah menjamin mereka dan keluarga mereka tetap bisa makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari (yg minmal saja deh, nggak usah yg jauh-jauh kayak odol sama sabun)? I don't think so. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Memulangkan semua para TKW sama artinya menambah 6,3 juta pengangguran baru sementara pengangguran yang ada sekarang saja sudah 23 juta lebih. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pembantu rumah tangga di Arab atau Malaysia akan terus jadi pilihan selama negara masih blm mampu memberi jaminan hidup bagi orang-orang kampung miskin tak terpelajar itu. Jika lapangan kerja bagi mereka tersedia di negeri sendiri, tidak perlulah moratorium, minat perempuan-perempuan miskin itu utk jadi TKW juga bakalan padam dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Coba deh, administrasinya ditata yang bener, jangan acak adut kayak sekarang. Bikin sistem online. Dengan begitu, kita jadi gampang ngelacaknya, Mbak Yati berkarier di mana, Mbak Asih mengabdi pada siapa, alamatnya di mana, dst. Dari situ, kita bisa buat perjanjian dengan pemerintah Arab. Setiap bulan bisa diadakan visit/kunjungan ke alamat si Mbak bekerja. Dengar keluh kesah mereka, catat dan follow up masalah mereka. Dengan begitu, kalau ada masalah sekecil apapun, cepat dapat dideteksi. Heran saya, pemerintah dan elit kita di atas sana kok nggak kesentuh sih, ada warga negaranya yang setiap hari cuma dikasih makan sepotong roti dan itu sudah berlangsung hingga 4 bulan. Empat bulan lo, 120 hari! Kok nggak ada yang merasa nasionalismenya terusik, ada yang memperlakukan warga negara kita tercinta ini lebih rendah ketimbang binatang piaraan.&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sementara itu, selagi negara masih gagal menyediakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar; juga belum gablek bikin sistem adminstrasi yang rada canggihan dikit, saya usulkan soluasi jangka pendek berikut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Selain ngasih telepon seluler satu-satu sebagaimana ide brilian pak Esbeye, pelatihan bahasa Arab, belajar adat-istiadat orang Arab; para calon TKW itu perlu pula dibekali dengan ilmu kekebalan tubuh dan karate. Biar kalau ada majikan sadis yang niat menggunting bibir lagi, nggak mempan. Biar kalau ada majikan yang niat memperkosa, bekal karate bisa dipakai buat bikin klenger sang majikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-1932962549426751283?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/1932962549426751283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=1932962549426751283' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1932962549426751283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1932962549426751283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/11/mendesak-bekal-ilmu-kebal-dan-bela-diri.html' title='Mendesak, bekal ilmu kebal dan bela diri bagi calon TKW'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-9078661672979309727</id><published>2010-11-22T11:57:00.004+07:00</published><updated>2010-11-22T12:24:42.141+07:00</updated><title type='text'>Ngasih hadiah gak niat ala Carrefour</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Minggu (21/11) kemaren, aku, Wisanggeni, Ontoseno, dan tidak ketinggalan ibunya tentu saja, belanja bulanan di Carrefour Harapan Indah. Buat keluarga Korpri tulen golongan 3, andalan penghasilan ya cuma dari gaji bulanan yang besarannya hanya satu setrip di atas UMR, sementara istri juga murni ibu rumah tangga, belanja bulanan pada tanggal tanggung bulan begitu tentu membutuhkan katabahan hati dan persiapan mental-psikologis tersendiri. Gimana enggak, di saat saldo rekening BNI Taplus sudah lampu merah, seratus ribu perak begitu berharga, eh pas satu demi satu belanjaan diitung sama si Mbak Kasir yang ramah itu, mak jreng tau-tau duit yang harus kami serahkan ke Carrefour dengan sukarela mencapai Rp713 ribu. Trembelane, nominal itu benar-benar bikin tensi darahku melonjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemaren itu adalah waktu belanja bulanan yang tidak sesuai jadwal. Maksudku, biasanya kami belanja itu ya ngepas di tanggal muda habis ada transferan gaji dari negara di rekening BNI kami. Tanggal 1 November lalu perasaan sudah belanja lo. La kok tau-tau Sabtu (20/11) susu Bendera 123 rasa madu si O’Shean habis. Popok Sweety ukuran L-nya juga sudah tinggal beberapa lembar. Eh, setelah dicek, minyak goreng Tropical, sabun Shinzu’i, gula pasir Gulaku, Masako rasa sapi, Kecap Bango, dan lain-lain kok ya pada menipis stoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu habis bayar, sambil menyerahkan kartu debet dan struk yg panjangnya sedepa, si Mbak Kasir wanti-wanti gini. “Pak, jangan lupa tunjukkan struk belanja ini ke bagian penitipan barang ya. Ada berbagai &lt;strong&gt;&lt;u&gt;hadiah menarik&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt; menanti Anda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, terima kasih ya Mbak. Baik bener nih, Carrefour. Tumben-tumbenan ngasih hadiah, hadiah menarik pula”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Sesuai instruksi si Mbak Kasir, aku melangkah menuju tempat penitipan barang. Penasaran membayangkan hadiah apakah gerangan yang bakalan kami terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat siang, Bapak. Ada yang bisa kami bantu?” sapa si Mbak di penitipan barang ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat siang, Mbak. Anu, saya mau nukerin struk. Kata mbak kasir yang di sana itu, struk ini bisa ditukar dengan hadiah menarik. Benarkah begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Pak. Benar sekali”. Habis berkata demikian, dengan cekatan dia menyetempel struk belanjaanku, mengambil tiga lembar stiker kecil dan menempelkannya di kartu yang telah didesain khusus, menstapler struk ke kartu itu, dan menyerahkannya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap belanja kelipatan 200 ribu, Bapak akan mendapatkan 1 stiker yang bisa ditukar dengan berbagai hadiah sampai dgn tanggal 14 Desember. Karena total belanja 713 ribu, maka Bapak berhak mendapatkan 3 stiker. Silakan kumpulkan stiker sebanyak-banyaknya agar Bapak bisa mendapatkan hadiah-hadiah menarik seperti tertera di sini, di kartu ini”, begitu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahun ini, Carrefour berulang tahun yang ke-12. Berbagai hadiah telah kami sediakan bagi para pelanggan setia Carrefour, sebagai ungkapan terima kasih atas kepercayaan pelanggan kepada kami selama ini”, si mbak melanjutkan penjelasan dengan berapi-api. Si mbak itu cantik kayak idolaku si Audy Item, usianya sekitar 25 tahun, kulitnya putih, bodinya padat merayap, rambutnya hitam panjang tergerai, giginya putih berderet rapi (Maaf jika deskripsi ttg si mbak ini tidak relevan dgn tema kita kali ini. Habis, saya nggak tahan utk tdk menuliskannya di sini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di hape flexi, istri saya kemaren dpt SMS, katanya belanja di Carrefour dapat pulsa Rp50 ribu, syarat dan ketentuan berlaku. Maksudnya apa tuh?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, itu. Itu tuh ya termasuk dalam promo kami ini Pak. Seperti Bapak lihat di kartu ini, Bapak berhak mendapatkan top up voucher Flexi Trendy jika telah mengumpulkan 15 buah stiker sebelum 14 Desember”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah, 15 stiker! Berarti saya mesti belanja 3 juta dulu dong, baru dapat voucher 50 ribu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Bapak (kalau bahasa gaul sekarang: &lt;em&gt;yoi, Coy!&lt;/em&gt;)”, jawab si Mbak sambil tersenyum. Aih, cantiknyaaa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wedew, kere tenan! &lt;em&gt;Come on&lt;/em&gt;, Carrefour, nggak ada promo yang lebih konyol apa?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat mau ngasih hadiah nggak sih? Kalau nggak niat mbok ya sudah, nggak usah saja sekalian. Wong nggak pakai hadiah-hadiah begitu kami juga tetap belanja bulanan di Carrefour kok. Promo ngasih hadiah sak uprit, pulsa 50 ribu, setelah kita belanja minimal 3 juta dalam 25 hari itu kok buatku seperti mengatakan: “Kami akan kasih gratis 1 mangkok mie ayam kepada Anda jika dalam seminggu Anda membeli 60 mangkok mie ayam kami”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak mau rugi banget nih, Carrefour. Hadiah yang diberikan itu nggak benar-benar tulus dipersembahkan sebagai wujud terima kasih karena setelah 12 tahun Carrefour ada di sini, supermarket waralaba asal Perancis itu makin eksis berkat para pelanggan mereka. Bagiku, promo itu tak lebih dari cara mereka jualan nyari untung sebanyak-banyaknya dengan menipu orang pakai promo &lt;em&gt;gimmick &lt;/em&gt;berkedok perayaan ulang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apa cuma Carrefour yang nyari untung dengan nipu orang begini? Enggak. Kalau tidak percaya, lihatlah tawaran diskon-diskon di Matahari, Ramayana, atau supermarket lain. Tertulis gede-gede, mencolok, di tempat-tempat strategis: &lt;strong&gt;Dapatkan diskon &lt;em&gt;up to&lt;/em&gt; 70%!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilahnya memang “up to” begitu, bukan “sampai dengan”, biar lebih keren pakai bahasa Inggris dan pembeli nggak nyadar bahwa 70% itu angka maksimal. Dari 10.000 item barang, yang didiskon 70% itu ya cuma 10 item, yang penting kan nggak nipu wong nyatanya memang ada kok yang didiskon sampai segitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus ada lagi, IM2 Broom Unlimited. Sekali lagi, pakai bahasa Inggris biar keren. Dengan 100 ribu perbulan, Anda bisa pakai sambungan internet &lt;em&gt;up to &lt;/em&gt;256 Kb/detik. Setelah pemakaian 2 Gb, Anda masih bisa pakai sampai kemeng meski kecepatannya kami kurangi &lt;em&gt;up to &lt;/em&gt;64 Kb/detik. Sekali lagi, istilahnya memang “up to” bukan “paling mentok”, biar pengguna nggak nyadar kalau sedang diapusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kemudian pas Anda make, kecepatannya lelet mampus, cuma 1 Kb/detik atau malah 0 Kb/detik, bukan salah kami lo, wong sudah kami bilangin kecepatannya &lt;em&gt;up to &lt;/em&gt;256 Kb/detik. Anda tau kan arti "up to"? Arinya tuh ya "paling mentok". Maksimal segitu, 256 Kb/detik itu. Minimalnya? Wallahu’alam, Bos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kalau diperhatikan lebih jauh, nggak yang supermarket, nggak yang provider internet di negeri tercinta ini, kebanyakan memang berlomba-lomba nyari istilah-istilah kreatif buat membodohi orang. Di bawah ini adalah sedikit dari sekian banyak istilah favorit dari orang nyari untung gede dengan cara tipu-menipu customer itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;strong&gt;..., selama persediaan masih ada&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(*ternyata yang namanya “persediaan” itu ya cuma lima biji, yang nggak sampai dua jam juga sudah wassalam*)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;... untuk 50 pembeli pertama&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(*kita tdk pernah tahu dan mereka tdk pernah ngasih tau, kita itu pembeli ke berapa. Kata mereka, pokoknya kita adalah pembeli ke limapuluh sekian*)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;strong&gt;syarat dan ketentuan berlaku&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(*syaratnya ya itu tadi, hadiah seharga 5.000 perak ini bisa Anda dapatkan setelah Anda belanja 5 miliar ke kami*)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada mereka, mudah-mudahan segera dibukakan pintu taubat. Amin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-9078661672979309727?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/9078661672979309727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=9078661672979309727' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/9078661672979309727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/9078661672979309727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/11/ngasih-hadiah-gak-niat-ala-carrefour.html' title='Ngasih hadiah gak niat ala Carrefour'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-7519051172682299788</id><published>2010-10-15T15:08:00.013+07:00</published><updated>2010-11-24T11:19:16.920+07:00</updated><title type='text'>Susah Buang Air Besar di Hotel Mandarin</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di Hotel Mandarin Oriental, yang persis terletak di Bunderan HI itu, di manakah bisa kita temukan lokasi parkir untuk sepeda motor? Jawabnya, tidak di manapun. Jadi, bagi Anda semua yang kebetulan dapat undangan seminar di Hotel Mandarin, saya sangat menyarankan untuk jangan berani-berani naik motor apalagi sepeda onthel. &lt;em&gt;Otherwise&lt;/em&gt;, Anda cuma akan dipermalukan petugas keamanan di sana, ditolak masuk, dan dipersilakan dengan hormat tapi dengan senyum penuh ejekan untuk parkir di gedung lain. Selain malu, sakit hati, Anda juga bakalan sakit betis karena jalan kaki dari parkiran Menara BBD (gedung terdekat yg ada parkiran buat motor) ke lobi Hotel Mandarin juga butuh waktu dan perjuangan ekstra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis (14/10) kemaren, aku dapat undangan dari Bank Dunia untuk sebuah workshop di Hotel Mandarin. Puji Tuhan, Alhamdulillah, berkat hidayah-Nya aku yang tadinya berniat langsungan berangkat dari rumah Harapan Indah pakai motor Honda Vario andalan tiba-tiba kepikiran untuk mampir dulu ke Bappenas. Parkir motor di kantor, terus berangkat ke lokasi syuting--yang sebetulnya hanya sepelemparan batu jaraknya--naik taksi Bluebird.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kalau aku jadi naik motor? Bakalan sengsara. Pengelola Hotel Mandarin itu seperrtinya hendak berkata: Anda bawa mobil, kami sambut dengan suka cita. Anda bawa motor, kami usir dengan gegap gempita. Tidak ada tempat di hotel kami buat kere dan orang dengan kelas ekonomi nanggung macam Anda. Iya, nanggung. Menurutku orang yang kuatnya baru beli motor emang serba nanggung ekonominya. Kere jelas bukan, disebut kaya juga belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipikir-pikir, kok masih mending Hotel Borobudur ya, yang &lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2008/06/parkir-sepeda-di-hotel-borobudur.html"&gt;tempo hari &lt;/a&gt;aku protes di sini gara-gara parkir motornya jauuuh di belakang, di sebelah tempat sampah yang bau pula. Sudah gitu, kalau hujan, parkiran itu berubah menjadi empang. Tapi, toh begitu...., ada parkiran buat motor. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kalau dipikir sekilas, emang bener sih logika yang coba dibangun pihak manajemen Hotel Mandarin itu. Orang yang nginepnya di hotel dengan tarif minimal Rp 1,35 juta permalam, tentulah mereka yang sudah tidak lagi kemana-mana cuma naik motor, apalagi kalau motornya sudahlah motor China, seken, kreditan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nyadarnya itu, bahwa di Hotel Mandarin ternyata nggak ada parkir buat motor, setelah seorang teman peserta workshop curhat seusai acara. Di lobi, dia bengong aja nunggu hujan yang masih saja belum berhenti sore kemarin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Man (namanya Arman), betah bener di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nungguin hujan, Mas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujan kok ditungguin, kayak istri melahirkan aja. Emang nggak bawa jas hujan Lo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bawa si bawa Mas, tapi ke parkirannya itu yang susah. Gw nggak bawa payung, padahal Gw mesti parkir di Menara BBD. Di sini nggak tersedia tempat parkir motor”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oooh...” (*prhihatin*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poor him!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, Bapak dan Ibu sekalian, kalau dipikir-pikir (lagi), hipotesisku &lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/05/makin-mahal-makin-nyusahin.html"&gt;tempo hari &lt;/a&gt;bahwa hotel tuh kalau makin mahal makin nyusahin makin mendekati kebenaran. Selain nggak ada tempat buat parkir motor, hotel-hotel mahal di Indonesia tercinta ini nyata sekali pengen memanjakan tamu bule sementara pada saat yang sama mencoba membikin sengsara tamu lokal pribumi. Padahal, taruhan deh, mau hotel bintang 7 sekalipun, selama dia ada di Jakarta, yang make tuh hotel pasti juga banyakan pribumi daripada bulenya. Taruhan berapa, dibandingin tamu bule, tamu hotel-hotel itu pastilah jauh lebih banyak orang daerah yang sedang dalam perjalanan bisnis atau wisata di Jakarta; atau orang Jakarta sendiri yang pada seminar, rapat, dan workshop; atau orang lokal pribumi yang butuh pelampiasan hasrat pengen ngamar bareng selingkuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar yang digunakan adalah standar Amerika. Pipis, urinoirnya nggak ada pancuran kecil untuk cebok. Kloset, pasti kloset duduk nggak ada yang jongkok. Buat cebok kalau habis eek, pasti hanya tersedia tissu dan nggak ada semprotan airnya boro-boro ember sama gayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba deh kita bandingkan fasilitas yang tersedia di hotel-hotel dibawah ini, mulai yang &lt;a href="http://hotelmurah2010.files.wordpress.com/2010/03/harga-kamar-hotel-jakarta1.pdf"&gt;tarifnya&lt;/a&gt; paling murah sampai yang paling mahal. Dan coba kita cek kelengkapan fasilitasnya, dengan standar kebutuhan rata-rata kita orang Indonesia. Bener kan, makin mahal makin nyusahin?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TOyRwia2gmI/AAAAAAAAAOA/HtBDmgDV0zE/s1600/Fasilitas_Hotel.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542965504445416034" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TOyRwia2gmI/AAAAAAAAAOA/HtBDmgDV0zE/s400/Fasilitas_Hotel.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TLgS-F4PlPI/AAAAAAAAAN4/rRKjRzvprEI/s1600/Fasilitas+Hotel.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kok seneng bener lo, jadi kacung orang asing. Ketemu bule, senyumnya polpolan, ramahnya selangit. Giliran ketemu saudara sebangsa sendiri, pasang tampang curiga dan senyum ala kadarnya. Hotel juga pakai standar mereka, padahal yang lebih banyak make kita-kita juga. Kalaulah memang harus tersedia tissu buat cebok bule, silakan sediakan. Tapi apa salah kalau juga disediakan semprotan air?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, makanan di Hotel Mandarin lumayan lezat. Di luar itu, cuma ada sedikit hal yang kusuka dari hotel ini. Yakni Mushola di lantai 2 yang lumayan luas, nggak kayak di Aryaduta yang sempit, atapnya pendek, jamaah laki-laki dan perempuan nyampur, dan letaknya persis di sebelah orang buang najis pula. Mushola di Mandarin cukup menampung ada kalau sepuluh orang, jamaah pria-wanita juga dipisah, tempat wudhunya pun lumayan oke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma, apa ya sah to wudhunya, kalau sebelumnya untuk cebok habis pipis saja nggak tersedia cukup air? Apa diterima to sholatnya, kalau sebelum sholat ni tadi habis eek ceboknya kita dipaksa cuma pakai tissu?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-7519051172682299788?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/7519051172682299788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=7519051172682299788' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/7519051172682299788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/7519051172682299788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/10/sengsaranya-boker-di-hotel-mandarin.html' title='Susah Buang Air Besar di Hotel Mandarin'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TOyRwia2gmI/AAAAAAAAAOA/HtBDmgDV0zE/s72-c/Fasilitas_Hotel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-6226793337575593291</id><published>2010-10-02T12:17:00.004+07:00</published><updated>2010-10-15T11:50:31.734+07:00</updated><title type='text'>Sudahlah, jangan berdebat lagi. Aku benar, kamu yang salah.</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Rekonsiliasi. Istilah ini dalam beberapa hari terakhir kembali naik daun. Tepatnya ketika santer diberitakan di banyak media, anak-anak tokoh utama seputar G30S berkumpul dan saling memaafkan. Ada Tommy Suharto, Amelia Yani,  Nani DI Pandjaitan, Ilham Aidit, Feri Omar Dhani, dan masih banyak lagi. Ini jelas terkait dengan sebuah tanggal keramat yang menandai sejarah kelam bangsa ini, 30 September 1965. Bahwa pada tanggal itu, seperti kita semua mahfum, ada tujuh jenderal mati terbunuh (dan satu jenderal lainnya jadi juru selamat utk kemudian jadi diktator selama lebih 3 dekade). Dan hari-hari sesudahnya, terjadi pembantaian massal terhadap dua juta anak bangsa oleh saudara-saudara mereka sendiri. Tanpa surat perintah penangkapan, tanpa pengadilan, tanpa pembelaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu istri, anak, cucu, atau keponakan dari orang-orang yang dibunuh itu dikebiri hak-hak politiknya, dimatikan rejekinya. Anak-anak yang tidak pernah meminta dari rahim siapa dia dilahirkan, dan dari sperma laki-laki mana dia diciptakan, harus menanggung dosa turunan. Nggak boleh jadi polisi, dilarang jadi tentara, haram jadi PNS, dan jika mau selamat harus pilih Golkar dalam setiap pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekonsiliasi. Saya nggak paham persis apa maknanya. Kecuali, ketika mendengar istilah itu yang segera terlintas dibenakku adalah: “yang sudah ya sudah, jangan diungkit-ungkit lagi”. Sing wis yo uwis. Bagus sih, sebetulnya. Sebuah ajakan untuk berdamai, merangkul saudara setelah sekian lama bertikai, dan saling memafkan untuk kemudian mencoba melupakan kesalahan masing-masing di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma, kesalahan mana yang coba dimaafkan jika hingga rekonsiliasi itu diikrarkan, masing-masing pihak masih saja merasa bahwa dia dan hanya dialah yang benar sementara pihak lain salah. Rekonsiliasi semacam ini, seolah ingin mengatakan: Sudahlah, kamu memang salah, tapi gak apa-apa kok. Aku maafkan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kata yang sudah ya sudah diucapkan, pernahkah secara kritis kita bertanya misalnya: Semua jenderal AD diincar, kenapa Pak Harto yang waktu itu juga strategis posisinya yakni Pangkostrad, kok nggak diincar? Jangan-jangan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ini adalah tulisan dari Budiman Sujatmiko tertanggal 18 November 2008, kutemukan &lt;a href="http://www.opensubscriber.com/message/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/10788796.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;. &lt;em&gt;I couldn't agree more with him&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, istilah 'Rekonsiliasi' tidak berdiri sendiri. Ia selalu didahului dgn istilah 'Kebenaran' sebelum kata 'Rekonsiliasi', artinya: Sebelum rujuk, maka para pihak terkait akan bertutur di hadapan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, tentang apa saja yang mereka lakukan di masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, si pelaku bersaksi atau mengakui: berapa orang yg telah dia bunuh, dia perkosa atau dia culik, di mana dia kuburkan korban-korbannya (sehingga keluarga si korban punya kesempatan memakamkannya kembali secara wajar atau, setidaknya, menziarahinya), siapa yang memerintahkan semua itu, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah setelah pengakuan ini diungkapkan, si pelaku tidak dipidana atas perbuatannya tersebut, melainkan--karena proses rekonsiliasi itu tadi--ia dimaafkan (karenanya tak dihukum), tetapi tidak dilupakan (artinya semua pengakuan itu didokumentasikan sebagai dokumen resmi negara, sebagai rujukan agar perbuatan yang sama tak diulangi lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokumen tsb, di Argentina berisi pengakuan-pengakuan para pelaku dan juga korban yang berhasil selamat hidup-hidup dari periode Perang Kotor di era rejim militer (termasuk di dalamnya pengakuan sejumlah perwira tentara tentang bagaimana mereka membawa korban-korban penculikan dgn mata tertutup menaiki helikopter dan menerbangkannya, kemudian menjatuhkannya ke lautan Atlantik hidup-hidup dgn mata si korban tertutup).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Argentina, semua pengakuan tadi didokumentasikan dgn judul Nunca Mas, yang artinya Jangan Pernah Terulang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekarang di sini, orang bicara rekonsiliasi saja, tak berani bicara perlunya kebenaran. Sehingga agak aneh dan manipulatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kita pernah punya komisi yang mengatur hal tersebut, namun oleh MK Undang-Undang KKR tersebut dibatalkan atas pengajuan KH Yusuf Hasyim dan penyair Taufik Ismail yang menganggap bahwa KKR dipakai utk 'mebangkitkan kembali PKI'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So....? Kita memang tak pernah bisa dewasa sebagai bangsa, meminta rekonsiliasi tapi tak mau kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu enak (karena bisa membunuh dan menculik), sekarang juga maunya enak: Rekonsiliasi! (tapi tidak pernah jelas apa duduk perkaranya krn tak ada kebenaran yg diungkap). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-6226793337575593291?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/6226793337575593291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=6226793337575593291' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6226793337575593291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6226793337575593291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/10/sudahlah-jangan-berdebat-lagi-aku-benar.html' title='Sudahlah, jangan berdebat lagi. Aku benar, kamu yang salah.'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-1364934383924898198</id><published>2010-09-21T16:03:00.007+07:00</published><updated>2010-10-15T13:50:19.687+07:00</updated><title type='text'>Terima kasih telah jahat kepadaku</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Meski lebih sering gagal daripada berhasil, aku adalah orang yang terus mencoba untuk berbaik sangka sama Allah, dalam arti aku selalu menganggap apapun yang terjadi padaku sekarang ini, yang kumiliki sekarang ini, adalah hal terbaik dari-Nya yang mesti kusyukuri.&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dan, setiap aku kumat, berbaik sangka seperti ini membawaku berterima kasih kepada siapa saja yang sengaja atau tidak, menyebabkan aku berada pada keadaanku sekarang. Ya. Siapa saja, termasuk orang yang pernah menjahati saya. Kalau dulu nggak ada orang sok tahu dan membuatku kesasar pas nyari kos-kosan di daerah Utan Kayu, mungkin aku nggak akan pernah ketemu dengan si Dani, gadis bohay montok nan cantik yang di kemudian hari kunikahi dan kini memberikan dua jagoan ganteng untukku. Andai saja nggak ada abang sopir metromini yang hobi bener ngetem bikin macet jalan, mungkin aku nggak bisa menjadi pribadi sesabar sekarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam konteks yang berbeda dan rada-rada nggak nyambung dengan tulisan ini, para jagoan--baik yang nyata maupun fiksi--sesungguhnya perlu berterima kasih kepada para penjahat karena berkat jasa mereka juga, para jagoan itu bisa menjadi pahlawan. Pandawa bisa hebat karena dikuyo-kuyo sama Kurawa dan Sangkuni. Hanoman bisa jadi pahlawan karena ada Rahwana. Clark Kent bisa jadi hero karena Lex Luthor. Coba kalau di Kota Metropolis orangnya baik semua, Superman nggak akan eksis dan Lois Lane juga nggak bakalan naksir dia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Orang kaya perlu berterima kasih kepada orang miskin. Bayangkan Anda punya duit dua triliun, tapi semua orang lain di muka bumi ini masing-masing punya uang minimal 150 triliun. Apakah Anda dapat disebut kaya? Tidak. Untuk bisa disebut kaya, haruslah ada orang lain yang punya harta lebih sedikit daripada Anda. Untuk bisa disebut dermawan, Anda memerlukan orang lain yang memerlukan sedekah dari Anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="FONT-FAMILY: arial"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Maka itu, aku nggak sedang bercanda jika aku bilang aku berhutang budi pada Abang-abang sopir metromini yang jalannya pelaaaan.... nggak mau minggir dan mendadak ugal-ugalan jika di ujung jalan terlihat metromini lain menyusul.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="FONT-FAMILY: arial"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Terima kasih pula kepada Mas-mas yang nekat merokok di ruangan ber-AC atau dalam angkutan umum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Terima kasih kepada PDAM Kota Harapan Indah Bekasi yang memproduksi air keruh, keluarnya Senin-Kemis, sembari tetap percaya diri menaikkan tarif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Terima kasih kepada pengendara yang main klakson di perempatan padahal lampu masih menyala merah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Terima kasih, karena berkat perbuatan Anda, aku merasa kini menjadi pribadi yang lebih sabar (terima kasih Pak Mario Teguh yang super, atas kata “pribadi”-nya). Karena berkat tabiat dan perilaku barbar Anda, saya jadi lebih sering berzikir dan istighfar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Selamat Idul Fitri 1431 H, Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. Mohon maaf lahir dan batin. Maaf juga untuk tulisan yang ndak jelas apa maksudnya ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-1364934383924898198?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/1364934383924898198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=1364934383924898198' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1364934383924898198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1364934383924898198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/09/terima-kasih-telah-jahat-kepadaku.html' title='Terima kasih telah jahat kepadaku'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-1020462860589981639</id><published>2010-08-30T15:17:00.013+07:00</published><updated>2010-09-09T00:48:39.058+07:00</updated><title type='text'>Andai Bang Foke Seorang Biker</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/THxUfU55ARI/AAAAAAAAANg/GNriRs0kjgc/s1600/Mobil+Murah+di+Larang+Masuk.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511372941158842642" style="WIDTH: 270px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/THxUfU55ARI/AAAAAAAAANg/GNriRs0kjgc/s320/Mobil+Murah+di+Larang+Masuk.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Banyak kebijakan pemerintah yang lucu-lucu, itu kita semua sudah mahfum. Tadinya aku mengira penetapan anggaran pendidikan minimal 20% APBN dalam UUD 1945--sebagaimana telah kutulis &lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/04/anggaran-foya-foya-20-apbn.html"&gt;di blog ini&lt;/a&gt;--adalah sudah yang paling konyol, eh ternyata ada lagi yang lebih konyol. Kebijakan itu bernama pelarangan masuk sepeda motor di jalan-jalan protokol Jakarta, yang katanya akan segera diberlakukan setelah lebaran nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Come on&lt;/em&gt;, Pak Fauzi Bowo. Saya percaya kata teman saya, Anda tidak pintar. Tapi sumpah saya tidak pernah menyangka Anda sebodoh ini. Apa sih sumbangan &lt;em&gt;policy &lt;/em&gt;ini bagi upaya mengatasi mampetnya Jakarta selain semakin memperjelas keyakinan orang bahwa pemerintah hanya menghamba pada si kaya? Sori, saya menyalahkan Anda karena selain saya tidak kenal siapa Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, kebijakan ini tentu tidak akan pernah ada tanpa &lt;em&gt;endorsement &lt;/em&gt;dan tanda tangan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan yang paling sering dikemukakan adalah karena sepeda motor adalah biang macet, ditambah dengan pertumbuhan jumlahnya yang memang gila, yakni rata-rata 327-an ribu unit/tahun (atau hampir 900 unit/hari). Karenanya, jika tidak dibatasi, nggak lama lagi Jakarta bakalan berubah jadi lautan sepeda motor. Tapi jangan salah, pertumbuhan mobil juga nggak kalah edan. Menurut catatan Polda Metro, tahun 2002 - 2007, mobil mengalami kenaikan hingga 100 ribu unit/tahun (atau hampir 275 unit/hari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pengen tahu nih, berapa nilai matematika Pak Foke dulu pas sekolah atau kuliah. Kalau ngepas 6 atau C saja, aku yakin itung-itungannya bakalan rada-rada bener dikit. Sekarang mari kita hitung, berapa &lt;em&gt;space &lt;/em&gt;yang diperlukan untuk menampung pertambahan masing-masing kendaraan. Biar mudah itung-itungannya, di sini aku pakai Honda Supra X utk mewakili ukuran motor, dan Toyota Avanza utk mobil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Motor: P(1,889) x L(0,702) = 1,326 M2; dikalikan pertambahan perhari 900 unit = 1.193,47 M2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mobil: P(4,120) x L(1,630) = 6,716 M2; dikalikan pertambahan perhari 275 unit = 1.846,79 M2&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jelas, meski pertambahan motor 3 kali lebih tinggi dari mobil, &lt;em&gt;space &lt;/em&gt;yang diperlukan tetap saja banyakan mobilnya. Makanya dari awal kubilang konyol kalau justru hanya motor yang dibatas-batasi, sementara mobil dibiarin beranak-pinak nggak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang dilihat dari konusmsi BBM. Mobil paling irit sekalipun mengkonsumsi bensin minimal 2x motor paling boros. Sementara dalam hal utilisasi, yang namanya mobil mau jumlah kursinya 4 atau 7, tetep aja isinya cuma satu orang, paling banter dua itupun sudah termasuk sopir. Argumentasi kebijakan ini jelas keliru, kecuali jika niatnya mau boros BBM sambil membiarkan mobil-mobil yang lebih makan tempat padahal hanya berisi satu orang itu makin bikin sesak Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taruhan, kebijakan itu secuilpun nggak bakalan ada kontribusinya buat mengatasi macet. Malah makin bikin frustasi, iya. Yang kuceritakan berikut ini adalah fakta. Di tempat tinggalku, Klaster Taman Sari Kota Harapan Indah, populasi mobil lebih banyak daripada rumah, dalam arti hampir semua keluarga punya mobil dan tidak hanya satu. Mobil-mobil itu lebih banyak nongkrong di garasi atau diparkir pinggir jalan di muka rumah, sementara si empunya lebih memilih jadi &lt;em&gt;biker&lt;/em&gt;. Yakin deh, yang beginian ini tidak hanya terjadi di kompleks tempat tinggalku. Jumlahnya jelas ratusan kalau nggak ribuan. Nah, sekarang coba bayangkan, kalau kebijakan pembatasan motor ini diterapkan, dan semua orang yang punya mobil tapi lebih memilih jadi &lt;em&gt;biker &lt;/em&gt;itu nggak punya pilihan selain membawa mobil-mobil mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macet dan semrawut membuat orang Jakarta sehat secara fisik tapi jiwanya sakit semua. Jalanan di Jakarta adalah rimba belantara yang penuh sumpah serapah. Dan itu adalah karena pemerintah gagal menyediakan angkutan umum yang layak buat warganya. Titik. Bukan karena yang lain. Percayalah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kebijakan melarang masuk sepeda motor ke jalan-jalan protokol pasti hanyalah ide orang yang bener-bener sudah kehilangan akal. Ntar kalau jalan-jalan itu ternyata masih saja macet, dan itu pasti, siap-siap saja dengan kebijakan tdk masuk akal lainnya yang makin jelas menghamba pada si kaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;strong&gt;"Dilarang Masuk Jalan Ini Selain Mobil dengan Harga di Atas Rp 1 Miliar".&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;em&gt;Yo wis, sak karepmulah. Pancen dalan iki dalane Mbahmu!*)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;*) Terserah Lo, memang jalan ini jalan moyang Lo!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-1020462860589981639?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/1020462860589981639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=1020462860589981639' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1020462860589981639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1020462860589981639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/08/andai-bang-foke-seorang-biker.html' title='Andai Bang Foke Seorang Biker'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/THxUfU55ARI/AAAAAAAAANg/GNriRs0kjgc/s72-c/Mobil+Murah+di+Larang+Masuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-2582478503332718079</id><published>2010-08-23T11:52:00.012+07:00</published><updated>2010-10-29T11:22:15.728+07:00</updated><title type='text'>Ketika orang Islam hanya boleh sholat di mesjid</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dua minggu terakhir ini si Wisanggeni dapat ulangan di sekolahnya. Dan terdorong keinginan agar anakku itu dapat nilai bagus, tiap hari aku ikut-ikutan sibuk menemani dia belajar setelah selama ini istrikulah yang lebih banyak menjalankan fungsi itu. Sebelumnya, hanya kadang-kadang saja aku nemenin si Wisang belajar atau nggarap PR karena padatnya tugas-tugas kenegaraan yang mesti kuselesaikan (halah, alesan!).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Materi yang diujikan adalah pelajaran selama satu bulan terakhir. Yang harus dipelajari, kalau nggak buku cetak ya Lembar Kerja Siswa (LKS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali membuka buku cetak pelajaran dan LKS si Wisang, setiap kali pula emosiku kok jadi gampang tersulut. Penginnya &lt;em&gt;misuh-misuh &lt;/em&gt;(mengumpat-ngumpat). &lt;em&gt;La wis piye &lt;/em&gt;(habis, gimana lagi), bukannya mencerdaskan, materi yang diajarkan kok rasa-rasanya malah bikin goblok anak didik. Ini penyakit lama yang nggak sembuh-sembuh dan herannya kok yang kayak gini nih sepertinya makin parah. Sepertinya, anggaran minimal 20% APBN utk sektor pendidikan sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 itu nggak ada efeknya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Cobalah perhatikan contoh soal-soal di LKS Ilmu Pengetahuan Sosial di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/THSBeF940FI/AAAAAAAAAM4/1YIWknbfDIw/s1600/LKS+IPS.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509170598178771026" style="WIDTH: 350px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 349px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/THSBeF940FI/AAAAAAAAAM4/1YIWknbfDIw/s400/LKS+IPS.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mari kita bahas soal-soal yang nomornya dilingkari merah (yukkkk mareee...):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;1. Hal yang pertama disebut saat memperkenalkan diri adalah ... &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;" &gt;(jawaban yang dikehendaki/JyD: nama)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2. Ada nama lengkap ada juga nama ..... &lt;u&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(JyD: panggilan)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;3. Orang yang melahirkan kita biasa kita panggil .... &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;(JyD: ibu)&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;4. Paman adalah panggilan untuk .... &lt;strong&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(JyD: saudara laki-laki ayah atau ibu)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Yang ada di dalam kurung itu adalah jawaban-jawaban yang dikehendaki*) baik oleh kunci jawaban maupun oleh bu guru. Selain jawaban-jawaban itu, salah alias &lt;em&gt;wrong answers&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Wis jan, ra mutu tenan!&lt;/em&gt; Wong LKS kayak gitu kok dipakai lo. Heran Gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal-soal di atas hanya empat dari ratusan soal di LKS pelajaran IPS dan ribuan soal di LKS di pelajaran-pelajaran lainnya. Jawabannya mesti teksbuk, dan tidak terbuka ruang bagi anak didik untuk kreatif membuat jawaban yang berbeda. Padahal, apa ya salah jika pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab oleh si Wisang dengan jawaban sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Hal yang pertama disebut saat memperkenalkan diri adalah ... &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;" &gt;(jawaban Wisang/JW: Assalamu'alaikum)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;2. Ada nama lengkap ada juga nama ..... &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;(JW: samaran)&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;3. Orang yang melahirkan kita biasa kita panggil .... &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;(JW: simbok)&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;4. Paman adalah panggilan untuk .... &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;(JW: Om)&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Entah si Wisanggeni yang terlalu pinter, entah pembuat pertanyaannya yang dodol, pas pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tempo hari, ada soal gini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Umat Islam bersembahyang di ..... &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik-titik itu dijawab si Wisang, sehingga kalimat lengkapnya berbunyi: “umat Islam bersembahyang di LAPANGAN”. Itu karena dia ingat pas Idul Fitri tahun lalu dia kuajak sholat Ied di lapangan sepak bola di Semarang. Untung gurunya cukup &lt;em&gt;wise &lt;/em&gt;dan tidak menyalahkan jawaban itu, meski aku ngebayangin dia pasti geleng-geleng kepala dan nyengir liat jawaban kreatif si Wisang. Cuma, aku khawatir jangan-jangan ada lebih banyak guru yang buru-buru menganggap salah jawaban si murid hanya gara-gara jawaban itu tidak sama dengan yang ada di kunci jawaban. Padahal yang namanya sholat tuh bisa dilakukan di mana saja, bahkan di gereja seperti dilakukan seorang kenalanku yang kebetulan bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana nih, Pak Mendiknas? Kapan negara kita ini maju kalau tunas-tunas bangsa ini dicetak hanya menjadi robot penghafal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:78%;"&gt;*) Jawaban yang dikehendaki aku karang sendiri, tapi mudah-mudahan seperti itulah adanya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-2582478503332718079?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/2582478503332718079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=2582478503332718079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2582478503332718079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2582478503332718079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/08/dua-minggu-terakhir-ini-si-wisanggeni.html' title='Ketika orang Islam hanya boleh sholat di mesjid'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/THSBeF940FI/AAAAAAAAAM4/1YIWknbfDIw/s72-c/LKS+IPS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-6308720649745563429</id><published>2010-08-20T07:37:00.004+07:00</published><updated>2010-08-20T08:00:24.541+07:00</updated><title type='text'>Waktu(ku) adalah uang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Nasionalismeku sumpah jangan Anda ragukan lagi. Dus, jelas bukan karena aku antek kumpeni kalau tulisan-tulisanku sepertinya menyanjung kumpeni setinggi langit sementara pada saat yang sama mencela bangsa sendiri. Tolonglah itu semua diartikan sebagai keinginanku untuk menjadikan negaraku tercinta ini maju dan beradab. Alasannya sangat sangat sepele, yakni karena seumur-umur ya baru di negara itu aku numpang hidup rada lama. Beda sama teman-temanku di Bappenas sini yang beruntung tahun ini hinggap di US, dua tahun depan pindah lagi ke Australia, tahun depannya lagi hinggap di Jepang, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mie tektek dan ketoprak gerobakan, atau warung tenda pecel lele yang dengan santai menyerobot trotoar, satu hal indah lain yang membuat aku merasa kehilangan selama setahun numpang hidup di Belanda adalah raungan suara sirine &lt;em&gt;voorrijder &lt;/em&gt;(moge yang ditunggangi polisi dengan sirine bikin budeg telinga buat nyuruh minggir kendaraan lain, biar mobil yang dia kawal melaju mulus bebas macet).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingatku, duabelas bulan tinggal di negeri kumpeni, satu kalipun nggak pernah kudengar sirine &lt;em&gt;voorrijder&lt;/em&gt;. Padahal kos-kosan tempatku tinggal (namanya Weenapad) lokasinya dekat banget sama pusat kota di kota terbesar kedua di negeri itu. Di tanah air tercinta, sehari bisa dua hingga empat kali. Sering-seringnya sih rombongan Wapres yang mau berangkat ke Istana atau pulang ke rumah dinasnya yang kebetulan berada persis di samping Bappenas instansi tempatku berkarya untuk negara. Kadang-kadang juga mobil yang nggak ketahuan siapa gerangan yang ada di dalamnya yang ketemu pas dalam perjalananku dari markas Harapan Indah ke Bappenas pulang pergi. Orang dalam mobil yang dikawal itu pastilah sangat menghargai waktu, setiap detik sungguh berarti. Kalau enggak, ngapain juga dia begitu penuh semangat menyela antrean pengen duluan padahal jelas dia tahu persis lalu lintas sedang padat merayap kalau nggak malah macet berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, siapa bilang orang Indonesia nggak menghargai waktu? Cuma, penghargaan terhadap waktu itu masih sebatas pada “waktuku”, dan belum pada "waktu kita" boro-boro “waktumu”. Orang dalam mobil yang dikawal polisi itu seperti hendak berkata: “minggur Lo semua, Gw banyak urusan. So, Gw mesti cepat sampai tujuan”. Waktuku adalah uang, dan waktumu bukan apa-apa. Kalau aku telat dunia kiamat, kalau kamu yang telat kagak ada ngaruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, setiap orang mikir kayak gitu. Emangnya yang punya urusan penting cuma kamu, Njing? &lt;em&gt;Emange kowe dewe sing butuh cepet, Su?&lt;/em&gt; Maka, jadilah jalan raya rimba belantara orang-orang egois yang merasa harus secepatnya sampai tujuan, peduli setan jika dengan perilaku dia berkendara keselamatan diri sendiri dan orang lain jadi taruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya untuk sampai kantor lebih cepat lima menit saja, orang nekat menerobos palang pintu KA yang jelas-jelas sudah ditutup. Padahal kalau udah sampai kantor, satu jam pertama juga paling-paling dihabiskan buat mbuka pesbuk, mbalesin offline mesej di YM, atau hal-hal nggak penting lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pas nemu perempatan, tiap orang sepertinya pada nggak sabaran. Lampu udah merah masih juga nekat diterobos. Belum lagi ketika nungguin lampu ijo, motor aneka merek menyemut memenuhi zebra cross, membuat pejalan kaki di Jakarta ini sungguh tiada terkira sengsaranya. Lampu masih merah juga udah pada mainan klakson, karena pikiran menyimpang a la Jakarta berikut ini telah diyakini oleh hampir semua orang: tanda boleh jalan bukan jika lampu di depan kita menyala ijo, melainkan jika lampu dari arah yang bersilangan sudah berwarna kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, orang Jakarta fisiknya memang terlihat sehat, tapi jiwanya pada sakit semua.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-6308720649745563429?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/6308720649745563429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=6308720649745563429' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6308720649745563429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6308720649745563429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/08/waktuku-adalah-uang.html' title='Waktu(ku) adalah uang'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-1749153503978262614</id><published>2010-08-19T09:35:00.004+07:00</published><updated>2010-08-20T08:09:37.589+07:00</updated><title type='text'>Teler bersama Lion Air</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;KABIN LION AIR, 2/12/2009.&lt;em&gt; Karena air mineral nggak dikasih boro-boro snack, koran gratis juga nggak ada, sementara SMS-an pakai hape juga jelas tidak diijinkan oleh Undang-undang, kita jadi nggak ada pilihan lain selain baca-baca buku petunjuk keselamatan sampai khatam berulang-ulang. Secara kebetulan nemu majalah terbitan maskapai ini. Baru halaman pertama, eh sudah ilfil nemu istilah bahasa asing yang ditulis sembrono. Multi-Player effect...??? Multiplier effects kaleeeee! &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TGyaAjAGAtI/AAAAAAAAAMw/m28h8W0IuU0/s1600/Multiplayer.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506945778553586386" style="WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TGyaAjAGAtI/AAAAAAAAAMw/m28h8W0IuU0/s320/Multiplayer.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Gara-gara si Joko temanku curhat mengenai Lion Air sebagaimana beberapa waktu lalu kuposting dalam blog ini, aku jadi teringat perjalanan dinasku ke Manado hampir setahun lalu. Sudah usang sih peristiwanya, tapi aku pikir masih sangat relevan isunya, karena toh insiden yang sama masih saja berulang-berulang terjadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan si Joko, aku juga sempat heran juga awalnya, kok Lion lo yang dipilih sama kolega kantor yang ngatur tiket. Padahal dengan SPPD at cost kayak sekarang, mestinya mbok ya dipilih Garuda gitu yang rada lebih keren dan bonafid. Toh berapapun harga tiketnya, asal masih kelas ekonomi, pasti diganti sama negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman bilang, sekali lagi teman-teman lo yang bilang, bukan saya, bahwa kebanyakan pramugari Lion Air tuh modal tampang doang. Ayu-ayu, &lt;em&gt;ning &lt;/em&gt;(tapi) Bahasa Inggrise memble, kurang cekatan, sopan santun ke penumpang kurang, wis pokoknya servisnya masih banyak yang harus dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman kuliah di MPKD UGM dulu, namanya Adi Nusantara, pernah bikin joke tentang Lion. Dia bilang gini, Lion Air tuh perusahaan penerbangan apa bandar sabu-sabu sih sebetulnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emang kenapa, Bro?, tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lah itu, mosok maskapai penerbangan kok semboyannya “make people fly”, bikin orang teler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayah! Mereka punya semboyan bikin orang teler, eh bikin orang terbang, itu kan ya ada maksudnya to, Bro. Kalau kita melihat kebelakang, Lion Air-lah yang mempelopori penerbangan murah. Dulu, waktu naik pasawat masih muahal, hanya orang-orang berduit atau Korpri kere seperti kita tapi beruntung dibayari negara, saja yang bisa pergi ke sana kemari pakai pesawat. Selebihnya, ya mesti rela tepos pantatnya Jakarta-Medan pakai Bus Lorena, atau mesti rela berlatih sabar Jakarta-Makassar berhari-hari berada dalam kapal laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, lihatlah, berkat jasa Lion Air juga, bandara dapat diakses oleh siapapun, baik yang pake sepatu mahal maupun yang bersendal jepit, baik yang baunya wangi pakai Channel dan Bvlgari maupun yang bau balsem Cap Lang. Berkat kepeloporan Lion Air, naik pesawat sekarang bukan lagi aktivitas eksklusif yang hanya bisa dinikmati sedikit orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lion Air emang hebat. Kalau orang ditanya, selain Garuda, maskapai domestik apa yang paling sering Anda tumpangi?, hampir semua orang akan bilang Lion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma ya itu, orang bilang ada harga ada rupa, Anda membayar lebih banyak saya menservis lebih yahud, atau anekdot tentang tukang becak: “wong cuma bayar 4 ribu kok pengen selamet”. Layanan Lion Air boleh dibilang mengikuti adigium canggih itu. Bener-bener, saya dibuat sengsara selama berangkat dan pulang bersama Lion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas cek in Jakarta-Manado, jelas-jelas kubilang ke si Mas petugas, aku minta window seat yang bisa jelas ngeliat ke bawah. Dikasih nomer 22F. Dapat nomor seat itu, aku langsung ngebayangin bakalan duduk di belakang, pas menjelang landing menikmati suasana senja kota Manado. Eh, begitu sampai di kabin, nomer 22F itu pas di sayap. Pesawatnya rupanya pesawat Boeing 747 seri 900 yang nomer seat-nya sampai 38.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, di ruang tunggu. Jelas-jelas di boarding pass tertulis waktu boarding (masuk pesawat) adalah jam 12:15. Eh, sampai jam 13:00 belum ada tanda-tanda pesawatnya siap. Sepuluh menit kemudian, tahu-tahu ada pengumuman bahwa ruang tunggu dialihkan dari F4 ke F1. Ngoper-ngoper penumpang dari satu ruang tunggu ke ruang tunggu berikutnya seperti ini sering banget dilakukan, seperti oper-operan penumpang metromini. Tidak ada pemberitahuan bahwa terlambat, tidak ada permintaan maaf penumpang harus pindah2 pintu boarding, seolah-olah dua hal itu sudah sangat lazim adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam pesawat. Reputasi bahwa pramugari Lion Air cuma modal tampang (padahal yang namanya tampang itu juga sebenernya nggak cantik-cantik amat) rupanya memang bukan hanya mitos. Penumpang di sebelahku ada yang iseng motret, mungkin karena dia terlalu eksaited seumur-umur baru sekali itu terbang. Pramugari menegurnya dengan kata-kata dan intonasi yang kurang pantas. Intinya dia bilang memotret adalah aktivitas yang dilarang dilakukan di kabin. Tapi cara Mbak Pramugari bicara, dan kata-kata yang dia pilih, sama sekali tidak nyaman ditelingaku yang kebetulan ikut nguping, apalagi di telinga penumpang sebelah yang kena tegur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kembali ke Jakarta, urusan bagasi giliran bikin pening kepala. Perasaan jalan kaki dari pesawat tadi mendarat ke tempat klaim bagasi sudah rada jauh dan lama (buat Anda yang biasa mendarat di Sukarno-Hatta airport pasti tahu persis betapa jauhnya). Ditambah pipis di toilet. Eh, nungguin koper bagasi ternyata masih butuh 30 menit waktu tambahan. Itu belum seberapa, karena ternyata hampir separo lebih penumpang termasuk saya mesti menunggu lebih lama lagi. Pasalnya, sebagian bagasi kami entah kenapa katut pasawat Lion yang terbang ke Surabaya. Parah banget, dan lebih parah lagi tidak ada informasi secuilpun mengenai insiden ini seandainya tidak ada Bapak-bapak yang ngamuk-ngamuk ke petugas bagasi Lion yang dari tadi cuma mondar-mandir nggak jelas. Kampret!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-1749153503978262614?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/1749153503978262614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=1749153503978262614' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1749153503978262614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1749153503978262614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/08/teler-bersama-lion-air.html' title='Teler bersama Lion Air'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TGyaAjAGAtI/AAAAAAAAAMw/m28h8W0IuU0/s72-c/Multiplayer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-4057132276233893583</id><published>2010-08-18T15:04:00.008+07:00</published><updated>2012-01-18T11:48:09.556+07:00</updated><title type='text'>Karena kamu komunis, maka kamu atheis</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;i&gt;Solo itu gudangnya fundamentalis: yang Islam banyak, yang Kristen juga. Kejawen masih eksis, komunis pun masih ada&lt;/i&gt; (Joko Widodo, Walikota Solo sebagaimana dikutip Majalah Tempo Edisi 17-23 Agustus 2009).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Bapak dan Ibu sekalian, bahkan seorang walikotapun percaya bahwa komunis adalah kata ganti yang sahih untuk atheis. Maafkan saya Pak Jokowi, mungkin saya keliru menafsirkan &lt;i&gt;statement &lt;/i&gt;Anda. Kesimpulan saya hanya berangkat dari logika sederhana kalimat Anda. Islam jelas agama, Kristen juga agama. Kejawen bagi banyak orang dipercaya juga sebagai "agama tanda kutip" (Kejawen = sinkretisme dari ajaran Hindu, Budha, Islam, plus animisme). Dengan meletakkan kata komunis setelah ke-3 agama yang disebut sebelumnya, saya yakin bahwa Anda menganggap komunisme sebagai sebuah sistem agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Pak Harto lengser, semuanya berubah. Indonesia yang tadinya adalah negara swasembada beras, berganti menjadi negara importir beras terbesar di dunia. Indonesia yang tadinya adalah negara dengan KB paling berhasil, berganti menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan penduduk tertinggi di dunia. Indonesia yang tadinya sangat represif terhadap pers, menjadi negara dengan kebebasan pers yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.Tapi ada satu hal yang nampaknya tetap lestari. Ya itu tadi, kita tetap meyakini bahwa “komunisme” sama dengan “atheisme”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Solo sebuah radio diprotes ormas Islam gara-gara memutar lagu Genjer-genjer yang oleh Orde Baru dianggap lagu kebangsaan PKI. Padahal, lirik lagu itu nggak ada satupun kata yang bernada mengajak makar atau memuja PKI. Kata orang, syair Genjer-genjer murni bercerita tentang kehidupan rakyat kecil sehari-hari yang mesti makan genjer (gulma yang tumbuh di sawah) karena orang pada kelaparan akibat Romusha. Jelas berbeda dengan Mars Nasional Demokrat-nya Surya Paloh, atau Mars Partai Demokrat karangan Esbeye. Sial bener nasib penciptanya, (konon bernama Muhammad Arief) gara-gara lagu itu, dia ikut-ikutan dibunuh karena dianggap terlibat G30S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mau membuat pertentangan seperti siang vs malam atau pahit vs manis, lawan kata “komunisme” seharusnya adalah “kapitalisme”. Ini karena komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap faham kapitalisme di awal abad ke-19, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Melalui buku Das Kapital--yang diyakini orang sebagai kitab sucinya orang komunis--, Karl Marx melakukan analisis kritis terhadap kapitalisme dan aplikasi praktisnya dalam ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang mungkin membuat orang mengidentikkan komunisme dengan atheisme adalah pernyataan Marx bahwa agama adalah candu. Menurutnya, agama membuat manusia hidup dalam dunia khayal. Entah siapa yang membangun logika berikut ini. Premis #1: Karl Marx seorang atheis; Premis #2: Karl Marx menulis Das Kapital; Premis #3: Das Kapital adalah dasar paham komunisme. Maka: Komunis = atheis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misliding terjadi pada titik ini. Karena Marx seorang atheis, maka semua orang komunis adalah atheis. Logika ini sebetulnya bisa dengan mudah dipatahkan. Komunisme adalah lawan kata kapitalisme. Jika komunis adalah tak ber-Tuhan, maka kapitalis adalah ber-Tuhan. Kenyataannya? Belanda adalah negeri kapitalis, tapi 42% penduduknya atheis (jauh lebih banyak dari jumlah penganut agama terbesar di sana, Katholik Roma, yang hanya dianut oleh 26% penduduk). China adalah negara komunis, tapi hampir semua orang di sana memeluk agama tertentu (paling besar agama Budha, disusul agama Tao, Islam, Katholik, dan Kristen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, menurut saya, ini hanyalah hasil dari perang ideologi. Dan kebetulan kapitalisme yang keluar sebagai pemenang. Berandai-andai saja, jika komunisme yang menang, barangkali gantian kapitalisme yang diidentikkan dengan atheisme. Mungkin saja, mengapa tidak.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-4057132276233893583?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/4057132276233893583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=4057132276233893583' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4057132276233893583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4057132276233893583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/08/karena-kamu-komunis-maka-kamu-atheis.html' title='Karena kamu komunis, maka kamu atheis'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-5396857355654611788</id><published>2010-08-12T11:54:00.004+07:00</published><updated>2010-08-12T12:05:33.838+07:00</updated><title type='text'>Ketika bertanya adalah salah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TGN-zcpaX0I/AAAAAAAAAMg/deqtjC2Bi54/s1600/Lionair_logo.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504382591905193794" style="WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 98px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TGN-zcpaX0I/AAAAAAAAAMg/deqtjC2Bi54/s320/Lionair_logo.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Satu dari sedikit hal paling mengganggu pikiranku adalah ketika aku divonis bersalah padahal aku nggak merasa bersalah. Ketika aku dinyatakan salah di hadapan sebuah forum, dan aku tidak punya sedikitpun kesempatan untuk menyampaikan klarifikasi di forum yang sama. Tanpa diskusi, tanpa argumentasi. Kamu salah, titik. Celakanya, dasar menentukan vonis itu kadang-kadang hanya berupa pengaduan orang mengenai apa yang aku katakan, yang sangat mungkin ditambah-tambahi opini subjektif si pelapor. Ini tidak ada kaitannya dengan aku difitnah atau bukan. Ini cuma masalah informasi yang terdistorsi dan belum tentu akurat jika hanya bersumber dari satu sisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini ada seorang teman bercerita, tepatnya curhat. Namanya, sebut saja Joko. Dia seorang PNS di sebuah kementerian di Jakarta. Syahdan, Joko mendapatkan tugas dari bosnya ke Surabaya untuk menghadiri sebuah seminar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, orang yang dapat tugas luar kota semacam ini bakalan bersorak gembira karena di kepalanya langsung kebayang tabungan bakalan nambah. Ini karena aturan perjalanan dinas bagi PNS a la jaman baheula adalah, yang bersangkutan dikasih segepok duit yang sudah diasumsikan cukup untuk tiket Garuda, hotel standar, dan biaya hidup selama di lapangan. Perkara kemudian dia berangkatnya nebeng truk sembako, tidurnya di emperan toko, terus makannya minta ditraktir panitia, itu pinter-pinternya ybs. Yang penting kerjaan beres. Sisa uang dinas adalah hak ybs, mau diapain saja, monggo terserah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dulu, lain sekarang. Aturan perjalanan dinas sekarang ini adalah at cost. Negara akan memberi ongkos hanya sebesar pengeluaran riil, itu juga asalkan tidak melebihi jatah plafon maksimal yang sudah dijatahkan. Maksudnya kira-kira, kalau sewa kamar hotel utk PNS golongan Anda standarnya 400 ribu, terus Anda berani-beraninya buking kamar yang 1 juta, maka 600 ribu kekurangannya silakan Anda tombokin sendiri. Sebaliknya, kalau Anda nggak keluar ongkos sewa hotel karena ada marbot/takmir masjid yang berbaik hati mempersilakan Anda tidur di teras kantornya, maka negara tidak akan memberikan Anda sepeserpun duit untuk biaya menginap. Anda sudah dianggarkan naik pesawat Garuda. Kalau Anda pengennya teuteup naik kereta kelas ekonomi yang bau pesing, banyak orang goblok merokok, dan toiletnya bau pesing, ya monggo. Tapi negara cuma akan ganti duitnya sebesar harga tiket KA kelas ekonomi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kisah mengenai si Joko di atas. Sebagai pegawai yang baik, dia oke-oke saja ditugasin dinas ke mana saja. Masalah kemudian muncul, berawal dari keputusan bos si Joko untuk membelikan tiket pesawatnya Lion Air dan bukan Garuda sebagaimana lazimnya. Iya, Lion Air , yang terkenal dengan slogannya &lt;em&gt;WE MAKE PEOPLE FLY &lt;/em&gt;(KAMI BIKIN ORANG TELER) karena saking seringnya delay nggak jelas. Sebagai pegawai yang mencoba utk tidak hanya sendika dhawuh, dia kemudian bertanya ke si Mbak tenaga kontrak yang mbantuin pesen tiket dan seorang kolega senior yang in charge: Lo Mbak, Pak, kenapa Lion? Kan ke Surabaya ada juga Garuda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sebetulnya hanya bertanya. Nggak ada pretensi apa-apa dengan pertanyaannya itu. Dia sudah akan puas hanya dengan jawaban: Oh, yang Garuda sudah nggak dapat seat. Atau: Oh, duitnya kurang kalau mau pakai Garuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, rupanya pertanyaan ini berbuntut panjang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah rapat sehari setelah Joko kembali dari Surabaya, bencana itu terjadilah. Semua staf dipanggil Direktur. Acara intinya adalah mendengarkan nasehat dan vonis Pak Direktur. Salah satunya ya vonis bahwa si Joko telah bersalah karena berani kurang ajar bertanya mengapa pakai Lion, bukan Garuda tadi. Bunyi vonis: Joko, you are guilty (Ind: kamu bersalah; Jw: Kowe luput)! Sayalah yang berhak ngatur semua staf di sini, dinas keluar kota naik apa. Kamu tidak punya wewenang apapun untuk menentukan, apalagi mendikte maumu naik pesawat ini atau naik pesawat itu. Kamu salah. Titik. Case closed. Nggak ada klarifikasi, nggak ada argumentasi di forum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar “ruang sidang”, si Joko meneleponku. Dia tahu persis aku orang yang nggak suka divonis bersalah tanpa pengadilan yang fair. Curhatnya bertubi-tubi nggak bisa kusela, begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Her, tau gak, gara-gara Gw bertanya kenapa pas tugas ke Surabaya Gw dibeliinnya tiket Lion Air, bukan Garuda, ni tadi Gw dapat teguran dari Bos Gw. Padahal Gw tuh cuma nanya doang, lain kagak. Malah Gw dituduh manja, maunya macem-macem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Gw, masalahnya bukan simply karena Garuda dapat snack sementara Lion cuma dianggurin, Garuda servisnya oke sementara Lion pramugarinya modal cakep doang. Bukan. Masalahnya buat Gw lebih prinsip, karena reputasi keselamatan Garuda lebih baik dari Lion. Banyak orang khawatir naik Lion karena citra negatif maskapai ini, suka maen-maenin nyawa penumpang. Kalau Gw dianggap salah, fine! Tapi, sampai kapan juga Gw nggak bakalan mau mengaku salah karena bertanya mengenai sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan jiwa Gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya, ni tadi Gw gak dikasih kesempatan untuk klarifikasi sama sekali. Gw ngerasa jadi kayak terdakwa yang diadili tanpa didampingi pengacara, tanpa sempat membacakan pleidoi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Mendengar itu, aku bilang gini. Sudahlah Jok, santai aja. Aku juga sering kok ngalamin kejadian kayak gitu. Kamu nggak sendiri. Berdoa saja, mudah-mudahan direkturmu itu suatu saat tahu isi hatimu. Berdoa saja, mudah-mudahan bosmu itu lain kali lebih wise untuk tidak merasa sudah tahu persis semuanya, ngerti banget duduk masalahnya, padahal informasi yang dia dapat baru separonya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-5396857355654611788?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/5396857355654611788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=5396857355654611788' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5396857355654611788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5396857355654611788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/08/ketika-bertanya-adalah-salah.html' title='Ketika bertanya adalah salah'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TGN-zcpaX0I/AAAAAAAAAMg/deqtjC2Bi54/s72-c/Lionair_logo.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-5167839165776300860</id><published>2010-07-20T15:30:00.006+07:00</published><updated>2010-08-18T09:26:39.609+07:00</updated><title type='text'>20 Juli 2003</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TGtEnFxUUOI/AAAAAAAAAMo/z5-PXRZxXGc/s1600/IMG0089A.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506570407745179874" style="WIDTH: 220px; CURSOR: hand; HEIGHT: 176px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TGtEnFxUUOI/AAAAAAAAAMo/z5-PXRZxXGc/s400/IMG0089A.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Dear Istriku, terima kasih atas 7 tahun yang indah yang telah kita lalui. Please, tetaplah bersamaku, menjadi inspirasi dan mendampingiku hingga habis sisa usiaku. HALAH, GOMBAL!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pagi tadi di depan rumah, seperti ritual di hari-hari lain sebelum berangkat ke kantor, si Dani &lt;em&gt;my lovely wife &lt;/em&gt;mencium punggung tanganku, setelah itu kukecup keningnya. Yang tidak biasa adalah ketika aku kasih bonus dengan mencium bibirnya. Kasihan dia, sampai tersipu-sipu begitu, karena adegan hot itu kami lakukan pas di depan hidung tetangga. “Ih, ayah genit, malu diliatin tetangga tuh”, protesnya. Pura-pura nggak denger protesnya, aku bilang gini: “Selamat ulang tahun pernikahan ya Bun. Biarin tetangga lihat, biarin seluruh dunia tahu betapa aku mencintai kamu”. Istriku pasang tampang mrengut, sambil bilang “halah, gomballll!”, dan tak lupa mencubit kecil lenganku, tapi dengan ekspresi seperti itu hatinya pastilah sedang berbunga-bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini (20/7/2010), tujuh tahun sudah kami menikah. Wuih, nggak kerasa, tahu-tahu sudah tujuh tahun aja. Jadi ingat dulu waktu bulan-bulan awal berumah tangga (sebetulnya sampai sekarang juga masih sih), kami mesti melalui proses saling adaptasi yang tidak selalu mudah. Aku berasal dari kampung nun di pinggiran Semarang sana, Jawa tulen, bapak-ibuku petani. Sementara istriku adalah tipe cewek metropolitan, lahir besar di Jakarta, darah setengah Sunda, bapaknya orang kantoran pula. Adat dan nilai yang kami anut jelas beda. Ukuran bersih-kotor, sopan-nggak sopan nggak sama. Bahkan kebiasaan makan aja mesti dicari di mana titik temunya. Aku biasa makan makanan yang basah kuyup, banjir, lagi berkuah-kuah santan; sementara istriku yang setengah Sunda itu biasa makan yang kering kerontang lalap-lalapan. Aku dibesarkan dengan keyakinan bhw seorang istri harus mijitin suami sebagai bukti pengabdian; sementara dia dibesarkan dengan keyakinan bhw suamilah yang harus mijitin istri sebagai bukti pengayoman. Masih banyak lagi yang mesti di&lt;em&gt;-adjust&lt;/em&gt;, dan alhamdulillah sejauh ini kami bisa melewatinya dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman pernah usil nanya: “Her, cantikan mana istrimu sama si Kokom?” (tau aja dia, gw ngefans berat sama cewek direktorat sebelah itu). Aku jawab diplomatis gini: “Dia cantik, istri gw juga cantik. Tapi Bro, gw pilih istri gw bukan karena cantiknya. Gw pilih dia karena gw yakin dialah yang terbaik yang Tuhan kasih buat gw”. Halah, lambemu Her, Her....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, tapi ini serius. Aku selalu mencoba untuk berbaik sangka sama Allah, dalam arti aku selalu menganggap apapun yang terjadi padaku sekarang ini, yang kumiliki sekarang ini, adalah hal terbaik dari-Nya yang mesti kusyukuri. Kalau istriku bukan dia, mungkin perpaduan antara spermaku dan sel telur cewek lain yg jadi istriku tdk akan menjadi dua cowok ganteng seganteng buah hati kami: Wisanggeni dan Ontoseno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek lain mungkin tidak akan tahan punya suami jarang mandi sptku (ups!). Dia bilang gini nih kalau aku nggak mandi: “Ayah nggak mandi ya? Hmmm... bau keringat Ayah bikin Bunda &lt;em&gt;horny&lt;/em&gt;. Bau asem, tapi menentramkan”. &lt;em&gt;Oh God, I love her!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek lain bakalan gagal ngatur cashflow keluarga PNS tulen dengan tingkat penghasilan hanya satu setrip di atas UMR sepertiku. Dia bilang gini nih kalau tanggung bulan saldo di BNI sudah mulai lampu kuning: “Alhamdulillah Yah, uang sekolah si Wisang, PLN, PAM, dan iuran sampah sudah kebayar semua. Mudah2an sisa gaji Ayah msh cukup sampai akhir bulan”. &lt;em&gt;Oh God, I love her sooooo much!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek lain mungkin bakalan uring-uringan punya suami matanya nggak kedip lihat cewek cakep nan putih lagi montok lewat. Dia bilang gini nih kalau aku ketangkap basah sedang bengong lihat cewek bohay: “Emang tuh cewek cakep banget, Yah. Alhamdulillah, Bunda dapat suami laki-laki normal”. &lt;em&gt;Oh God, I can’t live without her!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ni ntar malam, kalau anak2 dah tidur, aku mau setelin dia lagunya Marcell sambil belai-belai rambutnya and so on and so on. Mudah2an dia meleleh denger lagu itu. Gw paling suka pas syairnya gini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Hanyalah kau yang ada di relungku. Hanyalah dirimu, mampu membuatku jatuh dan mencinta. Kau bukan hanya sekedar indah, kau tak akan tergantiiii...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Halah, gombal maneh.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-5167839165776300860?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/5167839165776300860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=5167839165776300860' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5167839165776300860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5167839165776300860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/07/20-juli-2003.html' title='20 Juli 2003'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/TGtEnFxUUOI/AAAAAAAAAMo/z5-PXRZxXGc/s72-c/IMG0089A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-2279819602445916208</id><published>2010-02-17T03:56:00.007+07:00</published><updated>2010-02-24T23:48:59.645+07:00</updated><title type='text'>Kontrol Tanpa Huruf “R”</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Coba bayangkan, apa jadinya kalau di koran yang kredibilitasnya sudah tidak diragukan lagi semisal Kompas, tau-tau ada kata KONTROL yang ketinggalan huruf “R”-nya. Atau, ketika menurunkan berita seputar mudik, koran nomor wahid ini menulis judul gede-gede “Meski Sudah Memegang Tiket, Puluhan Calon Pemudik Tidak Terangkut”, tapi waktu ngetik huruf “I” pada kata “TIKET” jurutulisnya ngantuk dan keliru mencet huruf “O”. Tanggung insiden itu bakal seharian jadi obrolan hangat di Facebook dan Twitter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu di SMA 3 Semarang dulu, aku punya guru sejarah yang paling nggak suka jika menemukan kata yang salah eja. Nilai ulangan yang mestinya 90, bisa dia diskon jadi 75. Dan diskon itu bisa makin sadis jika yang salah tulis adalah nama, misalnya yang seharusnya Dr. Tjipto Mangunkusumo kita nulisnya Dr. Cipto Mangun Kusumo (dengan “C” bukan “Tj“, dan Mangun Kusumo dipisah padahal menurut dia mestinya disambung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan anggap remeh nama seseorang, karena di dalam setiap hurufnya terkandung makna atau doa yang ingin dipanjatkan oleh si pemberi nama”, begitu kira-kira beliau selalu berpesan. Maka dari itu, upayakan untuk selalu precise. “Kalau nggak yakin, jangan malu-malu bertanya langsung ke si empunya nama”, imbuhnya. La kalau orangnya sudah meninggal kayak Dr. Tjipto itu Bu, pegimane? (tanyaku, tentu hanya dalam hati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang lumayan sering jadi korban kesewenang-wenangan salah tulis nama, aku termasuk pihak yang mendukung keyakinan guruku tadi. Aneh tapi nyata, di negaraku sendiri, namaku yang cuma satu kata, Heriyadi, dan kupikir nggak rumit-rumit amat, sering banget ditulis secara salah oleh orang-orang. Kalau nama semisal Adhitya Mulya, penulis jempolan kreator “Jomblo” yang fenomenal itu, salah ditulis orang ya rada lebih masuk akal wong memang nama itu lumayan rumit, setidaknya pada di mana harus meletakkan huruf “h”, apakah di depan sehingga menjadi Adhitya atau di belakang, Adithya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/S3sHRrDfQmI/AAAAAAAAAL0/SgbvH47LDR0/s1600-h/DSCN6791.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438948975176532578" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/S3sHRrDfQmI/AAAAAAAAAL0/SgbvH47LDR0/s320/DSCN6791.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke namaku yang ditulis secara salah tadi. Kasus paling mutakhir terjadi kemarin dan kemarin lusa oleh Asisten Dokter Irawati dan Apotek Kasih, dokter dan apotek langganan keluarga kami di Harapan Indah. Wong sudah berkali-kali dibilangin, kok ya masih saja sak enak sendiri lo mereka itu. Kok ya masih saja salah. Kemarin lusa (15/2), namaku ditulis Haryadi; kemarin (16/2), namaku ditulis lain lagi: Heryadi. Di lain waktu dan kesempatan, kadang pula mereka menulisnya Hariyadi. Halah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/S3sHHHmFdlI/AAAAAAAAALs/PsaTI2fwg50/s1600-h/DSCN6788.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438948793859274322" style="WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/S3sHHHmFdlI/AAAAAAAAALs/PsaTI2fwg50/s320/DSCN6788.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau di rata-rata, dalam waktu hanya 3 bulan mungkin bisa sampai 5 kali namaku ditulis secara salah sama orang di negaraku sendiri. Coba tebak, waktu di Belanda selama 12 bulan, berapa kali kira-kira namaku ditulis salah? Jawabnya, tidak sekalipun! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/S4VXNT2XE5I/AAAAAAAAAME/gra2fV6jy0s/s1600-h/DSCN6825.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441851610925306770" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/S4VXNT2XE5I/AAAAAAAAAME/gra2fV6jy0s/s320/DSCN6825.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ya bisa begitu? Analisisnya mungkin begini (Warning buat yang lagi nyusun skripsi atau thesis! Jangan sekali-sekali mengutip analsis di bawah ini, karena tindakan tersebut pasti bakalan membuyarkan kerja keras Anda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan pertama, kita belum punya tradisi baca-tulis yang kuat. Iingat, selama berabad-abad bangsa kita lebih mengandalkan tradisi tutur/lisan. Ini pula yang menjelaskan kenapa kita orang Melayu kalau bingung nyari alamat lebih suka nanya dulu ke abang becak maski akhirnya makin kesasar ketimbang baca petunjuk arah; sementara bule lebih suka mbaca peta dulu, dan baru setelah mentok karena petanya ternyata ngaco, dia nanya ke orang. Kita kurang menghargai bahasa tulis, dan oleh karenanya kita sudah cukup puas dengan hanya “asal apa yang kita tulis itu bunyinya sudah sama dengan cara melafalkannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan kedua, kita belum punya cukup kesadaran bahwa nama adalah identitas yang unik dari seseorang, dan oleh karenanya alih-alih berpikir “nama kan &lt;u&gt;umumnya&lt;/u&gt; Hariyadi bukan Heriyadi” kita justru berpikir “apa ya, yang &lt;u&gt;tidak umum&lt;/u&gt; dari nama orang ini?”. Jika landasan berpikirnya sudah yang kedua, taruhan kita pasti akan jauh lebih berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan ketiga, pada diri kita bangsa Indonesia umumnya, belum tumbuh penghargaan terhadap “kesakralan” nama itu sendiri (halah kok malah mbulet). Langsung aja ke kisah nyata biar lebih konkret. Dulu banget ketika masih SMA, waktu aku ikut test penempatan untuk kursus bahasa Inggris di IEC Jl. Piere Tendean Semarang, pertanyaan pertama dari pewawancara adalah: What is your name?; dilanjutkan dengan: How do you spell it? Waktu membuka rekening bank di ABN Amro, atau ndaftar surat ijin tinggal di Balai Kota Rotterdam, urutan pertanyaan seperti itu pula yang aku harus jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba sekarang di ingat-ingat, kalau di sini kita ditanya-tanya tentang identitas kita, baik ketika disensus sama orang BPS, diprospek sama agen asuransi, dijadikan target marketing oleh sales, atau diinterogasi sama polisi, seberapa sering kita disuruh mengeja nama kita terlebih kalau nama kita tergolong “pasaran”? Makanya, sepupu jauhku di Kramas sering banget ditulis orang bernama Franky padahal di akte, resminya dia bernama Frengki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ingat waktu dulu ikut lomba nyanyi tembang Jawa di Semarang, aku dapat piagam penghargaan. Di piagam itu tercetak gede dengan huruf kapital semua nama HARIYADI. Ketika kuprotes ke panitia, Mbak-mbak panitia yang menerimaku menjawab enteng begini: “Eh, salah ya? Kirain udah benar, habis nama orang kan biasanya Hariyadi. Baru nemu sekarang lo, ada yang namanya Heriyadi pakai E”. Waktu ngomong gitu bibirnya mencos-mencos bikin gregetan, serasa pengen ngiket pakai tali rafia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, la kok ini tadi ada SMS dari nomer yang belum kusimpan di phonebook, sepertinya orang Bappeda kabupaten apa gitu yang tempo hari kenalan di sebuah seminar, begini bunyi SMS-nya: “Haloooo Pak Hari, apa kabar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari, Hari... Hari gundulmu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-2279819602445916208?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/2279819602445916208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=2279819602445916208' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2279819602445916208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2279819602445916208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/02/kontrol-tanpa-huruf-r.html' title='Kontrol Tanpa Huruf “R”'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/S3sHRrDfQmI/AAAAAAAAAL0/SgbvH47LDR0/s72-c/DSCN6791.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-6318627860679694153</id><published>2010-02-16T11:49:00.004+07:00</published><updated>2010-02-17T07:19:11.196+07:00</updated><title type='text'>Kena Cacar</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/S3s1vs0Iv4I/AAAAAAAAAL8/5M4okT6-LpA/s1600-h/Kena+Cacar_3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439000068579966850" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/S3s1vs0Iv4I/AAAAAAAAAL8/5M4okT6-LpA/s320/Kena+Cacar_3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/S3okaMeV4eI/AAAAAAAAALk/PClVpcF1s8c/s1600-h/Kena+Cacar_2.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Usia sudah lebih dari tiga setengah dasawarsa, mestinya sama penyakit-penyakit anak kecil sudah kebal, eh KO juga aku oleh cacar. Demamnya sejak Sabtu (13/2) malem. Aku pikir kecapekan atau flu gitu, wong paginya pas hujan deras seharian merata di Jabodetabek aku nekat kegiatan &lt;em&gt;outdoor &lt;/em&gt;seharian di Kalideres, makan siangnya telat pula jam 2 siang baru makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sampai Senin (15/2) masih juga demam, akhirnya sambil dalam hati meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia yang menggajiku dengan duit pajak mereka, aku putusin absen, dan ke dokter. Kok ndilalah dokternya juga yakin aku cuma kecapekan, masuk angin, plus flu itu, jadi dia nyaranin cukup istirahat seharian, dan Selasa besok (maksudnya hari ini) bisa kembali menajalankan tugas-tugas negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang tak dapat ditolak, Senin siang sepulang dari dokter, elho, la kok keluar bisul-bisul kecil segede jerawat mulai dari kulit kepala, makin sore makin banyak, makin malam makin kolosal. Dan, tadi pagi pas bangun, weladalah, mukaku sudah nggak berbentuk muka homo sapiens pada umumnya. Tampangku yang dari sononya sudah pas-pasan, tadi pagi terlihat makin memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bangun, istriku yang tidur tepat di sampingku langsung panik dan histeris. “Aaaaaaa.... Who are you? Where is my husband?” (halah lebay!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah situasi tenang dan kami bisa kembali berpikir jernih, keputusan kami bulat, tak bisa ditunda lagi aku harus ke dokter lagi. Jam 07:30, habis ngedrop si Wisanggeni di sekolahannya, aku langsung bablas ke dokter. Dan, beginilah kira-kira kalimat dokter ketika tadi pagi menjatuhkan vonis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara Heriyadi, Saudara telah terbukti secara sah dan meyakinkan terserang cacar. Untuk itu, demi kesehatan Saudara sendiri dan kemaslahatan banyak orang, Saudara harus istirahat di rumah paling enggak selama seminggu, minum obat teratur, dan jauhi anak istri”. Asem! Sadis! Istirahat di rumah, yang berarti nggak kerja, selama seminggu sih enak, sudah pasti jadi dambaan setiap Korpri di seluruh Nusantara. La kalau menjauhi anak apalagi istri, seminggu pula, manalah bisa tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yo wis dinikmatin aja, Her”, kata Bu Yohandarwati bosku via SMS. “Get well soon, Bro”, kata teman-teman via Facebook. Alhamdulillah, puji Tuhan, matur nuwun Gusti, punya banyak teman yang mendoakan kesembuhan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga teman nun jauh di Bali sana yang berbagi tips gimana penanganan pasca cacar agar kulit kembali halus dan mulus. “Dulu saya kena cacar. Karena taat berobat, jadi gak ada bekas. Tapi emang obatnya tradisional, lulur beras dengan umbi-umbian yang mungkin gak ada di Jakarta. Ada yang bilang, biar tidak berbekas, pake parutan jagung. Coba ditanya lagi, takut bertentangan dengan medis. Semoga lekas sembuh ya!”, begitu katanya via SMS. Wah, tips ajaib. Pasti ampuh, dan tentu saja patut dicoba. Tapi entar kalau cacarnya dah sembuh. Ni sekarang aku lagi menikmati jendulan-jendulan kecil yang rame rasanya ini. Gatel, kalau digaruk jadi enak sih, tapi abis itu jadi perih. Perih-perih enak deh pokoknya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mau? Monggo lo kalau ada yang pengen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan virus cacar tidak menular melalui blogspot.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-6318627860679694153?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/6318627860679694153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=6318627860679694153' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6318627860679694153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6318627860679694153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2010/02/kena-cacar.html' title='Kena Cacar'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/S3s1vs0Iv4I/AAAAAAAAAL8/5M4okT6-LpA/s72-c/Kena+Cacar_3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-402252761250726029</id><published>2009-12-02T09:20:00.006+07:00</published><updated>2009-12-03T09:07:13.920+07:00</updated><title type='text'>Modern tapi Katrok</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SxcdIchFh2I/AAAAAAAAALc/4N2qGWmL7es/s1600-h/DSCN6625.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410825508240066402" style="WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SxcdIchFh2I/AAAAAAAAALc/4N2qGWmL7es/s320/DSCN6625.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Aku di Manado nih sekarang, berangkat Senin (30/11) dan kembali ke Batavia hari ini (Rabu, 2/12). Dalam rangka tugas negara, sehingga oleh karenanya tentu juga pake duit negara. Mudah-mudahan kepergianku ke sini ini ada manfaatnya, sayang banget kalau enggak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kemaren lusa berangkat sampai sekarang kok ada saja kejadian yang bikin nggak enak hati. Dimulai dari kabin pesawat Lion Air Jakarta-Manado, Senin siang. Kepada si Mas di counter check in tadi udah jelas-jelas kubilang minta window seat yang bisa jelas ngeliat ke bawah. Dikasih nomer 22F. Udah ngebayangin bakalan duduk di belakang (seminggu sebelumnya pas ke Semarang nomer itu emang ada di belakang), pas menjelang landing menikmati suasana senja kota Manado yg baru sekali ini kudatangi setelah hampir 10 tahun berkarir di Bappenas. Eh, begitu sampai di kabin, twe weng... nomer 22F itu pas di sayap. Pesawatnya rupanya pesawat Boeing 747 seri 900 yang nomer seat-nya sampai 38. Jiancuk, kere!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas mau landing udah diumumin berkali-kali sama pramugari, dalam dua bahasa pula: DILARANG MENYALAKAN HAPE HINGGA ANDA BERADA DI RUANG KEDATANGAN. Eh, baru saja touch down, di mana-mana sudah tulat tulit hape dinyalain. Habis itu suara SMS masuk, telpon masuk, ring tone nyaring berbunyi. Padahal, aku lihat hapenya tuh yang bagus-bagus lagi mahal, si empunya juga perlente lagi harum bau parfumnya. Pasti orang kaya, pasti sekolahnya juga paling apes sudah sarjana. Tapi kok seperti pada nggak paham bahasa Indonesia dan bahasa Inggris lo mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menginap di kamar 805 Hotel Travello Jalan Sudirman No.123. Nggak perlu dijelasin, dari nomernya saja dah ketahuan kamarku ini ada di lantai 8. Intinya, hotel ini tergolong bangunan cukup tinggi untuk ukuran Manado. Arsitekturnya juga lumayan bagus, masuk klasifikasi hotel bintang tiga. Lumayan modern deh pokoknya. Tapi, aku harus katakan pelayanan hotel dan perilaku tamu-tamunya masih kurang beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keluar masuk lift.&lt;/strong&gt; Para tamu hotel ini jelas orang-orang kota yang berpendidikan. Tapi adab keluar masuk lift aja kok sepertinya nggak kunjung paham. Syahdan, aku di dalam lift hendak turun ke lobby. Ketika lift sampai di lobby, baru saja pintunya terbuka, eh orang-orang pada maen serbu masuk aja. Bukankah etika naik lift tuh mempersilakan orang yang di dalam keluar dulu, baru yang di luar masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi. Tamu-tamu hotel ini sepertinya pada nggak paham bahwa lift itu ada tanda panah yang menyala, yang ngasih tau tuh lift sedang naik apa sedang turun. Berkali-kali aku ketemu sama orang, dari ruang makan di lantai 2 mau ke lobby, mencet tombol turun, pas pintu lift terbuka main masuk aja nggak liat-liat lagi itu lift sedang naik apa turun. Walhasil, tuh orang ikut naik dulu ke lantai 8 baru deh turun ke lobby. Ini nih sebetulnya orang nggak sabaran ogah nunggu atau katrok sih? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SxXRO7iYlDI/AAAAAAAAALU/wSsoIGQvEPk/s1600-h/DSCN6617.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410460581785801778" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SxXRO7iYlDI/AAAAAAAAALU/wSsoIGQvEPk/s320/DSCN6617.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Restoran Tarsius.&lt;/strong&gt; Ini adalah nama tempat kita sarapan gratis pagi jam 6 s.d. 10. Pelayanannya menurutku payah. Selasa kemaren aku nggak kebagian piring. Rabu pagi tadi aku gantian nggak kebagian gelas sama sendok. Udah gitu, di setiap makanan/minuman nggak ada keterangan ini nih makanan apaan. Walhasil, mesti dicicipin dulu baru ketahuan. Kemaren, aku lihat minuman putih gitu jejeran sama minuman yg dari warnanya ketahuan itu jus semangka. Kukira itu jus sirsak, eh udah ngambil segelas, ternyata susu tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus, pas di bagian makanan, aku lihat ada daging dengan bumbu kayak rendang gitu, dipotong kecil-kecil, mau ngambil maju mundur. Nih daging kambing apa sapi? Atau malah babi, secara di Manado sini the celeng is kuliner unggulan? Bener-bener deh nih hotel, udahlah nggak kebagian piring jadi kepaksa makan pakai tatakan cangkir, label makanan/minuman nggak ada, tak satupun pelayan yang kelihatan batang hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu (2/12) pagi. Kira-kira jam 6:30 waktu Manado gw laper berat karena semalam begadang browsing-browsing sampai jam satuan gitu. Pas ngantri makanan, ada ikan bakar diujung sana sudah kuincar. Tapi tinggal dikit. Harap-harap cemas, dan yg kucemaskan itu terjadi, pas giliranku tiba si ikan bakar itu sudah habis diembat antrean di depanku. Di hotel lain, flow makanan tuh smooth dalam arti jika satu item menu sudah menipis segera ditambah sama pelayan. But, tidak di Hotel Travello ini. Kutunggu sampai jelek, the ikan bakar tak kunjung disuplai lagi. Yawda ngambil ayam (ayam lagi, ayam lagi). Eh, begitu duduk di meja, nggak ada sendok. Nyari di meja sebelah nggak ada, di mana-mana nggak ada, dan seperti kemaren, nggak nampak satupun pelayan yang standby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas mau ngambil minuman, nggak ada gelas. Kampret!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gong dari itu semua terjadi waktu aku ngambil buah. Di dekatku ada ibu-ibu, pakai kerudung tapi jorok bener. Matanya masih rembes keliatan belum cuci muka. Dari gerak-geriknya, sepertinya nih ibu mau makan koko krunch pakai susu. Dia buka toples koko krunch, dia ambil koko krunch itu, pakai tangan. Gila, pakai tangan kiri, &lt;em&gt;Man&lt;/em&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, habis ngambil koko krunch, sepertinya nih ibu mikir, “kan harusnya tuang susu dulu di mangkok, baru krunch-nya ditaburkan di atas susu”. You know what? Tanpa canggung, tuh ibu kembaliin krunch yang udah dia ambil pakai tangan kiri tadi ke dalam toples. Ngeliat itu, gw jadi ilfil berat. Kebayang tuh tangan dia pakai buat ngucek-ngucek belek, buat cebok pas beol sebelum ke restoran ni barusan, buat ngupil. Untung gw udah makan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-402252761250726029?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/402252761250726029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=402252761250726029' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/402252761250726029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/402252761250726029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/12/modern-tapi-katrok.html' title='Modern tapi Katrok'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SxcdIchFh2I/AAAAAAAAALc/4N2qGWmL7es/s72-c/DSCN6625.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-9171849989788154162</id><published>2009-11-02T15:37:00.002+07:00</published><updated>2010-08-12T09:34:57.428+07:00</updated><title type='text'>Maaf saja tidak cukup</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Beberapa minggu atau mungkin sudah dalam hitungan bulan terakhir ini, jalan Raya Bekasi nggak pernah nggak macet kalau pas jam berangkat kantor. Selain karena volume kendaraan yang makin melimpah, sebab tambahan yang bikin macet itu makin makin edan macetnya adalah proyek galian saluran air yang berlokasi persis di depan Carrefour Taman Modern. Proyek itu memakan separo lebih Jalan Raya Bekasi, dan di sekelilingnya ditutup seng warna kuning garis-garis item ditulisi ala kadarnya: HATI-HATI, ADA GALIAN!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geram dan jengkel. Tapi mau marah, nggak tau mau marah sama siapa, wong selalu saja di situ nggak ada orang yang bisa dimarahin. Udah sebulan lebih, tuh jalan kok kayak dilubangi terus ditinggal begitu aja. Tidak ada secuilpun informasi gangguan itu akan berlangsung sampai berapa lama. Jadi penasaran pengen tahu tampang orang yang nulis itu. Enak aja, seolah-olah kalau udah nyuruh orang ati-ati tuh masalahnya selesai. Nggak ada permintaan maaf, padahal jelas-jelas tuh galian bikin banyak orang sengsara. Kalau aku Walikota Jakarta Timur, udah kupecat tuh Kepala Dinas PU-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pasti nggak hanya di Jalan Raya Bekasi. Di banyak tempat di Jakarta bahkan di seluruh Indonesia, kita pasti sudah hafal dengan kasus orang seenak perut nutup jalan umum tanpa pemberitahuan sebelumnya dan tanpa kompensasi yang pantas. Kayak jalan itu jalannya moyang dia. Kebanyakan nyuruh orang: Hati-hati, nih jalan sedang Gw gali. Atau paling mentok cuma: Maaf, perjalanan Anda terganggu bla bla bla. Ada pula yang bilang: Hindari ruas jalan anu karena sedang ada pembangunan anu... La iya, kalau kita harus menghindari jalan itu, terus kita disuruh lewat jalan mana, wong itu jalan satu-satunya ke arah kantor. Atau, kalaupun ada jalan alternatif muternya mesti jauh gak ketulungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya, proyek yang ngangkangi jalan umum apalagi yang padat kendaraan, tritmennya dibikin beda dengan jika proyek itu di tengah kampung yang sepi atau di rimba belantara. Proyek yang memblokir sebagian kecil atau separo badan jalan padat kendaraan jelas mengganggu mobilitas banyak orang. Makin lama tuh proyek ngalangin jalan, makin banyak energi, BBM, dan waktu, yang terbuang percuma. Celakanya, yang begini-begini ini seringkali mereka lupa atau pura-pura lupa, karena toh bukan energi, BBM, dan waktu mereka yang kebuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, ada upaya lebih keras dong. Kalau normalnya proyek dengan skala segitu tuh ditangani 10 orang, agar cepat selesai, tambahin 10 tukang lagi. Kalau normalnya jam empat sore para tukang dah pada pulang dan kerjaan terhenti, agar nggak kelamaan bikin sengsara orang, geber 24 jam, bagi tukang dalam tiga shift. Itu baru sip. Lebih sip lagi kalau pas di situ juga ada papan informasi yang ngasih tau, tuh proyek kapan kelarnya, dan gangguan terhadap pemakai jalan kapan berakhirnya. Jadi, nggak cuma modal minta maaf atau nyuruh orang ati-ati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, Perjalanan Anda Terganggu... Maaf, maaf. Maaf matamu!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-9171849989788154162?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/9171849989788154162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=9171849989788154162' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/9171849989788154162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/9171849989788154162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/11/maaf-saja-tidak-cukup.html' title='Maaf saja tidak cukup'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-4337042632751260335</id><published>2009-10-16T06:38:00.002+07:00</published><updated>2009-10-16T06:49:12.502+07:00</updated><title type='text'>Menjadi 35 tahun</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/StezglI-miI/AAAAAAAAALM/arkFmPRDIdY/s1600-h/with+Ibuk.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392976451106413090" style="WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/StezglI-miI/AAAAAAAAALM/arkFmPRDIdY/s320/with+Ibuk.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;16 Oktober 2009. Umurku 35 tahun sekarang. Perasaan baru kemaren aku ulang tahun, eh sekarang udah ulang tahun lagi. Cepet banget 365 hari itu lewat. Nggak kerasa. Tau-tau setahun aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap datang ulang tahun, aku kok malah jadi mikir dan ngitung-itung. Kalau Allah ngasih aku jatah usia sama dengan Rasulullah, 63 tahun, artinya perjalananku sudah lebih dari separo. Tinggal 28 tahun lagi. Padahal separo lebih yang sudah kujalani itu juga rasa-rasanya baru kemaren terjadinya. Yang lebih bikin merinding, lebih banyak dosa yang kutumpuk daripada pahala. Sholat ogah-ogahan, ngaji males-malesan, sedekah paling mentok juga cuma goceng itupun seminggu sekali. Sementara tiap hari pasti mubazirin waktu buat YM-an, pesbukan, ngeblog nulis gak penting, ngomong jorok, mantengin situs porno, ndownload film bokep kalau nggak lagu bajakan, dan masih banyak lagi. Dan yang makin bikin merinding, pikiran kayak gini ini kok ya cuma lewat bentar, paling banter setengah hari. Habis itu ya lupa lagi, mubazirin waktu lagi, ndownload film bokep lagi, ghibah nyari-nyari kejelekan orang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini hampir pasti akan lewat begitu saja persis seperti tanggal dan bulan yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Ulang tahun yang sunyi jauh dari ingar bingar koor lagu Happy Birthday. Nggak ada kue taart, nggak ada kado-kado, nggak ada &lt;em&gt;candle light dinner &lt;/em&gt;atau nonton berdua mantan pacar. Kalaupun ada yang berbeda, pastilah nggak jauh-jauh dari ucapan met ultah &lt;em&gt;copy paste &lt;/em&gt;di milis, YM, dan pesbuk, atau salaman sekadarnya dari kolega-kolega di kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Kramas kampung halaman tercinta nun di Semarang sana, nggak ada telepon boro-boro pelukan atau ciuman di kening dari Ibuk. Bahkan, aku nggak yakin Ibuk ingat bahwa hari ini 35 tahun yang lalu beliau melahirkan aku dalam perjuangan hidup mati. Bukan karena beliau nggak sayang. Perempuan hebat yang ikhlas membenamkan separuh kakinya di lumpur sawah dan memanggang tubuhnya seharian di terik matahari hanya demi melihat aku bisa terus sekolah itu pastilah orang yang paling menyayangiku lebih dari siapapun di kolong langit. Ini karena baginya, selebrasi hari kelahiranku dirayakan tidak dalam siklus satu kali bumi mengelilingi matahari, melainkan siklus satu kali hari bertemu dengan pasaran Jawa. 35 hari sekali dan orang menyebutnya &lt;em&gt;weton&lt;/em&gt;. Malam Kemis Wage, &lt;em&gt;weton-&lt;/em&gt;ku itu tiba, Ibuk akan tirakat tidak tidur semalaman sambil tak henti berdoa untukku, kemudian di hari H beliau memasak senampan kecil nasi tumpeng sebagai ungkapan syukur buah hatinya dikasih sehat sama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, di hari di mana aku mestinya bergembira ini kok aku malah sedih ya. Keingat Ibuk yang sudah makin renta, yang sudah tidak ada lagi suami di sampingnya. Yang begitu besar cinta dan pengorbanannya bagiku tapi diusiaku yang sudah 35 tahun ini aku belum juga bisa meski seujung kuku membalasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya bisa kulakukan saat ini juga, mungkin ini adalah kado terindah bagi ulang tahunku. Aku ingin ketemu Ibuk, bersimpuh di hadapannya dan mencium telapak kakinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-4337042632751260335?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/4337042632751260335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=4337042632751260335' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4337042632751260335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/4337042632751260335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/10/menjadi-35-tahun.html' title='Menjadi 35 tahun'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/StezglI-miI/AAAAAAAAALM/arkFmPRDIdY/s72-c/with+Ibuk.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-8587258031324572797</id><published>2009-10-09T13:21:00.000+07:00</published><updated>2009-10-09T13:23:21.413+07:00</updated><title type='text'>Anakku ingin jadi dalang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di Indonesia, mungkin 10 jari tangan kita, atau okelah tambah 10 jari kaki, sudah lebih dari cukup untuk menghitung jumlah profesi yang bisa menjamin orang bisa hidup layak, itu juga kalau bandar narkoba dan koruptor bisa dimasukkan dalam list profesi. Padahal yang namanya pekerjaan tuh ada ratusan kalau nggak malah ribuan. Coba saja kita sebut satu-satu, paling nggak jauh-jauh dari: dokter, pilot, artis sinetron striping, insinyur, atau penyiar tivi. Selebihnya, jangan tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru atau dosen, gaji pas-pasan kecuali nyambi ngasih les privat atau dapat proyek penelitian. PNS kayak saya, sudah dimaklumi oleh khalayak ramai bahwa tingkat kesejahteraannya hanya satu setrip above poverty line. Petani? Kata itu sepertinya merupakan sinonim dari kata “miskin”. Sopir taksi, kernet metromini, juru parkir, tukang tambal ban, satpam eh security, pembokat, tukang becak, dan seterusnya adalah profesi yang sepertinya harus ikhlas sampai kiamat cuma jadi materi seminar “Strategi pemberantasan kemiskinan di Indonesia” di hotel mewah dengan menu makan siang yang tiada dua baik citarasa maupun harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat dulu di parkiran dekat terminal trem di kampus Universitas Erasmus di Rotterdam, banyak mobil mulus parkir di situ. Kukira itu tuh mobil dosen atau paling enggak mahasiswa yang ortunya tajir. Eh, taunya tuh mobil punya para kondektur dan sopir trem, dan cleaning servis kampus, sementara para profesor dan dosen malah pada pakai sepeda ontel. Di sana, keputusan untuk punya mobil atau enggak, mau pergi pakai sepeda apa angkot, sepertinya lebih didasarkan pada “kamu maunya apa?” ketimbang “kamu punya duit berapa?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan di terminal trem itu seperti hendak mengatakan bahwa untuk bisa hidup layak (ukurannya simpel: ada tempat tinggal, makan bergizi, sekolah terjamin, kebutuhan kesehatan tercover, dan last but not least punya mobil) semua pekerjaan bisa kok menjamin. Lo nggak perlu ngotot jadi dokter (kalau emang hati Lo nggak “kesana”) biar bisa punya rumah mewah dan mobil mulus. Lo nggak perlu nekat jadi pilot (kalau Lo takut ketinggian) hanya agar Lo bisa nyekolahin anak di sekolah yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak di negeri tercinta Indonesia ini kalau ditanya apa cita-cintanya, jawabannya pasti kalau nggak dokter, insinyur, ya pilot. Jarang yang pengen jadi antropolog, filsuf, dalang, apalagi petani. Ini karena ya hanya pekerjaan-pekerjaan itu yang bisa bikin orang kaya, padahal di sini kita tuh kalau nggak kaya nggak dihargai orang. Walhasil, orang memilih profesi tidak berdasarkan panggilan hati melainkan karena hasrat untuk dihargai (baca: kaya). Taruhan, jauh lebih banyak orang tua yang memprovokasi anak untuk jadi dokter tuh karena agar anaknya ntar jadi orang kaya daripada karena dia sendiri emang panggilan jiwanya pengen nolong orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Arief Rahman, Anda pasti tau kan, pas kultum menjelang berbuka puasa di Bappenas tempo hari curhat mengenai dunia pendidikan di negeri kita. Dia bilang, waktu dia nanya ke siswa-siswanya siapa yang pengen jadi guru, cuma ada dua anak  yang tunjuk jari, itupun juga yang ranking 46 dan 47 dari 47 siswa. Manalah mungkin dunia pendidikan kita maju kalau sebagian besar bibit-bibit guru yang akan mengawal visi mencerdasakan kehidupan bangsa dari lapisan terbawah begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil (lagi), di perguruan tinggi nggak yang negeri nggak yang swasta ada fakultas-fakultas favorit yang diperebutkan dan ada pula fakultas pinggiran yang jadi pelarian alias pengobat luka. Fakultas Kedokteran diisi oleh yang di sekolahnya dulu ranking 1-3. Fakultas Teknik yang ranking 4-15. Ekonomi, ranking 16-25. Sospol, ranking 26-39. Filsafat, ranking  40-47. Orang tua tuh bangga banget kalau anaknya keterima di teknik, tapi jadi merana banget kalau keterimanya di Sastra Jawa. Udah gitu pakai acara mencibir segala ke si anak: “mau jadi dalang ya?”. Padahal, mungkin banyak anak yang sebetulnya hatinya pengen banget belajar arkeologi, bakatnya emang ke situ, maksain diri masuk fakultas kedokteran karena jadi arkeolog jelas nggak keren. Karena otaknya encer, keterima juga sih dia. Tapi, ya itu tadi, panggilan jiwanya dengan aspirasi bapak ibunya berkata berbeda. Sebaliknya, ada anak-anak yang merasa tentram hidupnya dengan jadi penolong bagi sesama, pengen masuk kedokteran, tapi gagal. Mungkin sebetulnya otaknya cukup mampu, tapi kalah bersaing dengan anak yang barusan si ranking satu di sekolah, yang sebetulnya pengen arkeologi tadi.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Gimana ya caranya, supaya di negara kita ini orang bisa bangga jadi apapun juga? Gimana ya caranya, supaya kerja apapun orang tetap bisa hidup layak dan dihargai? Dengan begitu, orang tuh jadi petani karena panggilan jiwanya emang ingin jadi petani, bukan karena terpaksa karena putus sekolah karena nggak ada biaya, bukan pula karena nggak ada kerjaan lain. Orang tuh jadi guru, emang karena niat suci mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan karena rata-rata nilai UAN-nya hanya cukup untuk masuk IKIP. Dengan begitu (lagi), akan lebih banyak kita temukan orang-orang yang menjalani profesinya dengan penuh dedikasi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-8587258031324572797?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/8587258031324572797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=8587258031324572797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/8587258031324572797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/8587258031324572797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/10/anakku-ingin-jadi-dalang.html' title='Anakku ingin jadi dalang'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-1726180497294836651</id><published>2009-09-24T01:21:00.002+07:00</published><updated>2009-09-24T01:24:48.704+07:00</updated><title type='text'>Darah itu merah, Jenderal!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SrpnmMJCF2I/AAAAAAAAALE/6a8BlSI3Gh0/s1600-h/Pengkhianatan_G_30_S-PKI.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384730210266650466" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 313px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SrpnmMJCF2I/AAAAAAAAALE/6a8BlSI3Gh0/s320/Pengkhianatan_G_30_S-PKI.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Satu hari di bulan September pertengahan tahun 80an. Waktu itu, aku masih kelas 5 SD. Semua siswa SD Negeri Kramas I dan II, dari kelas 1 s.d 6, dikomando Kepala Sekolah dan guru-guru mendatangi balai kelurahan. Balai yang hari-hari biasa digunakan untuk rembug desa dan pertunjukan kesenian, hari itu disulap menjadi gedung bioskop. Ventilasi dan jendela pada ditutup koran biar ruangan gelap. Di depan ada layar, dan di tengah-tengah ruangan ada alat aneh yang dikemudian hari aku ketahui bernama proyektor. Ada sound system yang berbunyi menggelegar ketika Pak Kepala Sekolah menyampaikan sambutan. Kami semua duduk lesehan dan diperintahkan untuk tidak gaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara utama hari itu adalah menonton film, judulnya aneh tapi juga kesannya serem: Pengkhianatan G30S/PKI. Khusus buat kami siswa kelas 4 s.d 6, tugas yang diberikan lebih berat, karena kami wajib membuat semacam tulisan untuk menceritakan kembali film yang kami tonton itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kepala Sekolah selesai sambutan, lampu dimatikan, ruangan gelap, dan film horor itupun mulai diputar. Selama lebih dari 3,5 jam, kami anak-anak bau kencur yang belum juga genap berumur 12 tahun disuguhi adegan-adegan mengerikan, dar der dor, penuh kekerasan dan ceceran darah di sana sini yang entah kenapa kok mulus aja nggak kena gunting Badan Sensor Film. Teman-temanku, terutama cewek, banyak yang menjerit ketakutan sambil menutup mata setiap kali adegan penyiksaan dan penembakan para jenderal ditayangkan. Kami jadi serba salah. Nggak tahan nonton tuh film, tapi mau keluar juga takut sama Pak Guru. Dan, ketika film itu usai diputar, kamipun keluar balai kelurahan dengan perasaan lega. Siksaan berakhir, meski kulihat beberapa teman masih kelihatan pucat mukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, buat aku, film itu bikin trauma dan trauma itu nggak benar-benar hilang sampai sekarang. Apalagi setiap tanggal 30 September tuh film pasti diputar di satu-satunya sarana hiburan yang kita punya, TVRI. Anda yang melewati masa kanak-kanak dan remaja atau penonton setia TVRI dari pertengahan tahun 80an sampai akhir 90an ketika Suharto akhirnya lengser, pasti akrab dengan adegan-adegan khas ala film G30S/PKI itu. Buat aku, yang paling kuingat tuh ada adegan close up mulut yang menenuhi layar, dan dari tuh mulut keluar asap rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kata-kata, yang paling kuingat adalah si tokoh PKI yang paling suka menyapa temannya dengan sebutan “kawan”, atau quotasi abadi “darah itu merah, Jendralll!”. Musiknya juga mencekam. Paling bikin aku ngeri tuh kalau sudah sampai adegan pas pasukan Cakrabirawa meloncat turun dari truk nyamperin rumah Jenderal-jenderal yang dijadikan target, pakai gerakan lambat, dengan iringan musik yang khas. Mana kalau diputar di TVRI, adegan itu muncul pas jamnya udah malam abis Dunia Dalam Berita. Selalu jadi dilema, mau terusin nonton ngeri, mau dimatiin tuh tivi satu-satunya hiburan yang kita punya. Andai saja waktu itu udah ada Melati untuk Marvel, meskipun Gw najis banget nontonnya, Gw bakalan milih tuh sinetron sampah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kalau tujuan film itu untuk nakut-nakutin dan bikin trauma anak kecil, tuh film berhasil banget. Nggak ada hepi-hepinya deh nonton tuh film. Satu-satunya cerita indah adalah ketika Pak Guru membagikan nilai dari tugas untuk menceritakan kembali film Pengkhinatan G30S/PKI yang kami dipaksa nonton dibalai kelurahan sebagaimana kuceritakan di awal tulisan ini. Aku dapat nilai 9 (kayaknya itu nilai tertinggi di kelas), boleh jadi karena di alenia terakhir kutulis begini: “Pemberontakan G30S membuktikan bahwa PKI sangat licik. Untunglah ada Bapak Suharto yang dengan gagah berani mampu menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh PKI tersebut”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-1726180497294836651?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/1726180497294836651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=1726180497294836651' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1726180497294836651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1726180497294836651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/09/darah-itu-merah-jenderal.html' title='Darah itu merah, Jenderal!'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SrpnmMJCF2I/AAAAAAAAALE/6a8BlSI3Gh0/s72-c/Pengkhianatan_G_30_S-PKI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-1993527114052301356</id><published>2009-09-15T10:01:00.004+07:00</published><updated>2010-11-22T13:03:34.773+07:00</updated><title type='text'>Pakai Kebaya Naik Angkot</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Cobalah Lo pakai kebaya, beskap, atau pakaian tradisional derah lain (koteka barangkali), terus naiklah mikrolet, metromini, atau bis kota. Tanggung Lo bakalan saltum mati gaya dan jadi pusat perhatian penumpang lainnya. Di Jakarta, dan di manapun di negeri tercinta Indonesia, kostum standar naik angkutan umum tuh nggak jauh-jauh dari jins belel-kaos oblong butut, atau baju seragam kantor, paling mentok ya blazer. Dus, keliatan nggak pantes banget pakai jas apalagi pakaian tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setuju nggak, kalau kubilang bahwa penyediaan angkutan umum di Indonesia tuh disadari atau enggak berangkat dari prinsip menyediakan sarana transportasi bagi mereka yang miskin atau belum mampu beli kendaraan sendiri. Akibatnya, layanan yang diberikan juga ala kadarnya, sebatas "asal Lo keangkut juga udah syukur". Akibatnya (lagi), buat banyak orang naik angkot tuh jadinya juga didorong oleh rasa terpaksa karena enggak ada pilihan lain, sambil dalam hati berangan-angan penuh dendam: “awas, kalau gue tar punya mobil sendiri, gak bakalan sudi gue naik nih angkot”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana nggak terpaksa kalau mutu layanan angkutan umum dari waktu ke waktu bukannya tambah baik malah makin amburadul. Saat naik angkot adalah momentum di mana kesabaran dan ketabahan kita diuji. Sudahlah waktu kedatangan dan tiba di tempat tujuan nggak bisa ditebak, ngetem seenak perut pula seolah waktu penumpang tuh nggak ada harganya. Abis itu, ugal-ugalan kalau dari jauh keliatan angkot lain nyusul. Waktu naik, kaki sebelah masih ngegantung si angkot udah main tancap gas; dan waktu turun, si sopir dan kenek suka nggak sabaran teriak nyuruh cepet sambil ngetok-ngetokin koin ke kaca atau besi pegangan dengan ritme mengintimidasi (kalau Anda user angkot, Anda pasti hafal dengan kelakuan kenek yang beginian). Belum lagi copet yang makin canggih bekerja dalam tim 4-6 orang, pengamen nggak jelas, orang minta sumbangan main ancam ngaku baru keluar dari penjara karena mbunuh orang dan sedang butuh duit buat pulang kampung, penumpang kampret egois atau malah sopir dan kenek jiancuk yang dengan cueknya menebar racun merokok di tengah penuh sesak penumpang. Dan, masih banyak lagi yang lainnya yang bikin naik angkot di sini tuh aktivitas yang jauh dari menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya mobil sendiri agar terbebas dari pedihnya siksa angkot adalah dambaan setiap insan di sini. Di Indonesia, di mana orang dihargai karena isi kantongnya dan bukan isi kepalanya, berlaku hukum “ada uang Anda dipuja, nggak ada uang Anda dinista”. Makanya nggak heran kalau urutan yang diutamakan dalam mempergunakan jalan dan parkir di sini adalah: mobil, motor, baru kemudian sepeda atau pejalan kaki. Buktinya, kalau kita datang ke hotel atau mall, di mana parkir untuk sepeda? Nggak ada Bos. La kalau parkir motor? Nun jauh di pojok, atau di basement paling bawah. Mobil? Di depan donk, atau dibasement yang dekat pintu masuk atau nggak jauh dari lift. Heran, padahal kalau mau dihitung-hitung parkir motor tuh bisa mendatangkan duit lebih banyak dari mobil, wong space untuk satu mobil bisa dipakai buat paling enggak empat motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejalan kaki dan pengguna angkot jelas paling sengsara. Di banyak tempat tidak tersedia trotoar, atau kalaupun tersedia, trotoar itu lebih sering diserobot motor atau warung tenda buat jualan pecel lele. Penyandang cacat apa lagi. Nggak ada tempat bagi mereka unless they have their own car.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bensin murah, mobil butut karatan yang kalau nyantol orang bisa bikin tetanus dan harusnya jadi besi tua tetep boleh jalan, kredit mobil atau motor bisa tanpa DePe, dan masih banyak lagi kemudahan-kemudahan lain jelas bikin orang makin napsu punya kendaraan sendiri. Akibatnya, mau dibikin lebar selebar lapangan bola sekalipun, mau dibikin jalan layang sekalipun, jalanan tetap aja macet wong kendaraan pribadi jumlahnya nambah terus nggak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Harusnya, penyediaan angkutan umum tuh didasari niat yang lebih mulia, misalnya penghematan energi, pengurangan polusi, atau ketertiban kota agar nyaman dihuni oleh penduduknya. Dengan motif seperti itu, prinsip “pokoknya orang terangkut” jelas nggak cukup. Kalau angkot tuh tepat waktu datang dan nyampainya, tarifnya murah atau gratis sekalian, nggak ngetem atau ugal-ugalan, nggak desek-desekan, bebas copet, bebas pengamen, bebas asap rokok, terminal dan haltenya nyaman gak bau pesing, sopir dan keneknya santun, aksesibel buat semua; sementara harga bensin mahal, harga beli dan pajak mobil selangit, tarif parkir bikin klenger; enggak usah disuruh juga orang pada rame-rame naik angkot.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-1993527114052301356?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/1993527114052301356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=1993527114052301356' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1993527114052301356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1993527114052301356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/09/pakai-kebaya-naik-angkot.html' title='Pakai Kebaya Naik Angkot'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-6549667795161129682</id><published>2009-08-26T10:59:00.004+07:00</published><updated>2010-11-20T18:47:37.879+07:00</updated><title type='text'>Puasa bagi orang Jawa</title><content type='html'>&lt;font face="arial"&gt;Apa beda orang Betawi dan orang Jawa dalam memandang sholat dan puasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolega seniorku di kantor suatu ketika pernah cerita anekdot yang entah benar entah ngawur tentang orang Betawi. Buat masyarakat Betawi, kata Pak Mursal Yoza kolegaku itu, sholat lebih penting dari puasa. Syahdan, di suatu siang yang terik di bulan Ramadhan ada orang Betawi dengan nikmatnya minum es cincau. Baru tiga teguk tuh es dia minum, azan Dhuhur berkumandang, dan serta merta dia tinggalkan si es cincau untuk ambil air wudhu dan sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau orang Jawa sebaliknya. Buat orang Jawa, puasa lebih penting daripada sholat. Dulu waktu aku kecil di Desa Kramas di pinggiran Semarang yang masih jawa banget, banyak orang yang puasa Ramadhan, full sebulan penuh, tapi sholatnya absen mulu. Kelar sahur molor lagi nggak nunggu Subuh. Dhuhur lewat, Ashar pun bolong. Habis buka nggak pakai sholat Maghrib, azan Isya dicuekin boro-boro tarawih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk &lt;strong&gt;sholat penting puasa nggak penting&lt;/strong&gt; model orang Betawi, jujur aku nggak bisa ngejelasin meski sekedar penjelasan ngawur tanpa dasar teori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk &lt;strong&gt;puasa penting sholat nggak penting&lt;/strong&gt; model orang Jawa, mungkin begini kira-kira riwayatnya. Jauh sebelum Islam masuk tanah Jawa, orang Jawa sudah punya habit puasa sebagai bagian dari tradisi leluhur. Bagi orang Jawa, ada dua amalan yang dianggap paling cespleng untuk menggapai tujuan hidup atau untuk makin mendekatkan diri pada Yang Memberi Hidup, yaitu &lt;em&gt;melek&lt;/em&gt; (mengurangi tidur) dan &lt;em&gt;luwe/ngelih &lt;/em&gt;(puasa). Banyak tembang kuno yang syair mengingatkan kita untuk menjalani dua hal itu, misalnya: &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="arial"&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="arial"&gt;&lt;em&gt;“Dadiya lakunireki, cegah dhahar lawan guling,...”&lt;/em&gt; (jadikanlah sebagai ibadahmu, mencegah makan dan tidur,...); &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="arial"&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="arial"&gt;atau &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="arial"&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="arial"&gt;&lt;em&gt;“Aja turu sore Kaki, ana dewa nganglang jagad, nyangking bokor kencanane, isine donga tetulak, sandang kelawan pangan, tur iku bageyanipun, wong melek sabar narima”&lt;/em&gt; (Jangan tidur sore, Nak. Ada malaikat sedang patroli. Dia akan bagikan rejeki kepada mereka yang kuat menahan kantuk, sabar, lagi tawakal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuat lapar dan betah nggak tidur. Itulah. Makanya, dalam masyarakat Jawa banyak kita temui berbagai jenis amalan puasa dengan beraneka tujuan, mulai dari mencari kesempurnaan hidup, mendekatkan diri kepada Tuhan, minta jodoh, mencari kesaktian, hingga nyantet orang. Ada puasa Senin Kamis ala Jawa yang manteng sehari semalam nggak hanya dari Subuh sampai Maghrib, ada puasa &lt;em&gt;ngrowot &lt;/em&gt;(cuma makan umbi-umbian), ada puasa &lt;em&gt;ngalong &lt;/em&gt;(menggantung di pohon semalaman posisi kaki diatas), puasa &lt;em&gt;mutih &lt;/em&gt;(berpantang garam), puasa &lt;em&gt;weton &lt;/em&gt;(puasa pas hari-pasaran kelahiran), puasa &lt;em&gt;kungkum &lt;/em&gt;(sambil berendam semaleman di pertemuan dua arus kali), dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit berteori nih. Tata nilai pada hakekatnya cenderung &lt;em&gt;status quo&lt;/em&gt;. Maksudnya, jika pada satu masyarakat diperkenalkan sebuah nilai baru, nilai yang lama cenderung resisten. Butuh waktu untuk transformasi dari tata nilai lama ke yang baru. Nah, kecepatan transformasi itu sendiri berbanding lurus dengan seberapa banyak atau seberapa besar unsur-unsur dalam tata nilai baru itu sesuai/mirip dengan tata nilai yang akan digantikan (halah, ngomong opo to Her, Her...?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpulannya, makin banyak unsur yang mirip, makin cepat nilai baru diterima. Itulah kenapa wali favorit orang Jawa tuh Sunan Kalijaga, karena sementara wali-wali lain dakwah pakai jubah Arab lengkap dengan sorban, beliau memilih &lt;em&gt;surjan &lt;/em&gt;(baju Jawa) dan blangkon. Sementara yang lain dakwah menggunakan rebana, beliau pakai gamelan dan wayang kulit. Kuncinya, Sunan Kalijaga adalah wali yang nilai baru yang ditawarkan paling banyak miripnya dengan nilai yang sudah &lt;em&gt;existing&lt;/em&gt;. Perubahan yang dia lakukan lebih gradual, sedikit-demi sedikit, nggak langsung melarang ini itu. Wayang kulit boleh, tapi mukanya jangan gambar muka manusia. &lt;em&gt;Kenduren/&lt;/em&gt;selametan boleh, tapi berdoanya jangan kepada hantu penunggu pohon melainkan kepada Allah. &lt;em&gt;Nyekar &lt;/em&gt;ke makam silakan, tapi jangan minta ini itu ke arwah leluhur melainkan memohon kepada Allah agar si leluhur itu dikasih ampun atas dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya. &lt;em&gt;And so on&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, perubahan yang bersifat radikal, resiko timbulnya &lt;em&gt;chaos &lt;/em&gt;bakalan lebih besar daripada perubahan yang bersifat gradual. Bayangin, orang yang seumur-umur gak pernah makan keju, makannya nasi ama tempe mulu, tiba-tiba disuruh ngegadoin keju satu piring. Tanggung bakalan langsung mencret tuh orang. Tapi, kalau keju itu dicampurkan ke nasi hari ini sesendok selama seminggu, terus minggu depan 2 sendok selama 2 minggu, dst, adaptasi si perut bakalan berjalan lebih mulus. &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="arial"&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="arial"&gt;Nah, ketika Islam disebarkan oleh para wali, ajaran yang dibawa terutama rukun Islam ketiga yakni puasa klop bener dengan ajaran puasa para leluhur orang Jawa. Puasa jadi ibadah favorit orang Jawa karena sudah ada tradisinya. Sementara sholat enggak. Sayangnya, untuk beberapa kelompok masyarakat di Jawa, ajaran Sunan Kalijaga itu belum tuntas, mungkin karena beliau mikir, “yang penting letakkan dulu dasar-dasarnya, biar ntar ulama setelah aku yang makin menyempurnakan”. Walhasil, banyak orang di Jawa yang nyembelih ayam sudah baca basmalah, nyebut nama Kanjeng Nabi Muhammad, eh habis itu masih juga nyebut-nyebut Kiai Lurah Semar dan Batara Guru. &lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-6549667795161129682?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/6549667795161129682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=6549667795161129682' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6549667795161129682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6549667795161129682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/08/puasa-bagi-orang-jawa.html' title='Puasa bagi orang Jawa'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-3177222975720225490</id><published>2009-08-25T11:00:00.003+07:00</published><updated>2009-08-25T11:12:38.984+07:00</updated><title type='text'>Dilarang mencari rejeki di Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;Gue sedang puasa, Lo nggak boleh jualan makanan di depan hidung Gue. Kalau nekat, awas!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas hari pertama puasa kemaren, di Metrotivi ada berita yang sebetulnya sudah menjadi berita rutin saban tahun. Di Kabupaten Bengkalis Riau, Bupati mengeluarkan edaran agar selama bulan Ramadhan, warung-warung makan tutup dari Subuh sampai Magrib untuk menghormati mereka yang sedang berpuasa. Akan diberikan sanksi bagi mereka yang tidak mengindahkan edaran ini. Tidak hanya Riau, di Jawa Timur dan di daerah-daerah lain yang mayoritas penduduknya beragama Islam larangan semacam ini lumrah adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kok kurang setuju ya, dengan peraturan untuk nutup warung makan selama bulan Ramadhan itu. Rasanya kok arogan gitu, mentang-mentang umat mayoritas, terus seenak perut sendiri main larang orang buat mengais rejeki. Mbah Kakungku dulu pernah bilang, godaan bagi ibadah kita tuh anggaplah sebagai berkah karena “semakin besar godaannya, makin besar pula pahalanya”. Penutupan warung semacam itu bukankah makin mengurangi kesempatan kita untuk memperbesar pahala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu saja ada orang yang enggak puasa: saudara-saudara kita pemeluk agama lain, para perempuan yang sedang berhalangan, musyafir, atau laki-laki muslim baliq yang karena keadaannya diberi keringanan sama Gusti Allah untuk nggak puasa. La kalau mereka hidupnya ngekos, terus nggak punya kompor, apa ya disuruh nggadoin Indomie mentah terus-terusan? Kok kasihan bener. Ramadhan yang sama Allah diset menjadi bulan penuh berkah untuk alam seisinya, termasuk buat mereka yang nggak puasa, kok malah diubah jadi nyusahin hanya untuk cari sarapan dan makan siang aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Ramadhan ntar kelar, lebaran pun tiba. Dan sepeti sudah menjadi tradisi, yang namanya lebaran tuh bakalan dirayakan dengan sedikit lebih mewah dari hari-hari biasa. Masak masakan yang tidak biasa, beli baju baru, bagi angpau buat ponakan dan anak-anak tetangga, and so on. Pendek kata, butuh banyak biaya untuk selebrasi lebaran, even buat mereka yang puasanya hanya pas hari pertama dan hari terakhir. La kalau orang yang rejekinya cuma satu sumber, dari buka warung tok, apa ya ndak kasihan to mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, kalau boleh nyaranin sih, mbok ya biar to warung-warung itu pada buka saja, wong ya rejeki mereka dari situ. Wong ya nyari rejeki dengan cara halal begitu. Yang puasa, puasa; yang warunga, ya silakan warungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menjalankan ibadah puasa, Saudara-saudara. Mudah-mudahan puasa kita makin bikin Dia Yang Di Atas sayang sama kita.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-3177222975720225490?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/3177222975720225490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=3177222975720225490' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/3177222975720225490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/3177222975720225490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/08/dilarang-mencari-rejeki-di-bulan.html' title='Dilarang mencari rejeki di Bulan Ramadhan'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-6924852144944575536</id><published>2009-08-03T10:59:00.005+07:00</published><updated>2009-08-03T14:15:37.668+07:00</updated><title type='text'>Ulang tahun versus weton</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SnZhGUZSd8I/AAAAAAAAAK8/J7xjG3EM6gw/s1600-h/100_1400.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365582767240411074" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SnZhGUZSd8I/AAAAAAAAAK8/J7xjG3EM6gw/s320/100_1400.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagi keluarga kecil kami, bulan Juli adalah bulan paling spesial. Berikut adalah tonggak-tonggak sejarah keluarga kami yang membuat bulan Juli spesial:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;- 26 Juli 2000: Ku "tembak" emaknya anak-anak&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;- 20 Juli 2003: Kami nikah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;- 24 Juli 2004: Wisanggeni lahir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;- 27 Juli 2008: Ontoseno nongol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu (2/8) kemaren, ulang tahun anak-anakku dirayakan lumayan meriah lagi mahal. Justifikasinya adalah karena si Wisang lima tahun, bilangan tahun ketika yang disebut sebagai “masa balita” terlewati; dan si O’Shean genap setahun, dus ultah pertama dalam hidup dia. Yang dimaksud meriah dan mahal itu tentulah dari sudut pandangku, anggota Korpri kelas kambing dan seumur-umur nggak pernah merayakan ulang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku tidak pengen terlalu detail bercerita tentang acara ultah si Wisang dan O’Shean itu, terutama karena yang namanya pesta ulang tahun anak-anak di mana-mana ya begitu saja, nggak jauh-jauh dari anak-anak pada ngumpul, terus nyanyi happy birthday, tiup lilin, potong kuwe taart, abis itu bagi-bagi bingkisan dan potongan kue, dan sudah. Pun pesta ultahnya Wisang dan O’Shean kemaren itu. Dus, kalau diceritakan, paling ratingnya juga bakalan jatuh dan nggak ada TV swasta yang mau menayangkan karena tanggung bakal sepi iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku justru pengen share dikit mengenai tradisi merayakan ulang tahun itu sendiri. Begini. Seperti kubilang tadi, seumur-umur aku nggak pernah merayakan ulang tahun. Paling-paling cuma kalau pas hari H ultahku, istri atau teman-teman dekat nyalami, atau kalau enggak ya kasih ucapan via YM dan email, atau nulis wall di Fesbuk, atau testi di Frenster. Itu tok paling pol. Ibuk, almarhum Bapak, Mas Har, dan adik bungsuku si Edi sejauh yang kuingat nggak pernah sekalipun ngasih ucapan met ultah apalagi pakai acara cium pipi segala. Bahkan, mereka belum tentu tahu kapan persisnya hari dan bulan kelahiranku jika nggak sedang pegang kartu keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dengan gagah berani bisa kubilang bahwa aku orang kota (percayalah bahwa Semarang kota tempat aku lahir dan dibesarkan adalah salah satu kota terbesar di Indonesia), tapi secara kultural keluarga kami di Kramas tetaplah keluarga agraris yang sederhana, di mana yang diperingati adalah weton yang 35 hari sekali itu, dan bukan ultah based on kalender Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum Bapak, jangankan tanggal dan bulan, tahun lahirnya saja nggak jelas benar buat kami sekeluarga kapan persisnya hingga sekarang. Itu masih mending, karena Bapak lahir di jaman penjajahan, saat di mana makan aja susah boro-boro mikir bikin akte dan ngapalin tanggal lahir Masehi. Aku malah lebih parah. Pasalnya, ini fakta tentang diriku yang jarang kuungkap, tanggal 16 Oktober tuh sebetulnya tidak benar-benar merupakan tanggal lahirku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SnZg64LCUJI/AAAAAAAAAK0/z172tqJ31aw/s1600-h/100_1419.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365582570685878418" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SnZg64LCUJI/AAAAAAAAAK0/z172tqJ31aw/s320/100_1419.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di akte, tertulis aku dilahirkan 16 Oktober 1974. Sementara itu, sejak lahir hingga sekarang, yang diperingati sebagai wetonku adalah Kamis Wage. Guess what? Kalau dicek di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.iklanbarisplus.com/templates/kalender_abadi.html"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;penanggalan abadi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;, 16 Oktober 1974 adalah hari Rabu! Nah, lo. Kalau aku ditanya, mana yang lebih valid: tanggal lahirku atau wetonku?; jawabnya: weton. Kenapa, karena buat kami dan lingkungan kami di Kramas dan desa-desa tradisional di Jawa pada umumnya, weton tuh jadi semacam dasar bagi seseorang untuk melakukan banyak hal di dalam hidup. Mau kawin mesti dikalkulasi dulu sama weton si calon istri/suami, cocok enggak. Mau disunat mesti diitung dulu, hari yang dipilih untuk motong ujung titit tuh pas apa enggak dengan wetonnya, dan masih banyak lagi. Kesimpulannya, meski di akte kelahiran, KTP, kartu keluarga, ijazah, hingga Fesbuk DoB (date of birth)-ku tertulis 16 Oktober, aku sebetulnya ngerasa nggak benar-benar sedang berulang tahun ketika tanggal itu tiba. Dan, mungkin karena tidak adanya kebiasaan, adat, dan kultur ultah itu di tempat di mana aku lahir dan dibesarkan, maka cara pandangku dalam melihat momen ulang ulang jadi berbeda. Ultah adalah penanda bahwa umur makin bertambah dan dalam waktu yang sama jatah hidup yang dikasih sama Gusti Allah juga makin berkurang. Sudah berbuat apa aku, untuk menemukan jalan pulang menuju Dia yang memberi hidup? Apakah selama ini jalan yang kutempuh makin dekat dengan jalan yang seharusnya, atau justru makin jauh nyasarnya. Itu aja nggak lebih. Nggak ada kue taart, nggak ada lilin, nggak ada kado-kado.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong nggak jelas tentang ultah sampai sekian alenia, aku kok jadi keinget si Gendhuk Mara, sahabat sekaligus adikku. Dia pernah ngambek gara-gara aku lupa ngasih ucapan pas dia ulang tahun. Untung dia ngerti, bahwa jangankan ultahnya, wong ultah ibunya anak-anak saja kadang aku nggak ngeh kapan.&lt;br /&gt;Mengakhiri tulisan ini, aku mau mengucapkan selamat kepada dua jagoanku, si Wisanggeni dan Ontoseno. Selamat ulang tahun, Kids. Mudah-mudahan panjang umur, sehat, bahagia selalu, dan jadi anak hebat... Amin. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-6924852144944575536?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/6924852144944575536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=6924852144944575536' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6924852144944575536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6924852144944575536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/08/ulang-tahun-versus-weton.html' title='Ulang tahun versus weton'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SnZhGUZSd8I/AAAAAAAAAK8/J7xjG3EM6gw/s72-c/100_1400.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-3456720822523099811</id><published>2009-07-22T10:46:00.004+07:00</published><updated>2012-02-01T13:28:36.451+07:00</updated><title type='text'>Murah: antara harga dan akses</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SmaNsO84FUI/AAAAAAAAAKc/6Lvhu5nzAyo/s1600-h/Bandrol+harga.gif"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361128197498344770" src="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SmaNsO84FUI/AAAAAAAAAKc/6Lvhu5nzAyo/s320/Bandrol+harga.gif" style="height: 320px; width: 210px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Satu ciri kemakmuran yang sering dipakai Pak Dalang ketika main wayang adalah “murah sandang pangan” (artinya murah pakaian dan makanan). Mungkin ini yang coba diadopsi oleh kampanye Mego-Pro. Lihatlah, iklan-iklan di koran atau tivi, janji si Capres untuk merayu calon pemilih adalah memperjuangkan sembako murah. Cuma, sepertinya janji itu memahami kata “murahnya” sembako tidak dalam makna yang lebih filosofis. Maksudku, sembako murah dipahami terbatas pada harganya, kalau beras sekarang Rp 5.000 /Kg maka yang dimaksud murah adalah harga itu bisa menjadi misalnya Rp 2.800/Kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, untuk bisa bikin murah harga beras tuh yang kubayangkan hanya ada dua cara, dan semuanya nggak ada yang enak. Cara pertama, bikin kebijakan sehingga Pemerintah bisa membeli beras dari petani dengan harga serendah-rendahnya. Itu artinya, petani yang hidupnya sudah Senen Kemis itu akan makin merana. Atau cara kedua, beli beras ke petani dengan harga tinggi, terus dijual ke rakyat dengan harga murah dengan cara ditomboki dengan subsidi gede-gedean. Resikonya, dengan harga di dalam negeri murah, sementara di pasar internasional mahal, sama artinya dengan menyediakan lahan basah buat penyelundup. Apalagi dengan sistem keamanan dan hukum yang masih jauh dari layak kayak sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat Oktober 2006 dulu, di hari dan minggu-minggu pertamaku numpang hidup setahun di Belanda, pola makan sehari-hariku rada kurang sehat. Hari demi hari menunya nggak jauh dari nasi, telor, dan daging baik ayam maupun sapi. Ini karena selain beras yang memang berstatus makanan pokok, dus harus selalu ada, telor dan daging di sana termasuk komoditi yang murah meriah. Lainnya mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kota terbesar kedua di Belanda dan banyak orang Asia dan Indonesianya, sebetulnya kita bisa dengan sangat mudah menemukan bahan-bahan makanan khas Nusantara di Kota Rotterdam. Tersebutlah toko China bernama Wah Nam Hong yang jaraknya kira-kira hanya sepelemparan batu dari Weenapad, kos-kosanku. Di sana lengkap semuanya ada, mulai Indomie hingga tempe. Bahkan sambel pecel saja ada. Tapi, ya itu tadi, rata-rata bahan makanan yang ramah di perut dan lidah orang Indonesia tuh mesti ditebus dengan harga lumayan mahal, setidaknya jika dikurs dengan Rupiah. Bayangin aja, tempe yang di sini harganya waktu itu masih 2.500, di Wah Nam Hong itu dibandrol 0,85 sen Euro (atau kira-kira 11 ribu). Bayam seikat kecil yang di sini seribu perak dapat 3 ikat, di sana mesti ditebus dengan 2 Euro. Walhasil, mau beli ya maju mundur, dan pada akhirnya lebih sering mundurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkal persoalannya adalah karena pada hari dan minggu-minggu pertama itu kami para PNS Indonesia (yang beruntung bisa nerusin sekolah di sana karena StuNed khilaf ngasih beasiswa) selalu saja entah disadari entah tidak, secara otomatis mengkonversi harga-harga ke dalam Rupiah. Kami masih mikir jadi PNS gajinya hanya satu setrip di atas UMR, kemudian dihadapkan pada tempe mungil yang harganya 11 ribu. Gaji cuma Rp 937.672,-, kepengen makan sayur oyong, tapi si oyong itu harganya Rp 26.000,- perbuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, tidak sampai sebulan kemudian aku sadar bahwa kebiasaan mengkonversi harga tiap barang yang ada di toko-toko di sana ke dalam Rupiah adalah tidak baik dan tidak sehat, dus tidak patut dilestarikan. Alhamdulillah mindset kami segera berubah. Harga tempe mungil itu memang 11, tapi income-ku perbulan juga bukan 937 ribu, melainkan 11 juta (beasiswa perbulan 8.700 Euro, jadi kalau dirupiahin memang kira-kira 11 juta gitu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Bapak Ibu sekalian, kata kuncinya adalah “AKSES”. “Murah sandang pangan“ yang lebih hakiki sebetulnya tidak terletak pada harganya, tapi lebih pada seberapa mudah orang bisa mendapatkannya. Nggak apa-apa harganya mahal kalau semua orang mampu beli. Sebaliknya, percuma harganya murah tapi orang teuteup pada nggak bisa ngakses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga yang hanya dilihat secara nominal tuh kadang-kadang malah misliding. Misalnya, Mas Prabowo mengkritik Pemerintah SBY telah bikin rakyat sengsara karena harga minyak goreng pada era Pak SBY 9 ribu/liter, padahal dulu jaman Mbak Mega cuma 6 ribu. Beliau seolah lupa dengan what so called inflasi. La kalau minyak goreng disuruh turun jadi 6 ribu, sementara harga CPO juga udah naik sekian kali lipat, pabrik minyak gorengnya apa nggak pada tutup to Bos. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Makanya, siapapun yang mau mimpin bangsa ini, instead of mati-matian bikin murah harga-harga, buatlah rakyat makin sejahtera dengan meningkatkan penghasilannya. Gagah juga kan kalau perkapita income kita tinggi, jadi bangsa yang rakyatnya kaya-kaya. Biarin apa-apa mahal, asal kita kaya semua. Biarin barang-barang kebutuhan pokok dan BBM mahal nggak usah disubsidi lagi, sehingga aparat keamanan nggak perlu susah-susah keluar tenaga buat memberantas penyelundupan. Mau?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-3456720822523099811?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/3456720822523099811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=3456720822523099811' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/3456720822523099811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/3456720822523099811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/07/murah-antara-harga-dan-akses.html' title='Murah: antara harga dan akses'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SmaNsO84FUI/AAAAAAAAAKc/6Lvhu5nzAyo/s72-c/Bandrol+harga.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-3850510918462394976</id><published>2009-06-24T15:48:00.009+07:00</published><updated>2009-06-25T12:16:42.289+07:00</updated><title type='text'>Manohara dan sentimen anti Malaysia</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SkHpJRMp5VI/AAAAAAAAAKU/ANnFLKSjiEM/s1600-h/Daisy_dan_Manohara.png"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350814177737434450" style="WIDTH: 257px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SkHpJRMp5VI/AAAAAAAAAKU/ANnFLKSjiEM/s320/Daisy_dan_Manohara.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dulu, aku pernah sangat menyukai tayangan infotainmen di tivi. Dulu banget, waktu masih bujangan. Menyaksikan kehidupan pribadi artis-artis ibu kota, entah kenapa membangkitkan sensasi. Padahal berita seputar mereka tuh nggak jauh-jauh dari pacaran, cerai, dan berantem. Atau si artis anu lagi demen ngecet rambut, sementara si artis anu yang lain lagi hobi koleksi sendal. Pokoknya nggak penting banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang rada terganggu dengan ritual nonton infotainmen itu masku, Harsono. Pernah suatu sore, dia nyuruh aku beli pralon di toko matrial buat mbetulin pompa air sumur, aku ogah-ogahan karena sedang nonton Cek n Ricek di RCTI. Karena mangkel, dia bilang gini, “Artis kok diurusin. Nggak nambah wawasan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun, aku insyaf juga. Apalagi waktu stasiun-stasiun tivi bikin infotainmen semua, dengan artis 4L alias lu lagi lu lagi. Kalau nggak Saipul Jamil, ya Dewi Perssik. Diulang ulang bikin bosen. Udah gitu, kadang-kadang beritanya mengada-ada, dicari-cari, yang nggak nyambung disambung-sambungin. Coba aja, jelas si Saipul udah lama cerai sama Dewi Perssik, terus ada berita Dewi Perssik lagi dekat sama cowok asal Belanda yang siapa tuh namanya. Eh, la kok yang dikonfirmasi malah si Saipul. Apa hubungannya, coba? Suami bukan, suadara bukan, teman juga kagak. Ajaibnya, si Saipul juga kelihatan enjoy dan antusias ngejawabnya. Ini nih sebetulnya yang gila Saipulnya apa infotainmennya. Dan, dari pagi sampai tengah malam, infotainmen mulu, beritanya ya yang itu-itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma, meski insyaf, harus diakui bahwa hidupku tidak kemudian steril dari gosip artis. Pertama, karena sebab yang tadi, perilaku stasiun-stasiun tivi yang makin jor-joran nayangin infotainmen itu sekali-sekali ya membuat perhatianku nyangkut juga. Kedua, karena embah putrinya anak-anak di Utan Kayu adalah pelanggan setia tabloid Bintang yang terbit setiap Sabtu sehingga kadang-kadang membuatku nebeng baca. Walhasil, meski telah membulatkan tekad menjauhkan diri dari infotainmen, mau nggak mau aku ya jadi tetap update kabar-kabar para &lt;em&gt;so-called &lt;/em&gt;selebritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang saat ini lagi heboh adalah kasus Manohara, anak ingusan yang bodinya bongsor lagi cantik, yang ditaksir pangeran kaya dari Malaysia, terus dikawinkan sama tuh pangeran, dan nggak lama setelah itu ibunya kelabakan ngomong kesana-kemari bahwa si anak disiksa suaminya. Tidak cukup sampai di situ, sentimen harga diri bangsa juga coba dibangkit-bangkitkan, dan seperti bisa ditebak, dukunganpun mengalir termasuk organisasi yang menamakan dirinya Laskar Merah Putih (wuih, merah putih, patriotis banget tuh, &lt;em&gt;Man&lt;/em&gt;!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Indonesia tuh memang begitu, gampang banget emosi kalau udah ngomongin Malaysia. Psikologi orang kalah, iri dan gampang tersinggung dengan prestasi tetangga. Waktu Reog dicomot Malaysia dan dijadikan ikon pariwisata, kita marah setengah mampus tanpa usaha sama sekali untuk belajar dari kasus itu. Yang ada cuma nyalahin. Malaysia setan, Indonesia malaikat. Lo salah, Gue bener. Makanya, nggak perlu heran kalau kasusnya kembali berulang pada batik dan lagu Rasa Sayange. Padahal kalau mau introspeksi, kasus-kasus itu harusnya membuka mata kita, &lt;em&gt;what’s wrong with us?&lt;/em&gt; (weh, bahasa Inggris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berbuat apa sih kita untuk menjaga dan melestarikan Reog (dan kesenian tradisional lainnya), selain menyia-nyiakannya? Sudah ngapain aja sih kita untuk mengembangkan batik Nusantara, selain membiarkannya hidup enggan mati tak mau? Giliran Malaysia mau ngopeni, kitanya mencak-mencak. Padahal, setelah itu ya &lt;em&gt;business as usual&lt;/em&gt;, Reog dicuekin batik juga &lt;em&gt;teuteup &lt;/em&gt;ditelantarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kasus Manohara. Karena tivi-tivi itu pada lebay dalam memberitakan, aku jadi gatel pengen ikutan menebak-nebak. Begini. Semuanya serba mungkin sih, dan salah satu kemungkinan itu adalah perbedaan antara ekspektasi dengan kenyataannya sebagaimana pernah pula &lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2008/04/ngeliat-bintang-di-planetarium.html"&gt;kutulis dalam blog ini&lt;/a&gt;. Pada saat Ibu Daisy Fajarina mengijinkan (atau mungkin nyorong-nyorongin, entahlah) si Manohara untuk diperistri Fakhry, mungkin yang ada dalam benaknya adalah bahwa sang anak akan “naik kelas” jadi bangsawan putri raja, di mana-mana orang membungkuk hormat. Kemana-mana naik mobil mewah, tinggal di istana megah, pakaian dan perhiasannya mahal-mahal. Mau apa-apa dilayani para dayang. Sementara Daisy sang ibunda, juga bakalan enak belaka. Jadi besan raja, kalau punya utang bakalan ada yang dimintai bantuan (entah ditalangin dulu entah gratis) untuk ngelunasin. Pokoknya enak semua dah, nggak ada nggak enaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, di mana-mana hukumnya sama saja: jadi apapun, ada enaknya pasti ada juga nggak enaknya. Celakanya, yang enggak enak enggak enak itu mungkin nggak kepikir sebelumnya. Kalau kemudian hanya mau enaknya tapi nggak mau konsekuensinya, yang ada jelas kecewa. Jadi istri pangeran, selain yang enak-enak tadi, juga ada nggak enaknya. Mesti tunduk pada protokoler istana, nggak boleh lagi pakai baju seksi, mesti stop ndugem, nggak boleh lagi jadi model (anak mantu Sultan masa mau pamer aurat), kemana-mana mesti dikawal, &lt;em&gt;and so on&lt;/em&gt;. Pokoknya, nggak bebas ini itu. Sebulan dua bulan mungkin kuat. Tapi, anak umur 16 tahun, emosinya masih labil, sepanjang hidupnya tinggal di Eropa biasa bebas merdeka mau ngapa-ngapain juga, tiba-tiba disuruh hidup dengan pola yang “enggak gue banget”, ya berontak. La, si pangeran yang sejak lahir cenger udah jadi anak raja, seumur-umur nggak pernah dibantah, semua orang nurut omongan dia, ketemu istri suka ngelawan, wajar to ya kalau terus jadi emosi. Sekali lagi, ini mungkin lo ya, mudah-mudahan tidak menjadi fitnah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Eh, aku kok malah jadi seperti nyalahin Bu Daisy to ini. Habis, si ibu ini kadang suka nggak sinkron sih, antara bahasa tubuh dengan bahasa mulutnya. Masak, dia bilang anaknya jadi korban KDRT, yang katanya trauma, eh, sambil ngomong gitu tampangnya kok ya yang cengar-cengir, cengengesan kayak nggak serius. Nggak berkesan sedih atau apa. Kayak main-main. Makanya Ratna Sarumpaet yang udah komit mau bantu, mundur. OC Kaligis yang siap pasang badan jadi penasehat hukum, minggir sambil misuh-misuh. La wis piye, absurd. Orang kan jadi nggak percaya. Sama nggak percayanya dengan ndenger Bill Gates ngaku nggak punya duit. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tentang pengakuan bahwa dia nikahin si Mano tidak dengan alasan harta, alasan yang dia kemukakan kok ya yang malah kontradiktif. Katanya, sejak lama dia dan anak-anaknya biasa hidup mewah. Nyekolahin anak di sekolah mahal, belanjanya di butik, jalan-jalannya ke luar negeri mulu. Tajir dah pokoknya. Lah, justru karena dia dah biasa jadi orang kaya. Tanpa belajar sampai botak di jurusan psikologi pun orang juga tau, tingkat penderitaan orang kaya yang jatuh miskin tentulah lebih berat dibandingin dengan menderitanya hidup orang miskin yang emang sudah kere sejak dari sononya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Orang cenderung bisa naik, tapi sangat sulit untuk bisa turun. Coba aja, buat Lo yang biasanya terpaksa jalan kaki, terus bisa beli motor Yamaha Mio pasti Lo bakalan seneng banget. Tapi, kalau Lo biasa naik BMW, terus dipaksa naik Daihatsu Xenia, taruhan Lo bakalan ngerasa biasa aja kalo gak malah tersiksa. Padahal Xenia jelas jauh lebih mahal dari Mio. Makanya, orang kalau sudah biasa kaya, dia cenderung beruasaha untuk tetap jadi kaya, apapun caranya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jadi... Entahlah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-3850510918462394976?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/3850510918462394976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=3850510918462394976' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/3850510918462394976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/3850510918462394976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/06/manohara-dan-sentimen-anti-malaysia.html' title='Manohara dan sentimen anti Malaysia'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SkHpJRMp5VI/AAAAAAAAAKU/ANnFLKSjiEM/s72-c/Daisy_dan_Manohara.png' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-6727334408686382010</id><published>2009-05-28T11:22:00.003+07:00</published><updated>2009-05-28T11:53:30.130+07:00</updated><title type='text'>Karena aku kalah, maka kamu curang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Makin lama para politisi yang pada haus kuasa itu makin nggak bisa dimengerti lagak gayanya. Sejak Pemilu Lefislatif 9 April dulu itu, dan kemudian terbukti partai-partai besar pada KO, terus Partai Demokrat tanpa dinyana-nyana tampil sebagai pemenang, ada saja upaya untuk nyari-nyari kesalahan. Mungkin ini yang disebut psikologi orang-orang kalah. Nggak mau menerima kenyataan, dan bawaannya curiga mulu sama yang menang. Logikanya jadi kebalik-balik. Bukan “karena kamu curang, maka aku kalah” tapi “karena aku kalah, maka kamu curang&lt;strong&gt;”&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk Pemilu kali ini, tuduhan diarahkan ke KPU dan Pemerintah pimpinan SBY sang Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, &lt;em&gt;the winner party of the &lt;/em&gt;Pemilu 2009. Senjata utama yang dipakai dari bulan lalu sampai sekarang ya yang itu-itu saja: Daftar Pemilih Tetap alias DPT. Tuduhannya gawat, 50 juta pemilih kehilangan haknya, dan itu dilakukan secara sistematis. Katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa (26/5) kemaren lusa, hak angket DPR untuk memperpanjang kasus ini disetujui DPR dengan komposisi suara setuju-tidak setuju (sebagaimana dapat dibaca di halaman 2 Kompas Rabu, 27/5) adalah 129 berbanding 73. Yang abstain 1. Menurut Kompas hari yang sama, hanya 8 dari 50 anggota Komisi I DPR yang terpilih kembali. Jadi curiga, jangan-jangan yang ikut-ikutan ngotot mendorong hak angket itu adalah anggota DPR yang nyalon lagi dan kecewa berat nggak kepilih lagi buat lima tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti sudah dapat diduga, motor penggerak diajukannya hak angket ini adalah partai gede yang kehilangan banyak kursi dan bosnya adalah orang yang selama ini berantem sama SBY. Siapa lagi kalau bukan PDIP. Golkar ikut, karena mungkin mereka juga syok berat berubah status dari pemenang 2004 menjadi pecundang di 2009, seolah nggak nyadar bahwa mereka adalah bagian dari pemerintah yang sekarang. Ketua Umum Golkar adalah Wakil Presiden &lt;em&gt;incumbent, remember?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai-partai yang menyatakan berkoalisi dengan PD pada Pilpres besok: PAN, PPP, dan PKB ikut. PKS enggak. &lt;em&gt;No wonder &lt;/em&gt;sih, karena menurutku masalahnya bukan apakah mereka ikut koalisi dengan PD atau enggak untuk Pipres nanti, tapi lebih pada apakah dalam Pileg kemaren itu kursinya berkurang atau nambah. Taruhan, ketidaksetujuan PKS itu lebih karena perolehan suara mereka emang naik dibanding lima tahun lalu, bukan karena komitmen mereka untuk berkoalisi dengan PD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin heran, apa mereka itu pada nggak sadar sejak awal to, kalau dalam negara yang sistem administrasi kependudukannya masih acak adut kayak di sini tuh kemungkinan kisruhnya DPT pasti amat besar? Wong KTP aja satu orang bisa punya tujuh biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang &lt;em&gt;I have no idea &lt;/em&gt;apakah isu hak angket ini bisa sampai pada digelarnya pemilu ulang. Kalau iya, wah, makin miskin aja negara ini untuk ngurusi orang-orang yang nggak mau legowo menerima kekalahan. Gimana nggak makin miskin, wong untuk sekali pemilu begini ini tentu duit 750 ribu rupiah jauh dari cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau iya pemilu digelar ulang, dan orang-orang yang pada ngotot itu kalah lagi, dan nyari-nyari kesalahan lagi, &lt;em&gt;piye&lt;/em&gt;? Susah kan, nurutin anggota DPR yang nyalon lagi dan berprinsip: “Pemilu mesti diulang... (sampai saya menang)”. Orang-orang macem begini pasti yang keliwatan bolehnya &lt;em&gt;overestimate &lt;/em&gt;diri sendiri, sok yakin bahwa dialah yang akan kepilih jika DPT-nya bener.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Padahal, kalau iya yang kehilangan hak pilihnya itu ada 50 juta orang, dan ke-50 juta orang itu waktu Pileg 9 April dulu nyontreng, belum tentu mereka pada milih PDIP atau Golkar. Jangan-jangan, mereka malah bikin PD makin telak menangnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-6727334408686382010?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/6727334408686382010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=6727334408686382010' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6727334408686382010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6727334408686382010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/05/karena-aku-kalah-maka-kamu-curang.html' title='Karena aku kalah, maka kamu curang'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-5110750648899973179</id><published>2009-05-26T18:43:00.006+07:00</published><updated>2009-05-28T12:03:22.803+07:00</updated><title type='text'>Makin mahal makin nyusahin</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hari ini (26/5) aku dapat tugas ikut seminar di Hotel Aryaduta di dekat-dekat Tugu Tani. Undangannya sih sebetulnya buat Bu Wati, Direktur Evaluasi Kinerja Pembangunan Sektoral, &lt;em&gt;my bos&lt;/em&gt;. Tapi karena dia mesti cek kesehatan, ditunjuklah Pak Haryo, salah satu kepala sub direktorat. Tapi..., karena dia juga ada acara, mesti ngelayat tetangga, jadilah aku yang harus mewakili. Melorotnya jauh banget yak, yang diundang direktur yang datang djongos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, direktur-direktur lain yang diundang juga kasusnya sama, mewakilkan ke staf, sehingga aku terhindar dari mati gaya. Bayangin aja, kalau direktur-direktur yang pada diundang semuanya datang sendiri nggak mewakilkan, betapa akan kikuk diriku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan jalannya rapat yang ingin kuceritakan karena pasti gak menarik. Aku cuma mau curhat dikit aja tentang Hotel Aryaduta. Begini. Dulu aku pernah &lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2008/06/parkir-sepeda-di-hotel-borobudur.html"&gt;&lt;em&gt;misuh-misuh&lt;/em&gt; sama Hotel Borobudur&lt;/a&gt; karena parkir motornya jauh di belakang. Kupikir ni hotel dah paling sadis. Eh, ternyata Aryaduta lebih sadis lagi. Berikut adalah buktinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Areal parkir ada 6 lantai bersusun kebawah. Maksudnya, di bawah lobi ada &lt;em&gt;basement &lt;/em&gt;1, terus &lt;em&gt;basement &lt;/em&gt;2 yang lebih di bawah lagi, dst. Nah, yang namanya parkir motor tuh berada di lantai paling bawah, &lt;em&gt;which is &lt;/em&gt;lantai -6 (baca: minus enam). Udah gitu, nyempil pula nun di pojok sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari parkir motor, naik 6 lantai ke lobi, nggak ada lift. Jiancuk! Mau rapat aja kok susah amat. Mesti berkeringat dan ngos-ngosan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;em&gt;Urinoir &lt;/em&gt;(tempat pipis)-nya otomatis, gak ada pencetannya, juga gak ada pancuran kecil yang bisa buat cebok itu. Jadi, kalau mau nyiram, mesti minggir ke urinoir sebelah, terus cepet-cepet kembali untuk nadahin air yang keluar di sepanjang dinding urinoir buat cebok (mudah-mudahan bisa ngebayangin). Kalau sampai nadahinnya telat, proses yang sama mesti diulang. Ini katanya pakai standar internasional (baca: standar Amerika yang orangnya jorok-jorok kalau habis pipis nggak cebok), tapi nyusahin bener.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mau sholat, musholanya jadi satu sama WC. Nih hotel kebangeten, tempat suci dijadiin satu sama tempat buang najis. Udah gitu, daya tampungnya cuma buat dua orang. Pas rehat, antrean sholat jadi panjang bener.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, Hotel Aryaduta sepertinya jadi model yang ideal dari “mental djongos” dan “miskin tapi memuja harta” seperti pernah kutulis sebelumnya. Ngerasa bahwa bule lebih tinggi derajatnya sehingga standar mereka mesti diikuti dan lupa bahwa bangsa sendiri punya kebiasaan berbeda. Tanpa surveipun, udah kelihatan dengan mata telanjang bahwa tamu dan &lt;em&gt;user &lt;/em&gt;hotel ini sebagian besar adalah pribumi-pribumi juga, baik orang daerah yang sedang dalam perjalanan bisnis di Jakarta atau orang Jakarta yang sedang bikin acara di sini seperti seminar yang kuikuti ini. Tapi, fasilitas yang ada jelas ngikutin kebiasaan hidup bule, yang pipis gak pernah cebok, yang eek klosetnya kloset duduk bukan jongkok, dan ceboknya cuma pakai tisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa gak bisa dibikin yang dual gitu ya? Maksudku, apakah kemudian akan ditinggalkan &lt;em&gt;customer&lt;/em&gt;, hotel yang ngasih pancuran kecil di &lt;em&gt;urinoir&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;wong &lt;/em&gt;bule yang pada nggak cebok sehabis pipis juga pasti nggak bakalan keganggu olehnya? Apakah bakalan tidak laku to, hotel yang disamping tisu juga nyediain kran, ember, dan gayung untuk cebok tamunya? Rasanya tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Waktu maen ke Jogja dan nginep di Hotel Vidi di Jalan Kaliurang tempo hari, aku lihat hotel itu menyediakan keran, ember, dan gayung buat cebok. Udah gitu, tarifnya murah banget. Jadi mikir, hotel tuh kalau bayarnya makin mahal kok malah makin nyusahin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-5110750648899973179?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/5110750648899973179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=5110750648899973179' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5110750648899973179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5110750648899973179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/05/makin-mahal-makin-nyusahin.html' title='Makin mahal makin nyusahin'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-810883682113581487</id><published>2009-05-19T13:50:00.006+07:00</published><updated>2009-07-29T14:25:14.459+07:00</updated><title type='text'>Ada dildo di tas Bu Haji</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bayangin Lo dalam situasi seperti ini. Lo ketemu cewek cakep, kulitnya putih mulus, bodynya nggak nahan, pakaiannya sexy. Pokoknya bikin ngiler dah. Tapi..., begitu dia ketawa, tau-tau Lo ngeliat tuh cewek gigi depannya gak ada. Tanggung, Lo bakalan langsung ilfil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sori karena memulai tulisan ini dengan paragraf yang bias gender. Atau gini aja deh. Suatu ketika Lo ikut pengajian, yang ngasih tauziah seorang mubalighah (cewek donk pastinya) yang &lt;em&gt;image&lt;/em&gt;-nya kalem lagi santun. Bajunya baju muslim yang anggun. Tapi, pas dia jalan naik ke panggung, tiba-tiba dia kesandung, tas tangan dia jatuh. Isinya tumpah semua, dan di antara hape dan dompet yang berhamburan, Lo lihat ada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;dildo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; ikut menggelinding dan berhenti persis di depan hidung Lo. Taruhan, kredibilitas tuh mubalighah di mata Lo bakalan runtuh saat itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua cerita di atas tentulah hasil imajinasiku yang emang kadang-kadang liar dan nggak penting banget. Aku cuma ingin mengatakan bahwa orang bisa kehilangan selera oleh satu letupan kecil yang muncul tiba-tiba, namun karakternya bertolak belakang dengan letupan besar yang sedang dia nikmati. Dalam kasus aku sendiri, kehilangan selera mendadak seperti itu bisa terjadi saat aku sedang enak-enak baca tulisan di koran atau majalah, terus tau-tau nemu kata keren tapi salah ketik hanya karena si penulis pengen sok-sokan nggaya pakai istilah asing padahal nggak paham artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika nyambangi markas Harapan Indah Jumat hingga Minggu (15-17/5) lalu, kami dapat majalah gratisan (di covernya, tuh majalah dibandrol limabelas ribu perak). Namanya Info Bekasi. Sesuai namanya, majalah ini berisi berita-berita seputar Bekasi. Sampulnya bagus, kualitas kertasnya juga lumayan, &lt;em&gt;at least &lt;/em&gt;nggak berkesan murahan. Habis benah-benah rumah dan saatnya ngadem di kamar nyalain AC, tuh majalah mulai kulihat-lihat isinya. Halaman demi halaman kubaca. Ada satu berita menarik, tentang peresmian kantor Polsek Medan Satria yang katanya termewah di Indonesia karena dibangun dengan biaya 14 M, dan berlokasi di kompleks perumahan kami. Nah, pas enak-enak baca tuh berita, bencana itu datanglah. Ada kalimat yang bunyi gini: &lt;em&gt;“Dibutuhkan partisipasi aktif seluruh &lt;strong&gt;steak holder&lt;/strong&gt; agar keamanan dan ketertiban masyarakat dapat terus terjaga”&lt;/em&gt;. Kontan, aku langsung males nerusin sisa tulisan itu. Penulisnya pasti merasa keren pas nulis &lt;em&gt;steak holder &lt;/em&gt;di situ, dan sama sekali nggak nyadar bahwa dia sedang melakukan sebuah kesalahan fatal. Cara penulisannya memang rada mirip, tapi maknanya jelas jauh banget, seperti orang mau nulis “kontrol” tapi huruf r-nya kelupaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus serupa berulang nggak lama setelah itu. Kali ini infotainment di tivi, lupa namanya apa dan di stasiun tivi mana. Yang jelas, pas infotainment itu nayangin Angelina Sondakh yang digosipin hamil empat bulan. Lagi enak-enaknya terkesima mengagumi Angie yang putih mulus, padat merayap, dan ramai lancar itu, sambil ngebayangin indahnya jadi Aji Massaid, tau-tau naratornya bilang gini: &lt;em&gt;“Ketika dikonfirmasi wartawan di sela-sela persiapan deklarasi pasangan Capres SBY-Boediono, &lt;strong&gt;mantan &lt;/strong&gt;Putri Indonesia &lt;strong&gt;2001&lt;/strong&gt; itu enggan berkomentar”&lt;/em&gt;. Kata “mantan” itu sudah sangat lama, tapi rupanya nggak ada jaminan penulis narasi infotainment ngerti maksudnya. “Mantan” tuh sudah berdimensi waktu, sehingga nggak perlu ditulis lagi tahunnya. Jadi, harusnya cukup ditulis “mantan Putri Indonesia” &lt;em&gt;tok&lt;/em&gt;, atau “Putri Indonesia 2001” doang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar itu akan makin panjang kalau Anda masih belum bosen membaca tulisan ini. Yang lain lagi, yang sering kujumpai adalah kata “alibi” dan “polemik” yang dipakai dengan sembrono oleh acara-acara gosip di tivi, bahkan mereka yang ngaku ilmuwan. Dari cara menempatkan “alibi” dalam kalimat seperti: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0502/03/telkom/1538620.htm"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Alibi Telkom Menolak Kompetisi,&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; berani taruhan, si penulis meyakini bahwa kata itu &lt;em&gt;podo plek&lt;/em&gt; dengan “alasan”. Padahal, alibi tuh istilah hukum, yang kurang lebih berarti “berada di tempat lain ketika sebuah peristiwa terjadi”. Kalau tadi malem jam 21 ada orang yang dikenal sebagai musuh bebuyutanku mati dibunuh di perempatan Kompleks Kehakiman Utan Kayu, sedangkan pada jam 21 itu aku sedang reuni bareng teman-teman alumni SMA 3 di Hotel Patra Jasa Semarang, maka aku bakalan aman dari dakwaan karena aku punya yang disebut sebagai “alibi” itu tadi. Jauh bener bukan, alibi makna kamus dengan alibi a la infotainment?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuakhiri tulisan ini sebelum makin jauh ngelantur, teriring doa semoga si ibu mubalighah seperti kuceritakan di awal tulisan ini tidak kesandung lagi di masa-masa yang akan datang (halah...).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-810883682113581487?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/810883682113581487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=810883682113581487' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/810883682113581487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/810883682113581487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/05/ada-dildoll-di-tas-bu-haji.html' title='Ada dildo di tas Bu Haji'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-2724499676250787159</id><published>2009-04-25T08:44:00.006+07:00</published><updated>2010-12-08T10:38:05.207+07:00</updated><title type='text'>Anggaran foya-foya 20% APBN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di atas permukaan bumi di bawah kolong langit, &lt;strong&gt;mungkin&lt;/strong&gt; hanya Indonesia satu-satunya negara yang mencantumkan target jumlah anggaran di dalam Undang-Undang Dasar. Sengaja kata mungkin kucetak tebal karena jujur aku tidak cukup rajin untuk membaca konstitusi semua negara. Selain karena nggak tau kemana nyarinya, juga pasti sebagian besar tidak paham bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terget yang kumaksud adalah sebagaimana dapat Anda baca di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;“Pasal 31 (4): Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naif, sembrono, dan bodoh. Karena menurutku, yang seharusnya kita jadikan target adalah &lt;em&gt;output&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;outcome&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;impact &lt;/em&gt;sekalian, bukannya malah &lt;em&gt;input&lt;/em&gt;. Niatnya baik sih, biar sekolah gratis atau murah, nggak mahal kayak sekarang. Biar dunia pendidikan kita maju, rakyat cerdas, anak bangsa ini jadi orang pinter semua. Tapi menetapkan target anggaran minimal harus sekian, di dalam UUD pula, tanpa dibarengi dengan target hasil dari penggunaannya sudah pasti jadi moral hazard. Kalau Departemen lain mesti &lt;em&gt;fight &lt;/em&gt;dulu, menguras kreativitas, &lt;em&gt;propose&lt;/em&gt; program-program, baru dapat duit; Depdiknas dapat duit dulu baru mikir tuh duit bakal apaan. Gak perlu &lt;em&gt;fight&lt;/em&gt;, gak perlu kreatif, merem aja dah pasti dapat, gede pula, minimal 20% APBN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika yang begituan tuh tercantumnya “hanya” di Undang-undang, terus dirasa gak pas, Presiden bisa bikin Perpu. Atau DPR bisa bikin amandemen dengan lebih mudah. La kalau nempelnya di UUD, jangankan Presiden, DPR aja bakalan setengah mati kalau mau ngganti. Kenapa sih dulu nggak dipikir, mutu pendidikan kita acak adut tuh sebabnya apa. Apa iya karena anggarannya kurang, atau karena sebab lain? Korupsi misalnya. Kalau sekolahan pada ambruk, pengadaan buku pelajaran nggak beres, sistem pendidikan amburadul tuh sebab utamanya korupsi, terus diatasi dengan menggelontor duit gede-gedean, apa gak sama artinya menyiram gurun pasir dengan air. Berapapun yang disiramkan, gak ada ngaruhnya. Sama kayak dana otonomi khusus buat Papua, yang trilyunan itu. Duitnya habis, tapi infrastrukturnya tetep memprihatinkan dan penduduknya tetap aja kere. Tuh duit dibelanjakan untuk keperluan yang aneh-aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diberi &lt;em&gt;resource &lt;/em&gt;melimpah, dan dijamin oleh kontitusi negara sehingga siapapun harus tunduk, sementara tidak dituntut tanggung jawab &lt;em&gt;resource &lt;/em&gt;itu buat apaan aja (selain kalimat normatif “untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”), jelas sama artinya dengan menyuruh orang untuk foya-foya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, para pejabat Diknas bergelimang harta di saat para guru harus setia dengan kemiskinan mereka. Para pejabat Diknas wira-wiri keluar negeri dengan dalih studi banding sementara para guru tidak mampu beli buku sekadar untuk mengapdet bahan ajar. Gedung Depdiknas berdiri megah lagi mewah sedangkan gedung-gedung sekolah pada hancur dan atapnya rubuh menimpa anak-anak harapan masa depan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di bawah ini foto SD Negeri Kramas, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, tempat dulu 7 tahun aku menimba ilmu. Foto kuambil hari Minggu (12/04/09), ketika aku pulang kampung dalam rangka libur panjang Pemilu dan Paskah tempo hari. Tuh bangunan sekolah atapnya jebol terus diganti asbes yang katanya berbahaya bagi kesehatan, dindingnya hancur dan mesti ditambal di sana-sini, lantainya kusam, udah gitu pintunya remuk pula. Pas motret tuh gedung, aku patah hati berat. Jadi prihatin, gedung SD yang letaknya di kota aja kayak gitu, gimana yang di desa-desa terpencil. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SfJut1c6yBI/AAAAAAAAAKM/0--oQMU1yP0/s1600-h/CIMG1226.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328443042854258706" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SfJut1c6yBI/AAAAAAAAAKM/0--oQMU1yP0/s320/CIMG1226.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bisa saja orang yang diuntungkan oleh bunyi ayat naif itu bilang, “Emangnya sulap? Kan ketentuan anggaran 20% itu belum ada sepuluh tahun usianya”. Emang bener sih, tapi ibarat orang berhitung dari 1 sampai 1000, mestinya kan jelas kita ini sudah ada pada hitungan berapa, sehingga hitungan ke-1000 itu akan kita capai pada tahun berapa. Buktinya, makin hari bangunan sekolah yang rusak bukannya makin berkurang, malah makin bertambah. Jumlah anak putus sekolah juga nggak ada tanda-tanda menurun secara meyakinkan. Meski pendidikan dasar (SD-SMP) katanya gratis, teorinya doang yg gratis. Praktiknya teuteup mbayar ini itu, dengan dalih ini itu pula.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kalau keadaannya masih saja seperti sekarang, jangankan 10 tahun lagi, 50 tahun lagi juga kita akan masih tetap begini-begini saja. Percayalah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-2724499676250787159?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/2724499676250787159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=2724499676250787159' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2724499676250787159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2724499676250787159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/04/anggaran-foya-foya-20-apbn.html' title='Anggaran foya-foya 20% APBN'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SfJut1c6yBI/AAAAAAAAAKM/0--oQMU1yP0/s72-c/CIMG1226.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-9093190383588547658</id><published>2009-04-24T16:45:00.009+07:00</published><updated>2009-04-28T08:17:30.301+07:00</updated><title type='text'>Mental Djongos</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa yang biasanya kita lakukan kalau tiba-tiba ketemu bule di jalan, terus dia keliatan kebingungan, terus kita pengen bantuin? Taruhan, 98 dari 100 dari kita pasti langsung sok-sokan nggaya ngajakin tuh bule ngomong Inggris. &lt;em&gt;“Hello, can I help you?”&lt;/em&gt;. Kita orang Indonesia, yang menurut survei punya rata-rata kemampuan berbahasa Inggris paling memprihatinkan di dunia, yang skor TOEFL-nya nggak jauh-jauh dari 400, langsung mengerahkan segala daya upaya untuk berbahasa Inggris di depan tuh bule, tanpa sedikitpun keinginan menjajagi apakah tuh bule bisa berbahasa Indonesia, dan nggak peduli tuh bule sebetulnya bule Jerman, Perancis, atau Belgia yang nggak berbahasa Inggris. Tar giliran si bule nanggepin antusias, terus dianya ngajakin ngomong Inggris rada-rada cepet dikit, kitanya yang terus kelimpungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengamatanku yang ala kadarnya terhadap orang Belanda sepanjang numpang hidup cuma 12 bulan di sana, mereka punya kebiasaan sangat berbeda. Orang Belanda tuh kalau ketemu sama orang asing, gak peduli negro, Asia, atau bule Amerika, dan pengen menyapa atau menawarkan bantuan, mereka lebih sering (untuk tidak mengatakan pasti) membuka percakapan dengan bahasa Belanda. Setelah si lawan bicara ngomong gini, &lt;em&gt;“I am sorry, I don’t speak Dutch”,&lt;/em&gt; barulah mereka &lt;em&gt;switch &lt;/em&gt;ke bahasa Inggris. Tidak ada kesulitan sama sekali, apalagi mati gaya kayak kita, karena konon hampir setiap orang Belanda bisa berbahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin menganggap nggak penting. Tapi bagiku, kedua kasus di atas membuktikan bahwa sadar atau enggak, kita ngerasa nggak bangga menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris tuh keren, bahasa Indonesia tuh ndeso. Bahasa Inggris &lt;em&gt;is cool&lt;/em&gt;, bahasa Indonesia &lt;em&gt;is &lt;/em&gt;katrok. Coba lihat dua lowongan iklan di bawah ini (dua-duanya dicomot dari Kompas 18 April, Hlm. 42). Mana yang menurut Anda lebih bonafid? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SfGKnuArIBI/AAAAAAAAAJ0/93eUMaS40vg/s1600-h/Iklan1-2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SfGLRi-3JQI/AAAAAAAAAJ8/BFyWivNp7dM/s1600-h/Iklan1-2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328192967720510722" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 293px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SfGLRi-3JQI/AAAAAAAAAJ8/BFyWivNp7dM/s400/Iklan1-2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua-duanya nawarin posisi yang sama. Sales. Cuma, karena satunya ditulis dalam bahasa Inggris dan satunya lagi dalam bahasa Indonesia, kita cenderung menganggap bahwa perusahaan yang ngrekrut karyawan dalam bahasa Inggris itu lebih gawat, berwibawa, keren, bergengsi, dan mungkin gajinya juga lebih gede. Kenyataannya? &lt;em&gt;Durung mesti, Mas &lt;/em&gt;(belum tentu, Bos). Cobalah lihat iklan-iklan di Kompas, baik yang jualan maupun lowongan kerjaan. Sepertinya nggak afdol kalau nggak pakai bahasa Inggris, padahal pasar yang dibidik jelas-jelas hampir seluruhnya orang pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada contoh kasus lainnya lagi, kali ini kisah nyata yang dialami oleh Prof. Asim Gunarwan, guru besar UI jago ngomong Inggris yang kukenal karena dia bantu-bantu Bappenas jadi tenaga ahli bidang bahasa. Syahdan, Prof. Asim butuh data yang dia harus minta ke sebuah instansi. Semula dia nelpon ke tuh instansi, bilang minta data, pakai bahasa Indonesia. Dari seberang sana responsnya lelet mampus, dipingpong kesana kemari. Akhirnya setelah beberapa saat, dia coba telpon lagi, kali ini pakai bahasa Inggris ngaku dari kedutaan Thailand. Ajaib, tuh data nggak sampai lima menit dah difaks ke alamat Prof. Asim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku yang lain punya cerita beda lagi. Suatu ketika, dia terbang Kuala Lumpur-Jakarta pake Garuda. Ada satu pramugari yang menurutnya sok cuek gitu. Terus dia panggil tuh pramugari, ketika udah dekat dan si pramugari nanya,”Ada yang bisa kami bantu Pak?”, dia jawab, &lt;em&gt;“I am sorry, I don’t speak Indonesian. I am Philipino”.&lt;/em&gt; Ajaib, tuh pramugari jadi berubah &lt;em&gt;care &lt;/em&gt;banget sepanjang sisa perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ya bangsa kita ini cenderung menganggap segala yang berasal dari luar negeri pasti lebih hebat dari yang kita miliki dan kita hasilkan sendiri? Apa ini yang disebut mental jongos alias &lt;em&gt;inferior complex&lt;/em&gt;? Rendah diri dan nggak pede. Perasaan bahwa kita pantesnya jadi pelayan, sementara mereka pantesnya jadi majikan. Korban bom Bali, kalau yang bule dan orang asing dilayani dengan baik, giliran korban yang orang Indonesia disia-sia nggak mendapat perawatan sepantasnya. Terminal kedatangan luar negeri Cengkareng di bikin wah, aman, dan nyaman (meski jelas kalah jauh dibandingkan Kuala Lumpur International Airport), sementara terminal kedatangan TKI dibiarkan jadi sarang maling, calo angkutan plat hitam, dan petugas yang nyambi jadi tukang peras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepetinya hanya Indonesia saja yang begini. India, Malaysia, atau Singapura nggak tuh, padahal sama-sama Asia. Kalau nggak salah, dulu pernah ada iklan dicekal di Malaysia hanya gara-gara bintang iklannya Brad Pitt, orang bule, dan oleh karenanya menyingggung harga diri orang Melayu. Di Indonesia, iklan tuh kurang &lt;em&gt;cool &lt;/em&gt;kalau bintangnya nggak bule, nggak pake bahasa Inggris. Biar ratingnya bagus, sinetron-sinetron sampah yang wara-wiri pada jam &lt;em&gt;prime time &lt;/em&gt;haruslah ada bintang yang punya tampang Indo peduli setan dengan kualitas aktingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya analisis ngawur-ngawuran (itulah mengapa blog ini kuberi nama Asalnjeplak) yang barangkali bisa menjelaskan masalah ini. Begini. Ini terkait dengan alasan mengapa Belanda menjajah Indonesia, dan Inggris menjajah India, Malaysia, atau Singapura. Belanda menjajah Indonesia untuk mengeruk rempah-rempah dan kekayaan alam kita. Oleh karena itu, mereka mencoba mengkonstruksi budaya dan pola pikir kita ke arah yang lebih feodalistik bin paternalistik. Pribumi kelas sosial rendah, Arab dan Cina lebih tinggi, Belanda paling tinggi. Pribumi pelayan, Belanda majikan. Dengan begitu, mereka bisa lebih gampang mengekspolitasi kita, baik manusianya maupun kekayaan alamnya. Orang Indonesia nggak perlu dibikin pinter dan berdaya, karena kalau itu yang dilakukan, bakalan jadi bumerang. Memberontak dan menuntut merdeka. Warisan &lt;em&gt;mindset &lt;/em&gt;itu lestari kita warisi hingga sekarang bahkan mungkin sampai anak cucu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Inggris menjajah dengan motivasi yang lain, yakni menjual surplus produk yang mereka hasilkan karena adanya revolusi industri. Dari yang dulunya bikin baju yang hanya bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, karena revolusi industri itu produksinya melimpah, mereka butuh pasar untuk ngejual tuh baju. Untuk itu, negara-negara jajahan mesti dibikin punya daya beli dan pinter. Hasilnya? Orang India kalau ngomong Inggris jago-jago, orang Singapur disiplin, orang Malaysia pinter ngundang turis padahal objek wisata mereka nggak ada apa-apanya dibanding kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Huehehehe... blog ini memang rada-rada aneh. Baru kemaren mendambakan &lt;a href="http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/04/andai-kita-masih-dijajah-belanda.html"&gt;pengen dijajah Belanda&lt;/a&gt; lagi, eh sekarang nyalahin Belanda sebagai penyebab mental djongos bangsa kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-9093190383588547658?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/9093190383588547658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=9093190383588547658' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/9093190383588547658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/9093190383588547658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/04/mental-djongos.html' title='Mental Djongos'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SfGLRi-3JQI/AAAAAAAAAJ8/BFyWivNp7dM/s72-c/Iklan1-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-5125105222943405058</id><published>2009-04-08T08:19:00.013+07:00</published><updated>2009-04-09T11:07:51.390+07:00</updated><title type='text'>Bike to work? Susah, Bos!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/Sdv9BOCBDaI/AAAAAAAAAJM/boLAI56jFRA/s1600-h/DSCN4076.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322125582056623522" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/Sdv9BOCBDaI/AAAAAAAAAJM/boLAI56jFRA/s320/DSCN4076.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Judul di atas tolong dibaca sebagai ungkapan keputusasaan ketimbang ketidaksetujuan. Putus asa, karena menjadikan &lt;em&gt;Bike to Work&lt;/em&gt; (B2W) sebuah habit sebagian besar orang dan tidak sekadar tren sesaat tuh butuh komitmen yang enggak tanggung-tanggung. Aktor yang terlibat juga banyak sehingga butuh koordinasi yang tidak hanya bagus, tapi juga sustainabel. Celakanya, koordinasi adalah hal yang paling enggak bisa dilakukan manusia Indonesia sejak jaman Brama Kumbara hingga sekarang. Rapat koordinasi sih terus digelar, tapi implementasinya payah. Contohnya konnversi minyak tanah ke gas tempo hari. Minyak tanahnya udah kadung ilang, eh gasnya belum juga gampang ditemukan. Walhsasil, di mana-mana harganya melambung. Itu baru konversi minyak tanah yang aktornya nggak jauh-jauh dari Pertamina, PGN, Departemen ESDM, atau Departemen Perdagangan. Pun sustainabiliti. Nggak banget, karena normalnya ganti pemimpin ya ganti aturan. Ini memang ciri paling gampang ditemukan di negara yang proyek oriented.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, untuk kesekian ratus kali aku terpaksa mengambil Belanda sebagai model, mudah-mudahan gak dituduh antek Kumpeni. Apa boleh buat, aku gak pernah bepergian ke luar, sekalinya pergi ya ke Belanda itu. Begini. Di Belanda, konon populasi sepeda lebih banyak dari populasi manusia (18 juta berbanding 16 juta). Dengan asumsi balita dan jompo tidak bisa naik (dan karenanya tidak perlu memiliki) sepeda, berarti banyak yang punya sepeda dua atau lebih. Salah satunya dosen pembimbing thesisku, namanya Maartje van Eerd. Rumahnya di Amsterdam, kerjanya di Rotterdam yang jarak antar kotanya kira-kira 50 menit dengan kereta api. Tiap pagi dia berangkat dari rumah naik sepeda ke stasiun Amsterdam, sepeda kemudian dia parkir di sana. Dari Amsterdam ke Rotterdam naik kereta yang jauh lebih murah dengan berlangganan, on time (atau kalaupun telat, telatnya masih dalam hitungan detik bukan menit apalagi jam kayak Gajayana), nyaman, dan yang pasti aman. Terus, dari stasiun Rotterdam ke kampus naik sepeda satunya lagi yang dia parkir gratis di stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perbandingan populasi manusia dan sepeda seperti kusinggung di atas, B2W di sana jelas sudah jadi bagian hidup. Fakta lain lagi, luas wilayah negara itu hanya 41.526 Km2 (atau tak lebih dari 1/4 Pulau Jawa), tapi punya 22.000 Km jalur khusus sepeda. Di banyak tempat seperti depan kos-kosanku di Weenapad Rotterdam (lihat foto di bawah judul), jalur itu dipisahkan oleh taman dan pepohonan sehingga aman dan tentu saja nyaman. Boleh dikata, hampir nggak ada jalan yang gak boleh dilewati sepeda. Mau parkir? Selain di stasiun, parkir sepeda disediakan gratis di hampir semua tempat. Letaknya selalu di depan, di pinggir jalan, nggak nyempil di belakang pojokan dekat tempat sampah. Dengan begitu, nyarinya jelas sama mudahnya dengan nyari obat palsu di Pasar Pramuka Jakarta. Foto di bawah ini diambil di pusat kota Rotterdam, di depan Bank ABN Amro, salah satu gedung paling bergengsi di sana. Deretan sepeda parkir persis di pinggir jalan, dengan pengaman yang di sediakan oleh Pemkot. Nah, biar gampang ngebayangin, alat pengaman parkir sepedanya seperti gambar di bawahnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/Sdv-8xoI1aI/AAAAAAAAAJc/F4rV52IOQtM/s1600-h/DSC03601.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322127704735667618" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/Sdv-8xoI1aI/AAAAAAAAAJc/F4rV52IOQtM/s320/DSC03601.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SdwAJxqtOHI/AAAAAAAAAJs/HJ44ViUlZRY/s1600-h/DSCN4090.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322129027596367986" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SdwAJxqtOHI/AAAAAAAAAJs/HJ44ViUlZRY/s320/DSCN4090.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PDB perkapita Belanda USD 32,684 pertahun, Indonesia USD 3,843. Gampangnya, mereka amat, sangat, banget-banget lebih kaya dari kita. Tapi jangan terus ngebayangin sepeda-sepeda mereka mahal-mahal dan baru-baru lagi mengkilap. Sepeda mereka tuh yang butut gitu, kebanyakan sepeda kumbang dan bukan federal. Yang penting fungsinya Coy, enteng genjotannya, pakem remnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah, mungkin terlalu berlebihan jika aku ngarep B2W kita kayak mereka. Parkir gratis di mana-mana, aman, tersedia jalur khusus di setiap jalan, and so on. Di pihak lain, penggunaan kendaraan bermotor dibatesin banget biar orang pada rame-rame pindah naik sepeda. Caranya, harga mobil dibikin selangit, ditetapkan batas usia pemakaian, pajaknya bikin klenger, harga BBM dipajaki bukan malah disubsidi, parkirnya susah lagi mahal, and so on. Dengan begitu, orang bakalan mikir-mikir kalau mau nggaya pakai mobil padahal cuma beli rokok ke warung sebelah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tapi, ngarep yang simpel-simpel aja rasanya tetep aja susah. Mampukah kita membangun lintasan khusus sepeda sementara trotoar untuk para pejalan kaki saja sudah diserobot motor dan warung tenda pecel lele? Apakah sepeda dan segala atributnya itu mampu kebeli oleh orang-orang kebanyakan, karena B2W di sini tuh standarnya rada-rada tinggi? Sepedanya merek Polygon, United, atau paling gak Wimcycle, mengkilap baru gak ada yang butut, pake helm yang kayak blangkon, terus pake kostum yang didesain khusus buat atlet sepeda balap. Coba aja teman-teman yang sekarang pada semangat B2W itu disuruh pakai sepedanya sepeda kumbang butut, terus gak pakai helm model blangkon, terus langsung pakai baju kerja bukannya kostum balapan, taruhan mereka bakalan mati gaya dan gak PeDe.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-5125105222943405058?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/5125105222943405058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=5125105222943405058' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5125105222943405058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5125105222943405058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/04/bike-to-work-susah-bos.html' title='Bike to work? Susah, Bos!'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/Sdv9BOCBDaI/AAAAAAAAAJM/boLAI56jFRA/s72-c/DSCN4076.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-66939044499924488</id><published>2009-04-07T10:23:00.003+07:00</published><updated>2009-04-07T11:00:01.451+07:00</updated><title type='text'>Pelukan Mesra Cewek Berkaos PAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SdrHf2lhboI/AAAAAAAAAI8/XBkEaaWsxck/s1600-h/Gambar+Parpol+for+Blog.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321785259734429314" style="WIDTH: 229px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SdrHf2lhboI/AAAAAAAAAI8/XBkEaaWsxck/s320/Gambar+Parpol+for+Blog.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;JAKARTA (7/4). Pagi tadi, pas terusan jalan ke kantor habis ngedrop si Wisang di sekolahannya, aku lihat spanduk gede dengan tulisan yang gede-gede pula di daerah Jalan Balai Rakyat Utan Kayu. Bunyi tulisannya gini: PILIHAN BOLEH BEDA. INGAT... KITA BERSAUDARA. Dari logo di kiri dan kanan spanduk, sepertinya tuh spanduk dibuat oleh polisi. Mesejnya jelas: “meski yang Lo contreng di Pemilu 9 April ntar gak sama,beda parpol beda caleg, Lo jangan berantem ya”. Orang di balik spanduk itu sedikit banyak jelas khawatir, pemilu jadi pemicu konflik horizontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spanduk itu mengingatkan aku pada Mbak Aris, perempuan hebat yang kami percaya tiap pagi menyulap pakaian-pakai kotor menjadi bersih, harum, dan rapi disetrika di markas keluarga besar Utan Kayu. Pas musim kampanye terbuka dimulai 16 Maret tempo hari, tau-tau dia ngomong ke Embahnya anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Aris: “Bu, mohon ijin mungkin besok dan besokannya lagi selama masa kampanye saya akan datang rada siangan”.&lt;br /&gt;Mertuaku: “Loh, kenapa Mbak?”&lt;br /&gt;Mbak Aris: “Anu Bu, saya mau ikutan kampanye dulu”.&lt;br /&gt;Mertuaku: “Weh, ternyata kamu aktivis parpol to Mbak? Hebat, nggak nyangka selama ini penampilanmu telah menipuku. Jangan-jangan kamu jadi jurkamnya”.&lt;br /&gt;Mbak Aris: (dengan tersipu-sipu) “Ah, Ibu. Bukan aktivis parpol. Saya cuma ditawari tetangga, mau nggak ikut kampanye. Katanya dapat uang makan dan kaos”.&lt;br /&gt;Mertuaku: “Ooo. La terus, ikut kampanye apa? Golkar, PKS, PDS?”&lt;br /&gt;Mbak Aris: “Apa sajalah Bu. Saya mah yang penting ada duitnya. Lumayan, 25 ribu, bisa buat tambahan belanja beras di warung. Kalau dapat kaos juga, buat tambahan koleksi pakaian kami yang sudah pada butut dan njeblug warnanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ngebayangin beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang dengan pikiran sederhana seperti itu, yang menjadi penopang hingar-bingar pemilu di negara demokrasi terbesar ketiga di kolong langit ini. Orang-orang yang sering diklaim para elit parpol sebagai massa pendukung setia mereka, yang bisa mereka kadalin dirayu-rayu pas pemilu dan dilupakan ketika kekuasaan telah ada dalam genggaman. Padahal, orang-orang seperti Mbak Aris ini justru orang-orang cerdas pragmatis yang pintar melihat peluang. Nggak ada kesetiaan fanatik pada parpol. Lo ada duit, gue jalan. Lo gak ada duit, ngapain gue ikut Lo?! &lt;em&gt;Just that simple.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasinya betul-betul duit nggak ada lain. Ini rada berbeda dengan jaman kegelapan di bawah Orde Baru nan jaya dulu. Aku ingat, pas masih SMA, ikut kampanye Golkar. Motivasinya bukan karena dapat duit apalagi kaos, tapi karena Komdes (singkatan dari Komisaris Desa) Golkarnya adalah Pak Marsudi, tetangga sebelah rumah yang sangat baik dan penolong. Dia ngajakin, dan gak enak banget kalau aku nolak. Belum lagi ada ancaman dari Pak Lurah kalau nggak ikut, bakalan dibikin sulit segala urusan dengan kelurahan. Wah, ngeri. Jadilah kami sekeluarga dan banyak keluarga lain pendukung (yang dipaksa) setia pada Golkar. Nggak bakalan berani deh, ikut kampanye PPP apalagi PDI yang orangnya sangar-sangar dan beringas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpatisan PPP dan PDI juga demikian. Mereka diikat oleh fanatisme terhadap parpol. Yang PPP karena mereka Islam banget, yang PDI karena mereka udah eneg sama Orde Baru. Terjadilah kubu-kubuan dengan batas yang lebih kaku. Kalau sudah kampanye Golkar, ya gak bakalan ikut kampanye PDI besokannya. Kalau dah jadi pendukung PDI, gak bakalan mau ikut kampanye PPP.&lt;br /&gt;Bahkan, di penghujung orde Suharto, entah karena orang-orang PDI dan PPP udah makin &lt;em&gt;empet&lt;/em&gt; sama kekuasaan entah karena tentara dan polisi udah makin nggak ditakuti, kampanye adalah masa-masa horor terutama bagi simbol-simbol Golkar dan apa saja yang diasosiasikan dengan pemerintah. Pas kampanye PDI atau PPP, mobil motor plat merah jadi sasaran amuk. Orang pakai baju Korpri disarankan jangan ambil resiko nongol di jalanan kalau nggak mau ditelanjangin. Apalagi orang kurang kerjaan, pas kampanye PDI atau PPP malah bikin blunder pakai kaos Golkar, ditanggung babak belur dihajar massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, kejadian semacam itu sepertinya sudah nggak ada lagi. Malah, tempo hari aku ketemu sama Bapak-bapak pakai kaos Gerindra naek motor boncengan sama cewek berkaos PAN. Mesra banget, wong tuh cewek pakai acara meluk-meluk segala sambil haha hihi dengan sorot mata penuh bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma, di negara yang rakyatnya makan tiga kali dengan menu standar aja susah, demokrasi memang akan jadi demokrasi semu. Seperti telah kusinggung di atas, duitlah yang pegang peranan. Akal sehat orang-orang kecil itu pastilah nggak jalan kalau sudah dikasih paket sembako dan duit gocap. Apalagi emang udah bakat dari sononya kita-kita orang Indonesia punya karakter nggak enakan. Maksudnya, kasihan ah, sudah ngasih sembako kok nggak kita contreng gambarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Mbak Aris dan &lt;em&gt;wong-wong cilik &lt;/em&gt;makin pintar: menerima sembako, duit, dan kaos-kaos itu dengan tangan, tapi ketika mencontreng mereka melakukannya dengan hati dan pikiran yang jernih. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Akhirnya, selamat mencontreng. Sementara itu, biarlah aku habiskan empat hari libur panjang mendatang untuk jadi Golput, pulang nengokin Ibuk dan nyekar Bapak di Semarang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-66939044499924488?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/66939044499924488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=66939044499924488' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/66939044499924488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/66939044499924488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/04/pelukan-mesra-cewek-berkaos-pan.html' title='Pelukan Mesra Cewek Berkaos PAN'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SdrHf2lhboI/AAAAAAAAAI8/XBkEaaWsxck/s72-c/Gambar+Parpol+for+Blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-7487828024012369996</id><published>2009-04-06T14:44:00.008+07:00</published><updated>2009-04-07T12:55:30.710+07:00</updated><title type='text'>Andai kita masih dijajah Belanda</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Situ Gintung jebol Jumat (27/3) dini hari. Terjadilah tsunami di tengah kota yang memakan banyak korban baik harta maupun jiwa. Jebolnya tanggul itu terus terang bikin aku dan ibunya anak-anak rada ngeri ngebayangin yang bukan-bukan. Ini karena tanggal 6 Mei besok harusnya Si Wisanggeni dijadwalkan &lt;em&gt;outbond &lt;/em&gt;di sana bareng teman-teman sekelas dan ibu-ibu gurunya. Nggak kebayang jika jebolnya Situ itu 1 bulan 9 hari dan 5 jam lebih lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah itu sudah 10 harian lewat, jadi mungkin sudah nggak hot lagi dibahas. Cuma, aku punya sedikit unge-uneg yang sebetulnya kurang relevan, meski jika dikait-kaitin ada juga sih hubungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begini. Seperti diberitakan di banyak media, yang namanya Situ Gitung itu wujudnya danau yang terbentuk secara alamiah, terus dibuatkan tanggul oleh pemerintah kolonial Belanda tahun 1933. Artinya, tuh tanggul umurnya sudah 76 tahun. Jebolnya baru sekarang, itupun karena kata orang sudah diobrak-abrik di sana dan di sini. Luasnya makin sempit, daya tampungnya dipaksain sedemikian rupa sehingga makin di luar kapasitas yang dia bisa tampung. Hebat banget tuh Belanda, bisa bikin tanggul yang kuat, yang baru jebol setelah 70an tahun, itupun karena dizalimi bertahun-tahun. Coba kalau dirawat baik-baik, mungkin tuh tanggul gak bakalan jebol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya &lt;em&gt;no wonder &lt;/em&gt;sih, secara Belanda terkenal jadi bangsa yang sudah ribuan tahun akrab dengan air. Di antara gantungan kunci dan oleh-oleh gak penting lainnya yang kubawa pulang dari setahun numpang hidup di Rotterdam karena ada sponsor khilaf ngasih beasiswa, ada satu oleh-oleh rada bermutu, yaitu CD film mengenai bagaimana orang Belanda jatuh bangun menyiasati air. Berusaha, gagal, berusaha lagi dengan cara lain, gagal lagi, begitu seterusnya, hingga kemudian mereka sukses membangun tanggul dan bendungan modern, biayanya USD 2,5 miliar, waktu pengerjaannya 50 tahun tanpa henti, dalam satu proyek yang diberi nama Delta Project. Hasilnya mencengangkan, setidaknya buat warga kota pelanggan banjir sepertiku. Dengan Delta Project itu, konon kawasan paling rawan banjir sekalipun kemungkinan kebanjirannya hanya sekali dalam 250 tahun. Anda nggak salah baca, angka itu emang maksudnya duaratus limapuluh tahun. Bandingkan dengan Jakarta yang cuma kena hujan rada deras 15 menit saja air sudah masuk tanpa permisi ke rumah-rumah warga. Belanda kebanjiran 1x dalam 250 thn, Jakarta 250x dalam 1 thn. Ironis, dijajah 350 tahun, dan kita nggak seujung kukupun bisa mewarisi keahlian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin bikin trenyuh jika kita ngebandingin bandara Schiphol di Amsterdam dengan Cengkareng. Schiphol yang letaknya 6 meter di bawah (sekali lagi, di bawah) permukaan laut, nggak pernah kebanjiran. Sementara Cengkareng, udah gak kehitung lagi berapa kali penerbangan ditunda gara-gara landas pacunya tergenang. Belum lagi berulang kali bangsa ini mesti menanggung malu gara-gara akses menuju bandara kebanggaan negara putus akibat banjir dan rob (air laut pasang). &lt;em&gt;Visit Indonesia year &lt;/em&gt;matamu suwek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu, kadang-kadang aku ngebayangin hal yang pasti ditentang sama Sayuti Melik Cs, alangkah enaknya jika sampai sekarang kita masih dijajah Belanda. Apa-apa sepertinya ada aturannya, dan dipatuhi. Itu kata almarhum Embah Kakung lo. Kalau di bawah Situ Gintung gak boleh ada rumah, ya beneran gak bakalan ada orang berani bangun rumah di sana. Sekarang, aturannya bunyi gimana, praktek di lapangannya bagaimana. Dulu, kalau di kawasan Puncak, lahan dibuka sekian hektar, maka mesti dibikinin saluran air dengan kapasitas tertentu yang bisa mengkompensasi potensi volume air hujan yang bakalan turun melewati Jakarta yang gak ketampung akibat pembukaan lahan itu. Itung-itungannya ada. La sekarang? Di Puncak, daerah resapan air pada dibabatin semua tapi saluran air yang mengkompensasi limpahan air hujan gak dibangun sama sekali. Gimana Jakarta nggak kebanjiran to Bos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia perkeretaapian lain lagi ceritanya. Kereta api di Indonesia sebetulnya telah dirintis sejak jaman kolonial dan termasuk menjadi yang pertama di dunia. Kini, Jepang yang baru kemaren sore mengembangkan kereta api sudah bisa bikin kereta peluru, sementara kita masih setia pakai gerbong-gerbong butut plus lokomotif sepuh dengan jadwal keberangkatan dan kedatangan yang hanya kepala stasiun dan Allah Subhannahu Wa Ta'ala saja yang tahu. Udah gitu, panjang rel bukannya nambah malah berkurang. Konon, panjang rel Jakarta-Bandung jaman kolonial sudah mencapai 5.000 Km lebih, eh sekarang malah cuma 4.000an Km. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa boleh buat, setelah hampir 64 tahun menyatakan diri merdeka, bangsa ini agaknya masih belum beranjak jauh dari kumpulan manusia yang hanya bisa merusak, bisa makai tapi gak gablek ngerawat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-7487828024012369996?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/7487828024012369996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=7487828024012369996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/7487828024012369996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/7487828024012369996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/04/andai-kita-masih-dijajah-belanda.html' title='Andai kita masih dijajah Belanda'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-6167585621347130280</id><published>2009-03-30T20:03:00.005+07:00</published><updated>2009-03-31T15:21:18.914+07:00</updated><title type='text'>Semua orang Indonesia suka permen</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SdDD42vCg2I/AAAAAAAAAIs/nVAc_qGqfoc/s1600-h/Permen+Gopek.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318966541457458018" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 235px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SdDD42vCg2I/AAAAAAAAAIs/nVAc_qGqfoc/s320/Permen+Gopek.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Paling sebel tuh kalau pas belanja di Indomaret atau Alfa, bayar &lt;em&gt;cash&lt;/em&gt;, terus dikasih kembalian dalam bentuk permen. Dan, selama sekian tahun menjadi &lt;em&gt;customer &lt;/em&gt;setia kedua toko itu, kalau dikalkulasi mungkin sudah ada nominal duit seratus ribuan aku dipaksa beli permen. Heran, kok aku nggak kapok-kapok juga lo, belanja di sana. Setiap kali dikasih permen, setiap kali pula aku &lt;em&gt;misuh-misuh&lt;/em&gt;, tapi paling lama seminggu kemudian aku toh kembali lagi belanja di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin makin jengkel adalah tindakan biadab itu seolah jadi kebiasaan yang nggak canggung-canggung lagi dilakukan. Maksudku, si Mbak Kasir sudah sampai pada tahap merasa bahwa “satu buah permen” adalah kata ganti yang sahih buat “duit cepek”. Makanya, mereka nggak perlu bilang: “Pak, mohon maaf, yang duaratus kami ganti dengan dua permen karena kami kehabisan koin duaratusan”. Mereka memberikan permen-permen itu dengan tampang &lt;em&gt;innocent&lt;/em&gt;, tanpa ekspresi, seolah tidak sedang melecehkan konsumen. Di laci kasir yang nongol otomatis itu, kalau kita longok, permen-permen itu ditata sedemikian indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen yang menjalankan toko itu pastilah orang yang nggak sebegitu begonya nggak bisa memperkirakan berapa kebutuhan koin seratusan atau duaratusan dalam sehari. Tapi kok ya praktek yang beginian tetap saja lestari dari waktu ke waktu, bahkan makin bertambah parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering aku bertanya-tanya, kalau emang gak gablek nyediain duit seratusan buat kembalian, kenapa harga-harga di toko itu enggak dibikin saja kelipatan gopekan atau ribuan saja? Atau, kalau mau tetap dalam kelipatan ratusan, dan nggak punya kembalian cepekan, kenapa pihak toko nggak mau berbesar hati membuat pembulatan, yang menguntungkan konsumen tentunya? Misalnya, jika total belanja 67.700 perak, si konsumen cukup bayar 67.000,- saja, dan bukan harus membayar Rp68.000,- terus kembalian yang 300 perak ditukar paksa dengan permen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti setuju denganku kalau tidak semua orang suka permen. Atau kalaupun toh suka, tidak sepantasnya si kasir mendiktekan permen dengan merek yang telah ditentukan. La wong aku sukanya permen Fox kok dikasih permen Menthos. Ogah to ya. Atau, kalaupun yang diberikan paksa itu permen Fox, belum tentu aku ikhlas terima, wong kemaren sore baru beli permen Fox satu karung dan belum tentu habis dalam setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberi pelajaran, dari dulu aku punya niat bikin skakmat “kasir permen” yang sayangnya sampai sekarang belum juga kujalankan. Mudah-mudahan suatu saat aku diberikan jalan sama Allah untuk merealisasikannya. Amin. Biar tuh orang-orang pada insyaf dan taubatan nasuha. Skenarionya begini. Sebelum berangkat ke Indomaret, aku beli permen yang banyak. Terus sengaja belanja yang totalnya katakanlah 47.800. Bakalan kubayar dengan duit 50 ribuan. Kalau skenario berjalan lancar, tuh kasir masuk jebakan, dia bakalan ngasih kembalian 2 lembar seribuan dan permen 2 biji. Terus aku mau bilang gini: “ Mbak, permen yang 2 biji ini saya tambah 8 biji, eh 9 deh, tak kasih bonus 1 biji. Jadi, kembalian buat saya jadi genap 3 ribu. Atau, begini saja, saya tambahin permen lagi 20 biji ya Mbak, biar kembalian buat saya bisa pas lima ribu...”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasain Lu?!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-6167585621347130280?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/6167585621347130280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=6167585621347130280' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6167585621347130280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/6167585621347130280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/03/semua-orang-indonesia-suka-permen.html' title='Semua orang Indonesia suka permen'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SdDD42vCg2I/AAAAAAAAAIs/nVAc_qGqfoc/s72-c/Permen+Gopek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-135668774654836539</id><published>2009-02-24T14:50:00.002+07:00</published><updated>2009-02-24T15:02:43.473+07:00</updated><title type='text'>Kecanduan Api di Bukit Menoreh</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SaOpiFLX8SI/AAAAAAAAAIc/TFSr4Htf190/s1600-h/AdBM.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306271188943106338" style="WIDTH: 206px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SaOpiFLX8SI/AAAAAAAAAIc/TFSr4Htf190/s320/AdBM.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Seminggu terakhir ini, dan sepertinya bakalan berlanjut hingga ke hari-hari ke depan, aku dibuat kecanduan oleh cerita silat karangan almarhum SH Mintardja, Api di Bukit Menoreh (AdBM). Benar, cerita ini sudah kuno banget dan bisa kuterima kalau ada yang kemudian bilang: “Dulu kemana aja, Bos?”. Sesungguhnya, bukan baru sekarang aku tahu ada cersil dahsyat ini. Dulu, ketika masih SD, aku juga sudah keranjingan dengan karya SH Mintardja yang lain, Naga Sasra Sabuk Inten (itu tuh, yang tokoh utamanya Mahesa Jenar yang kemudian dijadikan julukan bagi tim bola PSIS Semarang). Juga sempat menonton di TVRI ketika AdBM diangkat ke layar gelas kalo nggak salah tahun 80an gitu. Tapi, entah kenapa waktu itu aku masih saja nggak tertarik untuk mengeksplor cerita versi aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berawal dari iseng googling ngetik kata “Agung Sedayu” karena gencarnya iklan properti dengan nama itu di tivi. Nama Agung Sedayu itu telah mengingatkanku kembali pada masa kecilku di Semarang, masa-masa aku keranjingan mendengarkan sandiwara radio Saur Sepuh dan membaca cerita silat Nagasasra Sabuk Inten koleksi sepupu iparku. Oleh karenanya, masa itu adalah masa ketika kepalaku dijejali khayalan-khayalan untuk jadi jago silat yang kebal, bisa ngilang, terbang, dan punya senjata ampuh yang tersimpan di bawah kulit di atas daging. Dus, kucari “Agung Sedayu” di Google tidak dengan keinginan untuk tahu lebih jauh mengenai developer kaya itu, melainkan untuk mencari-cari apakah di internet ada yang ngebahas tentang AdBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ada. Di samping &lt;a href="http://buku.wikia.com/wiki/Agung_Sedayu_-_Tokoh_Sentral_Api_di_Bukit_Menoreh"&gt;artikel yang sifatnya ngebahas si Sedayu&lt;/a&gt;, ada juga yang ternyata malah menampilkan cerita itu as it is, beralamat di &lt;a href="http://adbmcadangan.wordpress.com/"&gt;http://adbmcadangan.wordpress.com/&lt;/a&gt;. Weh, hebat bener tuh orang, secara AdBM di blog itu aku kira diketik ulang dari naskah aslinya yang kalau ditumpuk bakalan setinggi kulkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sejak libur Sabtu (21/2) lalu aku mulai membaca dari awal banget. Hebat, dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kukagumi dari SH Mintardja sang author adalah kepiawaiannya merangkai cerita demi cerita sehingga aku seperti larut di dalamnya. Walhasil, mulai Sabtu itu aku selalu mantengin laptop begitu ada kesempatan. Enggak pagi, enggak siang, enggak malam. Anytime. Di sela-sela tugas negara di kantor (meski jelas kalau ketahuan SBY pasti bakalan kena marah ada anggota Korpri yang nekat baca cersil di jam kerja), sambil makan, dan di rumah di sela-sela nemenin maen Wisanggeni dan Ontoseno, atau ketika istri dan anak-anakku itu sudah terlelap. Tadi malam bahkan aku mamaksa diri tidur jam 2 karena terus-terusan penasaran mengenai kelanjutan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tulisan ini kuposting, aku baru sampai di Buku 16 (dari ratusan buku yang ada), pada bagian di mana sisa-sisa laskar Kadipaten Jipang menyerahkan diri agar mendapat pengampunan dari otoritas Pajang setelah sebelumnya Senopati mereka yang bernama Tohpati gugur dalam duel satu lawan satu dengan Senopati Pajang bernama Untara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penilaianku sejauh ini, yang membuat AdBM jadi candu adalah karena ia tidak hanya menyajikan cerita gedebak-gedebuk orang berantem. Cerita ini begitu kuat spiritualitasnya. Ada pertentangan batin manusia yang selalu muncul, rumitnya jalan pikiran orang, atau betapa sumir batas antara cerdik dengan licik. Tidak seperti sinetron-sinetron sampah yang bertebaran di tivi-tivi nasional, AdBM memandang dua kubu yang saling berperang tidak selalu dari kacamata hitam putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, di sana diceritakan bahwa Prajurit Jipang yang katanya berada di pihak yang salah itupun juga punya istri setia dan anak-anak yang lucu-lucu yang terpaksa ditinggalkan karena kewajiban mengemban tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kok terus ngebayangin para tentara yang saling berhadapan dalam perang yang sesungguhnya. Di Irak, di Afghanistan, atau di manapun di muka bumi ini. Mereka, tentara-tentara itu, pastilah juga punya ibu, istri, anak-anak, dan anggota keluarga lain di rumah yang mencemaskan keselamatan mereka. Di luar ketegaan membunuh, mereka pastilah punya sisi-sisi lembut dalam diri. Sayangnya, hukum pasar mengatakan bahwa yang tinggi ratingnya adalah yang hitam putih itu; yang laku ditonton orang adalah yang jahat tuh jahaaaat banget dan yang baik itu baiiiiik banget nggak ada jahat-jahatnya. Maka, lihatlah, bahkan film-film perang produksi Hollywood pun, adegan wajibnya ketika pamit berangkat ke medan laga adalah: si jagoan yang tentara dari AS itu akan menggendong anak balitanya yang innocent, memeluknya dengan kasih sayang, seraya mencium mesra istrinya. Orangnya welas asih, baik hati dan tidak sombong. Sementara si musuh dari negeri yang dicap teroris digambarkan kejam, nggak ada senyum, selalu membentak, dan seolah hidup sendiri tanpa ada satupun anak atau istri yang dengan cemas menunggunya pulang.&lt;br /&gt;Begitulah. Dan, akibat yang mesti kutanggung adalah terganggunya waktu tidurku. Dalam keadaan biasa, basically aku seorang tukang tidur. Paling telat jam setengah sepuluh malam aku dah molor, dan baru bangun jam setengah enam pagi. Dus, tidur minimal delapan jam dalam sehari. Semalam aku tidur jam 2 pagi, kemaren jam 1 pagi, dan kemarennya lagi jam 12 malam. Entah, apakah malam nanti aku akan bisa terus membaca lanjutan AdBM. Sepertinya enggak mampu, wong sekarangpun tulisan ini aku ketik dalam keadaan mata sepet saking ngantuknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-135668774654836539?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/135668774654836539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=135668774654836539' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/135668774654836539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/135668774654836539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/02/kecanduan-api-di-bukit-menoreh.html' title='Kecanduan Api di Bukit Menoreh'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SaOpiFLX8SI/AAAAAAAAAIc/TFSr4Htf190/s72-c/AdBM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-7560630952292946179</id><published>2009-02-04T13:30:00.003+07:00</published><updated>2009-02-04T13:33:05.691+07:00</updated><title type='text'>Ajang Kumpul Anak Jalan Sesama (part 1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SYk2MuHIFMI/AAAAAAAAAIM/pRyAq-YH7Ww/s1600-h/Image000.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298826028742350018" style="WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SYk2MuHIFMI/AAAAAAAAAIM/pRyAq-YH7Ww/s400/Image000.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebagai balita gaul, Wisanggeni adalah penggemar berat aneka film anak-anak mulai Finley si truk pemadam kebakaran, Thomas si kereta api, Barney si dinosaurus, Dora si petualang, the Backyardigans si pinguin Pablo cs, hingga Jalan Sesama si unyilnya Amerika. Untungnya, film-film itu tidak bersifat merusak akal sehat seperti sinetron-sinetron sampah yang bertebaran di jam-jam prime time. Dora misalnya, meski aku tidak setuju dengan tindakan kedua orang tuanya membiarkan tuh anak kelayapan tanpa pengawasan ke tempat-tempat berbahaya: sungai penuh buaya, hutan belantara, tebing curam, dst; harus diakui cukup membangkitkan semangat belajar dan daya imajinasi si Wisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara film-film yang kusebut di atas, Jalan Sesama (atau aslinya di Amerika sono disebut Sesame Street dan selanjutnya kusingkat JS) mungkin top favorite-nya Wisang. Dia hafal hari apa dan jam berapa saja tuh film nongol di tivi. Tidak hanya itu, karena cintanya pada si Jabrik, Momon, Putri, dan Tantan (bagi Anda yang nggak kenal, mereka itu adalah tokoh-tokoh lokal JS), aku juga melanggani dia dengan Majalah JS yang terbit sebulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu (31/1) hingga Minggu (1/2) lalu JS bikin acara off air di Galeri Nasional yang lokasinya di Jalan Medan Merdeka Timur, seberang-seberangan sama Stasiun Gambir. Nama event itu adalah Ajang Kumpul Anak JS. Sejak diberitahu ada acara itu melalui Majalah JS sebulan sebelumnya, si Wisang udah langsung gak sabar menunggu. Tiap hari ngingetin Bapaknya, ”Ayah, jangan lupa kita ke acara Jalan Sesama ya”. Dan, jawabanku juga standar, ”Iya Le, iya. Tapi jangan lupa belajar yang rajin”. Buat emaknya, antusiasme Wisang itu pantas disykuri karena bisa dia jadikan senjata ampuh mengatasi kebadungan sang buah hati. Kalau si Wisang ngadat susah dimandiin, ibunya langsung bisa ngancam, “Kalau nggak mau mandi, besok nggak diajak ke Jalan Sesama”. Kalau tuh anak males-malesan makan atau minum susu Boneeto-nya, ancaman yang sama langsung dilontarkan. Dan biasanya, begitu mendapat ancaman itu, si Wisang nurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Akhirnya, hari yang ditunggupun tiba. Sabtu (31/1) pagi, keluarga Utan Kayu sudah umyek dengan persiapan menghadiri event itu. Si Wisang yang biasanya mesti dirayu dan diancam untuk mandi, pagi itu justru teriak-teriak nggak sabar kepengen dimandiin. Yang dipersiapkan juga termasuk bekal makan siang karena ketika telpon panitia beberapa hari sebelumnya, dibilang bahwa di acara nanti nggak ada food court-nya. Pukul 10 lebih dikit semua persiapan selesai. Dan karena kulihat di luar rada-rada mendung, kami putuskan untuk manggil Taksi Bluebird, dan motor Honda Legenda butut andalan keluarga diparkir manis dirumah saja. Tak berapa lama, taksi siap, dan kamupun meluncur ke lokasi syuting setelah Si Ontoseno diserahkan hak asuhnya kepada Mbah Kakung, Mbah Putri, dan Budenya plus ditinggali perasan ASI 90cc. Tak lupa, selembar sobekan kertas dari Majalah JS yang katanya merupakan “undangan dan harus dibawa” kumasukkan tas ransel. &lt;em&gt;(bersambung)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-7560630952292946179?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/7560630952292946179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=7560630952292946179' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/7560630952292946179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/7560630952292946179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/02/ajang-kumpul-anak-jalan-sesama-part-1_04.html' title='Ajang Kumpul Anak Jalan Sesama (part 1)'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SYk2MuHIFMI/AAAAAAAAAIM/pRyAq-YH7Ww/s72-c/Image000.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-2983131714206096760</id><published>2009-02-04T13:15:00.004+07:00</published><updated>2009-02-04T13:33:41.505+07:00</updated><title type='text'>Ajang Kumpul Anak Jalan Sesama (part 2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SYky6HyKBNI/AAAAAAAAAIE/RE5zzIYgKYI/s1600-h/100_1098.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298822410681320658" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SYky6HyKBNI/AAAAAAAAAIE/RE5zzIYgKYI/s400/100_1098.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tidak begitu sulit menemukan lokasi karena sehari sebelumnya aku udah ngintip via Google Earth. Sampai parkiran, bayar taksi, dan melengganglah kami menuju konter registrasi. Di arena rupanya sudah berkumpul banyak anak plus orang tua masing-masing. Bahkan ada beberapa bus yang ngangkut anak-anak sekolah yang khusus diundang oleh panitia penyelenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi penyelenggaraan acara terbagi dua. Satu di plasa yang telah ditutup sama tenda gede dan tinggi untuk aneka permaianan tradisional yang ngingetin kita pada masa kecil dulu mulai dampu, gobak sodor, lompat tali, hingga tak jongkok. Juga ada tempat workshop bikin batik, pameran lukisan anak-anak TK &amp;amp; SD, dan jualan mainan tradisional. Satunya lagi di dalam ruangan untuk panggung live show Jalan Sesama (JS), main angklung, dan eksibisi Boneka Horta (boneka temuan anak-anak IPB yang terbuat dari serbuk kayu gergajian dan rumput hidup. Silakan membayangkan sendiri...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek pertama yang langsung menyita perhatian tentulah yang ada di dekat gerbang masuk, yaitu foto-foto besar dari tokoh-tokoh JS lokal yang dibikin berdiri dengan penyangga. Juga display lukisan anak-anak TK dan SD yang harus diakui memang bagus-bagus belaka. Adegan selanjutnya tentulah kukeluarkan kamera, poto sana poto sini, mengabadikan suasana, keramaian, dan eksyen Wisang yang kecil-kecil sudah narsis berpose di samping foto tokoh-tokoh idolanya . Habis itu, kami masuklah ke arena yang di dalam, tempat boneka-boneka JS dimainkan secara live.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya kami ngebayangin bakalan mendapat suguhan berupa live show JS dengan satu cerita utuh begitu, karena setiap show dijadwalkan berlangsung 30 menit. Ternyata enggak. Yang keluar di show jam 11 siang hanya si Putri sama Momon, 5 menit pula. Sedangkan show yang jam 2 siang hanya ada si Jabrik dan Tantan, juga 5 menit, dan materinya cuma ngajari anak-anak bagaimana cara menulis alamat dan nempelin perangko di kartu pos. Habis itu sudah. Padahal ngantri masuknya tuh lama, udah gitu yang diutamakan adalah anak-anak SD atau TK yang katanya “undangan”. Mereka suruh baris di depan, sedangkan kami yang sudah nunggu dari tadi disuruh baris di belakang, yang artinya ntar duduknya juga bakalan jauh dari panggung. Aku sempat protes-protes sama panitia, loh emang kami bukan undangan? Kami juga diundang melalui Majalah JS toh. Jawabnya, bukan. Dus, kami ini dianggap bukan undangan. Sepertinya, duit yang kami keluarkan tiap bulan buat langganan Majalah JS itu nggak berarti apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menyaksikan show yang jam 11 yang cuma 5 menit itu, kami muter-muter nggak jelas, hingga jam makan siang tiba dan kami membuka bekal, duduk lesehan di sepanjang koridor yang dipakai buat pameran lukisan. Lagi asyik masyuk makan, keluarlah ke arena bermain dua tokoh JS dalam ukuran besar (di dalamnya berisi orang) namely Putri dan Momon. Sontak, anak-anak berhamburan mendekat ngajakin salaman n foto bersama. Suasananya begitu hiruk pikuk, berebutan, kayak nggak ada aturannya. Walhasil, nggak ada satupun pengunjung yang dapat kesempatan berfoto secara eksklusif dengan kedua karakter itu. Sayang banget, panitianya kok ya nggak cukup cerdas gitu lo, untuk ngatur. Padahal kalau rada pinter dikit, panitia bisa bikin registrasi, daftar siapa-siapa yang mau foto. Habis itu dipanggilin satu-satu . Tapi, ya sudahlah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu alasan kuat kami mengajak Wisang berkunjung ke situ adalah karena dari pengumumannya kami menyangka akan ada pentas dalang cilik, atau kalau enggak ada semacam arena di mana Wisang nanti bisa pegang-pegang dan mainin wayang kulit. Sebagai apresiator wayang kulit sejati, aku memang punya obsesi untuk memperkenalkan Wisanggeni dan Ontoseno dengan dunia pewayangan, suatu dunia darimana nama kedua anakku itu berasal. Tapi, rupanya kami harus rada kecewa, karena ketika kami tanya ke panitia kapan pentas dalang cilik itu akan di gelar, jawaban mereka nggak jelas. Di bilang jam setengah tiga, tapi ditunggu sampai jam tiga juga belum ada tanda-tanda tuh pentas di mulai. Tempatnyapun juga nggak jelas di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena ekspektasi kami berlebihan ya, aku dan emaknya anak-anak kok ngerasa bahwa penyelenggaraan acara ini baru bisa disejajarkan dengan lomba anak-anak 17-an tingkat RT. Tadinya kami ngebayangin bakalan ketemu dengan konter-konter yang dikelola rapi, setiap pengunjung dilayani dengan baik dan tidak dibeda-bedakan berdasarkan kasta “undangan” dan “tamu umum”. Tadinya kami pikir acaranya akan meriah, dengan suguhan utama live show JS dengan cerita utuh dan berdurasi lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam empat sore kami tiba kembali di rumah Utan Kayu, dengan lega. Lega bukan karena habis berpartisipasi di acara off air Jalan Sesama yang meriah dan meninggalkan kesan mendalam, melainkan lega karena merasa beruntung, “Untung tadi si Ontoseno nggak diajak ya, Yah”, kata Emaknya anak-anak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-2983131714206096760?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/2983131714206096760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=2983131714206096760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2983131714206096760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2983131714206096760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/02/ajang-kumpul-anak-jalan-sesama-part-2.html' title='Ajang Kumpul Anak Jalan Sesama (part 2)'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SYky6HyKBNI/AAAAAAAAAIE/RE5zzIYgKYI/s72-c/100_1098.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-1324240612182565052</id><published>2009-02-04T10:18:00.005+07:00</published><updated>2009-02-04T16:33:35.043+07:00</updated><title type='text'>Suara duit, suara Tuhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ketua DPRD Sumut meninggal dalam demo anarkis menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli, Selasa (3/2) kemaren. Lepas dari apakah meninggalnya itu karena serangan jantung atau dikeroyok massa, demonstrasi yang pakai acara ngerusak dan &lt;em&gt;njotosi &lt;/em&gt;orang itu jelas layak dikutuk. Pelakunya mesti dihukum setimpal, dan &lt;em&gt;mastermind &lt;/em&gt;alias aktor intelektual yang karena kekuatan modalnya mampu menggerakkan orang begitu banyak mesti dihukum lebih berat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu aku miris ngelihat negara ini dipecah-pecah sembarangan tanpa dipikir masak-masak. Kalau di belahan dunia lain orang pada pengen bersatu kayak Uni Eropa, di negeri ini orang pada ngotot pengen nyempal-nyempal. Ide awalnya sih bagus, yaitu agar bisa mengembangkan potensi khas yang ada di masaing-masing wilayah sembari mendekatkan pelayanan kepada publik. Sayangnya, motivasi untuk bikin provinsi dan kabupaten/kota baru itu justru lebih kental ambisi pribadi ketimbang niat suci memperbaiki kesejahteraan rakyat. Maksudku, dengan adanya provinsi baru, berarti ada lowongan gubernur, wakil gubernur, ketua dan anggota DPRD, kepala-kepala dinas berikut jabatan eselon 1 dan 2-nya. Ada kesempatan baru untuk pegang kuasa, rumah dinas baru, mobil dinas baru, gaji gede, kesempatan dapat proyek gede bikin gedung-gedung kantor baru, atau duit milyaran dari konsesi nebang hutan. Gurih kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Vox populi vox Dei,&lt;/em&gt; suara rakyat adalah suara Tuhan, dan oleh karenanya harus dituruti. Celakanya, di Indonesia, di mana orang kelaparan lebih banyak jumlahnya daripada total penduduk Malaysia ini, yang diyakini sebagai “rakyat” adalah kumpulan sebanyak mungkin orang. Bisa dalam bentuk rapat akbar, demonstrasi, orasi politik, atau sejenisnya. Mereka nuntut apa, itulah suara rakyat, betapapun tidak masuk akalnya apa yang dituntut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya (lagi), hukum di negeri ini juga seolah tak berdaya jika berhadapan dengan massa. Ngerusak, kalau dilakukan rame-rame, nggak bakalan dihukum. &lt;em&gt;Lha wong &lt;/em&gt;rakyat &lt;em&gt;je&lt;/em&gt;. Kalau ada yang ditangkap polisi, kerahkan saja massa lebih banyak biar yang ditangkap itu dilepasin. Nggak ada kan yang dihukum dalam penjarahan dan pemerkosaan massal menjelang jatuhnya Suharto dulu? Coba, siapa yang dibui dalam aksi pembakaran kantor Bupati Tuban, Maluku Tenggara, dan Aceh Tenggara tempo hari? Kasus penganiayaan oleh FPI di Monas dulu juga nggak ada beritanya lagi tuh sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan cerdas di koran, itu bukan suara rakyat. Omongan ilmiah di tivi, juga bukan suara rakyat. Walhasil, yang kemudian berhak punya suara rakyat adalah orang-orang berduit yang haus kuasa. Bayar aja orang-orang kelaparan itu untuk demo, seribu orang cukup kok untuk bikin gentar polisi plus meyakinkan pemerintah bahwa mereka adalah representasi rakyat. Taruhlah satu orang dikasih 50 ribu (buat mereka yang makan sehari dua kali aja susah, uang segitu udah gede banget), hanya butuh 50 juta untuk mengerahkan seribu orang. Jumlah yang teramat kecil buat si rakus berduit, apalagi jika dibandingkan dengan untung yang ntar di dapat jika agenda pribadi yang seolah-olah kepentingan rakyat banyak itu gol. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ada juga sih daerah hasil pemekaran yang kemudian terbukti mampu membuat rakyat sejahtera, atau paling enggak menunjukkan kemajuan signifikan dalam aktivitas ekonomi dan pembangunan manusia. Gorontalo misalnya, di bawah Fadel provinsi baru ini sukses jadi sentra pertanian jagung, dengan manajemen yang mensejahterakan petani. Tapi, kupikir kok jauh lebih banyak daerah pemekaran yang malah jadi nggak karu-karuan daripada yang beneran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan begitu pantaslah aku khawatir jika hanya orang di balik layar yang nanti akan mereguk manisnya kekuasaan, fasilitas dinas, dan proyek ini itu jika Provinsi Tapanuli jadi dibentuk. Dan para pion, si miskin yang nekat jadi pembunuh hanya dengan modal 50 ribu itu? Mereka tak lebih hanya akan kembali menjadi orang-orang kalah yang ditinggal, dilupakan, dan tetap jadi kere.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-1324240612182565052?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/1324240612182565052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=1324240612182565052' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1324240612182565052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1324240612182565052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/02/suara-duit-suara-tuhan.html' title='Suara duit, suara Tuhan'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-1912549413014564043</id><published>2009-01-28T15:33:00.004+07:00</published><updated>2009-01-29T15:36:54.244+07:00</updated><title type='text'>Semarang pesona Asia? Pale Lu bau kemenyan!</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SYAZzUU6-KI/AAAAAAAAAH0/DEfG3brI740/s1600-h/Banjir+Tawang-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296261531208186018" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 265px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SYAZzUU6-KI/AAAAAAAAAH0/DEfG3brI740/s400/Banjir+Tawang-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebetulnya kisah ini terjadi sudah sebulan lalu. Cerita mengenai liburan akhir tahun di Semarang yang berakhir antiklimaks jadi korban banjir di Stasiun Tawang. Kalau cerita ini mau dimuat di koran, mungkin sudah nggak bakalan lolos dari seleksi redaktur wong sudah nggak aktual alias basi. Tapi berhubung ini adalah blog pribadi yang isi tulisannya bisa terserah gue, tapi berhubung beberapa hari lalu si Wawan teman SMA-ku &lt;em&gt;misuh-misuh &lt;/em&gt;kejebak banjir di &lt;em&gt;downtown &lt;/em&gt;Semarang, ceritaku ini jadi kuanggap relevan untuk kuposting di sini (Halah, alasan! Bilang aja kemaren-kemaren males mau nulis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 29 Desember 2008 jam 04:30 pagi. Itu adalah saat di mana aku, anak-anak, dan istriku harus bertolak menuju Stasiun Tawang setelah selama 8 hari kami puas berlibur di markas besar &lt;em&gt;the Sagiman &lt;/em&gt;di Kramas. Bangun pagi-pagi buta mesti dijalani agar tidak ketinggalan Argo Sindoro yang akan membawa kami pulang ke Jakarta. Apa boleh buat, di tiket tertulis keberangkatan jam setengah 6 pagi, padahal waktu tempuh rumah-stasiun bisa 30 menitan dengan taksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin rada ketar-ketir tuh karena tengah malam hingga pagi itu hujan turun dengan lebatnya. Kelurahan Kramas yang terletak di ketinggian kota Semarang sih gak bakalan kebanjiran mau hujan dua hari dua malam juga. Tapi Stasiun Tawang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah lima lebih dikit, Taksi Bluebird yang kupesan sejak sore sebelumnya datang setelah katanya setengah mati nyariin alamat. Nggak nyalahin sopirnya sih. Sistem penomoran jalan di kampung kami itu emang rada-rada aneh. Dari dulu jaman aku masih SD sampai sekarang nggak pernah ada kesepakatan. Warga yang mendiami rumah-rumah di deretan kami maunya nomornya menggunakan ganjil-genap (yang di sebelah kiri 1,3,5 dst, yang sebelah kanan 2,4,6 dst). Tapi, warga deretan rumah di depan nggak mau begitu, entah karena apa. Mereka malah bikin nomer sendiri 1,2,3,4 dst. Walhasil, rumah nomor genap pada dobel, di kiri ada di kanan ada. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Makanya, dari dulu aku kalau ngasih alamat rumahku selalu harus ditulis Jl. Mulawarman V No.22 Rt003/Rw001 (musti ada Rt dan Rw-nya) biar nggak nyasar ke rumah tetangga diujung jalan sana. Mending kalau yang nyasar surat tagihan utang, la kalau yang nyasar kiriman uang semilyar kan sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantesan negara ini nggak maju-maju, la wong di ajak koordinasi untuk mbikin nomor rumah dengan satu sistem penomoran aja susahnya ngaujubile setan. Simpel bin guampang lo padahal, apalagi koordinasi yang sedikit saja lebih canggih, pasti kedodoran nggak mungkin gablek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Dengan diiringi hujan yang tak juga reda sejak semalam, taksipun meluncur menuju Stasiun Tawang. Ngesrep, Gombel, hingga kawasan Johar jalanan sepi. Maklum, pagi-pagi buta di hari libur 1 Muharram pula. Yang melegakan juga nggak ada tanda-tanda jalan kebanjiran. Tapi, perasaan lega itu nggak bertahan lama, karena ketika taksi memasuki jalan di depan Stasiun Tawang.... &lt;em&gt;twe weng&lt;/em&gt;, mobil, becak, sepeda motor dan aneka jenis kendaraan lain pada semrawut di jalan. Akar persoalannya rupanya mereka pada menaik-turunkan penumpang di jalan karena halaman Stasiun Tawang kebanjiran setinggi lutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas aku dan emaknya anak-anak panik setengah mati. Mana hujannya makin deres, bawaan buanyak yang meliputi travel bag, tas bayi, tas kresek berisi oleh-oleh, dan ransel isi laptop pinjaman dari negara. Belum lagi Si Ontoseno yang umurnya baru 5 bulan jelas harus digendong. Untunglah, tak berapa jauh dari posisi taksi kami, ada abang-abang becak yang siap mengantar menyeberangi danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, untuk langsung bisa bernafas lega masih harus bersabar. Si Abang Becak minta tarif selangit, itu sudah pasti dan bukan di situ letak persoalannya. Masalah utamanya adalah kapasitas angkut becak yang cuma bisa dimuati dua setengah orang. Akhirnya, keputusan nekat diambillah. Anak-anak dan ibunya naik becak, sementara aku jalan kaki menyeberangi si kolam raksasa. Tangan kanan angkat travel bag agar nggak basah, tangan kiri bawa tas bayi, sementara punggung ditimpa ransel laptop. Pegel bukan main, secara barang-barang itu kalau diakumulasi ada kali kalau 45 kilo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian dalam stasiun rupanya juga kebanjiran, sehingga barang-barang bawaan praktis baru benar-benar bisa ditaruh setelah berada di lantai yang agak tinggian pas di samping kereta. Untung tuh kereta dah stenbai di tempatnya, jadi nggak musti keleleran nungguin kedinginan di tengah-tengah genangan air, di atas kursi-kursi di ruang tunggu yang basah plus lembab. Setelah gerbong dan nomor seat yang tertera di tiket ketemu, baru deh lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, katanya Semarang Pesona Asia, kok kayak gini sih kota kelahiran Ayah?” protes emaknya anak-anak sesaat ketika Argo Sindoro mulai jalan meninggalkan Stasiun Tawang jam 6 kurang dikit, molor hampir setengah jam dari jadwal, mungkin ngasih kesempatan penumpang yang pada terlambat kejebak banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, ya ndak tau Bun, wong Ayah bukan walikotanya, bukan anggota DPRDnya, bukan pula gubernurnya”, jawabku mencoba berkelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngatasin banjir di Semarang kan mestinya lebih gampang to, Yah, dibandingkan Jakarta yang katanya sekarang sudah di tangan ahlinya itu. Pertama, karena belum sepadat Jakarta. Kedua, karena daerah di atas Semarang seperti markas kita di Kramas juga masih masuk wilayah kota yang sama. Kalaupun mau ditarik ke selatan lagi, daerah Ungaran, kan masih sama-sama Jawa Tengah. Jadi, koordinasinya tidak harus lintas Kota atau lintas Provinsi. Beda sama Jakarta yang mesti koordinasi dengan yang punya otoritas atas daerah Puncak, Bogor, dan Cianjur. La kok banjir dari dulu bukannya makin beres malah makin nggak karu-karuan”. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga sih, analisis ngawur-ngawuran ala ibunya anak-anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau nggak salah, rasa-rasanya belum ada satu setengah tahun kota ini dicanangkan menjadi kota wisata dengan &lt;em&gt;event &lt;/em&gt;&lt;u&gt;Semarang Pesona Asia&lt;/u&gt; Agustus 2007 dulu. Pencanangan itu harusnya kan ya diimbangi dengan perencanaan yang matang, berkesinambungan, plus sinergi semua elemen, bukan hanya &lt;em&gt;gedebak gedebuk &lt;/em&gt;pertunjukan seni setelah itu sudah. Potensi budayanya digarap, keseniannya dipoles, kekayaan kulinernya digali, promosinya digencarkan, dan di atas itu semua, infrastrukturnya dibikin nyaman mulai dari hotel, bandara, jalan, stasiun, hingga terminal. La kalau yang terjadi malah stasiun keretanya berubah jadi danau buatan begitu, wisatawan mana pula yang sudi berkunjung. Kalau bukan karena aku lahir, dibesarkan, dan di kota inilah orang tuaku tinggal, nggak bakalan sudi aku ke Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ini karena Walikotanya udah jabatan kedua ya, Yah? Udah gitu, dia kalah waktu pilihan Gubernur tempo hari. Jadi, baru sibuk ngumpul-ngumpulin duit buat ngembaliin modal kampanye gubernur sama menuhin pundi-pundi buat pensiun...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hush, jangan ngomong sembarangan Bun. Tar ada setan lewat”, kataku cemas sambil &lt;em&gt;istighfar &lt;/em&gt;dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-1912549413014564043?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/1912549413014564043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=1912549413014564043' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1912549413014564043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/1912549413014564043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2009/01/semarang-pesona-asia-pale-lu-bau.html' title='Semarang pesona Asia? Pale Lu bau kemenyan!'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SYAZzUU6-KI/AAAAAAAAAH0/DEfG3brI740/s72-c/Banjir+Tawang-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-333363584937719333</id><published>2008-12-27T01:38:00.002+07:00</published><updated>2008-12-27T01:44:58.491+07:00</updated><title type='text'>Istriku sebel sama Dude Herlino</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SVUmEAeo5II/AAAAAAAAAHY/bhAmpWkXf8c/s1600-h/Picture1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284171588078986370" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 239px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SVUmEAeo5II/AAAAAAAAAHY/bhAmpWkXf8c/s320/Picture1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu sore menjelang malam di rumah Utan Kayu. Aku tiba dari kantor dengan ritual seperti biasa: motor Legenda butut inventaris keluarga kuparkir di belakang, lepas helm, sepatu, dan jaket, taruh tas, makan malam, dan mandi. Cuma, malam itu ada yang sedikit berbeda dengan istriku. Biasanya, dalam menyambut suami, sang Arjuna merangkap pahlawan devisa keluarga, ia selalu tersenyum dan cerah ceria. Tapi tidak kali itu. Wajahnya merengut bin cemberut. Weh, tumben, pasti sedang ada masalah serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa sih, Bun? Kok tidak biasa-biasanya”, tanyaku setelah semua ritual pulang kantor selesai kujalani, termasuk mandi tentu saja. Nggak tahan juga lihat muka belahan jiwa yang makin montok mempesona itu terus ditekuk begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda sebel sama sinetron Aqso dan Madina. Capek ngikutinnya. Dulu Bunda pikir ini sinetron dalam rangka menyambut puasa Ramadhan, sama seperti sinetron bikinan SinemArt tahun-tahun lalu. Dimulainya satu bulan sebelum Ramadhan, dan berakhir beberapa hari setelah Lebaran. Eh, ini sampai mau tahun baru nggak kelar juga. Mana alurnya juga makin nggak karu-karuan. Masa, tokoh jahat yang sudah insyaf, dibikin jahat lagi. Sebel!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, itu to pangkal persoalannya. Kirain dia denger gosip murahan aku selingkuh atau apa gitu yang gawat-gawat. Ternyata cuma masalah sinetron. Tiwas sudah degdegan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang bikin Bunda makin sakit hati tuh karena ternyata Dude ada di situ”, kata istriku masih bersungut-sungut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dude tuh maksudnya Dude Herlino, pemeran tokoh Aqso dalam sinetron striping Aqso dan Madina di RCTI. Dia aktor yang selama ini bikin aku cemburu berat karena istriku ngefans banget. Katanya ganteng dan baik hati. Wah, kalau bicara tampang emang membuatku jadi rendah diri. Dude yang ganteng itu pasti bukan tandinganku yang hanya satu setrip lebih keren dari sandal jepit butut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda sendiri yang salah. Sudah tahu sinetron ngaco, nekat ditonton juga. Lagian, kok ya baru sekarang Bunda nyadar dan insyaf bahwa sinetron di tivi-tivi itu jauh lebih banyak yang ngawur daripada yang bener. Gimana mau bener kalau rating yang dijadikan patokan,” aku mulai ceramah. Ngaco, kalau ratingnya bagus, go ahead. Bagus, kalau ratingnya jeblok, minggir. Peduli setan sama logika, yang penting duit, duit, and duit. Makanya nggak heran ada sinetron judulnya Cinta SMU tapi yang nongol dan jadi pusat cerita anak balita mulu. Gak nyambung banget. Cerita diulur-ulur nggak jelas jluntrungannya, sampai sutradaranya aja ditanggung gak tahu endingnya tar gimana wong skenarionya konon baru jadi dua jam sebelum syuting kejar tayang dimulai. Sebaliknya, aku ingat dulu ada sinetron judulnya Jomblo di RCTI. Lumayan bagus, tapi gara-gara ratingnya rendah, tuh sinetron mesti dibabat dengan cara yang kasar pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, cerita yang menghamba pada rating sudah ada sejak dulu kala, sejak Indonesia masih dalam abad kegelapan di tangan Orde Baru nan jaya. Jika Anda pendengar setia radio di tahun 80-an, boleh jadi Anda adalah penggemar sandiwara radio Saur Sepuh dengan tokoh utama sakti mandarguna Brama Kumbara dari Kerajaan Madangkara. Awalnya sih oke. Tapi berhubung pendengar pada kepincut, ceritanya dibikin puanjang dan berliku nggak habis-habis. Tokoh yang disukai pendengar, tak lain dan tak bukan ya Mas Brama itu, dibikin awet umurnya, nggak peduli betapa tidak masuk akalnya rentang usianya. Kalau dihitung-hitung ada kali 300 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih aneh lagi sandiwara radio Misteri dari Gunung Merapi, dengan tokoh utama bernama Sembara dan gurunya Kakek Jabat. Di situ ada tokoh antagonis Mak Lampir, yang secara normatif harusnya binasa di tangan tokoh protagonis. Tapi karena Si Emak yang suka ketawa cekikikan padahal nggak ada yang lucu itu disukai pendengar, umurnya dibikin awet nggak mati-mati. Sampai Kakek Jabat matipun, Mak Lampir teuteup panjang umur, sehat, dan sejahtera selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke dunia pertelevisian di tanah air yang dipenuhsesaki oleh sinetron kejar tayang. Seingatku, sinetron terakhir yang membuatku kapok dan kemudian memutuskan untuk bilang enough is enough adalah Kecil-kecil Jadi Manten. Awalnya tuh sinetron bagus. Karakterisasi tokoh-tokohnya kuat, alurnya jelas, mesej yang ingin disampaikan dapat. Konon sinetron ini akan selesai dalam 13 episode. Eh, ternyata dipanjang-panjangin sampai 100-an episode karena tergoda duit. Dan sudah dapat diduga, ceritanya jadi kacau balau. Tokoh-tokohnya pada lebay, alurnya kentara banget dipaksain. Wis, pokoknya bikin gemes pengen banting tivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain jalan cerita yang “terserah apa kata rating”, penyakit lain dari sinetron-sinetron sampah idola kita itu adalah penokohannya yang pasti hitam putih. Contohnya gini. Tokoh antagonis tuh pasti sukanya mbentak-mbentak babu di rumah, hobinya marah-marah sama anak buah di kantor, korupsi, pikirannya selalu jahat, nggak pernah sholat, nggak berbakti sama orang tua, dan seterusnya. Si tokoh protagonis punya karakter sebaliknya. Yang jahat jahaaaat banget, yang baik ya baiiik banget. Nggak kreatif. Padahal di alam nyata, manusia kebanyakan abu-abu. Koruptor, tapi sholatnya kenceng. Pemarah, tapi berbakti sama orang tua. Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pesan moral dari uraian panjang lebar Ayah adalah, berhentilah nonton sinetron striping jika pikiran Bunda kepengen tetap waras”, kataku mengakhiri diskusi hangat kami. Istriku mengangguk. Mudah-mudahan itu pertanda bahwa dia memang benar-benar insyaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara Dude Herlino, &lt;em&gt;sorry to say, &lt;/em&gt;istriku tidak lagi ngefans sama kamu...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-333363584937719333?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/333363584937719333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=333363584937719333' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/333363584937719333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/333363584937719333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2008/12/istriku-sebel-sama-dude-herlino.html' title='Istriku sebel sama Dude Herlino'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SVUmEAeo5II/AAAAAAAAAHY/bhAmpWkXf8c/s72-c/Picture1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-5050687373228243407</id><published>2008-11-28T15:00:00.004+07:00</published><updated>2008-12-18T09:01:09.491+07:00</updated><title type='text'>Bob Hasan nyari SKKB</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Enak betul jadi Nurdin Halid. Korupsi 169,7 miliar, dibui cuma dua tahun, padahal Jaksa menuntutnya 20 tahun. Tetap bisa memimpin PSSI dari balik penjara, tak tergoyahkan bahkan oleh gertakan FIFA. Dan, hukuman yang hanya dua tahun itupun cukup dijalani 14 bulan saja. Keluar penjara, jadi orang kaya lagi, jadi orang terhormat lagi, semua orang membungkuk-bungkuk segan lagi. Status mantan napi yang dia sandang tidak menggoyahkan sedikitpun status sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Bob Hasan juga enak. Korupsi trilyunan rupiah juga cuma diganjar enam tahun penjara. Kamarnya di Nusakambangan semewah suit room hotel bintang lima, tetap bisa menjalankan bisnis, dan jangankan napi lain bahkan sipir penjarapun membungkuk hormat padanya. Di atas itu semua, hukuman yang 6 tahun itupun cukup dia jalani &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/berita/0402/20/sh02.html"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;sebelas bulan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;. Keluar penjara, jadi orang kaya lagi karena ganti rugi yang harus dia bayar ke negara tidak ada sekuku hitam total asetnya. Jadi orang terhormat lagi, jadi ketua PB PASI lagi. Setahun lalu, jelas banget dia sedang nampang di tivi ngasih penghargaan kepada para atlet berprestasi. Yang pada dikasih penghargaan itu pada membungkuk-bungkuk hormat, dan ketika tiba saat Om Bob ngasih selamat, mereka tak lupa mencium tangan si mantan napi itu. “Biar kata gue koruptor, atlet-atlet terbaik negeri ini tetep cium tangan gue”, begitu mungkin yang ada dibenaknya. Duh, enaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang betul jadi Wagiyo, anak tetanggaku. Buat cari kerja jadi tukang sapu yang upahnya nggak sampai sejuta saja dia harus ngurus SKKB (Surat Keterangan ber-Kelakuan Baik) ke kepolisian, untuk membuktikan bahwa dia berkelakuan baik dan nggak pernah dipenjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya terjadi di Indonesia. Sungguh negara yang aneh...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-5050687373228243407?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/5050687373228243407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=5050687373228243407' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5050687373228243407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/5050687373228243407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2008/11/bob-hasan-nyari-skkb.html' title='Bob Hasan nyari SKKB'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-2531635309851893103</id><published>2008-11-11T17:02:00.004+07:00</published><updated>2008-11-11T17:34:35.316+07:00</updated><title type='text'>Gatotkaca keguyur hujan (part 2 of 2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SRlduCn_-aI/AAAAAAAAAGY/3LDVr1JcpCY/s1600-h/DSCN5478-1.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267344284746512802" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SRlduCn_-aI/AAAAAAAAAGY/3LDVr1JcpCY/s320/DSCN5478-1.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Seperti telah kusinggung di bagian sebelumnya, bersih deso kali ini boleh dibilang agak spesial. Selain karena sifatnya yang multi-event, acara ini juga diselenggarakan pas di saat para politikus (baca: calon legislatif) sedang getol-getolnya ngambil hati warga biar pada pemilu ntar dapat menangguk suara sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, ada dua caleg DPRD Kota Semarang, satu dari Demokrat satunya lagi dari Golkar, yang malam itu turut datang memanfaatkan kesempatan dalam kesemutan. Dasar politikus, nggak bisa liat massa lagi ngumpul, maunya kampanye aja. Tindakan mereka jadi lucu-lucu. Bagi-bagi kalender bergambar sang caleg gede banget, stiker, hingga pasang spanduk di mulut jalan Mulawarman V. Momentum hadirnya caleg ini dilihat sebagai peluang emas oleh panitia untuk maen todong minta duit. Dan seperti sudah bisa diduga, para caleg itu dengan pringas-pringis, kecemat-kecemut, ngasih sumbangan untuk menutup biaya penyelenggaraan acara, yang kata Mas H.J. Rusyadi sang Ketua Panitia, masih kurang 14 juta. Ada yang ngasih sejuta, ada yang ngasih satu setengah. Yah, lumayan, buat nutup defisit...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini marilah kita kembali ke cerita tentang serah terima wayang Gatotkaca dari Pak Lurah ke Ki Dalang sebagai tanda dimulainya pagelaran wayang malam itu. Setelah wayang di serahkan, naiklah dalang ke panggung ke tempat di mana dia akan duduk semaleman, gamelan di tabuh, gunungan dicabut, show dimulai, dan.... hujan deras turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halah, kere. Sesiangan tadi terang lo, meski langit disaput mendung. Bahkan pas acara sambutan-sambutan yang bertele-tele itu rembulan sempat tersenyum menampakkan diri. Eh, pas wayangnya mulai, la kok hujannya kayak dituang dari langit. Walhasil, penonton kocar kacir. Untungnya, sejak awal panitia emang sudah mengantisipasi kemungkinan hujan tak diundang itu, dengan menyiapkan terpal-terpal di sekeliling panggung. Sayangnya, terpal-terpal itu tidak mampu menampung penonton yang merangsek ke bawahnya, karena jumlahnya yang memang lumayan banyak. Praktis, acara malam itu menjadi nonton wayang sembari berteduh berjamaah, empet-empetan sama penonton lain. Alhamdulillah, rejekiiii... (batin mereka yang kebagian empet-empetan sama cewek cakep dan wangi); Ya Allah, cobaan apa yang Kau berikan padaku ini? (batin mereka yang dipepet embah-embah tukang batuk, napasnya beraroma sirih, plus badannya bau balsem).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujanpun reda. Tapi, situasinya sudah tidak lagi sama dengan sebelumnya. Kursi-kursi yang tak terlindung terpal, basah; tanah, becek; jalanan, berair; dan yang pasti, suhu udara malam itu juga jadi makin dingin. Belum lagi, sesekali gerimis menyusul, bahkan hujan rada besar turun sampai 2 kali lagi. Satu demi satu penonton beringsut pergi, dan tidak sampai jam 11 malam, tinggal beberapa gelintir manusia saja yang masih bertahan. Akan halnya diriku sendiri. Merasakan keadaan lingkungan yang kurang mendukung, ditambah entah kenapa pertunjukan malam itu kok seperti kurang greget, aku memutuskan kabur juga. Di luar kebiasaan sebetulnya, karena aku lebih sering nonton wayang sampai usai. Selanjutnya, aku memilih tidur-tiduran di kasur di ruang tamu, sambil nyruput kopi panas. Karena jarak rumah dan panggung wayang yang cuma sepelemparan batu, pertunjukan masih dengan sangat jelas kudengar, sebelum akhirnya aku tidak bisa mendengar apa-apa karena ketiduran kira-kira jam 12an. The party is over, dan pestapun usai sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu (9/11) malam. Sambil terkantuk-kantuk di gerbong 5 seat 6D kereta Senja Utama yang membawaku kembali ke Jakarta, aku coba mereview kembali hajatan bersih deso yang baru saja kuikuti dan saksikan. Di satu sisi aku seneng, ritual tahunan itu sekarang sudah makin penuh dengan inovasi, dengan mereformatnya menjadi multi-event. Cara panitia dalam memobilisasi dana juga makin kreatif, tidak semata-mata ngandelin iuran warga. Cuma, aku kok ngerasa tetap saja bersih deso ini dari tahun ke tahun makin pudar daya tariknya, makin nggak populer, terbukti makin sedikit animo masyarakat untuk turut larut di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tradisi yang menjadi pelengkap juga sudah sejak lama ditinggalkan. Dulu, bersih deso semacam ini adalah juga momentum untuk bikin aneka masakan, seperti jenang, jadah, wajik, bandeng goreng, opor ayam, gulai sapi, dan lain-lain. Makanan-makanan itu, selain untuk dikonsumsi sendiri, juga diantar-antarkan ke kerabat yang dianggap lebih tua: paklik, pakde, embah; yang masih diberi umur panjang sama Allah, terutama kerabat di desa-desa sekitar (mudah-mudahan Anda bisa ngebayanginnya). Dalam kasus keluarga kami, aku sering kebagian ngeboncengin Ibuk nganter makanan bersih deso itu ke paklik/buliknya Bapak di &lt;u&gt;Bulusan&lt;/u&gt; dan &lt;u&gt;Ngembak&lt;/u&gt;, terus ke buliknya Bapak yang lain lagi di &lt;u&gt;Tembalang&lt;/u&gt; (kata-kata aneh yang kutulis dengan underline adalah nama-nama desa di sekeliling desa kami). Tradisi nganter-nganter makanan macem itu yang kutahu kini sudah nggak ada lagi yang melestarikan. Jangankan untuk diantar-antarkan, untuk dimakan sendiri aja tidak bikin. Kami masak dengan reportoar menu tidak berbeda dengan hari-hari biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagelaran wayang kulitnya sendiri juga kurasakan makin kehilangan daya pikatnya. Dulu, hingga aku usia SMA, bersih deso adalah event tahunan yang sangat ditunggu-tunggu oleh segenap warga. Di mana-mana, maksudnya baik di Kramas maupun desa-desa sebelah, acara tunggalnya memang hanya pertunjukan wayang kulit. Meski begitu, pertunjukan itu mampu menyedot penonton yang tidak saja terdiri dari penduduk desa yang bersangkutan tapi juga warga desa-desa lain. Karena semua kampung menyelenggarakan di bulan Apit, dan lebih sering dijatuhkan pas malam Minggu, setiap minggu selama sebulan itu selalu saja ada wayang. Bahkan, kadang-kadang bisa dalam satu malam ada wayang kulit di dua tempat sekaligus. Aku dan teman-teman di kampung pasti bakalan janjian untuk rame-rame menyerbu pentas wayang itu, di manapun berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi dulu, di desa-desa yang “kaya” karena penduduknya banyak (dus iuran yang terkumpul juga gede) plus di desa itu ada pabrik atau pusat bisnis besar yang bisa ditodong, dalang yang diundang tampil kadang yang sedang ngetop seperti Ki Anom Suroto, Ki Manteb Soedharsono, atau Ki Joko Edan. Tak ayal, penonton dari desa-desa sekitar, bahkan kampung yang jauh, makin deras mengalir. Sekarang, yang kayak gitu itu sudah nggak lagi terjadi. Jangankan ngejabanin wayangan di kampung sebelah, datang ke wayangan di kampung sendiri aja udah pada males.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayang kulit, dan ritual tahunan bersih deso, sepertinya memang sudah makin nggak populer. Bersyukur bahwa hingga saat ini kampungku masih bisa terus mempertahankannya. Cuma, pertanyaan yang selalu menggangguku, sampai kapan ia bisa terus bertahan? (The end).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4813435834242865398-2531635309851893103?l=wisanggeni-gw.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/feeds/2531635309851893103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4813435834242865398&amp;postID=2531635309851893103' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2531635309851893103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4813435834242865398/posts/default/2531635309851893103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisanggeni-gw.blogspot.com/2008/11/gatotkaca-keguyur-hujan-part-2-of-2.html' title='Gatotkaca keguyur hujan (part 2 of 2)'/><author><name>Heriyadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SMEB3f8CBuI/AAAAAAAAAEo/zkRzs-vKSeo/S220/P1020202(2).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SRlduCn_-aI/AAAAAAAAAGY/3LDVr1JcpCY/s72-c/DSCN5478-1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4813435834242865398.post-2055629319594173600</id><published>2008-11-10T12:03:00.003+07:00</published><updated>2008-11-10T12:44:16.780+07:00</updated><title type='text'>Gatotkaca keguyur hujan (part 1 of 2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SRfBoaI0VdI/AAAAAAAAAGQ/unYmfPSez54/s1600-h/DSCN5517.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266891189188318674" style="WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_i4wzJb1jqho/SRfBoaI0VdI/AAAAAAAAAGQ/unYmfPSez54/s320/DSCN5517.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebagai kampung dengan kultur dan tradisi Jawa yang kental, tanah tumpah darahku yang tak lain dan tak bukan adalah Kelurahan (sebelum tahun 80an dulu pake nama Desa) Kramas di Kota Semarang, punya agenda rutin tahunan yang diselenggarakan dalam rangka memanjatkan syukur kepada Tuhan atas limpahan rejeki selama setahun terakhir dan permohonan agar rejeki di tahun depan juga sama melimpahnya, serta dijauhkan dari bencana bin mara bahaya. Agenda tahunan itu diberi label &lt;em&gt;merti deso&lt;/em&gt;, alias &lt;em&gt;bersih deso&lt;/em&gt;, atau ada juga yang menyebutnya &lt;em&gt;sedekah bumi&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kutahu sih kampung-kampung lain di sekitar kami, seperti Srondol, Pedalangan, dan Bulusan juga punya tradisi serupa. Model-modelnyapun kurang lebih sama: dilaksanakan on one particular day in bulan Apit (itu adalah nama bulan setelah Syawal dalam penanggalan Jawa), biaya dikumpulkan dengan cara patungan orang sekampung plus nyari-nyari tambahan ke para donatur, dan sebagai puncak acara adalah pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang dihadiri oleh seluruh warga tanpa memandang usia dan jenis kelamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu aku menyempatkan diri pulang ke Kramas, dengan pola klasik: Jumat sore jam limaan langsung ngacir ke stasiun dari kantor, Minggu malam balik lagi ke Jakarta tidur ndlosor beralas koran di atas gerbong kereta. Kepulangan itu untuk apa lagi kalau bukan dalam rangka hadir di tengah-tengah suasana bersih deso yang untuk tahun ini digelar tiga hari non stop tanggal 7-9 November, selain sudah barang tentu buat nengokin Ibuk. Dengan pertimbangan penghematan, aku pulang sendirian tanpa ditemani Wisanggeni, Ontoseno, dan emaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang sendiri, bisa pakai kereta rakyat yang tiketnya 100 ribuan, dus 200 ribu dah bisa pp Jakarta-Semarang. Sedangkan kalau sama anak-anak, dengan alasan menghindari dampak perilaku barbar dari penumpang jiancuk! yang seenaknya memproduksi racun di atas kereta yang menurut aturan seharusnya bebas asap rokok, kami mesti pakai Argo Muria. Tiga tiket, masing-masing 210 ribu, dus 1,26 juta hanya buat keretanya thok. Uang segitu buat Korpri kelas cekeremes sepertiku tentu gede bangets, wong setara dengan sebulan gaji kotor yang belum kena potongan utang koperasi dan cicilan rumah. Belum lagi, pertimbangan sempitnya waktu, menginap cuma semalam di kampung, padahal di jalannya malah dua malam. Kasihan anak-anak, capek di jalan. Ya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Sabtu (8/11) dini hari aku sudah sampai di rumah. Dari stasiun ngojek, tarifnya 25 ribu karena jarak Stasiun Tawang ke rumah Kramas emang dari ujung ke ujung. Ngobrol bentar sama Ibuk, mandi pake air anget, dan bablas tidur sampai jam 9 pagi. Bye bye sholat Subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi penyelenggaraan bersih desa tahun ini di tengah jalan Mulawarman V, jalan depan rumah kami. Benar-benar di tengah jalan, sehingga jalan yang biasanya sepanjang hari nggak pernah sepi dari lalu lalang mobil dan motor itu praktis ditutup. Panggung wayang kulitnya hanya berjarak 250 meter dari rumah kami, sehingga pasar dadakan khas hajatan yang menjajakan mulai bakso tenes hingga VCD bajakan juga meluber sampai depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berbeda dari penyelenggaraan bersih desa kali ini, yaitu bahwa kegiatan ini diformat sebagai multi-event, dalam artian tidak hanya menampilkan pertunjukan wayang kulit sebagai hiburan tunggal. Tahun ini, selain acara puncak wayang kulit di Sabtu malam, pada Jumat malamnya juga digelar aksi grup rebana dari Ibu-ibu pengajian, dilanjutkan pengajian umum, dan diakhiri dengan pentas dangdut (kombinasi yang aneh, habis ngaji terus ndugem dangdutan). Sabtu siang menjelang sore, ada juga penampilan jaran kepang alias kuda lumping yang mengundang antusiasme warga. Wis, pokoke seru....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam minggunya, jam setengah delapan, kursi-kursi di depan panggung wayang kulit sudah mulai terisi. Acara puncak, pertunjukan wayang kulit, dalang Ki Anom Dwijokangko mengambil judul Biografi Gatotkaca, akan segera dilaksanakan. Semakin malam semakin penuh, dan ketika jam sudah menunjukkan pukul 20:15, mulailah MC membuka acara. Seperti biasa, sambutan-sambutan mendominasi acara. Sudah gitu, yang namanya sambutan itu bisa sangat bertele-tele, mulai ketua panitia hingga Pak Lurah, satu orang bisa lebih dari seprapat jam. Acara seremonial ala 17-an malam itu diakhiri dengan penyerahan wayang Gatotkaca (yang malam itu jadi tokoh sentral cerita) dari Pak Lurah 
